Freak Hwarang #2

freak-hwarang

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1

TENG TENG TENG!!!

“SEMUANYA BANGUUUN!!!”

Ruangan yang semula damai-damai saja perlahan menjadi ramai oleh suara erangan ketujuh pria yang menghuninya. Nyaris tidak ada satupun dari mereka yang beranjak bangun.

Sena mendengus. Mengangkat kembali lonceng logam milik mendiang sapinya, memukulnya dengan sebuah tongkat besi.

TENG TENG TENG TENG!!!

“Aaaargh!! Hentikan suara itu!!” Min Yoongi menjadi orang pertama yang beranjak duduk. Bibir tipisnya ngedumel tidak jelas sambil mengorek telinga dengan jari kelingking. Telinganya menjadi yang paling dekat mendengar suara lonceng itu.

“Lima menit lagi~~ aku baru tidur dua jam~~” keluh Taehyung yang hanya membalikkan badan ke sisi lain, merentangkan kaki dan tangan kanannya ke tempat Yoongi.

“Tidak ada pengecualian! Sekarang juga cepat bangun!”

Teriakan Sena hanya masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Masih bagus Hoseok mau duduk meski matanya masih lengket menempel. Parahnya, Seokjin dan Namjoon malah memeluk Jungkook yang ada di antara mereka. Bagaimana Sena tidak geram coba?

“Kalian lebih memilih kubangunkan apa dibangunkan Kobam? Atau si katak Frogie? Si kucing Yum?”

“Jangan!!” Jungkook seketika duduk. Yang otomatis membuat Seokjin dan Namjoon tersentak kaget. “Jangan bawa kucing kemari!” lanjut pangeran termuda itu sambil melambaikan kedua tangannya.

“Ah … kau tidak seru,” omel Seokjin seraya duduk. Dia mengangkat kepalanya, dengan kondisi mata setengah terpejam, dia menatap Sena kesal. “Berapa usiamu, huh?! Berbicaralah yang baik padaku! Aku ini oppa! Oppa!!!

Namjoon, diikuti Jimin dan yang terakhir Taehyung, juga ikut duduk seperti yang lain.

“Mataharinya bahkan masih belum tampak. Lihat! Langitnya juga masih gelap.” Semua pandangan tertuju pada satu-satunya jendela di sana. Semuanya mengangguk, setuju dengan kata-kata Namjoon.

Slow motion saja, nona,” ujar Taehyung yang lebih terdengar seperti orang menggerutu. “Kami akan bangun sendiri kalau sudah waktunya.”

“Di sini akulah rajanya,” ucap Sena tiba-tiba sambil berkacak pinggang di depan mereka. Selain lonceng dan tongkat besi, ternyata dia juga sudah siap dengan topi caping dan setelan berkebun –atasan kaos tipis berwarna cokelat pudar dan celana panjang kain motif bunga-bunga biru. Ia menatap satu persatu para pangeran yang kini lebih terlihat mirip gelandangan dengan wajah angkuhnya.

“Pagi ini, kalian harus bekerja untukku di kebun. Ada banyak sayuran dan buah-buahan yang sudah masuk musim panen. Dan aku membutuhkan kalian untuk melakukan semua itu. Tidak ada pengecualian,” Sena mengambil napas dalam-dalam. “Atau kalau tidak, kalian semua akan mendapat hukuman dariku. Dari sini ada pertanyaan?”

Jimin angkat tangan. “Bisa kau sebutkan apa hukumannya?”

Sena menjentikkan jari. Dia tahu pasti salah satu dari mereka akan menanyakan pertanyaan itu. “Aku senang kau bertanya, Tuan muda.” Ia menyeringai melihat beberapa pangeran mulai menyalahkan Jimin. “Karena hukumannya, kalian harus membersihkan kandang sapi, kuda, kambing, domba, ayam dan serigala milikku. Aku sudah tiga hari ini tidak membersihkan kandang sapi, empat hari kandang kuda, dua hari kandang kambing dan domba, seminggu kandang ayam dan sehari kandang serigala. Yah … karena aku sibuk jadi kemungkinan besar poop mereka sudah menggunung.”

“Sapi? Kenapa kami harus membersihkan kandang sapi?” sewot Yoongi begitu mendengar nama sapi disebut. Faktanya, dia memang sedikit trauma dengan sapi. “Kenapa juga itu harus jadi hukuman?! Itu pekerjaanmu!”

Sena mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu. Baru menyadari sesuatu berkat ucapan Yoongi. “Hm … benar juga. Kalau kalian semua ikut aku berkebun sekarang, artinya tidak akan ada seorang pun yang akan membersihkan kandang. Ah … kau lumayan cerdas juga, siput. Terima kasih sudah mengingatkanku. Kalau begitu, hukumannya kuganti.”

Ye?!!!” Teriakan rendah koor khas lelaki langsung menggema di ruangan itu. Yoongi lah yang paling shock mendengarnya.

“Ke-kenapa kau ganti?!” pekik Yoongi tak terima. Matanya yang sipit melebar beberapa diameter menunjukkan seberapa gelisahnya pergerakan bola matanya itu. “A-aku tidak menyuruhmu untuk menggantinya! Yaa!!”

“Soal membersihkan kandang itu, juga akan menjadi tanggung jawab kalian setelah ini. Jadi karena aku punya lima kandang, eum … tiap kandang akan dipegang satu orang dan dua kandang terakhir akan dipegang dua orang. Bagaimana? Keren bukan?”

“Itu sinting!” teriak Hoseok tak terima. “Kami ini pangeran. PANGERAN KUBILANG!!”

Sena mengangguk-angguk sambil mengibaskan tangannya. “Aku juga tahu kalau kalian pangeran.”

“Lalu kenapa kau tetap menyuruh kami melakukan hal-hal aneh?” sahut Jungkook sambil melotot. Bukannya garang, kesannya malah justru imut.

Satu alis gadis itu terangkat. “Aneh? Aneh dari mananya? Jadi maksudnya … kalian tidak pernah melihat hewan-hewan itu sama sekali?”

“Kau ini bodoh atau apa, huh?” Namjoon angkat bicara. “Maksudnya itu membersihkan kandang, bukan soal hewannya.”

“Oh … jadi maksudnya kalian tidak bisa membersihkan kandang? Tsk tsk tsk.” Gadis itu menggeleng pelan. “Aku turut prihatin.”

“Tapi tetap saja. Tugas membersihkan kandang akan menjadi tanggung jawab kalian selama kalian tinggal di sini. Akan kupikirkan nanti pembagiannya. Yang terpenting sekarang, cepat gerakkan pantat malas kalian dan segera berpakaian. Kuberi kalian waktu 20 menit. Terlambat satu detik, hukuman.”

Setelah bicara begitu Sena langsung melenggang pergi. Menyisakan ruangan yang heboh oleh teriakan frustasi para penghuninya. Tapi suara berisik itu tidak bertahan lama karena mereka bertujuh sadar kalau Sena tidak main-main soal hukuman terlambat itu. Jadi yang terjadi berikutnya justru suara rusuh ketujuh pria yang sedang berembut ke kamar mandi.

Langit masih tampak kelam dengan kabut di mana-mana saat ketujuh pria itu beserta seorang gadis bersetelan kontras tiba di sebuah kebun yang luas. Kebun itu entah berapa hektar. Sejauh mata memandang, kebun itu tampak berwarna-warni oleh berbagai macam sayuran dan buah-buahan yang ditanam dalam lingkup yang sama. Ada bayam, kubis, lobak, strawberry, anggur, jagung, cabai, papaya, pisang, bahkan kakao pun ada. Semuanya terkumpul menjadi satu di wilayah yang telah terpagar kawat itu. Bercampur aduk dengan begitu teratur.

“Wah … pasti di sebelah sana banyak ulatnya,” celetuk Yoongi sambil menunjuk blok pisang, papaya dan bayam. Sengaja dia bicara begitu karena di sampingnya telah berdiri Hoseok yang sejak tadi cemas dengan kegiatan berkebun pagi ini.

“Kau diamlah, Hyung. Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang,” balas Hoseok yang dari suaranya saja sudah kelihatan kalau dia begitu tegang. Ekspresinya itu benar-benar membuat Yoongi tertawa sampai menangis.

“Aku dan Jungkook akan pergi ke blok strawberry dan anggur,” seru Seokjin sambil angkat tangan kanan. Sementara tangan kirinya melingkar santai di bahu si bungsu.

“Oh tidak bisa,” sahut Taehyung. “Aku yakin kau bukannya berkebun tapi justru memakan semua buahnya. Hei rambut jabrik, biarkan aku yang mengurus blok strawberry dan anggurnya.”

Sena yang dipanggil rambut jabrik oleh Taehyung, sekalipun tidak menggulirkan bola mata pada pria itu. Entah karena dia malas mendengar atau kesal dengan panggilan itu. Dia pun angkat bicara beberapa detik kemudian.

“Sudah kuputuskan. Blok Bayam akan menjadi tanggung jawab si sulung. Kubis untuk si egois (Taehyung). Lobak untuk si bungsu. Jagung untuk siput. Cabai untuk monster (Namjoon). Papaya untuk kue beras (Jimin). Kakao untuk si penakut (Hoseok). Sisanya urusanku.”

“Heee?! Itu tidak adil!” pekik Taehyung yang langsung diamini saudara-saudaranya. Wajahnya tampak tertekuk-tekuk kesal, lebih kesal lagi saat mendengar nama panggilannya. Egois katanya?

“Kakao? Kau gila?” Tampang Hoseok kini pucat pasi. Oh tamatlah riwayatnya sekarang. Kenapa harus blok Kakao? Di sana pasti banyak ulat. Hiiiy! Membayangkannya saja sudah membuatnya takut. Belum dengan serangga-serangga lainnya.

“Taruhan, kau pasti berniat ingin menikmati strawberry, anggur dan pisangnya sendiri ‘kan?” Seokjin menodongnya dengan pertanyaan.

Bukannya panik, Sena justru menggendikkan bahu dengan santainya. “Itu kebunku, apa salahnya aku memakan buah yang sudah kubesarkan sejak dulu?”

“Kalau begitu panen saja sendiri!” pekik Namjoon sambil membanting topi capingnya ke atas tanah. Sejak tadi dia berusaha menahan amarahnya tapi sekarang ia sudah mencapai batas.

“Sebentar nona.” Jimin yang sejak tadi diam mengamati tiba-tiba angkat bicara. “Kami belum pernah sekalipun berkebun. Tidak bisakah kau mengajari kami dulu? Bagaimana kalau nanti kami justru merusak tanamanmu?”

“Merusak? Wah, itu ide yang bagus, Park Jimin,” sahut Yoongi tiba-tiba.

“Merusak kubis sepertinya tidak sesulit merusak pohon Kakao,” timpal Taehyung dengan nada kesal yang kentara. Dia sudah sangat sebal sekali dengan tingkah laku Sena yang sangat tidak adil sekali baginya.

“Kalau kau ingin menikmati buahnya sendiri, tidak usah menyuruh kami bekerja segala.” Jungkook pun tidak ketinggalan menyuarakan aspirasinya.

Maknae tercintaku benar,” ujar Seokjin. “Bekerjalah sendiri.”

Sena tampak menggeleng pelan. Terlalu santai untuk seseorang yang mendapat protes keras dari tujuh orang pria. “Beginikah rupa dari sosok pangeran yang kalian bangga-banggakan itu? Hei. Apakah kalian pikir hidup ini hanya ada bahagianya saja? Kalian pikir sosok pemalas yang hanya mengeluh saat disuruh bekerja itu pantas menjadi raja? Tidak kah kalian memikirkan itu, huh?”

Sepi senyap.

“Aku tidak akan menghianati kalian. Tenang saja. Toh nanti juga setengah dari hasil panen ini akan menjadi bahan makanan kita sehari-hari. Aku tidak sepelit yang kalian kira, wahai pemalas-pemalas bertopeng pangeran.”

Ketujuh pria itu saling berpandangan satu sama lain. Melihat respon masing-masing, haruskah mereka memercayai gadis ini?

“Ah sudahlah. Kalau kalian tidak mau bekerja, jangan harap kalian akan dapat makan dariku. Pergi saja sendiri ke hutan dan carilah apa pun di sana untuk dimakan. Aku tidak peduli lagi.”

Sena pun melenggang santai meninggalkan mereka memasuki area kebunnya. Dia tidak menoleh ke belakang sama sekali –meski para pangeran itu sedikit mengharapkannya. Kakinya yang pendek dan ramping langsung membawanya ke bagian kebun paling belakang. Lebih tepatnya blok buah-buahan langsung makan.

“Jadi bagaimana ini?” Namjoon menyeletuk. Mereka bertujuh tanpa sadar sudah membuat lingkaran setan. Untuk apa lagi kalau bukan untuk berunding.

“Lebih baik kita-” Belum saja Jimin selesai bicara, Yoongi tiba-tiba memotongnya.

“Kurasa akan lebih sulit kalau kita pergi mencari makan di hutan. Lagi pula, aku malas sekali bergerak jauh lebih dari ini. Oh kakiku yang malang.”

“Ya, hyung benar jadi-”

“Memercayainya untuk kali ini tidak buruk juga.” Setelah Yoongi, Taehyung lah yang memotong kalimat Jimin.

“Maka dari itu kubilang-”

“Ya sudah kita ikuti saja dia.” Giliran Seokjin yang memotong kata-kata pangeran nomor lima.

“Oke, kalau begitu kita ikuti saja dia,” ujar Namjoon kemudian.

“Akan lebih baik begitu,” sambut Jungkook dengan penuh sukacita. Tanpa sadar pandangannya tertuju pada Jimin yang wajahnya sudah merah padam. “Kau kenapa, Hyung?”

Semuanya langsung menoleh pada Jimin.

“Kau sudah tidak tahan mau poop?” celetuk Seokjin asal. Hoseok yang sejak tadi pucat dan tidak banyak bicara, tiba-tiba tertawa sambil memukul Seokjin gara-gara kata-katanya itu.

“Atau jangan-jangan kau ingin buang air kecil?” sahut Taehyung tak kalah asalnya.

“Hei, jangan ditahan. Cepat pergi ke toilet.” Yoongi menepuk-nepuk punggung Jimin keras sambil menunjuk pondok kayu lapuk yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Jimin dengan kasarnya menampik tangan Yoongi. “Aku tidak sedang ingin buang air kecil apalagi besar! Sialan kalian!”

Keenam pangeran lain saling pandang melihat punggung Jimin yang sudah menjauh menyusul kepergian Sena.

“Ada apa dengan anak itu?” Hoseok berujar.

“Mungkin dia sedang PMS. Ayo.” Yoongi pun mengomando yang lain untuk mengikutinya memasuki kebun.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s