Swag Couple Series [#3 Want You More]

swag-couple-series1

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

#1 Intro Boy ver.

#2 Intro Girl ver.

#3 Want You More

Weekend kemarin sebenarnya Yoonji dan Jimin pergi kencan. Yah … kencan anak-anak. Mereka sudah sepakat bertemu di sungai Han pukul 9 pagi. Tapi karena Yoonji yang dari sononya memang sulit sekali dibangunkan –persis seperti kakaknya, dia akhirnya datang pukul 12 siang.

Jimin sudah sekarat.

Bukannya minta maaf, Yoonji malah menggaruk kepala belakangnya sambil pasang wajah jutek seperti kucing.

“Aku sudah setel alarm jam 9 tapi telingaku sepertinya bermasalah. Si mesum juga tidak membangunkanku, dia lebih parah masih tidur sampai sekarang.”

Jimin yang sudah duduk di kursi itu selama tiga jam lebih ternyata sudah menghabiskan lima gelas bubble tea. Ya ampun … kalau saja bukan karena cinta dia tidak akan mau menunggu sampai karatan seperti ini.

Laki-laki itu menghela napas, lalu bangkit. Dia meraih tangan Yoonji dan tersenyum. “Tapi kau mandi ‘kan?”

Yoonji hanya mengangguk.

Jimin tersenyum. “Ya sudah, ayo. Aku sudah beli tiket tadi, tapi sepertinya filmnya sudah selesai. Kita beli tiket lagi.”

Hm … sudah dibuat menunggu lama, sudah dibuat menghamburkan banyak uang, Jimin tetap saja sebaik ini. Atau jangan-jangan dia yang memang sudah kelewatan? Ah molla. Datang pukul 12 saja sudah jauh lebih baik.

.

.

Nuna yang menjaga loket tiket terkejut saat melihatku lagi. Yeah … kami sudah bertemu tadi saat aku membeli tiket untuk film pukul 9. Dia memberiku tatapan penuh tanya dan hanya kubalas dengan tersenyum. Menyadari kucing cantik di sampingku, nuna itu tertawa.

Gwaenchana, itu sudah biasa dalam kencan.”

Aku yakin nuna bicara begitu untuk menyemangatiku. Tapi aku lebih yakin lagi kalau nuna itu belum pernah berkencan. Dia selalu jaga loket tiket setiap weekend.

Kali ini kubiarkan Yoonji yang memilih filmnya. Kupikir dia akan memilih film romantis, eh ternyata thiller. Ya sudahlah. Kalau memang maunya begitu aku bisa apa?

Sambil membawa satu kotak popcorn besar dan dua gelas cola, kami pun masuk ke dalam ruang tempat film itu diputar. Kuajak dia duduk di barisan paling belakang.

Aigoo … apa kalian tidak tahu pikiran namja seusiaku? Hehe #evilsmile

Dia hanya menurut tanpa banyak protes. Kucing cantik yang baik.

Thiller itu film yang penuh dengan ketegangan. Anehnya aku biasa-biasa saja melihat filmnya.

Saking terbiasanya menonton drama romansa gara-gara adik perempuanku, Park Jihyun. Aku malah tidak tertarik dengan film-film seperti ini.

Kulirik gadis cantik di sampingku. Tch, lihatlah bedaknya itu. Tidak rata sama sekali. Pasti dia terburu-buru sampai tidak menyadari kalau wajahnya jadi setengah belang karena bedak yang tidak rata.

Aigoo … cerobohnya.

Untung, pacarnya itu aku.

Kalau orang lain, mungkin dia akan dikritik habis-habisan.

Aku pun mendekatkan wajahku padanya…

CHU~

Dia menoleh padaku dengan wajah garang.

Tenang, sayang ~ Tidak ada orang yang lihat karena kita duduk di pojok belakang.

Dia yang mengerti maksud tatapanku langsung berpaling kembali ke layar bioskop.

Pffft. Pipinya merah. Gwiyeowo~

.

.

Aku lebih suka film thiller. Salahkan kakak mesumku yang sudah membuat kepribadianku menjadi sebegini anehnya. Kurasa Jimin akan lebih memilih film romance, aku tahu, dia itu memang laki-laki yang romantis seperti di drama-drama. Seolah dia memang keluar dari drama

Aku ingin makan popcorn dari kotak yang besar. Dan Jimin dengan entengnya membelikan itu. Harusnya dia beli dua karena aku berencana untuk menguasai popcorn itu sendiri. Tapi dia hanya beli satu. Uang di dompetnya tinggal sedikit.

Hm … pasti karena terlalu banyak beli bubble tea.

Aku berharap saja semoga dia tidak kena diabetes suatu hari nanti.

Tidak lucu ‘kan kalau aku menikah dengan penderita diabetes?

Ngomong-ngomong, aku ini memang ingin sekali menikah dengannya.

Aneh ya? Sudah biasa.

Jimin mengajakku duduk di kursi paling belakang, ya sudah aku menurut. Toh aku juga lebih suka kalau berada di paling belakang apalagi pojok. Ingat? Aku ini tidak suka keramaian.

Film thiller yang kutunggu-tunggu akhirnya dimulai. Bukan pure film thiller sebenarnya. Ada unsur horor, psyco dll karena memang thiller selalu berkaitan dengan hal-hal gelap seperti itu. Aku tidak pernah bereaksi setiap kali melihat film bergenre seperti itu.

Dulu … sewaktu aku masih SD kelas 6 dan kakak sudah kelas 1 SMP, dia mengajakku menonton film thiller yang berhasil dia curi dari laptop ayah. Nappeun oppa. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya ikut menonton dan yah … akhirnya aku tumbuh menjadi gadis aneh seperti ini.

Aku diasuh kakak sejak kecil, meskipun usia kami hanya beda satu tahun. Itu semua karena orangtua kami adalah guru yang harus berangkat pagi dan pulang malam. Dia, Yoongi, bisa melakukan banyak hal untuk memenuhi semua kebutuhanku. Dia pintar membuat sesuatu. Seperti membuat susu, membuat sarapan, membuat makan siang dan malam, membuat boneka, membuat ikat rambut, pokok semua hal bisa dia lakukan. Terkecuali buat anak yang pasti.

Jadi, aku tumbuh menjadi Min Yoonji berumur 16 tahun ini karena kakak.

Aku lebih nyaman tidur bersamanya daripada bersama eomma atau appa karena saat aku kecil, aku pernah menangis semalaman dan hanya mau berhenti setelah dipeluk kakak. Dan itu berlanjut sampai sekarang. See? Tidak aneh ‘kan kenapa kami tetap seranjang sampai sekarang?

Bahkan, seseorang yang membantuku saat hari pertamaku menstruasi adalah dia.

Kurang apa lagi seorang Min Yoongi untuk menjadi kakakku? Dia—

CHU~

Semua lamunanku langsung terbang pergi karena kecupan tiba-tiba di pipiku. Kutolehkan kepalaku dan menatap galak mochi yang seenaknya mencium pipi orang saat sedang melamun.

Dia balas menatapku seolah mengatakan, “Tenang, sayang ~ Tidak ada orang yang lihat karena kita duduk di pojok belakang.”

Ugh … jadi itu alasan kenapa dia mengajakku duduk di belakang.

Dasar pencari kesempatan.

Sialnya kenapa aku suka sekali?

Ugh….

.

.

Usai dari bioskop, mereka berdua memutuskan untuk jalan-jalan saja di pinggiran Sungai Han. Sekarang sudah nyaris pukul 3, tapi matahari masih terik-teriknya. Yoonji yang tidak kuat panas langsung berkeringat dan wajahnya menjadi merah. Menyadari itu, Jimin memberikan topinya pada Yoonji.

“Alergi panas, um?” tanyanya lembut.

Yoonji hanya menatapnya. Tapi dalam hati dia sangat berterima kasih pada topi yang diberikan laki-laki itu.

Jimin mengajaknya berhenti di bawah pohon besar. Nah, ini baru teduh.

Yoonji mengeluarkan sebuah kipas angin kecil dari tasnya. Itu adalah pemberian kakaknya sebagai kado ulangtahun. Di saat-saat seperti ini benda itu akan sangat berguna. Dia yang alergi panas memang lebih cocok mendapat benda seperti ini sebagai kado ulangtahun.

Sampai-sampai dia tidak sadar kalau topinya Jimin masih dia pakai.

.

.

Aku tersenyum tipis. Gadisku ini memang pelupa atau bagaimana? Kenapa dia tidak lepas dulu topinya? Aku yakin kepalanya sekarang sudah penuh dengan keringat.

Akhirnya kulepaskan topi itu dari kepalanya. Benar saja, rambutnya basah.

“Keringatmu sebesar jagung,” celetukku yang langsung membuatnya menatapku.

Aigoo … cantiknya.

Dia tanpa ragu menyibak rambutnya dari depan ke belakang. Sampai-sampai poninya terangkat dan memperlihatkan dahinya yang … woah … mulus sekali.

Melihatnya seperti ini justru makin membuatnya penuh kharisma. Tidak ada yang lebih keren dari wajah berkeringat seorang Min Yoonji.

Kau membuatku makin menginginkanmu.

Eh iya sih, dia ‘kan sudah menjadi milikku.

Ah tidak tidak. Tidak sepenuhnya.

Karena kakaknya yang super protektif dan swag tiba-tiba mengganggu acara kencan kami.

.

.

Nama kontak kakakku terlihat di layar ponsel. Orang ini, pasti dia baru bangun tidur.

“Hm?”

“Neo eodiga?”

“Di Sungai Han, wae?”

“Sedang apa ke sana?!”

Ish, kenapa tanya lagi sih? Bukannya kemarin sudah kuberitahu. “Kencan. Kau ini baru bangun tidur ya?”

Eo. Kenapa kau tidak bangunkan aku sejak tadi, um?”

Aku memutar bola mataku kesal. Perasaan sudah kubangunkan deh. Sudah kupukul dengan boneka kumamonnya tapi dia sama sekali tidak bereaksi seperti mayat.

“Kenapa menelepon?”

“Jangan pulang malam-malam.”

Arasseo.”

“Kalau bisa beli chicken di jalan nanti. Akan kuganti uangnya.”

Ne.

“Ya sudah. Jangan melakukan yang aneh-aneh bersama Park Jimin, eo? Kau harus pulang, mengerti?”

Arasseo arasseo. Sudah ya, bai.”

KLIK.

Kuusap layar ponselku sampai menampilkan wallpaper-ku yang berupa selca pertamaku dengan Jimin.

Seseorang memelukku dari samping saat aku akan mengunci ponsel. Park Jimin. Sial, dia melihat wallpaper-ku.

“Wah … wallpaper kita sama. Kau suka ya dengan foto itu?”

Aku pun berdehem sambil memasukkan ponsel ke dalam tas. Bahu kiriku mendadak berat karena Jimin meletakkan kepalanya di sana. Astaga, berat sekali gils.

“Nanti akan kuganti,” balasku bohong.

Realistis saja. Untuk apa aku mengganti wallpaper-ku dengan gambar lain kalau foto di galeriku hanya ada foto itu, foto-fotonya dan foto kakakku.

Aku ini bukan tipikal gadis yang suka berselca ria dengan berbagai bentuk mulut.

Suhu tubuhku makin tinggi karena pelukannya. Ya ampun … aku sudah kepanasan dan dia membuatku semakin panas. Salah sendiri dia hot.

Lagi-lagi dia mengambil kesempatan mencium pipiku. Oh please, wajahku sedang pesta keringat sekarang.

“Masa ke pacar sendiri galak seperti itu?”

Aku suka suaranya.

“Cium aku juga, Sayang~”

Dasar anjing kecil.

Banyak orang yang melihat kami dengan berbagai macam arti tatapan. Pasti gara-gara Jimin. Kalau saja mochi tidak memelukku di sini dan bermanja-manja di sini, mungkin kami tidak akan menjadi sorot perhatian.

Aku tidak suka dipandang seperti itu.

Tapi di sini aku tidak sendirian.

Ya sudah. Sudah terlanjur menyelam, kenapa tidak sekalian minum air saja?

Chu~

Maafkan aku yang tidak romantis. Aku tak bisa menjangkau pipinya dan hanya bisa menjangkau dahinya. Salah sendiri, kenapa dahinya semenggoda itu.

Tsk, aku menginginkannya manhi manhi~

TBC

Advertisements

One Reply to “Swag Couple Series [#3 Want You More]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s