Freak Hwarang #10

twt2

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 ||Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9

Berburu burung menjadi agenda selanjutnya bagi seorang Kim Namjoon. Dalam keadaan tangan terborgol, dia tidak bisa berbuat apa pun. Title-nya sebagai monster penghancur sedang tidak berguna sekarang. Harusnya dia bisa menghancurkan borgol itu dalam sekali pegang, tapi kekuatannya seakan telah disegel oleh ‘siluman Tarzan’ di sebelahnya. Akhirnya dia terpaksa ikut masuk ke dalam hutan belantara. Tangan kirinya membawa sebuah ketapel.

“Buat apa berburu burung? Akan kau ternakkan?” tanyanya saat mereka sudah nyaris separuh jalan.

“Ng? Tidak. Akan kumasak untuk makan malam kita,” balas Sena tanpa sedikitpun menoleh. Dia sedang sibuk melihat ke atas, mencari burung-burung yang biasanya terbang bebas di sana.

“Bukannya itu illegal?”

“Memang apa peduliku?”

Namjoon mendecih. Iya juga, memang sejak kapan gadis itu peduli soal illegal tidak illegal? Rusa dan kelinci kemarin saja yang tidak tahu asalnya, tiba-tiba dibawa pulang dan dimasak. Apalagi burung.

“Ngomong-ngomong, kau ini usia berapa?”

“Kau penasaran?”

“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak tahu usia orang yang sudah memberikan tempat tinggal dan makanan untuk kami?”

Sena tersenyum tipis. “Kau mau balas budi?”

“Jangan harap.”

“Sudah kuduga.” Sena tiba-tiba berhenti –yang otomatis membuat Namjoon juga berhenti-, mengeluarkan sebuah batu dari sakunya, lalu….

BRUK!

Namjoon tersentak. Seekor burung yang ukurannya dua kali lebih besar dari burung pipit terkapar di depan mereka. Kepalanya berdarah. Namjoon langsung menatap Sena ngeri.

Assa! Kita akan pesta daging burung nanti malam~~” Siul Sena sembari memasukkan hewan yang sudah mati itu ke dalam timba yang dibawanya. Katanya, dia membawa itu untuk jaga-jaga kalau burung yang mereka dapat itu besar dan banyak. Lumayan, bisa dijadikan bahan makanan untuk dua hari. Padahal daging rusa dan kelinci kemarin saja masih banyak. Kalau saja tidak dibagi dengan wolfdog, mungkin daging itu baru akan habis bulan depan –itupun kalau dimakan setiap hari.

“Kau hidup seperti ini huh?” tanya Namjoon tak percaya. Gadis itu bahkan tak punya rasa jijik sama sekali saat tangannya terkena cairan darah. Padahal, di pusat Kerajaan, gadis-gadis di sana sangat menghindari hal-hal yang seperti ini. Kotor sedikit sudah nangis bombay, itulah kenapa Namjoon sangat tidak percaya melihat kelakuan gadis belia di depannya ini.

“Memang kenapa? Kau prihatin padaku? Jijik melihatku?” Sena menyeringai. “Di sana pasti isinya hanya gadis-gadis ‘mewah’ seperti katamu waktu itu ‘kan? Bukankah sudah kubilang, di sini, tidak ada yang bisa dimewahkan. Kalau kau mau hidup, kau harus mau melakukan semua ini.”

Namjoon mengikuti kemana Sena pergi.

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Yang mana?”

“Usiamu.”

“Oh. Tahun ini aku sembilanbelas.”

Ye?! Sembilanbelas?! Yaa! Kau bahkan lebih muda dari Jungkook!”

“Oh … begitu ya?” balas Sena cuek. Dia berhenti lagi, menembak seekor burung lain dengan ketapelnya. Burung kali ini berjenis lain, tapi ukurannya mirip.

“Aku duapuluh tiga. Kau harus menyebutku oppa.”

“Aku akan menyebutmu oppa kalau kau sudah berusia empatpuluh tahun.”

Rasanya Namjoon ingin sekali memukul Sena, tapi karena Sena itu wanita maka dari itu dia menahan diri. “Kau ini saaaangat mengesalkan. Bersyukurlah karena kau terlahir sebagai wanita.”

Sena terkekeh. “Sama-sama.”

Perburuan hari itu, mereka dapat lima burung. Sebenarnya Sena ingin berburu sampai dapat delapan burung agar mereka dapat satu-satu. Tapi Namjoon terus saja merengek ingin pulang seperti anak TK. Akhirnya mereka pun kembali ke pondok.

“Bisakah kau lepaskan borgolnya sekarang?” tanya Namjoon begitu mereka sudah sampai di gudang penyimpanan. Sebelum burung-burung yang mereka dapat membusuk, ada baiknya mereka harus mengulitinya dulu.

“Tidak sekarang. Bantu aku menguliti hewan-hewan ini.”

Namjoon hanya bisa pasrah. Pertama, dia diajari terlebih dahulu caranya menguliti burung. Setelah itu, dia disuruh melakukannya sendiri. Karena tangan mereka saling terborgol, mereka jadi agak kesulitan. Akhirnya borgol itu dilepas dan diganti di kaki.

“Hei, bisakah dilepas saja? Aku tidak akan kabur, kau pikir aku ini anjing?”

“Kau ini bukan anjing, tapi monster. Monster kalau tidak ditahan akan makin berbahaya. Aku ini sedang menjagamu, bodoh.”

Namjoon mendengus. Disebut monster membuat mood-nya mendadak buruk. Kenapa monster? Tidak adakah istilah yang lain? Dia trauma sekali dengan istilah monster. Di masa kecilnya, dia sering dibully anak-anak yang lain gara-gara kekuatan penghancurnya. Rusak sedikit dia disalahkan, tahu-tahu sebutan monster merebak begitu saja menjadi nama keduanya.

Karena terlalu kesal, kewaspadaannya pun berkurang dan tangan kirinya pun mendadak tertebas pisau. Reflek dia menjatuhkan benda-benda di tangannya, menjerit keras. Sena otomatis menghentikan kegiatannya. Dia langsung meraih tangan Namjoon.

Gwaenchana gwaenchana,” ujar Sena sambil mengusap darah di tangan Namjoon dengan kain bajunya.

“AKH! SAKIT!!!”

Sena berusaha untuk tenang, namun tidak bisa. Dia menjadi sangat panik. Saat akan meraih kotak obat darurat yang ada di sisi kirinya Namjoon, dia lupa kalau kaki mereka sedang terborgol, alhasil….

BRUK!

Namjoon harus merasakan sakit untuk kedua kalinya. Kali ini punggungnya. Sena yang sedang di atasnya, berusaha untuk berdiri. Namun usahanya selalu gagal karena borgol yang mengikat kaki mereka. Merasa tak berguna, bersalah dan sebagainya, tahu-tahu Sena terisak.

Namjoon melirik puncak kepala gadis yang sedang ada di atasnya. “K-kau menangis?”

Isakan Sena makin keras.

Yaa, kenapa kau menangis? Hei, di sini yang terluka adalah aku.”

Sena memeluknya erat. “Maafkan aku….”

Namjoon tertegun sebentar. Kemudian, “Hei, berhenti menangis.”

“Aku sudah membuatmu seperti ini … hiks … maafkan aku … aku memang bodoh!”

Rasa sakit di tangannya mendadak hilang entah kenapa. Yang ada, dia justru dibuat bingung dengan Sena yang tiba-tiba menangis. Posisi yang sulit membuatnya juga sulit untuk berdiri.

“Sudahlah, kenapa harus menangis?”

Sena terus saja terisak. Beberapa menit lamanya mereka hanya diam di posisi itu. Namjoon tak henti-hentinya mencari cara agar mereka bisa berdiri. Tapi semua cara menjadi sangat sulit begitu dia menyadari kalau kaki mereka sedang diborgol.

Ia pun menghela napas. “Lain kali tidak perlu memakai borgol. Kalau terjadi hal yang seperti ini akan susah.”

Sena hanya mengangguk. Tangisnya sudah mulai reda.

Namjoon terdiam lagi. “Ngomong-ngomong … aku tidak suka dengan panggilan itu.”

“Pang-ekhem … panggilan yang mana?”

“Monster. Kau memanggilku monster bukan? Aku tidak suka dengan panggilan itu.”

Wae?”

Namjoon terdiam sebentar. Menimbang-nimbang apakah dia harus cerita atau tidak. Tapi kalau dia cerita, itu artinya dia juga harus membuka masa lalunya yang selama ini berusaha dia lupakan. Ia pun menelan ludah.

“Yang pasti aku tidak suka.”

“Tapi wajahmu seperti monster.”

Kata-kata itu otomatis membuat Namjoon mendelik. “Jadi maksudnya kau menyebutku buruk rupa?”

Ani. Monster tidak buruk rupa, karena memang tidak ada monster tampan. Monster bisa disebut monster karena wajahnya unik.”

“Tapi aku tetap tidak suka.”

“Kalau aku suka?”

Namjoon mengernyit. “Lalu kau tidak memikirkan perasaan orang yang kau panggil seperti itu? Tidak pernahkah kau bayangkan kalau suatu nama terkadang membuat seseorang mengingat masa-masa kelamnya?”

Sena pun meletakkan dagunya di dada Namjoon. “Apakah nama itu mengingatkanmu pada masa lalu?”

Namjoon langsung membuang pandangan. Awalnya dia berniat untuk tidak cerita, namun takdir menyuruhnya untuk menceritakan semua. “Ya. Nama itu membuatku teringat pada masa lalu.”

“Boleh aku tahu ceritanya?”

Kisah-kisah lama pun kembali dibuka oleh Kim Namjoon. Seperti air terjun yang mengalir deras, dia menceritakan masa kecilnya dengan detail kronologis. Dimulai dari saat dia masuk taman kanak-kanak khusus bangsawan, hanya Hoseok saja yang mau menjadi temannya. Yang lainnya, membully dia karena kemampuan anehnya. Setiap barang yang dipegangnya selalu rusak. Seperti penggaris kayu yang belum satu menit sudah patah menjadi dua, kapur yang juga patah tiap kali dia menulis di papan, kursi duduknya yang selalu diganti tiap minggu karena bagian kakinya selalu rusak, dia yang tidak pernah baik-baik saja selama jam olahraga. Semua itu membuatnya dijauhi teman-temannya yang lain karena mereka takut kalau Namjoon akan merusakkan barang mereka. Hanya Hoseok, yah … Hoseok itu sudah dianggap sebagai malaikat penyelamatnya. Kalau tidak ada Hoseok, kira-kira akan seperti apa nasib Kim Namjoon kecil?

Sambil mendengarkan cerita Namjoon, Sena membaringkan kepalanya dengan nyaman di dada pria itu seraya memegang tangan Namjoon yang berdarah. Darah terus mengalir dengan deras, namun si empu tangan tidak merasakan sakit sedikitpun. Mungkin sakitnya sudah berpindah ke dalam hati. Sakit karena perlakuan buruk orang lain di masa lalu. Tanpa sepengetahuan Namjoon, dia memasukkan tangan itu ke mulutnya, menelan semua darah yang keluar sampai tangan itu bersih.

Namjoon menyadarinya. Otomatis dia menarik tangannya. “Apa yang sedang kau lakukan?”

Sena menyeka bibirnya yang belepotan noda merah. “Aku berusaha menghapus darahnya.”

“Kenapa harus dengan cara seperti itu? Kau vampir?”

Gadis itu menggeleng. “Dulu pedagang Ro memperlakukanku seperti itu saat tanganku berdarah. Katanya itu bisa menahan darahnya.”

Namjoon hanya bisa menatapnya tak percaya.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Dua pasang manusia ini langsung mendongak. Kim Seokjin, tersentak saat melihat mereka ada di sana.

“Ada apa ini? Kenapa kalian di situ? Kenapa mulutmu banyak darah? Kenapa kaki kalian ada borgol?!”

“Akan kujelaskan nanti, Hyung. Sekarang, tolong bantu lepaskan borgolnya?”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s