Swag Couple Series [#5 Oppa]

tumblr_ohyacnf9yb1vvv4lao1_r1_500

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

#1 Intro Boy ver.

#2 Intro Girl ver.

#3 Want You More

#4 Don’t Mess With Me

#5 Oppa

Namanya juga kakak laki-laki, pasti ‘kan punya jiwa protektif yang sudah mendarah daging. Ya, termasuk juga Min Yoongi.

Dia punya adik perempuan bernama Min Yoonji. Sama-sama kecil, pendek, berkulit pucat, sipit, bibir tipis. Dia tampan, adiknya cantik sekali.

Saking cantiknya si adik, banyak sekali kumbang-kumbang tak tahu asal-usul mendatanginya. Mereka dengan seenaknya menggoda dan mengganggu adiknya.

“Hei! Itu adikku! Kalian mau apa, hah?!” Yoongi kecil berteriak saat dilihatnya, adik yang baru ditinggal sebentar sudah diganggu tiga anak laki-laki lain.

Yoonji yang sudah menangis keras langsung memeluknya ketakutan. Terima kasih pada wajah garangnya, karena dengan itu dia berhasil menakut-nakuti tiga anak laki-laki itu sampai mereka pergi.

Dia memeluk adiknya dengan sayang. “Sudah sudah, oppa di sini. Jangan menangis lagi.”

Dialah oppa.

Seringnya orangtua sibuk dengan pekerjaan, Yoonji kecil jadi sering dibiarkan bersamanya. Mau tak mau Yoonji harus ikut kemana kakaknya pergi. Dia itu penakut saat kecil. Salahkan Yoongi yang suka sekali mengajaknya menonton film horor. Dan memberinya cerita hantu sebelum tidur. Padahal dia sudah diperingatkan sampai berkali-kali, tapi dia tetap saja menggoda adiknya dengan hal-hal mistis seperti itu.

Jadi sudah tahu ‘kan kenapa mereka berdua tidak mau tidur di kamar yang terpisah?

Yoongi menjadi saksi nyata dari pertumbuhan seorang Min Yoonji. Dari adik kecil yang manis, lucu dan menggemaskan, menjadi remaja yang cantik, berkharisma dan jutek. Juteknya itu menurun dari dia.

Di masa remajanya, Yoonji sudah tidak takut lagi pada hantu. Dia sudah bosan dengan cerita-cerita dan kejutan-kejutan kakaknya sampai-sampai dia malah penasaran sendiri bagaimana wujud hantu itu kalau memang ada. Kalau tampan, akan dia jadikan pacar. Tapi kalau jelek, akan dia bunuh.

Sadis memang. Tapi itulah adiknya sekarang.

Di hari pertamanya menstruasi, Yoongi lah yang harus beli pembalut ke swalayan. Malu itu sudah pasti. Tapi kalau bukan dia yang beli lalu siapa? Ibunya? Ayahnya? Boro-boro beli pembalut, tahu anak gadisnya sudah pubertas saja setelah diberitahu Yoongi.

See?

Peran Yoongi dalam hidup Yoonji besar sekali bukan?

Mereka terus berada di sekolah yang sama. Padahal Yoonji ingin masuk SMP khusus wanita tapi Yoongi dengan seenak jidatnya menolak mentah-mentah.

“Kau harus bersekolah di sekolahku!”

“Ah wae?! Aku bosan melihat wajahmu! Bersama kau lagi, kau lagi! Aku juga bebas memilih sekolah!”

“Lalu siapa yang akan menjagamu di sana, huh?! Nanti kalau kau kenapa-napa bagaimana?”

“Aku sudah besar! Aku bisa mengurus diriku sendiri!”

“Di sekolah dasar saja kau sulit sekali berteman dengan orang lain. Kau yakin kau bisa berteman dengan teman-temanmu nanti di asrama? Bagaimana kalau mereka membully-mu seperti dulu lagi? Kau mau?”

“Kau tidak berhak mengurusi hidupku! Mau mereka membully-ku lagi atau tidak, itu bukan urusanmu! Urus saja hidupmu sendiri!”

“Min Yoonji!”

Yah … itulah pertama kalinya mereka terlibat pertengkaran. Dia yang keras kepala memaksa Yoonji masuk sekolahnya, dan Yoonji yang sama keras kepalanya ingin masuk sekolah asrama. Seharian mereka bertengkar, sehari selanjutnya mereka saling tidak menyapa, sehari besoknya mereka pun berbaikan.

Yoonjilah yang menyerah. Dia akhirnya mau masuk ke sekolah Yoongi, karena dia sadar kalau selama ini dia hidup bergantung pada Yoongi.

Memang siapa yang akan membelikannya obat penahan rasa nyeri haid kalau bukan Yoongi?

Memang siapa yang akan membuatkannya sup rumput laut tiap dia ulangtahun kalau bukan Yoongi?

Memang siapa yang akan membantunya membuat karya keterampilan kalau bukan Yoongi?

Memang siapa juga yang akan memberinya pelukan dan telinga saat dia sedih kalau bukan Yoongi?

Mengingatnya membuat Yoongi tersenyum sendiri. Dia sangat menyayangi adiknya sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri.

Seseorang yang baru dibicarakan itu tahu-tahu muncul dari pintu hitam. Di pelukannya penuh sekali dengan snack. Bahkan semua snack itu dia yang beli, bukan orangtua mereka. Dia tahu kebiasaan Yoonji sebelum tidur adalah menghabiskan stok snack. Jadi tidak aneh lagi kalau badan adiknya tidak S-line.

Gadis itu berbaring di sebelahnya setelah menjatuhkan semua snack ke atas tempat tidur. Ranjang mengeluarkan suara decit sesaat.

“Babi~ kau harus turunkan berat badanmu mulai besok. Aku khawatir ranjangnya akan patah karena kau.”

“Berisik,” balas Yoonji cuek sambil membuka satu bungkus dan mulai memakannya. Dia mengambil remote dan menyalakan TV.

Yoongi menggeser tubuhnya untuk mendekat. Begitu lengan mereka bersinggungan, dia tersenyum dan ikut mencomot snack.

“Pulang sekolah besok mau tidak berkencan denganku?”

Shireo.”

Yaa, perhatikan cara bicaramu.”

Yoongi menghela napas. Dulu dia memang membiarkan Yoonji bicara dengan bahasa informal, tapi karena sudah dibuat menjadi kebiasaan, sampai besar pun Yoonji terus bicara informal padanya. Padahal, dia ini oppa.

“Kau mau berkencan dengan Jimin tapi menolak saat kuajak. Kau lebih cinta aku atau Jimin, huh?”

“Jimin.”

Sssh … dasar anak remaja.

“Kalau begitu minta saja snack dari dia.” Dia langsung merebut snack di tangan Yoonji begitu juga dengan snack yang lain. Yoonji mengerang kesal dan memukul-mukulnya. Dia bertahan tapi tidak bisa. Yoonji mengeluarkan jurus kedua, menggelitik.

Geuman!” Akhirnya Yoonji berhenti juga setelah mendapatkan kembali snack-nya.

“Daripada mengajakku, lebih baik carilah pacar. Aku tidak mau punya oppa siscon.”

.

.

Yah … sebenarnya nyaris saja aku terkena siscon, adikku. Maafkan kakakmu yang laknat ini.

Aku pun memandangnya lekat-lekat. Lihatlah, pria mana yang tidak mau dengan gadis secantik ini? Matanya, hidungnya, bibirnya bahkan bentuk wajahnya sama persis dengan milikku. Dia menjiplakku, dasar plagiat. Sekarang, galaknya juga ikut-ikut aku. Ya ampun, sampai kapan kau menjiplakku, sayang?

“Sudah kuperingatkan, aku tidak mau punya oppa siscon.”

Kalimatnya itu membuatku tertawa. Detik berikutnya, aku memeluknya erat sambil menggoyang-goyangkannya. I like fat.

Oppa!!!!

Cium cium cium pipinya ~ cubit-cubit lemaknya ~

Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak dia beranjak remaja. Badan berisinya menggemaskan sekali, seperti Kumamon.

Aku baru berhenti melakukan semua itu setelah dia mengeluh pusing.

Hanya aku pria yang boleh memperlakukannya seperti ini sebelum dia menikah dengan laki-laki pilihannya. Ayah saja meskipun aku tidak melarangnya, tidak akan mau melakukan ini. Childish katanya.

Selesai dengan snack­-snack nya, seperti biasa, sebelum tidur, aku akan menjadi diary-nya.

“Jimin tidak membuatmu menangis ‘kan?” tanyaku sambil mengusap rambut hitamnya yang halus. Meskipun dia ini tidak pernah mandi pagi sama sepertiku, dia itu selalu rajin mencuci rambut, bahkan rela keluar uang banyak untuk perawatan rambutnya.

Dia menggeleng sambil memainkan tepi selimut. “Jimin tidak pernah melakukan apa-apa padaku.”

“Baguslah. Kuharap benar-benar tidak akan pernah.”

“Tapi setelah menikah, boleh ‘kan?”

Aku tersenyum. Masih kecil sudah punya bayangan menikah. Tsk, anak jaman sekarang.

“Ya, kalau sudah menikah kalian boleh melakukan apa pun.”

Yoonji mengulas senyum. “Jimin selalu bertingkah manja padaku. Dia semakin mirip anjing kecil. Tahu tidak, Oppa, dia suka sekali mencium pipiku. Memang ada sesuatu ya di pipiku? Apa pipiku besar?”

Tch, ternyata Park Jimin. Pantas pipi Yoonji sudah tidak manis lagi seperti dulu. Ternyata sudah ada bibir lain yang menodainya.

Aku mencubit pipinya gemas lalu menarik hidungnya. “Ya, pipimu besar sekali. Sampai-sampai hidungmu terlihat pesek. Makanya, kuruskan badanmu itu. Jangan makan snack sebelum tidur.”

Padahal yang membiasakan dia makan snack  adalah aku sendiri. Orang yang menyediakan semua snack setiap hari di kulkas adalah aku sendiri. Jadi karena siapa dia jadi babi?

Yap. Jawabannya adalah karena aku.

Selesai bercerita dia tidur dengan lelap. Melihatnya tidur, seperti sedang melihat adek bayi tidur. Lucu. Menggemaskan. Dia 16 tahun dan aku 17 tahun. Tapi wajahnya tampak seperti anak 3 tahun yang tertidur setelah diberi susu. Cintaku….

Masih sambil memeluk tubuh berisinya aku pun ikut memejamkan mata.

Selamat malam, adikku.

TBC

Advertisements

One Reply to “Swag Couple Series [#5 Oppa]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s