Swag Couple Series [#6 Nobody Like You]

1-intro-scs

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

#1 Intro Boy ver.

#2 Intro Girl ver.

#3 Want You More

#4 Don’t Mess With Me

#5 Oppa

#6 Nobody Like You

Hari itu Yoongi tidak bisa masuk sekolah karena sakit. Terpaksa Yoonji harus berangkat dan pulang sekolah sendiri. Perkara berangkat sendiri tidaklah sulit. Yoongi meskipun sedang demam, bela-belain mengantarnya ke jalan besar untuk memberhentikan taxi. Dia yang bicara pada ahjussi yang membawa taxi untuk mengantar Yoonji ke SMA Bangtan. Diberikannya kartu pelanggan kendaraan umum pada adiknya itu.

“Nanti pulanglah bersama Jimin.”

Yoonji mengangguk. “Kau segera kembali sana.”

Yoongi memeluk adiknya sekilas. “Hati-hati di jalan.”

“Eum.”

Begitu Yoonji masuk taxi dan mobil itu sudah berjalan, barulah Yoongi kembali ke rumah.

.

.

Aku melempar kertas pada Jimin. Dia meringis, menoleh ke belakang sampai mendapati tatapanku, lalu ia pun mengambil kertas yang jatuh ke lantai itu.

‘Nanti pulang bersamaku’.

Dia melirikku lagi sambil tersenyum.

Oke, masalah selesai.

Pulang sekolah, aku benar-benar pulang bersama Jimin. Dia itu membawa sepeda kalau pergi sekolah, tidak naik taxi atau bus. Menyebalkannya, sepeda yang dia bawa tidak ada dudukan di belakang. Alhasil aku duduk di depan. Dan itu sakit sekali.

Lebih sialnya lagi, kenapa harus hujan segala di tengah jalan.

Kami pun menepi untuk berteduh. Konyolnya kenapa hanya motel saja yang paling dekat?

Aku ingin protes tapi mau bagaimana lagi? Hujannya terlalu deras dan kami sudah basah kuyup.

Tiba-tiba saja dia menarik tanganku untuk masuk tempat nista itu. Dia bicara pada resepsionis untuk meminta satu ruangan. Hah … yang benar saja. Dia kira aku ini gadis gampangan?

Begitu dapat kunci dia meraih tanganku. Tapi kutepis tangannya dengan kasar. Dia menatapku heran.

“Kau pikir aku ini apa, huh?”

Dia meraih tanganku lagi lalu menarikku ke sebuah ruangan. Sial. Sekuat-kuatnya aku, aku tetap akan kalah dari dia yang notabene adalah laki-laki.

Ruangan bernomor 17 menjadi tempat yang disewa Jimin hari itu. Dia baru melepaskan tanganku begitu dia mengunci pintunya lagi.

Kutatap dia dengan tajam, namun dia terus saja mengabaikan tatapanku dan malah membuka seragamnya.

Yaa! Geumanhae! Apa yang mau kau lakukan sebenarnya?!” Aku pun menutup wajahku karena dia benar-benar membuka atasannya. Dia ini pasti sudah gila.

“Lepaskan juga bajumu.”

Shireo! Aku mau keluar dari sini sekarang juga.”

“Sekarang hujan, kau akan sakit nanti.”

“Aku tidak peduli! Aku tidak mau di sini! Aku mau pulang!!”

Tanganku dipaksa untuk menjauh dari wajahku, tapi aku tidak mau membuka mata. Dia topless sekarang. Bisa kurasakan hembusan napasnya di dekatku. Tolong jangan lakukan apa pun padaku, Jimin-a … aku percaya padamu….

Kudengar helaan napasnya.

“Aku tidak akan melakukan apa pun, Yoonji-a. Aku benar-benar tidak berniat melakukan apa pun padamu di sini. Aku bersumpah! Sekarang sedang hujan deras sekali di luar dan feeling-ku mengatakan kalau hujannya tidak akan berhenti untuk waktu dekat.”

“Tapi kenapa harus di sini?! Ini motel! MOTEL!”

“Hanya di sini tempat yang bisa kita jangkau. Lepaskan seragammu dan aku akan minta pihak motel untuk mengeringkan seragammu. Kita akan pulang setelah hujannya reda, aku janji.”

“Lalu aku harus pakai baju apa kalau aku melepas bajuku sekarang?!”

Dok dok dok.

“Ini dia. Sebentar.”

Dia membuka pintu, berbicara dengan seseorang di luar lalu menutup pintu kembali.

“Sekarang buka matamu, Yoonji-a.”

Tapi aku menggeleng. Aku tidak mau. Aku masih terlalu takut berada di sini. Terlebih sekarang Jimin sedang setengah telanjang.

“Aku sudah pakai baju.”

Barulah aku memberanikan diri membuka mata. Dia benar-benar sudah memakai baju. Bukan seragam yang basah, tapi semacam baju tidur. Dia menyerahkan satu setel baby doll berwarna putih bermotif polkadot hitam padaku.

“Lepas bajumu di kamar mandi dan gantilah dengan ini.”

.

.

Aku sedang mengeringkan rambut dengan handuk saat pintu kamar mandi terbuka. Gadisku muncul dari sana dengan baby doll putih polkadot hitam yang sudah melekat di tubuhnya. Lucunya, baby doll itu kebesaran untuk dia. Sekarang dia tampak seperti wanita yang baru melahirkan.

Aku tersenyum saat dia berjalan menghampiriku sambil membawa seragam basahnya. Kuambil seragamnya lalu kusuruh dia duduk di tepi ranjang, sebelahku.

“Aku akan meminta pihak motel untuk mengeringkan seragam kita. Kau tunggu di sini, eo?”

Usai menyerahkan baju kami ke sana, aku pun kembali dan menemukan bahwa gadisku masih duduk di tempat yang sama sambil mengeringkan rambutnya. Aku pun menghampirinya.

“Butuh bantuan?”

Dia tersentak. Apa aku mengejutkannya?

Dengan wajah takut dia menggeleng.

Sigh …

Sepertinya dia masih belum sepenuhnya percaya padaku.

Oh ayolah, aku pacarmu.

Aku tidak mungkin akan melakukan itu kalau taruhanku adalah nyawa.

Ya … Yoongi hyung akan membunuhku kalau sampai aku melakukan yang tidak-tidak padanya.

Karena sepertinya dia tidak mau kubantu, ya sudah, aku menyerah. Aku duduk di sebelahnya dan dia langsung mengambil jarak sejauh-jauhnya dariku.

“Semenakutkan itu ya aku?”

Dia masih bergeming sambil mengeringkan rambutnya.

We don’t talk anymore

Like we used to do….

.

.

Ruangan itu sepi senyap dan hanya diramaikan dengan suara hujan dari luar. Petir menggelegar dan listrik pun mati. Yoonji sontak mengambil bantal dan memeluknya erat-erat. Hanya cahaya dari jendela saja yang menjadi penerang di ruangan ini. Hal itu makin membuat Yoonji gemetar.

Tiba-tiba ada cahaya putih yang muncul. Bukan, itu bukan seperti yang ada di film-film horor. Lebih tepatnya, cahaya itu berasal dari lampu senter yang dipegang Jimin.

“Akhirnya berguna juga,” gumam laki-laki itu sambil meletakkannya di atas meja, menyorot sebuah dinding.

Yoonji langsung pasang sikap waspada ketika Jimin menghampirinya. Nyaris saja dia berteriak kalau Jimin tidak lebih dulu duduk bersila tepat di bawahnya.

“Takut, um?”

Gadis itu memeluk bantal makin erat sambil menatap Jimin was-was.

“Aku ini bukan kriminal, Yoonji-a. Bukankah kau mengenalku? Aku Park Jimin, pacarmu.”

Tapi sikap waspada Yoonji sama sekali tidak berkurang. Jimin menghela napas putus asa.

“Aku tidak tahu harus meyakinkanmu dengan cara apa lagi. Aku bersumpah demi apa pun yang ada di dunia ini. Aku tidak akan melakukan apa pun padamu, Yoonji-a. Kau pikir aku berani melawan kakakmu yang sudah seperti piranha itu?”

Seulas senyum nyaris terbentuk di wajah Yoonji. Baru kali ini kakaknya disebut sebagai piranha. Biasanya singa gila.

.

.

Waktu terus berlalu, tahu-tahu mereka sudah ada di motel selama tiga jam. Di luar hujan masih turun dengan deras, listrik juga masih padam.

Yoonji sudah berbaring di ranjang. Sudah membalut tubuhnya dengan selimut, sendirian.

Sementara seorang laki-laki yang sedang duduk memeluk lutut di bawah sambil menyandarkan punggungnya di badan ranjang adalah Park Jimin.

Apapun rela dilakukan Jimin asal Yoonji tidak ketakutan padanya. Bahkan meskipun dia harus mati kedinginan karena duduk di bawah.

“Kakakmu tidak menelpon?” tanya Jimin memecahkan keheningan.

Yoonji baru ingat kalau dia mengatur ponselnya ke mode mute. Ia pun segera mengambil ponselnya dari tas dan mendesis saat melihat pemberitahuan missed call di layar ponselnya.

32 missed call

Semuanya berasal dari nama kontak yang sama. Oppa.

Tiba-tiba saja muncul satu panggilan masuk. Dari kontak yang sama. Tanpa pikir panjang dia pun segera mengangkatnya.

YAA KENAPA KAU TIDAK ANGKAT TELEPONKU?!”

Yoonji reflek menjauhkan ponselnya dari telinga. Dia bersitatap dengan Jimin yang menoleh karena suara keras Yoongi.

Ia pun mendekatkan ponsel itu ke telinganya lagi. “Maaf, aku tidak mengaktifkan suaranya.”

“DIMANA KAU SEKARANG, HUH?! MANA PARK JIMIN?!”

“Kami … kami …” Yoonji menjeda perkataannya sebentar, menggigit bibir bawahnya. Lalu melanjutkan, “kami di motel.”

MWO?! NEO MICHEOSSEO?! BERSAMA SIAPA HA?! PARK JIMIN?! DI MANA ANAK ITU?! CEPAT BERIKAN PONSELMU PADANYA!”

Yoonji langsung menyandurkan ponselnya pada Jimin. Sambil berbisik, “oppa mau bicara padamu.”

Sambil menelan ludah, Jimin pun menerima benda kotak itu. “Ini aku, hyung.”

YAA SEKIYA! APA MAKSUDMU MENGAJAK ADIKKU KE MOTEL, HUH?! KAU CARI MATI DENGANKU?! MAU KUBUNUH KAU?!”

Hyung tenanglah dulu. Aku … aku tidak—”

“KAU MENYURUHKU TENANG SAAT AKU MENDENGAR ADIKKU SEDANG DI MOTEL BERSAMAMU?! KATAKAN DIMANA ALAMAT MOTELNYA SEKARANG JUGA! AKU AKAN MENJEMPUTNYA SEKARANG!”

Hyung dengarkan dulu. Aku tidak melakukan apa-apa padanya, serius. Kau tidak perlu memaksakan diri datang. Kau sedang sakit dan sekarang hujan. Aku janji aku akan mengantarnya pulang setelah hujan reda.”

“MENURUTMU AKU AKAN PERCAYA?! CEPAT BERITAHU AKU DI MANA MOTELNYA! TIDAK ADA PROTES!”

Akhirnya Jimin pun memberitahu alamat motel itu pada Yoongi. Sambungan langsung diputus secara sepihak. Jimin memandang layar ponsel Yoonji yang menampilkan selca  mereka berdua dengan putus asa.

Pasti sebentar lagi akan terjadi sesuatu.

Jimin langsung menoleh saat dia merasakan sebuah tangan sedang melingkari lehernya. Ia tersenyum ketika mendapati raut menyesal di wajah kucing cantiknya.

“Maafkan aku.”

.

.

“Kenapa harus minta maaf, um?” tanyaku sambil mengusap lembut lengannya.

Oppa pasti akan memarahimu nanti. Bagaimana kalau dia melarangku untuk bersamamu lagi?”

Pfft. Ternyata si jutek ini bisa khawatir juga soal itu. Padahal tadi dia ketakutan setengah mati padaku seolah sedang berencana untuk memutuskan hubungan saat itu juga.

“Itu urusan pria. Tidak usah kau pikirkan.”

Baru sebentar disayang, eh kepalaku dipukul. Ugh … sakit.

“Salahmu sendiri kenapa mengajakku ke sini. Sudah tahu aku punya oppa yang galak, tetap saja kau memaksa kemari.”

Daku terkekeh. Dia kembali melingkarkan lengannya di leherku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Aku hanya tidak mau kau sakit. Sudah kakakmu sakit, masa kau juga ikut-ikutan sakit. Lebih baik aku saja yang jatuh sakit daripada kau.”

“Tidak usah sok manis. Aku benci kau.”

“Kalau kau membenciku kenapa masih bicara padaku?” Kukecup pelipisnya yang berjarak sangat dekat dengan wajahku.

Dia tidak menjawab, tapi malah cemberut. Kutarik bibir mungilnya itu sampai dia mengerang minta lepas.

Delapan menit kami bertahan dalam posisi itu sampai Yoongi hyung datang. Dia mendobrak pintu lalu menerobos masuk. Dengan bantuan cahaya dari ponselnya dia menarik Yoonji untuk berdiri.

.

.

Yoongi tanpa banyak bicara memakaikan sweater dan jaket anti air ke tubuh Yoonji. Ekspresi wajahnya dingin, tidak seperti biasa. Yoonji yang biasanya banyak bicara kalau sudah ada Yoongi, sekarang sempurna diam sambil menundukkan kepala. Yoongi kalau sudah marah, mengerikan sekali.

Selesai memakaikan baju ke tubuh adiknya, Yoongi pun melempar sebuah kantong baju lain yang dia bawa pada Jimin.

“Pakai itu dan pulanglah. Kau, besok, datanglah ke rumah sambil membawa baju itu dan seragam Yoonji. Kalau kau sampai tidak datang, kau mati di tanganku, Park Jimin.”

Usai bicara begitu, Yoongi pun mencangklong tas Yoonji sambil menggandeng Yoonji untuk keluar dari sana. Mereka benar-benar tidak banyak bicara sampai masuk taksi. Yoonji duduk dengan kepala menunduk di sebelah kakaknya.

“Kembali ke rumah tadi, Ahjussi.”

.

.

Sesampainya di rumah, Yoongi menyeret adiknya masuk kamar mereka dan mendudukkan gadis itu di tempat tidur. Ditatapnya sang adik yang masih menghindari tatapannya. Kemudian dia pun menghela napas.

Kepalanya terasa mau pecah karena menahan amarah yang bergejolak. Demamnya masih belum reda sejak pagi tadi dan sekarang kepalanya makin pusing karena memikirkan gadis di depannya ini. Dia yang memang memaksakan diri untuk berdiri akhirnya terduduk di lantai tepat di depan Yoonji.

“Kepalaku sakit….”

Yoonji menatapnya sendu. Ingin sekali dia meraih tangan kakaknya tapi dia takut kalau kakaknya akan marah.

“Aku tidak mengerti kenapa kalian harus datang ke sana.” Kata pria itu melanjutkan.

“Meskipun kalian berjanji tidak akan melakukan apa pun, kau pikir aku akan tenang begitu saja?”

Yoonji makin menunduk.

“Di sini akulah yang bertanggung jawab padamu, Yoonji-a. Aku yang akan disalahkan kalau eomma dan appa tahu kalau kau pergi ke tempat itu bersama seorang laki-laki. Mereka akan menganggapku tak becus menjagamu.”

Sekarang mata Yoonji berkaca-kaca.

“Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi. Arasseo?”

Yoonji pun mengangguk.

“Sekarang gantilah bajumu dan tidur.”

.

.

Ruangan kami sudah tampak remang saat aku masuk. Kakak sudah tidur. Tidak seperti biasa dia membelakangi tempat tidurku. Dia pasti sangat-sangat kecewa padaku. Ya … aku memang patut mendapatkannya.

Aku pun berbaring di sebelahnya. Meraih ponsel yang berkedip-kedip menandakan ada pesan masuk.

Mochi

Apa dia menghawatirkanku?

Kau sudah sampai di rumah?

Apa hyung memarahimu?

Sudah makan malam belum? Kalau belum makanlah dulu. Kau belum makan sejak tadi.

Jangan lupa minum vitamin sebelum tidur. Aku khawatir kau akan jatuh sakit.

Besok aku akan datang pukul 12 siang.

Sudah tidurkah?

Kubalas pesannya satu persatu. Tapi baru dua yang terkirim, aku bisa mendengar suara kakakku yang sedang mengigau.

“Yoonji-a … huh … Yoonji-a …”

Demi kakakku akhirnya aku mengabaikan pesan Jimin yang lain. Kupeluk badannya yang panas itu erat. Pasti dia tidak minum obat seharian karena di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Ayah dan ibu sedang ada di Busan selama seminggu ke depan. Sempurna hanya kami berdua di sini. Dan aku tidak yakin, apakah kakak sudah makan siang atau belum.

Aku pun mengusap keringat di wajahnya sebagaimana dia mengusap keringat di wajahku setiap aku jatuh sakit.

Oppa … kau belum makan ya? Mau kubuatkan makan?”

Dia membuka matanya perlahan lalu menoleh padaku. Dalam hitungan detik dia memutar balik badannya dan memelukku erat.

“Dingin … kakiku dingin….”

Sisi dewasa yang selalu dia perlihatkan padaku mendadak hilang. Ya, sekarang dia sedang sakit.

Malam itu bukannya tidur, aku justru mengurus kakakku yang sedang sakit. Aku menempelkan hot pack di beberapa titik tubuhnya, membuatkan makanan dan memaksanya makan, membantunya minum obat … baru aku bisa istirahat.

Semua pesan Jimin sempurna kulupakan. Kakakku jauh lebih penting dari siapa pun di dunia ini.

TBC

Advertisements

One Reply to “Swag Couple Series [#6 Nobody Like You]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s