#11 Playing with Fire [Blood Sweat & Tears]

11

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

Member EXO (cameo)

“My Love is on fire”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

#3 Lie

#4 Stigma

#5 First Love

#6 Reflection

#7 Scary Date

#8 Worried

#9 Saturday Night

#10 Secret Love

#11 Playing With Fire

Angin berhembus dengan kencang hingga memberantakkan rambut hitam panjang yang ada di sana. Meliuk-liuk bagaikan api yang membara. Seolah melambai pada orang lain untuk menghampirinya. Tapi sebelum seseorang lain melihat itu, si pemilik lekas menenangkannya, lalu menutupnya dengan topi baseball hitam.

PRANK!

“WAAAAAAA!!!!”

Semua yang ada di sana berteriak histeris. Red Dragon berhasil mencetak poin lagi. Unggul 7 poin dari tim lawan. Kemenangan pun menjadi milik mereka.

“BYUN TAEHYUNG! BYUN TAEHYUNG!”

Sorak sorai membahana. Meneriaki nama salah satu dari member Red Dragon. Pemilik nomor 10, Byun Taehyung.

Gadis bertopi baseball itu juga tidak mau kalah. Dia berteriak setingkat lebih keras dari orang-orang di kanan kirinya. Mengangkat tinggi-tinggi banner bertuliskan ‘Kau pasti bisa, Byun Taehyung!!’.

Saking kerasnya teriakan nama itu, si pemilik nama sampai menoleh. Menatap satu-persatu orang yang menyorakinya, lalu membuat heart besar dengan kedua tangannya. “KAMSAHABNIDA!! SARANGHABNIDA!!”

“Kyaaaaaa!!!” Penonton yang mayoritas para gadis pun berteriak histeris mendengar teriakan Taehyung. Khususnya para gadis berkaos merah dengan tulisan RED DRAGON besar-besar di bagian dada. Ultra rejeki. Mereka baru saja mendapat fanservice gratis dari kapten tim favorit mereka.

Selesai pertandingan, gadis bertopi baseball hitam yang tak lain adalah Sena, segera bergegas pergi menemui Taehyung. Sebelum itu dia menyempatkan diri membeli botol minuman. Senyumnya terkembang, membayangkan bagaimana ekspresi Taehyung begitu dia mendatanginya.

Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti saat dia mendengar sesuatu dari sebuah ruangan. Yap, dia mendengar suara Taehyung. Sedang mengobrol dengan seorang gadis. Penasaran, dia pun mengendap-endap mendekati ruang itu, mengintip mereka dari pintu yang terbuka sedikit.

DEG!

Sooyoung?

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Itu sudah berlalu dan tidak ada lagi yang harus dibahas,” ujar Taehyung sembari melipat tangan di depan dada. Bersandar santai pada sebuah meja.

“Tidak. Kita harus membicarakannya sekarang,” balas Sooyoung tegas. Wajahnya yang cantik itu tampak tegang. Seolah pembicaraan ini adalah hidup matinya.

Wae? Bukankah sudah jelas? Kau mendekatiku hanya karena kau kasihan padaku. Memangnya itu salah, huh? Aku mendengarnya sendiri.”

Sooyoung menggeleng cepat. “Tidak, itu tidak benar. Sudah kubilang itu tidak benar! Kau salah paham, maksudku….”

“Salah paham? Salah paham katamu?!” BRAK! “Aku mendengarnya sendiri! Aku mendengarnya saat kau bicara dengan Seulgi! Mana mungkin aku salah dengar! Itu sudah tiga tahun yang lalu, Sooyoung-a. Semuanya sudah jelas.”

“KUBILANG TIDAK BENAR!!”

Sena berjengit kaget. Mengelus dada, lantas menghela napas.

“Bagaimana bisa kau berpikiran begitu di saat aku bahkan rela memberikan apa pun untukmu?”

Taehyung menyeringai, membuang pandangan ke luar jendela kelas. “Ya, kau memang seperti itu. Selalu tidak menolak apa pun yang diminta seorang pria. Bahkan saat mereka meminta tubuhmu … hah, kau sudah melakukannya dengan siapa saja, huh?”

PLAK!

Sena sontak menutup mulutnya. Barusan, Sooyoung baru saja menampar Taehyung. Ini sangat mirip seperti yang terjadi di drama. Tapi hanya satu hal yang Sena pikirkan sekarang. Apa hubungan mereka sebenarnya?

“Kau adalah pria brengsek yang kukenal selama ini, Byun Taehyung. Aku tidak percaya kau bisa bicara seperti itu di depanku.”

Pria itu menyeringai lagi. “Kenapa? Apa aku salah?” Dia menoleh, menatap Sooyoung tajam. “Aku bukanlah pria bodoh, Sooyoung-a. Kau tidak bisa membodohiku lagi. Apa Sungjae masih belum cukup untukmu jadi kau mendatangiku lagi? Hah, kalau kau pikir aku masih menyimpan perasaan untukmu, kau salah besar. Kau ini, hanyalah bagian dari masa laluku. Dan masa lalu itu, pantas untuk dilupakan.”

Sena langsung bersembunyi ketika Taehyung akan beranjak keluar. Terdengar suara Sooyoung yang terus memanggilnya. Suara mereka menghilang tak berapa lama kemudian. Sena pun keluar dari persembunyian, melepas topi, mengusap wajah. Argh … kenapa dia harus mendengar sesuatu yang tidak seharusnya didengarnya? Ck, menyebalkan sekali. Kenapa juga di saat seperti ini matanya tiba-tiba memanas?

Yaa!”

Gadis itu reflek menoleh sebelum sempat menyeka wajahnya.

Jimin. Pria yang berlarian menghampirinya ternyata adalah Park Jimin. Berhenti di hadapannya, mengatur napas sebentar.

Yaa … kau … aku mencarimu kemana-mana. Aish … kenapa kau tidak bilang-bilang kalau mau pergi? Kupikir kau pulang duluan.” Setelah cukup menetralkan pernapasannya, Jimin pun mendongak. Terkejut saat melihat wajah Sena yang basah. “W-wae? K-kenapa kau menangis? Apa aku terlalu keras bicaranya? Atau kau baru saja jatuh? Cepat katakan! Jangan membuatku khawatir.”

Pria itu membeku saat Sena tiba-tiba memeluknya. Menenggelamkan wajah di dadanya, terisak keras. Apa ini? Kenapa tiba-tiba dadanya berdetak kencang?

“Ada apa?” tanyanya setelah sekian lama berdebat dengan pikirannya sendiri. Ini terlalu mengejutkan. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Sena akan memeluknya seperti ini.

Gadis itu hanya menggeleng. Isakannya yang awalnya sudah mereda, tiba-tiba kembali nyaring. Jimin hanya bisa menghela napas. Balas memeluknya sambil berbisik, “Tidak apa-apa. Menangislah terus sampai kau puas.”

Pria itu tersenyum ketika Sena mengangguk.

Satu tahun berlalu sejak kepergian Yoongi ke London. Namjoon, Seokjin dan Hoseok sudah menjadi siswa senior. Dengan Sena, Jimin, Jungkook dan Taehyung setahun di bawah mereka. Jabatan ketua klub tahun lalu otomatis diganti. Seperti yang sudah diprediksi, Jimin lah yang menggantikan posisi Hoseok sebagai ketua klub tari. Dia terpilih begitu saja tanpa harus melalui voting. Toh semua orang di klub itu setuju kalau dia pantas menggantikan posisi Hoseok. Sementara Taehyung memegang peran kapten tim basket dan ketua subklub saxophone, Jungkook membawahi klub vocal dan presiden sekolah. Sedangkan Sena … dia memutuskan untuk tidak jadi apa-apa. Sejak Yoongi pergi ke London, dia memilih untuk keluar dari klub musik klasik dan fokus ke organisasi. Beruntunglah, selama di organisasi dia sudah tidak takut lagi dengan tatapan orang-orang. Setahap demi setahap, traumanya pun tersembuhkan.

Tidak ada hal spesial yang dilalui Sena. Dia hanya hidup sebagaimana siswa perempuan biasanya. Mulai mencoba membuka diri dengan para gadis, bergosip ria bersama mereka, saling berbagi cerita tentang pria yang mereka sukai dan pergi ke tempat-tempat yang selalu dikunjungi remaja perempuan seperti mall, café, dan sebagainya.

Hanya di saat-saat tertentu saja dia pergi bersama teman lelaki satu atapnya. Itu pun kalau tidak dipaksa mereka, ya dipaksa teman-teman wanitanya. Untuk apa lagi kalau bukan mempertemukan dua kubu itu. Kabar baik, sebagian besar dari lelaki ini jatuh cinta pada teman-teman wanitanya dan mereka pun berkencan.

Oppa~ Sudah kubilang jangan memainkan rambutku~” Untuk kedua kalinya Hana menggeliat karena ulah Seokjin. Dia berusaha melepaskan tangan pria itu dari rambutnya, lantas mengerucutkan bibirnya lucu.

Wae? Rambutmu bagus. Sayang sekali kalau tidak dipegang,” jawab pria itu seraya menyentuh kembali kepala Hana.

Oppa!!”

Sena tersenyum tipis. Ia pun menoleh ke sisi lain.

“Sepertinya kau lebih mencintai bukumu,” sindir Nami yang sejak tadi menggigit ujung pipet minumannya. Dia kebosanan karena sejak tadi dia diabaikan oleh Namjoon yang asyik dengan novel sastranya.

“Eum,” balas Namjoon cuek.

Nami mendengus. Lalu membanting cup minumannya ke atas meja, mengejutkan hampir seluruh penghuni meja ini. Namjoon menoleh, menatapnya datar.

“Meja ini bukan hanya milikmu, jangan membuat keributan.”

Gadis itu mendadak bangkit. “Kau lebih memilih aku atau bukumu?”

Namjoon mengerjap-ngerjap. “Kenapa tiba-tiba….”

“Kalau kau memilih aku, maka simpan bukumu. Tapi kalau kau memilih bukumu, jangan harap aku akan mengangkat teleponmu, Namjoon-goon!”

Namjoon melirik teman-temannya sekilas, lalu menghela napas. Tanpa banyak bicara dia pun memasukkan novel itu ke dalam tas. Menarik lengan Nami untuk duduk kembali.

“Baiklah. Sekarang apa?”

Nami tampak cemberut. Tapi itu tak bertahan lama. Karena setelahnya dia bergelayut manja di lengan Namjoon sambil memperlihatkan puppy eyes-nya.

Sena menggeleng pelan, tak habis pikir. Menoleh ke sisi lain lagi.

“Kau tidak boleh hanya memikirkan menari-menari itu. Bagaimana kalau nanti kau tidak bisa lulus dengan nilai sempurna? Kau tidak memikirkan ayah dan ibumu?”

Hoseok mendengarkan dengan tenang, tersenyum ketika Sara sibuk mengomeli nilai-nilainya yang anjlok karena kegiatan menarinya.

“Aish, pokoknya nanti sore awas saja kalau kau tidak datang ke rumahku. Akan kucincang tubuhmu nanti, lalu kuberikan pada Geum Dong.”

Arasseo, arasseo, Cheonsa sayang~ Aigoo, saat marah kau itu imut sekali.”

“Namaku Sara, bukan Cheonsa!”

“Sama saja, margamu itu Cheon.”

Yah … Sara memang begitu. Cerewet, judes, tapi sebenarnya dia punya hati yang sangat lembut. Itulah mengapa Hoseok bisa menyukainya. Mereka seangkatan.

“Jungkook-a, bagaimana kalau akhir pekan besok kita pergi mendaki?”

Sena pun menoleh, memperhatikan pasangan kekasih yang duduk di sebelahnya.

“Halla-san?”

BUG!

Jungkook mendesis kesakitan sambil mengelus lengan kananya. “Kenapa kau memukulku?”

“Bukhansan! Bukhansan, pabo-ya!”

“Kenapa tidak sekalian ke Halla? Di sana gunungnya jauh lebih tinggi.”

“Kau sedang mengejekku, huh?”

Sena terkikik geli. Iya juga, nama kekasihnya Jungkook adalah Lee Halla. Si cantik seangkatan mereka yang berada di kelas 2-4. Halla memang tidak suka jika namanya disama-samakan dengan nama gunung tertinggi di Korea Selatan itu.

Aniya, maksudku … yaa, kau jangan tertawa, eo?”

Wae? Kenapa Sena tidak boleh tertawa?” Jimin angkat bicara. Tanpa ragu melingkarkan lengannya di bahu gadis itu.

Jungkook berdecak, lalu kembali memandang Halla, melanjutkan obrolan mereka berdua. Sementara itu Sena perlahan mulai melunturkan tawanya. Melirik sekilas tangan yang melingkar bahunya. Kemudian menatap pria itu.

“Bisakah kau lepaskan?”

“Ah … baiklah.” Sedikit tidak rela, Jimin akhirnya menurunkan tangannya kembali. Mengusap lengan sebentar, lantas menyesap bubble tea-nya.

Sementara Sena melirik seseorang yang ada tepat dihadapan Jimin, Taehyung, yang sejak tadi terus memperhatikan Namjoon dan Nami. Ya … hanya mereka bertiga saja yang tidak memadu kasih di sini. Hanya ikut berkumpul, untuk sekadar makan bersama di luar.

Sena menunduk, memainkan pipet minumannya. Hm … sudah setahun dan dia sama sekali belum mengungkapkan apa pun pada Taehyung. Menyesal? Entahlah. Dia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Setiap kali dia akan mengungkapkan perasaannya pada Taehyung, dia selalu teringat hari itu. Sooyoung … Jimin … dan … Yoongi. Hah….

“Urusan cinta tidak pernah sesederhana itu.”

Lagi-lagi suara berat Yoongi terngiang di kepalanya. Hal yang sama persis yang selalu muncul di kepalanya akhir-akhir ini. Ia menyeringai, mengaduk minumannya, lalu menyesapnya sedikit.

“Apa rencana kalian akhir pekan nanti?” tanya Taehyung tiba-tiba, hanya pada Sena dan Jimin. Dia sudah terlalu bosan mendengarkan lovey dovey pasangan Nam.

“Seperti biasa. Mungkin, menari?” jawab Jimin tanpa minat.

“Kalau kau, Sena?”

“Eum … entahlah. Kalau para gadis ini memilih pergi kencan, sepertinya aku hanya akan tidur di rumah.”

Taehyung menggeleng prihatin. “Kalian ini seperti kehilangan harapan hidup saja. Pergilah kencan. Yaa Jimin-a, bukankah banyak gadis yang mengirimimu surat cinta? Seharusnya kau ajak salah satu dari mereka untuk pergi kencan. Melihatmu hanya menari membuatku sakit hati.”

“Kenapa kau yang sakit hati?” Jimin menyeringai, memandang sahabatnya. “Kau juga kenapa tidak pergi kencan? Melihatmu hanya bermain basket membuatku ingin sekali memukulmu.”

Taehyung tertawa, diikuti oleh Jimin. Sena hanya memandang mereka sambil tersenyum tipis.

“Sena.”

“Eum?”

Taehyung menatapnya lama. “Yoongi hyung tidak pernah menghubungimu?”

Jimin serta merta menoleh, ikut menatap Sena. Penasaran pada jawaban yang akan diungkapkan. Sementara gadis yang sedang ditatap penuh rasa penasaran itu, balik menatap mereka berdua. Menggaruk tengkuk canggung.

“Ah … itu….”

“Kemarin Yoongi hyung mengirimiku email,” sahut Jungkook tiba-tiba. “Katanya dia akan melanjutkan kuliah di sana. Jadi tahun ini dia tidak akan pulang.”

“Ah jinjja?” seru Taehyung tak percaya. “Wah … sepertinya dia sudah melupakanku. Ck, harusnya yang dikirimi email itu aku. Hyung pendek satu itu benar-benar.”

Jimin pun memukul kepala Taehyung. “Bukan itu yang harus dipikirkan sekarang, pabo-ya.”

Sena juga tidak kalah terkejut. “Benarkah dia bicara begitu?”

Jungkook mengangguk. “Eum. Katanya dia juga sudah mengirim email pada samchon dan kakaknya, jadi ya, dia benar-benar tidak akan pulang tahun ini.”

Sena menghela napas. Lalu meraih pipet, menyesap minumannya sampai habis. Dia tidak tahu kalau Halla sedang memperhatikannya. Gadis itu memberi isyarat pada Jungkook untuk bertukar tempat sebentar. Dan tanpa memberi peringatan dia langsung memeluk erat kawannya itu, tersenyum penuh arti.

“Kau sedih karena dia tidak bisa pulang, ya?” bisiknya.

“Uhuk!” Reflek Halla menjauhkan diri. Mengernyit menatap Sena yang kini sibuk membersihkan sekitar bibirnya dengan tisu.

“Menjijikkan.”

Sena menoleh. Menatapnya tajam. “Ini salahmu, pabo-ya.”

Gadis cantik itu menggendikkan bahu, lantas memeluk kembali kawannya itu. Tersenyum-senyum misterius. “Aku benar ‘kan?”

“Diam, dan menyingkirlah dariku,” balas Sena geram. Halla terkikik, membuatnya memutar bola mata.

“Ah … sepertinya temanku yang satu ini sedang merindukan seseorang. Hei semuanya!! Oh Sena ternyata me-”

“Tutup mulutmu, Lee Halla,” bisiknya sambil membungkam bibir Halla. Ia menatap yang lain, tersenyum manis. “Jangan didengar, dia ini sedang kelaparan, hahaha. Jungkook-a, kenapa kau tidak pesankan sesuatu untuk dimakannya, hum? Kurasa mulutnya perlu dibungkam dengan King Burger. Hahaha, aku benar ‘kan, Lee Halla?”

Gadis cantik itu menggeleng kuat. No! Dia sudah kapok dengan King Burger!!

.

.

Acara makan-makan itu akhirnya berakhir juga. Sena keluar paling akhir dari café karena dia harus ke toilet dulu. Semuanya sudah pergi. Tapi di meja itu, dia menemukan Jimin yang sedang melihat keluar dinding kaca dengan kedua telinga yang disumbat dengan earphone. Mengetuk-ngetukkan telunjuk ke atas meja, menggerak-gerakkan kepala mengikuti irama.

Sena menghela napas. Tasnya ada di sana, tepat di atas meja. Mau tak mau dia harus menghampiri meja itu, yang berarti dia juga harus bertemu dengan Jimin –lagi.

Pria itu menoleh, tersenyum, lantas bersandar. “Yang lain sudah pulang duluan.”

Sena membuka-buka tasnya mencari ponsel. Setelah dapat, dia juga ikut bersandar. “Kau sendiri kenapa tidak ikut pulang duluan?”

“Yah … aku hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat.”

Alasan. Huh, bilang saja kalau mau berduaan lagi dengannya. Hah … sepertinya membuat sosok Park Jimin menyerah itu tidaklah mudah. Pria yang keras kepala, semakin ditolak, dia akan semakin keras berjuang. Dan itu sangat menyebalkan.

Usai pesta ikan bakar pertamanya, tiba-tiba Jimin mengajaknya jalan-jalan di pantai. Tanpa banyak protes dia pun mengikuti kemana pria itu pergi. Sesekali dia bersin karena kedinginan. Mereka pun duduk di pasir, di tempat yang tidak jauh dengan tempat yang dulu didudukinya dengan Yoongi.

“Hatsyi!”

“Kau kedinginan? Ini, pakailah jaketku.” Pria itu lekas melepas jaket birunya, lantas memakaikannya ke tubuh Sena. Menyisakan kaus hitam polos tipis yang melekat di tubuhnya.

“Bagaimana denganmu?” tanya Sena khawatir.

Pria itu menggeleng. Tersenyum. “Aku baik-baik sa- HATSYI!”

Sena berjengit, kemudian tertawa. Ia pun melepas jaket itu, kemudian menempatkannya di depan sehingga bisa menutupi tubuh mereka berdua. Awalnya jaket itu tidak cukup karena bahu Jimin terlalu lebar. Tapi setelah disiasati, akhirnya jaket itu bisa menutupi bagian depan tubuh mereka berdua.

“Apa yang mau kau bicarakan?” tanya Sena tiba-tiba.

Jimin melihat ke bawah, menatap puncak kepala Sena. Walaupun dia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi gadis itu, tapi dia ingin sekali tersenyum entah kenapa.

“Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu.”

“Ah … harusnya kau bilang sejak awal. Dengan begini aku bisa mengambil jaketku dulu.”

“Tidak perlu,” ujarnya. “Aku lebih suka begini.”

Sena memperhatikan tubuhnya yang terbalut jaket. Tidak, sesuatu yang membalutnya bukan hanya jaket, tapi juga lengan pria ini. Ia merasa hangat. Menyenangkan bersandar di dada bidang itu. Andai dulu dia dan Yoongi seperti ini, apa yang akan terjadi dengan perasaannya? Mungkinkah dia akan berpaling dari Taehyung begitu saja atau….

“Apa yang kau suka dari Taehyung?”

Gadis itu tersentak, lantas mendongak. Jimin sama sekali tidak menatapnya, hanya memandang lurus ke depan, seperti pandangan kosong. “Ba-bagaimana kau tahu?”

Senyum tipis terlukis di wajah pria itu. “Kau ini mudah dibaca, Oh Sena.”

Déjà vu! Mendadak dia bisa mendengar suara Yoongi di kepalanya. Danau Seokchon. Es krim. Date. Akh … kenapa semua ingatan itu kembali lagi?

“Tapi ada yang tidak kumengerti.”

Gadis itu kembali mendongak. Cemas menunggu kalimat selanjutnya. Napasnya pun tercekat saat pria itu menoleh, balas menatapnya.

“Kalau kau menyukai Taehyung, kenapa kau selalu pergi kencan dengan Yoongi hyung? Kalian selalu bersama. Kalian dihukum bersama. Bahkan … kalian berpelukan.”

DEG!

“Sebenarnya siapa yang kau sukai diantara mereka berdua?”

Astaga! Dia tidak menyangka kalau Jimin tahu semua itu. Apalagi soal pelukan. Kapan? Kapan dia melihat semua itu? Apakah selama ini Jimin….

“Aku mengajakmu ke sini bukan untuk membicarakan itu.”

Dahinya mengernyit. Heran. Kalau bukan itu yang dibicarakan, lalu apa?

“Ada … sesuatu yang ingin kuungkapkan padamu,” ujarnya seraya memeluknya erat, menempatkan dagu di bahunya. “Sesuatu yang mungkin … akan membuatmu bahagia atau … marah padaku.”

Ia merasa nyaman dan tegang dalam waktu yang sama. Jimin yang dikenalnya ceria, kenapa tiba-tiba menjadi melankolis begini?

“Bolehkah aku mengungkapkannya? Tapi sebelum itu, kumohon jangan katakan ini pada siapa pun. Aku hanya ingin kau saja yang tahu.”

Sena tidak memberikan jawaban apa pun. Namun Jimin mengartikan itu sebagai ‘ya’.

“Aku … a-aku … aku … argh! Ini lebih sulit dari perkiraanku.”

Gadis itu menoleh, tapi tidak jadi setelah dia menyadari bahwa hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung pria itu. Sebagai gantinya, ia pun menempatkan tangannya di atas lengan pria itu. Menepuknya pelan. Seolah mengisyaratkan untuk bicara dengan tenang.

“Kau begitu baik,” puji pria itu sambil tersenyum tipis. Sentuhan kecil Sena sangat manjur, meski tidak seluruhnya tapi saat ini dia sudah merasa sedikit tenang. “Orang-orang itu sangat beruntung mendapatkan cinta dari gadis sepertimu.”

Sena tersenyum tipis. Masih enggan bicara.

“Seseorang yang kukenal pernah mengatakan ini padaku, manusia itu tidak pernah punya rasa puas. Manusia akan selalu merasa ingin memiliki apa yang tidak dimilikinya, termasuk hal-hal yang dimiliki oleh orang lain. Seperti kata pepatah. Rumput tetangga itu selalu terlihat hijau.”

Bergerak sebentar, mencari kenyamanan. “Manusia itu serakah. Tidak terkecuali. Bahkan termasuk aku.”

Jantung Sena mendadak berpacu cepat. Apa yang akan diungkapkan pria itu setelah membicarakan hal seperti ini? Akankah ini benar-benar hal yang ditakutkannya?

“Jujur, aku iri pada Taehyung. Dia dikaruniai wajah yang sempurna, ayah yang hebat, orang-orang yang mencintainya. Meski aku tahu dia memiliki banyak kekurangan, tapi, aku benar-benar iri. Aku sangat ingin berada di posisinya. Sebagaimana aku ingin sekali berada di posisi Yoongi hyung.” Pria itu menarik napas panjang. Menghelanya sambil berkata. “Karena mereka dicintai oleh gadis yang baik.”

Tepat sasaran. Dugaannya benar. Jantungnya lagi-lagi berpacu cepat. Tapi bukan perasaan seperti yang dirasakannya pada Taehyung. Bukan juga perasaan seperti yang dirasakannya pada Yoongi. Tapi ini sebuah perasaan yang … menyakitkan. Yang sanggup membuat air matanya jatuh dari pelupuk.

“Eh? Kenapa tiba-tiba menangis? Kau sakit? Di bagian mana? Katakan padaku.”

Bukannya menjawab, isakan gadis itu justru makin keras. Jimin yang tidak tahu apa-apa, tampak semakin panik. Dia bahkan sampai melemparkan jaket itu, memeriksa seluruh tubuh Sena kalau-kalau ada luka yang membuat gadis itu menangis. Tapi setelah sekian lama mencari, dia tidak menemukan luka jenis apa pun. Sena baik-baik saja.

“Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi? Tolong beritahu aku….”

BUG! BUG!

Nappeun namja! Aku benci padamu! Aku benci kau, Park Jimin!”

Ekspresi Jimin tampak sendu. Ia membiarkan Sena terus memukulnya. “Marahlah saja, pukul aku sekuat-kuatnya. Jangan menangis. Kumohon jangan menangis.”

“Aku tidak bisa marah, pabo-ya! Setiap kali aku marah … aku akan menangis. Hiks. Aku juga tidak mau seperti ini! Aku … aku … Kenapa kau lakukan ini padaku?! Kau itu sahabatku. Aku mencintaimu selayaknya sahabat. Tapi … kau….”

Jimin melangkah mendekat, merentangkan tangan, ingin memeluk. Namun Sena terus berjalan mundur. Menggeleng kuat. Yang akhirnya membuatnya menyerah dan berhenti.

“Aku tahu kalau kau menganggapku sahabat. Aku juga tahu kau mencintaiku selayaknya sahabat. Tapi aku tidak bisa berbohong soal perasaan ini. Aku berusaha untuk terus memendamnya seperti ini saja tapi aku tidak bisa. Perasaan itu meledak begitu saja, Sena. Maafkan aku.”

“Aku benci kau, Park Jimin.”

“Ya, silahkan benci aku sepuasmu Sena. Tapi kumohon, jangan pernah pergi dariku apa pun yang terjadi.”

“Wae? Kenapa aku tidak boleh pergi?”

Jimin pun mengangkat kepalanya. Memberanikan diri menatap tepat ke manik mata Sena. “Aku sudah tahu kau akan seperti ini saat mendengarnya. Tapi, meskipun aku sudah mengungkapkannya, bisakah aku tetap menjadi sahabatmu? Aku akan melakukan apa pun yang kau suruh, Sena. Bahkan kalau kau ingin aku melupakanmu, aku akan melakukannya. Jadi tolong … jangan pernah pergi dariku. Kumohon dengan sangat, Sena.”

Gadis itu menghela napas, menunduk, lalu terjatuh begitu saja. Semuanya tiba-tiba gelap.

Sena menghela napas. Menatap langit-langit kamarnya tanpa bosan. Entah kenapa, mengingat saat bersama Jimin waktu itu, dia jadi teringat pesan ibunya sewaktu dia akan ditinggal oleh kedua orangtuanya ke Swedia. Saat itu dia masih duduk di kelas 6, terpaksa tidak dibawa serta ke Swedia karena dia sudah diadopsi oleh Hayoung –adik ayahnya yang divonis dokter ‘tidak bisa memiliki anak’. Hari itu, Daena –ibunya, memberinya pesan yang belum dia tahu betul apa maknanya.

“Ibu sangat menyesal tidak bisa membawamu serta ke Swedia. Tapi kami janji, kami akan mengunjungimu setiap hari libur. Sena harus jadi anak yang baik, ya. Usahakan untuk tidak terlibat hubungan apa pun dengan laki-laki. Tetap waspada pada laki-laki asing, mengerti? Ingat kata-kata ibu ini. Cinta itu, seperti kita sedang bermain api. Kalau kau tidak hati-hati, kau akan terluka.”

Tapi sekarang, setelah banyak hal yang telah dia lalui, akhirnya dia mengerti apa maksud dari pesan Daena. Bibirnya mengulum senyum getir.

Taehyung.

Jimin.

Yoongi.

Tiga orang pria ini, semuanya telah membuatnya terluka.

Taehyung rupanya masih terjebak dalam masa lalunya bersama Sooyoung. Dia mendengar tentang kisah mereka dari Halla. Sebagai teman masa SMP, Halla tahu betul soal kisah cinta Taehyung dan Sooyoung. Karena mereka berdua memiliki visual yang sempurna, semasa mereka berkencan banyak sekali siswa yang menjadi fans berat mereka. Malah ada yang berharap agar mereka segera menikah dan punya anak. Tapi sayang, setelah Taehyung tahu motif Sooyoung yang sebenarnya dan fakta bahwa ayah Sooyoung adalah pria yang telah merebut ibu kandungnya dari Baekhyun, hubungan itu akhirnya kandas. Dan mereka pun berakhir menjadi dua orang yang tidak saling mengenal. Sooyoung sibuk dengan para penggemarnya, begitu juga Taehyung. Satu hal yang membuatnya sakit hati, Taehyung ternyata benar-benar tidak bisa jatuh cinta pada siapa pun lagi selain Sooyoung. Ia pernah mendengar obrolan Taehyung dengan Jimin secara diam-diam. Menahan sesak sendiri.

“Sena? Ah, tidak. Aku tidak menyukainya. Aku hanya suka bersamanya karena dia mirip denganku. Bukankah berteman dengan seseorang yang mirip dengan kita itu mengasyikkan?”

Ya, hanya dianggap teman. Tidak lebih.

Apa yang dilakukan Taehyung padanya, ternyata tanpa sadar dia lakukan juga pada Jimin. Perkara yang rumit. Setelah dia menyadari itu, ia pun merasa sedikit bersalah pada Jimin. Ya karena dia tahu bagaimana rasanya ditolak dan hanya dianggap teman. Seolah dia membantu Jimin naik, tapi pada akhirnya menjatuhkan juga. Hanya saja, mau bagaimana lagi? Rasa cinta itu benar-benar tidak ada untuknya.

Karena ia baru menyadarinya sekarang. Bahwa perasaan itu ternyata berlabuh pada pria bermarga Min yang sudah berhijrah ke negeri seberang. Menyesal? Tentu saja. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang terlambat menyadari perasaan itu. Andai dia menyadarinya lebih cepat…. Tapi, apakah pria itu juga punya perasaan yang sama padanya? Argh … ibunya benar. Cinta itu memang seperti api.

“Akh! Kepalaku pusing!” keluhnya sambil meloncat turun dari ranjang. Ia pun meraih ikat rambutnya. Membentuk ponytail. Lalu keluar menuju studio. Ini bukan pertama kalinya dia pergi ke sana. Semenjak Yoongi pergi ke London, tempat itu selalu dia kunjungi selepas tengah malam saat semua orang sudah tidur atau saat Jimin dan Hoseok tidak memakainya. Buat apa lagi? Tentu saja berkutat dengan grand piano cokelat yang ada di sudut studio. Memainkan Moonlight Sonata as always.

 

TBC

Advertisements

6 Replies to “#11 Playing with Fire [Blood Sweat & Tears]”

  1. Nyesek baca chapter ini, bingung lah mau coment gimana lagi..
    Aku seperti bener bener merasakan apa yang sena rasakan..
    Aku tunggu next chapternya lah ya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s