Freak Hwarang #5

c1zhh9vucaacguq

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4

Taehyung dan Sena buru-buru melepaskan diri tanpa perlu pikir panjang lagi. Taehyung membersihkan punggung tangannya yang berwarna kecokelatan karena berguling-guling tadi. Barulah terlihat bahwa ada banyak sekali lecet di kulitnya. Menggigit bibir bawahnya gugup, ia pun langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuh. Berusaha terlihat baik-baik saja.

Yoongi memandang keduanya dengan dahi berkerut. “Bisakah salah satu dari kalian menjelaskannya padaku?”

Sena menatap Yoongi dan Taehyung bergantian. Sambil menghela napas ia melepas ikat rambutnya hingga rambut panjangnya berurai. “Kalau kau mengharapkan sesuatu yang romantis, aku minta maaf. Dia hanya tak sengaja menabrakku lalu kami berguling-guling dan jadilah apa yang kau lihat barusan. Kau sendiri, kenapa kemari? Mana anak-anakku?”

“Ah, mereka pergi mengerjar hyung,” jawabnya santai, sangat santai bahkan. “Aku lelah sekali, bolehkah aku kembali ke pondok?”

Ekspresi gadis itu tampak tidak bersahabat. “Kau lelah? Lalu menurutmu aku tidak? Enak saja minta dispensasi. Permintaanmu kutolak. Kalau kau lelah bermain dengan anak-anakku, sekarang ikut aku ke hutan mencari makan mamalia.”

Yoongi melotot tak suka. “Wae? Kenapa harus aku yang mencari? Kau bisa menggiring mereka ke sana dan membiarkan mereka mencari sendiri. Mereka bahkan punya kaki.”

“Ini bukan masalah mereka punya kaki atau tidak. Mereka itu hewan. Mereka itu tidak tahu apa itu yang benar dan apa itu yang salah.”

“Lalu? Kau berniat menjadi guru mereka?” potong Yoongi cepat.

“Aish, maksudku kita sebagai manusia, makhluk yang lebih pintar, harus bisa membantu mereka ke jalan yang benar. Bagaimana kalau mereka tanpa sengaja makan makanan beracun? Kau mau tanggung jawab?”

“Kenapa aku?” seru Yoongi tak terima.

Sena meniup poninya. “Kalau begitu ayo berangkat sekarang. Hei egois, kau cari satu Herder dan beri dia ikat leher. Mereka berdua juga. Kau akan ikut kami setelah ini. Kutunggu 10 menit.”

Setelah bicara begitu Sena langsung menarik lengan Yoongi untuk pergi dari sana. Ah bukan ‘menarik’, lebih tepatnya menyeret. Entah sekuat apa fisik Sena tapi Yoongi yang sedikit lebih tinggi darinya saja tampak terseok-seok. Mereka sedang menuju gudang penyimpanan.

Sementara itu, Taehyung memalingkan pandangannya pada dua wolfdog yang sekarang sedang duduk tenang sambil mendongak padanya. Ia mengerjap-ngerjap, lalu tersenyum. “Ayo kita jalan-jalan.”

Sena, Yoongi dan Taehyung sekarang sudah berada di hutan yang berseberangan dengan pondok Sena. Masing-masing dari mereka membawa sebuah tas butut di punggung yang berisi dua karung goni dan sebotol air. Lalu di depan mereka telah berdiri gagah tiga ekor wolfdog yang sudah terikat dengan sebuah tali berwarna hitam. Sena memegang tali yang mengikat jenis Herder, satu-satunya Herder yang mereka bawa –karena dua lainnya berjenis Husky.

Ketiganya berjalan berkelompok. Sena memimpin. Dia tampak serius melihat sekitar. Mencari tumbuh-tumbuhan yang layak dimakan oleh mamalia peliharaannya. Sebenarnya tidak sulit, toh dia sudah berpengetahuan, tapi karena ini hutan, dia agak waspada kalau-kalau ada hewan buas yang mengintai. Sementara itu, di belakangnya dua pria yang tidak berguna itu justru santai mengobrol.

“Ini belum 24 jam tapi aku sudah merasa kalau aku telah hidup bertahun-tahun di sini,” ujar Yoongi sambil menguap lebar sampai matanya berair.

Taehyung yang berjalan di sebelahnya juga tak jauh beda. Ini baru tengah hari tapi matanya sudah memaksa untuk terpejam. “Aku ingin sekali membunuh Sejin setelah kita kembali ke istana. Dia dengan seenaknya membuang kita kemari, sedangkan dia menikmati kemewahan di sana.”

“Aku juga tidak akan membiarkannya tidur seminggu penuh setelah aku kembali ke istana.”

“Dia juga harus merasakan bagaimana rasanya memunguti kotoran kambing dan bangun pagi-pagi hanya untuk memetik kubis,” sambung Taehyung sambil menggertakkan gigi.

Yoongi memberinya dua jempol sebagai tanda bahwa dia sangat setuju dengan ucapan Taehyung.

“Oke, kita sampai.”

Taehyung dan Yoongi pun berpindah ke kanan kiri Sena, memperhatikan sepetak tanah dengan jenis rumput sama yang membentang di depan mata. Tidak ada yang spesial dari rumput itu. Hanya daunnya terlihat tinggi hampir sepinggang mereka.

“Kau meminta kami untuk menarik rumput-rumput ini?” celetuk Yoongi sambil menunjuk semua rumput itu.

“Ya, tarik saja kalau kuat,” balas Sena ketus sambil mengeluarkan tiga golok dari tasnya. Golok yang panjang dan tajam itu membuat Yoongi dan Taehyung meringis ngeri. Dan masih ngeri saja meskipun sudah ada di tangan mereka.

“Pisau ini pasti bisa dipakai membunuh orang,” gumam Yoongi sambil membolak-balik golok yang disebutnya pisau.

“Boleh kubawa pulang satu ke istana? Sepertinya ini akan berguna untuk membunuh si menyebalkan Sejin.”

Yoongi tertawa sarkatis mendengar ucapan Taehyung. Sena hanya memutar bola mata, I’m done with them.

Mereka pun bagi pekerjaan. Sena mengurus dua baris, Yoongi dan Taehyung masing-masing satu baris. Si herder yang dibawa Sena tampak duduk dengan tenang, beda lagi dengan dua Husky yang justru berguling-guling seperti anak kecil yang sedang memperebutkan sesuatu. Mereka berdua –para Husky perlu diikatkan pada sebuah pohon karena kalau tidak begitu, mereka pasti akan berusaha kabur dan mencarinya adalah hal yang paling sulit dalam hidup. Seperti Yoongi dan Taehyung, kalau mereka tidak diatur, mereka akan bertindak seenaknya mereka dan justru akan merusak tanaman langka itu.

Setelah selesai, mereka pun kembali ke pondok.

“Hiy! Kau bau keringat, Hyung,” seru Taehyung setelah dia menyadari bahwa bau aneh di dekatnya adalah bau keringat Yoongi.

Yoongi bukannya kesal justru mengusili Taehyung dengan mengoleskan keringatnya ke pipi pria itu. Dia tertawa terbahak-bahak setelahnya. Dan tahulah apa yang terjadi, perang dunia pun pecah. Sena langsung mengambil alih ikat para Husky. Mengajak mereka untuk duduk di dekat sumber air. Ketiga wolfdog itu disuruhnya minum, sementara dia duduk di atas batu, menonton pertengkaran dua pangeran itu sambil menyesap airnya. Ah … leganya. Surga seperti sedang ada di depan mata ketika melihat mereka berguling-guling seperti yang dilakukan oleh dua Husky tadi.

“Ya! Bagus! Terus hajar! Siapa yang pertama berhasil membuat yang lain berdarah akan kuberikan jatah makanan yang banyak!”

Sena menyeringai. Bagus, sekarang dua orang itu makin brutal. Kekekeke, ternyata menyenangkan sekali menonton dua orang yang sedang berkelahi itu. Seperti … sedang menonton pertandingan tinju secara LIVE.

Para pangeran sedang beristirahat di dekat kebun wortel saat Sena beserta Yoongi dan Taehyung datang dari mencari rumput. Semuanya shock melihat wajah Taehyung dan Yoongi yang babak belur. Begitu sampai di depan mereka, dua pangeran itu langsung berbaring di atas tanah. Merentangkan kedua tangan dan kaki selebar mungkin seperti Patrick.

Sementara Sena mengembalikan tiga wolfdog itu ke kandangnya.

“Apa kalian baru saja bertarung dengan beruang?” tanya Jungkook polos sambil berjongkok di sebelah Taehyung. Iseng-iseng memencet memar di wajah Taehyung sampai si empu menjerit.

“Tsk, tidak mungkin beruang. Kalau beruang mereka pasti sudah berdarah-darah, lihatlah, yang berdarah hanya wajahnya saja. Memangnya iya beruang bisa bedakan mana wajah mana perut?” sanggah Jimin sambil menunjuk wajah Taehyung.

“Bisa saja, kalau dia pintar sepertiku,” balas Namjoon sambil membuat simbol centang dengan jarinya yang dia tempelkan di dagu.

“Kalau aku jadi beruangnya akan kumakan saja mereka daripada membuat mereka babak belur seperti itu,” sambung Seokjin yang di dalam pikirannya hanya ada makanan dan makanan. Memberi makan para wolfdog tadi membuatnya lapar juga. Kapan makan siangnya?!!

“Ah!” Semua orang langsung menatap Hoseok. “Mungkin para wolfdog itu berubah menjadi werewolf, lalu kalian berdua bertarung dengan mereka ‘kan?” Ia menjentikkan jari. “Sudah kuduga, gadis itu pasti punya alasan memelihara mereka. Tidak mungkin dia memelihara wolfdog sebanyak itu kalau-AKH! YAA! BERANI-BERANINYA KAU-”

Hoseok langsung nyengir saat dilihatnya orang yang dibicarakan sudah berdiri di sebelahnya sambil berkacak pinggang. Rasa sakit di kepala belakangnya akibat pukulan itu justru berubah menjadi rasa geli, dan dia terus tersenyum lebar sampai Sena berlalu dari sampingnya. Ekspresinya pun berubah sambil bergumam, “mengerikan sekali”.

“Kalian sudah lapar?” tanya gadis itu sambil duduk bersila di antara Taehyung dan Yoongi. Menepuk-nepuk perut dua pria itu yang membuat mereka meringis.

“Aku tidak mau makan siang dengan pisang atau wortel lagi!” pekik Seokjin sambil melipat kedua tangannya di depan perut, cemberut seperti anak-anak.

“Aku juga,” balas Jungkook sambil angkat tangan.

Hoseok dan Jimin tidak bicara sepatah kata pun, mereka tampak ragu untuk bilang setuju. Sementara Namjoon berada di pihak Seokjin dan Jungkook, tapi mengatakan rasa setujunya dengan ekspresi.

“Kalau begitu salah satu dari kalian memasaklah. Ada banyak telur yang berhasil diambil si sulung, dan aku punya banyak bahan lainnya di gudang itu. Ambil saja, dan memasaklah yang enak.”

“Serahkan tugas itu padaku.” Seokjin pun berseru seraya bangkit. “Kalian juga ikut aku, bantu aku memasak,” lanjutnya pada Jimin dan Hoseok sambil menarik lengan mereka untuk berdiri.

Hyung, aku juga ikut.” Jungkook pun bangkit.

“Oke, kami berempat akan memasak sekarang.”

Sena menunjukkan dua jempolnya. “Semoga berhasil, para pemalas. Awas saja kalau kalian justru menghancurkan dapurku atau membuang-buang bahan makananku.”

Empat pria itu langsung pergi ke gudang penyimpanan untuk ‘berbelanja’. Sementara di sana tersisa Sena, Namjoon beserta dua pangeran yang masih berbaring kesakitan di tanah.

“Sekarang bantu aku membawa mereka ke dalam.”

Namjoon mengernyit tak suka. “Naega wae?”

“Kalau begitu kau tidak usah tidur di dalam nanti malam.”

Tanpa banyak protes lagi Namjoon langsung bergerak. Dia membopong Taehyung, sementara Sena membantu Yoongi berjalan. Hanya dua pria itu saja yang boleh bersantai di kamar –karena mereka harus beristirahat akibat perang dunia tadi-, sementara Namjoon harus menelan pil pahit karena Sena menyuruhnya bersih-bersih rumah.

Yaa! Hati-hati membersihkan bawah mejanya! Aaaaa! Awas guciku!!”

PRANK!

Bagus. Namjoon langsung mematung seperti orang bodoh sambil melihat guci itu berantakan. Tidak perlu waktu lama, kepala belakangnya pun jadi sasaran empuk pukulan Sena. Dan detik berikutnya dia sudah disibukkan membersihkan pecahan guci itu dengan Sena yang berdiri di belakangnya sambil mengomel panjang lebar. Empat pangeran yang baru datang dari ‘berbelanja’ mereka diam-diam menertawakan pemandangan itu. Ugh … rasanya Namjoon ingin sekali mengunci diri di kamar hanya bertemankan film-film dewasanya. Atau kalau bisa, menikahi koleksi filmnya sekalian.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s