Give Me Your Headband

give-me-your-headband

 

ohnajla || school life, fluff, romance || oneshoot || G ||

Kim Taehyung

Jo Ahra

Min Yoongi

Menjadi anggota OSIS itu memang menyenangkan. Bisa jadi terkenal, bisa ditakuti oleh siapa pun, bisa menjadi idola, apa-apa yang dilakukan bakal kelihatan keren. Sejak dulu citra OSIS memang seperti itu.

Sayangnya aku paling benci dengan satu kegiatan OSIS yang harus dilakukan setiap minggunya. Entah ya, kenapa hanya aku tidak tidak menyukai kegiatan ini. Padahal teman-temanku sesama anggota OSIS paling bersemangat kalau sudah ada kegiatan seperti ini.

Oke, tidak perlu muluk-muluk lagi. Kegiatan itu tak lain tak bukan adalah RAZIA.

Satu kata yang penuh makna.

Razia ini hanya dilakukan oleh anggota OSIS. Dengan dalih bahwa OSIS itu serba benar dan serba keren, padahal sebenarnya anak-anak OSIS itu jauh lebih berandal dari yang bukan OSIS.

Seperti Jungkook misalnya.

Setiap harinya dia selalu membawa PSP ke sekolah, padahal sekolah melarang para siswanya membawa benda seperti itu. Tapi, setiap kali ada jadwal razia, dia selalu meninggalkan PSP-nya di rumah. Licik sekali ‘kan?

Ketua OSIS Kim Namjoon tidak jauh beda. Dia itu punya banyak sekali benda-benda yang berbau hal-hal 19+. Seperti majalah dewasa, foto-foto wanita barat yang tak berbusana, file-file ber’virus’ mesum. Pokoknya dia itu identik dengan hal seperti itu. Anehnya, dia tidak pernah membawa barang-barang itu setiap jadwal razia.

Karena jadwal razia hanya OSIS yang tahu. Tidak ada selain anggota OSIS yang bisa memprediksi kapan razia akan dilangsungkan.

Seperti hari ini.

Hari ini adalah hari Senin. Hari pertama masuk sekolah setelah libur sehari.

Semuanya tampak bersuka cita, seolah hari ini mereka akan terbebas dari yang namanya razia besar-besaran. Karena di hari sabtu sebelum pulang sekolah, sudah diadakan razia. Jadi mereka pikir kalau razia pekan ini bukan di hari senin.

Tapi siapa yang bisa membaca pikiran Kim Namjoon?

Tepat sebelum bel istirahat, kelas-kelas sudah dikepung oleh anggota OSIS, termasuk aku di dalamnya. Setelah mendapat izin guru, kami pun langsung menerobos masuk, menyuruh para siswa berkumpul di belakang kelas, sementara kami sibuk menggeledah tas mereka.

Tugasku sekarang adalah kelas 2-4, kelas tetanggaku.

Karena tiga temanku yang lain sudah sibuk menggeledah tas para siswa, maka aku pun memilih untuk menyidang anak-anak yang berdiri di belakang kelas. Mereka semua menatapku tajam, seolah mengatakan ‘awas kalau kau berani memaksa kami mengeluarkan barang-barang yang kami sembunyikan’. Aku hanya menyeringai tanpa dosa. Mataku tak sengaja bertemu tatap dengan seorang anak laki-laki yang bisa kubilang tampan dan sedang menatapku sambil menjilat bibirnya. Aku pun langsung menghampirinya.

“Lepaskan headband-mu sekarang.”

Bukannya menurut, dia justru menyeringai.

Sumpah, ini pertama kalinya aku melihat haksaeng setampan dia hanya karena dia memakai headband.

Andaikata headband itu tidak dilarang, sudah pasti aku tidak meminta benda sakti itu untuk dilepas dari kepalanya.

“Mau kau apakan kalau aku memberikannya padamu?”

Sebenarnya tidak ada. Mungkin kalau kau memberikannya padaku, benda itu akan kusimpan dengan baik di bawah bantalku agar wajah tampanmu bersama headband itu muncul di mimpiku.

“Kau tidak perlu tahu soal itu. Memakai headband di sekolah itu dilarang, jadi lepaskan sekarang juga.”

Aku tak tahu kenapa dia selalu menampakkan wajah menyebalkan sok kerennya itu. Mungkin dia pikir aku jatuh cinta padanya hanya karena headband-nya. Tapi maaf saja, aku sudah punya pacar dan di mataku dia hanya terlihat tampan saja.

Setelah aku tak memperlihatkan reaksi apa pun dari gaya sok kerennya itu, akhirnya dia melepaskan bandana itu dari kepalanya dan menyerahkannya ke tanganku.

Aku sibuk melipat dan menyimpan bandananya dalam tas kecil yang kubawa saat dia tiba-tiba berbisik di telingaku.

“Aku tahu kau pasti terpesona padaku ‘kan? Kalau kau ingin melihat orang tampan lagi, kembalikan bandana itu padaku nanti sepulang sekolah. Kutunggu di perpustakaan.”

Ia tersenyum padaku yang kubalas dengan seringaian kecut.

Sepulang sekolah, seperti katanya, aku pergi ke perpustakaan sambil membawa bandana biru miliknya. Perpustakaan mulai lengang karena kebanyakan siswa memilih pulang daripada berlama-lama di perpustakaan. Aku pun berkeliling mencari batang hidungnya yang besar dan akhirnya ketemu di bagian buku-buku sosial. Kuhampiri laki-laki itu sambil menyerukan namanya.

“Kim Taehyung.”

Dia pun menoleh. Tersenyum, lantas berjalan menghampiriku.

“Wow … kupikir kau tidak akan datang.”

Kuserahkan kain biru di tanganku padanya. “Berterimakasihlah padaku karena aku tidak membiarkan benda ini di buang ke tempat sampah.”

Ia mengambil bandananya sambil tersenyum. “Assa, kau memang yang terbaik.”

Aku hanya memutar bola mata. “Oke, kalau begitu aku pulang dulu.”

“Eit! Tunggu sebentar.” Langkahku tidak jadi beranjak sejak tangannya mendadak menggamit lenganku. Kupandangi dia dengan sedikit kesal. “Kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi.”

“Benarkah? Bukankah kau kemari membawa benda ini untuk melihat ketampananku lagi?” Ia menyeringai dengan sok kerennya.

Aku pun menampik tangannya dan menatapnya lekat-lekat. “Aku akui kau memang tampan dengan benda itu di kepalamu.” Dia mengangguk-angguk setuju sambil memasang benda itu di kepalanya lagi. “Tapi tujuanku mengembalikannya bukan untuk melihatmu.”

“Oh ya? Lalu apa tujuanmu, nona Jo Ahra?”

Dahiku mengerut melihatnya terkekeh setelah mengeja namaku. Apa namaku itu sangat lucu baginya?

“Aku hanya kasian padamu.” Aku beranjak lagi, namun dia menahan tanganku lagi.

“Buru-buru sekali sih. Apa salahnya kau melihatku lagi? Ow … atau kau sudah punya namjachingu?”

Tanpa perlu kujawab, namjachingu-ku tiba-tiba muncul. Serius aku tidak menyuruhnya untuk ikut datang ke perpustakaan. Dianya saja yang memang suka berlama-lama di perpustakaan meskipun bel pulang sudah berbunyi.

“Berisik, mengganggu tidur orang.”

Kutampik tangan Taehyung dengan kasar.

Kekasihku, Min Yoongi, kelas 3-3, berdiri di sebelahku sambil menggaruk rambutnya yang berantakan. “Ada apa huh? Kau sedang mencoba menggoda kekasihku?”

Taehyung seolah kehilangan kekerenannya dalam sekejap.

Yang benar saja, siapa sih yang tidak kenal Min Yoongi? Dia itu sudah jadi yang paling keren sejak masuk sekolah ini. Ke sekolah pakai anting, rambut dibuat berantakan, wajahnya yang garang-garang imut, mana terkadang dia suka memakai choker. Sudah berulang kali dia kena razia tapi dia tetap tidak kapok. Entah kenapa hari ini aksesorisnya masih ada. Mungkin dia belum datang saat razia berlangsung karena dia ini memang suka sekali datang terlambat akibat hobi tidurnya yang kelewatan.

Anehnya, sekalinya Yoongi memakai headband, jatuhnya malah imut, bukan garang.

“Kalau dia sudah bilang tidak ada urusan, harusnya kau biarkan dia pergi,” lanjut Yoongi saat Taehyung hanya bergeming dengan mulut terkatup rapat.

“Kenapa masih berdiri di situ? Pergi sana.”

Taehyung langsung membungkuk dan bergegas pergi.

Tersisalah kami berdua di sini.

Yoongi menatapku dengan tajam meskipun masih sedikit mengantuk.

“Sedang bertingkah sok baik eh?”

Aku hanya menggeleng.

“Lalu kenapa kau mengembalikan benda itu padanya? Ingin melihatnya lagi?”

Aku menggeleng lagi.

Pletak!

Dahiku rasanya nyut-nyutan setelah dia menjentikkan jarinya di sana. Dia ini, kalau sudah cemburu selalu saja menyentil dahiku. Dikira tangannya itu tidak keras apa?

“Sekali lagi kau melakukan itu pada laki-laki lain, kucium kau.”

Aku melongo melihat kepergiannya. Apa katanya tadi?

Oh astaga, hukuman macam apa itu?

Ah ya sudahlah, terserah saja.

—FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s