Freak Hwarang #1

freak-hwarang

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue

Namjoon adalah orang pertama yang membuka mata di hari itu. Dia mengerjap-ngerjap sebentar, berusaha menghindari silau matahari dengan tangannya. Ia pun mengedarkan pandangan ke sekitar. Tidak ia temukan lantai yang terbuat dari marmer bermotif bunga-bunga khas istananya, pun dinding batu alam yang membangun istananya. Yang dia lihat di sini adalah lantai kayu yang sudah lapuk ditambah dengan dinding kayu yang sama lapuknya. Dan dia mendapati dirinya tidak sendirian tapi bersama 6 pangeran lain di lantai. Ya, di lantai.

Ciit ciit!

Eomma!!

Sontak ia pun meloncat bangkit, berlarian menepi ke dinding menghindar dari hewan pengerat yang kini sedang bermain kejar-kejaran dengan kucing putih tambun.

Brak brak brak!

Dua hewan itu sukses menjatuhkan banyak barang di atas meja. Suaranya yang berisik sanggup membuat enam pangeran lain terbangun.

“Berisik!! Biarkan aku tidur dengan tenang! Yaa! Siapa yang suruh kau tidur di punggungku!!” Suara berat menggelegar Pangeran Taehyung menambah ramainya suasana. Dia menggelepar-gelepar seperti ikan guna menyingkirkan Pangeran Hoseok dari punggungnya.

BLETAK!

Yaa yaa, aku ini lebih tua darimu!” Pangeran Hoseok pun lekas bangkit setelah memberi jitakan manis di kepala Pangeran Taehyung.

“Di mana ini?” Pertanyaan Pangeran Jimin seketika membuat suasana di antara mereka bertujuh sepi senyap. Mereka saling bertatapan satu sama lain, mengedarkan pandangan, dan beberapa mulai berkeliling untuk melihat-lihat suasana.

“Aish! Seseorang sepertinya baru makan sesuatu, tapi tidak dihabiskan. Menjijikkan,” gumam Pangeran Yoongi saat dia menemukan sebuah piring dengan kentang bakar yang masih sisa setengah di atas meja.

Miaw.

“HUWAA!! KUCIIIIING!!”

“Uhuk uhuk. Yaa. Hoek. Lepaskan aku maknae sinting! Uhuk! Aku tidak bisa bernapas.”

Pangeran Jungkook merenggangkan sedikit pelukannya, tapi dia masih tidak melepaskannya. “Ada kucing, Hyung~~ KUCING!!!”

“Aku juga tahu kalau itu kucing! Jangan berteriak di telingaku!” Seokjin berteriak tak kalah kerasnya.

“Hei kalian, bisakah tidak usah bertengkar di sini? Hei.” Jimin menepuk-nepuk punggung Jungkook dan Seokjin. Ini sudah menjadi pekerjaannya sehari-hari, melerai pertengkaran antara pangeran nomor 1 dengan pangeran nomor 7 yang level kekanakkannya sama saja.

Sementara itu di sisi lain Pangeran Hoseok menemukan sebuah pintu dan membukanya. Bola matanya hampir saja keluar dari tempat ketika ia mendapati seorang gadis berambut berantakan yang sepertinya akan membuka pintu itu. Mereka saling bertatapan untuk waktu yang lama sebelum….

“Kenapa kau diam di … eomma!! Apa itu yang ada di depanmu?!!” Pangeran Namjoon yang baru muncul dari belakang pun sama terkejutnya dengan Hoseok. Dia menunjuk sesuatu yang ada di depan Hoseok. Bukan gadis berambut berantakan itu, tapi hewan berbulu abu-abu yang sedang dipeluk gadis itu. Hoseok sepertinya baru menyadai hewan tersebut. Tahulah apa yang terjadi setelahnya.

“HIYAAAA!! EOMMA!!”

“Apa? Apa?” tanya Seokjin dan Jungkook yang ikut-ikut mendekat untuk melihat apa yang barusan dilihat Hoseok. Respon mereka tidak jauh beda. Seokjin langsung berlarian entah kemana, diikuti Jungkook yang hampir menangis karena ditinggalkan.

Pangeran Namjoon masih di sana. Berusaha menahan saliva sambil bergerak mundur. Sementara gadis dengan rambut berantakan itu bergerak maju sambil menyunggingkan seringaian tipis.

“Jangan mendekat. Kumohon jangan mendekat.”

Tapi gadis itu sama sekali tidak mendengarkan. Seringaiannya justru makin lebar. Terus maju, sampai punggung Namjoon membentur dinding.

“Kumohon. Kumohon jangan. Kumohon jangan mendekat. Hei hei!! Aaaaa!!!”

“Namjoon wae?” Pangeran Yoongi tiba-tiba muncul bersama dengan Pangeran Taehyung di belakangnya. Keduanya berjengit saat melihat gadis itu berbalik. Mata mereka bergerak bergantian dari rambut berantakan gadis itu dan hewan abu-abu yang dipeluknya.

Hyung. Apa itu?” Taehyung mencengkram erat bahu Yoongi sambil menariknya mundur. Sialnya gadis itu malah mendekati mereka bersama hewan tersebut.

“Itu … itu … Yaa! Kau dapat dari mana hewan itu?!” Yoongi menunjuk-nunjuk hewan itu sambil melotot pada gadis tersebut. Mungkin hanya dia yang tahu hewan apa itu. Itu adalah Koala. Bagaimana bisa Koala ada di sini, pikirnya.

Anehnya gadis itu tidak menjawab tapi justru mengejutkan mereka dengan melempar hewan tersebut.

BRUK!

Yoongi menangkap hewan itu dengan baik, tapi tidak dengan Taehyung. Pangeran kelima itu sudah jatuh pingsan di dekatnya. Menjadi bahan tertawaan empuk untuk gadis itu.

“Astaga. Hahaha, sial, perutku sakit. Kalian ini … haha … benar-benar idiot! Apa yang harus ditakutkan dari seekor Koala, huh? Kasihan sekali hewan imut ini. Kemari Ko Bam. Kau pasti terkejut ya? Haduh … sepertinya keputusanku untuk membawa mereka kemari adalah suatu kesalahan. Mereka bahkan jauh lebih buruk darimu.”

Yoongi mendengus. Lebih buruk katanya? Hah! Bagaimana bisa gadis itu menyamakan pangeran-pangeran seperti mereka dengan hewan berbulu abu-abu itu?

Saat Koala itu telah berpindah dari tubuhnya, entah tiba-tiba saja dia mencium bau aneh di pakaiannya. Hidungnya pun mengendus-endus. Ini bau yang tidak begitu asing. Tapi dimana dia pernah menemukannya?

“Wah, Pangeran. Sepertinya kau perlu mandi,” seru gadis itu dari sudut ruangan yang lain, yang berhadapan dengan jendela terbuka lebar mengarah langsung pada sebuah pohon ekaliptus. Koala itu bergerak hinggap di batang pohon tersebut, sementara gadis itu sendiri berbalik, menatapnya dengan seringaian yang sayangnya terlihat manis sekali untuk ukuran gadis berantakan sepertinya. “Kalau kau penasaran, sebenarnya itu adalah bau kencing, kekekeke.”

Mendengarnya, pikiran Yoongi pun tiba-tiba terkoneksi pada aroma cairan tersebut. Benar. Ini benar-benar bau air kencing. “Sialan,” desisnya. “Katakan dimana kamar mandinya.”

Gadis itu mengarahkan dagunya pada sebuah pintu yang tertutup rapat di dekatnya. “Tapi … kau tidak penasaran apakah kau punya baju ganti atau tidak?”

Yoongi yang sudah setengah jalan pun mendadak berhenti. Sekali lagi menatap gadis itu kesal. “Mana baju gantiku?”

“Silahkan cari sendiri di kotak itu. Dia datang bersama dengan kalian,” balasnya sambil tersenyum bangga. “Kalau begitu, biar aku dulu yang pakai kamar mandinya. Semoga beruntung pangeran siput.”

Yoongi mendesis kesal. Dia bersungut-sungut menghampiri box besar yang tergeletak di sudut ruangan bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar mandi dari dalam.

Gadis berambut berantakan yang tadi membawa Koala itu bernama Oh Sena. Sebenarnya, rambut aslinya tidak seperti itu. Dia memiliki rambut sepinggang yang berombak indah, pun kulitnya putih bersih tidak seperti saat dia datang membawa Koala. Intinya, gadis itu adalah gadis cantik pemilik rumah kayu lapuk tersebut. Seseorang yang menemukan ketujuh pangeran Savanah yang sengaja ditinggalkan di samping kebun wortelnya.

Saat ini, ketujuh pangeran beserta dia sendiri berkumpul di ruangan tengah. Untuk apa lagi kalau bukan makan malam. Ini adalah makanan pertama para pangeran sejak mereka datang kemari.

Semuanya tampak santai dengan baju rumah masing-masing. Baju-baju itu berasal dari box yang sampai saat ini masih betah berada di sudut ruangan. Hanya ada 21 pasang, itu berarti, tiap pangeran hanya punya tiga setel baju ganti –tanpa dihitung dengan seragam kerajaan. Ironisnya, baju-baju itu sudah diberi nama dan motifnya sangat tidak sesuai dengan selera mereka.

“Mimpi apa aku semalam? Kenapa tiba-tiba aku terdampar ke rumah jelek ini?” Taehyung bergumam sendiri, sambil menolehkan kepala ke kanan kiri melihat seberapa buruknya rumah yang ditempati oleh mereka.

“Bukan hanya kau saja, aku juga iya,” sahut Hoseok yang duduk di samping kanannya. Sejak tadi matanya was-was melihat lantai sekitarnya. Beberapa menit lalu dia tak sengaja menginjak mayat capung saat berjalan menuju kemari. Hal itu membuatnya trauma dan secara otomatis langsung mengaktifkan mode siaganya terhadap hewan kelompok serangga itu.

“Sialan mana yang sudah membuat kita semua tersasar kemari?” Yoongi angkat bicara. Dia menatap keenam saudaranya bergantian. “Aku akan buat perhitungan dengannya.”

“Ini pasti ulah Sejin. Siapa lagi yang akan melakukan itu pada kita kalau bukan dia?! Hanya dia yang tahu kelemahanku soal film-film dewasa.”

“Kurasa itu bukan rahasia lagi, Joon,” sahut Seokjin yang sejak tadi murung karena harus menahan diri untuk tidak merindukan snack-snack-nya.

“Dia bahkan tidak memperbolehkanku membawa ponsel, hiks,” sambung Jungkook, yang masih terisak karena merindukan game ponselnya.

“Aku tidak percaya kalau Sejin berani melakukan ini pada kita.” Ucapan Jimin itu menjadi akhir dari obrolan mereka karena tiba-tiba Sena muncul dari dapur sambil membawa sebuah panci besar tertutup yang entah apa isinya. Panci besar itu diletakkan di tengah-tengah mereka ber-8. Gadis itu duduk di tempat kosong antara Yoongi dan Namjoon, dengan senyum cerianya langsung mengangkat tutup panci.

Seperti magnet, ketujuh kepala di sana langsung condong ke depan.

“Apa ini?” Taehyung akhirnya bertanya setelah dia berusaha menebak sesuatu berwarna kemerah-merahan besar dengan jumlah banyak yang terdapat di sana.

Sena tersenyum lebar. “Wortel.”

“APA?!”

Senyum gadis itu makin lebar. “Ya, wortel. Kalian pasti terkejut ‘kan? Oh ayolah, aku tahu kalian pasti sangat menyukai wortel. Jangan malu, cepat ambil. Satu orang satu tapi.”

Tidak seperti yang diduganya. Tidak ada satupun dari mereka yang mengambil makanan itu. Dahinya mengernyit, sedikit kecewa dengan reaksi mereka. “Kenapa? Kalian tidak suka?”

“Kau pikir kami siapa, huh?” Yoongi angkat bicara. Melipat kedua tangan di dada. “Kami ini pangeran, pangeran Kerajaan Savanah. Bukan kelinci. Singkirkan makanan itu dan buatkan kami makanan yang lain.”

Sena mendengus. Lalu ia pun menusuk satu potong wortel dengan garpu kayu, kemudian memasukkanya dengan paksa ke mulut Yoongi. Pangeran nomor 2 itu menjerit merasakan lidahnya yang terasa terbakar. Sementara yang lain melotot ngeri.

“Siapa lagi yang tidak suka wortel di sini?” tanya gadis itu pada yang lain.

Namjoon tiba-tiba mengambil satu garpu kayu lain, menusuk satu potong wortel dengan itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. “A-aku suka wortel.”

“Aku juga! Aku juga suka wortel. Wortel adalah makanan paling enak yang pernah kutahu selama ini!” Taehyung pun melakukan hal yang sama seperti Namjoon. Meski … dia sangat benci dengan makanan itu karena rasanya yang pahit. Yang penting tidak bernasib sama dengan Yoongi, dia rela memakan apa pun makanan yang dibawa Sena.

“Hei hei, ambilkan untukku juga.” Hoseok menyikut lengan Taehyung untuk mengambilkan satu untuknya karena dia duduk paling jauh dari Sena sehingga tidak bisa menjangkau garpu kayu itu.

“Kalian berdua!” seru Sena tiba-tiba pada dua pangeran yang masih bergeming sambil menatap ngeri isi panci itu. “Kalian juga tidak suka wortel? Mau kusuapi, huh?”

Mata mereka makin melotot ngeri. Keduanya saling berpandangan sejenak. Lalu tiba-tiba tertawa.

“Mereka mulai lagi,” batin Namjoon seraya mengunyah gigitan pertamanya pada wortel itu dengan perasaan bercampur aduk.

“Kami? Tidak suka? Haha.” Seokjin menepuk-nepuk tulang belikat Jungkook.

“Tentu saja kami suka, haha. Itu makanan sehari-hari kami. Benar ‘kan, Hyung?” Jungkook menatap Seokjin nanar meski bibirnya tersenyum lebar.

“Benar sekali. Bagi kami wortel-wortel ini adalah snack. Ha ha ha. Tapi kami sedang diet jadi, biarkan kami makan satu potong untuk berdua.” Tanpa perlu menunggu jawaban dari Sena, Seokjin cepat mengambil dua garpu kayu, memotong satu potong wortel menjadi dua bagian, dan menusuk kedua-duanya dengan garpu itu. Dia memberikan satu garpu pada Jungkook, yang diterima dengan senyum sedih.

Sena menghela napas lega. Diliriknya Yoongi yang mengumpat-umpat karena lidahnya yang masih terbakar. Peduli apa, salah sendiri menolak pemberiannya. Rasakan itu, siput.

Alhasil, malam itu para pangeran harus menerima kenyataan bahwa mereka hanya mengisi perut kosong mereka dengan sepotong wortel –kecuali Jungkook dan Seokjin yang hanya ½ bagian. Dilanjutkan dengan air mineral langsung dari alam. Dan berakhir dengan tidur di satu kamar kecil dengan alas jerami yang ditutupi dengan seprai wol domba asli. Tanpa bantal, guling, selimut dan penghangat ruangan. Malam-malam yang menyiksa pun datang mengintai mereka.

TBC

Advertisements

One Reply to “Freak Hwarang #1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s