Stereotype #4

minhyuk

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3

Sena POV

Aku melihat Soomi melambai begitu aku turun dari mobil Kihyun. Tidak biasa-biasanya, dia menunggu bersama Kim Taehyung. Aku balas tersenyum padanya, lalu menghampirinya tanpa memedulikan Kihyun ataupun Yoongi.

“Kupikir yang keluar dari mobil itu bukan kau. Kenapa kau bersamanya hayo? Kenapa kau tidak cerita padaku kalau sekarang sudah punya pacar.”

Kupukul pelan lengan kakakku. “Pacar apanya. Itu Kihyun, temannya Yoongi.”

Dan ekspresi Soomi makin menyebalkan di mataku. “Aaaah … jadi sekarang kau dan Yoongi sudah berbaikan?”

Satu hal yang harus kalian tahu, aku tidak pernah sekalipun cerita pada Soomi kalau aku cukup dekat dengan Yoongi. Dia hanya tahu kalau hubunganku dengan Yoongi tidak baik, seperti persepsi orang lain.

Aku menggendikkan bahu lalu membuang pandangan pada ‘makhluk’ tinggi di samping kakakku. “Kau sedang apa di sini?”

Dia yang semula menatap lurus pada sesuatu di belakangku, langsung menggulirkan mata padaku. Seperti biasa, ekspresinya datar dibuat-buat. “Jangan mengira kalau aku di sini karena kakakmu. Aku menunggumu, ketua kelas.”

Taehyung selalu saja seperti itu. Apa dia sadar kalau dia sudah mengucapkan kebenaran sebelum kebohongannya? Tsk tsk tsk, dia benar-benar buruk dalam berdalih.

Tapi pandangannya kembali tertuju ke belakangku. “Itu teman Yoongi?”

Aku menoleh ke belakang sekilas. Tepat saat itu mereka berdua saling berjabat tangan ala lelaki sebelum berpisah –Yoongi menghampiri kami sementara Kihyun pergi ke arah lain. “Ya, mereka teman.”

Langkah kaki terdengar berhenti beberapa langkah di belakangku. Aku tidak perlu menoleh karena aku tahu itu siapa.

“Hei, kenapa kau di sana? Ayo masuk.”

“Kau berhutang penjelasan padaku, Yoongi-a,” ujar Taehyung sambil melangkah melewatiku. “Kau bilang kau tidak punya teman, lalu siapa orang yang tertawa bersamamu tadi? Pembohong.”

Suara Taehyung makin terdengar samar seiring kepergian mereka. Soomi pun menggaet lenganku, lalu dengan senyum cerianya menarikku untuk mengikuti mereka berdua. Ia berbisik di telingaku.

“Taehyung mengajakku pergi ke bioskop besok siang.”

Aku tersenyum geli, lalu berbisik padanya. “Semoga dia tidak mengajakmu menonton One Piece.”

Soomi memukul lenganku sambil cemberut. Aku pun tertawa, dan merangkulnya untuk berjalan lebih cepat.

Karena hari sabtu, sekolah dibubarkan lebih awal dari hari biasanya. Pukul 4, aku sudah berada di dalam bus perjalanan ke rumah. Aku tidak bertemu Kihyun sama sekali saat di halte tadi. Mungkin dia sudah dijemput lebih awal atau dia masih belum pulang karena ekstrakulikuler. Kabar lainnya, hari ini Yoongi tidak pulang dijemput sopir pribadinya seperti biasa. Tapi juga naik bus. Satu bus denganku. Dan sekarang, dia duduk tepat di depanku.

Kursi yang kududuki setingkat lebih tinggi dari kursi yang diduduki Yoongi. Dengan begini aku bisa melihat puncak kepala Yoongi dengan jelas dan apa yang sedang dilakukannya. Tangannya sedang menggenggam ponsel, sedangkan ponsel itu terhubung dengan sebuah earphone berwarna hitam yang kini mengait di kedua telinganya. Aku tidak tahu apa yang sedang didengarnya. Yang kutahu, posisinya sama sekali tidak berubah sejak beberapa menit lalu. Tidak. Dia tidak sedang tidur. Aku bisa lihat dari pantulan kaca bus kalau matanya terbuka penuh. Sepertinya dia sedang melamunkan sesuatu.

Hari ini, Yoongi bertingkah lagi di kelas. Dia dengan santainya menyalakan lagu rock keras-keras tepat saat kelas sedang melaksanakan ulangan harian bahasa Inggris. Ironisnya lagu itu adalah lagu dari band Nirvana, yang berjudul Smells Like Teen Spirit. Saat Yoongi ditegur oleh Mrs. Yoon, dia dengan santai menjawab, “Apa salahnya aku memainkan lagu ini? bukankah sekarang waktunya Bahasa Inggris? Bukankah dengan lagu justru akan makin meningkatkan kemampuan berbahasa?”. Dan karena jawaban yang terkesan menyebalkan itulah, Yoongi pun dihukum untuk berlari di lapangan sebanyak 20 kali dan diberi nilai 0 untuk ulangan harian bahasa Inggrisnya.

Hukuman yang seperti itu bukanlah sesuatu yang berat untuknya. Dia sudah terbiasa diberi hukuman yang lebih berat dari itu. Berlari mengelilingi lapangan berpuluh-puluh kali, membersihkan toilet di semua lantai, berdiri di bawah terik matahari selama berjam-jam, semua itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan pukulan rotan Min seonsaengnim. Bahkan tidak jarang wajahnya dipukul begitu saja oleh Min seonsaengnim. Aku benar-benar tidak mengerti pada jalan pikir Min seonsaengnim. Pada anak sendiri, kenapa seperti itu? Dulu sebelum Minhyuk masih hidup Min seonsaengnim tidak pernah memukul seorang murid apalagi Yoongi, meskipun murid itu suka sekali bertingkah. Tapi setelah kematian Minhyuk, Min seonsaengnim berubah total. Imejnya yang dulu terkenal tegas dan berwibawa, sekarang justru dikenal sebagai guru yang paling kejam. Bahkan saat di rumah, beliau tetap tampak mengerikan seperti di sekolah. Min seonsaengnim dan Yoongi tidak pernah sekalipun berbicara saat di rumah.

Pikiranku kembali ke dunia nyata setelah bus berhenti di halte kompleks rumahku. Kulihat Yoongi beranjak dari duduknya. Aku pun mengikuti di belakangnya. Dia terus berjalan ke depan seperti tidak tahu keberadaanku. Dan aku tetap berjalan di belakangnya, menatap punggungnya, seolah aku sedang berusaha membuat lubang di punggungnya itu.

Pagar rumahku sudah tampak beberapa meter di depan. Sedikit kecewa. Yoongi sama sekali tidak menoleh. Apa dia sungguhan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? ini sedikit aneh memang, kenapa juga aku harus kecewa?

Tepat dua rumah sebelum rumahku, Yoongi tiba-tiba berhenti. Aku pun ikut berhenti. Menunggu pergerakan selanjutnya.

“Nanti malam Kihyun tidak datang ke rumah.”

Mungkin sekarang dahiku berkerut. “Kenapa kau memberitahuku?”

Dia pun berbalik. Tampak sekali kalau earphone-nya masih menggantung di telinganya. Apa mungkin dia tidak benar-benar mendengarkan musik?

“Datanglah ke rumah nanti malam.”

“Tanpa kau suruh pun aku akan selalu datang setiap malam.”

“Tidak, maksudku datanglah, aku mengundangmu.”

“Maksudnya?”

Dia mengangkat tangan kanannya untuk melindungi matanya dari sinar matahari sore. “Temani aku di rumah. Aku sendirian.”

Ini membuatku lebih tidak mengerti lagi. Kenapa mendadak dia mengundangku datang ke rumahnya? Hanya karena dia sendirian? Bukankah dia selalu sendirian setiap hari di sana?

“Mintalah izin dulu pada eommeonim.”

Itu kalimat terakhirnya sebelum beranjak mendahuluiku. Eommeonim yang dia maksud adalah ibuku, ya, dia memanggil ibuku dengan sebutan seperti itu sejak dulu. Dia tidak seperti Minhyuk yang memanggil eomma dengan sebutan imo. Ah … Minhyuk. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat padanya.

Meminta izin eomma untuk bermalam di rumah Yoongi ternyata tidaklah sulit. Mungkin eomma sudah sangat mempercayainya sehingga beliau tidak harus punya kekhawatiran berlebih soal anak perempuannya yang dibiarkan berdua saja bersama dan di rumah pria muda lajang. Dan sekarang, dengan berpakaian cukup tebal, aku duduk di meja makan menunggu eomma selesai menyiapkan makan malam untuk Yoongi.

Dan aku teringat Minhyuk.

Min Minhyuk adalah kakak kandung Yoongi. Mereka hanya berbeda dua tahun dan dia adalah siswa senior saat aku dan Yoongi menjadi murid baru di sana. Aku tidak benar-benar mengenal Yoongi waktu itu, tapi aku sangat mengenal Minhyuk. Kalau ditanya apakah kami dekat, sebenarnya tidak juga. Aku hanya mengenal Minhyuk oppa jauh lebih dekat daripada Yoongi.

Minhyuk adalah siswa senior yang cukup terkenal di SMA. Dia berwajah tampan, sifatnya ceria dan mudah bergaul dengan siapa pun. Berkebalikan sekali dengan Yoongi yang sangat tertutup. Saat aku masuk sebagai siswa baru, dia adalah president school. Dialah yang memberi orientasi pada siswa-siswa baru. Mungkin kalau kau tanyakan siapa itu Minhyuk pada semua siswa seangkatanku, pasti sebagian dari mereka akan menjawab “dia adalah oppa/hyung yang keren”. Ya, kuakui juga dia sangat keren. Sudah tampan, dia juga cerdas dan baik. Pokoknya kebanggaan sekali memiliki sosok Min Minhyuk di sekolah itu.

Kalian tahu lah, jika seorang pria menjadi populer di suatu komunitas, maka dia akan menarik banyak perhatian orang. Ada saja gadis-gadis yang memberinya bingkisan, seolah Minhyuk berulang tahun setiap hari. Entah itu cokelat, bunga, boneka, kue bahkan ada yang memberinya kaus kaki. Konyol memang. Tapi semua itu berimbas. Hampir separuh siswa pria di sekolah ini tidak menyukainya. Itu tidak aneh. Minhyuk terlalu menonjol sampai-sampai dia mampu menyihir gadis manapun untuk hanya menatapnya.

Aku tidak tahu apa alasan pastinya, tiba-tiba saja Minhyuk dikeroyok banyak orang. Orang-orang itu adalah siswa dari sekolah ini, dari yang kutahu, mereka juga siswa senior sama seperti Minhyuk. Aku yang tak sengaja melihatnya ngeri sendiri. Tanpa pikir panjang aku langsung berteriak. Teriakanku membuat orang-orang itu berhenti untuk melihatku, lalu tak lama kemudian dua orang penjaga sekolah datang dan langsung membubarkan mereka.

Aku segera menghampiri Minhyuk yang terkapar di jalan. Dia masih sadar, namun tidak baik-baik saja. Wajahnya yang biasanya putih mulus sekarang tampak ramai dengan warna warni memar. Aku pun langsung memapahnya, membawanya ke ruang kesehatan.

Di hari itu, tanpa kusadari kami menjadi dekat begitu saja. Dia meski kesakitan tetap saja menyempatkan diri untuk tertawa. Aku tidak tahu apa yang ditertawakan. Kurasa saat itu aku sedang tidak melucu.

“Harusnya kau tadi tidak perlu berteriak.”

Aku menatapnya tak mengerti. Kemudian dia melanjutkan, “mereka akan mengincarmu karena kau telah mengganggu kesenangan mereka.”

Aku mulai ketakutan sejak hari itu. Bagaimana kalau yang dikatakan Minhyuk benar? Bagaimana kalau mereka mengincarku dan menghajarku seperti yang mereka lakukan pada Minhyuk? Semua pikiran-pikiran it uterus berputar di kepalaku semenjak hari itu. Dan makin diperparah lagi oleh Minhyuk yang mendadak selalu muncul dimana pun aku berada.

Dia sudah seperti petugas keamanan. Kapanpun itu dia selalu menyempatkan diri menemuiku. Bertanya “apakah kau baik-baik saja?” “kau tidak mendapat ancaman apa pun ‘kan?” sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menghela napas lega.

Tapi sebenarnya, ketakutan itu tidak terjadi. Mereka sama sekali tidak mencariku. Mungkin karena mereka tahu aku adalah perempuan jadi mereka enggan berurusan denganku. Toh urusan mereka adalah dengan Minhyuk, aku bukanlah orang yang terlibat masalah dengan mereka.

Dan beberapa minggu sejak pengeroyokan itu, tepat sebelum ujian semester ganjil, kabar kematian Minhyuk tiba-tiba terdengar. Tentu saja aku terkejut. Aku baru bertemu dengannya, baru berbicara padanya, dan tiba-tiba dia sudah dinyatakan meninggal dunia hari itu. Aku sempat tidak percaya. Aku datang ke upacara kematiannya, dan benar, aku menemukan fotonya tertera di sana, sementara ibunya menangis di pelukan ayahnya. Hari itu aku melihat Yoongi yang duduk di sisi lain peti mati Minhyuk. Kepalanya tertunduk dalam, tapi dia tidak menangis. Kulihat, lengan kirinya dibalut gips. Dan di sampingnya, ada Jungkook yang menemaninya.

Hari itu aku ingin sekali menghampirinya untuk bertanya tentang sebab kenapa Minhyuk bisa meninggal dunia, tapi kuurungkan. Aku sempat bertemu tatap dengan Jungkook. Ia tersenyum padaku dan memberiku kode untuk menunggunya di luar. Dan setelah upacara kematian selesai, Jungkook pun menemuiku dan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Jungkook mendapatkan semua itu dari Yoongi, dan dia ingin aku mendengarkan rahasia ini karena dia akan pindah ke Jepang setelah ujian semester ganjil selesai. Ada satu kalimatnya yang masih kuingat sampai sekarang.

“Tolong jaga Min Yoongi.”

“Sena-ya.” Pikiranku pun kembali ke dunia nyata saat mendengar eomma tiba-tiba memanggil. Eomma berdiri di depanku dengan dahi berkerut sambil mendorong rantang makanan kehadapanku.

“Kau melamun?”

Aku menggeleng dan lekas bangkit. “Ini sudah selesai?”

Eomma mengangguk. “Besok pagi datanglah ke sini untuk ambil sarapan.”

Aku balas mengangguk. “Kalau begitu aku berangkat dulu.”

“Ya, hati-hati. Jangan lakukan hal yang tidak-tidak saat di sana.”

“Ya.”

Yoongi mengulurkan stik PS padaku setelah kami selesai makan malam. Aku meraihnya tanpa banyak bicara dan duduk di sampingnya.

Game apa yang ingin kau mainkan?”

“Apa saja asalkan jangan sepak bola dan action.” Aku benar-benar buruk dalam permainan itu. Dulu saat aku masih sekolah dasar aku sering sekali bermain PS dengan adikku. Adikku lah yang mendapat PS itu, sedangkan aku hanya ‘numpang’ bermain. Game yang kubisa hanyalah racing dan Harvest Moon. Aku benar-benar buruk dalam permainan action karena aku selalu kalah cepat.

Yoongi pun memilih permainan racing. Kami memilih mobil favorit kami lalu mulai bermain. Yoongi sepertinya juga cukup ahli. Dalam beberapa kesempatan dia selalu memimpin. Aku cukup kewalahan menghadapi rute-nya yang membingungkan. Ah … dan akhirnya aku kalah.

Tapi aku tidak menyerah dan mengajaknya untuk bermain game itu lagi. Kali ini aku memilih mobil lain tapi dengan rute yang sama. Aku memimpin. Sayangnya, mobilku menabrak pembatas jalan dan Yoongi pun keluar sebagai pemenang lagi.

“Ah sudahlah. Aku lelah.”

Aku pun beranjak dan membanting tubuh ke sofa. Bermain game ternyata menguras tenaga.

“Nanti kau tidur saja di kamarku.”

Aku pun mengangkat kepala, menatap punggungnya yang masih menghadap TV. “Lalu kau?”

“Gampang. Aku bisa di kamar hyung.”

Hyung. Pasti Minhyuk. Kepalaku pun kembali rebahan.

“Kau tidak masalah di kamar oppa?”

“Kenapa?”

Ya. Kenapa? Kenapa aku bertanya segala. Ah, bagaimana aku harus menjawabnya.

“Tidak apa-apa. Lupakan. Kenapa Kihyun tidak datang?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau temannya, bagaimana bisa kau tidak tahu?”

“Memang aku harus tahu segalanya hanya karena kami berteman?”

Lagi-lagi skakmat. Aku mendengus, lantas membalik tubuhku ke kanan. Menatap punggungnya.

“Lalu kenapa kau menyuruhku menginap?”

“Kau tidak mau?”

Aku mendengus. “Kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.”

“Kalau kau tidak mau, kau bisa pulang sekarang.”

Orang ini. “Yaa!”

Ia pun menoleh, tertawa tanpa dosa. “Maaf, aku hanya bercanda.”

“Bercandamu sama sekali tidak lucu. Ah sudahlah, aku mengantuk. Kau menyuruhku tidur di kamarmu ‘kan? Akan kukunci, awas saja kalau kau berani-berani masuk.” Aku pun turun dan bergegas menuju kamarnya. Pintu kamarnya sedikit terbuka, kelihatan sekali kalau lampu kamarnya dipadamkan.

“Hei, bilang pada eommeonim kalau besok jangan buatkan sarapan.”

Aku pun reflek berbalik. “Lalu?”

“Besok kita sarapan diluar.”

“Oke. Asalkan itu uangmu.”

“Gampang.”

BLAM. Kunyalakan lampu. Kamarnya ternyata cukup terang, tidak seperti kamarku yang sedikit redup karena aku paling tidak suka tidur dalam keadaan lampu yang terlalu terang. Aku pun berjalan mendekati meja belajarnya. Sebuah foto di sana sangat menarik perhatianku. Aku duduk, meraih pigura berdiri itu.

Ini adalah foto Yoongi dengan Minhyuk. Hm, Yoongi pasti sering memikirkannya. Tidak mungkin dia tidak memikirkan kakaknya kalau foto ini selalu ada di sini. Aku tidak yakin, foto ini kemungkinan diambil sebelum mereka masuk SMA. Ini sejenis foto selca, jadi kemungkinan kalau mereka berfoto untuk merayakan sesuatu bisa jadi salah. Di foto ini mereka sama-sama berkeringat. Ditimpa sinar matahari –yang aku tidak yakin apakah ini pagi, siang atau sore-, rambut basah mereka tampak begitu kontras dengan warna kulit mereka yang seputih susu. Minhyuk tampan sekali di sini. Tapi, anehnya aku justru hanya melihat Yoongi.

Dia tersenyum sangat lebar.

Ujung bibirku nyaris terangkat ketika ponsel di rokku tiba-tiba bergetar. Segera kuraih benda itu, dan melihat siapa yang mengirim pesan.

Taehyung?

Hei, ketua kelas, kau tahu apa film favorit si hidung besar itu?

Dahiku berkerut. Kenapa dia justru bertanya padaku?

Tanyakan sendiri saja pada Soomi

Aku akan memasukkan ponsel itu kembali ke saku tapi pesan Taehyung datang dengan cepat. Astaga, secepat apa dia mengetik pesan?

Apa dia suka One Piece?

Sudah kuduga, pasti Taehyung berencana mengajak Soomi menonton One Piece. Tsk, namanya juga pria.

Daripada One Piece, dia lebih suka Open Season

Open Season? Apa itu?

Bodoh. Apa kau tidak pernah menonton itu? Carilah sendiri di Naver

Galak sekali. Ya sudah. Terima kasih

Aku tidak perlu menjawabnya. Karena calon teman kencannya besok mendadak mengirim pesan juga padaku. Hish, sekarang apa lagi?

Aaargh!! Aku bingung harus memakai baju apa besok! T^T Bantu aku.

Aku sedang tidak di rumah

Eh? Lalu di mana kau sekarang? Apa jangan-jangan … kau juga kencan ya? #evilsmile

Kencan? Yang benar saja.

Tidak. Aku sedang menginap di rumah teman.

Teman? Teman siapa?

Mampus. Aku lupa kalau Soomi tidak tahu menahu soal aku dan Yoongi yang bertetangga. Aish. Konyol. Aku tidak punya teman dekat lain selain Soomi, dan sekarang aku tiba-tiba saja bilang kalau aku menginap di rumah teman. Astaga, ternyata aku jauh lebih bodoh dari Kim Taehyung.

Tidak. Bukan siapa-siapa. Lupakan.

No. No. No. Jelaskan padaku Sena. Kau sudah membuatku penasaran jadi kau harus bertanggung jawab. Cepat katakan padaku siapa temanmu.

Aish. Dia mirip sekali seperti Taehyung yang cemburu melihat Yoongi dan Kihyun pagi tadi. Sepertinya dua manusia ini ditakdirkan untuk bersama.

Di sisi lain, aku berpikir keras untuk menyebutkan sebuah nama. Dan nama itu sepertinya akan kusesali setelah terkirim pada Soomi.

Kihyun.

 

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s