Save Me

save-me

ohnajla || romance, fluff || Teen || oneshoot ||

Jeon Jungkook (BTS)

Lee Mi Yeon (OC)

Yoo Kihyun (Monsta X)

“Maaf Miyeon-a, hubungan kita harus selesai di sini.”

Mengingat kata-kata itu, Miyeon kembali menuangkan soju ke dalam gelasnya. Lalu meminumnya rakus.

Wae? Bukankah kau sudah berjanji kalau kita akan selamanya bersama-sama?”

Pria itu menggeleng. “Itu dulu. Saat kita masih sekolah, saat kita masih belum tahu seberapa kejamnya dunia ini. Sekarang … aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku akan pergi ke Amerika besok untuk mencari kerja di sana.”

Sekarang, tidak cukup dengan gelas kecil, dia pun menempelkan ujung botol soju yang masih ada setengah itu ke bibirnya. Meneguknya habis dalam sekali tarikan napas.

“Lalu bagaimana denganku?! Kau tega meninggalkanku dalam kondisi seperti ini?! Aku hamil anakmu, bodoh! Bayi ini sudah ada di perutku sejak seminggu lalu!”

Ia mengusap kasar air matanya.

“Maaf. Aku tetap harus pergi besok.”

“BANGSAT!”

PRANK!

“Nona!!”

Dia buru-buru mengeluarkan berlembar-lembar uang dari dompetnya dan tanpa dilihat lebih dulu berapa nominalnya, dia langsung meletakkan uang itu di atas meja dan keluar usai mengambil satu botol yang masih penuh.

Dengan langkah sempoyongan, dia berjalan sendirian menyusuri gang sepi kompleks sambil meminum soju-nya.

“Lalu aku harus bagaimana dengan bayi ini?!”

“Gugurkan saja. Atau … kau bisa membesarkannya bersama suamimu. Menikahlah dengan pria lain.”

“Yoo Kihyun! Sebegitu mudahnya kah masalah ini untukmu? Aku ini hamil anakmu. Anakmu! Apa kau pikir pria lain akan dengan begitu mudahnya menikahiku yang sedang hamil anakmu?! Andwae! Kau tidak boleh pergi!!”

Mian, aku benar-benar tidak bisa.”

“Wah … lihat siapa ini.”

Kepalanya langsung menoleh ke asal suara. Tepat tak jauh darinya terdapat segerombolan pria yang sedang bermain catur. Salah seorang diantaranya menegurnya, sementara yang lain menyeringai dan ada juga yang tidak peduli.

“Sendirian saja, nona? Mau kutemani?” Pria lain dengan poni yang menutupi sebelah matanya mendekat. Dia tampak muda, mungkin seusia Miyeon.

Miyeon yang setengah sadar berhenti. Mendongak sedikit untuk menatap mata pria itu. “Kau mau jadi suamiku?”

Ye?!” Pertanyaan yang tak terduga itu sontak membuat pria tersebut terkejut. Bukan ini yang dia harapkan dari gadis yang sedang digodanya.

Miyeon pun menarik kerah baju pria itu. “Mau jadi suamiku? Di perutku sekarang ada seorang anak dan dia butuh seorang ayah untuk lahir.”

Ige mwoya?” Pria itu pun langsung menyentak tangan Miyeon. Sekarang minatnya untuk menggoda Miyeon pun lenyap. Ia benar-benar tidak mengharapkan ini. Tujuannya mendekati gadis itu hanyalah untuk bersenang-senang, bukan untuk menjadi suami dari anak entah ulah siapa di perut gadis itu.

Harusnya Miyeon takut berada di sana. Tapi karena kesadarannya yang mati hidup, ia pun tergesa-gesa menghampiri segerombolan pria itu. Menggebrak papan catur dengan botol soju yang dibawanya sampai bidak-bidak catur di atasnya berantakan. Para pria yang sedang asyik bermain itu mendadak kesal.

“Adakah salah satu diantara kalian yang ingin menjadi suamiku?”

“Kau ini bicara apa?” celetuk seorang pria yang tadi jadi pemain catur warna putih.

Miyeon mengelus perutnya. “Ada seorang bayi di sini. Aku tidak mau menggugurkannya. Aku tidak mau membunuhnya. Tolonglah, siapa pun di antara kalian, jadilah suamiku.”

“Nona ini sepertinya mabuk parah,” ucap yang lain.

“Harusnya kau minta pertanggungjawaban pada orang yang telah melakukannya padamu. Bukan pada orang lain.”

Miyeon menggeleng. Wajahnya sudah basah oleh air mata. “Kumohon. Jebal.”

“Dengar Nona, kami di sini bukan agen suami. Pergilah sekarang. Jangan ganggu kami lagi.”

“Kumohon! Kumohon nikahilah aku!!”

“Hei, seret dia pergi.”

Miyeon memberontak ketika dua lelaki menyeretnya untuk pergi dari sana. Sayangnya tenaganya tidak lebih besar dari mereka sehingga dia pun terseret menjauh. Dua pria itu mendorongnya sampai dia terjatuh di tengah jalan, pertemuan antara tiga ruas jalan. Setelah itu mereka pun meninggalkannya sendirian di sana.

Miyeon menangis keras di sana. Memeluk tubuhnya sendiri yang hanya dibalut dengan rok pendek di atas lutut dan sweater putih kebesaran. Tidak ada yang peduli padanya meskipun beberapa pejalan kaki sempat lewat. Mereka sama-sama menganggapnya gila.

Setelah puas menangis, dengan kepala berat, mata bengkak dan kesadaran yang mulai menurun, ia pun beranjak menyeret kakinya untuk pulang.

Di belokan mendadak pandangannya berkunang-kunang. Dia berhenti sebentar. Memijat-mijat kepalanya dengan pelan, dan berjalan lagi setelah agak baikan. Tapi rasa pusing yang mengikat tiba-tiba menyerangnya. Dia yang tidak kuat berusaha meraih apa pun di sekitarnya tapi tidak bisa dan akhirnya terjatuh.

BRUK.

Sepasang lengan tahu-tahu sudah merangkul pinggangnya. Menahannya untuk tidak jatuh dan mendudukkannya perlahan di jalanan. Miyeon yang masih punya sedikit kesadaran langsung mendongak.

“Kau baik-baik saja, Nona?”

.

.

Jungkook menggaruk kepalanya frustasi sampai rambutnya berantakan. Ia pun mengendurkan dasinya lalu membanting punggungnya pada bantalan kursi. Ugh hari ini banyak sekali yang terjadi di perusahaannya. Keadaan keuangan yang mulai sulit, beberapa karyawannya ketahuan bercinta di tempat kerja, Houston Group relasi luar negerinya yang juga mendadak membatalkan perjanjian … argh! Rasanya kepalanya ingin pecah saja.

Semua kekacauan ini terjadi setelah ayahnya pensiun. Pria itu memberinya beban yang berat sekali padanya atas apa-apa yang tidak diselesaikan oleh ayahnya itu. Sssh andai kakaknya tidak tersandung kasus korupsi, mungkin kehidupan masa mudanya tidak akan diinvestasikan untuk perusahaan ini.

Segera setelah melihat waktu di jam digital mejanya, dia pun beranjak keluar dari kantornya sambil melepas jas. Dia melewati meja asistennya tanpa bicara apa pun. Melewati para karyawan yang masih lalu lalang dengan wajah dingin. Masuk ke lift khusus eksekutif. Begitu sampai di lantai dasar dia pun lekas memasuki mobilnya dan mengendarainya ke suatu tempat.

Dia tidak kembali ke rumahnya, tapi memutuskan mencari udara segar yang hanya bisa dia peroleh di tempat jarang lalu lintas.

Dan di sinilah dia. Menyusuri gang-gang kecil pemukiman yang nyaris lengang karena memang sudah tengah malam. Hanya suara gemerisik angin dan samar-samar suara lalu lintas yang cukup jauh dari tempat ini.

Sempurna. Tempat ini meskipun tidak ada yang bisa dilihat selain rumah-rumah yang saling berhimpitan, cukup mampu untuk menetralkan stress-nya.

Jas yang disampirkan di bahu. Tubuh hanya dibalut kemeja putih yang sudah dikeluarkan dari celana dengan dasi longgar dan bagian lengan yang dilipat sampai siku. Rambut berantakan. Wajah tampan. Siapa yang tidak akan tertarik melihatnya? Sayangnya tidak ada siapa pun di sini yang tertarik melihatnya karena memang tidak ada siapa-siapa.

Di tengah keasyikannya menghirup udara segar, tiba-tiba saja dia melihat seorang gadis tak jauh di depannya yang sedang berjalan sempoyongan. Dahinya mengkerut mencoba untuk menebak apa yang sedang dilakukan gadis itu. Ketika gadis itu nyaris saja jatuh, segera dia berlari cepat menghampirinya.

HUP!

Syukurlah, dia berhasil menangkap tubuh gadis itu sebelum terbentur keras ke jalan. Kemudian dia pun mendudukkannya perlahan.

“Kau baik-baik saja, Nona?”

Gadis yang awalnya tertunduk itu perlahan mendongak. Tepat saat pandangan mereka saling bertemu dadanya tiba-tiba sesak.

“Lee Miyeon?”

Bahkan menyebut nama itu, bibirnya bergetar.

Gadis yang dilihatnya berjalan sempoyongan tadi ternyata adalah Lee Miyeon.

Orang yang pernah dicintainya dan pernah menyakitinya dulu.

Sementara gadis itu sendiri mengucek matanya. “Kau … Jeon Jungkook?”

Pria itu menatapnya lamat, lantas mengangguk.

Entah kenapa, air mata yang sudah habis tiba-tiba muncul lagi ke permukaan. Dirangkulnya leher pria itu dan menangis di sana.

Jungkook sendiri yang sama terkejutnya hanya tertegun. Tidak mengerti kenapa tiba-tiba Miyeon menangis seperti ini. Apakah gadis itu menangis karena bertemu dengannya atau karena yang lain?

Tanpa harus bertanya, Miyeon pun memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran Jungkook.

“Jungkook-a … nikahilah aku.”

Mata bulatnya makin bulat. “A-apa maksudmu?” Kenapa gadis ini mendadak menyuruhnya menikahinya padahal mereka baru saja bertemu setelah sekian lama.

“Kihyun … Kihyun….”

Sekali lagi Jungkook merasakan sakit di hatinya. Kihyun. Ya, dia tahu nama itu. Itulah nama yang telah membuatnya menderita di masa-masa sekolah menengah atasnya. Orang yang sama yang telah memenangkan hati pujaan hatinya.

“Aku hamil anaknya. Hiks, dan dia meninggalkanku. A-aku … aku harus bagaimana dengan perutku sekarang, Jungkook-a?”

Isakan Miyeon makin keras setelah mengucapkan sederet kalimat yang sukses membuat Jungkook terkejut untuk ketiga kalinya. Pria itu mendorong tubuh Miyeon agar dia bisa melihat wajah sembab itu dengan jelas. Kentara sekali kalau gadis itu sudah sangat putus asa. Make up-nya sampai luntur hingga membuat wajahnya terlihat aneh, tapi meski begitu Jungkook tahu kalau gadis ini benar-benar Miyeon, cinta pertamanya.

“Kumohon, Jungkook-a. Nikahi aku. Hiks. Jadilah ayah dari anak ini. Aku-aku tidak mau menggugurkannya. Bayi ini tidak bersalah.”

Jungkook menyeka air mata di pipi Miyeon dengan kedua ibu jarinya. Namun dia tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun. Lidahnya kelu.

“Jungkook-ajebal … tolonglah aku. Kau boleh membunuhku setelah anak ini lahir. Kau boleh menjebloskanku ke penjara, menceraikanku dan sebagainya asalkan ambil bayi ini sebagai anakmu. Kumohon, Jungkook-a—”

Miyeon tak lagi melanjutkan kata-katanya setelah Jungkook memeluknya erat. Tangisnya pecah lagi. Semakin menyayat hati seiring pergerakan pelan tangan Jungkook di punggungnya. Dia benar-benar putus asa.

Sementara Jungkook sendiri memejamkan matanya pelan. Berusaha menetralisir perasaannya yang mulai bercampur aduk. Bukan ini yang dia inginkan malam ini. Dia hanya butuh udara segar untuk membuang penatnya, bukan bertemu dengan cinta pertamanya dan mendengar berita buruk sekaligus permohonan yang putus asa itu. Dia tidak menginginkan ini. Dia sudah mengubur perasaannya pada wanita sejak Miyeon mematahkan hatinya. Dia telah bertekad untuk tidak jatuh cinta pada siapa pun lagi sampai usianya 30 tahun.

Dia berhasil melakukannya, sayangnya semua usaha yang telah dibangun selama 5 tahun itu runtuh begitu saja karena peristiwa malam ini. Hatinya masih tetap bergetar untuk orang yang sama.

Jungkook pun menarik diri setelah isakan Miyeon mulai terdengar patah-patah. Sekali lagi dia menghapus air mata di pipi gadis itu. “Kaja. Ayo kita menikah.”

Jinjja?

Pria itu mengangguk, tak lupa mengulum senyum. “Aku akan menjadi ayah dari anak itu.”

Miyeon pun memeluknya lagi. “Gomawo Jungkook-a. Jinjja gomawo.”

.

.

“Kau … dengan rambut kelapa dan kacamata kuno itu berani mengajakku berkencan?”

Jungkook langsung menunduk. Hilang sudah keberanian yang telah dibangunnya sejak jauh-jauh hari. Bukan kata setuju yang didengarnya, tapi justru kalimat kasar yang sukses menggores hatinya.

Miyeon, gadis berdandanan ponytail itu mendengus geli seraya melipat kedua tangan di perut. “Wah … aku tidak percaya kalau pesonaku juga membuat orang sepertimu menyukaiku. Ya, terima kasih sudah menyukaiku. Tapi sayang sekali, kau … bukan tipeku. Aku tidak suka pada pria kuno sepertimu. Yang benar saja berkencan denganmu. Yang ada aku pasti akan menjadi bahan tertawaan yang lain. Singkat saja, aku tidak mau.”

Jungkook memainkan jemarinya gelisah. “Ta-tapi bisakah kau mencobanya dulu?”

“Mencoba? Hahahahaha. Mencoba katamu? Cih! Hei, dengar ya, nerd. Kita itu berada di level yang berbeda. Aku berada di puncak rantai makanan, sementara kau berada di tingkat paling bawah. Tidak akan pernah orang sepertiku berkencan denganmu. Lagi pula bersamamu itu membosankan. Hanya buku, rumah, sekolah, oh astaga. Memangnya kau tidak dengar? Aku ini sudah menjadi kekasih Yoo Kihyun.”

Jungkook sudah tahu. Dia tahu betul kalau Miyeon sudah berkencan dengan si berandal tampan bernama Yoo Kihyun, kakak kelas mereka. Orang yang sama yang telah mem-bully-nya sejak dulu. Dia sangat tahu itu.

“Ah sudahlah. Sekalinya tidak, tetap tidak. Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang kuno sepertimu. Jangan lagi bertemu denganku, eo? Pergilah mencari gadis lain yang selevel denganmu.”

.

.

Jungkook tersenyum tipis. Dihampirinya ranjang rumah sakit di mana di sana duduklah seorang wanita yang sedang menggendong bayi yang baru berusia 13 jam. Dia mengelus pelan pipi lembut bayi laki-laki yang terlelap setelah diberi ASI. Kemudian mengecup bibir kecilnya sekilas, tersenyum lagi.

Mata bulatnya bergulir pada seorang wanita yang telah berhasil melewati masa antara hidup dan matinya demi bayi mungil tersebut. Wanita itu juga sedang menatapnya. Dengan mata berkilauan dan hidung memerah. Bibir tipis tanpa polesan lipstick itu bergetar pelan.

Jungkook terkekeh pelan. “Menangis saja, jangan ditahan.”

Dan setetes air mata pun lolos dari pelupuk mata sipitnya. Dia mengulurkan satu tangannya, meminta pelukan. Dan Jungkook memberikan apa yang dia mau tanpa banyak protes.

“Jungkook-a mianhae. Aku sudah sangat jahat padamu dulu. Aku benar-benar jahat sudah melukai perasaanmu di masa lalu. Tolong maafkan aku.”

Jungkook menepuk pelan punggung Miyeon. “Kita sudah sepakat untuk tidak menyinggung masa lalu lagi, bukan?”

“Tapi aku tetap merasa sangat bersalah padamu. Aku sangat tidak pantas dicintai oleh pria baik sepertimu. Seperti janjiku dulu. Kau boleh membunuhku sekarang atau mencampakkanku karena anak ini sudah lahir. Lakukan apa pun itu yang bisa menghukum orang tak tahu diri ini.”

Jungkook menarik tubuhnya untuk melihat wajah istrinya dengan seksama. Ya, selang seminggu setelah hari itu mereka benar-benar menikah. Seorang direktur muda Jeon Corp. memutuskan menikahi seorang wanita bernama Lee Miyeon yang telah hamil anak dari pria lain. Dan sekarang anak itu lahir di bawah marga Jeon. Ia mengusap pipi basah Miyeon dengan ibu jarinya.

“Aku akan meninggalkanmu nanti, Miyeon-a. Setelah anak ini bisa berjalan sendiri, menyebut kita sebagai appa dan eomma, makan sendiri, mandi sendiri, pergi ke sekolah sendiri, belajar sendiri, bekerja sendiri, sampai dia punya keluarga sendiri dan bisa mengurusmu, barulah aku akan pergi darimu. Pergi dari dunia ini. Aku akan pergi setelah anak ini bisa menjaga dan mengurusmu di saat kau tua nanti.”

Miyeon memindah tangannya ke pipi Jungkook yang juga digenggam oleh pria itu.

Miyeon tidak bodoh. Dia tahu apa maksud Jungkook.

Pria itu tidak akan meninggalkannya sampai kapan pun.

Nan neoreul saranghae,” bisik Jungkook sebelum mengecup lembut dahi Miyeon.

–FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s