Stereotype #8

17a

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7

Aku tersentak begitu aku sadar kalau aku barusan tertidur di kamar Yoongi. Saat kulihat sekeliling, aku pun menghela napas. Ternyata aku tertidur dengan kepala bersadar di tempat tidur. Sementara Yoongi masih terlelap di ranjang. Kurentangkan kedua tanganku, lantas mengambil kompresan yang terjatuh karena Yoongi membalik tubuhnya ke sisi kanan.

Sepertinya dia belum bangun sejak tadi. Kulihat wajahnya penuh dengan keringat. Kuputuskan untuk melepas beanie-nya dan terkejut melihat rambutnya ternyata basah kuyup. Mungkin Yoongi sudah akan sembuh. Kalau pasien demam sudah berkeringat, itu berarti dia sudah selangkah lebih sehat. Saat kulepas syalnya, lehernya juga sama basahnya. Kemudian ketika kusentuh dahinya, suhunya sudah kembali normal.

Dia sudah jauh lebih baik.

Kulirik jam dinding yang ada di dinding seberang, nyaris pukul 2. Ternyata aku di sini sudah setengah hari. Dan perutku pun mulai lapar. Aku baru ingat kalau aku belum sarapan. Terlalu sibuk mengurus Yoongi sampai-sampai membuatku lupa sarapan. Kulihat nakas, menghela napas, Yoongi juga belum sarapan. Apa dia tidak lapar? Kenapa belum bangun?

Aku pun keluar dari kamarnya untuk mengambil kotak sarapanku, snack dan minuman ringan dari kulkas Yoongi. Begitu aku kembali, kulihat dia berguling-guling di ranjang sambil menendang-nendang selimut untuk terlepas dari tubuhnya.

“Panas!!” pekiknya saat aku meletakkan barang bawaanku di meja belajarnya. Dia masih belum menyadari keberadaanku. Matanya terpejam.

Aku pun segera menghampirinya lalu kutarik selimut itu sampai benar-benar terlepas dari tubuhnya. Dia mungkin menyadarinya dan langsung membuka mata. Dahinya tampak terlipat-lipat ketika pandangan kami saling bertemu.

“Kenapa kau di sini?”

Sepertinya dia lupa siapa yang dimintainya untuk tidak meninggalkannya di sini sendirian. Aku membuang pandangan. Melipat dua selimut itu lantas menumpuknya di sofa ujung tempat tidur.

“Sejak tadi kau di sini?”

Aku menoleh, menghampirinya, duduk di kursi. “Kau sudah merasa lebih baik?”

Tapi dia menatapku masih dengan dahinya yang terlipat. “Berarti kau tidak sekolah?”

Kuambil sendok berbalut kain yang tergeletak di antara kami, menarik kainnya lantas mengetukkan bagian cekungnya ke dahi putihnya. “Menurutmu kenapa aku ada di sini? Bodoh.”

Ia meringis, mengusap dahinya yang tidak kenapa-napa, lalu menatapku kesal. “Kau hanya perlu menjawabnya, kenapa harus memukulku?”

Apakah setiap dia sakit dia selalu seperti ini? Mendadak bertingkah kekanakkan dan banyak bicara?

Aku pun menghela napas, meletakkan sendok itu di atas nampan, menggantinya dengan segelas susu yang kini sudah tidak hangat lagi. “Minumlah. Kau belum makan apa-apa sejak pagi.”

Ia pun duduk, lantas mengambil gelas itu. Selama dia meminumnya, dia terus menatapku. Seolah aku ini patung yang terkirim ke rumahnya secara tiba-tiba. Kemudian gelas yang sudah kosong setengah itu ia berikan padaku. Kuletakkan kembali di atas nampan.

“Kau juga belum makan apa-apa ‘kan?”

Aku pun menoleh. Sepertinya dia sudah tahu kalau aku menyimpan semua makanan yang kubawa tadi ke meja belajarnya. Anggukan adalah jawabanku.

Dia melepas sendiri kaus kakinya, lalu melemparkannya ke belakang. Anak ini.

“Terima kasih sudah mengurusku selama aku sakit dan sekarang aku sudah baik-baik saja. Kau pulanglah. Bilang pada eommeonim, aku minta maaf sudah membuatmu tidak pergi sekolah hari ini. Bilang juga kalau aku minta maaf karena sudah membuatmu melewatkan sarapan demi menunggui orang sakit sepertiku. Aku akan mengganti kebaikanmu nanti.” Ia pun segera turun dari ranjang, membukakan pintu dan menungguku untuk keluar.

Tapi aku sama sekali tidak beranjak.

“Hei, kubilang kau bisa pulang sekarang.”

Dan aku masih bergeming.

Yaa!”

Aku justru melepas blazer.

“Hei hei! Apa yang sedang kau lakukan?”

Aku masih tak peduli. Kuletakkan blazer itu di atas tempat tidurnya, lalu kuraih remote control AC, menyalakannya. “Siang ini panas sekali. Di rumah sedang tidak ada siapapun. Orang-orang akan pulang pukul 6 nanti.”

“Tapi-”

“Kau bilang kau akan mengganti kebaikanku ‘kan?” Aku pun menoleh. “Aku masih ingin berada di sini. Kau pikir menyenangkan tinggal di rumah sendirian?”

Dia menghela napas. “Oke. Kalau begitu keluar dari kamarku.”

Aku menggendikkan bahu. “Aku akan keluar setelah menghabiskan semua makanan itu.” Daguku bergerak menuju meja belajar Yoongi, menunjuk tumpukkan makanan di sana.

Dia memutar bola mata, aku tertawa.

Seharian di rumah Yoongi, membuatku lupa akan kehadiran ponsel. Begitu aku sudah di rumah, sudah mengganti seragamku dengan baju rumahan, kulihat ponselku penuh sekali dengan pesan dan missed call. Semua panggilan yang tak terjawab itu hanya berasal dari Soomi, Taehyung dan Kihyun. Sementara pesannya, berasal dari bermacam-macam nomor.

stereotip1   stereotip2 stereotip4   stereotip6 stereotip8  stereotip10

Aku menghela napas. Baru saja tidak masuk sehari orang-orang sudah banyak yang menghubungiku. Kupandangi lekat-lekat pesan dari Soomi. Hari ini ada tugas kelompok kimia dan harus dikumpulkan besok. Lalu yang belum mendapat kelompok hanya aku dan Yoongi, jadi terpaksa kami harus masuk ke kelompok yang sama. Kemudian tes conversation, lagi-lagi aku harus bersama dengan Yoongi. Dan soal hubunganku yang sebenarnya dengan Yoongi, akhirnya ketahuan juga oleh Soomi dan Taehyung. Argh! Semua itu makin rumit jika ditambah soal rumor yang kini menyebar.

Sial.

Kalau sudah begini bagaimana aku harus mengatasinya? Tsk, aku pun menuliskan balasan di setiap pesan.

stereotip11  stereotip3 stereotip5   stereotip7 stereotip9

 

Aku pun menghela napas. Sekarang apa yang harus kulakukan? Ah! Ya, mengajak Yoongi datang kemari. Aku sedang tidak mood keluar jadi kuputuskan saja mengundang Yoongi datang. Bahan makanan di rumah cukup banyak, setidaknya aku bisa membuat sesuatu untuk makan malamku dengannya ditambah dengan adikku.

Kutulis namanya di pencarian kontak, begitu ketemu, segera kutekan tombol ‘call’.

–Yoboseyo?—

“Ini aku, Sena.”

–Aku tahu. Wae?—

“Kau sendirian di rumah?”

–Eum.

Eomma  pulang terlambat, aku tidak bisa mengirim makan malam. Datanglah kemari. Makan di sini.”

–Oke. Aku akan sampai dalam 10 menit—

“Baiklah.”

Sambungan pun terputus. Aku pun mengantongi ponsel itu dalam saku celana, kemudian keluar dari kamar dan pergi ke dapur. Sebenarnya aku tidak pintar memasak. Tapi setidaknya aku bisa membuat omelet dan ramyeon. Jadi malam ini kuputuskan untuk membuat omelet dan ramyeon saja.

10 menit berlalu, bel rumahku pun berbunyi. Aku pun berlarian membukakan pintu. Kulihat Yoongi datang dengan jeans selutut dan kaos hitam polos. Sepertinya dia tidak kapok dengan demamnya pagi tadi. Segera kutarik dia masuk, dan menutup gerbang.

“Harusnya kau pakai jaket. Bagaimana kalau kau demam lagi?” omelku saat dia mengganti sepatu sandalnya dengan sandal rumah.

“Gampang, ada kau yang akan mengurusku.”

Sial. Aku berlarian ke dapur, segera mematikan kompor. Ramyeon-nya sudah matang, sekarang beralih pada omelet. Aku pun menghancurkan enam cangkang telur ayam lalu mengaduk telur itu sampai tercampur seluruhnya. Memanaskan teflon, lalu menuangkan semua adukan telor yang ada di mangkuk plastik itu ke atasnya. Perlahan tapi pasti telur itu kubalik. Dan beberapa menit kemudian, omeletku pun jadi.

Saat aku berbalik untuk meletakkan semua makanan itu di meja makan, aku sama sekali tidak menemukan batang hidung Yoongi sejauh mataku memandang. Apa dia pergi ke kamar mandi? Atau ke kamar adikku? Yang pasti setelah kulepas apron, aku segera mencarinya sekaligus memanggil nama dia dan adikku.

Dugaanku benar, Yoongi sedang ada di kamar Daehun. Mereka sama-sama tengkurap di atas ranjang sambil memandang laptop. Keduanya langsung menoleh begitu aku berdehem.

“Makanan sudah siap, ayo keluar.”

“Kau memasak sendiri, Nuna?” tanya adikku sambil mem-pause game-nya. Sementara Yoongi turun dari ranjang, menghampiriku.

“Eum. Aku membuat ramyeon dan omelet,” balasku seraya berbalik dan mengomando mereka ke ruang makan.

Daehun seperti biasa tampak bersemangat sekali ketika menemukan makanan di atas meja. Terlebih hari ini aku membuat ramyeon. Dia itu, sangat suka dengan ramyeon buatanku.

Aku memukul tangan jahil Daehun yang akan mencomot ramyeon dengan sumpitnya. “Duduk. Biar kubagi.”

Dia pasang tampang cemberut tapi tetap menurutiku. Yoongi duduk di seberang Daehun. Meletakkan ponselnya di sisi kanan mangkuk nasinya, menungguku membagi ramyeon. Di sini, kalau ramyeon tidak dibagi, maka Daehun akan dengan sangat serakah mengambil ¾ bagian. Orang lain akan menganggap ini aneh. Karena yang namanya ramyeon, paling enak memang dimakan langsung dari pancinya. Yoongi sudah sering makan di sini bersama Minhyuk dulu, jadi dia sudah terbiasa dengan keanehan keluargaku.

Ramyeon sudah kubagi tiga dengan rata, tapi masih ada sisa sedikit di panci. Daehun yang tahu itu langsung menatapku dengan mata memohonnya. “Yang di panci buatku ya?”

Tanpa menjawabnya aku langsung mendorong panci itu untuk lebih dekat dengannya. Dia bersorak. Yoongi tersenyum geli.

Aku pun duduk. Meraih pisau untuk memotong omelet menjadi tiga. Kuletakkan omelet bagian adikku di piring kecilnya, sementara untukku dan Yoongi kubiarkan di piring semula.

Kami pun mulai makan.

“Nasimu sedikit sekali.”

Ucapan Yoongi otomatis membuatku menoleh. Rupanya dia sedang menatapku. “Aku tidak begitu suka makan ramyeon dengan nasi.”

Dia mengangguk, lalu mengangkat mangkuk nasinya. “Aku juga.”

“Kau harus menghabiskan semua itu.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Harus mau.”

“Memaksa sekali,” gumamnya seraya meletakkan mangkuk itu kembali.

“Kau itu belum sepenuhnya sembuh. Itu hukuman untukmu karena hari ini kau datang tanpa memakai jaket,” balasku sambil menggigit omelet bagianku.

“Kalau aku demam lagi, itu memang sudah waktunya.”

“Lalu kau tidak akan masuk sekolah lagi? Hari ini kita sudah melewatkan dua hal penting. Kelompok kimia dan tes conversation. Gara-gara kau, kita harus menerima kenyataan kalau kita menjadi satu kelompok. Kamis nanti kau dan aku harus menyusul tes conversation.”

Awalnya aku menduga dia akan menolak mentah-mentah atau setidaknya terkejut. Tapi yang ada justru sebaliknya. Dia tampak tenang-tenang saja.

“Baguslah, setidaknya aku bersamamu, bukan dengan Taehyung.”

“Kau tidak keberatan?” Aku ingin sekali menanyakan ini sejak tadi.

Dia melirikku. “Kenapa keberatan? Justru aku lebih keberatan lagi kalau harus bersama Taehyung. Berbicara bahasa Korea standar saja belum lancar, apalagi bahasa Inggris.”

Itu bukan jawaban yang kuinginkan. “Kau serius tidak keberatan? Kuulangi, kita harus tes conversation bersama. BERDUA. Kau yakin kau tidak keberatan?”

“Memang kenapa kalau berdua?” Daehun mendadak menyahut. Aku langsung membungkam mulutnya itu dengan omelet.

“Anak kecil jangan ikut campur.”

Ia kesal padaku. Masa bodoh.

“Adikmu benar. Memang kenapa kalau berdua?”

Kali ini Yoongilah yang membuatku kesal. Daehun menatapku dengan senyum penuh kemenangan.

Aku pun menghela napas. “Ya sudahlah. Selesai makan langsung pulang. Imo mengirimku pesan kalau beliau akan pulang hari ini.”

MWO?!

Aku yang sedang menyesap kuah langsung tersedak. Segera kuraih air mineralku dan meminumnya habis. Kupandangi dia dengan kesal.

Eomma akan pulang hari ini, dan kau tidak memberitahuku sejak tadi? Aish!”

Dia membanting sumpit ke atas meja. Aku dan Daehun saling pandang.

“Kupikir imo sudah memberitahumu,” jawabku lirih.

Dia melirikku. Jelas sekali kalau dia sangat kesal padaku.

“Kalau dia sudah memberitahuku sejak tadi, aku sudah pasti pergi dari rumah itu! Kau sendiri sudah tahu kalau aku sangat membencinya ‘kan? Atau jangan-jangan kau sedang berkomplot dengannya?! Tsk, aku sudah selesai.”

Ia pun meraih ponselnya, mengantonginya lantas beranjak pergi. Sebelum Yoongi makin jauh aku langsung mengejarnya. Sedikit lega ketika aku bisa menahannya sebelum dia keluar dari rumah. ia berbalik sambil menepis kasar tanganku.

“Kau mau kemana?”

“Bukan urusanmu!” ketusnya. Ia pun melanjutkan langkahnya, buru-buru melepas sandal rumah dan tanpa memakai sepatu sandalnya dia keluar. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Min Yoongi!”

“Jangan ikuti aku!”

“Berhentilah dulu! Kita harus bicara!”

Dia berhenti dan langsung berbalik. “Tidak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah jelas kalau kau ini … sama saja dengan mereka.”

Aku pun mematung. Kalimat terakhirnya membuatku tertegun. Aku … dia bilang … aku sama saja dengan orangtuanya? Dia menyebutku sama saja dengan orangtuanya yang tidak pernah ada di rumah untuknya, yang tidak pernah merawatnya saat sakit, yang tidak pernah menghawatirkannya saat dia terluka, yang selalu membiarkannya sendirian menghadapi masalah, yang … tidak pernah memercayainya. Dia menyebutku begitu setelah semua yang sudah kulakukan?

BUG!

Dia yang hampir keluar dari gerbang lantas berbalik setelah merasakan sesuatu memukul kepala belakangnya. Dipandangnya sandal rumahku yang tergeletak di dekat kakinya, lalu beralih menatapku.

“Benar. Aku memang sama saja dengan orangtuamu. Terserah, kalau kau mau pergi, pergilah! Aku tidak akan melarangmu. Tapi kau harus ingat, aku tidak akan lagi memercayaimu seperti yang biasa kulakukan. Aku tidak akan lagi merawatmu seperti tadi pagi kalau kau sakit. Aku tidak akan lagi menghawatirkanmu saat kau terluka. Dan aku juga tidak akan peduli kau merasa kesepian atau tidak. Kau benar, Min Yoongi. Aku itu sama saja dengan mereka. Bagimu aku ini bukan apa-apa ‘kan? Selain ketua kelas yang berusaha kau hindari, atau seseorang yang pernah dicintai kakakmu yang sudah mati. Kalau kau mau pergi untuk menghindari ibumu, silahkan. Lagi pula aku siapa? Aku tidak punya hak untuk melarangmu.”

Aku sadar kalau mata dan hidungku mulai memanas. Maka dari itu sebelum tangisku meledak, aku memutuskan untuk berbalik dan masuk ke dalam rumah. Kubanting pintu depan, berlari ke kamar, dan menangis di tempat tidur setelah pintu terkunci. Bantal menjadi satu-satunya alat peredam suara isakanku yang memalukan. Masa bodoh dengan adikku yang menggedor pintu. Saat ini aku sedang tidak mau bertemu dengan siapa pun.

Malam itu aku menangis sampai ketiduran. Bertemankan hujan. Dan aku baru sadar, kalau aku hanya memakai satu sandal.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s