Swag Couple Series [#7 Punishment]

swag-couple-series1

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

#1 Intro Boy ver.

#2 Intro Girl ver.

#3 Want You More

#4 Don’t Mess With Me

#5 Oppa

#6 Nobody Like You

#7 Punishment

Hari minggu pukul 12 siang, Jimin benar-benar datang ke kediaman keluarga Min. Dia memarkir sepedanya di halaman. Sambil membawa kantong baju ia pun menghampiri pintu dan menekan bel. Cukup lama dia menunggu sampai akhirnya pintu dibuka.

Laki-laki itu tersenyum melihat potret seorang gadis yang baru bangun tidur. Berbanding terbalik dengan gadis itu sendiri yang membelalak seolah baru saja melihat setan.

“Hai—”

BRAK!

.

.

Mampus! Jimin datang!

Oh shit! Aku lupa kalau dia datang pukul 12.

Huwaaa!!! Aku belum mandi!

Oppaaaaaa!!

Aku berlarian ke kamar sambil meneriaki kakakku. Dia yang juga masih tidur hanya menggeliat saat aku sampai ke kamar, mengobrak-abrik lemari baju mencari baju ganti yang pas untuk menggantikan baby doll cokelat pendekku.

Aku harus mandi, aku harus mandi.

Yaa—”

“Jimin sudah ada di depan. Suruh dia masuk, oke? Aku harus mandi.”

Yaa yaa!

Tanpa memedulikan teriakan kakakku aku langsung keluar dari pintu mint untuk pergi ke kamar mandi. Jimin tidak boleh melihatku yang belum mandi.

.

.

Kugaruk kepala belakangku yang tidak gatal. Tch, jadi maksudnya gadisku itu malu bertemu denganku karena baru bangun tidur?

Haha … lucunya.

Ganas juga dia kalau tidur.

Entah dia sadar atau tidak, aku sudah lihat rambut singanya dan bekas sungai di wajahnya.

Jorok sih.

Tapi menurutku dia lebih cantik begitu.

Wajahnya tidak ada polesan make up, polos.

Kenapa juga harus malu kalau sudah terlanjur?

Tch, namanya juga perempuan.

CKLEK.

“Sudah datang?”

Suara laki-laki itu adalah suara oppa-nya. Aku langsung membungkuk 90 derajat penuh. Aku harus hormat pada kakaknya. Ekspresi dinginnya kemarin terbayang kembali di kepalaku.

“Masuklah.”

.

.

“Eiy Hyung tidak perlu aku tidak—”

“Diam dan ambil saja itu,” potong Yoongi ketus sambil membuka kaleng sodanya sendiri dan menyesapnya sedikit. “Pacarmu akan marah kalau aku tidak memberimu apa-apa.”

Jimin menggaruk kepalanya kikuk. Lalu ia pun mengambil kaleng bagiannya. “Kamsahabnida.”

“Jangan berterima kasih dulu.”

Jimin menelan ludah.

Tak lama kemudian Yoonji pun datang. Dia sudah cantik dengan dress pendek tanpa lengan berwarna hijau dengan motif bunga-bunga tulip putih di bagian bawah. Wajahnya pun sudah dipoles dengan make up tipis. Tidak lupa dengan rambutnya yang diberi bando berwarna cokelat emas.

“Apa maksudnya memakai baju seperti itu, huh? Memangnya kau mau kencan?” celetuk Yoongi dengan kasarnya yang membuat Yoonji batal duduk. Dia pun berdiri dengan kepala menunduk.

“Maaf.”

Yoongi meletakkan kaleng sodanya ke atas meja. “Duduk di sebelah Jimin.”

Yoonji hanya menurut. Begitu duduk, Jimin membisikkannya sesuatu di telinga dengan suara lirih.

“Cantik.”

Ia tersenyum tipis tapi hanya sebentar karena dia menyadari tatapan tajam Yoongi pada mereka.

Melihat dua kepala yang sama-sama tertunduk, Yoongi pun menghela napas. Ia mengambil kembali kaleng sodanya, tapi tidak segera ditempelkan ke mulut. Hanya melayang di udara.

“Salah satu dari kalian coba jelaskan padaku soal kemarin.”

Yoonji dan Jimin pun saling pandang. Lalu, Jimin mengangkat kepalanya.

“Begini, Hyung, kemarin itu hujan deras. Kau tahu ‘kan kalau aku berangkat dan pulang sekolah dengan naik sepeda? Dan kemarin kami sudah tiba di sana sewaktu hujan turun dan … aku mengajaknya masuk ke sana.”

“Bukannya selain motel, ada juga pom bensin di sana? Kenapa kalian tidak ke sana saja dan malah ke motel?”

“Itu—” Jimin langsung menahan Yoonji untuk tidak bicara.

“Kalau kami ke pom bensin, dia akan jatuh sakit. Kau tahu ‘kan, seragam kami sampai basah kuyup. Jadi aku mengajaknya ke motel karena aku pikir di sana akan disediakan baju ganti. Setidaknya Yoonji tidak akan jatuh sakit, Hyung. Sumpah, aku tidak bermaksud ingin melakukan yang lain. Aku mengajaknya ke sana agar dia tidak sampai jatuh sakit, itu saja.”

Yoongi menyesap sodanya pelan. Lalu menyimpannya kembali di atas meja. “Bisakah aku memercayaimu?”

Jimin mengangguk cepat. “Kau bisa mempercayaiku, Hyung. Aku bersumpah demi apa pun di dunia ini.”

Laki-laki berusia 17 tahun itu pun memandang dua anak itu bergantian. Kemudian ia pun menghela napas.

“Baiklah. Aku percaya pada kalian.”

Wajah mereka langsung sumringah.

“Asalkan jangan pernah ulangi itu lagi, mengerti? Dan kau, babi hijau, kalau kau memang terpaksa pergi ke tempat seperti itu bersama Jimin, jangan lupa hubungi aku dulu, arasseo?”

Yoonji mengangguk-angguk.

“Oke. Kalau kalian mau pergi kencan silahkan.” Sambil membawa kaleng sodanya, Yoongi pun beranjak meninggalkan mereka hanya berdua di ruang depan.

.

.

Aku pun menghela napas. Huft, kupikir kakak akan marah-marah seperti anjing gila dan menghukum kami berdua untuk tidak bertemu lagi. Hm … ternyata kakakku tidak seburuk itu. Baguslah, dia bisa diandalkan juga.

Seseorang mencium pipiku. Reflek aku pun menoleh. Lihatlah siapa ini … dia mochi imutku yang suka sekali mencari kesempatan dalam kesempitan.

“Mau keluar bersamaku?”

Sebenarnya aku berpakaian seperti ini bukan untuk pergi kemana pun. Aku hanya ingin terlihat baik di depannya dan yah … aku tanpa pikir panjang mengambil dress ini. Dress hadiah dari eomma.

Shireo.”

Wae?

Aku mengambil kantong baju yang dibawanya. Sudah kuduga, isinya adalah seragamku yang sudah kering. Lucunya ada bau-bau khas pewangi dari seragamku ini. Pasti dia mencucinya dulu sebelum dibawa ke sini. Sudah disetrika pula.

Dia tiba-tiba merangkul lengan kananku lalu digoyang-goyang persis seperti yang sering dilakukan kakak. Aku menoleh dengan kesal. Ekspresinya itu loh … ekspresi orang yang menahan pup.

“Ke toilet sana,” kataku dengan santainya yang membuatnya langsung cemberut. Gosh! He’s so cute.

“Ayo keluar ~ kencan ya? Ya?”

Aku tetap menolak. Sssh, dia semakin menggoyangkan lenganku. Ah lemakku!!

“Ah shireo! Aku mau bersantai di rumah! Aku mau tidur!”

“Kalau begitu aku juga.”

Ah jinjja. Langsung kudorong wajahnya sampai terlempar jauh lalu aku ambil kesempatan untuk beranjak tapi….

“Kyaa!”

Apa-apaan ini? Kenapa aku bisa terduduk di pahanya?!

Dia menatapku dengan senyuman nakalnya. Ingin sekali kusobek bibirnya itu. Ugh … kenapa aku tidak bisa berdiri?

“Lepas tidak?”

Bukannya melepaskan dia justru makin mengeratkan rangkulannya di pinggangku. Astaga, kenapa sulit sekali untuk berdiri? Ini karena lemakku atau bagaimana sih?

“Park Jimin! Lepaskan!”

Dia menggeleng. “Aku akan lepaskan kalau kau setuju keluar bersamaku.”

Sinting. Sudah jelas-jelas aku tidak mau. Hari ini aku mau bersantai, Park Jimin!! Mengertilah!

“Ya ampun, lemakmu bertambah ya?”

Dengan seenak jidatnya dia mencubit perutku. NOSE PUNCH! Meskipun aku cinta, tapi kalau dia sudah berani menyentuh lemakku, tidak akan kubiarkan dia pergi dalam keadaan sehat.

Aku menyeringai melihatnya kesakitan. Rasakan itu.

Tapi sialnya dia masih tidak melepaskanku.

“Park Jimin! Lepaskan tidak? Lepaskan!!”

Tiba-tiba dia menarik tengkukku dan CHU~

First kiss~” bisiknya dengan suara husky-nya yang menyebalkan itu.

First kiss katanya? Ngelawak ya?

First kiss-nya itu Min Yoongi, bodoh,” kata suara laki-laki familiar dari belakangku. Yah … aku tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang sedang bicara itu. Pasti calon pasien siscon yang berdiri sambil menyandarkan sebagian tubuhnya di dinding.

Ekspresi Jiminlah yang menjadi buktinya.

TBC

Advertisements

One Reply to “Swag Couple Series [#7 Punishment]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s