Stereotype #5

minhyuk2

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3 #4

Terbiasa bangun pukul lima, hari itu aku juga bangun pukul lima. Suasana rumah Yoongi lengang sekali tidak seperti suasana di rumahku. Biasanya eomma akan sibuk sendiri dengan kegiatan memasaknya di dapur, adikku yang sudah asyik dengan game online-nya dan appa yang sudah booking kamar mandi. Aku berjalan keluar dari kamar. Tidak kudapati Yoongi di ruang tengah. Sepertinya dia serius soal tidur di kamar Minhyuk.

Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menyikat gigi. Setelah itu membangunkan Yoongi. Kuketuk pintu berkali-kali tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam. Aku pun memutar gagang pintu dan … terbuka. Dia tidak mengunci pintunya ternyata. Kubuka sedikit pintu itu dan menjulurkan kepala ke dalam. Kamar Minhyuk ternyata sangat bersih dan teratur, sepertinya memang sengaja dibersihkan setiap hari atau memang tidak pernah digunakan sama sekali. Mengedarkan pandangan sejenak, akhirnya kudapati seseorang yang kucari. Dia tidur seperti embrio di ranjang, dibalut dengan selimut yang nyaris menenggelamkan tubuh mungilnya.

“Hei, bangun.”

Tapi dia sama sekali tidak bergerak. Aku pun tidak menyerah.

“Min Yoongi! Ireona!”

Dia bergerak sedikit, tapi hanya mengubah posisi tidur saja. Hish.

YAA!! Kubilang bangun!”

Dan akhirnya berhasil. Dia mengangkat kepalanya untuk melihatku, lalu melambai seperti menyuruhku untuk keluar.

Ini masih terlalu pagi untuk keluar dan mencari sarapan. Café dan restoran yang menyediakan sarapan biasanya baru buka pukul 7. Sementara di rumah Yoongi tidak ada apa pun untuk dimakan. Sepertinya dia memang niat sekali untuk menggantungkan sarapan dan makan malam pada eomma. Dia hanya menyediakan banyak makanan dan minuman ringan, yang itu sama sekali tidak akan baik untuk kesehatan.

Yoongi keluar dari kamar Minhyuk 10 menit kemudian. Dia membanting tubuhnya di sofa panjang ruang tengah dan kembali tidur. Aku yang duduk di sofa seberangnya tidak berniat mengatakan apa pun. Memaksanya untuk tetap bangun sepertinya bukan keputusan yang benar. Rumah ini benar-benar tidak menyenangkan. Bagaimana bisa Yoongi betah sendirian di sini setiap harinya?

30 menit hanya kuhabiskan untuk duduk mematung seperti orang bodoh sambil menonton orang tidur. Sekarang sudah nyaris pukul 6. Aku menghela napas, membaringkan setengah tubuhku di sofa. Huft, kenapa waktu berjalan lambat sekali di sini? Enaknya aku melakukan apa selagi Yoongi tidur?

Menit selanjutnya aku sudah berada di depan pintu kamar Minhyuk. Ya, aku penasaran sekali dengan Minhyuk dan aku ingin melihat kamarnya untuk mencari-cari jawaban akan rasa penasaranku. Tapi aku ragu. Kuputar kepalaku ke belakang, Yoongi masih tidur. Lalu aku menatap gagang pintu itu lagi. Menelan ludah dan cklek. Aku berhasil membuka pintu itu. Kemudian tanpa pikir panjang aku segera masuk ke dalamnya.

Sudah hampir setahun sejak kematian Minhyuk, ini adalah pertama kalinya aku mencium aroma pria itu lagi. Aku berdiri di pintu beberapa saat. Mengedarkan pandangan, memperhatikan banyak sekali pigura di dinding yang menampilkan foto si pemilik kamar. Di sisi kananku, ada sebuah lemari besar dengan pintu yang transparan. Lemari itu penuh sekali dengan berbagai piala dan trophy. Ada satu piala yang paling besar, dan di bawahnya tertulis kalau itu adalah piala olimpiade tingkat internasional. Olimpiade Kimia, dan Minhyuk mendapat gelar juara 1. Dari tahunnya, aku tahu kalau itu didapatnya saat dia masih duduk di kelas 2 SMA. Dia memang sangat berbakat di bidang Kimia. Pernah dia datang ke kelasku untuk menggantikan guru Kimia yang saat itu absen. Dan serius, dia benar-benar cerdas.

Aku pun berpindah ke meja belajarnya. Meja itu sangat menarik perhatianku, khususnya pada dinding dihadapannya yang penuh sekali dengan sticky note. Aku menarik kursi dan duduk. Semua sticky note itu dipasang dengan tidak beraturan. Banyak yang tenggelam karena ditimpa oleh sticky note lain. Kucondongkan badanku ke depan untuk membaca tulisan-tulisan di sana dengan lebih jelas.

7/3/14: rencana untuk semester ini => meraih nilai akademik setinggi-tingginya, fokus belajar, berhenti bermain game, berhenti melakukan hal yang tidak berguna

10/3/14: tugas bahasa Inggris halaman 15 & membuat naskah drama bertema Dinasti Joseon, durasi minimal 20 menit

12/3/14: tugas merancang eksperimen larutan elektrolit & nonelektrolit

14/3/14: besok wajib membawa raket untuk penilaian bulu tangkis

Hampir semuanya hanya berisi tentang tugas dan sekolah. Tidak ada yang menarik. Lalu kuputuskan untuk melihat-lihat tumpukan bukunya. Semua ditata dengan sangat teratur, dan seperti tidak pernah tersentuh. Aku membuka-buka buku tulis yang ada seperti seorang stalker professional. Buku bersampul hijau kebanyakan berisi materi Kimia. Sepertinya dia benar-benar menyukai Kimia. Lalu buku dengan warna cerah lain juga berisi tentang materi pelajaran. Sementara buku tulis paling bawah yang berwarna merah –satu-satunya yang berwarna merah-, tidak tertulis namanya sama sekali di sampul depan. Dengan penasaran yang tinggi aku pun mengambilnya dan membukanya.

OMO!

Buku itu terlempar begitu saja. Jantungku berdegub kencang. Kutelan ludahku susah payah. Mendadak bulu kudukku menegang.

Barusan itu, di halaman pertama, aku menemukan lima tetes darah yang sudah mengering. Sebagai orang yang fobia dengan darah, aku terkejut setengah mati melihatnya. Bagaimana bisa ada darah di sana?

Aku pun memungut buku itu –yang terjatuh di dekat kaki meja- lalu membuka halaman kedua. Lima tetes darah itu masih ada. Lalu kubuka halaman selanjutnya sampai halaman ke 18. Darah masih terlihat. Di koordinat yang sama, kemungkinan besar darah itu meresap. Aku menelan ludah lagi dan kembali ke halaman kedua. Di sanalah tulisannya dimulai. Tulisan yang sangat tidak rapi tidak seperti yang terdapat di buku lain atau sticky note.

11/5/12

Sekarang sudah nyaris pukul 3 pagi. Apakah ini masih bisa disebut tanggal 11? Entahlah. Rasanya aku hampir gila karena pelajaran-pelajaran menyebalkan itu. Kenapa aku harus diterima di sekolah ini? Kenapa mereka tidak menolakku saja? ARGH! KEPALAKU PUSING.

Hari ini aku harus terlihat sangat baik di depan semua orang. Ah tidak, bukan hari ini saja, tapi SETIAP HARI. Aku adalah anak Min Ji Sung! Aku harus tampak lebih baik dari siapa pun di dunia ini. Itu bukan aku yang mau, tapi Min seonsaengnim.

Masih banyak tugas yang belum kuselesaikan dan aku justru menulis hal yang tidak penting di buku ini. Aku gila? Tentu saja. mungkin aku baru akan tidur pukul 6 nanti dan terbangun pukul 7.

Aku gila ‘kan?

 

15/5/12

Aku mendapat banyak sekali surat cinta hari ini. Mereka memenuhi lokerku. Seseorang meletakkan kue di dalam lokerku dan krimnya mengenai seragam olahragaku. Tahu tidak, aku tersenyum, haha. Yang benar saja, seragam olahragaku dikotori oleh makanan itu dan aku hanya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Sepertinya aku memang sudah benar-benar gila. Harusnya aku marah bukan? Tapi yang ada aku justru tersenyum.

Setelah kucari tahu, orang yang ternyata menyimpan kue itu di lokerku adalah Sewon. Cih, gadis itu lagi. Minggu kemarin dia sudah dengan seenaknya menyiram seragamku dengan cola sambil terjatuh dengan sok anggun, lalu minggu ini seragam olahragaku dikotori oleh kue buatannya. Aku memakannya? Tidak. Kuberikan itu pada Jooheon dan dia dengan senang hati menerimanya. Tapi ekspresi senangnya berubah setelah merasakan kue itu. Ya, aku sudah tahu kalau ternyata kue itu sama sekali tidak enak. Buruk seperti orang yang membuatnya.

Selain soal surat cinta dan kue, hari ini aku mendapatkan nilai tertinggi dalam bidang Kimia. Itu bidang yang sangat kukuasai ngomong-ngomong. Bukan berarti aku suka, aku hanya … tertarik dengan semua eksperimennya. Kalian tahu? Cita-citaku adalah membuat larutan yang sangat mematikan. Yang mana larutan itu akan membuat seseorang yang meminumnya akan tersiksa seumur hidup sebelum akhirnya mati. Kkkk, aku ingin larutan itu menjadi kado ulangtahunku saat usiaku 20 nanti. Gila ‘kan? Aku ingin membuat larutan yang menyiksa orang, dan orang yang akan meminum larutan itu adalah aku sendiri. Ya, aku rasa aku memang sudah sangat gila. Semoga cita-citaku itu bisa tercapai.

 

17/5/12

Tadi pagi tiba-tiba seorang gadis dari kelas 1-8 menghadangku. Aku tidak begitu terkejut sebenarnya, tapi aku berusaha tampak terkejut. Dia tersenyum padaku dengan kedua tangan yang disembunyikannya di belakang tubuh. Kalian mengerti maksudku? Ya, karena setelah itu dia menunjukkan sesuatu yang disembunyikannya itu. Mawar merah. Romantis sekali ‘kan? Tapi sayang, di mataku itu sangat murahan.

Dia tanpa tahu malu –meskipun sudah ditonton banyak orang- langsung berteriak kalau dia ingin aku menjadi kekasihnya. Aku tersenyum dan tanpa sengaja bertemu tatap dengan Chae Hyungwon. Kau tahu siapa itu? Dia tak lain tak bukan adalah pria yang menyukai gadis dari kelas 1-8 itu. Kalau aku tidak salah, gadis itu bernama Jaekyung. Nama yang jelek sekali. Sejelek orangnya, kkk.

Aku tahu bagaimana perasaan Hyungwon kalau dilihat dari sorot matanya. Dia kecewa. Itu sudah pasti. Justru akan terlihat aneh kalau dia tidak kecewa melihat gadis pujaannya menyukai orang lain. Karena aku bukan pria yang suka merebut kesukaan orang, maka aku menolak Jaekyung.

Tapi aneh.

Hyungwon justru menatapku dengan marah.

Wae? Apa yang barusan kulakukan itu salah?

Hm, ini sungguh bukan seperti yang kuinginkan. Harusnya, Hyungwon senang ‘kan? Dengan begitu Jaekhyung akan melihatnya dan mereka akan berpacaran. Tapi kenapa reaksinya justru seperti itu?

Tsk, semua yang kulakukan memang tidak ada yang benar. Harusnya kuterima saja si jelek itu dan pura-pura mengencaninya. Kenapa juga aku memikirkan perasaan Hyungwon? Orang itu sama sekali tidak tahu apa itu ‘terima kasih’.

 

Aku menghela napas. Baru tiga halaman yang kubaca dan aku sudah lelah sendiri. Kesimpulan yang kudapat dari tulisan ini, Minhyuk benar-benar berbeda. Apa yang diperlihatkannya diluar dengan apa yang ada di dalam, bisa dibilang sangat berkebalikan. Dia seperti hidup di dalam tubuh orang lain.

Sebentar.

Bukankah Yoongi juga seperti ini?

“Sedang apa kau di sini?”

Mendengar suara yang familiar itu, aku pun reflek menoleh. Seseorang yang baru saja kupikirkan sekarang sudah berdiri bersandar di ambang pintu. Dia menatapku dengan mata kantuknya sambil menggaruk rambut. Matanya melihat buku yang sedang kubuka. Tapi ekspresinya tidak berubah. Dia tetap berada di sana.

“Hei, kutanya kenapa kau di sini.”

Aku gelagapan sebentar. Segera menutup buku itu dan meletakkannya ke tempat semula. “Ah tidak. Aku hanya lewat.”

“Kenapa bukunya ditutup? Lanjutkan saja. Kau penasaran bukan?” Dia menutup pintu, lantas masuk dan membanting tubuh di ranjang. “Baca itu sampai akhir. Dan kalau kau bisa, jadikan tulisan-tulisan itu sebagai bahan novelmu.”

Novel? Hei! Tahu darimana dia kalau aku suka menulis novel?

“Aku tidak sengaja menemukan blogmu,” ujarnya seolah dia bisa membaca pikiranku.

“K-kau membaca semuanya?”

“Tidak. Hanya sebagian. Aku tidak begitu tertarik dengan cerita romansa gadis remaja.”

“Aku tidak hanya menulis cerita romansa. Aku juga menulis cerita action.”

“Ya, aku juga sempat baca. Tapi temanya tetap romansa bukan? Kisah seorang pria yang berusaha keras mendapatkan seorang gadis. Itu sama saja dengan cerita romansa. Hanya 10 persen yang tentang action. Dan menurutku itu sama sekali tidak menegangkan.”

“Kau ini hanya tidak tahu bagaimana sulitnya membuat cerita,” dengusku sambil menghadap meja itu kembali. Meraih buku merah yang tadi, dan lanjut membaca.

“Aku menunggu cerita tentang hyung. Kau harus mempostingnya di blog setelah membaca buku itu.”

“Lihat saja nanti.”

Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa sadar aku sudah menghabiskan dua jam lamanya untuk menamatkan buku itu. Aku serius kalau aku sudah menyelesaikan buku itu. Tapi, aku masih tidak bisa berpaling dari tulisan di halaman terakhir yang tertulis di sana. Itu tulisan terakhirnya.

7/7/14

Kurasa aku tidak akan bisa hidup sampai usiaku 20. Yang itu artinya, aku juga tidak bisa menggapai cita-citaku. Ini bukan cerita sedih, serius. Aku justru senang karena aku sadar kalau sebentar lagi aku akan mati. Sayangnya aku tidak tahu kapan tepatnya aku meninggalkan dunia ini. Yang pasti, hari ini aku akan menulis untuk yang terakhir kalinya.

Ada banyak sekali hal yang belum aku ungkapkan di buku ini. Yah, aku memang terlalu bersemangat untuk menyebut diriku sendiri sebagai orang gila. Itu karena aku terlalu muak hidup di bawah kaki Min seonsaengnim. Andai aku bisa terbebas meski sehari saja, aku tidak akan menyebut diriku sendiri sebagai orang gila. Aku juga ingin hidup sebagai seseorang yang normal. Seperti Jooheon? Ya, setidaknya aku bisa memiliki hidup yang menyenangkan sepertinya.

Aku ingin pergi ke game center. Adikku Yoongi sering pergi ke game center bersama Kihyun setiap malam minggu. Aku sangat iri, dia diperbolehkan, sementara aku tidak. Aku harus menghabiskan malam minggu dengan belajar bahasa asing sedangkan Yoongi bermain diluar bersama Kihyun. Bukan berarti mereka tidak mengajakku. Mereka mengajakku, hanya saja aku menolak karena abeoji selalu ada di rumah di hari-hari itu. Mengesalkan. Aku sangat benci belajar bahasa asing. Itu tidak akan berguna! Toh sebentar lagi aku juga akan mati.

Hal yang remeh seperti itu saja tidak boleh, berkencan pun sudah pasti tidak diperbolehkan. Oh ayolah, hanya berkencan dan itu tidak boleh. Aku tidak akan gegabah menghancurkan masa depan anak gadis orang, aku hanya ingin memenuhi kebutuhan diriku akan hubungan asmara. Semua teman-temanku sudah pernah berkencan. Setidaknya sekali. Mereka selalu menceritakan tentang teman kencan mereka, lalu aku? Hah, yang benar saja. Malam minggu aku selalu menghabiskan waktu dengan belajar, bagaimana mungkin aku sempat pergi kencan?

Sebenarnya aku bisa saja memilih satu dari sekian gadis yang memberiku surat cinta. Sayang sekali, mereka saaangat tidak menarik perhatianku. Aku justru tertarik pada seseorang yang tidak pernah memberiku surat cinta. Dia bukan gadis populer seperti Somi atau Hyoyeon, dan dia juga bukan gadis primadona seperti Joohyeon. Tapi di mataku dia sangat menarik. Apa aku harus menuliskan namanya di sini? Tapi bagaimana kalau abeoji membacanya? Kira-kira apa yang akan dilakukan abeoji kalau aku menulis namanya di sini? apa dia akan dikeluarkan dari sekolah atau … ah apa peduliku. Lagi pula aku juga akan mati. Baiklah, lebih baik kutulis saja. Kuharap dia akan menemukan buku ini dan membacanya. Setidaknya dia harus tahu perasaanku meskipun aku sudah tidak ada.

Oh Sena.

Kalau suatu hari kau menemukan buku ini, kemungkinan besar aku sudah mati –karena aku tidak pernah memperbolehkan siapa pun masuk ke kamarku sebelum aku mati. Kalau kau sudah sampai pada halaman ini, berarti kau sudah membaca semua tulisanku atau belum sama sekali. Yah, aku tidak yakin kau berada di opsi yang mana. Tapi yang pasti, kau harus membaca tuntas tulisan di halaman ini. Ini tulisan yang sangat penting, khususnya untukmu.

Aku … menyukaimu. Saat kita pertama kali bertemu –ketika aku dikeroyok banyak orang-, aku sebenarnya ingin sekali memarahimu. Kau menyebalkan, kenapa kau berteriak di saat itu? Harusnya kau diam saja dan tinggalkan aku di sana agar aku mati lebih cepat. Tsk, kau sudah membuat hidupku makin berantakan, Sena.

Tapi tidak apa, justru karena itulah aku menyukaimu. Kau sudah membuatku kesal, kekeke, konyol ‘kan? Biasanya seorang pria menyukai seorang gadis karena dia cantik, baik, ramah dan sebagainya, tapi aku menyukaimu karena kau menyebalkan.

Aku tidak bisa mengungkapkannya secara langsung, kau sudah baca tulisan di atas ‘kan? Aku juga tidak bisa mengajakmu pergi kencan. Aku tidak mau kau terluka begitu mendengarku tiba-tiba mati. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku suka sekali menemuimu ‘kan? Kekeke. Kau selalu mengganggu pikiranku, serius.

Hal yang kusuka saat menyukaimu adalah kita ternyata tetangga. Itu sangat menyenangkan ketika menyadari kalau kita bertetangga. Dengan dalih hubungan tetangga, aku bisa pergi mengunjungimu kapanpun kumau, kau juga bisa datang ke rumah setiap aku memintamu datang. itu menyenangkan Sena, serius. Bagiku yang tidak punya umur panjang ini, hal remeh seperti itu sudah kuanggap sebagai kencan. Terima kasih banyak J

Ya, itu saja dulu yang ingin kuungkapkan. Semua tentang diriku sudah tertulis di buku ini, jadi kau hanya tinggal membacanya saja. Jangan terkejut melihat darah di halaman depan, itu darahku karena mimisan, bukan darah hasil percobaan bunuh diri, kekeke. Aku tahu kau fobia darah, Sena. Wajahmu selalu pucat setiap kali lihat darah. Diam-diam aku ini perhatian loh.

Itu namaku, dan tulisan itu adalah pesan untukku. Andai tadi Yoongi tidak membiarkanku membaca sampai akhir, mungkin aku tidak akan tahu apa-apa soal Minhyuk. Tapi … itu artinya Yoongi juga sudah membaca tulisan ini? Aku pun langsung menoleh ke belakang. Sedikit tersentak melihatnya juga sedang memandangku.

“Aku sudah tahu dari dulu.”

Dahiku mengernyit. Dia sudah tahu? Dari dulu?

“Kau juga menyukai kakakku?”

“Apa?”

Dia pun beranjak duduk. “Kau menyukai kakakku?”

Aku sempurna terdiam. Aku? Menyukai Minhyuk?

“Hei, aku tanya. Kau menyukai kakakku tidak?”

Aku segera berpaling. “Aku tidak tahu.”

“Pembohong.”

“Aku memang tidak tahu! Berhenti bertanya.”

“Kakakku sangat tampan dan dia menyukaimu. Benar kau tidak menyukainya juga?”

Aku meletakkan buku itu di tempat semula lantas beranjak keluar. “Itu bukan urusanmu. Toh … aku suka atau tidak padanya, itu sudah tidak penting lagi. Ayo cari sarapan sekarang. Aku lapar.”

Sebenarnya aku cukup senang mendengar Minhyuk ternyata menyukaiku. Tapi, aku tidak punya perasaan berdebar atau sebagainya saat mengetahui fakta itu.

“Aku tidak menyukainya.”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s