Farewell Hands #VIXXfiction

farewell-hands-art

ohnajla | romance, slice of life, drama, songfic | oneshoot | Teen

VIXX Ken || VIXX Ravi || Min Haru (OC)

Recommended song =>   VIXX – Farewell Hands ; BTS – Coffee

Baby baby, you’re a caramel macchiato
Your scent is still sweet on my lips

**

Perpisahan yang indah. Awalnya kupikir ini akan penuh dengan senyuman. Nyatanya justru uraian air mata. Indah, namun menyakitkan. Aku tahu aku tidak bisa mengelak dari hukum alam. Di mana ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Tapi, benarkah harus secepat ini?

“Mau sampai kapan kau di sana?”

Segera kutegakkan kepalaku. “Sebentar lagi. Kau bisa pergi duluan.”

“Yang benar saja. Baiklah, kutunggu di depan.”

“Eum.”

Langkah kaki terdengar mulai menjauh. Sempurna, sekarang hanya ada kita berdua di sini. Aku akan menemanimu sedikit lebih lama.

**

“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?” Ravi, selaku pengelola sekaligus chef di Coffee Shop itu menyapa seorang gadis berambut cokelat madu yang baru saja tiba. Meski ia tahu wajahnya selalu garang, tapi dia tidak pernah menunjukkan kegarangannya apalagi di hadapan seorang gadis.

“Oh pagi. Eum, kemarin saya juga datang ke sini. Ini kedua kalinya saya datang,” ucap gadis itu dengan ceria. Dia duduk di depan Ravi, tepatnya pada meja bar.

“Benarkah? Oh maaf, aku tidak mengingatmu.”

Gadis itu menggeleng pelan. Tidak masalah.

“Apa yang ingin kau pesan?”

“Eung … sebenarnya aku tidak begitu hafal menu di sini. Kemarin seorang barista yang punya hidung besar memberiku secangkir kopi. Aku tidak tahu namanya, tapi aku menyukainya. Bisakah aku memesan kopi yang sama dengan kopi yang kudapat kemarin?”

Ravi tampak berpikir sejenak. Setelah itu dia ingat sesuatu. “Ah … maksudmu barista berhidung besar itu Ken hyung?”

Dahi gadis itu mengernyit tapi mengangguk. “Bisa jadi.”

“Oh, kalau begitu kau bisa menanyakannya langsung. Dia baru saja datang, itu dia.”

Mengikuti arah telunjuk Ravi, gadis itu memutar tubuhnya. Senyum pun mengembang. Itu dia, barista yang kemarin memberinya kopi. Begitu mereka bertukar pandang, dia cepat-cepat turun dari kursi untuk menyapanya dengan formal.

“Selamat pagi.”

Ken bingung. Namun begitu dia tetap membalas sapaannya.

“Masih ingat aku? Aku yang kemarin kau beri secangkir kopi.”

Masih kebingungan, Ken memperhatikannya. Alisnya yang tebal saling bertemu di tengah kening. Mencoba mengingat-ingat siapa saja yang kemarin diberinya kopi. Tapi bukankah kemarin dia melakoni semua pekerjaan pelayan? Ya … karena kemarin Ravi terkena diare sehingga dia harus bekerja ekstra untuk membuat kopi sekaligus melayani pelanggan.

“Ah maaf, aku tidak ingat.”

Gadis itu cemberut. Ken merasa tidak enak hati.

“Aku benar-benar lupa, maafkan aku.”

Min Haru menghela napas panjang, setelah itu tersenyum. “Tidak apa-apa. Sebenarnya aku ingin menanyakan kopi apa yang kau berikan padaku kemarin. Rasanya sangat enak dan itu membuatku tidak membenci kopi lagi. Tapi karena kau tidak mengingatku, pasti kau juga tidak ingat kopi apa yang kau buatkan untukku kemarin.”

Ken menggaruk kepala belakangnya. “Ah ya, kemarin aku melakukan semua pekerjaan sendiri. Ng … bagaimana kalau kau ikut aku ke dapur, dengan begitu aku bisa membuatkanmu kopi yang kemarin.”

Haru menggeleng. “Sepertinya tidak bisa. Hari ini aku ada kuliah pagi.”

“Eh begitu ya.” Entah mengapa Ken merasa kecewa. “Ya sudah, lain kali kau bisa datang kemari. Aku akan coba mengingat kopi apa yang kubuatkan untukmu.”

Senyum penuh harapan terpampang di wajah pucat gadis itu. “Baiklah. Aku akan kembali nanti. Aku benar-benar menyukai kopi buatanmu itu. Kuharap kau cepat mengingatnya. Kalau begitu sampai jumpa, Ken-ssi.”

Tidak butuh waktu lama gadis itu sudah pergi dari café tersebut. Ken membuang pandangannya pada Ravi.

“Hey, kau tidak kena diare lagi ‘kan? Hari ini aku harus mengingat kembali kopi yang pernah kuberikan padanya. Jadi kau harus mengambil tugas pelayan, mengerti?”

Ravi nyengir, kemudian mengangguk. Ken kembali menoleh ke pintu, lantas bergegas pergi ke dapur.

**

Coffee Shop yang dibangun oleh Ravi dan Ken tidak pernah sepi pelanggan. Dengan menawarkan menu ringan terutama berbagai jenis kopi dan cake, café mereka laris total sejak dibangunnya café ini dua bulan lalu. Omzet yang didapat selalu tinggi. Ini benar-benar sebuah kesuksesan yang hanya bisa didapatkan oleh sebagian orang. Apalagi untuk orang-orang berusia 20-an yang baru saja belajar bisnis.

Ada saat di mana café sepi. Biasanya mereka menggunakan kesempatan itu untuk sekadar mengobrol berdua.

“Aku sudah berusaha mengingatnya tapi selalu gagal. Aku benar-benar lupa kopi apa yang kuberikan waktu itu,” ujar Ken yang datang dari dapur. Dia menghampiri Ravi yang sedang berdiri di belakang kasir, menghitung uang.

Ravi tampak bergumam sendiri. “Kau harus mengingatnya. Tidak lihat bagaimana ekspresinya? Dia benar-benar menyukai kopi buatanmu itu.”

Ken menghela napas. Lantas duduk di sebuah kursi. “Ah … kalau saja aku menuliskan semua pesanan, mungkin aku bisa mengingatnya. Ini semua salahmu. Kalau kau tidak terkena diare, aku sudah pasti mengingatnya.”

Ravi menoleh, tidak terima. “Justru karena aku terkena diare, dia bisa mengenalimu. Kau tidak tahu? Begitu dia sampai di sini dia langsung menanyakan ‘siapa si hidung besar yang memberiku kopi waktu itu?’. Jadi aku itu bukan alasan kenapa kau tidak bisa mengingatnya.”

Lagi-lagi Ken menghela napas. “Ah bagaimana ini….”

Kring.

Keduanya lekas menoleh ke asal suara. Oh? Gadis berambut cokelat madu itu lagi. Buru-buru Ken bangkit dengan punggung tegak layaknya tentara. Mereka berdua menyambut gadis itu dengan senyuman.

“Aku datang lagi,” seru gadis itu ceria. Ravi tertawa kecil, Ken cuma nyengir.

Tanpa basa-basi gadis itu duduk di kursi bar sebelumnya. Diletakkannya ransel di atas meja. Hari ini dia tampak cantik. Rambut panjangnya diikat ponytail ditambah dengan bando putih polos.

“Hari ini aku mau menagih janji.”

Mendadak Ken kelabakan. “A-ah itu….”

Wajah ceria gadis itu perlahan memudar. “Jadi masih belum ingat ya?”

Ken hanya menggaruk kepala belakangnya, sibuk mencari jawaban yang pas. Sementara Ravi memperhatikan mereka secara bergantian.

Hyung ini memang agak pelupa. Kalau kau mau kau bisa menceritakan deskripsi kopinya. Dia tidak bisa mengingat wajah seseorang tapi kalau urusan kopi dia jagonya.”

Ken menatap Ravi, mengucapkan terima kasih. Ravi membalas menatap sambil tersenyum tipis.

Sayangnya, ucapan Ravi itu tidak membantu banyak. Min Haru tersenyum, tapi matanya menunjukkan kekecewaan. “Baiklah.”

Ken membawanya ke dapur. Dia disuruh duduk, menunggu Ken meracik beberapa kopi yang sekiranya mendekati deskripsinya. Tapi setelah hampir 30 menit berlalu, kopi yang dibuat Ken tidak ada yang sama dengan kopi waktu itu. Terpaksa kopi yang sudah dibuat dihidangkan ke pelanggan yang kebetulan memesan. Namun begitu sekalipun Ken tidak berkeinginan berhenti.

“Ini juga bukan,” ujar Haru, untuk kopi kesekian kalinya.

Ken menghela napas. Ditariknya kembali kopi tersebut. “Maaf, aku benar-benar lupa kopi seperti apa yang kubuat waktu itu. Hah … kalau begitu katakan saja kau menyukai kopi yang seperti apa.”

“Sebenarnya aku sangat tidak menyukai kopi. Karena ibuku bilang kopi tidak baik untuk lambung dan pahit. Tapi waktu itu kau memberiku kopi yang sangat manis.”

“Kopi manis? Hm … ah! Caramel Macchiato? Kopi itu ‘kan?”

Haru tampak ragu. “Mungkin….”

Ken menjentikkan jarinya. “Baiklah, aku akan membuatnya. Tunggu.”

**

Min Haru adalah seorang gadis blasteran Korea Selatan – Jepang yang tinggal di Seoul dikarenakan oleh beberapa sebab. Kedua orangtuanya telah lama bercerai, dan sekarang dia tinggal bersama sang ibu di sebuah apartemen mewah distrik Gangnam. Ibunya memutuskan untuk tidak menikah lagi, tapi melanjutkan bisnis nenek Haru dalam bidang fashion. Sedangkan Haru sendiri melanjutkan kuliah di sebuah universitas swasta, mengambil jurusan pendidikan Bahasa Korea.

Sejak kecil Haru dilarang minum kopi oleh ibunya. Pertama karena rasanya sangat pahit, dan yang kedua karena sebab rahasia di mana Haru tidak diperbolehkan mengonsumsi kopi. Hampir 20 tahun hidupnya, dia bertanya kenapa dia tidak boleh minum kopi, tapi tak sekalipun sang ibu memberinya jawaban. Sekali tidak boleh, selamanya tidak akan boleh.

Namun begitu dia datang ke Ken-Vi Coffee Shop, untuk pertama kalinya dia menjadi seorang anak yang pembangkang. Mengapa? Tentu saja karena dia telah mengabaikan peringatan ibunya dengan diam-diam mencoba kopi. Kopi yang manis, tidak pahit seperti apa kata ibunya. Lagi pula, tidak ada gejala apa pun setelah dia mencoba kopi buatan Ken. Yang benar saja, ibunya pasti hanya menakut-nakuti.

Hari itu, Ken akhirnya berhasil menemukan kopi yang sangat disukainya. Caramel Macchiato. Itulah nama kopinya. Terdengar asing dan unik. Ia benar-benar suka kopi ini, dia suka Caramel Macchiato.

Ken tersenyum lebar. Merasa bangga karena telah berhasil menemukan kopi favorit pelanggannya. “Caramel Macchiato, memang terkenal karena rasanya yang manis. Untuk seseorang sepertimu yang belum pernah mencoba kopi dan tidak bisa minum kopi pahit, Caramel Macchiato adalah pilihan terbaik.”

Haru mengangguk setuju. “Rasanya seperti sedang minum susu, hanya saja rasa pahitnya sedikit terasa. Ini kopi yang unik sekali.”

“Sebenarnya aku tidak begitu pintar membuat Caramel Macchiato. Kalau saja bukan karena Ravi yang berani-beraninya memasukkan Caramel Macchiato ke menu aku tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk mempelajarinya.”

Haru tersenyum lebar, tampak terhibur. “Tapi ini benar-benar enak. Sepertinya kau punya tangan dewa.”

“Apa sih,” balas Ken sambil nyengir malu. Dia pun berbalik, mengambil cangkir baru untuk membuat kopi lain.

Pesanan demi pesanan datang, Ken bekerja sangat keras dan rajin. Ia sampai tidak sadar, kalau setengah hari itu Haru selalu di dapurnya, memperhatikannya meramu kopi. Dan ketika malam menyapa, barulah Haru pamit pulang.

“Mau kuantar?” tawar Ken ketika gadis itu akan bersiap pulang. Sebenarnya café ini juga mau tutup. Dia dan Ravi pun bersiap untuk pulang.

“Ah tidak usah. Rumahku tidak begitu jauh dari sini,” tolak Haru dengan halus. Karena dia masih di sana, dia pun membantu Ravi menaikkan kursi ke atas meja.

“Biar aku saja,” ujar Ravi ketika Haru akan mengangkat kursi kedua. Tanpa menunggu persetujuan, dia langsung menarik kursi itu dan mengangkatnya ke atas. Haru menggaruk kepala belakangnya sebentar, detik berikutnya bergeser.

“Aku dan Ravi juga tinggal tidak jauh dari sini. Kenapa tidak pulang bersama saja? Ini sudah terlalu malam, tidak baik untuk perempuan sepertimu.”

Setelah menghabiskan beberapa menit dengan perdebatan di kepalanya, Haru akhirnya setuju.

Rupa-rupanya, rumah yang disewa Ken dan Ravi berdiri tidak jauh dari gedung apartemen Haru. Mungkin hanya berjarak dua rumah. Mereka berpisah saat Haru telah sampai di gedung apartemennya.

“Ini pertama kalinya ada seorang gadis yang benar-benar menyukai kopiku,” ujar Ken setelah mereka sampai di rumah sewa. Pria itu melepas mantel dan ranselnya untuk ditaruh di atas sofa. Sementara Ravi sendiri masih sibuk melepas sepatu.

“Awalnya kupikir dia menyukaimu, hahaha. Baguslah kalau tidak begitu. Kalau dia tahu seperti apa kau itu, dia pasti akan sangat kecewa.”

Ken melempar sebuah snack bar ke kepala Ravi sampai terdengar bunyi TUK yang keras. Ravi meringis kesakitan. Dia tidak melempar balik snack bar itu, tapi malah mengantonginya.

“Masih lebih baik dia menyukaiku daripada menyukaimu. Kau malah tidak ada apa-apanya.”

Ravi hanya angkat bahu tak peduli.

**

Setelah hari itu, Min Haru telah menjadi pelanggan tetap Ken-Vi Coffee Shop. Dia selalu datang tiap sebelum berangkat kuliah atau pulang dari kuliah. Minuman yang dia pesan selalu sama. Ravi maupun Ken hafal sekali apa pesanannya. Dia juga sering memesan Red Velvet ataupun cake yang lain. Biasanya dia duduk di meja bar, kalau penuh, biasanya dia pergi ke dapur untuk menemani Ken membuat kopi.

Senyum yang selalu terpampang di wajahnya membuat hari-hari Ken makin indah. Entah dorongan dari mana, setiap dia berangkat kerja bersama Ravi, tidak ada lagi rasa malas di dalam dirinya. Padahal dia itu tipikal pria yang mudah bosan dengan rutinitas, tapi setelah tahu kalau Haru selalu datang ke café mereka, dia tak lagi seperti itu. Perubahan yang baik memang.

Tapi … hatinya juga ikut berubah. Dia … Ken Lee, pria berusia 23 tahun, jatuh cinta pada seorang pelanggannya.

Ravi hanya tertawa garing mendengarnya. Pengakuan Ken seolah gurauan yang sudah basi. Cinta?

“Hah. Memangnya kapan hyung pernah benar-benar jatuh cinta? Sudahlah. Hyung selalu bicara begitu tiap tertarik pada perempuan, ya, hanya tertarik. Kau tidak sungguhan mencintainya, cobalah pahami perasaanmu sendiri, hyung.”

TUK! Sebuah snack bar lagi-lagi terantuk ke kepala Ravi. Ssh! Hyung ini!

“Kau ini bicara seolah kau sudah senior dalam masalah seperti ini. Ingat, aku lebih tua setahun darimu.”

Ravi memajukan bibirnya sambil mengarahkan bola mata ke atas.

“Lagi pula dia berbeda dengan gadis lainnya. Dia menyukai kopiku. Aku bisa merasakan ketulusannya saat dia menemaniku di dapur. Dia … dia itu beda. Ah seperti itulah pokoknya. Kau tidak akan mengerti.”

“Aku memang tidak mengerti. Ah sudahlah. Aku lapar. Hyung mau sekalian kubuatkan ramen tidak?”

“Ya, tambahkan telur.”

“Tidak ada telur di sini!” pekik Ravi yang sudah sampai di dapur.

“Ya sudah biasa saja!”

Ken kembali termenung. Lagi-lagi tanpa mengindahkan kata-kata Ravi tadi. Dia yakin benar, kalau dia jatuh cinta pada Haru. Ravi bicara begitu karena iri saja mungkin.

**

Ken Lee, dan Ravi Kim adalah dua pribumi asli. Ken dan Ravi, hanyalah nama panggilan yang dikhususkan untuk para pelanggan Ken-Vi Coffee Shop. Tentu saja mereka punya nama masing-masing. Lee Jaehwan adalah nama asli dari Ken Lee, sementara Kim Wonshik adalah nama asli dari Ravi Kim. Usia mereka berbeda satu tahun dengan Ravi yang lebih muda. Mereka begitu dekat sejak SMA. Dan kedekatan itu terbawa hingga saat ini.

Ken memiliki visual yang setingkat lebih baik di atas Ravi. Oleh karena itu, sudah tidak aneh lagi kalau Ken selalu menghabiskan akhir pekannya dengan pergi kencan. Tiap minggu selalu dengan orang yang berbeda. Pernah dalam setahun dia memecahkan rekor, berkencan dengan 40 gadis dari rentang usia 16 hingga 23 tahun. Ckckck, lihatlah Ravi. Dia baru pergi kencan kalau sedang tidak beruntung. Tidak beruntung karena apa? Tentu saja karena Ken. Kalau mereka sedang bermain TOD atau batu gunting kertas, Ken selalu memberinya hukuman berupa kencan bersama seorang gadis. Sayangnya dari berbagai acara kencannya, tidak ada satu pun yang berhasil menjadi kekasihnya. Nasib orang berwajah garang.

Untuk itu, kenapa Ravi bisa tidak begitu percayanya setelah mendengar pernyataan Ken tentang perasaannya pada Haru. Ya karena kasus kencan itu. Ken hanya ingin bersenang-senang, tidak ada keinginan sedikit pun untuk berhubungan lebih dekat dengan seorang di antara mereka. Mendengar bahwa Ken jatuh cinta pada seorang gadis, itu benar-benar suatu lelucon yang sudah basi.

Namun Ken berusaha membuktikan bahwa ucapannya tidak hanya sekadar basa-basi. Hari itu Haru kembali datang ke café mereka, dengan setelan kasual sederhana ditambah red Converse. Mengingat meja bar yang penuh, dia memilih pergi ke dapur. Bertemu dengan Ken yang sedang meramu kopi.

“Pagi,” sapa Ken dengan hangat.

Caramel Macchiato seperti biasa,” jawab Haru diiringi dengan senyum manis.

“Apa kau tidak bosan meminumnya setiap hari?”

Gadis itu menggeleng. “Rasanya tidak pernah membuatku bosan. Aku selalu merindukannya setiap hari.”

Ken tertawa ringan. Setelah semua pesanan selesai, ia pun beranjak membuatkan kopi untuk Haru. “Kau hanya merindukan kopinya? Tidak merindukanku?”

Haru menggeleng, tapi detik berikutnya tertawa. “Aku hanya bercanda.”

Ruangan itu terasa hidup, Ken sedang sangat bahagia. Setelah Caramel Macchiato itu tersaji, ia pun duduk dihadapan gadis itu, menyimaknya betul-betul.

“Aku selalu melihatmu datang sendiri, kau tidak punya namjachingu?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, Haru tertawa. “Namjachingu?  Aku masih ingat kalau itu trend di masa sekolah. Kalau sudah kuliah seperti ini, memikirkan namjachingu sama saja dengan memikirkan kehidupan di masa depan. Aku pernah punya dua di SMA, untuk sekarang tidak sama sekali. Lalu bagaimana denganmu?”

Ken menggaruk kepala belakangnya. “Eung … yah aku tidak pernah punya yeojachingu satu pun. Hanya berkencan dan sudah.”

Haru mengangguk paham. “Akhir-akhir ini eomma banyak menyuruhku untuk ikut kencan buta. Katanya, eomma bosan melihatku hanya sibuk belajar di kamar sementara teman-temanku banyak yang bepergian bersama teman-teman dan namjachingu mereka, haha. Tapi yah … karena aku sedang tidak mau memulai hubungan dengan siapa pun, jadi ya aku tidak mengikuti perintahnya.”

“Seumpama ada seseorang yang mengajakmu kencan?”

“Itu sih tergantung siapa dulu orangnya,” balas Haru sambil terkekeh.

“Memang apa agendamu akhir pekan nanti?”

“Mungkin pergi berbelanja. Kenapa?”

“Mau pergi nonton?”

Ekspresi gadis itu seketika berubah. Terkejut? Tentu saja. Dia tidak kepikiran kalau orang yang mau mengajaknya berkencan adalah Ken.

“Bagaimana?” desak Ken agak tidak sabaran. Sepertinya dia tidak punya kepekaan terhadap ekspresi seseorang.

Berusaha menutupi kekecewaannya, Haru tersenyum lantas mengangguk. “Baiklah.”

Ken tersenyum lebar. Sementara Haru menyesap Caramel Macchiato-nya dengan perasaan yang bercampur aduk.

**

Akhir pekan datang juga. Ken sudah berpakaian rapi. Sweater cokelat muda bermotif kupu-kupu yang dibelinya kemarin di pusat fashion, tampak melekat nyaman di tubuhnya. Tak lupa rambutnya yang disemir cokelat kayu ditutup dengan topi fedora. Diliriknya arloji, sudah dua menit berlalu dari janji tapi Haru belum juga menampakkan batang hidungnya. Lelah berdiri, dia pun bersandar di pagar. Orang yang lalu lalang mengamatinya dengan aneh. Sesekali Ken bisa dengar celetukan mereka seperti, “hidungnya besar sekali?” “Dia artis bukan?” Kalau sudah begitu Ken hanya tersenyum sambil melambai.

Yang ditunggu akhirnya datang. Ken segera berdiri tegak, dan menghampirinya. Ketika pandangan mereka bertemu, saat itulah Ken merasakan sesuatu yang ganjil. Dia tidak tahu apa itu. Yang pasti Haru tampak berbeda. Bukan karena sweater abu-abu yang dipadu dengan jeans-nya tampak cantik ketika dipasangkan dengan boot cokelat karamel. Tapi karena….

Ah sudahlah, mungkin itu hanya bayangannya saja.

“Pergi sekarang?”

Haru mengangguk. Ketika tangannya disambut oleh tangan Ken, tak sedikit pun dia menolak. Mereka pun berjalan beriringan menuju lokasi bioskop. Tidak jauh, hanya perlu berjalan 5 menit.

Usai membeli tiket serta popcorn dan soda, mereka pun masuk ke ruangan. Film yang mereka tonton bergenre comedy romance. Ken sangat menikmati filmnya. Dia tertawa sangat keras. Begitu film selesai, ia pun menggamit tangan Haru, selayaknya pasangan kekasih yang lain.

Hari masih pagi. Akan sangat sia-sia kalau mereka langsung pulang. Untuk itu Ken mengajaknya ke taman bermain. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Taman bermain di akhir pekan selalu ramai dengan anak kecil, sementara untuk orang seusia mereka kebanyakan menghabiskan waktu di tempat-tempat wisata. Tapi Ken sepertinya tidak peduli hal itu meski dia tahu sekalipun. Karena yang dia inginkan hanyalah menghabiskan waktu lebih lama dengan Haru. Caranya, makan es krim bersama di kursi taman.

“Ini untukmu.”

Haru menerimanya tanpa banyak bicara. Ken duduk di sampingnya.

“Filmnya tadi bagus ‘kan? Lain kali bagaimana kalau kita pergi menonton lagi?”

Krim vanilla tampak mengotori punggung tangan Haru. Gadis itu tidak berkutik sama sekali. Sempurna mematung.

Ken yang tidak mendengar apa pun lantas menoleh. Dilambaikan tangannya di depan wajah gadis itu. Haru tersentak.

“Oh ya? Kenapa?”

Dahi pria itu mengernyit. “Kau melamun ya? Es krim-mu cair.”

Buru-buru Haru menjilati tangannya. Ken hanya memperhatikan tanpa banyak bicara. Namun karena cara menatap yang seperti itu, Haru jadi malu sendiri. Dia lekas mengeluarkan tisu untuk menghapus jejak jilatannya barusan.

Ken berpaling, seolah tidak sedang melihat apa-apa.

“Ah maaf. Hari ini aku sedang banyak pikiran. Tadi kau bicara apa?”

Pria itu menoleh, menggeleng sambil tersenyum. “Tidak apa-apa. Hanya mengingatkan es krim-mu cair.”

“Oh….”

Di saat dia menyimak wajah gadis itu, lagi-lagi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Entahlah, aneh saja. Padahal tidak ada noda sama sekali sana, malah terkesan sangat cantik dan natural. Lensa matanya pun terlihat alami, lihat, tidak ada apa pun. Tapi perasaan ganjil itu terus dirasakannya.

“Eung … Haru-ya….”

“Ya?”

“Kau akan datang lagi ke café ‘kan, besok?”

Haru mengangguk dengan entengnya. “Tentu saja. Kenapa?”

Namun jawaban itu makin membuat Ken merasa ganjil. “Meski aku menyatakan perasaan padamu, kau tetap akan datang?”

Raut wajah Haru seketika berubah. Ken mulai cemas.

Mereka saling bertukar pandang. Perasaan ganjil itu makin terasa mencekam, sebenarnya apa ini?!

Angin tiba-tiba berhembus kencang, menjatuhkan es krim dari genggaman Haru. Es krim itu terbaring berantakan di tanah, Ken memperhatikannya tanpa sedetik pun berkedip.

“Ken … sebenarnya … ini bukanlah sesuatu yang aku harapkan….”

Netra cokelat tanah milik Ken bergulir pelan ke tempat di mana wajah gadis itu berada. Ia langsung terkunci oleh tatapan sendu gadis itu.

“Aku hanya menyukai kopimu, dan menganggapmu sebagai teman. Tidak lebih. Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak sedang ingin berhubungan dengan siapa pun?”

Ken buru-buru memalingkan pandangan. Kenapa perasaan ganjil itu terus menderanya? Kenapa dia tiba-tiba ketakutan seperti ini?

“Kalau memang begitu, kenapa kau tidak menolak ajakan kencanku?”

“Karena kupikir kita hanya berkencan, tidak lebih.”

Ken menghela napas, berusaha menenangkan diri. “Aku sudah menyukaimu sejak kau datang ke café kami. Kau tiba-tiba muncul dengan mengatakan kalau kau sangat menyukai kopiku. Bagiku itu merupakan penghargaan untuk seorang barista abal-abal sepertiku. Tentu saja aku tidak coba-coba berpikiran pendek, dengan meyakini kalau kau menyukai kopiku berarti kau menyukaiku juga. Jadi, aku menunggu waktu, untuk benar-benar memahami perasaanku apakah aku benar menyukaimu atau tidak, dan juga untuk memahami apakah kau mulai bisa menyukaiku atau tidak. Aku serius dengan ini.”

Haru mendadak bangkit. Ken pun menoleh. “A-ada yang harus kulakukan. Aku pergi dulu. Permisi.”

Di saat Haru beranjak, di saat itulah ketakutan Ken makin menjadi. Ia baru menyadari hal ganjil yang dirasakannya sejak awal. Ganjil yang sangat mengerikan. Terburu-buru dia bangkit dan melesat mengejar gadis itu.

“Min Haru! Tunggu!”

Tapi Haru tidak mendengarnya. Gadis itu justru berlari lebih kencang. Menyelinap ke dalam kerumunan orang, bergerak zig-zag untuk menyusahkan Ken. Terlepas dari kerumunan, jalan besar menghadang. Tidak ada waktu menunggu lampu lalu lintas. Meski banyak mobil yang lalu lalang dengan cepat di depan mata, dia tetap bergerak lurus. Satu dua mobil beruntung tidak menabraknya. Tinggal tiga langkah lagi untuk sampai di seberang jalan.

“MIN HARU!!”

TIIIIIN! CKIIIIIIIIIT! BRUAK!

Di tepi jalan lain, Ken hanya bisa mematung. Dia tetap bergeming meski orang-orang di sekitarnya berlarian mendekati seseorang yang baru saja terlempar lima meter dari titik lokasi. Ia terkejut, benar-benar terkejut. Dan karena keterkejutannya itu, otaknya berhenti bekerja.

Haru….

**

Hyung, ini sudah hampir malam.”

Aku pun menoleh. Oh, Ravi. “Baiklah. Aku akan bicara dengannya sebentar.”

Ia pun mundur selangkah, membiarkanku menaruh gambar Caramel Macchiato di dekat pigura fotonya. “Aku tidak bisa memberimu apa-apa. Kuharap kau menyukai hadiah terakhir dariku. Selamat tinggal, Min Haru.”

Kubungkukkan badanku 90 derajat penuh, memejam. Setelah itu berbalik, menatap Ravi sebentar lalu mengangguk. Kami pun pergi dari sana.

Benar … hari sudah mulai gelap.

Kutegakkan kepalaku ke atas. Tak kusangka langitnya indah sekali. Seperti sedang melihat berlian bertaburan di langit, penuh dengan kerlap-kerlip yang menyilaukan. Dari sekian banyak di atas sana, hanya satu yang menarik perhatianku. Warnanya sangat putih dan bersinar paling terang. Dia bergerak cukup cepat membentuk parabola dengan ekor yang sangat panjang di belakang. Itu … bintang harapan.

Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti, Min Haru.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s