Freak Hwarang #3

wallpaper2

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2

Ketujuh pangeran itu melakukan tugasnya dengan cukup baik. Masih ‘cukup baik’ bukan sangat baik. Karena apa? Namjoon telah berhasil merusak satu pohon cabai.

“Dia sangat sulit ditarik. Jadi aku tidak sengaja menariknya terlalu keras.” Begitulah alasan Namjoon ketika Sena menatapnya sambil berkacak pinggang.

“Ini peringatan pertamamu, mengerti? Kalau kau mengulanginya lagi, jangan harap aku akan memberimu makan.”

“Apa sulitnya sih memaafkan,” gumam pria itu sambil menggaruk tengkuk.

“Baiklah, kali ini kumaafkan.”

Senyum lesung pipi pun merekah di wajah telur Namjoon. “Nah begitu.”

“Sebagai gantinya, kau tidak boleh ikut memakan buah-buahan ini.”

Belum semenit, senyum itu lenyap. “Itu tidak adil!!”

Sena mengibaskan tangannya. Menghampiri enam pangeran yang sedang lahap memakan beberapa strawberry, pisang dan anggur yang barusan dipanennya, ikut bergabung dengan mereka.

“Kalian tidak bisa mengambil semaunya, hei para pria malas,” ujarnya. “Setengahnya akan kujual pada pedagang Ro.”

“Kenapa dijual?” celetuk Hoseok. Dia adalah satu-satunya yang paling rusuh saat memanen tadi. Berteriak, berlompatan ke sana kemari, hanya gara-gara satu ekor ulat saja.

“Lalu bagaimana aku harus hidup, bodoh. Kalian mau hanya makan buah-buahan ini selamanya?”

“Wah … dia menyebutmu bodoh, Seok-a. Hajar dia, hajar.” Yoongi mendadak berubah menjadi provokator. Sejak tadi dia banyak makan pisang daripada buah lainnya.

Hoseok yang juga kesal langsung melempari Sena dengan kulit pisang. “Perhatikan siapa orang yang kau sebut bodoh itu, sekiya.”

Sena tidak ambil pusing. Setelah menghabiskan satu pisang dan dua strawberry, ia pun segera menutup wadah buah-buahan itu dan mendorongnya menjauh dari mereka. Seokjin melotot kesal.

“Hei hei, siapa suruh kau menjauhkan mereka dariku?!”

“Waktu sarapan sudah selesai, Sulung. Sekarang kalian harus pergi ke kandang.”

“Beraninya memerintah kami. Nanti kalau kami sudah kembali ke istana, akan kujebloskan kau ke penjara,” celetuk Namjoon yang sudah kesal tingkat dewa dengan perlakuan Sena yang seenaknya.

“Ya lakukan saja.” Sena menggendikkan bahu. “Toh sekarang kalian ‘menumpang’ tinggal di rumahku, makan dari kebunku, buang air di kamar mandiku. Kalau kalian tidak mau kuatur ya sudah. Keluar dari rumahku, cari makan sendiri dan buang air lah di tempat lain!”

Gadis itu mendengus, menaikkan sendiri keranjang-keranjang berisi hasil panen ke atas kereta tarik. Keranjang-keranjang itu tidaklah ringan, minimal beratnya saja 10 kg. Tapi Sena sedikitpun tidak tampak kesulitan. Memakai kaos lengan pendek justru memperlihatkan seberapa kuat otot tangannya mengangkat keranjang-keranjang itu. Setelah selesai, ia pun menarik kereta itu ke sebuah gudang penyimpanan yang berdiri tepat di sebelah kiri area kebun. Tidak sampai masuk, hanya dibiarkan berada di luar, di bawah perlindungan atap depan. Mengambil napas sejenak, gadis itu pun kembali pada ketujuh pangeran tersebut.

“Baiklah, sekarang untuk kandang. Akan kubagi tugas kalian dalam lima kandang. Kalian lihat di sana?” Sena menunjuk arah tenggara kebun. “Di sana ada kandang kambing dan domba, yang sengaja kuletakkan di satu tempat. Lihat, bulu para domba itu sudah terlalu banyak. Jadi kalian yang mendapat tugas kandang itu, selain harus membersihkan kotorannya, kalian juga harus mencukur bulu para domba. Oh ya, jangan lupa, kotorannya jangan dibuang sembarangan. Kumpulkan mereka dalam karung-karung yang tersedia di sana. Itu akan berguna untuk pupuk tanaman-tanaman di sini.”

“Kenapa berbelit-belit sekali sih? Cepat katakan siapa yang harus mengurus kandang itu,” ujar Taehyung sembari mengipasi wajahnya dengan topi caping.

“Itu bagianmu.”

“He?” Mata bulat Taehyung hampir saja keluar dari tempatnya. “Aku?! Kau tidak salah orang?”

“Tidak, itu memang untukmu,” balas Sena yang kemudian mendapat tawa geli dari beberapa pangeran.

“Mampus kau,” ujar Jimin yang terlihat paling bahagia di sini.

“Bersama denganmu.” Telunjuk Sena tiba-tiba mengarah ke hidung Jimin. Tawa pria itu mendadak hilang.

“Hei! Apa-apaan kau ini?!”

“Itu akan menjadi pekerjaan untuk kalian berdua. Ingat, bersihkan kotorannya, simpan di karung, lalu cukur bulu domba yang sudah banyak. Oh ya, satu lagi. Karena rumput-rumput di sana mulai menipis, kalian harus mengambil rumput Odot di hutan. Aku tidak mau melihat hewan-hewan ternakku kelaparan.”

“Hutan? Astaga … sepertinya gadis ini benar-benar sudah gila.” Taehyung menghela napas. “Dan apa itu rumput Odot? Aku tidak tahu tanaman apa itu.”

“Ah itu gampang, yang penting kerjakan dulu bagian kotoran dan bulu dombanya, nanti kita berangkat bersama ke hutan. Sekarang cepat kalian pergi.”

Meskipun sambil menggerutu, Taehyung dan Jimin pun bergegas menuju kandang kambing-domba. Kini tersisa lima pangeran lain.

“Bisakah aku tidak usah ke kandang sapi? Aku akan mengurus kandang yang lain,” celetuk Yoongi, sepeninggal dua pangeran itu.

“Oke. Permintaan diterima. Kau silahkan urus kandang serigala.”

Spontan mata sipit Yoongi melebar dua kali lipat. “S-s-serigala? K-kau gila? Yaa! Kau ingin membunuhku atau apa, huh?”

“Mereka tidak akan menggigitmu. Mereka semua sudah jinak.”

“Sejinak-jinaknya serigala tetaplah mereka adalah serigala!”

Sena tampak mengabaikan ucapan Yoongi. “Pergilah ke gudang penyimpanan, ambil ayam-ayam mati yang sudah kusiapkan di kotak es. Kuperingatkan, mereka sekarang sedang kelaparan jadi kau harus berhati-hati dan jangan lupa gunakan baju pengaman. Siapa yang tahu kalau mereka tiba-tiba menyerangmu? Biarkan mereka makan dulu, setelah itu baru kau bersihkan kandang mereka. Oh ya, setiap siang hari aku selalu mengeluarkan mereka dari kandang untuk menjaga semua asset berhargaku di sini. Jadi, setelah kau membersihkan kandangnya, ikat leher mereka dengan tali, lalu giring mereka keluar dan posisikan di titik-titik tertentu. Mereka cukup berguna untuk menghalau hewan-hewan buas datang kemari.”

“Wah … kau benar-benar sudah sinting, nona,” celetuk Seokjin. “Kau tetap keras kepala tinggal di sini meski kau sudah tahu kalau tempat di sini sangat berbahaya.”

“Aku ini pemberani, tidak seperti kalian, apalagi kau.” Sena dengan terang-terangan menunjuk hidung mancung Hoseok. Lalu menyeringai saat melihat ekspresi kesal pria itu.

“Hei, hei, jadi maksudnya aku pergi sendiri?”

“Oh? Kau mau bersama satu teman lagi? Baiklah. Pergi saja dengan si penakut ini.”

Yaa, kau ini benar-benar cari mati denganku?”

Sena menggendikkan bahu. “Cepat laksanakan tugas. Hei sulung, kau kuberi tugas mengurus kandang ayam, kasih mereka makan, bersihkan kandangnya, ambil semua telornya. Lalu untuk kandang kuda kuberikan pada bungsu. Dan terakhir, kuberikan tugas memerah sapi, mencari rumput, dan membersihkan kandang sapi pada monster. Oke, kerjakan sekarang.”

“Lalu kau sendiri?” sahut Hoseok setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Sena.

“Aku? Aku akan memantau kalian,” jawabnya santai. “Memangnya kalian bisa mengerjakan sendiri?”

Dan kelima pria itu berpencar ke kandang masing-masing. Sena mengikuti Yoongi dan Hoseok ke gedung penyimpanan. Di sana, dia memberikan instruksi singkat tentang bagaimana cara memakai baju pengaman yang baik. Baju pengaman itu sangat tidak terbayangkan oleh dua pangeran itu. Berupa baju yang menyerupai baju astronot tapi dibuat dari bahan plastik. Dengan sebuah helm sebagai pelindung kepala dan sepatu boot butut.

“Kalau terjadi sesuatu padaku, aku akan menuntutmu di pengadilan istana,” ancam Hoseok yang sejak tadi tidak berhenti mengoceh. Wajahnya sudah pucat pasi. Membayangkan bagaimana dia harus berdiri di antara para serigala liar.

“Tenang saja, aku akan pergi bersama kalian untuk hari ini. Lagipula, mereka bukan sepenuhnya serigala. Yang benar saja aku memelihara serigala, itu sih namanya aku cari mati.” Sena menggaruk rambutnya sampai berantakan. “Mereka hanyalah peranakan dari anjing dan serigala. Tidak begitu buas seperti serigala.”

“Lalu kenapa kau menyebutnya serigala, aish,” keluh Yoongi yang kini tengah memindahkan ayam-ayam mati dari kotak es ke sebuah timba besar.

Sena menyeringai. “Tentu saja untuk menakut-nakuti kalian. Kalau aku tidak bicara begitu, kalian pasti akan meremehkanku.”

“Kau sudah benar-benar gila,” celetuk Hoseok sambil menggurat telunjuknya di dahi.

Bukannya tersinggung, Sena justru tertawa terbahak-bahak. Setelah semua ayam selesai dipindahkan dari kotak es ke timba besar, mereka bertiga pun bergegas pergi ke kandang serigala yang berdiri tepat di ujung utara. Kandang itu sangat tertutup, tapi paling luas. Dari luar saja sudah terdengar suara lolongan dan gonggongan. Sena yang tidak memakai baju pengaman pun bertugas membukakan pintu kandang. Ketiganya langsung disambut dengan pemandangan yang entahlah harus dideskripsikan bagaimana. Hoseok langsung bersembunyi di belakang Yoongi. Mereka masuk, dan pintu pun ditutup kembali.

Interior kandang itu cukup unik. Tempat pijakannya bukanlah berasal dari tanah, tapi lantai marmer yang padat. Di sekeliling ruangan dipasang pagar besi dan sekat-sekat tiap dua wolfdog. Hanya di bagian itu saja yang pijakannya terbuat dari tanah gembur. Hoseok nyaris saja memekik ketika melihat seekor wolfdog berwarna hitam perpaduan putih yang muncul dari bawah tanah. Menggonggong pada Yoongi yang sedang membawa ayam mati. Mereka bertiga berhenti di pusat ruangan, tepat di tengah-tengah keramaian gonggongan hewan itu.

Sena tiba-tiba melambaikan lengannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar. “Hai anak-anak!! Kalian pasti sudah sangat merindukanku ‘kan?!”

Sebanyak 44 wolfdog yang terdiri dari tiga jenis itu menggonggong makin keras, seolah membalas sapaan Sena. Dahi Yoongi sudah membentuk kerutan, pun Hoseok yang makin mengkeret ketakutan sambil memeluknya.

“Aku juga sangat merindukan kalian!! Maaf! Kemarin aku sibuk sekali mengurus si Kobam yang sedang sakit!! Kalian mau memaafkanku?!” Sena menempelkan tangannya di belakang telinga untuk mendengar suara gonggongan ‘anak-anak’-nya. “Baiklah! karena kalian sudah memaafkanku, aku akan mengenalkan kalian pada dua hyung dan oppa ini!”

Gadis ini benar-benar tidak waras, pikir Yoongi dan Hoseok saat mereka bertukar pandang.

“Mereka adalah pangeran siput dan pangeran penakut! Mereka orang baik! Mereka yang akan mengurus kalian mulai hari ini! Oh ya, dan hari ini, hyung dan oppa ini membawakan makanan untuk kalian!! Jangan berebut, oke?! Setelah makan kalian bebas bermain di luar!”

Sena pun memberi isyarat pada Yoongi dan Hoseok untuk mulai melempari hewan-hewan yang sudah kelaparan itu dengan ayam mati. Dua blok di dekat pintu masuk masing-masing diberi 12 ayam mati, lalu dua blok di sisi kanan dan kiri diberi 20 ayam mati, blok yang belakang diberi 24 ayam mati. Suara gonggongan mulai mereda karena mereka sibuk dengan makanan masing-masing.

Yoongi dan Hoseok kembali ke sisi Sena dengan timba kosong. Hoseok sepertinya sudah tidak begitu takut lagi karena anjing-anjing itu tidak berisik. Sena melirik kedua pria di sebelahnya sambil tersenyum tipis, lalu mengambil 20 tali pengikat yang langsung ia serahkan ke tangan mereka, menggantikan timba itu.

“Apa ini?” tanya Yoongi sambil mengangkat tali pengikat panjang itu tinggi-tinggi. Dia memegang 10 tali.

“Jangan bilang kau ingin menyuruh kami untuk membawa mereka jalan-jalan,” duga Hoseok dengan tatapan ngeri.

“Yah tebakanmu tidak salah tapi kurang tepat, penakut. Kalian tahu, beberapa anjing di sini sedikit nakal. Mereka akan sangat mengganggu kalian kalau kalian tidak mengikat setengah dari mereka. Kaitkan talinya secara terpisah di tiap tiang pagar. Oh ya, dan untuk para Herder, usahakan sedikit berhati-hati, oke? Kalian ini termasuk orang asing bagi mereka, jadi usahakan mereka saja yang diikat,” ujar Sena panjang lebar sambil melenggang menuju pintu keluar.

Hoseok mengernyit melihat Sena yang akan membuka pintu kandang. “Hei hei, kau mau kemana?”

Yoongi pun mendongak untuk melihat Sena yang sudah melangkahkan satu kaki keluar.

“Aku akan mengembalikan ini dan melihat yang lain. Kenapa? Ada yang mau kalian tanyakan?”

“Jadi kau membiarkan kami sendirian di sini?” seru Yoongi.

“Kenapa? Kalian takut?” Sena tersenyum miring. “Hei mereka selain para Herder itu tidak akan menggigit. Mereka sudah jinak. Kalian hanya perlu mengikat para Herder saat kalian membersihkan kandang mereka. Biarkan mereka berlarian di luar kandangnya. Setelah ini, tugas kalian adalah mengajak mereka berkeliling di luar kandang. Kalau tidak ada pertanyaan lagi ya sudah. Kutinggal ya. semoga beruntung oppa-deul.”

BLAM!

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s