Man in The Rain

 

Man in The Rain

ohnajla || Romance, slice of life || Oneshoot || Teen ||

Park Chanyeol aka Chanyeol EXO & Evelyn

.

Mendung sudah tampak sejak pagi tadi. Eve mencoba mengabaikannya dengan tidak membawa payung. Dengan memakai mantel anti air dan jeans semata kaki, dia melenggang dengan santai menuju Seoul University, tempat ia melangsungkan pertukaran pelajarnya.

Semua orang tampak menenteng payung mereka, Eve tetap mengabaikan itu. Sampai akhirnya hujan pun turun deras. Eve yang saat itu akan menyeberang, segera menepi ke halte terdekat. Hanya ada segelintir orang yang berteduh di halte itu, karena kebanyakan dari para pejalan kaki telah siap dengan payung masing-masing.

Kampusnya hanya tinggal beberapa belas meter lagi. Menyeberang, lalu berjalan sekitar lima menit ke arah kanan. Dia hanya bisa mengutuk hujan dalam hati. Kenapa harus hujan deras yang menyapanya pagi ini? Ah padahal dia sudah menyiapkan diri mengikuti ujian tengah semesternya. Ayolah hujan, cepat berhenti. Hanya 10 menit lagi waktu tersisa sebelum ujian tengah semester dimulai.

Sebuah bus berhenti tepat di hadapannya. Beberapa penumpang turun, sedikit berlari untuk mencapai halte. Sementara orang-orang yang berdiri di halte bersamanya tadi menggantikan kursi yang sudah dikosongi oleh orang-orang yang baru turun.

Seorang pria jangkung berambut semerah darah menarik perhatian Eve. Pria itu tampak unggul dari yang lain karena tinggi badannya yang di atas rata-rata. Tapi bukan hanya karena itu Eve tertarik memperhatikannya. Pria itu memegang sebuah payung besar, berdiri di sisi lain halte dengan pandangan lurus ke depan. Tatapannya kosong, tenggelam dalam melodi riak hujan yang menenangkan kalbu. Eve membatin. Seharusnya pria itu bisa menerobos hujan dengan payungnya, tapi kenapa dia hanya berdiri diam di sana tanpa melakukan apa pun?

Eve kemudian sadar bahwa dia terlalu memperhatikan orang asing. Ia pun segera membuang pandangan ke depan. Tidak ada yang bisa ia lihat kecuali tirai raksasa dari air yang seolah berkoloni sehingga membuat enggan orang untuk menerobosnya. Eve menghela napas. Gusar. Kapan hujannya berhenti?

Sesuatu menyinggung lengan kirinya. Ia pun menoleh. Ada sebuah payung besar terlipat warna hitam yang sangat familiar. Ketika dilihat ke atas, dia tidak bisa tidak terkejut. Matanya hanya bisa mengerjap-ngerjap ditatap sedemikian datar oleh pemilik payung itu. Sejak kapan dia di sini?

“Aku melihat kegelisahan di matamu. Kupikir semua orang menyukai hujan, tapi ternyata tidak setelah aku melihatmu. Kurasa kau lebih membutuhkan benda ini ketimbang aku. Gunakanlah, kau bisa kembalikan kapan pun kau mau.”

Eve mengernyit. Sedikit tidak biasa mendengar kalimat itu. Entah itu hanya perasaannya saja atau bagaimana, tapi Eve merasa kalau pria ini memang sedikit berlebihan saat mengucapkan kalimat itu apalagi dengan ekspresi datar seperti itu. Ucapan yang harusnya sarat emosi malah terkesan aneh saat didengar.

Ragu-ragu Eve menerima payung itu. Menimang-nimangnya sesaat. “Benar aku boleh memakainya?”

Pria jangkung itu mengangguk syahdu. “Karena aku duluan yang menawarimu, itu berarti kau boleh memakainya. Ah ya, namaku Kim Leo. Fakultas Bahasa jurusan Sastra Seoul University. Kalau kau ingin mengembalikannya, kau bisa mendatangiku.”

“Aku Evelyn, fakultas Science jurusan Fisika.”

Pria yang mengaku bernama Kim Leo itu tersenyum miring. “Jadi kita belajar di perguruan tinggi yang sama. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak mengenalmu. Aku memang sulit bersosialisasi dengan orang-orang, jadi aku tidak mengenal siapa-siapa mahasiswa yang juga menuntut ilmu di sana.”

“Ah tidak masalah. Itu wajar karena fakultas kita berbeda.”

“Penggunaan kata ‘kita’ sebenarnya sangat aneh jika dikatakan saat baru bertemu dengan seseorang. Seolah kedua orang itu sudah mengenal lama dan telah memahami satu sama lain. Terlebih jika kedua orang itu adalah laki-laki dan perempuan, baru bertemu untuk pertama kalinya. Kebanyakan orang yang mendengar itu akan beranggapan bahwa kedua orang tersebut sudah saling dekat, padahal mereka baru mengenal satu sama lain.”

Eve kebingungan mendengar ocehan Leo. Ia sama sekali tidak mengerti maksudnya. Hanya bisa mengamati ekspresi pria itu dengan dahi berkerut.

Eve kaget ketika Leo menoleh tiba-tiba padanya.

“Dari kabar yang tersiar, sepertinya kampus kita sedang mengadakan ujian tengah semester. Aku hampir melupakannya gara-gara terbuai dalam alunan indah rinai pagi ini. Maafkan aku, tapi bisakah kita memakai payung itu bersama? Jangan khawatir, kau akan aman bersamaku. Aku akan melindungimu dari hujan seperti yang dilakukan oleh kekasihmu.”

Eve sedang tidak sadar dengan dirinya sendiri. Tangannya bergerak begitu saja menyerahkan payung itu kembali ke empunya. Sesungging senyum terbesit di wajah pria jangkung itu. Eve mendapatkan kesadarannya kembali setelah dia ditarik dalam guyuran hujan. Tubuhnya tidak basah kuyup karena terlindungi oleh benda berwarna hitam yang kini mekar di atas kepalanya. Sebuah tangan panjang nan kekar merangkul bahunya tanpa ragu. Langkah mereka terpaksa disamakan, agar tidak terjadi aksi saling mendahului dan meninggalkan.

Tak lama kemudian mereka sampai di gedung fakultas Science. Mereka langsung berteduh di bawah atap lobi. Eve menghadap Leo, memerhatikan pria itu yang sedang meletakkan payung di dekat kakinya.

“Terima kasih,” ucapnya setelah mereka saling tatap muka.

Leo tersenyum. “Sama-sama.”

“Aku akan masuk.”

Pria itu mengangguk. “Aku juga akan ke gedung fakultasku.”

Eve tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Biasanya seseorang dalam situasi ini akan mengatakan ‘sampai bertemu nanti’. Tapi Eve merasa sungkan mengatakan itu karena mereka bukanlah teman dekat. Jadilah mereka berdua hanya saling pandang.

“Pertemuan singkat denganmu sungguh menyenangkan. Kuharap suatu hari nanti kita bisa merasakan kembali hal yang menyenangkan itu. Aku harus mengucapkan selamat tinggal. Semoga ujianmu lancar. Semangat ya, Evelyn.”

Eve tidak berkutik saat Kim Leo menepuk bahunya. Dia tetap bertahan dengan posisi itu hingga Leo ditelan oleh derasnya hujan.  Hitam payung pria itu nampak kontras dalam tirai rinai. Eve terus melihatnya, sampai ia pun sadar bahwa ujian akan dimulai beberapa detik lagi.

END

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s