Lonely Whale

lonely-whale

ohnajla || dark, songfic || oneshoot || Teen

Kim Taehyung aka V BTS 

Jeon Somi I.O.I

Recommended song: BTS – Whalien

***

Asap berwarna abu-abu itu membumbung tinggi. Menghilang perlahan setelah tertiup oleh angin sore. Lenyap. Namun aromanya masih mampu dicium oleh manusia-manusia di sekitarnya. Dia tak tampak, namun dia ada.

Si penyendiri Kim Taehyung.

Bersama rokok yang dibelinya dengan sisa uang sakunya bulan ini, ia bersandar di dinding rooftop tersebut. Memandang lurus berusaha menembus langit yang kelabu. Berharap seseorang akan turun dari sana dan mengajaknya bicara.

Tapi sudah berjam-jam dia seperti itu, seseorang yang ditunggunya tak kunjung datang.

Ingin sekali dia mengumpat Tuhan.

Ah. Tidak.

Kenapa juga dia harus mengumpat Tuhan kalau percaya saja tidak.

.

.

Yeah, the most lonely creature in the world

(I’m a whale)

Do you want to know my story?

I never told this to anybody

Yeah c’mon

.

.

BIP BIP

Diambilnya benda kotak yang baru saja berbunyi itu dari dalam saku.

Bit*h

Dilepaskannya batang rokok yang menyala dari mulutnya, sementara ibu jarinya sibuk di atas layar benda kotak itu.

Kau membolos lagi hari ini? Apa kau sudah bosan hidup, Kim Taehyung?! Sudah kubilang sekolah ya sekolah! Mau jadi apa kau nanti kalau terus membolos, huh?! Sekarang juga pulang!

Tanpa merasa perlu membalasnya dia langsung meletakkan benda kotak dalam keadaan terbalik itu ke atas tasnya.

Oh yeah … duduk sambil merokok di sini bukankah ide yang bagus?

Bahkan hanya bertemankan sampah-sampah plastik di sekitarnya dia sudah merasa tidak kesepian lagi.

Asap abu-abu kembali membumbung tinggi. Kini berbentuk cincin-cincin. Bibirnya yang padat itu menyeringai melihat asap-asap itu.

“Menikahlah denganku, angin,” gumamnya sambil mengulurkan tangan kanannya ke depan, lantas mengepal pelan.

Kini angin berhembus cukup kencang hingga mampu menerbangkan sampah-sampah plastik di dekatnya, dan dia hanya memejam sambil tersenyum.

Arasseo, kita resmi menikah sekarang.”

“EUP!”

Mendengar suara lain di sini, otomatis ia pun langsung menoleh. Tak jauh dari tempatnya sekarang, berdirilah seorang gadis berseragam sekolah –yang beda dengan seragamnya- sedang membungkam mulut dengan mata membola.

Terkejut mendapati orang lain yang datang ke sini, ia pun segera berdiri tanpa mematikan rokoknya terlebih dulu. “Siapa kau?”

Gadis berambut kecokelatan itu perlahan menurunkan tangannya. Ditatapnya Taehyung takut-takut. “Aku … aku … aku Jeon Somi.”

“Bagaimana kau bisa sampai di sini?”

“I-itu … itu—” Gadis yang mengaku Somi itu tampaknya sedang menyugesti dirinya untuk lebih berani. Ia pun menatap Taehyung dengan mantap seolah baru mendapat kekuatan baru. “Harusnya aku yang tanyakan itu padamu? Kenapa kau bisa ada di situ, huh? Itu markasku.”

Taehyung melirik tempatnya duduk barusan, lalu kembali lagi menatap gadis itu. “Setiap hari aku di sini dan tidak ada siapa pun lagi yang datang kemari selama ini.”

Somi melipat kedua lengannya dengan angkuh meskipun sebenarnya dia agak takut melihat lebam-lebam di wajah Taehyung begitu pula rokok yang dipegang laki-laki itu.

“Aku memang tidak pernah datang di jam-jam seperti ini. Tapi karena hari ini aku harus ikut ekskul cheers yang menyebalkan itu terpaksa aku baru datang sekarang.”

Entah alasan itu penting atau tidak, Somi tidak peduli. Yang penting tempat itu markasnya, dia datang lebih lambat dari jam biasa karena cheers, dan cheers itu sangat menyebalkan.

Taehyung melempar rokoknya ke bawah lalu menginjaknya sampai nyawa rokok itu tamat. Sekarang dia sudah tak berselera lagi gara-gara gadis SMP itu.

“Kau tahu siapa aku?”

“Kenapa juga aku harus tahu?” balas Somi sewot.

Taehyung menyeringai lalu mendongak. Dari matanya, terpancar rasa kesepian yang mendalam. Somi menyadari itu, tapi dia berusaha tak acuh. Urusan dia bersama laki-laki itu hanyalah ‘kembalikan wilayahku’.

“Aku ini Whalien.”

Somi mengernyit. “Maksudnya?”

Laki-laki itu mulai mengambil langkah maju, Somi mengambil langkah mundur.

“Kau tahu siapa yang paling kesepian di dunia ini?”

.

“Jawabannya adalah seekor paus berfrekuensi 52 Hertz.”

.

“Mau sekeras apa pun dia berteriak, dia tetap akan terus sendirian sampai kiamat. Paus lain tak mendengarnya, paus lain juga tak mengerti dia. Si 52 Hertz sempat berpikir, ‘akankah mereka mengingatku kalau seandainya aku mati?’. Sayangnya, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk bunuh diri. Dia mencoba segala cara untuk berbicara pada paus yang lain tapi … sebesar apa pun usahanya dia tak akan mampu. Mereka, para paus-paus itu, seolah memberinya dinding sehingga dia pun makin kesepian. Akhirnya dia memutuskan untuk berenang sendirian sembari bernyanyi.”

Punggung Somi terantuk sesuatu yang ternyata adalah pintu keluar. Sementara Taehyung masih terus mendekat padanya sampai ujung sepatu mereka saling bersinggungan.

“Harapannya 52 Hertz hanya satu. ‘Kuharap sinyalku ini mampu didengar oleh seseorang’. ‘Aku tak peduli dia berasal dari belahan dunia mana’. ‘Aku tak peduli entah dia buta atau cacat’. ‘Aku hanya ingin terus hidup dan bernyanyi selagi aku bisa’.”

Somi masih menatap Taehyung tak mengerti. Sebenarnya apa yang diocehkan laki-laki ini? Tiba-tiba saja membicarakan tentang paus kesepian dan menyudutkannya seperti yang ada di drama-drama.

Melihat ekspresi itu saja Taehyung sudah mengerti apa yang dipikirkan Somi sekarang. Dia tersenyum lagi. Senyum penuh kepedihan. Yah … sekali kesepian selamanya akan kesepian. Sekali alien seterusnya juga akan menjadi alien.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi ia pun menarik Somi untuk menyingkir dari pintu itu dan beranjak melewati ambang. BRAK! Pintu pun dibanting.

Menyisakan Somi sendirian yang tengah berusaha mencerna semua yang barusan didengarnya.

Sekali lagi dia melihat pintu yang sudah tertutup.

Ah, orang aneh. Kenapa juga harus dia pikirkan?

Menggendikkan bahu, ia pun berbalik dan pergi ke spot markasnya. Tak sengaja dia menemukan sebuah tas berwarna hitam yang tergeletak di sana dengan ponsel di atasnya.

Pasti itu milik laki-laki SMA tadi.

Penasaran, ia pun berjongkok untuk melihat ponsel berjenis Iphone 7 Jet Black tersebut.

Matanya melebar melihat layar yang sedang menyala. Tertanda bahwa beberapa pesan baru saja masuk.

Karena ponsel itu tidak dikunci, ia pun bisa dengan mudah membuka pesan-pesan tersebut.

Semuanya berasal dari satu kontak yang sama.

Bit*h

   Di mana kau sekarang, Kim Taehyung?!

   Kalau sampai pukul 7 malam kau tidak akan segera datang, kakakmulah yang akan menerima hukumannya!

   Yaa! Kau berniat kabur dari acara pertunanganmu?!

   Bukannya sudah kuperingatkan kalau kau harus menerima pertunangan ini?! Kau lebih memilih egomu sendiri atau kakakmu, huh?!

   Angkat teleponku, bajingan!

Somi sudah tak kuat lagi membacanya. Dia langsung keluar dari aplikasi pesan dan mematikan lampu layar ponsel itu. Mau tak mau hari ini dia harus merelakan waktu bersantainya untuk mengembalikan barang-barang tersebut pada sang pemilik.

Ia pun membuka tas itu—

Betapa terkejutnya dia melihat berbotol-botol soju dan beer di dalamnya, belum ditambah dengan satu box rokok dan plastik-plastik kecil berisi obat-obatan terlarang.

Ia benar-benar tak habis pikir.

“Bukankah dia juga masih haksaeng? Kenapa isi tasnya penuh dengan barang-barang seperti ini?”

Tiba-tiba dia teringat lagi ucapan laki-laki itu.

“… Si 52 Hertz sempat berpikir, ‘akankah mereka mengingatku kalau seandainya aku mati?’. Sayangnya, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk bunuh diri….”

Sial. Jadi maksudnya paus yang diceritakan itu adalah dia? Dia yang kesepian, yang tak dimengerti siapa pun, yang mencoba untuk bunuh diri….

Tanpa pikir panjang Somi langsung memasukkan ponsel itu ke dalam tas tersebut lalu ia pun berlarian keluar dari pintu yang dilewati laki-laki tadi sembari membawa serta tas itu.

Berbekal insting, Somi berlarian menuju jalan yang sekiranya dilewati oleh laki-laki tadi. Tubuhnya terlalu kecil untuk bisa mengangkat dua tas sekaligus. Apalagi tas milik Taehyung berat sekali karena botol-botol di dalamnya.

Baru setengah jalan, dia berhenti di dekat tong sampah untuk membuang botol-botol, kaleng-kaleng dan rokok di dalam tas itu. Nah, begini baru ringan. Kemudian dia pun kembali berlari.

Dunia takkan pernah tahu betapa sedihnya aku

Rasa sakitku ibarat air dan minyak yang tak bisa bersatu

Jadi kau hanya melihat permukaan air dimana aku bernafas,

Lalu ketertarikanmu terhadapku berhenti,

Aku hanyalah seorang bocah kesepian di samudera

Larinya perlahan melambat begitu dia mendapati sosok yang dicarinya sedang berdiri di tepi jalan. Ia pun mengatur napasnya yang terburu-buru karena berlari tadi. Setelah itu dia pun berjalan lagi menghampiri laki-laki itu.

“Hei kau—”

Tenggorokannya mendadak tercekat begitu dilihatnya laki-laki itu berjalan menyeberangi jalan saat dari arah yang berlawanan dengannya muncul sebuah mobil Jeep dengan kecepatan tinggi. Ia pun melihat laki-laki itu dan mobil bergantian.

“Hei!! Minggir dari sana! Ada mobil!!” teriaknya sampai urat-urat muncul di lehernya.

Laki-laki itu mendengarnya dan ia pun berbalik. Dilihatnya Somi yang terus berteriak-teriak seperti orang kesetanan sambil menunjuk-nunjuk mobil Jeep yang sedang berjalan kearahnya.

“HEI!!! CEPAT MENYINGKIR DARI SANA!!!”

Taehyung bukannya segera pergi seperti yang disuruh, yang ada dia justru tersenyum.

Melihat senyum itu Somi sempat tertegun untuk beberapa sekon sebelum—

CKIIIIT!! BRAK!

“Mana Kim Taehyung?!”

“Ah maaf, sepertinya dia sulit dihu—”

“Argh! Aku tak mau tahu. Sekalinya perjanjian tetaplah perjanjian. Kalau dia tidak datang sekarang, berarti perjanjian kita waktu itu batal, Nyonya Jung.”

“Tapi Nyonya Lee! Saya yakin Taehyung akan datang jadi, bisakah tunggu sebentar lagi?”

“Sebentar lagi?! Ini sudah lewat tiga jam dari perjanjian! Mau menunggu sampai kapan saya di sini, huh?!”

“Tapi Nyonya Lee—”

“Lee Seyoung, ayo kita pulang sekarang. Pertunangan hari ini batal. Aku tak akan membiarkanmu bertunangan dengan anak yang berdisiplin saja tidak bisa.”

“Tapi eomma—”

“Sudah jangan membantah! Aku tidak mau memberikan sahamku pada perusahaan keluarga yang hina itu! Sudah ayahnya sakit-sakitan, anak laki-lakinya tidak bisa berdisiplin, anak perempuannya yang hanya tidur dengan laki-laki. Tch. Lupakan anak sepertinya, Seyoung-a. Dari awal aku memang tidak mau berurusan dengan keluarga ini. Termasuk mantan narapidana calon ibu mertuamu itu.”

——

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s