Freak Hwarang #9

16806746_562576137275051_7248398054399617669_n

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 ||Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8

“Ya, jadi mereka adalah pangeran yang … oh? Jimin?” Kalimat Sena langsung forced end begitu dilihatnya Jimin muncul. Pedagang Ro yang semula menatap wajah Sena lekat-lekat otomatis menoleh.

Jimin menatap pedagang Ro sebentar sebelum kemudian menatap Sena. “Aku datang untuk membantu.”

Sena mengernyit. “Tumben. Tapi ya sudahlah. Kebetulan kau datang. Sekarang bantu kami memindahkan beberapa keranjang ini ke mobil pedagang Ro.”

Pria bernama Ro itu tersenyum saat dia dan Jimin tak sengaja saling bertemu pandang. Jimin membuang pandangan dengan tak acuh, lalu melaksanakan tugas yang diberikan padanya.

“…ah … namanya Jimin. Dia pangeran nomor lima. Kalau menurutku sih, dia ini jauh lebih normal dari saudara-saudaranya. Lihat, dia bahkan punya punggung yang kuat.”

Jimin meringis pelan ketika punggungnya dipukul kuat oleh Sena. Dia melotot, tapi hanya sebentar karena setelah itu dia harus mengangkat satu keranjang lagi.

“Masih ada yang lain?” tanyanya begitu kembali.

Sena pun menggeleng sambil tersenyum. “Sudah selesai. Kau boleh bergabung dengan saudara-saudaramu sekarang.”

Ani, aku akan di sini sampai dia pergi,” balasnya cepat sambil duduk di atas tumpukan jerami yang ada di sebelah Sena. Sena menatapnya sebentar, lalu menggendikkan bahu tak peduli.

Jimin terus memperhatikan dua manusia di depannya yang terus saja mengobrol santai. Mereka terlihat begitu dekat. Sudah seperti sahabat … ah tidak … bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih dilihat dari bagaimana tatapan Sena saat pedagang Ro bicara. Mungkin pedagang Ro menyadari tatapan Jimin sehingga pria itu pun menoleh dan tersenyum. Dia langsung membuang pandangan sambil mencibir. Entah kenapa dia benci sekali pada orang itu.

“Ya sudah kalau begitu. Minggu depan aku akan kembali lagi, akan kubawakan ikan yang banyak untukmu.”

Jinjja?” Mata Sena berbinar. “Awas kalau kau berbohong, Oppa.”

Pedagang Ro tertawa renyah. “Kapan aku pernah berbohong padamu? Kalau begitu aku pergi ya.”

Di saat mereka berdua akan berpelukan, tiba-tiba Jimin sudah berdiri di antara mereka. “Ya sampai jumpa. Jangan pernah kembali lagi ke sini.”

“Hei, kau ini bicara apa?” Sena memukul bahu Jimin sampai pangeran ke-5 itu meringis pelan.

Tapi pedagang Ro hanya tersenyum. “Oke, sampai jumpa minggu depan Sena dan Jiminie.”

Jimin melotot mendengar namanya.

Begitu pedagang Ro beserta mobil box klasiknya meninggalkan kediaman Sena, Jimin pun mendapat hadiah berupa jeweran. Pria itu menjerit karena terkejut. Sena baru melepaskannya begitu telinga Jimin berubah warna.

“Dasar perusak suasana! Gara-gara kau aku tidak bisa memeluknya! Argh! Kau ini … ish!”

Jimin balik menatapnya kesal. “Seharusnya kau ini berterima kasih padaku.”

“Buat apa aku berterima kasih padamu?” balas Sena dua kali lebih kesal.

“Dia itu aneh. Bagaimana bisa kau memeluk orang sepertinya?!” Nada bicara Jimin naik satu oktaf.

“Aneh? Yaa, yang kelihatan jauh lebih aneh di sini adalah kau, Park mochi! Aku bahkan lebih dulu mengenalnya daripada mengenalmu. Apa salahnya aku memeluknya?!”

“Tentu saja salah! Dia itu namja! Dan kau adalah yeoja! Bagaimana kalau dia berbuat yang tidak-tidak padamu?!”

“Memang itu urusanmu?! Aku punya banyak wolfdog, jadi dia tidak akan berani menyentuhku!”

“Berpelukan itu sudah bagian dari menyentuh, bodoh!”

“Maksudku bukan menyentuh seperti itu!”

“Hei kalian!” Hoseok tiba-tiba datang. Ia berdiri di antara mereka sambil membawa sebuah piring berisi beberapa tusuk sate kelinci yang sudah matang. “Sedang apa di sini? Yang lain sudah menunggu.”

Jimin menghela napas, kemudian menatap Sena tajam. “Pokoknya aku tidak suka pada orang bernama satu suku kata itu. Aku akan membuatnya menyesal kalau dia berani kembali lagi kemari.”

Berlalunya Jimin menjadi tanda tanya tersendiri bagi Hoseok. Dia pun menoleh pada Sena untuk meminta jawaban, namun Sena juga meninggalkannya. Sempurna, dia ditinggalkan sendirian di sana. Bergulat sendiri dengan pikirannya.

Karena kedatangan pedagang Ro itu, hubungan antara Sena dengan Jimin jadi tidak baik. Mereka seolah menghindari satu sama lain. Kalaupun mereka berada di satu tempat, yang akan terjadi adalah seperti ini.

“Hei! Cuci piringnya dengan benar! Lihat, masih ada nodanya ini! Ulangi!”

Jimin pun merebut piring itu dengan kasar, dan karena licin, piring itu justru melayang ke lantai dan PRANK!

“Piringku!!!!”

Sena langsung berlarian menghampiri piringnya yang sudah rest in peace. Dia pun mengheningkan cipta sejenak sebelum menoleh pada si pelaku. “Bersihkan pecahannya sekarang juga!”

Shireo, aku sibuk,” balas Jimin tak acuh sembari melanjutkan tugasnya mencuci piring. Belum satu menit dia sudah menjerit.

“Sekarang juga atau kuputus telingamu.”

Arasseo! Arasseo! Lepaskan!”

Sena pun melepaskannya. Jimin menghela napas sebentar sebelum berjongkok untuk memunguti keping-keping piring itu.

Sementara pangeran lain yang juga sedang ada di dapur, hanya bisa menatap prihatin pada saudara mereka. Sena marah-marah seperti ibu tiri, dan Jimin adalah Cinderella-nya, Jiminrella.

“Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?” gumam Hoseok sambil duduk di salah satu kursi meja makan. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya membersihkan alat pemanggang.

“Mau?” tawar Yoongi sambil menyodorkan sepiring sweet potato panas. Dia tidak mendapat tugas apa pun, karena itulah dia menyibukkan diri dengan merebus sweet potato yang ditemukannya di sebuah laci.

“Kau dapat dari mana, Hyung?” tanya Jungkook yang duduk di sebelah Hoseok, mencomot sedikit sweet potato di piring Yoongi. Tugasnya adalah mengumpulkan tusuk sate.

“Dari laci,” balas Yoongi singkat.

“Aish! Makanya hati-hati! Kau ini bagaimana sih?!” teriakan Sena membuat Yoongi dan Jungkook langsung menoleh. Dilihatnya Sena yang sedang berjongkok di hadapan Jimin sambil memasukkan jari Jimin ke dalam mulutnya.

“Jorok sekali,” komentar Taehyung yang sejak tadi juga menonton dari sisi lain. Dia tidak mendapatkan tugas apa pun jadi dia hanya duduk saja di lantai bersama Namjoon di sebelahnya.

“Kau pintar mencari kesempatan, Jimin-a,” sambung Namjoon yang otomatis membuat Jimin menoleh sambil melotot. Namjoon balas menantangnya, kemudian Jimin pun menghela napas.

“Aish lepaskan!” Ia pun menarik paksa jarinya dari mulut Sena. Sisa lendir di tangannya ia usapkan pada apron. “Ini bukan luka besar. Menyingkirlah, kakimu bisa kena pecahannya.”

Seokjin yang baru selesai mencuci alat-alat memasak pun ikut berjongkok untuk membantu Jimin. “Kalian ini sama-sama menghawatirkan satu sama lain, tapi bertengkar. Apa masalahnya, huh?”

Hyung, biar aku saja yang lakukan,” seru Jimin saat Seokjin akan mengambil alih tugas itu darinya.

“Kau istirahat saja. Hei jabrik, obati tangannya.”

“Tapi Hyung-

Seokjin sudah duluan berlalu dari hadapannya, membuang sampah kaca itu keluar. Sementara itu dia sudah ditarik Sena ke ruang tengah untuk mengobati lukanya.

Mereka duduk saling berhadapan dalam diam. Jimin membuang pandangannya ketika Sena mulai mengoleskan obat ke luka goresnya. Awalnya matanya menatap lurus pada lantai kayu, tak lama kemudian berpindah ke langit-langit. Jari-jari lentik Sena menyentuh kulitnya dengan lembut. Bagaimana mungkin dia tidak bereaksi?

Selesai, Jimin pun segera menarik tangannya. Kalau kalian pikir dia akan tersentuh, kalian salah. Yang ada dia justru makin kesal karena Sena sudah membuat jarinya makin aneh.

“Kau ini sebenarnya bisa tidak sih mengobati luka?”

Wae? Aku sudah memberinya obat merah.”

Jimin mengangkat jarinya tepat di depan wajah Sena. “Ya, kau memang sudah memberinya obat merah, tapi apa iya hanya dibiarkan begini? Sekarang kau membuat jariku terlihat seperti ddeokbeokki!”

Sena mengernyit sebentar lantas tertawa. “Ya hahahaha! Kau benar! Tanganmu jadi seperti ddeokbeokki! Kkkkk, kemarikan tanganmu, akan kumakan.”

Jimin buru-buru menarik tangannya, melotot.

“Tapi ngomong-ngomong, jarimu kecil juga ya.” Sena tiba-tiba meraih tangan Jimin lagi dengan kekuatan ala Superman. Dia mencubit-cubit jari Jimin yang tidak terluka. Nyaris saja digigitnya jari-jari mungil tak berdosa itu kalau saja si empu tangan tidak segera menarik tangannya menjauh.

“Ini tangan, bukan makanan.”

Gadis itu justru terkekeh. “Selain badanmu yang kecil, tanganmu juga kecil ya. Jangan-jangan semua yang melekat padamu serba kecil.”

Pernyataan ambigu itu otomatis membuat Jimin mendelik. “Jangan seenaknya ya kalau bicara. Memang kau pernah melihatnya?”

“Baru beberapa menit, sekarang kalian sudah akur lagi,” celetuk Seokjin yang mendadak muncul dari dapur diikuti pangeran yang lain.

“Jangan-jangan kalian sudah saling jatuh cinta. Hayo mengaku~~” Jungkook berseru dengan jahilnya. Dia terkekeh saat Jimin menatapnya tajam.

“Ah aku lelah! Aku mau tidur! Jangan bangunkan aku!” Jimin tiba-tiba bangkit, melepas dan melempar apron sembarangan lalu masuk kamar. Tujuh orang di sana hanya menatap kepergiannya dalam diam.

“Kalian mau berburu burung bersamaku?” tanya Sena memecah keheningan.

“Aaaa tiba-tiba aku mengantuk,” seru Yoongi yang kemudian mengikuti Jimin masuk ke kamar.

“Punggungku sakit sekali sial, maaf ya, aku tidur dulu.” Taehyung mengikuti langkah hyung-nya.

“Aku baru ingat kalau Bunny belum dikasih makan.” Jungkook tahu-tahu sudah melesat ke belakang.

Hyung, kau sudah bekerja keras seharian ini. Mau kupijat?” Hoseok langsung merangkul Seokjin kemudian mereka masuk ke kamar juga.

Dan tersisalah Namjoon sendirian di sana. Sena memicing, menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir pria itu.

“A-a-aku … aku sedang tidak ingin melakukan apa pun sih. Tapi bukan berarti aku akan mengiyakan ajakanmu. Ah! Ya, aku baru ingat. Aku ingin sekali memakan ap-” Belum sempat Namjoon pergi, tahu-tahu Sena sudah mencengkram ujung bajunya.

“Mau kemana kau?”

“Makan apel.”

“Tidak boleh, kau harus ikut aku berburu burung sebelum makan apel.”

“Ah shireo. Kenapa juga aku harus ikut denganmu.”

“Kalau begitu tidak usah makan apelku.”

Namjoon mendengus. “Baik, aku tidak akan makan apel. Aku akan pergi tidur saja.”

CKLAK!

Suara itu membuat Namjoon menoleh. Matanya membelalak heboh saat dilihatnya tangannya sudah terborgol bersama tangan Sena. Gadis itu menyeringai saat mereka bertemu pandang.

“Kau tidak bisa kemana-mana, monster sayang.”

“AAAAAAAAARGHHHHH!!!”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s