Stereotype #7

16807792_978481865615136_5461969020867274042_n

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3 #4 #5 #6

Orang itu maju selangkah, tersenyum lebar padaku –ya, padaku. “Ketua kelas 2-4, kau dipanggil oleh Min Ji Sung seonsaengnim untuk segera mengumpulkan lembaran ulangan harian.”

Aku menelan ludah susah payah ketika semua pandangan tertuju padaku. “Di-dimana?”

“Kelasku. Ayo, Min seonsaengnim sudah menunggu.”

“A-ah, baiklah.” Aku buru-buru bangkit. Saking terburu-burunya, aku tidak perhatian dan kakiku tersandung kaki meja. Hish. Aku berusaha bersikap cool dan langsung berjalan cepat menghampiri Kihyun. Dia tersenyum padaku lantas memimpinku untuk keluar kelas.

Aku bernapas lega begitu menginjakkan kaki diluar kelas. Kutarik lengan seragam Kihyun untuk berhenti sejenak. Dia menatapku bingung sedangkan aku sibuk mengatur napas. Aish, kenapa aku bisa segugup ini?

“Kau baik-baik saja?” tanyanya. Aku pun mendongak. Memandang wajahnya yang tampan itu masih dengan napas yang terengah-engah.

Saat aku berdiri tegap, aku merasakan nyeri yang sangat di kakiku dan saat kulihat ke bawah, tubuhku mendadak lemas. Kihyun menangkap tubuhku, bukan kertas yang mendadak berceceran di lantai karena aku melepaskannya begitu saja. Sial, kenapa kakiku harus berdarah sekarang?

“Kau kenapa? Hei?” Dia mendudukkanku dengan menyandarkan punggungku di dinding. Kulihat dia mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dan begitu melihat kakiku matanya langsung membola. “Kakimu berdarah.”

Dadaku mendadak sesak saat mataku tak sengaja melihat darah yang mengalir dari kuku ibu jari. Padahal niatku adalah melihat kertas-kertas yang berserakan di lantai. Itu semua kertas ulangan, bagaimana kalau mereka rusak?

“Tolong kertas ulangannya.”

Kihyun tidak mengacuhkanku. Dia justru melingkarkan lenganku di lehernya, lalu mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya. Saat dia akan membawaku pergi, aku reflek berseru, “kertas ulangannya!”

Dia menatapku kesal. “Apa sekarang itu penting?! Kakimu berdarah! Kau harus segera diobati!”

Aku tertegun, ini pertama kalinya Kihyun membentakku. Aku pun menelan ludah. “Tapi … itu tanggung jawabku.”

“Serahkan padaku.” Suara pria di belakang kami spontan membuat kami menoleh. Aku membelalak. Sejak kapan Yoongi, Taehyung, Soomi dan teman-temanku yang lain ada di sana? Soomi langsung membuang pandangan begitu bertatapan denganku. Sementara Yoongi yang tadi menginterupsi kami, langsung maju untuk mengumpulkan semua kertas-kertas itu. Taehyung membantunya beberapa detik kemudian.

Kihyun membenahi posisiku yang membuatku kembali menoleh padanya. Kemudian tanpa banyak bicara dia langsung membawaku ke ruang kesehatan. Aku menoleh ke belakang. Melihat punggung Yoongi yang lama kelamaan hilang dari pandanganku.

Dan sekarang kami berada di ruang kesehatan. Kihyun mendudukkanku di sebuah ranjang, ironisnya ranjang itu adalah ranjang yang minggu kemarin dipakai Yoongi, lalu dia berlarian menuju kotak obat dan kembali tak lama kemudian. Hari ini dokter sekolahnya tidak ada, dan hanya ada kami berdua di sini. Aku membiarkannya mengobati lukaku. Kami berdua sama-sama diam. Atmosfer jadi terasa canggung. Aku pun menghela napas untuk menetralkan perasaanku.

“Maaf tadi aku membentakmu,” ujarnya. Aku pun mendongak. Menatapnya lamat-lamat.

“Aku kesal karena kau lebih mementingkan kertas ulangan daripada kakimu sendiri. Sudah tahu kondisimu seperti itu, kenapa kau masih saja memikirkan hal yang tidak penting,” lanjutnya.

Aku meringis. Kihyun menekan lukaku terlalu kuat.

“Sebenarnya tadi kenapa kau tiba-tiba menyuruhku berhenti? Apa barusan di kelasmu terjadi sesuatu?”

Tanpa sadar aku sudah menggigit bibir bagian bawahku. Haruskah aku cerita padanya tentang kebohonganku pada Soomi soal menginap di rumahnya dan teman-temanku yang mengira kalau aku berpacaran dengannya? Argh, itu pasti akan sangat memalukan. Kenapa waktu itu aku tidak menuliskan nama Taehyung saja? Jadi Soomi tidak akan membuat kehebohan soal rumor pacaran antara aku dengan Kihyun. Aku baru mengenal Kihyun selama seminggu dan sekarang gara-gara tingkah cerobohku, aku harus membuatnya terlibat dalam masalah yang telah kuperbuat.

Aku menghela napas. Kurasa membicarakannya sekarang adalah keputusan yang lebih tepat.

Aku pun berdehem. “Tadi … teman-temanku mengira kalau kita….” Tenggorokkanku terasa kering begitu netra kami saling bertemu. Inginku menyerah tapi setelah kupikir-pikir, aku harus mengungkapkannya sekarang juga.

“Kalau kita apa?” tanyanya.

Dan aku pun menelan ludah. “Berpacaran.” Kepalaku otomatis tertunduk.

Hening.

Kihyun pasti terkejut. Ya, sudah barang tentu dia akan terkejut. Dan setelah dia terkejut, dia akan marah padaku karena sudah menyeretnya dalam masalah yang memalukan. Kemudian dia akan membenciku dan kami pun….

“Oh.”

Eh? Hanya begitu saja?

Kulihat dia justru tersenyum lebar. “Kupikir kenapa.”

Aku menatapnya tak mengerti. “Kau tidak marah?”

Kedua alisnya malah terangkat, menatapku bingung. “Kenapa harus marah? Mereka hanya mengira ‘kan? Ya sudah, biarkan saja.”

“Tapi mereka bukan hanya sekadar mengira. Mereka berpikiran begitu karena aku.”

“Memangnya apa yang kau lakukan?” Matanya memicing.

Aku menelan ludah susah payah. “A-aku … aku bilang pada Soomi kalau malam minggu kemarin aku menginap di rumahmu. Aku tidak berniat begitu, sungguh. Aku hanya tidak ingin Soomi tahu kalau aku menginap di rumah Yoongi. Kau tahu ‘kan, Soomi sama sekali tidak tahu kalau aku dan Yoongi adalah tetangga. Dia hanya tahu kalau aku dan Yoongi saling bermusuhan jadi … aku memakai namamu. Maaf.”

Sekarang sudah pasti Kihyun akan marah. Demi cari aman aku menggunakan namanya, dan itu tanpa izinnya sama sekali. Itu memang kesalahanku, aku terlalu ceroboh menyebut nama orang sehingga-

“Ah … begitu.”

Eh? Dia tidak marah? Lagi?

“Tidak masalah, kau tidak perlu minta maaf.” Dia tersenyum. “Kalau memang begitu situasinya, silahkan saja gunakan namaku sebagai alasan. Kita berteman bukan? Anggap saja ini sebagai bantuan dari seorang teman.”

“Kau tidak marah?”

Dia justru tertawa. Membuatku terkejut karena setelahnya dia mengacak rambutku. “Untuk apa aku marah? Itu bukan masalah yang besar, bawa santai saja.”

Aku menghela napas. Ternyata hanya aku yang khawatir berlebihan di sini. Kihyun sangat pengertian. Aku bersyukur sekali mengenal orang sepertinya.

Ia pun menyelesaikan kegiatan mengobati lukaku, kemudian mengantarku kembali ke kelas.

Bel pulang telah berbunyi beberapa detik yang lalu. Seperti yang lain, aku juga membereskan semua alat-alat tulisku dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah semuanya selesai, aku pun berdiri dan berniat untuk pergi ke belakang kelas untuk mengambil sapu –hari ini jadwal piketku. Tapi gerakanku terhenti saat ‘makhluk’ tinggi semampai tiba-tiba sudah ada di samping mejaku, berdiri menghalangi jalanku. Kudongakkan kepala, mendengus melihat cengiran Taehyung.

“Bisa bergeser sedikit?”

Ia pun bergerak satu langkah ke kanan. “Silahkan, Nyonya.”

Aku mendengus lagi, menendang tulang keringnya, lantas beranjak ke belakang kelas. Secara otomatis melewati meja Yoongi dan kami diam-diam saling lirik.

“Sakit!” pekik Taehyung yang reflek membuatku menoleh. “Terbuat dari apa kakimu itu, huh?!”

Kulihat Soomi tertawa melihat ekspresi kekasihnya. Dan aku di sini, memamerkan lidah pada pria itu.

“Sena, aku pulang duluan ya.”

“Bersama makhluk luar angkasa itu?” tanyaku sambil menunjuk Taehyung.

“Hei, aku ini makhluk bumi. Namaku Kim Taehyung.”

“Ya, aku bersamanya,” jawab kakakku dengan mata berbinar. Kulihat dia menggamit lengan Taehyung seperti yang dilakukan kebanyakan pasangan. “Kami mau mampir dulu ke Dongdaemun. Kau tidak mau titip sesuatu?”

Aku menggeleng, melambai pada mereka. “Kalian pergi saja berdua. Nikmati kencan kalian itu.”

“Tentu saja. Siapa juga yang mau mengajakmu,” balas Taehyung yang langsung kubalas dengan seringaian.

“Ya sudah. Aku pergi dulu ya. Sampai bertemu besok, Nyonya Yoo.”

Aku mendelik saat melihat Soomi dengan santainya mengedipkan sebelah mata setelah menyebutku dengan sebutan ‘Nyonya Yoo’. Yoo adalah nama keluarga Kihyun, dan dia sepertinya sengaja mengucapkannya secara terang-terangan. Genk Yeon yang masih berada di kelas tersenyum-senyum jahil padaku. Huft, Lee Soomi, tunggu saja pembalasanku.

“Jangan lupa pajak kencan, Nona,” sahut Jungyeon yang telah bersiap keluar kelas.

“Kudengar Kihyun itu ketua kelas di kelas 2-7. Ketua kelas dengan ketua kelas, kalian benar-benar pasangan yang serasi,” timpal Nayeon.

“Kau pintar memilih pasangan,” ujar Seungyeon sambil mengangkat ibu jarinya. Aku tidak tahu apakah itu pujian atau bukan. Dia dan Soomi adalah teman sekelas Kihyun saat masih tahun pertama. Aku baru tahu tadi sekembali dari ruang kesehatan. Dia menceritakan tentang Kihyun padaku –seolah aku sangat membutuhkan info tentang pria itu.

Longlast,” seru Yeonhwa yang menutup aksi menggoda genk Yeon padaku. Mereka melambai nyaris bersamaan, lantas beranjak dari kelas. Meninggalkan aku sendirian di sini, bersama dengan Yoongi yang ternyata masih belum beranjak sejak tadi.

Aku pun berdehem, buru-buru mengambil sapu dan mulai menyapu seluruh lantai. Aku mulai menyapu deretan belakang, yang itu artinya aku harus mulai dari meja Yoongi. Saat aku berdiri di dekatnya, dia mengangkat kepalanya, lalu berdiri dan duduk di kursi guru. Kubiarkan saja dia. Aku sibuk menyapu sementara dia sibuk menontonku. Suasana di luar makin lama makin sepi. Dan tanda-tanda kehadiran Kihyun belum juga tampak. Apa mungkin dia lupa? Tahukah dia kalau aku sengaja piket sekarang karena aku tidak ingin yang lain tahu kalau kami bertiga sudah janji untuk pergi makan malam bersama? Hah, kenapa juga aku grogi saat tak sengaja berpandangan dengan Yoongi?

Pergerakan kecil Yoongi membuatku menoleh padanya. Lalu aku pun menyadari kebodohanku dan kembali melanjutkan kegiatanku. Aku yakin Yoongi masih memperhatikanku. Bisakah dia berpaling sebentar saja? Gara-gara dia aku sedikit tidak fokus dengan kegiatan yang kulakukan sekarang. Mana kakiku masih terasa nyeri. Baru dua deret bangku saja, aku sudah ngos-ngosan.

Aku pun memutuskan untuk istirahat sejenak di bangku Jimin. Menyeka keringat dingin yang sudah membasahi poniku.

“Butuh bantuan?”

Aku pun reflek menoleh. Mendadak aku kecewa saat melihat batang hidung Kihyun. Pria itu meletakkan ranselnya di atas meja deretan paling depan, lalu pergi ke belakang kelas untuk mengambil sapu. Aku hanya meliriknya sekilas, dan sisanya, aku memandang Yoongi dengan kecewa. Ya, aku kecewa padanya. Tapi dia justru membuang pandangan.

“Kau duduk saja, biar aku yang selesaikan ini,” seru Kihyun saat aku akan berdiri untuk melanjutkan pekerjaanku. Ia pun meraih sapu di tanganku dan menggunakannya di tangan kiri. Dia menyapu lantai dengan sapu di kanan dan kiri. Rupanya dia sangat berpengalaman dalam hal bersih-bersih. Belum semenit dia sudah berada di muka kelas. Cepat sekali.

“Pindahlah ke tempat lain,” ujarnya pada Yoongi saat dia akan menyapu bagian meja guru. Yoongi langsung menurut tanpa banyak bicara. Dia pergi ke bangkunya –otomatis melewatiku, mencangklong ransel dan duduk di kursi Nayeon.

“Kita mau makan di mana?” tanyanya.

“Itu terserah kalian. Aku yang akan bayar makannya,” jawab Kihyun yang sudah sampai di ambang pintu. Aku pun beranjak ke bangkuku untuk mengambil ransel.

“Baguslah. Aku melewatkan makan siang hari ini,” ujar Yoongi yang terdengar sangat puas sekali.

Aku pun duduk di bangku yang ada ransel Kihyun-nya. Iseng-iseng melihat gantungan kunci yang berkerumun banyak di setiap tuas resletingnya. Sepertinya Kihyun adalah pengoleksi gantungan kunci.

“Kau sengaja ingin memesan banyak ‘kan?” Kihyun masuk dari pintu belakang, menyimpan dua sapu itu di sudut ruangan. Kemudian menghampiriku, tersenyum padaku sambil mencangklong tasnya.

“Bagaimana kalau kita pesan, dan makan di taman Sungai Han? Nona yang kau ajak makan malam itu belum pernah makan pizza katanya.”

Aku menoleh. Sedikit mendelik mendengar ucapan Yoongi. Akhirnya dia bicara juga, tapi kenapa harus dengan membuka aibku?

“Benarkah? Kau belum pernah makan pizza sebelumnya?”

Aku menoleh pada Kihyun, tersenyum canggung lalu mengangguk. Pria itu geleng-geleng kepala tak percaya. Pasti dia menganggapku aneh karena aku belum pernah merasakan yang namanya pizza selama 16 tahun hidupku. Salahkan orangtuaku. Meskipun aku merengek seperti apa pun, mereka tidak akan pernah mau merelakan sedikit uang mereka untuk membeli pizza. “Lebih baik kita beli ayam saja,” selalu itu yang dikatakan oleh eomma. “Pizza tidak membuat kenyang,” sambung appa.

Dan akhirnya kami pun pergi ke Sungai Han sesuai saran Yoongi. Dalam perjalanan menuju mobil Kihyun, Kihyun dengan seenaknya mengambil tasku lalu dibawanya di tangan kiri. Aku berusaha merebut tasku tapi dia selalu menjauhkannya. Saat aku menyerah dia terkekeh. Lalu meraih tanganku dan menggenggamnya. Mataku membelalak.

“Aku membawakan tasmu karena kakimu masih sakit. Nanti kalau kau tersandung lagi, kakimu akan makin bengkak.”

Aku tahu kalau yang bicara sekarang adalah Kihyun, namun aku justru menoleh ke sisi kananku, lebih tepatnya pada Yoongi. Kulihat dia sedang sibuk menggerak-gerakkan ibu jarinya pada layar ponselnya, sementara ada kabel berwarna hitam yang tersambung ke telinganya. Dia pasti sedang memilih musik di playlist-nya. Entah kenapa perasaan kecewa tiba-tiba menyelimutiku. Kemudian aku pun melirik ke tangan kiriku saat kurasakan bahwa genggaman Kihyun makin erat. Aku menghela napas.

Dalam perjalanan menuju Sungai Han, Kihyun sibuk menelepon beberapa restoran untuk memesan makanan. Dia menuruti saja semua keinginan Yoongi. Seperti pizza, ayam krispi, ddeokbeokki, jajangmyeon, bahkan ramen. Aku yang duduk diantara mereka hanya menggeleng pelan mendengar semua pesanan yang disebutkan Kihyun. Siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak itu? Dasar Min Yoongi.

Sementara si biangnya sedang asyik melamun keluar jendela. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi dia tampak sangat serius. Sejak tadi posisinya tetap seperti itu. Apa lehernya tidak sakit hanya terus-terusan menoleh ke satu sisi?

Mendadak matanya bergulir padaku. Otomatis tubuhku tersentak dan tak sengaja menyenggol tubuh Kihyun. Aku menoleh pada Kihyun yang juga sedang menoleh padaku. Dia menatapku bingung, sementara aku bisa mendengar suara di ponselnya.

“Ah iya, tolong pesan 3 porsi.”

Aku pun menelan ludah, sial aku ceroboh lagi. Sekarang aku tidak punya tempat di mana aku bisa melihat. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah duduk tenang sambil menunduk, melihat kesepuluh jariku yang saling bertaut.

Author POV

Mobil hitam metalik itu sampai juga di area taman Sungai Han. Setelah mobil berhenti, ketiga siswa yang duduk di kursi belakang turun secara bergantian. Satu dari mereka tidak tampak seperti siswa karena dia memakai kaos hitam bergambar tengkorak dengan jeans yang hanya selutut. Dia membawa sebuah tas berwarna orange, bukan tasnya melainkan tas milik satu-satunya siswa perempuan di antara mereka bertiga.

Mobil pun merayap pelan pergi dari sana, sementara tiga siswa itu memilih duduk di tepi sungai, menikmati hembusan angin malam yang mengelus lembut rambut dan kulit wajah mereka.

“Kemarikan tasku,” seru Sena sambil menarik tali tasnya. Kihyun hanya membiarkan tas itu bergerak menjauhinya.

“Kakimu tidak dingin?” tanya Kihyun begitu menyadari kalau rok yang dipakai Sena hanya sebatas lutut dan sekarang tertarik 4 cm ke atas karena dia duduk.

Sena sendiri hanya bisa menutupi kakinya dengan tas. Namun itu tidak membantu banyak, kakinya tetap kedinginan. Sialnya dia meninggalkan selimutnya di laci meja. Dan dia tidak membawa jaket hari ini. Sial.

Lalu tiba-tiba sebuah coat cokelat gelap melayang dan terjatuh di tubuh Sena. Ia segera menjauhkannya dari tubuh, lantas menoleh pada Yoongi yang sekarang hanya memakai seragam sekolah.

“Pakai saja itu.”

“Lalu kau sendiri?”

“Tidak usah pikirkan aku,” jawabnya ketus.

Sena hampir akan bicara lagi tapi tiba-tiba seorang pengantar makanan datang. Kihyun segera berdiri untuk menyambut dan membayar. Pesanan yang datang pertama adalah jajangmyeon. Lalu diikuti dengan pizza, ayam krispi, ddeokbeokki, dan yang terakhir adalah ramen. Semua itu dikumpulkan di tengah-tengah mereka bertiga. Dengan lampu taman yang menemani, angin yang berhembus dan dingin yang mulai menusuk –karena sekarang adalah musim semi akhir-, mereka pun menghabiskan semua makanan itu sambil mengobrol ala remaja.

Yoongi dan Kihyun banyak bercanda. Yoongi tampak sangat berbeda saat bicara dengan Kihyun. Dia jauh lebih ceria dan banyak bicara, tidak seperti ketika di sekolah atau saat berdua dengan Sena. Inilah wajah Yoongi yang sebenarnya. Wajah yang sudah tidak ia perlihatkan lagi pada siapa pun selain Kihyun setelah kematian Minhyuk.

Sena menunggu ramen miliknya matang sambil menatap Yoongi lekat. Ada emosi tersendiri ketika dia melihat tawa di wajah itu. Tawa yang tidak bersuara tapi terlihat sangat jujur dan polos. Ia sedikit berterima kasih pada Kihyun karena sudah membuatnya melihat tawa yang menurutnya langka itu. Kira-kira apa yang harus dia lakukan untuk melihat tawa itu saat Kihyun tidak ada? Apakah dia mampu setidaknya sekali saja membuat pria itu tertawa? Buru-buru tertawa, tersenyum saja jarang. Tsk, rupanya membuat Yoongi tertawa tidak segampang dirinya mengerti matematika. Yoongi jauh lebih sulit dimengerti dari matematika itu sendiri.

Napasnya tercekat saat pandangan mereka tak sengaja bertemu. Yoongi yang saat itu tersenyum lebar mendadak merubah ekspresinya menjadi netral. Dia mengangkat kedua alisnya, seolah bertanya kenapa Sena terus memandanginya sejak tadi.

Sena sendiri berpura-pura mengaduk ramen-nya yang sudah mengembang karena terlalu lama dibiarkan. Sambil mengeluh dalam hati, dia pun mulai menyantap ramen itu dengan lahap. Sebenarnya perutnya sudah penuh, tapi karena grogi dan salah tingkah, dia paksakan saja makanan berMSG tinggi itu untuk makin memenuhi perutnya. Masa bodoh dengan berat badan. Yang penting dia bisa menghindari tatapan Yoongi.

Sena POV

Selasa pagi aku datang ke rumah Yoongi untuk mengantar sarapan. Setelah kutekan bel untuk ke-10 kalinya, akhirnya pintu gerbang terbuka juga. Si pemilik rumah tidak memunculkan kepalanya dulu seperti biasa. Dia langsung membuka lebar pintu, menyuruhku untuk segera masuk. Tanpa pikir panjang aku segera melewati batas antara wilayah luar dan dalam dan masuk ke dalam rumahnya. Dia mengikutiku di belakang.

Tadi malam Kihyun tidak menginap lagi jadi wajar kalau rumah keluarga Min kutemukan dalam keadaan sepi seperti biasa. Aku pun beranjak menuju dapur untuk mengeluarkan semua sarapan, namun tiba-tiba langkahku terhenti saat seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Seketika tubuhku menegang. Siapa lagi orang di sini selain aku dan Yoongi. Yang benar saja, detik berikutnya aku bisa mencium aroma Mint yang khas dari belakangku.

Kugulirkan bola mataku ke kanan. “A-apa yang sedang kau lakukan?”

Dia langsung melepaskan pelukannya, lalu menggerakkanku untuk berbalik menghadapnya. Tanpa banyak bicara dia menarik tangan kiriku dan diletakkan di dahinya. Belum sampai dua detik aku sudah menarik tanganku kembali. Tubuhnya panas.

Aku baru sadar kalau kondisinya hari ini tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya pucat, matanya sayu. Kulihat di lehernya, ada banyak sekali titik-titik air yang kuyakini sebagai keringat. Begitu juga kondisi pelipisnya. Dan sepertinya, membukakan pintu gerbang tadi adalah perjuangan baginya. Tubuhnya tidak mampu berdiri tegak. Aku reflek menahan lengannya ketika dia hampir saja oleng ke belakang. Dia menyeringai.

“Aku benci terlihat lemah seperti ini, apalagi di depanmu,” ujarnya. Ia pun mundur selangkah karena hampir saja terjatuh lagi. “Aku benci mengatakan ini….”

Aku pun meletakkan tas makanan di lantai, memegangi kedua lengannya agar dia tidak terjatuh ke tempat yang berbahaya. Dan dia membalas genggamanku.

“Tolong jangan tinggalkan aku sendirian.” Dia menelan ludah. “Kumohon.”

Tidak ada waktu untuk tertegun. Aku pun segera memapahnya memasuki kamarnya, lalu membaringkan dan menyelimutinya. Sudah diselimuti, dia justru menggigil. Aku segera berlari ke kamar Minhyuk. Untuk apa lagi, tentu saja mengambil selimut di sana. Kubawa selimut itu dan kubalut tubuh Yoongi dengan itu. Tapi masih sama. Tubuhnya masih menggigil. Tidak hilang akal, aku pun mengobrak-abrik lemarinya. Kuambil dua pasang kaus kaki, dua syal, sarung tangan serta beanie dan memasangkan semua itu di tubuh Yoongi. Syukurlah, dia sudah tidak menggigil lagi. Aku pun buru-buru keluar untuk mengambil kompresan. Sekaligus mengeluarkan semua bekal sarapan yang kubawa dan menatanya di nampan. Yoongi suka sekali dengan latte tapi aku tidak akan membuat itu pagi ini. Aku berlarian pulang demi mengambil persediaan susu di rumah. Lalu kembali ke rumah Yoongi, menghangatkannya dan menyuguhkannya di gelas tinggi. Kemudian aku pun kembali ke kamarnya dengan membawa semua itu.

Kulihat Yoongi tidur dengan lelap. Apa mungkin semalam dia tidak bisa tidur karena suhu tubuhnya? Kuletakkan semua itu di nakas, lalu duduk di tepi ranjang. Mendaratkan kompresan di dahi Yoongi yang masih saja terasa panas ketika kusentuh. Pasti dia demam karena kemarin. Kenapa dia tidak mengirimiku pesan kalau dia sakit? Dengan begitu sakitnya bisa lebih cepat dicegah. Kalau begini, terpaksa aku juga tidak masuk sekolah. Yang benar saja. Tega sekali kalau aku membiarkannya sendirian di sini. Lagipula …

Aku ini ketua kelasnya.

Ketua harus memastikan bahwa anggotanya dalam keadaan baik-baik saja.

Ya, aku ketua kelasnya.

“Sial….”

Aku mengusap wajahku yang susah payah ku-make up dengan baik dan sekarang aku yakin make up-ku pasti luntur. Masa bodoh. Aku rasa yang harus luntur sekarang adalah keyakinan dustaku. Ketua kelas? Yang benar saja. Kalau bukan karena aku yang pintar matematika, siapa juga yang mau menjadikanku si anak yang terkenal freak ini menjadi ketua kelas? Ketua kelas bukanlah hal yang patut kubanggakan. Dan aku di sini sekarang bukan karena aku adalah ketua kelasnya. Yang benar saja, aku tidak pernah menunggui Nayeon saat dia sakit, atau Jimin saat sakit. Jadi aku disini bukan karena aku adalah ketua kelasnya.

Bukan karena dia tetanggaku.

Bukan karena dia teman sekelasku.

Bukan karena dia adik dari Min Minhyuk.

Bukan karena dia teman Kihyun.

Bukan juga karena dia anak dari Min seonsaengnim.

Aku pun meraih sendok dan sebuah kain tipis. Kain tipis itu kugunakan untuk membalut bagian cekung sendok. Lalu sendoknya kumasukkan ke mulut Yoongi. Eomma sering melakukan ini saat aku atau adikku sedang demam tinggi. Ini dimaksudkan agar si pasien tidak menggigit lidahnya, jadilah diganti dengan sendok.

Kuusap lembut pipi putihnya yang panas. Dan aku pun tersenyum.

Aku di sini karena Min Yoongi.

TBC

Advertisements

One Reply to “Stereotype #7”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s