Stereotype #2

stereotype-cover

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Sebagai ketua kelas, akulah yang harus pergi mengumpulkan buku tugas matematika kelas 2-4 ke kantor. Lebih tepatnya mendatangi meja Son Hyunwoo seonsaengnim yang tadi memberikan tugas ke kelas. Beliau adalah guru piket hari ini. Aku disambutnya dengan hangat, lalu menyuruhku untuk meletakkan tumpukkan buku yang kubawa ke atas mejanya. Setelah itu aku pamit undur diri.

Aku pulang sendiri, naik bus. Alasan kenapa aku tidak pulang bersama Soomi adalah karena rumah kami tidak searah. Rumahnya lebih jauh dari sekolah dan dia selalu dijemput oleh kakak laki-lakinya. Sementara aku, aku tidak punya kakak laki-laki, yang kupunya adalah adik laki-laki.

Sekolah ini dibubarkan pukul 6 sore. Tidak terlalu siang, tidak juga terlalu malam. Aku cukup bersyukur dengan kebijakan sekolah. Dengan begini aku tidak perlu takut kalau pulang sendirian. Gara-gara menyalin tugas di buku Yoongi tadi, aku terpaksa keluar kelas 15 menit lebih akhir dari yang lain.

Halte sekolah tampak lengang. Hanya segelintir siswa yang ada di sana dan tidak ada satu pun yang kukenal. Aku pun mendudukkan diri di kursi halte. Bersebelahan dengan seorang siswa berkacamata yang memakai hoodie biru muda. Aku pernah melihatnya. Tapi aku tidak yakin siapa namanya. Yang pasti, dia berada di angkatan yang sama denganku.

Aku memilih tidak mengacuhkannya dan memandang sekitar. Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan dan semua kendaraan yang lalu lalang juga menyalakan lampu depan. Polusi cahaya. Satu persatu siswa meninggalkanku. Kebanyakan dari mereka dijemput orangtua. Lalu hanya tersisa dua orang. Ialah aku, dan siswa berhoodie biru muda di sampingku.

Aku melirik arloji.

Kenapa lama sekali?

Seorang pria bertubuh tinggi jangkung dengan pakaian serba hitam tiba-tiba menginjakkan kaki di halte ini. Dia berdiri jauh dari kami. Aku melihatnya sedang bersandar pada sebuah tiang. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh topi dan masker. Aku tidak yakin. Perasaanku buruk terhadapnya.

Aku pun melirik siswa berhoodie biru muda. Tampaknya, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Kami saling berpandangan. Kemudian … sebuah mobil mewah berhenti di depan kami. Warna hitam metaliknya nyaris menyatu dengan warna langit. Seseorang muncul dari balik kemudi, pria berjas hitam. Siswa berkacamata di sebelahku mendadak bangkit.

Jadi … kemungkinan besar dia juga dijemput. Dan itulah jemputannya. Itu artinya, aku akan ditinggalkan sendirian di sini bersama pria asing itu. Akh! Aku tidak mau!

Sebuah tangan terulur tepat di depan hidungku. Aku pun mendongak. Kutemukan siswa berkacamata yang memakai hoodie biru muda itu tersenyum. Senyum yang nyaris mirip seperti senyumnya Min Yoongi. Apa jangan-jangan dia saudara Min Yoongi? Ah tidak. Kenapa aku malah memikirkan pria dingin itu?

“Namaku Yoo Kihyun. Kau?”

Sudah kuduga, dia bukan saudara Min Yoongi.

Aku pun membalas uluran tangannya. Berusaha tersenyum, tapi aku tidak yakin. “Aku Oh Sena.”

“Senang berkenalan denganmu,” ujarnya ramah sambil melepaskan jabat tangannya. “Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengantarmu pulang. Boleh?”

Kekhawatiranku tadi ternyata tidak berguna. Tanpa pikir panjang aku pun mengangguk. Ini lebih baik. Kihyun jauh lebih bisa dipercaya daripada pria asing itu. Ia pun memimpinku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aroma parfum mobil yang khas langsung menyerang indera penciumanku. Aku duduk di sisi kanan, sementara dia di sisi kiri. Mobil ini pun melaju di bawah kendali ahjussi yang kudengar bernama Jung Hoseok.

Kulihat Kihyun melepas kacamatanya. Oh? Jadi kacamata itu hanya sebagai aksesoris? Bahkan dia dengan santai mengacak rambutnya sampai terlihat seperti tatanan bad boy. Kupikir dia adalah tipe nerd yang kuno dan sebagainya ternyata … itu hanya topengnya saja? Entah kenapa aku malah takut berada di sini. Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu yang buruk padaku? Bagaimana kalau dia ternyata adalah pria brengsek? Bagaimana kalau….

Ia menatapku. Lalu tersenyum lebar. “Kau pasti terkejut. Tenang saja. Aku bukan seperti apa yang kau pikirkan. Inilah aku, Yoo Kihyun.”

Dia membaca pikiranku. Tapi apa maksudnya? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Aku berharap dia tidak tampak seperti Min Yoongi tapi kenapa dia malah semakin mirip Min Yoongi sekarang. Dan … kenapa juga aku terus memikirkan nama itu? Ada apa denganku?

“Oh ya, rumahmu searah dengan rumah Min Yoongi ‘kan?”

Oh astaga. Dia menyebutkan nama itu. “Ya. Kami … tetangga.”

“Bagus,” ujarnya. Dia mengganti sepatu sekolahnya dengan sepatu kets. “Aku akan ke rumahnya, jadi waktunya pas sekali.”

Aku memperhatikannya yang kini sedang menyimpulkan tali sepatu. Apakah mereka teman? Atau justru saudara seperti aku dan Soomi? Dia mengenal Yoongi, dan dia bahkan tahu di mana rumah Yoongi. Sepertinya hanya aku di sini yang tidak tahu kalau Kihyun sering datang ke rumah Yoongi. Rumah yang selalu sepi itu, cukup mustahil untuk didatangi oleh orang seceria Kihyun.

Tak lama kemudian mobil telah berhenti di depan rumahku. Seperti kebanyakan rumah. Rumahku juga tidak tampak dari luar karena tertutup oleh pagar yang tinggi dan pintu yang hanya muat untuk jalan masuk orang. Aku pun mengucapkan terima kasih sebelum turun. Kihyun tidak mengatakan apa pun selain “sampai jumpa”. Begitu aku berdiri di depan pintu masuk, kulihat mobil itu merayap pelan dan berhenti di depan rumah yang hanya berjarak tiga rumah ke kanan dari rumah ini. Kihyun turun tanpa membawa apa pun, lalu meloncat masuk seperti maling. Maling elit, dia menaiki atap mobilnya agar dapat menjangkau pagar rumah itu. Dan meloncat layaknya Naruto.

Sementara aku sendiri, segera masuk ke dalam rumah.

“Oh, kau sudah pulang? Cepat ganti seragammu dan makanlah. Setelah ini kau harus mengantarkan makanan ke rumah Yoongi.”

“Ya.” Aku pun merangsek masuk kamar, mengunci pintunya, membuang tas sembarangan lalu merebahkan tubuh di ranjang. Aku tidak bisa berbaring lama-lama. Ibu barusan menyuruhku untuk segera makan malam lalu pergi ke rumah Yoongi. Itu adalah keseharianku. Menjadi keseharian karena orangtua Yoongi tidak pernah berada di rumah. Padahal ayahnya, Tuan Min adalah guru sejarah kelas 2. Ya, beliau adalah orang yang sama yang memukuli Yoongi siang tadi. Dan ibunya, adalah dokter sekolah. Itulah kenapa Yoongi memilih masuk kelas sebelum bel pulang daripada terus berlama-lama di ruang kesehatan. Ibuku bilang orangtua Yoongi memiliki pekerjaan lain. Ayahnya adalah rektor di sebuah universitas di Daegu, sedangkan ibunya adalah dokter bedah yang selalu mendapat tugas jaga malam. aku tidak yakin apakah itu benar. Tapi kalau dilihat situasinya, sepertinya begitu.

DOK DOK DOK!

“Sena! Jangan tidur dulu! Kau harus mengantar makanan ke rumah Yoongi!”

Ini belum lewat 10 menit tapi eomma sudah nyaris menghancurkan pintu kamarku. “Iya! Aku akan keluar sebentar lagi!”

“Cepat! Ini sudah hampir lewat jam makan malam!”

“Aku tahu!”

Dan tidak ada lagi suara eomma di luar sana. Sebelum suara itu terdengar lagi, ada baiknya aku segera berganti pakaian dan pergi menemuinya.

Bohong saat eomma bilang aku harus makan dulu sebelum pergi ke rumahnya. Yang ada justru eomma menyuruhku untuk membawakan makan malam ke sana dan ikut makan di sana bersamanya. Yang benar saja. Eomma tidak membiarkanku menolak karena kalau aku menolak, intinya aku tidak akan dapat makan malam. Semua menu di rumah sudah habis oleh adikku. Jadi menit berikutnya, aku sudah berada di luar, berjalan dengan ogah-ogahan menuju rumah yang berdiri tiga rumah ke kanan dari rumahku. Menekan bel satu kali. Tidak ada respon. Tekan lagi. Tidak direspon juga. Tekan lima kali.

Bunyi unlock pun terdengar dari dalam. Aku mundur selangkah, menyambut kepala seseorang yang muncul dari dalamnya.

“Budayakan apa itu sabar, nona,” ujarnya sambil membuka lebar pintu. Menyuruhku masuk.

Aku berjalan bersisian dengannya. Pekarangan depan yang tidak asing. Lampu yang berdiri nomor 3 dari pintu masuk masih belum diperbaiki. Beberapa hari lalu dia masih bisa menyala meski redup, tapi sekarang sudah benar-benar mati. Yoongi mendahuluiku memasuki rumahnya. Ini bukan pertama kalinya aku datang, jadi aku tidak butuh siapa pun untuk memimpin perjalanan memasuki rumahnya.

Suara berisik terdengar dari ruang tengah. Dan ketika aku sampai di sana, ternyata itu ulah Kihyun. Dia membelalak saat melihatku tapi beberapa detik kemudian tersenyum lebar. Dia sudah tidak memakai seragam sekolah. Yang dia pakai sekarang adalah kaos oblong berwarna hitam ditambah dengan skinny jeans yang juga sama hitamnya. Apa mungkin dia penyuka warna hitam sepertiku? Ah entahlah. Aku melewatinya, pergi menuju ruang makan. Kukeluarkan semua makanan di rantang yang kubawa. Tidak perlu kupindah ke piring atau mangkuk atau sebagainya. Yoongi yang tadi ternyata melesat ke dapur untuk mengambil piring dan alat makan lainnya pun datang. Dia membawa mangkuk nasi, mangkuk sup, piring, sendok dan sumpit yang totalnya masing-masing tiga. Ia meletakkan semua itu di atas meja, lalu memanggil Kihyun.

Pria itu datang tak lama kemudian.

“Wah … makan malam,” serunya ceria sambil menarik sebuah kursi dan duduk. Dia memegang sumpit di tangan kirinya dan sendok di tangan kanan. Menunggu Yoongi meletakkan alat makan lain di hadapannya. Entah kenapa pemandangan ini cukup familiar bagiku. Aku dan Yoongi berdiri, sementara Kihyun duduk sendiri. Ini … malah kelihatan seperti ayah dan ibu yang sedang menyiapkan makan untuk anak bayinya.

Aku terkekeh.

Yoongi menatapku aneh. “Kau kenapa?”

Aku pun menggeleng, lalu mendorong rantang berisi nasi untuk lebih dekat pada Yoongi. “Nasinya sudah hampir dingin. Cepat ambil.”

“Kau juga makan ‘kan?” tanyanya. Aku tidak perlu menjawab. Itu pertanyaan retoris. Aku pun duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Kihyun. Sementara Yoongi duduk di kursi yang menjadi penengah kami berdua. Dia dan Kihyun saling bertukar kata ringan. Aku tidak tahu mereka membicarakan apa. Yang pasti, itu kedengaran seperti game yang sedang mereka mainkan saat sebelum aku datang.

“Jadi kau selalu mengantar makanan ke sini?” tanya Kihyun. Aku pun mengangguk. Dia melanjutkan. “Oh, kupikir kau hanya sekadar tetangganya saja.”

Ya, awalnya aku juga berpikiran kalau aku hanya akan menjadi tetangga Min Yoongi saja. Tapi ternyata, hidup berkata lain. Aku harus terlibat dalam kehidupan Min Yoongi. Orangtuaku dan orangtuanya harus saling mengenal. Orangtuanya dengan penuh kepercayaan meminta bantuan orangtuaku untuk mengurus Yoongi saat mereka tidak ada di rumah. Aku harus datang kemari setiap setelah pulang sekolah untuk mengantarkan makan malam dan sebelum matahari terbit untuk mengantarkan sarapan. Itulah yang terjadi. Jauh sekali dengan kalimat ‘hanya menjadi tetangga’.

Suara tawa dua pria di hadapanku membuatku kembali ke dunia nyata. Mereka tampak sangat ceria. Aku tidak tahu kenapa, tapi melihat mereka tertawa membuat ujung bibirku ikut terangkat. Mereka menyantap makanan yang dibuat eomma dengan lahap. Bagian ini membuatku bersyukur.

“Oh ya, kau sudah mengenal gadis ini?” tanya Yoongi setelah dia menyadari keberadaanku. Kihyun pun menatapku, lalu tersenyum. “Tentu. Aku mengantarnya pulang tadi.”

Dahi Yoongi berkerut. “Kenapa?”

“Ada orang mencurigakan yang datang ke halte. Dia berpakaian serba hitam dan wajahnya tidak kelihatan sama sekali. Aku khawatir kalau terjadi apa-apa pada nona ini jadi aku mengantarnya pulang. Untungnya dia tetanggamu.”

Yoongi pun mengangguk dengan bibir berbentuk o kecil.

“Ngomong-ngomong … kalian berteman?”

“Ya, sejak kecil bahkan.” Kihyun terkekeh, melirik Yoongi yang hanya tersenyum miring. “Kenapa?”

Aku menggeleng. “Ah tidak, aku hanya penasaran.”

Selesai makan malam, aku pun pamit pulang sambil membawa kembali rantang-rantang yang kubawa dari rumah tadi. Kihyun berniat menginap di sana malam ini, entahlah kenapa dia memberitahuku segala. Yoongi mengantarku sampai depan rumahnya, melihatku dari sana untuk memastikan kalau aku sampai di rumah dengan selamat.

Dan di sinilah aku, di kamar. Mengecek ponsel yang ternyata kutinggalkan di atas tempat tidur. Aku pun membanting diri di kasur empuk itu, lantas meraih ponsel. Ada satu pesan dari Soomi. Biar kutebak, pasti ini ada hubungannya dengan Taehyung.

T^T Taehyung tidak mengirimiku pesan sama sekali….

Aku menggeleng pelan. Sudah kuduga pasti ini berhubungan dengan Taehyung. Bukankah Soomi sendiri yang bilang kalau dia tidak akan mengirim pesan pada Taehyung. Dan sekarang Taehyung tidak mengiriminya pesan lalu dia mengadu padaku.

Memang kau sudah mengirim pesan padanya?

Belum T^T Selalu dia yang duluan mengirim pesan padaku

 

Yah … inilah kakakku. Aku sudah tahu sejak awal sekali, sebelum aku, Soomi, dan Taehyung diletakkan di kelas yang sama, kalau Soomi memang sudah suka pada Taehyung. Soomi mulai menyukai Taehyung saat mereka tidak sengaja bertemu usai pertandingan persaudaraan tim basket SMA kami dengan tim basket SMA lain. Taehyung adalah salah satu pemain dalam tim basket SMA kami. Aku tidak tahu persisnya tapi, kurasa Soomi menyukainya karena Taehyung berkeringat. Entahlah, alasan macam apa itu. Dan kurasa, Taehyung juga menyukai Soomi. Di sekolah mereka selalu bermain Tom & Jerry, tapi di luar sekolah, mereka sudah seperti pasangan muda yang siap naik ke pelaminan. Dan aku, adalah penonton kisah cinta mereka. Membosankan.

Bukannya tadi di ruang kesehatan kalian sudah sepakat untuk tidak saling berkirim pesan?

Tapi aku sama sekali tidak bermaksud begitu

Kalau begitu kirimi saja dia pesan

Aku tidak mau!

 

Ponsel itu langsung kulempar. Ugh, Aku tidak mau lagi berkirim pesan dengannya. Kalau memang dia tidak mau kenapa juga harus mengadu padaku? Mereka pikir aku ini penasehat cinta mereka? Argh!

Pukul 6 pagi aku sudah berseragam lengkap. Sekarang aku duduk di meja makan menunggu eomma selesai packing makanan untuk kubawa ke rumah Yoongi setelah ini. Menu sarapan pagi ini adalah Bibimbap. Sebelumnya aku bilang kalau di rumah Yoongi sekarang ada Kihyun, jadi eomma pun membuat tiga porsi. Yang artinya, aku akan makan di sana lagi.

Eomma juga menyertakan tiga susu pisang ke dalam tas makanan itu. “Ini susu pisang terakhir. Kemarin adikmu sudah menghabiskan banyak.”

Adikku adalah pecinta makanan, kalian harus tahu itu.

Setelah berpamitan aku pun pergi ke rumah Yoongi. Pria itu membukakan pintu, dengan rambutnya yang masih berantakan, bangun tidur mungkin. Aku tidak menemukan keramaian seperti kemarin. Kihyun tidur di mana aku juga tidak tahu. Yang kutemukan di ruang tengah adalah bungkus snack yang berserakan di mana-mana. Yoongi membanting tubuhnya di sebuah sofa yang paling panjang. Kembali tidur. Sementara aku pergi ke ruang makan untuk membongkar makanan yang kubawa.

Aku memilih untuk makan duluan. Setelah selesai, aku akan membersihkan sampah plastik yang ada di ruang tengah. Sebenarnya tugasku kemari hanyalah mengirim sarapan dan makan malam, tapi setelah melihat sampah-sampah itu, kurasa aku akan jadi tukang bersih-bersih freelance di rumah ini.

Tidur Yoongi tampak lelap saat aku tiba di ruang tengah. Sofa itu cukup untuk seluruh tubuhnya, tapi dia justru meringkuk seperti embrio. Kulambai-lambaikan tanganku di depan wajahnya tapi dia tidak bereaksi. Dia benar-benar lelap. Dengan hari-hati, aku pun memunguti sampah-sampah plastik yang berserakan dan memasukkanya ke dalam plastik sampah. Ada banyak kaleng soda juga. Mereka pasti menghabiskan malam berdua sambil makan semua makanan tidak sehat ini.

Aku selesai dengan sampah-sampah itu tepat ketika Kihyun keluar dari kamar Yoongi. Rambutnya sama berantakannya seperti rambut si pemilik rumah. Dia menyipitkan mata melihatku, lantas tersenyum.

“Oh nona, kau datang lagi. Kau pasti bawa makanan.” Dia mengenalku dengan baik.

“Aku bawa Bibimbap, kau bisa ambil bagianmu di meja makan.”

Kihyun menunjukkan dua ibu jarinya. “Makanan buatan ibumu enak sekali. Aku suka.”

Mungkin ibuku akan senang mendengarnya.

Dia duduk di sebelah Yoongi, menepuk-nepuk pantat pria itu. “Hei bangun … kau tidak lihat, Sena sudah datang.”

“Aku tahu, jangan ganggu aku,” jawab Yoongi sambil menepis tangan Kihyun dengan kakinya.

“Aish orang ini.” Kihyun pun menyerah. Dia lantas beranjak menuju ruang makan sementara aku pergi ke depan untuk meletakkan plastik sampah itu di tong sampah yang berada di depan pagar. Ini sudah setengah tujuh tapi langit masih cukup gelap. Di sini matahari baru akan terbit pukul 7 lebih.

Saat aku kembali ke dalam, Yoongi masih berkutat dengan mimpinya di sofa, sementara Kihyun menyantap sarapan. Akan sangat membosankan kalau aku duduk di ruang tengah menunggui Yoongi tidur, maka dari itu aku pun ke ruang makan bergabung dengan Kihyun.

“Pukul berapa kau bangun?” tanyanya begitu aku duduk.

“Biasanya pukul lima.”

“Pagi sekali. Lalu tidurnya?”

“Sebelas.”

“Oh pantas.” Ia menyeka ujung bibirnya. “Kemarin aku dan Yoongi bermain game sampai pukul 2. Dia bilang dia sudah lama tidak bermain game. Memangnya dia tidak punya teman di kelas?”

“Ada, satu. Kim Taehyung.”

“Hanya satu? Wae? Apa karena Min seonsaengnim?” tanyanya.

Aku menggendikkan bahu. Sebenarnya aku juga tidak yakin. Sejak awal masuk sekolah, Min Yoongi memang tertutup. Kami tidak berada di kelas yang sama saat tahun pertama, tapi setelah kami diletakkan di kelas yang sama di tahun kedua, aku baru tahu kalau Yoongi memang tidak punya teman. Saat semuanya duduk bersama orang yang dikenal, dia justru duduk sendiri –Taehyung absen saat hari pertama tahun ajaran baru-. Teman-temannya dari kelas 1-8 juga tidak begitu dekat dengannya. Kalau saja Soomi tidak masuk ke kelas 2-4, mungkin aku akan duduk sebangku dengannya. Karena yang ia kenal saat itu hanyalah aku.

Tapi, kalau toh Soomi tidak masuk kelas 2-4, belum tentu Yoongi akan setuju kalau aku duduk sebangku dengannya. Dia bersikap dingin padaku saat di sekolah. Dia tidak akan menyapaku, tidak akan bicara padaku, bahkan melirikku dia juga tidak mau. Aku tidak tahu apa alasannya. Mungkin karena orangtuanya, atau karena hal lain. Ah entahlah, aku sudah menyerah memikirkan alasan kenapa dia begitu dingin saat di sekolah. Dan satu lagi, aku tidak mau bertanya.

“Jadi selama ini yang di rumah hanya Yoongi?” celetuk Kihyun tiba-tiba. Dia sudah menghabiskan Bibimbap-nya, dan sekarang beralih menghabiskan susu pisang.

“Ya, orangtuanya hanya di rumah saat hari libur.” Itu pun kalau mereka mendapat waktu libur. Biasanya Nyonya Min, ibu Yoongi pernah hanya pulang sehari saat Chuseok. Itu pun hanya beberapa jam saja, karena malamnya ada pasien darurat yang harus segera di operasi. Keluarga Min benar-benar tidak pernah menyisihkan waktu untuk berkumpul bersama.

“Sayang sekali. Aku tidak bisa datang kemari setiap hari karena orangtuaku. Mereka sangat protektif tidak seperti Min seonsaengnim. Kau tahu kenapa aku memakai kacamata saat di sekolah? Itu karena orangtuaku. Mereka sangat ingin memiliki anak yang baik dan pintar, dan anak baik dan pintar yang dimaksud adalah anak berambut kelapa yang memakai kacamata baca.” Ia tersenyum miring. “Aku senang mendengar kalau mereka sekarang sedang pergi ke Jepang selama dua minggu.”

Ah … sekarang aku tahu kenapa kemarin Kihyun bilang “inilah aku, Yoo Kihyun”. Imejnya yang berkacamata, berpakaian rapi, berambut klimis benar-benar tidak cocok dengan caranya melompati pagar rumah Yoongi kemarin. Sekarang aku baru sadar kalau aku berteman dengan orang-orang yang punya dua muka. Yang pertama Soomi, lalu Yoongi, Taehyung dan sekarang bertambah dengan Kihyun.

Apakah aku juga termasuk bagian dari mereka?

Kedatangan Yoongi dan perginya Kihyun langsung mengambil alih pikiranku. Yoongi duduk di hadapanku, menarik mangkuk Bibimbap-nya lantas memakannya. Aku menopang dagu, menatapnya lekat. Dia sangat sulit dipandang seperti ini saat di sekolah. Dan karena ini di rumahnya, aku bisa leluasa melakukannya.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

Aku tersentak ketika bola matanya bergerak menatapku. Tidak begitu lama memang, tapi sanggup membuat jantungku berdebar.

Aku pun menarik diri, menyandarkan punggung pada kursi. “Kau mirip sekali dengan Kihyun.”

“Benarkah?” tanyanya cuek.

Aku memilih tidak menjawab karena aku tahu dia pasti tidak butuh jawaban. Dan kalaupun aku memberikan jawaban, memangnya itu akan penting untuknya?

Hari itu, aku berangkat sekolah tidak naik bus seperti biasa. Tetapi dengan mobil Kihyun. Duduk di antara Kihyun dan Yoongi. Kihyun sudah kembali menjadi Kihyun si anak patuh, berkacamata, berambut klimis dan bersepatu hitam.

Aku tidak tahu kenapa, selama perjalanan aku tidak bisa duduk tenang. Apa karena nanti siang akan ada ulangan fisika? Atau karena hal lain?

Entahlah.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s