Swag Couple Series [#9 Who Are You (1)]

50170fbc18631f9e97361f7afbb20e736f2f6b06_hq

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

#1 Intro Boy ver.

#2 Intro Girl ver.

#3 Want You More

#4 Don’t Mess With Me

#5 Oppa

#6 Nobody Like You

#7 Punishment

#8 Bad But Sweet 

#9 Who Are You (1)

Aku Min Yoongi. Maaf sudah mengecewakan para pemirsa yang telah menantikan YoonMin sejak jauh-jauh hari. Sekarang atas izin author, akhirnya aku mendapat jatah cerita satu chapter lagi. Entah ini chapter keduaku atau chapter terakhirku, yang pasti sekarang bintangnya adalah aku.

Akhir pekan, karena Jimin dan Yoonji suka sibuk berkencan berdua di mana-mana. Aku yang kesepian pun akhirnya ikut-ikutan pergi kencan.

Bersama siapa?

Suga.

Eaaak!

Nggak lah. Aku pergi sendiri, kencan dengan diriku sendiri.

Aku memilih pergi ke tempat yang tidak dikunjungi dua bocah itu. Kalau kalian penasaran di mana, jawabannya adalah bioskop dekat sungai Han.

Sendirian itu tidak enak, dan aku serius.

Di saat yang lain datang bersama pasangan masing-masing, aku justru datang dengan tubuhku sendiri. Miris memang, tapi mau bagaimana lagi. Takdirku adalah sebagai jomblo.

Sebelum pergi ke loket tiket, kupandangi poster-poster film yang akan diputar hari ini. Ada berbagai jenis genre. Sayangnya aku sudah menonton semua film thiller, horor dan action-nya. Terpaksa kupilih film bergenre romance.

Mengantri di loket tiket.

Sepasang kekasih di depanku tampaknya sangat-sangat bahagia hari ini.

Biar kutebak, pasti ini kencan pertama mereka?

Ah tidak. Kalau kencan pertama, tidak mungkin mereka skinship sampai sebegitunya.

Mungkin saja anniversary.

Ah. Kenapa juga malah aku yang pusing?

Peduli amatlah.

Giliranku akhirnya tiba. Kuambil uang dari dompet seharga tiket film yang ingin kubeli. Dan begitu mendongak—

“Yoongi-a?”

Dahiku otomatis berkerut. Gadis penjaga loket ini tahu namaku?

“Maaf, siapa ya?” tanyaku akhirnya.

Ia tersenyum. Lebih tepatnya, tersenyum getir.

“Kau tidak ingat padaku?”

Sekali lagi dia membuatku heran.

Mungkin dia memang tahu siapa aku. Bahkan tahu namaku. Tapi, aku sama sekali tidak familiar dengan wajahnya. Dan kurasa aku tidak pernah punya teman dia.

Melihat ekspresi tak tahuku, mungkin dia kecewa dan hanya mengulurkan tangannya meminta uang yang akan kuserahkan.

“Film apa yang mau kau tonton?”tanyanya usai menerima uang dariku.

Romance.”

Anehnya dia tersenyum. “Tumben sekali.”

Kugaruk kepala belakangku yang tidak gatal. “Yah … siapa pun kau, kau pasti sudah sangat mengenalku.”

“Lebih dari kenal,” balasnya sembari mengulurkan tiket kepadaku.

Kuambil tiket itu. Lalu, kupandangi dia sekali lagi untuk kembali mengingat siapa gadis ini.

“Pulangmu jam berapa?” Pertanyaan itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutku. Aku bukannya ingin mengencani orang yang tak kukenal hanya karena aku sudah bosan menyendiri.

Tapi aku ingin tahu siapa dia yang tahu siapa aku.

Bukannya menjawab, dia justru memberiku secarik kertas bertuliskan nomor ponselnya. “Nanti malam coba telepon aku. Kalau aku menjawab teleponmu, berarti aku sudah selesai.”

Segera kusimpan kertas itu di dalam dompet.

“Bisakah kau pergi sekarang? Di belakangmu masih banyak orang yang mengantri.”

Otomatis aku pun menoleh dan wow! Daku terkejut mendapati berpasang-pasang manusia yang sudah menatapku kesal. Oke, aku segera hengkang dari sana saat itu juga.

.

.

Selama menonton film bersama yang lain, pikiranku sebenarnya sedang tidak ada di tempat.

Aku hanya duduk sambil menghabiskan popcorn besar dan pepsi yang sama besarnya.

Memilih film romansa pun bukan karena ingin, tapi terpaksa.

Mungkin aku sudah gila.

Yang ada di mataku sekarang, pemeran pria adalah Jimin dan pemeran wanita adalah adikku.

Padahal aku tahu pasti kalau aktor dan aktrisnya adalah orang-orang dewasa, bukan bocah seperti mereka.

Ah terserahlah. Kenapa aku selalu memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Selesai menonton film, aku pun pergi ke taman sungai Han, menyewa sebuah sepeda di sana.

Mumpung virus malasku sedang dilemahkan, ada baiknya aku menggunakan kesempatan ini untuk berkeliling tepi sungai dengan sepeda.

Begini-begini aku tidak malas berolahraga, beda dengan adikku yang tingkat malasnya sudah akut. Jadi meskipun makanku banyak, aku tidak akan berubah menjadi babi hitam.

Puas berkeliling taman, kukembalikan sepeda itu pada yang punya.

Sekarang aku bingung harus kemana. Tidak ada rencana spesifik sebelum aku memutuskan kemari. Tujuan awalnya hanya untuk menonton film dan … doing everything.

Kulirik arlojiku.

5.10 PM.

Masih terlalu siang untuk pulang. Aku pun memutuskan untuk masuk ke sebuah café setelah mencium aroma Americano yang kusuka.

Americano satu,” kataku pada pelayan sebelum dia pergi meninggalkan mejaku.

Sambil menunggu, kukeluarkan ponsel dari saku celana. Teringat pada si babi hijau Yoonji yang sedang berkencan dengan mochi-nya, kukirim dia pesan untuk menanyakan lokasinya.

Fr: Mint

   Aku sedang di taman bermain.

Taman bermain?

To: Mint

   Oke, jangan pulang malam-malam.

Setelah mendapat balasan, tiba-tiba seorang pelayan lain datang menghampiriku sambil membawa secangkir Americano.

“Terima kasih,” ucapku mengiringi kepergiannya.

Sekarang aku tidak sendirian lagi. Bertemankan Americano, aku duduk di sudut café ini sambil menikmati alunan musik yang dimainkan oleh pihak tempat.

Café sedang ramai-ramainya. Mungkin karena hari minggu yang bertepatan dengan hari kencan sedunia. Apalah aku yang hanya duduk sendirian dengan tiga kursi kosong yang mengelilingi meja ini. Sudah tidak bawa apa-apa, sekarang aku harus mati bosan karena sendirian.

Begitu Americano-ku habis, tanpa banyak pertimbangan aku langsung pergi ke meja kasir untuk membayar. Sejenak kupandangi gadis yang berdiri di belakang mesin kasir yang juga menatapku aneh.

“Ah maaf. Kupikir kau mengenalku.”

Aku pun membayar lalu keluar dari sana.

Masih pukul 6 dan aku belum ingin pulang.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke bioskop setelah membeli sebungkus bungeoppang. Lumayan, pengganjal perut.

Suasana bioskop masih ramai tak tentram meskipun hari minggu sebentar lagi akan berakhir. Aku mengambil tempat duduk yang kosong. Dari tempat ini, aku bisa melihat ke arah loket tiket tempat gadis yang mengenalku tadi berjaga. Dan dia masih di sana.

Satu jam….

Dua jam….

Tiga jam….

Empat jam….

Krucuk.

Sssh … aku terbangun setelah mendengar suara lolongan lambungku. Kulirik arloji, sekarang sudah pukul 10 malam. Pantas saja suasana bioskop mulai lengang. Hanya aku dan beberapa orang yang masih berada di tempat ini.

Loket tiket tadi sudah tutup.

Buru-buru kukeluarkan ponsel, menyalin nomor di secarik kertas tadi lalu menekan tombol ‘panggil’.

Cukup lama aku menunggu sampai—

“Hai.”

Aku pun menoleh ke asal suara.

“Oh, hai.”

Orang yang berencana kutelepon sekarang sudah berdiri di belakangku. Kini dia tidak lagi memakai seragam pekerja. Dia memakai sebuah sweater berwarna cokelat yang dipadukan dengan rok pendek berwarna hitam.

“Sebentar lagi tempat ini akan ditutup. Bagaimana kalau kita bicara sambil makan ramen?”

Tanpa pikir panjang aku pun menyetujuinya.

TBC

Advertisements

One Reply to “Swag Couple Series [#9 Who Are You (1)]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s