Freak Hwarang #4

wallpaper3

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

Keluar dari kandang wolfdog, pemandangan mengesalkan langsung terlihat dari dua kandang hewan besar berkaki empat yang ada di kanan kiri tempatnya berdiri sekarang. Si bungsu dan Namjoon yang dipanggilnya monster benar-benar payah dalam mengurus kandang. Lihatlah, si bungsu justru dengan santainya duduk di punggung kuda putih kesayangannya, sementara di sisi lain Namjoon malah menepuk-nepuk perut gendut sapi perahnya.

BRAK!

Timba berukuran besar yang dipegangnya itu sengaja dia banting ke tanah hingga menimbulkan bunyi nyaring. Dua pria di sana langsung menoleh. Jungkook buru-buru turun dari punggung kuda, Namjoon segera mengambil selang air dan berpura-pura membasahi tubuh sapi perahnya.

“Apa yang sedang kau lakukan di atas punggung Tori, huh?” serunya pada Jungkook sembari bersungut-sungut menghampiri pria yang sedang berdiri ketakutan itu.

“A-aku sedang ingin mencoba menunggang kuda.”

Sena meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Oh … begitu? Lalu bagaimana rasanya menunggang kuda?”

Jungkook langsung mendongak, menunjukkan matanya yang bulat dengan ekspresi ceria khas anak kecil. “Wah … keren sekali. Rasanya … rasanya hebat! Apakah aku boleh berjalan-jalan dengannya?”

Gadis itu menghela napas. “Bodoh” gumamnya.

“Ya?”

Ia menggeleng. “Tidak, bukan apa-apa. Dengar bungsu, di sini kau itu kusuruh untuk membersihkan kandang. Tahu artinya membersihkan kandang?” Ia pun berbalik, meraih sebuah pembersih lantai dengan pegangan kayu. Lalu kembali menghadap Jungkook sambil menyerahkan benda itu. “Pegang ini, arahkan kotorannya ke sebelah sana.”

Pria itu meraih benda tersebut ragu-ragu. “Bagaimana caranya?”

Lagi-lagi Sena menghela napas. Niatnya ingin mencuci timba besar lalu pergi menemui Taehyung dan Jimin, malah terdampar kemari untuk mengajari si bungsu polos tentang bagaimana caranya membersihkan kotoran kuda. Untungnya si bungsu belajar dengan baik, setelah menurutnya beres, ia pun pergi ke kandang sapi untuk melihat sejauh mana pekerjaan yang sudah dilakukan Namjoon.

“A-aku tidak tahu bagaimana memerah susunya.” Entah bagaimana wajah pria itu memerah. “Bukannya itu bagian perempuan ya?”

BLETAK!

Sena langsung menarik Namjoon untuk mendekati sapi betina warna hitam dan putih yang berdiri di paling ujung. Sapi yang diberi nama Debi itu hanya melirik mereka dengan wajah datar.

Gadis itu tampak sedang membisikkan sesuatu pada telinga kiri Debi. Namjoon memperhatikan sambil sesekali melirik ambing Debi yang bergerak-gerak. Gadis itu pun beranjak ke bagian belakang kandang untuk mengambil tali. Diperhatikannya Sena yang sedang mengikat sapi itu pada tiang penopang. Setelah beres, gadis itu berlarian ke pondok. Cukup lama Namjoon menunggu sampai gadis itu kembali dengan sebuah ember berisi air mengepul yang berwarna kebiruan. Entahlah air apa itu, tapi dari baunya Namjoon berpikir kalau itu adalah air sabun. Air itu digunakan untuk membersihkan puting sapi. Ia begitu telaten. Sayangnya Namjoon justru berpikiran yang tidak-tidak soal bagian itu.

Tahu-tahu Sena sudah menariknya untuk berjongkok di sebelah gadis itu yang akan bersiap untuk memerah susu.

“Tetap di sini dan perhatikan aku,” ujarnya sebelum memulai kegiatan.

Sena menjelaskan tentang bagaimana tips yang tepat untuk mengeluarkan susu. Dia terus mengoceh sambil memerah susu Debi. Namjoon memang tampak mendengarkan dengan baik, tapi terkadang dia teringat hal-hal dalam adegan film dewasa. Dia akan menggeleng cepat saat teringat hal seperti itu. Dahinya mengernyit ketika Sena terus memerah sapi meski 10 menit sudah berlalu.

“Hei, apakah masih lama? Kakiku sudah kesemutan.”

“Ini baru dua bagian, dua bagian lain masih belum. Biasanya aku menyelesaikan ini dalam tigapuluh menit.”

Namjoon membelalak. “Tigapuluh menit? Kau menyuruhku untuk melakukannya selama itu? sambil berjongkok? Yang benar saja. Tidak adakah cara yang lebih praktis? Mesin mungkin?”

“Ada sebenarnya. Tapi Debi tidak pernah sekalipun menggunakan mesin. Lagipula kau ini masih junior. Kau perlu belajar cara memerah sapi secara manual.”

“Meskipun aku belajar, itu tidak akan berguna kalau aku kembali ke istana.”

“Kalau begitu beli saja sapi susu dan ternakkan di istana.”

Namjoon memutar bola mata malas. “Pangeran tidak perlu melakukan itu.”

“Itulah kenapa kalian menjadi pria-pria yang sangat manja.”

“Hei hei, bisakah kau gunakan kata lain yang lebih bagus? Seperti … mewah? Kami ini hidup sangat berkecukupan. Kami tidak perlu melakukan hal-hal sulit sendiri karena banyak orang yang akan melakukannya untuk kami. Ini disebut mewah, bukan manja.”

“Dan sekarang, siapa yang akan membantumu melakukan hal-hal sulit itu? Apakah kata mewah cocok untuk menggambarkan kalian sekarang?”

Pria itu mendengus. Sedikit kesal karena harus membenarkan kata-kata Sena. “Intinya kami tidak manja hanya-”

“Tidak mampu,” sambung Sena cepat. “Kalian bukan manja, hanya tidak mampu. Seperti ilmuwan jenius yang hanya pintar teori tapi tidak bisa mempraktekkannya secara langsung.”

“Ah hentikan! Aku sudah muak membicarakan ini.”

“Kalau begitu cepat ambil timba kosong di sebelah sana. Timba ini sudah hampir penuh.”

Selesai dengan Namjoon, Sena menyempatkan diri pergi ke kandang ayam untuk melihat sejauh mana si sulung mengerjakan tugasnya. Dari luar, dia tidak mendengarkan suara apa pun. Dia tersenyum karena menganggap Seokjin pasti mengerjakan tugasnya dengan baik. Tapi ketika pintu terbuka dan matanya tertuju pada sosok itu, senyumnya pun mendadak hilang.

Harus dia percayai bahwa apa yang di depannya ini adalah nyata. Pria itu … pria itu sedang berbicara dengan seekor anak ayam.

“…kau lucu sekali. Siapa namamu, huh? Apa kau sudah punya nama? Atau belum seperti yang lain? Kalau begitu … mau tidak kalau oppa ini memberimu nama? Eung … kita lihat … nama yang bagus untukmu itu … um … um … Sena? kekekeke, itu nama yang bagus ‘kan? Rambutmu jabrik sama seperti gadis Tarzan itu. Dan kau sama cerewetnya seperti di….” Tak sengaja mata mereka saling bertemu. Mengerjap-ngerjap sebentar, lalu ia tersenyum lebar. “…a. Hehe, Sena ada di sini rupanya.”

BUG! BUG! DUAG! BRAK!

*maaf adegan disensor*

5 menit kemudian.

Sena mengusap peluhnya yang sudah menganak sungai di wajah. Lantas berkacang pinggang di hadapan Seokjin yang sudah babak belur. Ia pun menghela napas.

“Aku menyuruhmu kemari bukan untuk menamai anak-anak ayam. Kau harus membersihkan kandang, mengambil semua telor, memberi mereka makan.”

Seokjin memegangi pipinya yang bengkak akibat pukulan pamungkas Sena. “Tapi mereka semua lucu. Aku hanya ingin membantumu menamai mereka.”

“Aku tidak butuh bantuanmu untuk urusan bodoh seperti itu!!” Dada Sena tampak naik turun. Ia mengerang kesal, lalu menghembuskan napas panjang. “Rasanya aku bisa gila.”

“Kau memang sudah gila.”

“Itu karena kalian! Aku gila karena kalian! Sekarang cepat laksanakan tugasmu. Awas kalau kau berani-beraninya menyentuh anak-anak ayam itu lagi.”

Ne.”

Gadis itu menyentakkan kaki lantas keluar dari kandang tersebut. Dia tidak tahu kalau Seokjin mengejeknya dari belakang. Dasar Tarzan.

Mood Sena cukup buruk hari ini tapi begitu melihat situasi di kandang biri-biri, sesuatu yang membebani pikirannya pun lenyap meski sedikit. Sambil menenteng timba besar kosong bekas ayam mati, ia pun melompat masuk ke dalam kandang yang paling terbuka itu, menghampiri Taehyung dan Jimin yang tengah bekerja keras mengumpulkan kotoran.

“Kerja bagus, egois, kue beras,” pekiknya sambil mengusap-usap bulu seekor domba yang berdiri di dekatnya.

Taehyung menjadi orang pertama yang menoleh. “Kau bicara dengan siapa, huh?”

“Tentu saja kalian, memangnya mereka?” sewot Sena sambil menunjuk kelompok kambing dan domba yang sedang terpusat di sudut timur kandang. Hanya di sana rumput yang masih hijau dan banyak.

“Aku ini punya nama. Namaku Kim Taehyung, pangeran ke-6. Jangan seenaknya mengganti nama orang.”

Sena menggendikkan bahu. Dia menepuk-nepuk domba itu untuk segera enyah dari pandangannya.

“Kami sudah selesai mengumpulkan kotorannya. Apa lagi yang harus kami lakukan?” tanya Jimin yang kini sedang mengikat karung yang sudah terisi setengahnya.

Sena memandang sekitar, lebih tepatnya pada kawanan domba. “Kalian lihat, total domba di sini ada sepuluh. Lima dari mereka baru saja kucukur kemarin lusa, dan lima sisanya belum. Tugas kalian adalah mencukur bulu-bulu dari sisa domba yang ada. Hati-hati, eo? Kalian tidak boleh melukainya sedikitpun.”

“Mencukur? Maksudmu seperti mencukur kumis?” celetuk Jimin asal.

“Berarti sebelumnya juga harus mengoleskan krim,” sambung Taehyung.

“Yang benar saja.” Jimin terkekeh. “Kau saja yang oleskan bagian ekornya.”

“Sinting,” desis Taehyung.

Sena menggeleng pelan. “Sepertinya tidak usah saja.”

Wae?” tanya Taehyung dan Jimin bersamaan.

“Aku tidak percaya pada kalian,” ujarnya sambil melompat pagar pembatas, berjalan menuju gudang penyimpanan.

“Lalu apa yang harus kami lakukan di sini?!” pekik Jimin.

Sena berbalik. “Bersiaplah! Sebentar lagi kita akan melatih para serigala!”

Dahi Taehyung mengerut. “Melatih serigala? Dia sedang mengocehkan apa sebenarnya?”

“Hei, kau lupa? Di sebelah sana ada kandang serigala. Barusan aku mendengar suara lolongan mereka.”

Bulu kuduk Taehyung langsung meremang, ia mengusapnya sambil menggigil. “Yang benar saja. Kurasa dia ingin menjadikan kita tumbal.”

“Ey, jaga bicaramu. Mana mungkin dia menjadikan pangeran seperti kita menjadi makanan hewan? Sudahlah, ayo bersiap.”

“Itu bisa saja terjadi. Dia itu gadis gila, dia sudah terinfeksi virus ebola.”

Jimin menggeleng pelan. Ebola? Yang benar saja.

Menjelang siang, lima pangeran telah berkumpul di depan kandang wolfdog. Mereka sudah mengganti pakaian dengan yang lebih layak –karena pakaian yang sebelumnya sudah banyak yang kotor karena kotoran. Sena sudah memegang gagang pintu, bersiap untuk membukanya.

“Kenapa kami harus membawa hal-hal remeh seperti ini?” Taehyung mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang piring terbang plastik dan sebuah bola tenis.

“Tentu saja untuk bermain dengan ‘anak-anakku’,” balas Sena enteng.

“Anak-anak?” Kedua alis Namjoon terangkat. “Wah … kupikir kau masih gadis ternyata su-BLETAK!”

Sena mendengus. “Itu hanya kata kiasan, bodoh. Ah monster satu itu saaaaangat mesum sekali pikirannya.”

Tidak seperti Taehyung yang tidak suka dengan dua benda di tangannya, Jungkook yang kedapatan glove justru tampak ceria. “Apakah hari ini akan ada kompetisi lempar tangkap?”

Taehyung yang mendengarnya langsung melempar bola tenis itu dan diterima dengan baik oleh Jungkook. “Kau saja yang bawa benda itu.”

“Kalau begitu kau bawa ini,” ujar Jungkook sambil melempar sebuah bola karet. Taehyung kelabakan menerimanya, dia belum siap dan bola itu pun akhirnya terjatuh di tanah.

“Hei, tidakkah membawa ikan salmon sebanyak ini terlalu berlebihan?” Seokjin mengangkat sebuah mangkuk yang sedang dibawanya. Mangkuk yang penuh dengan daging salmon segar yang sudah diiris kecil-kecil. “Lebih baik dibuat sushi daripada harus memberikannya pada serigala.”

“Aku setuju dengan Seokjin hyung. Menurutku memberi mereka makanan anjing ini sudah cukup,” sambung Jimin yang sedang memegang dua kotak makanan anjing.

“Kalian itu berisik sekali, astaga.” Sena menggaruk kepala belakangnya sampai rambutnya berantakan. “Sudahlah, lakukan saja apa yang kusuruh. Nanti kalian juga tahu sendiri apa gunanya.”

“Memangnya apa gunanya dua bola ini?” Namjoon mengangkat bola sepak dan bola basket tinggi-tinggi. “Apakah mereka werewolf? Jadi mereka akan bermain sepak bola dan basket begitu?”

Sena berdecak. Sudah lelah bicara dengan lima pangeran bodoh itu. Tanpa banyak bicara lagi, ia pun langsung menarik gagang pintu dan keluarlah 44 anjing dengan tiga jenis mencolok yang berlarian dengan ceria dan langsung berpencar ke seluruh wilayah. Tak lama kemudian, muncullah dua manusia dari sana, yang masih memakai mantel dari plastik dan helm di kepala. Siapa lagi mereka kalau bukan Yoongi dan Hoseok. Keduanya langsung melepaskan setelan memalukan itu di sana.

Sementara itu, nasib kelima pangeran lain cukup mengenaskan. Terlebih Seokjin karena dia membawa daging segar. Sedikit beruntung memiliki tubuh tinggi, sayangnya itu kurang berguna karena dia harus melawan 7 wolfdog sekaligus. Ketujuh wolfdog yang terdiri dari 4 Siberian Husky dan 3 Alaskan Malamute itu, memeluknya secara serentak dan sepertinya sudah sepakat untuk menggulingkan pria itu.

“Hei hei, hentikan! Lepaskan aku!!”

Sena pun berlarian mendekat, lalu berhenti semeter di depan pria itu. “Duduk.”

Tanpa disuruh dua kali, ketujuh wolfdog itu langsung duduk dengan manis. Mengelilingi Seokjin dan masih menatap lurus pada mangkuk yang ada di tangan pria itu. Seokjin sendiri tampak terengah-engah.

“Mereka … ingin … memakanku,” ujar pria itu patah-patah.

Sena tersenyum sambil menggeleng. “Mereka menginginkan daging segar itu. Sekarang berikan mereka masing-masing satu.”

“Kau menyuruhku melakukannya?!” Seokjin melotot. “Bagaimana kalau dia menerkam tanganku?!”

“Mereka tidak sebodoh itu,” balas Sena enteng. Ia pun meraup segenggam salmon segar itu dari mangkuk yang dipegang Seokjin. “Lihat aku.” Lalu dia mengulurkannya satu persatu pada mereka bertujuh sambil berkata, “kerja yang bagus, anak-anak.”

Seokjin ternganga. Sayangnya itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba tiga anjing berjenis Herder mendatanginya dan menyalak padanya. Reflek dia melompat dan memeluk Sena. Ketiga Herder itu menyalak makin keras.

Eomma!! Kenapa mereka begitu padaku?!!”

Faktanya, tidak hanya Seokjin saja yang diperlakukan seperti itu oleh para Herder. Enam pangeran lainnya juga bernasib sama. Bahkan Yoongi dan Hoseok yang tadi membersihkan kandang mereka pun tidak luput diperlakukan begitu. Jimin sudah hilang entah kemana, bersama Jungkook dan Taehyung yang tiba-tiba sudah berada di sekitar kandang biri-biri. Namjoon tampak tersudut dengan lima Herder yang menyalak padanya.

Anehnya, Sena justru tertawa keras. Seokjin mengernyit tak suka. Bagaimana gadis itu tertawa di saat seperti ini?

“Mereka masih menganggapmu orang asing. Hei, kalau kau memelukku seperti ini, mereka akan semakin menyalak padamu.”

“Lalu aku harus bagaimana?! Lihatlah taringnya!! Mereka bisa-bisa menggigitku!” seru Seokjin marah.

“Aku tahu, sekarang lepaskan. Dan biarkan aku bicara dengan mereka.”

“Kau gila?! Mana mungkin mereka akan mengerti kata-katamu?!”

“Lalu kau ingin terus seperti ini? Lihat, saudara-saudaramu juga diperlakukan sama. Kalau aku tidak segera bertindak, mereka akan menyerang pria-pria malas itu. Cepat lepas.”

Mau tak mau Seokjin melepas pelukannya. Menggantinya dengan merangkul lengan Sena. Gadis itu menghela napas, membiarkan. Lantas menghampiri tiga Herder itu, menatap datar ketiganya.

“Duduk.”

Tidak perlu diulang dua kali, tiga Herder itu pun menurut. Mereka duduk, tapi masih menatap tajam pada Seokjin. Sena sendiri tersenyum, lalu meletakkan satu tangannya di atas kepala Seokjin.

“Ini adalah teman baruku, anak-anak. Dia adalah orang baik, jangan perlakukan dia seperti itu lagi. Lihat, dia baik bukan?”

Seokjin sedikit kesal Sena menghancurkan tatanan rambutnya. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Hewan-hewan galak di depannya ini masih memberikan tatapan permusuhan padanya.

Kemudian Sena pun memberikan mereka daging salmon segar itu.

Sena pun melakukan hal yang sama dengan Herder yang lain. Meskipun belum seluruhnya, tapi sejauh ini keadaan mulai berangsur-angsur membaik. 30 menit kemudian, tujuh pangeran itu sudah ditemukan berpencar di seluruh area kepemilikan Oh Sena. Sedang apa lagi kalau bukan mengajak wolfdog itu bermain. Pagar pembatas yang menghujam sampai 10 meter ke dalam tanah membuat para Husky dan Alaskan tidak bisa kabur keluar.

Sementara Sena sendiri sedang sibuk di kebun tomat. Memberikan pupuk pada tanaman itu, pupuk yang berasal dari kotoran biri-biri yang telah dikumpulkan empat hari lalu. Dia mengerjakan pekerjaannya dengan baik sambil melirik para pangeran yang sesekali berlarian melewati kebun tomat. Harus dia akui kalau mereka melaksanakan tugas dengan baik. Para wolfdog bahkan bisa dengan cepat berteman dengan mereka.

Setelah pohon terakhir selesai, ia pun melepas sarung tangannya, lalu keluar dari kebun. Tepat saat itu Taehyung datang dari arah timur, berlari cepat dengan kepala menoleh ke belakang sambil mengulurkan sebuah piring plastik. Pria itu tidak tahu kalau Sena sedang membungkuk di dekat pagar kebun tomat untuk mengganti sepatu boot dengan sepatu olahraga. Tahu-tahu mereka bertabrakan dan terjatuh di tanah. Dengan dua wolfdog berjenis Husky yang mengelilingi mereka.

Keduanya saling menatap. Barusan mereka berguling-guling sebentar dan dapatlah posisi ini. Taehyung berada di atas dengan kedua tangan berada di tulang belikat Sena. Dan tangan Sena sendiri mencengkram bahu Taehyung.

Sena tampak mengerjap-ngerjap, begitu pula dengan Taehyung.

Sementara itu dari kejauhan terdengar langkah kaki yang sedang mendekat, lalu berhenti tak jauh dari keberadaan mereka. Membuat dua orang itu menoleh.

Yoongi. Mengerutkan dahi memandang mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s