Fantasy #VIXXFiction

Fantasy Art

Ohnajla || Romance, dark, school life, slice of life, songfic || Teen || oneshoot ||

VIXX Hyuk aka Han Sang Hyuk

VIXX Hongbin aka Lee Hong Bin

EXO D.O aka Do Kyungsoo

NCT Taeil aka Moon Tae Il

OC

Summary

Ini hanyalah sebuah fantasi, menimbulkan rasa sakit seperti halnya duri

Seperti malam yang kehilangan bulan, kosong

Kisah sedihku

Ketika hanya ada jalan sempit yang terbuka

Fantasi, lindungilah aku

**

“Hey, mau sampai kapan kau seperti itu?” Hongbin datang dengan membawa sekaleng soda. Dia baru menyesapnya sedikit. Diarahkannya kaleng soda itu pada Sanghyuk, tapi Sanghyuk menggeleng.

Hyung, kau punya obat?”

“Ng? Obat apa?” Hongbin memicingkan mata dan telinganya menunggu jawaban dari Sanghyuk.

“Sakit hati.”

Krik krik.

Yaa, baru saja ditolak satu perempuan kau sudah seperti ini. Kau tidak lihat aku?  Aku bahkan sudah berkali-kali ditolak perempuan. Sudahlah, jangan dipikirkan.”

Sanghyuk menggaruk kepala belakangnya kuat. “Tapi dia bukan sembarangan perempuan, hyung. Kau tidak tahu apa-apa.”

Soda itu habis dengan cepat. Hongbin meremukkannya terlebih dulu sebelum melemparnya ke tong sampah. Goal.

“Ya, dia adalah guru jadi dia bukan sembarangan perempuan. Aneh sekali seleramu, ada banyak junior yang menyukaimu, senior juga ada, tapi kau malah memilih seorang guru? Ckckck, kau tidak perlu seputus asa itu, Sanghyuk-a.”

Sanghyuk mengenduskan napasnya panjang. “Hyung, sudah berapa kali kukatakan kalau aku mencintainya. Cinta hyung, cinta.”

“Tapi lihat dulu siapa yang kau ‘cintai’ itu. Dia sudah menikah! Oh ayolah, move on. Apa kau ingin kukenalkan dengan seseorang?”

Shireo!” Mendadak dia bangkit. “Bahkan meskipun dia sudah menikah aku tidak akan menyerah padanya. Semua orang sudah setuju kalau aku lebih baik dari suaminya itu, aku yakin dia akan berubah pikiran setelah melihat keseriusanku.”

Hongbin juga ikut bangkit. “Baiklah, terserah padamu saja. Aku tidak akan peduli kalau kau jadi gila karenanya, atau mati karenanya. Teruslah berfantasi seperti itu, Han Sanghyuk!”

Saat itu juga Hongbin memilih pergi dari sana. Amarahnya sudah pada batasnya, dia berusaha menyadarkan Sanghyuk dari fantasi gilanya, tapi Sanghyuk sama sekali tidak peduli. Ia sudah muak. Tahu begini dia tidak perlu jauh-jauh datang kemari hanya untuk mendengar kata-kata bodoh pria itu.

Tersisalah Sanghyuk di sana sendirian. Sama marahnya. Memang kenapa kalau dia masih menaruh harapan pada wanita itu? Bukankah mencintai seseorang itu tidak salah? Tentu saja dia berpikir kalau Hongbin hanya mengada-ada saja padahal dia sendiri yang bodoh.

**

Sekolah sedang panas membicarakan Sanghyuk gara-gara aksinya mengungkapkan perasaan secara terang-terangan pada guru mata pelajaran sejarah. Beberapa orang tidak menyangka kalau Sanghyuk memiliki keberanian melakukannya, beberapa yang lain tidak percaya Sanghyuk memiliki perasaan pada wanita berusia 30 itu. Rumor-rumor mulai bertebaran, salah satu di antaranya, Sanghyuk dianggap sedang diguna-guna oleh wanita itu.

Toilet pria yang semula ramai oleh obrolan mendadak hening begitu Sanghyuk masuk. Dia menatap semua orang dengan mata elangnya, dan orang-orang itu sebagian besar berpaling, berpura-pura sibuk dengan urusan masing-masing. Ia pun berjalan menuju wastafel, menyalakan kran, membasuh wajahnya dengan air yang ia tangkup di tangan.

Seseorang yang baru selesai menunaikan panggilan alam, mendekat padanya berdiri di samping. Dia juga menyalakan kran, tapi hanya untuk mencuci tangan. Matanya fokus ke cermin, namun yang ia lihat bukanlah pantulan dirinya sendiri.

“Kau masih berani masuk sekolah setelah aksimu kemarin?” tanyanya to the point dengan volume suara yang cukup bisa meramaikan toilet tersebut.

Sanghyuk terdiam sebentar. Lalu ia mematikan kran, mengangkat kepala untuk memandang pria di sampingnya dari pantulan cermin.

“Apa aku baru saja melakukan tindak kriminal?”

Pria itu juga mematikan kran. Ditariknya selembar tisu dari kotak yang tersedia untuk digunakan mengeringkan kedua tangannya. “Hey, kau sudah mempermalukan dirimu dan Song seonsaengnim di depan banyak orang. Ini bukan masalah kau telah melakukan tindak criminal atau tidak. Tapi apa kau tidak merasa malu?”

“Sepertinya kau harus melihat dirimu sendiri,” balas Sanghyuk santai.

Pria bermarga Moon itu menoleh. Dengan mata memicing tajam, dia lemparkan bekas tisunya itu ke tubuh Sanghyuk. Sanghyuk sendiri hanya memperhatikan jatuhnya tisu tersebut ke lantai.

“Kau menantangku?”

Sanghyuk pun memutar badan menghadapnya. “Kau bahkan lebih buruk dariku. Apa perlu kukatakan pada semua orang kalau kau ini … siscon?”

BUG!

Pukulan tiba-tiba itu berhasil membuat Sanghyuk terjungkal ke belakang. Untungnya tidak sampai terjerembab, hanya punggungnya saja yang membentur dinding. Dia menegakkan diri kembali, bertemu tatap dengan Moon Taeil.

“Jadi itu benar? Hah, kau mengatakan seolah aku tidak punya malu padahal kau sendiri juga seperti itu.”

“Tutup mulutmu.”

“Kita sama-sama bermuka tebal,” ujar Sanghyuk sambil menyeringai.

“Kubilang tutup mulutmu!”

Taeil pun maju dan BUG! Tepat di pelipis kiri Sanghyuk. BUG! Pipi kanan Taeil. BUG! Mata kanan Sanghyuk. BUG! Perut Taeil. BUG! Dan mereka pun makin menggila.

Bukannya melerai, siswa lain yang ada di sana justru menepi dan menonton. Kapan lagi dapat tontonan action gratis kalau tidak sekarang? Mereka mengeluh serempak begitu Dewan Keamanan sekolah tiba-tiba masuk dan melerai dua pria itu.

Sanghyuk dan Taeil diseret ke ruang guru. Mereka didudukkan paksa di depan meja wakil kepala sekolah bidang keamanan, menghadap seorang pria paruh baya beralis tebal juga berwajah garang.

Kedua pemuda itu tidak saling menatap pria tersebut.

“Kenapa kalian berkelahi?” Suara yang tenang dan lembutnya cukup kontras dengan wajah garangnya. Pria yang telah menjabat sebagai wakil kepala bidang keamanan sejak lima tahun lalu itu menatap kedua anak di depannya dengan tatapan tajam mengintimidasi.

Tidak ada seorang pun yang bersedia menjawab. Seorang siswa entah siapa yang datang lima detik lebih akhir dari mereka –karena ikut diseret Dewan Keamanan- memutuskan menjawab pertanyaan itu.

“Mereka membicarakan soal Song seonsaengnim dan siscon,” jawabnya lugas.

Taeil langsung menatapnya. Tapi siswa itu sama sekali tak peduli.

Do-nim, panggilan khas wakil kepala bidang keamanan itu berdehem. Saat ini matanya hanya tertuju pada Sanghyuk.

“Ada apa lagi dengan Song seonsaengnim?”

Sanghyuk membenahi letak duduknya. “Tidak ada,” jawabnya datar tanpa sedikit pun melirik Do-nim.

“Kau sudah meminta maaf pada beliau?”

“Untuk apa? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun padanya.” Kali ini mata elang itu bergulir menuju lokasi Do-nim berada.

“Kau sudah melakukan kesalahan,” sahut Do-nim cepat. Dia melanjutkan, “Tindakanmu sangat tidak menghormati statusnya. Meskipun kau tidak melukai fisiknya, tapi kau baru saja melukai harga dirinya. Paham? Jadi mau tak mau kau harus minta maaf.”

Sanghyuk pun menggebrak meja seraya bangkit. “Aku sama sekali tidak melakukan tindak kejahatan! Memang tidak bolehkah seseorang mengutarakan perasaannya? Usiaku dengannya tidak berjarak jauh, dia juga bukan saudara kandungku, atau ibuku, atau siapapun di keluargaku. Dan dia juga perempuan, apa salahnya aku mengutarakan perasaan padanya?!”

Salah seorang Dewan Keamanan memaksanya kembali duduk.

“Ya, kau memang tidak melakukan tindak kriminal. Tapi apa kau tahu? Karena aksimu itu suaminya meminta cerai. Apa kau pernah memikirkan nasibnya sejauh itu?”

“Aku sudah tahu, aku tahu kalau mereka akan bercerai.”

Do-nim menatapnya tidak percaya, begitu pula Taeil, siswa yang menjadi saksi, dan dua orang Dewan Keamanan.

“Kalau kau tahu kenapa kau tetap lakukan itu?”

Tiba-tiba Sanghyuk tertawa. “Semua orang di dunia ini bodoh sekali.”

Do-nim mengernyit.

Sanghyuk melanjutkan, “Aku tidak mengerti kenapa kalian selalu menanyakan itu padaku. Kalian bahkan sudah tahu jawabannya tapi pura-pura tidak tahu. Ini cinta! C I N T A! Haruskah aku mengejanya agar kalian mengerti?”

Do-nim menghela napas. Ia pun mengalihkan pandangan pada Taeil dan siswa yang menjadi saksi. “Kalian berdua boleh kembali ke kelas.”

Sepeninggal keduanya, Do-nim memberikan perintah lain pada dua anak buahnya. “Bawa anak ini ke psikiater.”

“Sekarang?” tanya seorang di antara mereka.

“Ya, lebih cepat lebih baik.”

“Psikiater? Siapa yang tidak waras di sini?” protes Sanghyuk begitu mendengar kata-kata Do-nim.

“Siapa lagi? Tentu saja kau,” balas pria itu dengan tenang.

Sanghyuk tersenyum sinis. “Bukankah Anda satu-satunya yang tidak waras di sini?”

Do-nim memberikan sinyal pada anak buahnya untuk segera. Sanghyuk yang melihat itu mendadak kalap. Ditepisnya kasar tangan kedua Dewan Keamanan. Diangkatnya tinju untuk mengancam dua orang tersebut. Kemudian netranya beralih pada Do-nim.

“Kau pikir siapa yang sedang tidak waras di sini, huh? Kalianlah yang gila!!”

BUG!

“Cepat bawa dia.”

Kali ini Sanghyuk tidak bisa berkutik saat dua Dewan Keamanan itu menyeretnya. Gusinya terasa nyeri akibat pukulan Do-nim. Ada rasa asin yang ganjal di lidahnya, setelah diludahkan ke tanah, rupanya itu adalah darah.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di psikiater. Sanghyuk sudah didudukkan di depan meja seseorang. Wanita muda sekitar 24 tahun itu, memberinya senyuman meski dia tidak menatapnya.

“Kalian boleh tunggu di luar, biar aku yang mengurusnya.”

Dewan keamanan patuh. Selang beberapa detik kemudian ruangan itu pun senyap.

“Wakil kepala sekolah sudah menceritakan padaku apa yang sedang terjadi padamu. Sebelum itu aku ingin tanya. Apakah ibumu masih hidup?”

Sanghyuk sama sekali tidak menatapnya. Matanya terus tertuju pada buku-buku psikologi yang ada di sisi kiri meja tersebut.

“Tidak.”

“Kapan kau kehilangan ibumu?”

“Saat usiaku 12 tahun.”

“Sebelumnya apa kau sangat dekat dengannya?”

Bayangan tentang masa-masa lalunya bersama sang bunda tiba-tiba muncul. Dia menghela napas ketika dadanya mulai terasa sakit. “Ya.”

“Kau punya saudara perempuan?”

Noona.”

“Apa kau sangat dekat dengannya?”

“Kurang lebih.”

“Kakakmu masih hidup?”

“Tidak.”

Dari situ saja psikiater muda itu tahu apa yang sedang dialami Sanghyuk sekarang. Ia pun menuliskan hipotesisnya di note.

“Apakah mencintai wanita yang lebih tua itu kesalahan?” ucap Sanghyuk tiba-tiba.

“Mencintai seseorang itu tidak salah,” balas si psikiater santai.

Mata yang kini tidak setegar elang itu bergulir pelan, berhenti setelah menemukan rupa cantik wanita di depannya. “Tapi kenapa aku harus di sini? Kenapa semua orang menyebutku penjahat?”

Dirobeknya note itu, lalu ditempelkan ke dinding. “Mencintai seseorang itu tidak salah, yang salah adalah bagaimana kau mengungkapkannya.”

“Aku bahkan tidak memaksanya, tidak juga mengancam, apalagi melecehkan. Aku hanya mengungkapkan perasaanku.”

Mereka pun bertemu pandang. Wanita berwajah malaikat itu tersenyum. “Kau bisa lakukan itu secara pribadi, jangan ungkapkan perasaanmu pada wanita yang sudah menikah di depan publik. Kalau kau melakukannya, orang-orang akan menganggapmu sebagai kriminal karena tindakanmu dianggap sedang merusak hubungan orang lain. Ya, aku tahu kalau kau sangat mencintainya. Tapi kau juga harus tahu, tidak semua yang kau cintai akan mencintaimu juga. Kau harus menghormati perasaan orang itu, Sanghyuk-sshi.”

Kedua mata Sanghyuk mulai berkaca-kaca. Psikiater bernama Yong Ji Eun itu pergi menuju kulkas. Mengambil satu kaleng soda dingin. Diletakkannya di hadapan Sanghyuk dalam keadaan tutup terbuka.

“Meskipun itu bukan sebuah kesalahan, kau tetap harus meminta maaf padanya. Itu adalah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa kau menghormati perasaannya, Sanghyuk-sshi.”

Ji Eun terkejut ketika Sanghyuk tiba-tiba memeluknya dengan wajah yang dibenamkan ke perut ratanya. Wanita itu mematung untuk beberapa detik, hanya mendengar suara isak tangis Sanghyuk yang teredam. Lambat laun, ketika isakan itu makin keras, jari-jari lentiknya pun bergerak mengusap rambut kelam pria itu.

**

Hongbin langsung menarik lengan Sanghyuk begitu batang hidung juniornya itu tampak. Dibawanya Sanghyuk ke atap apartemen. Sesampainya di sana, dihempasnya tubuh Sanghyuk hingga terduduk di sebuah sofa bekas. Netranya mengarah lurus mengamati Sanghyuk dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lantas menghela napas.

“Kau sudah bosan hidup?”

Sanghyuk bergeming.

“Kalau kau memang ingin mati, mati saja!” bentaknya keras.

Sanghyuk tetap bergeming.

Hongbin yang kesal tiba-tiba membanting backpack­-nya. Lalu meraih kerah seragam Sanghyuk. “Jawab aku, bodoh!”

Mata elang itu menatap tajam. “Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba kau seperti ini.”

Mereka terlibat perang tatapan untuk waktu yang cukup lama. Setelahnya Hongbin melepas cekalannya. Dia menyeret tasnya sendiri sambil duduk di sebelah Sanghyuk.

“Baru sehari kau sudah membuat ulah. Kau ini tidak bisa ya tenang sehari saja? Kau ini bukan anak kecil lagi Sanghyuk-a, berhentilah bersikap kekanak-kanakkan.”

“Dia duluan yang memukulku.”

“Kalau begitu tidak perlu diladeni.”

Sanghyuk menghela napas panjang. “Bukankah kemarin kau bilang kau tidak akan peduli lagi padaku? Kenapa sekarang di sini?”

Hongbin mengeluarkan kotak obat dari ranselnya. Ia menyahut dagu Sanghyuk untuk menoleh padanya. Wajahnya tampak lelah entah karena apa.

Eomma yang menyuruhku kemari.”

“Kau ‘kan bisa menolaknya.”

“Aku bukan anak pembangkang sepertimu, arra? Bersyukurlah ibuku mau memedulikanmu.”

Sanghyuk mendesis ketika Hongbin tak sengaja menekan luka di pipinya. Setelah semua luka diolesi dengan obat merah, luka itu pun ditutup dengan plester agar tidak terkena infeksi.

“Ibuku tidak seperti ibu tiri dalam dongeng, meskipun kau tidak bisa menerimanya kau tetap harus bersyukur.”

Hongbin pun memasukkan kembali kotak obat tersebut ke dalam tas. Ia bersandar ke dada sofa. Kedua kaki menjulur ke depan, kepala berbaring santai di atas bahu sofa. Matanya menatap lurus langit yang mulai keemasan.

“Kau masih menyukai guru sejarah itu?” tanya Hongbin setelah sekian menit suasana hanya diliputi senyap.

Sanghyuk juga memosisikan dirinya persis seperti yang dilakukan Hongbin. “Entahlah.”

“Apa yang dikatakan psikiatermu?”

“Aku harus minta maaf.”

“Ya, itulah yang harus kau lakukan sekarang.”

“Tapi ini aneh.”

Wae?”

Sanghyuk mengangkat tangannya seolah tengah berusaha menggapai langit. “Setelah bertemu dengan psikiater itu mendadak perasaanku pada Song seonsaengnim hilang.”

Hongbin menoleh. “Jangan bilang kau malah suka pada psikiatermu.”

Tangan itu mendadak jatuh ke tempat semula. “Entahlah.”

“Ya Tuhan,” desis Hongbin akhirnya.

**

Keesokan harinya Sanghyuk bertemu dengan Song seonsaengnim secara empat mata. Tanpa perlu kata pengantar dia langsung mengutarakan maksudnya yaitu meminta maaf. Song seonsaengnim yang memang terkenal ramah dan baik hati, langsung bisa menerima permintaan maaf Sanghyuk. Asal Sanghyuk tidak mengulangnya lagi itu sudah cukup.

Tapi sejak hari itu juga Sanghyuk mulai rajin berkunjung ke psikiater. Dengan dalih ingin berkonsultasi, sebenarnya dia datang untuk bertemu dengan Yong Ji Eun saja. Sebagai ahli psikologi tentu Ji Eun tahu motif Sanghyuk selalu datang ke tempat prakteknya. Namun karena Sanghyuk datang juga ingin berkonsultasi, maka Ji Eun tidak bisa seenaknya menolak.

“Kau cukup terkenal di kalangan adik kelas ya, mereka cantik-cantik,” ucap Ji Eun setelah melihat akun SNS Sanghyuk yang penuh dengan permintaan pertemanan dari gadis remaja. Menurutnya wajar, Sanghyuk memang tampan dilihat dari sisi mana pun. Foto profilnya saja penuh gaya, dengan poni menantang langit dan kacamata frame hitam.

“Tapi noona-nim lebih cantik,” balas Sanghyuk. Sedari tadi posisinya hanya duduk bertopang dagu sambil memperhatikan wajah cantik seseorang di hadapannya. Tidak seperti pengagum kebanyakan, ekspresinya cukup meyakinkan sebagai seseorang yang tidak menaruh perhatian, datar dan dingin.

Ji Eun tersenyum tipis tanpa sedikit pun menoleh. “Kakak kelasmu juga cantik-cantik, apa yang membuatmu lebih memilih gurumu daripada kakak kelas?”

“Sebenarnya Song seonsaengnim tidak begitu cantik, kalau dibandingkan, noona-nim lah yang lebih cantik. Hanya saja dia pernah datang ke acara pemakaman ibu dan noona. Yah … mungkin itulah alasannya.”

“Kau selalu memujiku cantik, terima kasih banyak.” Ji Eun mengerling sambil tersenyum. Sanghyuk berpura-pura memperhatikan meja, tapi dalam hati dia tersipu.

“Dalam seminggu berapa kali kau bertemu ayahmu?”

“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

“Apakah ayahmu menikah lagi dan kau tidak menyukai ibu barumu?” Wanita itu kini mengabaikan laptopnya. Waktunya untuk serius.

Sanghyuk membalas tatapannya. “Ya.”

“Dari ibu barumu kau punya saudara?”

Hyung.”

“Apa kalian berkomunikasi dengan baik?”

“Tentu saja, dia sunbae-ku sejak sekolah menengah. Aku hanya tidak menyukai ibunya, bukan dia.”

“Mulai sekarang kau harus belajar menerima ibu barumu, Sanghyuk-a.” Hanya itu kalimat yang diucapkan Ji Eun untuk menutup obrolan mereka tentang topik ini. Fokusnya kembali tertuju pada laptop, semua yang diposting Sanghyuk dalam SNS-nya ia baca tanpa ada satu pun yang luput.

Noona-nim, kau punya waktu nanti malam? Mau makan denganku?”

**

“Ini hanya untukku, kau masih belum boleh mengonsumsinya.” Itulah yang diucapkan Ji Eun sesaat setelah pelayan membawakan satu botol soju ke meja mereka. Botol itu tidak diletakkan di tengah meja, tapi lebih menepi ke territorial Ji Eun.

“Kau yakin akan menghabiskannya? Kau harus menyetir,” ucap Sanghyuk sambil menatap lamat wanita di hadapannya. Toh kalau ditawari dia juga tidak akan mau, bau soju mengingatkannya pada sang ayah yang pernah depresi akibat meninggalnya ibu dan noona. Dia tidak mau mengonsumsi minuman itu meski usianya sudah dinyatakan dewasa.

“Tenang saja, satu botol tidak akan berpengaruh.”

Awalnya Sanghyuk mempercayai itu.

Tiga puluh menit kemudian, botol yang dipegang Ji Eun langsung direbut begitu saja dan disembunyikan di meja lain yang tidak ditempati siapa pun.

“Ah! Ah! My Soju!!” seru wanita itu sambil melambai-lambai. Sanghyuk dengan tangkas menangkap dan membekukan tangannya.

“Sudah cukup, noona. Kau sudah mabuk parah,” ujarnya dengan tone rendah.

“Satu kali lagi juseyo~”

Sanghyuk bersusah payah menelan salivanya ketika melihat aegyo yang dilakukan Ji Eun. Ia tetap menggeleng.

“Ah~~ jebal~

Dia masih tetap menggeleng.

Ji Eun pun mengerucutkan bibir.

Dan hari itu Sanghyuk terpaksa membawa Ji Eun ke apartemennya. Mobil milik Ji Eun ia serahkan pada pihak restoran, untuk dijaga agar besok Ji Eun bisa datang kemari sebelum pulang. Jarak apartemennya dengan restoran ini tidak begitu jauh. Ia bisa jalan kaki 10 menit.

“Hei Nak, mau tidak kuberitahu satu rahasia?” kicau Ji Eun tiba-tiba dari balik punggungnya. Sanghyuk hanya menoleh sekilas,tanpa menjawab. Namun begitu Ji Eun sepertinya memang tidak butuh jawaban. Dia melanjutkan ocehannya.

“Aku hampir mati.”

Langkah Sanghyuk memelan. Pendengarannya dipertajam.

“Haha, aku tahu kau pasti tidak percaya. Orang-orang selalu begitu, mereka tidak pernah memercayai apa yang kita katakan tentang diri kita sendiri, tapi lebih memercayai ucapan orang lain mengenai kita.”

“Tapi aku serius, Nak. Aku nyaris mati.”

Sanghyuk mendadak berhenti. Hanya untuk membenahi posisi Ji Eun yang melorot. Lantas jalan lagi.

“Dulu aku punya namjachingu. Dia tampan sekali, kaya sekali, baik sekali. Tapi aku tidak tahu kalau dia tidak benar-benar mencintaiku. Aku masih belum menjadi seorang psikiater waktu itu, jadi aku tidak sadar kalau dia sedang berakting. Aktingnya bagus sekali, aku salut. Kami sudah tidur sebanyak 6 kali dan aku tidak pernah menyadarinya. Saat itu aku masih SMA ketika dokter mengatakan kalau aku hamil.”

Sanghyuk menghembuskan napas berat dari mulutnya. Tetap mendengarkan.

“Aku pun mengatakan padanya kalau aku hamil. Tapi apa kau tahu, Nak apa yang dia katakan? ‘itu bukan urusanku’.”

Remaja itu menoleh sekilas untuk memastikan kalau Ji Eun tidak pingsan. Kepalanya kembali menoleh ke depan setelah tahu jawabannya.

“Kau yang bersedia melakukannya, jadi itu urusanmu. Lagi pula kau pikir aku sungguh-sungguh mencintai anak seorang pembunuh sepertimu? Hah, bodoh sekali dirimu, nona.” Ji Eun sedang memparodikan bagaimana mantan kekasihnya bicara. Suaranya bergetar, dan pertahanannya pun hancur sepersekian detik kemudian. Dia sudah tidak mengoceh lagi sampai mereka tiba di apartemen Sanghyuk.

Pemuda itu mendudukkan Ji Eun di sofa beludru depan televisi. Ji Eun masih menangis, ia pun membiarkannya sambil melakukan hal lain seperti melepas ransel, dasi, blazer, sepatu, kaus kaki. Tidak lupa dia juga melepaskan tiap kancing kemejanya, sehingga yang terlihat hanya kaos dalam saja. Karena tangis Ji Eun tak kunjung reda, ia pun memutuskan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.

Begitu kembali, Ji Eun sudah tidak lagi menangis. Wanita itu menerima minuman yang dibuatnya. Tapi tidak langsung diminum. Hanya digenggam menggunakan dua tangan. Dan dipakai sebagai bercermin.

“Sanghyuk-a, aku tahu kau menyukaiku.”

Sanghyuk hanya menatapnya. Menunggu kalimat selanjutnya.

“Hanya saja maaf, aku sedang tidak mau berurusan dengan laki-laki mana pun. Kuharap kau mau mengerti.”

Pemuda itu lantas duduk di samping Ji Eun, sedikit memberi jarak di antara mereka.

“Bagaimana kalau aku tidak mau menyerah?”

Ji Eun menoleh. “Tapi aku tidak menyukainya.”

“Apa hanya karena itu alasannya? Suatu hari nanti tentu kau akan menikah. Tidak mungkin selamanya kau sendirian, noona.”

“Aku tahu, tapi untuk saat ini aku belum siap.”

Sanghyuk menghela napas sambil membuang pandangan. “Kalau kau tahu perasaanku sejak awal, kenapa kau hanya diam saja?”

“Aku hanya tidak mau menyakitimu.”

“Kau seorang ahli psikologi, bukankah harusnya kau yang lebih tahu soal ini? Sebuah kejujuran jauh lebih baik meski menyakitkan sekalipun.”

“Apa kau akan berhenti meski aku mengatakannya di awal?”

Hening. Sanghyuk persis bungkam. Matanya yang tajam seperti elang sedang menatap lurus ke depan. Memperhatikan blazernya yang asal hempas di atas sofa beludru yang lain. Tapi hanya dia yang tahu kalau pikirannya tidak sedang ke sana.

Ji Eun menghela napas. “Untuk itu aku tidak mengatakannya. Aku tahu bagaimana jalan pikir anak remaja sepertimu, Sanghyuk-a.”

Wanita itu meletakkan cangkir dari tangannya di atas meja –setelah disesap sedikit, kemudian bangkit. “Aku akan pulang sekarang.”

Meski kepalanya masih sangat pusing, Ji Eun tetap bersikukuh untuk pulang malam ini. Tubuhnya oleng ke sana kemari saat melangkah menuju pintu keluar. Tepat dua langkah lagi sebelum pintu keluar, matanya mendadak berkunang-kunang. Keseimbangannya hilang, mungkin dia akan jatuh saat itu juga kalau Sanghyuk tidak datang memeluknya dari belakang.

“Sepertinya kau tidak bisa pulang hari ini, noona.”

**

Saat pagi datang, yang Sanghyuk lihat adalah apartemennya yang kosong. Sebuah tempat tinggal yang hanya dihuni oleh benda-benda mati, tanpa ada kehidupan sama sekali. Sendiri, dia sendirian. Tidak tahu kapan tepatnya Ji Eun meninggalkan tempat ini.

Ia pun menyeret kaki menuju kamar mandi, mendekati cermin yang berada tepat di atas wastafel.

Apa ini? Wajah siapa ini?

Hah, dia ternyata buruk rupa sekali dengan lingkar hitam di bawah mata. Dan apa itu? Air mata?

“Haha.”

.

.

“Arrgh!!!” –FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s