Stereotype #6

stereotype-cover

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3 #4 #5

 

 

Hari minggu aku hanya berdiam diri di rumah. Tidak ada yang bisa kulakukan selain bergelut dengan laptop. Rumah dalam keadaan kosong. Appa dan eomma pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan makanan. Sementara adikku seperti biasa akan berlama-lama di warnet untuk bermain game online. Sempurna sendirian.

Sendirian seperti ini sebenarnya tidak masalah buatku. Aku bukan tipe yang suka dengan keramaian. Bahkan aku tidak merasa sendirian karena sekarang aku bersama laptop tersayang. Menampilkan Microsoft word, berniat menulis cerita.

Mendengar pengakuan Yoongi kalau dia tahu aku suka menulis novel, sebenarnya menjadi kejutan tersendiri bagiku. Aku tidak membubuhkan nama asli dalam tulisan itu. Bahkan namaku terkesan nama laki-laki, d’raizel. Tahukah kalian kenapa aku memakai nama itu? Ya, karena aku suka dengan webtoon Noblesse. Karakter yang paling kusuka adalah sang Noblesse, Cadis Etrama Di Raizel. Makanya aku memakai nama itu sebagai nama pena. Aku benar-benar terkejut saat tahu kalau Yoongi menyadari bahwa pemilik nama itu adalah aku.

Dan sekarang aku pusing sendiri. Pasti Yoongi menganggap kalau aku ternyata sang Drama Queen. Hampir semua ceritaku –dan mungkin memang semua, mengangkat tentang cinta. Aku kesulitan membuat cerita yang tidak berfokus seluruhnya pada cinta, seperti Harry Potter. Hah, membuat jenis cerita fantasi yang complicated seperti itu benar-benar bukan gayaku. Aku memang bisa membuat cerita fantasi, horror, petualangan dan sebagainya, tapi semua itu hanya sebagai sampingan saja, bumbu untuk menyedapkan cerita romansaku. Konyol sekali bukan? Aku memang bukan tipe penulis yang fleksibel.

Kursor terus berkedip-kedip. Sudah 10 menit berlalu dan belum ada satu pun kata yang kuketik di sana. Kupijat dahiku dengan gerakan horizontal. Tolonglah keluar, satu ide saja. Semangat menulisku sedang tinggi tapi kenapa mendadak tidak ada satu pun ide yang muncul? Ugh … aku selalu saja seperti ini.

Drrrt.

Aku langsung menoleh begitu mendengar ponselku yang bergetar di sebelah laptop. Ada sebuah pesan masuk. Dahiku sempurnya berkerut saat kudapati nomor asing di sana.

Unknown: Ini benar nomor Sena? Aku Kihyun.

Bibirku membentuk ‘o’ kecil. Ternyata Kihyun. Lantas kuketikkan balasan.

Ya, aku Sena. Kenapa?

J Tidak ada apa-apa, aku hanya mau mencoba nomor saja. Simpan ya nomorku.

Aku meringis.

Dapat dari mana?

Apanya? Nomormu? Dari Soomi. Kau tahu Lee Soomi ‘kan?

Mataku sempurna membelalak. Soomi? Kihyun kenal dengan Soomi?

Hehe, kau tidak tahu ya? Aku dan Soomi sama-sama berasal dari 1-3. Aku ketua kelasnya 😉

Bagus, sekarang masalah akan semakin complicated. Harusnya waktu itu aku tidak gegabah menulis nama Kihyun. Argh! Otteohke?!

Besok sepulang sekolah ayo pergi makan. Bersama Yoongi juga, aku sudah mengajaknya tadi.

Kita lihat saja besok

Oh ayolah. Kau ‘kan tidak pernah jalan-jalan keluar. Sekali saja, aku yang traktir.

Darimana dia tahu kalau aku tidak pernah keluar rumah selain ke sekolah? Apa jangan-jangan Yoongi cerita? Argh … sudah sejauh mana Yoongi mengocehkan tentangku.

Oke

Dan semangat menulisku pun menguap. Huft….

Senin datang dengan cepat. Waktunya pergi ke sekolah lagi. Dan yang lebih tidak kusukai, hari ini ada pelajaran Sejarah. Kira-kira keributan apa lagi yang akan dibuat Yoongi untuk membuat marah Min seonsaengnim? Aku penasaran. Yoongi benar-benar tidak punya takut sedikitpun pada Min seonsaengnim. Dan tingkah nakalnya di kelas itu, sepertinya juga memang disengaja. Sudah kubilang, dia itu hanya ingin menarik perhatian ayahnya saja.

Aku berangkat naik bus seperti biasa. Bus selalu penuh tiap senin pagi. itu karena hari senin adalah hari dimana orang-orang pergi bekerja lagi, pergi sekolah lagi setelah hari libur. Aku tidak bisa dengan seenaknya menunggu bus yang kosong. Pada akhirnya aku pun naik bus yang berhenti di depanku lima menit setelah aku sampai di halte.

Penuh sesak.

Kulihat orang-orang yang duduk banyak berjenis kelamin pria. Tanpa sadar aku mencibir, kenapa mereka tidak sadar diri sih? Ada banyak ibu-ibu yang berdiri sebelum aku masuk, tapi para pria itu sama sekali tidak berniat untuk mengalah demi mereka. Sangat mustahil kalau aku berharap salah satu dari mereka mengalah demi aku. Terpaksa aku pun berdiri di dekat sopir. Ada banyak orang yang masuk setelah aku, dan itu makin menambah sesak muatan saja. Aku pun memosisikan tubuh menghadap ke kiri, membelakangi seorang pria dengan coat cokelat gelap yang berdiri di sisi kananku. Bus pun melaju. Belum sampai semenit, bus mendadak berhenti. Otomatis aku terdorong ke depan dan hampir saja mencium kepala si ahjussi. Beruntung seseorang di sisi kananku menahan tubuhku. Aku pun segera menarik tegak punggung setelah menyadari kalau orang itu ternyata merangkul pinggangku.

“Ah maaf, aku-” Lidahku mendadak kelu. “Kau?”

Orang itu melepas rangkulannya. “Harusnya kau mengucapkan terima kasih.”

Aku mendengus. “Ya, terima kasih.”

Ternyata Min Yoongi. Cih, kenapa hari ini dia pergi dengan naik bus? Pantas aku familiar sekali dengan aromanya. Aroma mint, aroma Yoongi sekali. Ugh, gara-gara malam minggu kemarin aku tidur di kamarnya, sekarang aku jadi sensitif dengan aroma mint.

“Sudah dengar dari Kihyun?”

Aku pun menoleh. Baru sadar aku hanya setinggi bahunya. Pendek sekali aku ternyata. Padahal aku yakin kalau aku cukup tinggi jika dibandingkan gadis-gadis di kelas.

“Soal makan sepulang sekolah?”

Dia mengangguk kecil. “Aku akan buat dia menyesali keputusannya.”

Dahiku mengerut.

“Aku tidak akan makan siang dan sebagai gantinya, aku akan minta dia membelikanku Hanwoo.”

“Sinting,” gumamku reflek. Sadar dengan mulutku, aku langsung membuang pandangan.

“Kalau kau mau kau juga bisa memesan apa pun yang kau mau. Bilang saja kau tidak pernah makan pizza dan ingin pizza, tapi di sisi lain kau juga ingin makan ayam dan bingsu.”

Aku memutar bola mata. Itu sih namanya serakah, bukan lapar lagi. Ngomong-ngomong, aku memang tidak pernah makan pizza. Sepertinya boleh juga kalau nanti aku bilang aku ingin pizza. Aish, kenapa aku jadi ikut-ikutan Yoongi? Oh otak, mohon bekerjalah dengan benar.

Bus berhenti di halte sekolah, aku dan Yoongi pun turun. Dia berjalan duluan, tahu-tahu sudah lima meter di depan. Tidak aneh, ini ‘kan konsepnya, “jangan sapa Sena di sekolah, tapi ganggu saja dia saat di rumah”. Tapi konsepnya ini berlebihan sekali, entah kenapa hari ini aku kesal karena dia membiarkanku berjalan sendiri, padahal sebelum-sebelumnya aku tidak keberatan meskipun dia meninggalkanku. Sepertinya ada yang salah denganku gara-gara malam minggu itu.

“Sena!”

Pekikan yang keras dan sangat familiar segera membuat kepalaku menoleh ke belakang. Soomi berlarian dengan sumringah padaku. Dan tiba-tiba saja, dia memelukku.

“Hei hei, sesak. Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”

Dia tertawa-tawa aneh sambil melepaskan pelukannya. Dan dengan tiba-tiba lagi, dia menangkup wajahku. Matanya berbinar sekali. Pasti ada sesuatu yang membuatnya sesenang ini. Apa mungkin….

“Aku dan Taehyung berpacaran.”

Mataku membelalak sebentar, dan Soomi tertawa melihat reaksiku. “Aku tahu kau pasti terkejut, adikku.”

Sebenarnya aku tidak begitu terkejut. Aku hanya, tidak menyangka mereka akan berpacaran secepat ini. Ini bahkan belum masuk satu semester mereka berada di kelas yang sama, dan sekarang mereka sudah berpacaran. Ini akan jadi berita bagus atau justru sebaliknya?

“Oh baguslah.” Aku pun segera berbalik dan meninggalkannya.

“Hanya begitu? Hei adik kecil, kau harusnya mengucapkan selamat. Apa-apaan dengan reaksimu itu?”

Aku menggendikkan bahu. “Ya selamat.”

Yaa.”

“Ah hari ini aku sangat menunggu pelajaran Seokjin seonsaengnim,” seruku berusaha untuk mengabaikannya. “Pasti akan ada kuis-kuis lagi.”

“Oh Sena!”

Sebenarnya aku sangat menunggu pelajaran Sejarah. Kira-kira apa yang akan terjadi pada Yoongi nanti? Semoga dia baik-baik saja. Eh?

Jantungku berdetak kencang begitu Min seonsaengnim masuk ke kelas. Kata orang, saat kau merasakan bahwa jantungmu berdetak kencang ketika melihat seseorang, berarti kau jatuh cinta pada orang itu. Yang benar saja, teori itu sangat tidak relevan –untuk saat ini, bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada ayah Min Yoongi?

Kelas mendadak sunyi senyap begitu Min seonsaengnim duduk di bangku guru. Suasana juga tegang tanpa sebab. Aku pun segera berdiri untuk memimpin yang lain mengucapkan salam pada beliau. Min seonsaengnim hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Pergerakan sedikit yang mengerikan sekali. Aku lekas duduk, mengeluarkan buku dari tas.

“Hari ini saya akan mengadakan ulangan harian.”

“Mampus,” gumam Soomi. Aku meliriknya sekilas. Pasti semalaman dia sibuk berpacaran dengan Taehyung sampai lupa belajar. Belajar untuk Sejarah di sekolah ini –khususnya kelas 2 adalah hal yang wajib. Min seonsaengnim meskipun jarang mengadakan ulangan harian, tapi beliau sering sekali memberikan pertanyaan-pertanyaan soal materi minggu sebelumnya sebelum memulai pelajaran. Dan yang tidak menjawabnya dengan benar, konsekuensinya dia harus menulis catatan materi minggu sebelumnya di kertas folio sebanyak 10 kali. Dan yang membuat stress, kau tidak boleh membiarkan ada satu kesalahan sedikitpun dalam penulisannya, karena kalau ketahuan ada satu kesalahan saja, maka kau harus menulis ulang sebanyak kelipatannya. Itulah kenapa banyak yang cari aman dengan belajar malam sebelumnya agar tidak mencicipi kejamnya hukuman Min seonsaengnim.

“Kali ini ulangan harian dengan mode kelompok. Tiap kelompok terdiri dari empat orang, masing-masing kelompok akan diberi permasalahan yang berbeda. Dua jam pelajaran harus selesai. Bel pergantian jam silahkan dikumpulkan di meja saya. Ketua kelas.”

Aku pun segera beranjak dan menerima uluran berupa beberapa lembar kertas berwarna putih hasil print out. Begitu aku kembali duduk, Min seonsaengnim sudah keluar, sekalian membawa barang-barangnya tadi. Jadi intinya, ini antara jam kosong dan ulangan harian. Kelas mendadak ribut, nyaris semuanya mengerumuni mejaku. Kalau saja Yoongi tidak menggebrak meja, mungkin mereka sudah bertindak anarkis padaku karena aku tidak dengan begitu saja membiarkan mereka mengambil kertas itu. Saat ada kesempatan, aku langsung beranjak ke muka kelas, menyuruh yang lain untuk duduk di bangku masing-masing.

“Kelompok untuk ulangan hari ini sudah ditentukan oleh Min seonsaengnim,” ujarku yang langsung disambut dengan erangan anak-anak. Aku pun menepuk-nepuk meja dua kali, meminta mereka diam. “Di sini tertulis acak. Bagi yang nomor absennya disebutkan, silahkan angkat tangan.”

Aku pun menyebutkan angka-angka yang tertera pada tiap kertas. Tiap perwakilan kelompok maju ke depan untuk mengambil lembaran mereka. Hingga sampailah pada lembaran terakhir. Aku melihat nomor absenku di sana, nomor 15.

“Kelompok 7, nomor 15, 9, 8 dan 5.” Ketika aku mendongak, kulihat Soomi dengan sumringah tersenyum sambil mengangkat tangan, begitu pula dengan Taehyung yang juga ikut-ikutan angkat tangan. Bagus, aku akan sekelompok dengan mereka. Lalu siapa satu lagi?

Tiba-tiba saja aku bertemu tatap dengan Yoongi. Dia menatapku dingin sekali. Kenapa dia seperti itu? Apa aku baru saja melakukan kesalahan? Setahuku aku tidak menyapanya sama sekali sejak tadi, melirik saja tidak. Tapi kenapa … eomma! Apa mungkin dia satu kelompok denganku?

Aku pun buru-buru meraih buku daftar kehadiran, dan melihat angka-angka selain nomor absenku. Tertera kalau angka 5 adalah milik Kim Taehyung. Lalu angka 8 adalah milik Lee Soomi. Dan angka 9 … Min Yoongi?

Bagus. Aku sekelompok dengan orang-orang yang sangat ingin kuhindari dalam pelajaran ini. Sepertinya Min seonsaengnim sengaja meletakkanku di kelompok yang sama dengan Yoongi. Ah ya sudahlah. Aku pun segera kembali ke mejaku untuk mulai bergabung dengan kelompok. Tepat saat aku duduk, Yoongi beranjak dari bangkunya dan pergi begitu saja dari kelas. Pasti dia tidak mau, aku sudah yakin itu.

Taehyung membawa kursinya ke mejaku dan dia duduk di sebelahku seperti biasa. Kali ini kulihat dia melempar senyum pada Soomi. Mereka benar-benar sudah pacaran.

Batang hidung Yoongi baru muncul ketika bel pergantian jam berbunyi. Dia langsung duduk di bangkunya tanpa sedikitpun memedulikan ulangan harian. Aku pun sama sekali tidak mau menegurnya, sekarang aku sedang menata semua lembaran yang telah dikumpulkan padaku. Sebagai ketua kelas aku harus menyerahkan ini pada Min seonsaengnim secara langsung. Namun aku masih ingin berlama-lama duduk di sini untuk mendengar obrolan antara Taehyung dengan Soomi. Tema obrolannya cukup menarik perhatianku.

“Hei, Kihyun yang waktu itu bersama Yoongi itu, temanmu?” tanya Taehyung sambil menopang pipi, memandang lurus pada Soomi.

Soomi mengangguk sambil tersenyum. Sekarang dia berubah total saat bicara dengan Taehyung, padahal biasanya dia akan berpura-pura mencibir atau memasang tampang sok kesal. “Dia ketua kelasku dulu.”

“Berarti kau pernah dekat dengannya?” Ekspresi Taehyung mendadak berubah.

Kakakku menggeleng cepat. “Justru aku tidak dekat dengannya. Kami hanya teman sekelas biasa, seperti aku dengan Jimin, atau aku dengan Yoongi. Tidak lebih.”

Nyaris saja aku tertawa. Taehyung cemburu, dan Soomi berusaha untuk menjelaskan kenyataannya secara detail. Dan itu karena Kihyun. Yang benar saja, setelah aku dan Yoongi, sekarang Kihyun juga masuk dalam lingkar Soomi dan Taehyung. Ternyata dunia ini sempit juga.

“Begitu? Baguslah.”

Soomi tersenyum lebar, lalu secara tiba-tiba dia menoleh padaku. “Sena, aku baru ingat, waktu itu kau bilang kalau kau menginap di rumah Kihyun ‘kan?”

Aku reflek menoleh, begitu juga dengan Taehyung. Oh astaga, kenapa Soomi harus menanyakannya sekarang?

“Serius? Ketua kelas, kau serius menginap di rumah pria itu?”

Aku hanya bisa mengerjap-ngerjap saat bertatapan dengan Taehyung. Kemudian kembali menatap pada Soomi.

“Ya, kau yang bilang sendiri ‘kan? Sekarang jelaskan padaku kenapa kau bisa menginap di rumahnya. Seingatku tahun kemarin kau dan dia tidak saling kenal, kenapa lusa kemarin kau bisa menginap di rumahnya? Jangan-jangan … kalian pacaran?!”

Aku spontan melotot. Astaga itu mulut. Kenapa dia harus menekan kata ‘kalian pacaran’-nya? Aish. Tanpa sadar aku melirik ke belakang dan melihat Yoongi yang ternyata juga melirikku –meski sekilas. Kutatap lagi Soomi, diam-diam kecewa karena dia sama sekali tidak mengerti situasi. Dia ‘kan bisa menanyakannya nanti di tempat lain, kenapa harus di sini?

“Siapa yang pacaran?” Nayeon tiba-tiba ikut bergabung. Menatap kami bertiga secara bergantian, lalu memusatkan pandangan padaku. Dia tampak terkejut. “Ketua kelas … kau pacaran?”

Aku menelan ludah susah payah. Di belakang Nayeon, kulihat teman-teman segenk-nya ikut bergabung.

“Kau pacaran dengan siapa?” tanya Jungyeon penasaran.

“Jadi setelah Soomi dan Taehyung pacaran, kau juga pacaran ya?” sahut Yeonhwa sambil tersenyum menggoda.

“Oh? Soomi dan Taehyung? Wah … apa hanya aku saja yang tidak tahu kalau di sini tenyata sudah ada pasangan baru? Dan sekarang, adik sepupu Lee Soomi juga sudah punya pacar? Ckckck, aku iri. Dengan siapa?” Ucapan panjang lebar Seungyeon makin membuatku cemas. Aih!! Lee Soomi!!!

Dok dok dok.

“Permisi.”

Semua pasang mata termasuk mataku juga menoleh ke asal suara. Seseorang dari kelas lain sedang berdiri di ambang pintu. Mataku menyipit untuk melihat lebih jelas. Dan … WHAT?!!

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s