Stereotype #3

stereotype-cover

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Jadwal pelajaran Min seonsaengnim hanya satu kali dalam seminggu. Selama tidak ada jam pelajarannya, Yoongi aman dari hukuman. Karena meskipun dia banyak bicara kasar, guru-guru tidak akan sekejam itu menghukumnya. Paling-paling hanya disuruh membersihkan toilet, atau berlari mengelilingi lapangan.

Dia masih dingin padaku saat di sekolah. Saat jam makan siang misalnya. Aku dan Soomi duduk di meja yang berada tepat di depan pintu masuk. Meja ini terlalu panjang untuk ditempati dua orang saja. Tapi selain kami berdua, tidak ada satu pun siswa lain yang duduk di sana. Aku berusaha tidak memedulikannya dan memakan makan siang yang kuambil. Tiba-tiba saja, Soomi menyikut lenganku lalu mengisyaratkan padaku untuk melihat ke depan. Taehyung dan Yoongi datang menghampiri kami.

Saat pandanganku dan Yoongi bertemu, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu berputar dan duduk di meja lain.

“Yoongi-a!”

Yoongi tidak mengacuhkannya. Taehyung tampak ingin menghampirinya, tapi dia bimbang untuk beberapa saat, lalu ia pun memutuskan untuk mengabaikan dan pergi ke meja kami. Dia duduk di hadapanku.

“Aku duduk di sini,” ujarnya tanpa menatap orang yang diajaknya bicara.

Soomi mengetukkan ujung sumpitnya ke wadah makan Taehyung. Pria itu mendongak. “Yoongi kenapa duduk di sana?”

Taehyung menoleh ke belakang sekilas, lantas menggendikkan bahu. “Jangan tanya padaku, aku juga tidak tahu.”

Lalu entah bagaimana aku sudah berdiri, sambil membawa tempat makanku, dan dengan dorongan kuat Soomi dari belakang, kakiku pun terayun mendekati meja yang ditempati Yoongi. Aku berhenti di dekatnya. Dia yang akan memasukkan suapan yang entah ke berapa, berhenti hanya untuk melihatku.

“Boleh aku duduk di sini?” tanyaku, tidak memedulikan ekspresi kesalnya.

Ia membanting sendoknya ke atas wadah makanan itu, menimbulkan bunyi berisik yang sanggup menarik perhatian orang-orang di sekitar kami. Detik berikutnya dia mendadak bangkit. Tanpa melihatku dia pun berujar, “duduk saja, ini meja umum.” Lalu beranjak ke bagian penampungan wadah makanan kotor, dan pergi meninggalkan kantin. Sekarang tersisa aku sendirian di sini, dipandang banyak orang dengan tatapan bertanya-tanya, seolah aku baru saja membuat seseorang menangis. Aku pun berdehem untuk menghapus rasa maluku, lalu duduk di tempat yang sebelumnya diduduki Yoongi.

Sekarang aku tidak berselera makan.

Kepala Yoongi muncul dari balik pintu gerbang begitu aku menekan bel untuk ketujuh kalinya. Dia menatapku sebentar, lalu membuka pintu itu lebar-lebar, membiarkanku masuk.

Lampu ketiga dari pintu gerbang masih padam. Aku berjalan memasuki rumahnya dengan dia di belakangku. Sesampai di ruang makan rumahnya, aku mengeluarkan semua makanan yang kubawa. Dia pergi ke dapur untuk mengambil alat-alat makan. Tidak seperti kemarin, dia hanya membawa dua.

“Kihyun tidak datang ke sini lagi?” tanyaku.

“Dia akan datang setelah les-nya selesai,” jawabnya tanpa menatapku.

Aku hanya mengangguk lantas mendorong box nasi ke hadapannya. “Kalau begitu makanlah.”

“Kau tidak makan?”

“Aku masih terlalu kenyang,” balasku sambil duduk. Mengingat kejadian tadi siang membuat selera makanku lenyap begitu saja. Meski perutku rasanya kosong, aku sama sekali tidak tertarik dengan makanan di hadapanku. Bahkan untuk duduk di sini, memandangnya saja aku sudah enggan sekali.

“Kau marah padaku?”

Aku menatapnya –yang masih tidak mau menatapku. Apa dia bertanya karena tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Bolehkah sekali saja aku muak pada sikapnya?

Aku menghela napas. Entahlah, aku tidak bisa. Melihat tubuh kurusnya yang selalu dipukuli oleh ayahnya itu, mustahil aku bisa muak padanya. Argh. Aku benci diriku sendiri.

“Sudahlah, makan saja duluan.” Hanya itu yang bisa kukatakan sebelum beranjak ke ruang tengah. Di sana aku menghempaskan tubuh di sofa paling panjang, meraih sebungkus snack yang ada di atas meja –yang entah kapan Yoongi membelinya-. Menyalakan televisi, dan pergi ke channel yang menayangkan acara musik. BESTie bukan grup yang kusuka. Tapi aku tetap menonton mereka sambil menghabiskan snack yang kupegang ini. Kuharap pertunjukkan mereka bisa mengalihkan pikiranku dari kejadian siang tadi.

Seseorang tiba-tiba membuka pintu depan. Aku dengan spontan berdiri untuk melihat siapa. Bayanganku akan Tuan dan Nyonya Min langsung sirna begitu melihat seorang pria seusiaku, memakai baju hitam bergambar tengkorak muncul dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Rambut kecokelatannya ditata melawan gravitasi, memperlihatkan dahinya yang putih bersih seperti kulit tubuhnya. Aku bisa melihat sisi kanan dan kiri rambutnya dipangkas pendek. Ia tersenyum lebar padaku.

“Kupikir kau dokter Jeon. Hampir saja akujantungan.” Dia yang tak lain adalah Yoo Kihyun, langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di seberang sofa yang kududuki. Meraih satu bungkus snack dari atas meja dan mulai memakannya dengan lahap.

“Aku justru berpikir kalau yang datang adalah orangtua Yoongi,” balasku yang juga kembali duduk.

“Wah … BESTie comeback stage!” serunya seraya menyabet remote untuk memperbesar volume. Aku tidak tahu kalau dia adalah penggemar mereka. Dia sangat hafal koreografi ‘Excuse Me’ dan melakukannya jauh lebih baik dari penyanyi aslinya sendiri. Aku hanya bisa tersenyum tipis saat dia melempar pandangan padaku.

Yoongi bergabung bersama kami beberapa menit kemudian. Ada satu sofa lagi yang kosong, tapi dia malah duduk di sebelahku. Ironisnya dia merebut snack yang kupilih. Aku hanya menatapnya tak percaya, lalu membuang pandangan seolah aku tidak melihat apa-apa dan mengambil snack lain. Tapi, baru saja bungkusnya kubuka, dia sudah merebut snack itu lagi. Kali ini aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat apa-apa.

Yaa.”

Ia melirikku. “Apa?”

Sekarang dia pura-pura tidak tahu. “Kau sedang ingin mencari gara-gara denganku?”

“Tidak. Wae?

Aku mengusap leher belakangku yang tiba-tiba terasa berat, lalu menatapnya tajam. “Apa kejadian siang tadi di kantin belum cukup? Kau ingin membuatku benar-benar marah?”

“Kejadian apa?” Kihyun tiba-tiba menyela pembicaraan kami. Bersyukurlah, ucapan Kihyun barusan bisa membuat kemarahanku sedikit reda. Aku menghela napas, tenangkan dirimu, Sena.

“Jadi benar, kau marah,” ujar Yoongi yang langsung mengembalikan kemarahanku yang telah reda tadi.

“Kalau aku marah lalu kenapa? Apa dengan aku marah kau akan merubah sikapmu itu? Aku muak sekali dengan sikap dinginmu di sekolah, Min Yoongi! Kau pikir karena kau bersikap begitu kau akan kelihatan keren?! Kau justru terlihat sangat menyedihkan! Apa salahnya menyapaku di sekolah?! Apa salahnya berbicara baik padaku di sekolah?! Kau selalu mencoba menghindariku, kau tidak pernah sekalipun menganggapku ada, kenapa kau bertingkah seolah aku adalah musuhmu?! Wae?! Apa karena aku sudah tahu kalau ternyata kau ini hanya pengecut yang bersembunyi di balik imej anak nakal?!”

Yoongi tiba-tiba bangkit lalu membanting snack yang masih terisi penuh itu ke lantai. Kihyun bangkit nomor dua, dan yang terakhir aku. Aku dan Yoongi saling berpandangan. Dari sorot matanya aku tahu, dia juga marah. Aku pun tahu kenapa dia marah. Tapi saat ini aku malas untuk peduli. Kesabaranku sudah habis.

“Hei hei, kenapa kalian tiba-tiba seperti ini?” Kihyun buru-buru menghampiri kami lalu menarik Yoongi mundur. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik ‘kan?”

Yoongi menepis tangannya. Mungkin aku juga akan begitu kalau seseorang menahanku dalam kondisi seperti ini.

“Kau.” Aku kembali melihat pada Yoongi yang kini sedang mengarahkan telujuknya padaku. “Tutup mulutmu kalau kau tidak tahu apa pun.” Kihyun langsung menurunkan tangan Yoongi.

Wae? Kenapa aku harus tutup mulut saat aku sudah tahu semuanya?”

Ia menatapku nyalang. “Kau tidak tahu apa pun.”

“Kau salah. Aku tahu semuanya, Min Yoongi. Aku tahu semuanya! Kau bersikap seperti itu di sekolah hanya untuk menarik perhatian orangtuamu, bukan? Kau ingin mereka memperhatikanmu ‘kan? Hah, aku tahu itu.” Aku pun menyeringai. “Tapi itu semua tidak ada hubungannya denganku. Mau kau mengabaikanku seperti apa pun di sekolah, mereka tidak akan melihatmu. Jadi untuk apa kau tetap melakukannya, huh? Hanya aku satu-satunya orang yang tahu soal keluargamu. Tapi kenapa kau tidak memperlakukanku seperti yang lainnya, hm?”

“Aku tidak suka orang lain tahu kalau kau tahu semua itu, Oh Sena.”

Aku menatapnya tak mengerti. “Lalu kenapa kau melihatku sebagai musuh? Mereka tidak akan tahu meski kita berteman.”

Kihyun sepertinya juga berpikiran sama denganku. Dia menatap Yoongi, menunggu jawaban yang keluar dari bibir pria itu.

Tatapannya melunak. Ia menatapku dan Kihyun bergantian, lalu menghela napas. “Sudahlah. Kalian berdua tidak akan mengerti.” Ia pun berbalik, bersiap menuju kamarnya.

Sayang sekali, aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

“Jangan harap kau bisa menghindar, Min Yoongi. Katakan padaku sekarang atau aku….”

Langkahnya terhenti. Menunggu lanjutan kalimatku.

Aku pun menghela napas mantap. “Atau aku akan umumkan pada semua orang kalau kau berbohong soal kematian Minhyuk.”

Author POV

Malam sabtu yang cerah, Sena dan Kihyun memutuskan untuk berbicara empat mata di bangku pekarangan depan rumah Yoongi. Si pemilik rumah sedang tidur di kamarnya, dia bilang hari ini dia lelah sekali maka dari itu dia memutuskan untuk tidur lebih awal. Kentara sekali kalau dia berbohong.

Kihyun menghela napas, lantas menoleh pada Sena. “Jadi … darimana kau tahu soal kematian Minhyuk hyung?”

Sena yang tadi juga duduk mematung, menghela napas. “Aku diberitahu Jungkook.”

“Kau juga kenal Jungkook?”

Gadis itu mengangguk. “Aku bertemu dengannya saat pemakaman Minhyuk. Sebelum dia pindah ke Jepang dia adalah seseorang yang satu kelas denganku di tahun pertama.”

“Ah, ternyata begitu. Lalu, sejauh apa kau tahu soal kematiannya? Apa mungkin, kau lebih tahu soal itu daripada aku?”

“Mungkin,” jawab Sena sedikit tak yakin. “Yang bisa kusimpulkan dari cerita Jungkook, Minhyuk mati bukan karena Yoongi. Semacam, kecelakaan? Aku juga tidak yakin.”

“Aku juga awalnya berpikir kalau itu adalah kecelakaan.”

Mendengar kalimat itu, Sena langsung menoleh. “Kau juga berpikiran begitu?”

Kihyun mengangguk. “Aku tidak bisa memercayai orang-orang yang mengatakan kalau itu semua karena Yoongi. Faktanya, di tempat kejadian tidak ada siapa pun selain Yoongi, Minhyuk dan si pembunuh. Lagi pula untuk apa Yoongi membunuh kakaknya sendiri? Aku tidak mengerti kenapa orang-orang memercayai kabar itu termasuk Min seonsaengnim.”

Sena menghela napas. “Yoongi bahkan harus rela menginap dua minggu penuh di penjara atas hal yang tidak diperbuatnya. Dia pasti merasa telah diperlakukan tidak adil.”

Dan keheningan pun menyapa mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sena mendongak, memandang langit yang bak permadani hitam. Dia hanya bisa melakukan ini saat sedang berada di rumah Yoongi. Karena rumahnya tidak punya pekarangan depan. Kihyun mengikutinya tak lama kemudian.

“Hitam sekali langitnya.”

“Eum.”

“Ngomong-ngomong soal hitam, pria yang waktu itu tidak muncul lagi ‘kan di halte?” tanya Kihyun seraya menolehkan kepalanya pada Sena.

“Aku sudah tidak melihatnya lagi beberapa hari ini.”

“Hm, baguslah.” Kepala pria itu kembali mendongak. “Kau harus hati-hati dengannya, aku punya feeling yang tidak bagus.”

Sena pun merasakan hal yang sama.

Paginya Sena terlambat datang ke rumah Yoongi. Dia yang biasanya bangun sebelum pukul 5, hari ini terlambat 45 menit sehingga dia baru datang ke rumah Yoongi pukul 7 kurang 5 menit. Kihyun sudah bangun sejak tadi, dia baru saja selesai mandi saat membukakan pintu gerbang untuknya. Pria itu tampak sangat keren pagi ini. Dia tersenyum lebar seperti biasa, memimpin Sena untuk masuk ke rumah Yoongi.

“Dia sudah bangun?” tanya gadis itu saat dia melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah.

“Eum. Tapi sepertinya dia tidur lagi. Orang itu tsk, dia sulit sekali dibangunkan. Bagaimana caramu membangunkannya setiap pagi huh?”

Sena tertawa ringan. Dia menemukan Yoongi yang sedang tidur lelap di sofa paling panjang. Bahkan sebelum Kihyun datang kemari pun, Yoongi sering begitu saat dia datang. Pria itu benar-benar sulit sekali dibangunkan. Kalau toh berhasil, itu pun dia akan kembali tidur lagi.

Ia pergi ke ruang makan untuk mengeluarkan semua makanan yang dibawanya. Sementara Kihyun sudah masuk ke kamar Yoongi entah sedang apa. Yoongi belum bangun, jadi Sena menyiapkan semuanya sendiri. Begitu semua sudah tertata dengan baik, Yoongi pun datang dengan rambut berantakan. Pria itu duduk di kursinya.

“Maaf kemarin aku tidak pamit padamu,” ucap Sena yang juga ikut duduk.

Yoongi meliriknya sekilas. “Kihyun sudah memberitahuku.”

Dan … hening. Sena pun segera meraih mangkuk nasinya lalu memasukkanya sedikit ke dalam mulut. Dia makan dengan sedikit kaku. Yoongi terus menatapnya. Dan mendadak dia tersedak begitu mendengar ucapan Yoongi yang terkesan tiba-tiba.

“Kau tahu dari mana soal Minhyuk hyung?”

Dia buru-buru meraih gelas airnya lalu menghabiskannya hingga tersisa seperempat. Kemudian dipandangnya Yoongi yang masih setia menatapnya.

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya?”

“Bukannya wajar kalau aku ingin tahu? Masalahnya tidak sembarang orang tahu soal kebenaran berita itu.”

Sena pun menyeka ujung bibirnya. Lalu memasukkan kembali nasi ke dalam mulut. “Kau tidak perlu tahu.”

“Apa kau mendengarnya dari Jungkook?”

Lagi-lagi dia tersedak. Kemudian menghabiskan air minumnya dengan cepat. “Sudahlah, tidak usah menyinggung soal itu lagi sekarang.”

“Sudah kuduga. Pantas dia tiba-tiba pergi ke Jepang. Rupanya dia kabur setelah membocorkan rahasia itu padamu.”

“Itu tidak benar!”

Eommaya.” Kihyun terhenti di batas antara ruang makan dengan ruang tengah saat mendengar teriakan Sena. Tangan kanannya memegang dada kirinya. “Ada apa ini? Kalian ribut lagi?”

Sena menghela napas. Kemudian memasukkan sesumpit penuh nasi ke mulutnya. Mengunyahnya sambil bersungut-sungut.

Kihyun mendekat lantas duduk dihadapan Sena. Yoongi mengamatinya sejenak. “Kacamatamu menggelikan sekali.”

“Aku adalah anak baik, ingat?” balasnya sambil tersenyum miring. Yoongi tersenyum kecut. “Dan aku adalah anak nakal, mengerti?”

 

TBC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s