Swag Couple Series [#2 Intro Girl ver.]

kyaaak

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

#1 Intro Boy ver.

#2 Intro Girl ver.

“Min Yoonji!!!! Min Yoongi!!! Sampai kapan kalian akan terus tidur, hah?! Ini sudah hampir setengah delapan!!”

Maafkan eomma. Dia memang suka melakukan seriosa setiap pagi. Salahkan siapa dulu? Anak-anaknya gitu loh.

Aku dan kakakku, Min Yoongi, melepaskan pelukan satu sama lain lalu merenggangkan otot serenggang-renggangnya. Tidak perlu kaget. Kami memang suka tidur di satu ranjang yang sama. Bodo amat sama gunjingan orang. Yang menjalani juga kami, bukan mereka.

Kamar kami itu paling luas dari ruangan yang lain. Maklum, untuk dua orang. Ranjang ada di tengah-tengah, wilayahku yang serba mint ada di sisi kiri, wilayah kakakku yang serba hitam ada di sisi kanan. Sudah begitu ada dua pintu keluar lagi. Tinggal pilih saja. Kalau mau cepat ke kamar mandi lewat pintu mint. Kalau mau cepat ke dapur lewat pintu hitam. Praktis ‘kan? Kata kakakku sih, swag~~

Dengan rambut berantakan kami bersamaan pergi ke pintu mint. Kudorong kakakku yang sengaja menyikut dadaku sampai dia terbentur dinding. Rasakan itu, byuntae. Dan kakakku membalasnya dengan mencubit pinggangku. Hish, orang ini.

Lagi-lagi kami tak terpisahkan. Di kamar mandi, aku langsung pergi ke WC. Sedangkan dia menuju wastafel. Aman kok, kakak tidak akan mengintip karena dia tidak tertarik padaku. Katanya aku ini seperti laki-laki, punya dada kecil. Maka dari itu dia suka usil menyenggol dadaku, sialan. Nah dia sendiri tidak berkaca kalau dia itu seperti wanita. Lihatlah kakinya yang jauh lebih kecil dari SNSD. Itu yang namanya kaki namja?

Kami bergantian posisi. Aku menyikat gigi, dia pakai WC. Rukun sekali ‘kan kami ini?

Aku selesai duluan jadi aku kembali duluan ke kamar. Untuk apa lagi kalau bukan ganti baju. Jangan tanya kenapa aku tidak mandi. Air pagi di Korea itu dingin. Kalian mau tanggung jawab kalau aku mati? Kakakku juga sama saja.

Biar wangi, kusemprot tubuhku dengan body mist. Habis seperempat botol tiap hari bukan masalah. Aku bosan kalau satu botol tidak habis-habis sampai sebulan. Tidak seperti kakakku yang irit. Entah itu memang irit atau pelit, beda tipis sepertinya.

Setelah aku sudah terlihat cantik dengan seragam dan jepit tengkorak di kepala, aku pun pergi ke pintu hitam untuk sarapan. Sialnya kakakku mencari gara-gara lagi.

“Babi hijau sedang jalan-jalan ~~ hati-hati banyak batu nanti guling~~”

Kutendang pisangnya tanpa ampun sampai dia misuh-misuh. See? Kami rukun ‘kan? #evilsmile

Ayah dan ibu sudah tidak ada di rumah. Biasa, mereka ‘kan guru. Jadi sudah pasti berangkat pagi. Andai kata mereka mengajar di sekolah kami, mungkin setiap harinya kami akan berangkat semobil sekeluarga. Tapi sekolah tempat mereka mengajar bukan di SMA Bangtan. Huft … aku sedih saat menyadari kenyataan kalau aku harus berangkat dan pulang sekolah bersama kakak mesumku.

Seseorang memelukku dari belakang saat aku menuang jus jeruk dari botolnya. Tsk, jus jeruk itu akhirnya tumpah mengotori meja. Seseorang tertawa dari belakangku yang aku tahu pasti dia ini siapa. Memang siapa lagi orang di rumah selain aku dan si kaki SNSD itu?

Dia bukannya merasa bersalah dan minta maaf, malah tertawa-tawa sambil menggoyang-goyangkan badanku. Kalau saja aku tidak kasian padanya mungkin sisa jus jeruk di botol ini akan kusiram ke wajahnya. Tsk. Bersyukurlah karena aku adik yang baik, gula hitam.

“Ah lepaskan!” teriakku setelah bosan digoyang-goyang olehnya seperti adek bayi.

Aegyo dulu baru kulepaskan,” jawabnya sambil menyandarkan pipinya ke bahuku. Terlalu lama menyendiri membuatnya jadi begini. Oh please, aku itu punya namjachingu.

Itjana naega halmari isseo—”

“Gagal gagal! Wajahmu itu yang manis lah. Memangnya ada aegyo sedatar itu?”

Nan kungkeotto jisin kungkeotto~”

“Gagal. Ulang.”

Aku mengerang kesal. “Ah Oppaaaa~~ shireo!

“Aaaa~~ uri Yoonji kkaep-kkaep kkaepjjang!

Dasar gila, batinku saat dia dengan gemasnya menggoyang-goyangkanku lagi sambil menciumi leherku. Ampun … aku ini sudah 16 tahun ya, hanya beda setahun sama dia dan dia masih menganggapku seperti anak kecil. Tsh.

Kami sarapan bibimbap buatan eomma. Ini sudah sarapan sehari-hari kami. Terkadang kalau eomma sudah sangat terburu-buru, kami hanya diberi nasi dan ramen. Derita anak guru.

Selesai sarapan, kami pun berangkat naik taksi. Sudah hampir jam 8. Seperti biasa, kakakku akan memaksa ahjussi yang bawa taxi untuk melaju secepat mungkin. Jarak yang harusnya ditempuh sepuluh menit, tiga menit sudah sampai.

Enaknya menjadi adik ketua dewan ketertiban itu ini. Tidak akan kena marah kalau datang mepet dengan jam masuk. Karena yang jaga adalah anak-anak kelas tiga. Mereka sudah mengenalku sebagai adik Min Yoongi.

“Belajar yang rajin, Holly-a.” Aku memutar bola mata bosan karena dia dengan seenaknya memanggilku dengan nama anjingnya. That jerk. Mana dengan seenaknya dia mencubit pipiku di depan teman-temannya. Ya ampun .. inginku berkata kasar.

Sampai di kelas, seperti biasa, ramai sekali seperti pasar. Aku paling benci dengan keramaian. Apalagi mereka berbicara dengan bahasa alien yang tidak kumengerti.

Kuhela napasku saat kulihat Jooheon menari-nari memunggungiku mengikuti gaya Sistar. Jorok. Kenapa sih tarian pantat seperti itu harus eksis di dunia? Aku tak habis pikir kalau Hyorin dkk melakukannya.

“Menyingkir.”

Dia berhenti menari dan menoleh ke belakang.

Dia malah tertawa lebar memamerkan dua lesung pipinya yang menyebalkan. “Hai kucing~~”

Kucing katanya? Oke, aku memang suka kucing dan punya kucing putih di rumah yang belum kuberi nama. Tsk, mungkin sampai di rumah nanti aku akan memanggilnya Anti Jooheon saja. Tapi sebelum itu, rasakan dulu seranganku kalau kau tidak mau minggir.

“AW!”

Aku pun melewatinya dengan santai lalu duduk di kursiku. Yep. Aku duduk sendirian. Terima kasih pada kelas 2-10 yang total muridnya ganjil. Akhirnya aku bisa duduk sendirian tanpa harus memohon-mohon pada seonsaengnim.

Ngomong-ngomong … laci mejaku bersih sekali. Pasti mochi yang membersihkannya.

Dugaanku benar. Dia sekarang menatapku dengan senyumnya.

Jangan harap aku akan balik tersenyum. Justru kalau aku tidak membalas senyumannya, dia akan makin cinta padaku.

.

.

.

Kelompok Sastra Korea. Tanpa perlu sibuk kesana kemari mencari pasangan, pasanganku datang sendiri. Siapa lagi kalau bukan mochi? Aku hanya mengangguk saat dia menawarkan diri, dan membiarkan dia duduk di kursi kosong sebelahku.

Tugasnya adalah membuat puisi akrostik menggunakan nama satu sama lain. Ah, itu hal paling sulit yang kulakukan. Aku benci nama aslinya. Dia itu seperti sengaja ikut-ikut namaku. Namaku ada Min, dia juga ada. Namaku ada Ji, dia juga ada. Hanya Yoon dan Park saja yang beda.

Kulirik, dia justru mengerjakan tugas itu dengan mudah. Hm … aku curiga, sepertinya dia sudah pernah membuat puisi akrostik menggunakan namaku. Aku langsung berpaling ke bukuku, gigit jari memikirkan kalimat apa yang cocok untuk puisinya.

“Ng … Yoonji-a, bagaimana kalau Min punyaku di sambung dengan Min punyamu? Kita sama-sama punya Min dan Ji.”

Aku pun menoleh. Menatapnya. Apakah sekarang kau berdebar?

Yang ada aku sendiri yang berdebar. “Oke.”

Seperti ahli, dia mengajariku bagaimana membuat puisi. Baguslah. Berkelompok dengannya ternyata berguna juga. Hari ini dia memakai jam tangan ya? Hah, lucu sekali. Entah lucu entah goblok. Jam tangannya itu dua kali lipat terlihat lebih besar dari tangannya. Aih … boleh tidak kalau jarinya kucelupkan ke sambal ddeokbeokki dan kumakan?

Tugas akhirnya selesai. Sekarang saatnya menunggu bel berbunyi.

Aku tidak banyak bergerak kalau sudah duduk di samping mochi. Sempurna beku seperti batu. Aku hanya takut kalau nanti dia mencium aroma tubuhku yang sebenarnya dan tahu kalau aku ternyata tidak pernah mandi pagi. ‘Kan memalukan sekali. Pacar pula.

Yap, aku lupa memberitahu kalian kalau namjachingu-ku adalah Park Jimin. Ketua kelas yang berbadan mungil, tangan mungil, mata mungil, pokok semua mungil yang akhirnya mendorongku untuk memanggilnya mochi. Available to eat.

Tahu-tahu tangannya sudah ada di atas tanganku. Hm … kau mau bermesraan di sini, Tuan? Kutatap dia yang sedang melirikku. No sir, I won’t.

“…”

Dia mengatup rahangnya rapat-rapat setelah kakinya kuinjak. Good. Siapa suruh mengganggu singa betina, huh?

Dia menatapku memohon seolah mengatakan, “Aku ini pacarmu, Yoonji-a…. Bisakah kau sedikit lebih lunak padaku?”

Dan aku melipat kedua tangan di perut.

Tidak akan pernah, Sayang.

Aku tersenyum tipis melihat senyum getirnya.

I love him manhi manhi~~

TBC

Advertisements

One Reply to “Swag Couple Series [#2 Intro Girl ver.]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s