#10 Secret Love [Blood Sweat & Tears]

10

 

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

Member EXO (cameo)

“One day we’re talking, the next it’s like we’re total strangers”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

#3 Lie

#4 Stigma

#5 First Love

#6 Reflection

#7 Scary Date

#8 Worried

#9 Saturday Night

#10 Secret Love

Usai pengumuman pemenang, rombongan Baekhyun pun akhirnya pulang ke Seoul. Hasil yang sempurna. Min Yoongi terpilih menjadi pemenang pertama. Dia mendapatkan hadiah yang sangat diinginkannya sejak lama. Yaitu beasiswa ke Royal College of Music di London. Belajar musik klasik di sana selama setahun penuh.

Di dalam bus dia sibuk menelepon keluarganya. Untuk apa lagi kalau bukan memberitahu perihal kemenangannya hari ini. Dia tampak bahagia. Agak aneh juga. Kali ini tidak ada keributan apa-apa yang biasa dibuat oleh Sena dan Yoongi. Suasana bus itu sempurna damai.

Sena toh tidak peduli. Dia menghampiri Jimin yang sedang sibuk mendengarkan lagu sambil melihat keluar. Duduk di hadapannya, menyesap soda.

Jimin yang menyadari kehadirannya pun menoleh. Melepas satu earphone. “Mau mendengarkan lagu juga?”

Gadis itu menggeleng. “Tidak usah. Dengarkan sendiri saja.”

Tapi Jimin malah mematikan lagunya. Mencondongkan badan ke depan, menatap gadis itu sambil menopang dagu. “Sudah lama aku tidak bicara denganmu empat mata seperti ini.”

“Iyakah?” Sena tersenyum. Meletakkan soda di atas meja. “Bagaimana dengan tugas pertama klub-mu itu?”

“Berjalan baik. Setidaknya Hoseok hyung tidak mengumpatku.”

“Aku bukan orang yang gampang mengumpat, bodoh,” sahut Hoseok dari sisi lain. Ternyata dia dengar. Jimin yang ketahuan pun tersenyum tipis.

“Kau beruntung memiliki ketua klub seperti Hoseok oppa. Kau tahu, si siput itu memang tidak mengumpatku sewaktu aku melakukan tes pertama. Tapi dia merendahkanku lewat tatapannya. Cih. Aku iri sekali padamu.”

Senyum di wajah Jimin perlahan memudar. “Berbicara tentang Yoongi hyung, tadi, bagaimana kau bisa tahu kalau dahinya terluka? Kurasa bukan hanya aku saja di sini yang tidak tahu akan lukanya itu.”

“Luka? Oh … yang tadi. Yah … kemarin kami bertengkar lagi sewaktu berbicara di pantai. Itu ulahku, hehe. Lihatlah, dahiku juga ada.” Gadis itu menyibak poninya. Memperlihatkan lecet kecil yang tampak kemerahan.

Jimin memajukan wajahnya untuk mengamati luka itu dari dekat. “Kenapa kau tidak menutupnya dengan plester seperti yang kau lakukan pada Yoongi hyung tadi?”

Sena menutup kembali lecet itu dengan poninya. “Untuk apa? Aku tidak membutuhkannya. Tidak ada juga orang yang akan peduli dengan luka ini, hehe.”

“Itu tidak benar!”

Volume suara Jimin yang tiba-tiba meninggi seketika menghentikan semua aktifitas di bus itu –terkecuali Jaejin. Sena adalah satu-satunya yang paling terkejut di sana. Jimin menatapnya sebentar, lalu menghela napas sambil membuang pandangan.

“Jangan bicara seperti itu. Kau akan menyakiti hati orang yang sudah memedulikanmu.”

Sena memperhatikan sekelilingnya sekilas. Beberapa dari mereka sudah kembali ke aktifitas masing-masing. Tapi dia tahu, mereka pasti penasaran kenapa Jimin tiba-tiba berteriak seperti itu. Dia juga sempat bersitatap sekilas dengan Yoongi. Pria itu hanya menatapnya datar sambil beranjak memasuki ruang belakang.

Ia pun kembali memandang pria di hadapannya. Ingin sekali dia mengatakan sesuatu. Tapi … sulit. Pria itu bahkan sudah larut dalam lagu di ponselnya. Sengaja mengabaikan.

Yoongi dijadwalkan akan pergi ke London di awal musim panas nanti. Selama hari itu tiba, dia akan berhenti dari berbagai kegiatan non sekolah dan fokus untuk melatih bahasa Inggrisnya. Untuk sementara, klub musik klasik Hanyang khususnya sub piano akan dipegang oleh Baekhyun. Ya, dia akan turun tangan menjadi ketua klub itu untuk sementara. Tidak sulit untuk meminta hal itu dari pihak Hanyang. Toh, dia juga termasuk salah satu donatur terbesar untuk sekolah putranya itu.

Kabar baiknya, Taehyung juga akan bergabung dengan klub musik klasik. Bedanya dia akan masuk bagian Saxophone. Meski begitu, mendengarnya akan masuk klub musik klasik, Sena sudah bahagia. Yes! Akhirnya kesempatan untuk berlama-lama dengan Taehyung terwujud. Rejeki mana yang akan dia tolak kalau begini.

Suasana rumah pun jadi sepi. Tidak ada lagi keramaian yang diperbuat oleh Sena dengan Yoongi. Dua orang itu sudah asyik dengan dunia masing-masing. Seolah melupakan kalau mereka pernah saling mengumpat, tinggal di tenda bersama, terpaksa melewati satu malam di Busan dengan tangan saling bertaut, termasuk soal pacar bohongan. Semua itu telah berlalu.

Sena lebih banyak berkutat dengan tiga kurcaci teman sekelasnya. Entah itu belajar bersama, bermain game bersama, mereka sudah tidak bisa terpisahkan. Dampaknya, Sena jadi tidak memiliki teman perempuan satu pun. Yah … walaupun begitu Sena tidak peduli. Memangnya untuk apa membuang-buang waktu berteman dengan gadis-gadis yang hanya ingin cari perhatian tiga pria ini? Lebih baik tidak usah saja, gampang bukan?

Sena datang bersama Jimin ke pertandingan pertama Taehyung dengan SMA Kirin. Mereka berdua jadi penonton penggembira yang sangat menggembirakan. Taehyung terus tertawa melihat tingkah mereka, tapi untung tidak sampai membuat timnya kebobolan.

Karir Jimin di klub tari juga melonjak baik. Selain karena menari itu adalah bakatnya, dia juga memiliki sifat tekun, selayaknya pria Busan kebanyakan. Hampir sebagian besar siswi perempuan yang tergabung di klub itu menyukainya.Dia sudah menjadi idola. Menggeser posisi Hoseok yang seharusnya mendapatkan title itu.

Sesekali Namjoon membantu Yoongi belajar bahasa Inggris. Dia tidak iri dengan apa yang didapat kawannya itu. Dia turut bersuka cita. Akhirnya Yoongi berhasil meraih apa yang diimpikannya sejak lama. Dan sebagai teman yang baik, sudah seharusnya dia mendukung dan membantu. Dan membantu belajar bahasa Inggris adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan.

Hingga tak terasa waktu keberangkatan Yoongi pun makin dekat. Seminggu sebelum pergi ke London, dia memutuskan untuk pulang ke Daegu. Ingin bertemu dengan kedua orangtuanya, sekaligus meminta restu. Tepat dua hari sebelum menuju Incheon, dia kembali ke rumah Baekhyun. Menghabiskan sisa waktu bersama teman-teman dan samchon yang sudah bersedia menampungnya di rumah ini. Tidak terkecuali untuk gadis bernama Sena.

Malam setelah farewell party di pekarangan belakang, Yoongi menarik dan mengunci Sena di kamarnya. Sama persis seperti yang dilakukannya saat ingin mengajak gadis itu untuk menjadi kekasih bohongan dulu. Dahi gadis itu tampak berkerut. Hanya menurut saat dirinya disuruh duduk di sofa yang ada di ujung ranjang. Sementara itu Yoongi menarik kursi kayu dan duduk semeter di hadapannya.

Satu menit lebih mereka hanya saling menatap. Yoongi tiba-tiba mengalihkan pandangan.

“Kau mau memintaku jadi pacar bohongan lagi?” tanya Sena tiba-tiba. Berusaha menebak.

“Tidak. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”

“Bukan untuk mengungkapkan perasaan ‘kan?” todong Sena cemas.

“Tentu saja tidak. Kenapa setiap aku bilang aku ingin mengatakan sesuatu kau selalu berpikir ke arah sana? Atau jangan-jangan kau sangat menantikan itu dariku?”

Gadis itu melotot. “K-k-kenapa aku … aish, lupakan, lupakan saja yang tadi. Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan. Aku sudah mengantuk.”

“Kalau kau mengantuk, tidur di situ juga tidak apa-apa,” balas Yoongi enteng. Dia buru-buru minta maaf setelah mendapat ancaman mati dari Sena.

Kembali ke pokok bahasan.

“Aku menguncimu di sini, sebenarnya ingin … yah … kau tahu … kita ini- ah maksudku kau dan aku, sudah hampir tiga bulan lebih tinggal di sini bersama. Ya bersama yang lainnya juga sih. Tapi kutekankan bahwa ini hanya antara kau dan aku saja.”

Sena menguap lebar. Lantas menutup mulutnya rapat-rapat dengan mata memerah. “Cepatlah sedikit. Aku tahu bahwa kau ini bukan tipe pria yang suka berbasa-basi. Aku sudah tidak kuat menahan kantuk.”

Pria itu menatapnya sesaat. Kemudian menggaruk tengkuk gelisah. “Eum … bagaimana ya. Intinya aku ingin kita menjadi sedikit lebih dekat. Eh, bukan dekat seperti pasangan kekasih, oke? Dekat yang kumaksud di sini seperti aku dengan Jimin, atau aku dengan Taehyung, atau juga dengan yang lainnya. Ya … seperti itulah.”

“Oh, hanya itu. Kalau yang kau bicarakan hanya ‘ingin kita lebih dekat selayaknya teman’ seharusnya kau tidak perlu mengunciku di sini. Memangnya kau tidak kapok dengan ulah tiga anak itu waktu itu?”

“Ck, aku ini paling tidak suka berbicara empat mata di tempat yang ramai. Banyak orang itu menyusahkan,” balas Yoongi sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Dan satu lagi, sebenarnya bukan hanya itu yang mau aku bicarakan denganmu.”

“Masih ada lagi? Ah … aku sudah terlanjur senang untuk tidur lebih awal. Ya sudah, cepat katakan.”

Pria itu menatapnya intens. “Hari itu, pertemuan kedua jadwal klub piano, kenapa kau tiba-tiba pergi keluar? Aku terus memanggilmu tapi kau tidak menoleh sama sekali. Wae? Apa hari itu aku sudah berbuat salah? Dan kenapa kau tiba-tiba menjauhiku?”

Teringat kembali hari perdebatannya dengan Sooyoung. Benar-benar hari yang saaaangat dibencinya. Bahkan tatapan Yoongi waktu itu masih teringat baik di ingatan. Argh … padahal beberapa pekan ini dia sudah bisa melupakannya, eh sekarang disinggung lagi. Bohong namanya kalau dia tidak marah mengingat kejadian itu.

“Ya, kau sudah berbuat salah. Kau seharusnya tahu, di saat-saat seperti itu aku sebenarnya sangat membutuhkan pembelaanmu. Aku ingin kau membelaku di depan mereka, selayaknya ketua yang bersikap adil terhadap rekan-rekannya. Tapi kau malah ikut-ikutan seperti mereka. Kau menatapku rendah, seolah aku ini si pendosa yang layak dikucilkan masyarakat. Aku bahkan tidak melakukan kesalahan apa pun! Lalu kenapa kau menatapku seperti itu?!!! Bukannya di awal aku sekolah kau sudah tahu, kalau aku paling tidak suka ditatap banyak orang?”

Kaca-kaca bening mulai terlihat di kedua netra gadis itu. Dia benar-benar tidak bisa marah. Selalu air mata yang mewakili perasaannya. Argh, ingin sekali dia mengumpat dirinya sendiri yang gampang meneteskan air mata. Apalagi menangis di depan seorang pria, pria bernama Min Yoongi.

Pria itu membuang pandangan. Mengusap wajah, menghela napas panjang. Dia tidak suka. Air mata perempuan itu menyebalkan. Dadanya selalu sesak sendiri setiap kali melihat seorang perempuan menangis. Dia benar-benar tidak suka perasaan itu.

“Sepertinya kau salah paham. Aku tidak merendahkanmu.”

“Tapi kau terlihat seperti itu.”

Yoongi menggeleng. “Aku sungguh-sungguh tidak melakukan itu. Aku hanya … sedikit tidak percaya saja. Aku tidak pernah merendahkanmu.”

“Pembohong,” seru gadis itu sambil menyeka kedua matanya. “Kau pikir aku hanya asal menebak saja? Ekspresimu tidak jauh beda dengan ekspresi Sooyoung! Kalian berdua sama-sama brengsek!”

“Sudah kubilang aku tidak melakukannya!” Pria itu menoleh dengan wajah tegang. Hanya beberapa saat. Tak lama kemudian dia menghela napas. “Aku tidak merendahkanmu. Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya tidak percaya kalau kau benar-benar punya bakat sehebat itu. Aku iri! Puas? Sekalipun aku tidak pernah merendahkan atau meremehkan orang lain. Karena aku sendiri tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu oleh orang lain!”

Sena terdiam sejenak. “Iri? Kau iri padaku?”

“Ya, aku iri padamu. Kau bisa dengan mudah meniru permainan piano hanya dengan telinga, tapi aku … aku harus belajar selama lima tahun dulu sebelum aku bisa menguasainya. Aku sangat ingin memiliki bakatmu itu.”

“Bukan aku yang meminta bakat ini….”

“Aku tahu. Dan bukan salahmu juga kalau kau membuatku iri,” balas Yoongi sambil membenahi posisi duduknya. “Masalah Sooyoung, sepeninggal dirimu, aku langsung menegurnya. Kusarankan dia untuk pergi minta maaf padamu, tapi kurasa dia tidak melakukannya.”

Benar, Sooyoung tidak sekalipun meminta maaf pada Sena. Hubungan mereka merenggang begitu saja. Selama jadwal klub pun, mereka berdua sama sekali tidak pernah bicara. Sena sibuk dengan dunianya sendiri, Sooyoung sibuk bermesraan dengan Yook Sungjae –salah satu siswa yang tergabung dalam klub piano, kekasihnya.

Gadis itu menunduk. Menyedot kembali ingus yang hampir keluar dari hidungnya. “Kalau memang begitu, aku minta maaf. Aku mengaku salah karena sudah salah paham denganmu.”

“Ck, yang harus minta maaf itu aku. Sudahlah, jangan menangis lagi. Air matamu itu mengesalkan, tahu!”

Sena lantas menyeka sisa-sisa air mata di wajahnya. “Aku selalu menangis setiap aku marah. Jangan sebut aku cengeng. Aku sangat tidak suka disebut seperti itu.”

“Aku tidak akan melakukannya. Toh aku juga akan pergi dari sini.”

Setelah wajahnya terasa kering, Sena pun kembali mendongak untuk memandang pria di hadapannya. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan pria itu. Bolehkah dia ganti bertanya?

“Bagaimana luka di dahi dan tanganmu?”

“Sudah baik-baik saja,” jawabnya singkat sambil memperlihatkan dahi dan pergelangan tangan kanannya. “Seharusnya kau menanyakan itu beberapa bulan yang lalu.”

“Lalu tentang gadis bernama Kim Yoojin?”

“Ah dia, ya, aku lupa memberitahumu. Kemarin saat di Daegu aku bertemu dengannya. Yah … dia datang ke rumah orangtuaku. Tetap bersikeras untuk menikah denganku. Tapi setelah ibuku menasehatinya, dia akhirnya menyerah. Intinya, aku sudah tidak ada masalah lagi dengannya.”

“Oh. Baguslah. Setidaknya dia tidak akan mencari-cariku.”

Hening.

Tik

Tik

Tik

“Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku akan kembali ke kamarku,” ujar Sena seraya bangkit, diikuti oleh Yoongi beberapa detik setelahnya.

Mereka hanya diliputi diam selama perjalanan menuju pintu keluar. Semakin dekat pintu itu, semakin tidak rela saja Sena melangkah pergi. Entahlah. Seperti ada sesuatu yang dia lupakan, tapi tidak tahu apa itu.

Dia berhenti tepat di depan pintu yang tertutup itu. Menunggu Yoongi membukakannya. Tangan pria itu terulur dari belakang tubuhnya, menyentuh gagang pintu. Berhenti.

“Besok … mau kencan denganku?”

Sena menatap lurus pada tangan kekar itu. “Eum.”

CKLEK! Kriet.

“Sampai bertemu besok.”

Gadis itu mengangguk, lantas melangkah keluar. Sesaat setelah dia berada di luar, pintu kembali ditutup.

Pertama kalinya dalam seumur hidup. Kencan sungguhan dengan seseorang. Kedua remaja ini tampak sudah bersiap dengan setelan masing-masing. Sena tampaknya sedang ingin menunjukkan lehernya yang jenjang. Rambut hitam tebalnya diikat ponytail, tampak manis dipadukan dengan kaos olive panjang polos serta rok jeans selutut. Sementara Yoongi lagi-lagi dengan setelan serba hitam. Lucunya di musim semi seperti ini dia malah memakai jaket zipper. Satu-satunya hal yang membuat mereka mirip hanyalah sepatu. Converse hitam putih.

Mereka jalan kaki menuju halte bus. Sena tidak tahu Yoongi akan mengajaknya kemana. Mereka tidak saling bicara. Bahkan selama perjalanan pun keduanya tidak ada interaksi sama sekali. Barulah Sena sadar. Yoongi rupa-rupanya mengajaknya pergi ke COEX Aquarium.

Dia tidak protes saat tangannya ditarik memasuki wilayah aquarium. Yoongi membayar tiket mereka berdua. Masih sambil bergandengan, mereka pun disambut dengan hewan-hewan laut. Sena yang sedikit parno dengan air, reflek saja meremas tangan Yoongi. Meski begitu dia tetap berjalan masuk. Rasa penasarannya tidak bisa dikalahkan. Dia tampak antusias melihat hewan-hewan di dalam akuarium kecil. Tapi saat berhadapan dengan dinding akuarium besar apalagi memasuki terowongan akuarium, ekspresi ketakutannya mulai tampak. Tak henti-hentinya dia meremas tangan Yoongi. Bahkan merapatkan tubuhnya pada pria itu. Bagaimana kalau kaca-kaca aquarium ini tiba-tiba pecah, lalu para hiu yang sedang menari dia atas mereka melahapnya? Argh … dia takut.

Wae?” tanya Yoongi akhirnya setelah mereka keluar dari aqua tunnel. Saat ini keduanya berada di gift shop, area terakhir COEX Aquarium sebelum pintu keluar.

Sena duduk di dudukan yang tersedia, sedangkan Yoongi berdiri di hadapannya dengan tetap membiarkan gadis itu meremas tangannya.

“Kau seharusnya memberitahuku dulu kalau kita mau kemari. Tahu begini ‘kan aku akan mempersiapkan diri dulu,” ujarnya lalu melepas tangan Yoongi. Tangannya terasa aneh. Seolah bekas kulit Yoongi masih menempel di kulitnya. Ugh … memalukan. Kenapa dia ceroboh menggenggam tangan pria itu?

“Apa yang kau takutkan? Airnya? Hiunya? Tunnel-nya? Atau pikiranmu sendiri?”

Sena memandang pria di hadapannya sebentar. “I-itu….”

“Kalau kau berpikir kau takut, kau akan ketakutan untuk selamanya. Tapi kalau kau tidak berpikir takut, hal yang kau takutkan tidak akan lagi membuatmu ketakutan. Sudah? Kalau sudah, kaja. Masih ada banyak tempat yang ingin kudatangi.”

Yoongi langsung berjalan meninggalkannya menuju pintu keluar. Sebelum kehilangan jejaknya, mau tak mau Sena mengikuti. Kedua tangannya saling bertautan, mencoba untuk melunturkan bekas genggaman Yoongi di tangannya.

Mereka berada di dalam bus lagi. Kali ini mereka sedang dalam perjalanan menuju Seokchon lake. Perjalanannya juga tidak lama. Tidak ada yang spesial juga selama perjalanan. Mereka membeli es krim dulu sebelum masuk taman Seokchon. Hanya es krim stik biasa. Sena memilih  rasa cokelat, Yoongi juga rasa cokelat. Mereka berjalan bersisian menyusuri jalan setapak. Melewati pohon-pohon berbunga indah, selayaknya pasangan kekasih yang lain.

“Kenapa kau tiba-tiba mengajakku kencan?” tanya Sena tiba-tiba. Yoongi yang sejak tadi asyik melihat-lihat pepohonan di sisi jalan, seketika tersentak.

“Kurasa kau menginginkan hal itu.”

Sena lantas membuang pandangan. Merona. “Ti-tidak. Aku tidak pernah bilang apa pun.”

“Eum, tapi dari bahasa tubuhmu kau bilang begitu,” ujarnya. “Aku ini lebih peka dari Taehyung.”

“Ini tidak ada hubungannya dengan Taehyung.”

“Kenapa tidak ada?” Pria itu menoleh. “Bukankah kau menyukainya?”

Reflek Sena berhenti, begitu juga Yoongi yang selangkah di depannya. Gadis itu memandangnya dengan mata membulat. “Dari mana kau tahu?”

Sambil menggendikkan bahu. “Yah … kau ini mudah dibaca.”

“Kau tidak memberitahu Taehyung, ‘kan?”

Yoongi menatapnya sebentar. Lantas meneruskan perjalanan. “Untuk apa aku memberitahu hal yang tidak penting seperti itu.”

Gadis itu menghela napas, lega. Menggigit ujung es krimnya, lalu menyusul kepergian Yoongi. Taman Seokchon tampak ramai hari ini. Mungkin karena hari libur. Setelah lelah berputar-putar, keduanya memutuskan untuk duduk di sebuah bangku. Sena menempatkan tote bag-nya di atas paha. Mengeluarkan kotak tisu kecil, menarik dua lembar. Satu dipakai untuk mengeringkan wajahnya yang berminyak, lalu satunya lagi dia usapkan ke dahi Yoongi yang berkeringat. Pria itu hanya duduk tenang.

“Kau pernah ke danau Suseong?” tanya Yoongi usai Sena membuang tisu itu ke tempat sampah.

“Pernah. Wae?”

“Oh, baguslah.”

“Kau pernah ke sana?”

Yoongi menggeleng. “Sekarang aku menyesal. Seharusnya saat sekolah dasar dulu aku meminta pergi ke Suseong saja. Tapi dulu aku terlalu tergila-gila dengan piano. Yah … akhirnya aku pun tidak pernah pergi ke sana. Sayang sekali. Setelah itu aku harus tinggal di Gwangju lalu di Seoul. Hah … belum lagi setelah ini aku akan ke London.”

“Oh … jadi karena itu kau mengajakku ke sini?”

Pria itu menoleh. Tersenyum miring. “Tepat sekali.” Membuang pandangan ke depan lagi. “Kurasa meskipun bukan Suseong, kesannya aku seperti sedang pergi ke Suseong karena bersama gadis asal Daegu sepertimu.”

“Tidak masuk akal,” cibir Sena. “Sudah kuduga kalau kau ini sama sekali tidak laku di kalangan wanita. Harusnya kau mengajak seorang gadis yang kau suka, bukan aku.”

“Ah … jadi maksudmu kau tidak suka kuajak kencan?”

“I-itu, bukan begitu.”

Pria itu menyeringai. “Sepertinya kau sedang mengatakan kalau kau lebih suka Taehyung yang mengajakmu berkencan daripada aku.”

Aniya! Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya … hanya … ah lupakan saja! Kau pasti tidak akan mengerti maksudku.”

Yoongi menoleh, menatapnya intens. “Akan kuberitahu kau sesuatu sebelum aku pergi ke London. Ini soal Byun Taehyung.”

Mendengar nama seseorang yang disukainya disebut, tidak perlu menunggu lama, Sena langsung menoleh. Menyimak dengan serius.

“Satu hal yang harus kau mengerti darinya adalah dia benar-benar sulit untuk jatuh cinta dengan seorang gadis. Mungkin aku tidak pantas mengatakan ini. Tapi, suatu hari nanti kau pasti akan sakit hati karenanya.”

Benar saja, Sena tidak langsung percaya dengan ucapan Yoongi. Sakit hati? Sisi mana Taehyung yang akan membuatnya sakit hati? Pria setampan itu mungkin memang punya kesulitan tersendiri dalam urusan cinta. Tapi membuat seorang gadis sakit hati?

Yoongi sudah bisa menebak reaksinya sejak awal. Dia tidak ambil pusing. Toh mau percaya atau tidak, itu urusan Sena. Yang penting dia sudah memberitahu gadis itu.

Menjelang tengah hari, mereka baru keluar dari Seokchon. Yoongi mengajak Sena makan di sebuah restoran. Bukan restoran mahal. Tapi di sana setidaknya mereka bisa melahap sesuatu untuk mengisi perut. Karena kencan ini adalah ide Yoongi, semua biaya makan pun dia yang menanggungnya. Justru akan memalukan kalau Sena membayar makannya sendiri. Orang-orang pasti akan menganggapnya sebagai pria yang tidak tahu diri.

“Oh ya, karena kemarin kau menyebut ini kencan, bukankah seharusnya kita mengobrol tentang hal-hal yang sedikit sensitif? Tadi kita sudah membicarakan seseorang yang kusuka. Sekarang, bagaimana kalau kita membahas tentang gadis yang kau suka?”celetuk Sena. “Kurasa meskipun kau tidak laku di kalangan wanita, kau pasti sedang memendam suatu perasaan pada seseorang ‘kan? Itu sih kalau kau pria normal.”

Dahi Yoongi mengernyit mendengar kalimat terakhir. “Memangnya kalau aku tidak punya perasaan seperti itu, aku bukan pria normal? Apa kenormalan seorang pria bisa diukur hanya dari hal itu?”

Sena menggendikkan bahu. “Yah … kalau menurutku sih begitu.”

Pria itu menghela napas. Melepas dan meletakkan topinya di atas meja. Menata rambut sebentar, lantas menopang dagu. “Jujur saja, di angkatanku ada banyak gadis yang mengirimiku hal-hal seperti surat cinta, cokelat, bunga, dan sebagainya saat hari valentine datang. Lokerku selalu penuh dengan semua bingkisan itu. Dan aku tidak menyukainya. Apa mereka tidak pernah berpikir? Untuk keperluan apa mereka mengirim bunga pada seorang pria? Aku tidak makan mawar merah. Aku tidak suka mawar putih. Dan lagi, aku paling tidak suka melihat seorang gadis menyatakan cinta pada seorang pria.”

“Tapi bukannya hari Valentine memang dirancang seperti itu? Kau harus menerima semua yang kau dapat. Kau bilang aku akan sakit hati karena Taehyung, tapi sekarang justru kau itu yang membuat para gadis yang menyukaimu sakit hati. Meskipun kau tidak suka, kau ‘kan bisa menyimpannya. Setidaknya hargai pemberian mereka, meskipun kau tidak menyukai mereka.”

“Rupanya kau masih terlalu polos untuk mengerti soal cinta.”

Sena langsung memperlihatkan ekspresi tidak terimanya. Dia? Terlalu polos soal cinta? Beraninya pria itu bicara.

“Urusan cinta tidak pernah sesederhana itu,” ucap Yoongi mendahului Sena.

“Kalau urusan cinta bisa semudah yang kau bayangkan, sudah pasti di muka bumi ini tidak akan ada kasus pembantaian, pemerkosaan, pembunuhan, dan sebagainya. Coba kau pikirkan, lebih baik menerima hadiah mereka dan memberikan mereka harapan palsu, atau menolak hadiah mereka dan memberikan jawaban pasti? Kurasa sebagai perempuan kau akan lebih memilih opsi kedua. Aku benar ‘kan?”

Sena terdiam sejenak. Berpikir. Saling menatap dengan mata sedingin es itu. Mata yang selalu membuatnya gagal untuk mengelak apa-apa yang dikatakannya. Tipe pengendali.

Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Yoongi menyapa mereka ramah. Membantu hal-hal kecil yang bisa dia lakukan. Mengucapkan terima kasih sebelum pelayan itu kembali ke dapur restoran.

“Buka mulutmu.”

Sena mengernyit. “Untuk apa?”

Yoongi menyodorkan sendok yang penuh dengan kuah sup. “Hari ini aku kekasihmu. Bukankah seharusnya ada setidaknya satu adegan romantis yang bisa dibanggakan dari sebuah kencan? Cepat buka mulutmu.”

Meski agak aneh, Sena tetap membuka mulutnya. Menerima suapan dari pria itu. Menyeka sendiri jejak sup di ujung bibirnya.

“Enak?”

Gadis itu hanya mengangguk. Memperhatikan Yoongi yang juga mencoba sup itu dengan sendok yang sama. Wait! Sendok yang sama?

“Tidak!!”

Yoongi melotot ketika sendok itu direbut paksa oleh Sena. Keheranan melihat gadis itu mengeringkan sendok tersebut dengan tisu. Apa gerangan yang terjadi?

“Kenapa kau makan dengan sendok ini? Argh!”

Wae? Itu sendokku.”

Ia tersentak ketika Sena tiba-tiba menatapnya horor. “Gara-gara sendok ini kita sudah berciuman tidak langsung, bodoh. CIUMAN TIDAK LANGSUNG.”

Butuh waktu bagi Yoongi untuk memahami maksud perkataan Sena. Ciuman tidak langsung? Kapan mereka-

“Apa?!”

Sena menjatuhkan sendok itu di atas meja, mengusap wajahnya yang pias. Sementara Yoongi sudah berlarian ke toilet. Entah melakukan apa. Yang pasti, saat kembali wajahnya sudah basah dengan air. Dia menuangkan air ke dalam gelas, meneguknya sampai habis.

“Sial. Kenapa aku bisa seceroboh ini?” gumamnya sambil melahap nasi sebanyak-banyaknya. Dia tidak peduli dengan Sena yang terus mengumpat diri sendiri. Toh dia juga sama saja. Benar-benar sial. Kenapa harus ada kejadian seperti ini?

Interaksi mereka pun jadi canggung setelahnya. Yoongi sudah tidak berminat mengajaknya ke tempat lain. Keduanya memilih untuk pulang. Sena yang biasanya cerewet pun dalam satu jam sudah berubah menjadi si pendiam. Menunggu bus berhenti di pemberhentian, dia menggunakan kesempatan itu untuk bermain game ponsel. Berperang dengan Jungkook yang kebetulan sedang memainkan game yang sama. Baru setelah turun dari bus, ponsel itu kembali beristirahat di dalam tasnya.

Mereka pun tidak saling bicara selama perjalanan menuju rumah Baekhyun. Terlalu canggung untuk memulai sebuah pembicaraan.

Dari kejauhan terdengar suara gonggong anjing besar. Sena mempertajam pendengarannya untuk melacak lokasi hewan itu. Yah, sepertinya jauh, tidak ada yang perlu dicemaskan. Namun siapa tahu, tiba-tiba saja dari persimpangan seorang pria tiba-tiba muncul sambil berlarian. Sena yang sudah dekat dengan persimpangan pun ditabrak oleh pria itu sampai dia terjatuh. Sementara tanpa meminta maaf pria itu langsung pergi, tak berapa lama seorang pria lagi muncul dari sana, mengejar pria yang pertama. Tidak memedulikan Sena yang merintih kesakitan.

Yoongi yang melihat adegan itu lantas mendekati Sena, berlutut di sebelahnya. “Kau baik-baik saja?”

Gadis itu berusaha berdiri. Tapi tidak jadi setelah dia merasakan sakit yang luar biasa pada telapak tangannya. Ketika dilihat, ternyata di sana terdapat luka yang cukup lebar, berdarah pula. Ia pun meremas tangannya sambil menggertakkan gigi.

Sebuah tangan lain membuatnya menoleh. Yoongi. Memegang tangannya, mengelusnya pelan, lantas dengan hati-hati memaksa jari-jarinya untuk kembali lurus seperti semula. Membiarkan luka itu terbuka lebar.

“Kau masih bisa jalan? Kaja. Lukamu harus segera diobati.”

Dengan bantuan pria itu, dia pun bangkit. Melanjutkan perjalanan yang hanya tersisa beberapa meter. Tangannya masih berada di genggaman pria itu. Sedikit diremas agar darahnya keluar dengan lancar. Satu dua menetes di jalanan. Dia hanya bisa meringis.

Yoongi menyuruhnya duduk di ruang tamu selama pria itu mengambil kotak obat. Kembali dengan membawa serta baskom berisi air. Yoongi mengurus lukanya dengan telaten. Membersihkan darah dengan tisu, lalu dibilas dengan air, lantas memberikan antiseptic yang diakhiri dengan plester.

“Sekarang impas,” ujar pria itu setelah semua alat dikembalikan ke tempatnya. Matanya tertuju pada tangan Sena yang sedang ada di atas paha.

“Apanya?”

“Dulu kau melakukan itu padaku, bukan? Dan sekarang aku melakukannya untukmu.”

Sena memperhatikan plester di tangannya kembali. Lucu. Bermotif bintang warna kuning. Menyeringai. “Jadi seleramu seperti ini ya?”

Pria itu mendengus. “Bukankah seharusnya saat ini kau mengucapkan terima kasih?”

Sena mengangkat kepalanya. Tersenyum saat mereka berdua tak sengaja bertemu pandang. “Arasseo. Terima kasih banyak.”

Yoongi mengangguk-angguk seraya membuang pandangan. “Oke. Istirahatlah.” Ia pun bangkit. Mengusap paha atas sejenak. “Terima kasih juga untuk hari ini.”

Sena hanya mengangguk. Anggukkannya itu diketahui oleh Yoongi, yang saat ini sedang berusaha untuk menunjukkan senyum manisnya –tapi malah terlihat seperti senyum yang dipaksakan. Pria itu melambai kikuk padanya sebelum berbalik dan menyeret kaki menuju lantai dua.

“Kau juga istirahatlah, Oppa….”

Pria itu berhenti tiba-tiba, cepat-cepat menoleh. “N-ne?”

Sena menggeleng sambil tersenyum. “Bukan apa-apa.”

“Ah … oke.” Sedikit kikuk, Yoongi pun kembali melanjutkan perjalanan. Sesekali mengorek kupingnya. Apa jangan-jangan aku salah dengar? Hm, entahlah. Dia memilih untuk mengabaikannya.

Sementara di ruang tamu, satu-satunya orang di sana sedang memekik tertahan sambil menutupi wajahnya yang merah padam.

Pagi datang dengan cepat. Hari senin. Di saat semuanya bersiap pergi ke sekolah, Yoongi justru bersiap untuk pergi ke negara orang. Dia memakai setelan serba hitam saat yang lain memakai seragam musim panas. Membawa koper besar ketika yang lain membawa ransel. Ikut pergi ke sekolah untuk mengantarkan teman-temannya. Mengobrol bersama mereka sambil tertawa-tawa heboh.

Sena sebagai satu-satunya perempuan hanya bisa memperhatikan. Mendengarkan obrolan mereka tanpa minat sambil menopang dagu di atas meja. Dia duduk berhadap-hadapan dengan Jimin yang sedang ikut bergabung dalam obrolan itu. Ugh … obrolan pria. Game, otomotif, olahraga, film, wanita. Benar-benar tidak ada yang menarik. Ia pun menghela napas, lalu meneguk sisa soda di gelasnya.

“Maaf saja, aku tidak tertarik dengan gadis London,” ujar Jimin sambil berpaling ke depan. Menatap Sena sekilas. “Aku lebih tertarik pada gadis di negaraku.”

“Tapi belum tentu mereka akan tertarik padamu,” sahut Yoongi sambil terkekeh. Sekilas juga memandang Sena yang sedang melirik ke arahnya.

Jimin tersenyum penuh arti. Entahlah, dia tampak malu-malu ketika mencuri pandang dengan gadis yang bahkan sama sekali tidak menatapnya. Debaran di dadanya terlalu kuat. Sampai-sampai ia pun gagal untuk menahan senyumnya.

Bus berputar-putar sebentar di halaman depan sekolah sebelum berhenti. Semuanya terkecuali Yoongi langsung berbaris untuk segera keluar. Sena tidak tampak di barisan. Dia sedang ada di kamar mandi, entah melakukan apa. Baru keluar setelah semua sudah turun dari bus. Dia pun terburu-buru, takut ditinggal Taehyung dkk. Cepat-cepat menyambar tasnya, bergerak gesit menuju pintu keluar. Namun seseorang tiba-tiba menarik lengannya. Mau tak mau dia pun menoleh, berhadap-hadapan dengan seseorang itu.

Matanya membulat melihat Yoongi berdiri tepat di hadapannya. Sangat dekat. Oh? Mau apa pria ini? Kenapa tiba-tiba begini?

“Tidak adakah satu pun kalimat yang ingin kau ucapkan padaku?”

Dahinya mengernyit. “Kalimat seperti apa?”

“Benar-benar tidak ada? Ah … aku mengerti.” Pria itu lantas melepaskan tangannya, mundur selangkah, lalu menjatuhkan diri di atas sofa.

Sena masih menatapnya heran. Sangat tidak mengerti dengan maksud pria ini. Memangnya kalimat seperti apa yang dimaksud?

“Sena-sshi, apa kau masih belum ingin turun?” seru Jaejin dari depan. Ahjussi itu sampai menolehkan kepalanya ke belakang untuk mengecek keberadaannya. Begitu pula Baekhyun yang duduk di kursi sebelah sopir.

“Kalian sedang mengucapkan salam perpisahankah? Lakukan dengan cepat.”

Setelah Baekhyun bicara seperti itu, Sena akhirnya sadar. Ya, benar, kalimat perpisahan. Akh … kenapa dia melupakannya? Ia pun menoleh kembali pada Yoongi yang kini sibuk dengan ponsel. Apa pria ini marah padanya?

“Aku tidak marah,” sahut Yoongi tiba-tiba. Sena berjengit saking kagetnya.

“K-kau bisa baca pikiranku?”

Tubuhnya berjengit lagi ketika pria itu mengangkat kepala, menatapnya datar. “Sudah kubilang kalau kau ini mudah dibaca.”

Benda kotak dengan casing hitam bergambar Kumamon itu pun disimpan di atas meja, sementara sang pemilik bangkit begitu saja, maju selangkah, memeluknya. Sena sama sekali tidak berkutik. Sempurna terkejut. Terlalu mengejutkan. Hal yang tiba-tiba ini, sesuatu yang tidak diduganya. Tak bisa dikontrol, jantungnya berdetak sangat cepat. Keras, melebihi suara drum yang ditabuh. Oh tidak, ini tidak boleh.

Sementara itu, Jimin terpaksa kembali ke bus setelah dia sadar bahwa dia melupakan jaketnya. Beruntung busnya masih berhenti di halaman. Sambil bernapas lega, ia pun berlarian masuk. Bertemu kembali dengan Baekhyun dan Jaejin yang sedang mengobrol, dan … yah … dia pun melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

DEG!

Tanpa pikir panjang dia langsung berbalik, dan turun. Mengabaikan panggilan Baekhyun yang keheranan dengan tingkahnya. Lari begitu saja menuju gedung kelasnya berada. Berusaha melupakan apa yang barusan dilihatnya.

“Jungkook-a! Tunggu aku!”

Hyung-nya memeluk seseorang yang dicintainya selama ini.

TBC

Advertisements

6 Replies to “#10 Secret Love [Blood Sweat & Tears]”

  1. Kenapa disini aku merasa suga suka sama sena ya? Dari yg chapter 9 pas sena tidur si suga senyum karena ngelihat sena, sama pas di chapter ini, interaksi dia ama sena kayak nunjukin kali dia suka sama sena, tp emang sena nya aja yg polos atau gimana dua kayaknya gk tau? Sok tau ya aku
    Terus tp kenapa suga selalu bilang kalo dia itu gk suka ama sena, apakah itu hanya kebohongan belaka?
    Judul dari chapter ini adalah secret love, nah jangan jangan si sena itu secret lovenya suga?? Entahlah aku juga bingung
    Updatenya epep ini kayak LTE ya cepet .. hahaha
    Oke deh aku tunggu next chapternya ya

    Like

  2. sejak yoongi senyum samaa sena waktu mereka diborgol kayanya yoongi emang udah suka sama sena deh wkwkwk. oke ini ramalan yg berlebihan wkwk, kesian jimin yaampun

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s