Freak Hwarang #6

1a

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5

Satu malam telah dihabiskan di rumah itu. Paginya, mereka harus rela dibangunkan lagi dengan suara menggelegar ala Sena dengan suara lonceng sebagai backsound-nya. Kali ini mereka tidak lagi memanen sayuran atau buah-buahan, tapi memberi pupuk mereka dengan pupuk kandang yang sudah didiamkan selama berminggu-minggu. Pekerjaan ini jauh lebih menyebalkan dari sekadar memanen. Karena para pangeran harus rela menghirup aroma sedap dari pupuk-pupuk itu saat kegiatan memupuk berlangsung.

Setelah itu, dilanjutkan dengan memberi makan hewan. Sekarang semuanya sudah diberi tanggung jawab, jadi Sena hanya perlu berjalan-jalan untuk memantau saja. Hoseok masih takut-takut saat akan masuk kandang wolfdog, karena Yoongi masih belum sepenuhnya pulih terpaksa dia harus masuk sendiri. Jimin juga begitu, tapi Jimin sangat bisa diandalkan. Sena mengajarinya cara mencukur bulu domba, lalu sisanya Jimin yang mengurus. Menjelang tengah hari, urusan kandang dan kebun akhirnya selesai. Sekarang semuanya berkumpul di tepi sungai depan pondok untuk mencuci baju.

“Apakah aku harus mencuci juga?” keluh Taehyung sambil duduk di atas batu. Sebenarnya dia sudah pulih, tapi dia mengantuk karena Sena tidak membiarkannya tidur lagi setelah bangun.

“Tentu saja, memang siapa yang akan mencucikan bajumu,” ketus Sena seraya membagikan satu bungkus detergen pada tiap-tiap orang. “Gunakan ini dengan baik. Jangan habiskan dalam sehari, berhematlah agar bisa digunakan minimal sampai minggu depan. Kalau ada yang sampai menghabiskannya, konsekuensi, kalian harus mencuci tanpa detergen. Oke, sekarang lakukan.”

Yaa! Kau mau kemana?!” pekik Yoongi saat Sena akan memasuki pondok.

“Tidur.”

Yaa!!!”

Protes dari para pangeran itu hanya masuk telinga kiri lalu keluar dari telinga kanan. Meski kesal, pangeran-pangeran itu akhirnya mencuci baju seperti yang disuruh.

“Dia enak-enakan tidur sedangkan kita di sini harus menguras keringat melakukan hal yang tidak elit ini,” keluh Hoseok sambil memenuhi ember bajunya dengan air. Lalu dengan hati-hati memasukkan segenggam deterjen ke dalamnya.

“Ibuku saja tidak pernah memaksaku melakukan ini.” Bukannya segera mencuci, Jungkook justru bermain air dengan kakinya. Dia tersenyum melihat ikan berwarna-warni langsung mengerubungi kakinya.

“Hey sudahlah. Cepat selesaikan setelah itu kita bisa makan dan tidur.” Jimin, bukan yang paling tua tapi dia cukup dewasa dari yang lain.  Dengan penuh semangat dia pun mulai mencuci baju-bajunya. Sebenarnya dia tidak begitu tahu caranya mencuci baju tapi dia tahu bagaimana cara membasahi baju, menyikat baju dan yang terpenting adalah memerasnya.

Sementara itu Yoongi, Taehyung dan Namjoon bekerja dengan ogah-ogahan. Ini bukan pekerjaan pria, ini bukan pekerjaan pangeran, ini bukan pekerjaan elit.

“Aish! Kapan busanya akan hilang?!!” pekik Yoongi sambil membanting bajunya ke dalam ember sampai airnya bermuncratan ke wajah yang lain.

Yaa! Busanya masuk ke mataku, bodoh!!” Taehyung buru-buru membersihkan wajahnya dengan air sungai.

Yaa? Kau berani bicara begitu padaku?!”

DUG!

Dengan santainya Yoongi menendang pantat Taehyung sampai pria itu tercebur ke sungai. Yoongi tertawa bahagia. Tapi tawa itu tidak bertahan lama karena seseorang tiba-tiba mendorongnya dan membuatnya tercebur ke sungai bersama Taehyung.

Kim Namjoon, pangeran keempat, menunjukkan dua lesung pipinya sambil mengangkat ibu jari.

Yoongi yang terlanjur kesal pun memukul air ke wajah Namjoon. Sementara Taehyung, diam-diam bergerak mendekati Namjoon dan BYUR!

“Hahaha!!” Pangeran tertua tertawa puas. Tawanya yang seperti spon yang sedang membersihkan kaca itu memang unik. Dan karena unik itulah, semua pangeran yang lebih muda darinya bersekongkol untuk menjatuhkannya juga.

Alhasil, bukannya mencuci mereka justru bermain air.

Sena keluar dari pondok satu jam kemudian dan langsung memijat keningnya. “Astaga … sepertinya salah kalau aku membiarkan bayi-bayi besar ini melakukan pekerjaan itu sendiri. Huft … waktunya berjemur bayi-bayi besar!!”

Sena keluar dari pondok sambil membawa satu nampan besar berisi daging 3 ekor ayam yang sudah direbus matang. Mata-mata kelaparan langsung membanjirinya. Ia pun tersenyum, menyuruh mereka untuk membuat lingkaran lalu meletakkan nampan besar itu di tengah-tengah.

“Waktunya makan siang!!!”

Tujuh pangeran yang tadi berjemur di bawah terik matahari bersama dengan laundry mereka yang menggantung di tali-tali jemuran pun bersorak. Tanpa bisa dicegah mereka langsung berebut tiga ekor ayam itu seperti anjing-anjing kelaparan.

Yaa! Yaa! Bagian paha adalah milikku!” pekik Taehyung saat Jungkook akan mengambil paha ayam.

“Memang aku peduli?” Jungkook memamerkan lidahnya sambil menggigit paha ayam yang diambilnya dengan lahap. Taehyung berusaha merebut tapi ukuran badan mereka terlalu berbeda jauh. Taehyung pun menelan pil pahit karena dia harus mendapat bagian yang lain.

Hyung! Berbagilah denganku!” Sementara di sisi lain Hoseok dan Seokjin ribut sendiri karena Seokjin mengambil hampir ¾ bagian dari satu ekor ayam yang hanya menyisakan satu paha saja untuk Hoseok.

“Aku sudah sangat kelaparan bodoh. Puaskan dirimu dengan itu,” balas Seokjin tak tahu diri sambil bergerak menjauh dari jangkauan Hoseok.

Sedangkan satu ayam sisanya, terpaksa harus dibagi tiga orang. Ya, tiga orang yang bisa dibilang cukup tenang soal makanan. Setelah dibagi rata mereka makan dengan tenang sambil menonton keributan yang dibuat yang lain.

Dan Sena, dia tidak makan. Tidak, dia belum makan ayamnya. Dia hanya menyembelih tiga ayamnya saja. Sebenarnya dia bisa menyembelih lebih dari itu tapi dia memutuskan untuk menyebelih tiga saja. Dia melakukannya saat para pangeran itu mencuci –dia berbohong soal tidur siang-. Meski begitu dia tidak lapar. Saat merebus daging ayam, dia sempatkan diri memakan pisang. Ya, hanya pisang. Di luar dari itu, dia tersenyum lebar melihat para pangeran yang menyantap habis daging ayamnya. Akhirnya dia bisa membahagiakan mereka meski sebentar.

“Kenapa kau tersenyum-senyum padaku?”

Ucapan Taehyung yang kelewat percaya diri itu langsung melunturkan senyum Sena.

“Siapa juga yang tersenyum padamu?”

Taehyung kembali melanjutkan makannya. “Aku tahu aku tampan, tapi kau ini bukan tipeku. Aku tidak suka gadis dengan rambut berantakan, yang punya otot lelaki dan bau sepertimu.”

Sena memutar bola matanya. Yang benar saja, memangnya dia peduli apakah dia tipenya atau bukan?

“Kau tidak makan?”

Pertanyaan Jimin langsung membuatnya menoleh. Ia pun tersenyum sambil menggeleng. “Aku sudah makan tadi. Habiskan, itu untuk kalian.”

“Kenapa kau menghawatirkannya? Dia pasti sudah menghabiskan satu ekor ayam sendirian. Lihatlah, perutnya seperti akan meledak sewaktu-waktu,” balas Seokjin yang sedang sibuk membersihkan daging-daging sisa di tulang dengan mulutnya.

Sena memasang ekspresi miris sambil mengangguk-angguk. “Ya, si sulung kalian benaaaaar sekali. Aku sudah menghabiskan satu ayam dan rasanya aku ingin memuntahkan isi perutku ke wajahnya.”

“Wah … sepertinya dia benar-benar ingin meludahi wajahmu, Hyung. Hajar dia, Hyung. Hajar.” Provocator Yoongi is back.

“Sekali saja kau menyentuh wajah tampanku dengan tangan kotormu, akan kubunuh kau.”

“Ya, ya, ya. Bunuh saja. Itu sih kalau kau siap dengan serangan para wolfdog-ku.”

“Setelah ini tidak ada pekerjaan lain ‘kan? Aku lelah, aku mau tidur.” Namjoon pun bersuara, menyudahi perang mulut antara Sena dengan Seokjin.

“Oke, kalian kuberi waktu bebas sampai matahari terbenam. Silahkan lakukan apa saja yang ingin kalian lakukan. Setelah itu bersiaplah, kita akan mulai berburu di hutan.”

Wajah penasaran, horor, ngeri dan lain sebagainya pun bermunculan di kalangan para pangeran. Mereka saling pandang. Berburu? Itu adalah kata yang sering sekali mereka dengar di film-film fantasi dan nanti mereka akan melakukannya sendiri?

Heol! Kau menyuruh kami berburu?” seru Hoseok yang pertama.

“Di hutan itu? Hutan yang banyak hewan liarnya itu?” Yoongi kedua.

“Malam hari?” Jungkook ketiga.

“Ke tempat yang tidak ada gadis-gadis sexy itu?!” Namjoon keempat.

Yaa! Apa di pikiranmu hanya ada gadis sexy?”

“Aish hyung ini. Seriuslah sedikit hyung. Kita sedang tidak tinggal di istana, berhenti memikirkan film-film dewasamu!” Jimin pun bergabung dengan Seokjin untuk menyalahkan dan memukul Namjoon.

“Berburu apa? Berburu monster?” –Taehyung.

Hening sejenak.

“Bisakah pikiranmu itu lurus sebentar?” –Hoseok.

“Aku malu sekali punya hyung sepertinya.” –Jungkook.

“Kau tahu? The real monseuteo in this worldeu is you!” –Yoongi.

“Makan saja itu monster.” –Seokjin.

“Tsk, gadis sexy bahkan jauh lebih keren daripada monster.” –Namjoon.

“Saat kembali ke istana, jangan anggap aku sebagai teman sekelasmu lagi. Aku malu sekali memiliki teman sebodoh dirimu.” –Jimin.

 Taehyung menatap saudara-saudaranya tak mengerti.

“Ya sudah. Sekarang kalian bisa melakukan apa saja yang ingin kalian lakukan. Kalian lihat bayangan tiang itu. Aku memberi waktu bebas pada kalian sampai bayangan tiang itu menghilang. Dan itu dimulai … SEKARANG!”

Suasana yang semula tenang mendadak rusuh. Mereka berlarian ke sana kemari seperti korban kebakaran. Yang paling lucu dilihat adalah Namjoon. Awalnya dia ikut-ikutan Jungkook berlari ke kandang kuda, di separuh jalan dia pun sadar, dan segera putar balik mengikuti Seokjin ke gudang makanan, tersadar lagi, ia pun menggerutu dan segera berlari memasuki pondok.

Di saat yang lain sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, Taehyung justru masih duduk santai di sana menghabiskan sisa daging ayamnya. Sena mengernyit.

“Kenapa kau masih ada di situ? Cepat pergi, waktu bebasnya sudah dimulai.”

Taehyung menarik tulang ayam yang barusan berada di dalam mulutnya, kemudian menatap Sena lamat-lamat. “Hal yang ingin kulakukan sekarang adalah duduk diam. Kau tahu? Diam di dunia ini adalah emas, jadi aku ingin menghasilkan emas dengan diam seperti ini.”

Mendadak wajah meme Sena pun muncul. Apa-apaan yang dibicarakan makhluk itu?

“Oke, kalau begitu, semoga beruntung.”

“Ingatlah! Aku tidak akan membagi emasnya denganmu!”

“Memang siapa juga yang mau emas?” gumam Sena. “Emas tidak bisa dimakan.”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s