Freak Hwarang #11

namjinjim

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 ||Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 ||Chapter 9 || Chapter 10

Tangan Namjoon sedang terluka, beruntung luka goresnya tidak sampai membuat jari-jarinya putus. Hanya tergores saja, seminggu mungkin sudah pulih lagi.

“Akh! Yaa! Pelan-pelan! Ini sakit sekali tahu!”

Sena mendengus. “Aku ini sudah pelan. Kau saja yang manja.”

“Akh!!”

“Tahan sebentar….”

“Aaaaaaakh!!!”

“Selesai.”

Namjoon memandang tangannya nanar. “Hanya seperti ini? Kau ini sebenarnya becus atau tidak sih?”

Taehyung keluar dari kamar dengan mata setengah terpejam. Teriakan Namjoon tadi mengganggu tidurnya. “Ada apa, Hyung?”

Namjoon memperlihatkan tangannya yang berlumuran obat merah. “Coba lihat hasil karya si jabrik.”

Taehyung menatapnya lekat. “Ah … ddeokbeokki. Kebetulan aku sedang lapar…”

Namjoon buru-buru menarik tangannya. Taehyung terkekeh.

“Kalau tanganku hanya dibiarkan seperti ini, kuman akan menempel dan lukaku tidak akan pernah sembuh. Kau mau tanggung jawab kalau kulitku tidak bisa kembali ke bentuk semula? Cepat beri plester.”

Sena menggaruk tengkuknya. “Sebenarnya aku tidak punya plester.”

Ye?

“Ah tapi aku punya yang lain. Sebentar.” Sena beranjak ke kamarnya, lalu kembali sambil membawa sebuah kain bandana. “Kemarikan tanganmu.” Oleh Sena, bandana itu diikat di daerah luka di tangan Namjoon. Memang menutupi sih, tapi konsekuensinya, tangan itu tidak boleh terkena air sedikitpun. Dan itu membuat Namjoon frustasi.

“Kenapa tanganmu bisa seperti itu, Hyung? Kalian dari mana saja?”

“Kau lupa, aku mengajaknya berburu burung karena kalian semua tidak ada yang menyetujui ajakanku. Karena ulahku tangannya terkena pisau dan … menjadi seperti ini.”

Namjoon hanya diam saja melihat tangannya diusap oleh Sena.

“Sekarang dimana burungnya? Aku lapar.” Taehyung mengusap perut besarnya yang seperti perut bayi.

“Di gudang penyimpanan bersama si Sulung. Pergilah ke sana, bantu kakakmu.”

Taehyung menguap lebar. “Shireo. Aku baru ingat kalau aku masih mengantuk. Annyeong.”

Sena hanya mengabaikan kelakuan Taehyung. Masih mengusap tangan Namjoon. “Aku minta maaf karena sudah membuatmu seperti ini. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka, serius. Aku hanya … ah lupakan saja. Intinya semua ini salahku dan … aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan aku janji luka ini adalah yang terakhir untukmu.”

Kata-kata Sena terucap dengan begitu manis. Tapi apalah seorang Kim Namjoon. Ini pertama kalinya dia mendengar kata-kata itu dan … menganggap kalau itu hanyalah janji picisan saja. Mungkin karena dunianya tidak terbiasa dengan kata-kata seperti itu. Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun kecuali menarik tangannya kembali dan beranjak memasuki kamar bergabung dengan yang lain untuk tidur.

Sena menghela napas. Sebenarnya dia lelah sekali karena seharian ini dia tidak mengambil istirahat. Tapi, karena tanggung jawabnya banyak, dia tidak bisa beristirahat begitu saja. Teringat Seokjin di gudang penyimpanan, ia pun bergegas pergi ke sana.

Seokjin menggantikan dia dan Namjoon untuk menguliti burung. Begitu dia sampai di sana, burung-burung itu kini hanya tinggal daging siap masak. Melihat darah berceceran di lantai, dia segera mengambil pel lalu menggunakannya untuk membersihkan semua darah tersebut.

“Dagingnya sudah kucuci bersih, diletakkan di mana ini?”

Pertanyaan Seokjin otomatis membuat Sena menoleh. “Isi perutnya sudah kau keluarkan?”

“Isi? Ah … ya, aku lupa. Kalau begitu aku akan mengeluarkan isinya dulu.”

“Kumpulkan isi perutnya di timba itu.”

Arasseo.”

Mereka berdua pun disibukkan dengan tugasnya masing-masing.

Lewat senja hari, tugas mereka pun selesai, dan daging burung yang sudah siap makan sudah disimpan di sebuah lemari pendingin.

Kini keduanya duduk-duduk di depan pintu gudang penyimpanan, berseberangan dengan kandang biri-biri yang berjarak lima meter ke depan.

“Kau belum jelaskan padaku insiden tadi sore,” ujar Seokjin membuka pembicaraan. Dia sudah menghabiskan satu buah apel dalam sekali duduk.

“Kau memintaku menjelaskan bagaimana?” tanya Sena balik. Dia masih baru makan satu apel dan itu pun belum habis.

“Ya jelaskan sedetail-detailnya. Bagaimana kalian bisa seperti itu? Kenapa tangan Namjoon berdarah? Kenapa ada borgol di kaki kalian? Jelaskan semuanya padaku.”

Sena menoleh dengan mulut penuh. “hahu hehi he huhan-”

“Telan dulu,”potong Seokjin sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Sena. Sena pun mengunyahnya dengan cepat lantas menelannya.

“Aku pergi ke hutan bersamanya saat kalian semua bersantai. Agar dia tidak kabur makanya aku memakai borgol. Di gudang itu kami sedang menguliti burung seperti yang kau lihat, lalu tangannya terkena pisau, saat aku akan mengambil kotak obat kami terjatuh. Ya, kira-kira seperti itu.”

“Itu masih kurang jelas untukku. Lalu kenapa kau menangis segala?”

“Itu….” Sena terdiam sebentar untuk menelan potongan apel di mulutnya. “Karena aku merasa bersalah, maka dari itu aku menangis.”

“Hanya karena merasa bersalah?” Seokjin memastikan.

Sena hanya mengangguk.

“Bukan karena Namjoon berbuat yang tidak-tidak padamu ‘kan?”

“Kau pikir dia akan berbuat apa padaku?” tanya Sena dengan polosnya. Seokjin mengernyit heran. Bukannya Namjoon itu sudah dari sononya punya imej mesum yang tak terbantahkan? Masa iya Sena tidak curiga sama sekali?

“Kau yakin tidak tahu?” Sena mengangguk.

“Namjoon itu-” Mendadak Seokjin berubah pikiran. Ah, lebih baik tidak usah saja. Kalau dia bicara, yang ada dia akan kelihatan sebagai kakak yang suka menjelek-jelekkan adiknya. “Ah tidak, lupakan saja.”

Seokjin meraih sebuah ranting pohon lalu menggurat tanah dengan ujungnya yang runcing. Bukan tulisan bermakna, hanya guratan jalan semut. Angin berhembus lirih, dingin memang tapi tidak sampai membuatnya menggigil. Di istana mana mungkin dia bisa duduk-duduk di tanah seperti ini dengan baju seperti ini. Sebagai seorang pangeran dia tidak diwajibkan memakai baju kerajaan memang, tapi dia wajib memakai baju sopan, yaitu atasan yang wajib panjang begitu juga dengan bawahan. Pendek sedikit, pihak keamanan bawahan raja akan langsung membawanya ke ruang detensi.

“Aku mau tanya.”

Seokjin reflek menoleh. “Hm?”

“Namjoon selalu saja menyebut kehidupan istana itu sebagai kehidupan yang serba mewah, pokoknya wah. Memang, apa bedanya hidup di istana dengan hidup di sini?”

“Tentu saja beda.” Seokjin kembali menatap jalan-jalan semut yang dibuatnya.

“Toh bukannya sama saja? Di sana kalian makan, tidur, buang air, bernapas. Di sini kalian juga makan, tidur, buang air dan bernapas. Apa bedanya?”

“Di sana, pangeran harus memakai baju pangeran.”

“Baju pangeran? Ah … yang kalian pakai sewaktu kalian datang?”

Seokjin mengangguk. “Itu satu dari sekian banyak baju pangeran yang kami punya.”

“Lalu?”

“Di sana, pangeran tidak boleh memakai baju seperti ini.”

Sena mengangkat kedua alisnya. “Kenapa? Bukannya sama saja memakai baju?”

“Tentu saja beda. Baju seperti ini hanya dipakai oleh kalangan bawah, orang-orang yang bekerja di pertanian dan peternakan seperti yang kau lakukan selama ini.”

“Ah … begitu. Jadi baju di sana adalah pembeda status maksudmu?”

Seokjin mengangguk. “Awalnya aku tidak mengerti kenapa di kardus itu hanya ada baju-baju seperti ini. Sekali saja kami ketahuan memakai baju seperti ini, kami akan dihukum di ruang detensi.”

“Wah … ternyata tidak enak sekali ya. Mungkin kalau aku ke istanamu dengan memakai baju seperti ini, aku pasti akan diusir. Tsk, ternyata istana itu kejam.”

“Sebenarnya baju pangeran hanya dipakai di saat ada pertemuan atau acara penting saja. Di luar itu, bebas menggunakan berbagai jenis baju. Hanya saja, itu tidak sebebas yang dikatakan. Aku ingin sekali memakai baju casual untuk sekali saja, tapi yang kupunya hanyalah baju-baju semi formal yang membosankan.”

Sena menoleh, menopang dagunya dengan tangan kanan, menatap sisi wajah Seokjin lamat-lamat. “Itu membuatmu tidak bahagia?”

“Tidak juga.” Ranting pohon itu dilempar jauh. “Aku punya kebahagiaan lain karena aku adalah pangeran.”

“Apa itu?”

“Makanan.” Seokjin menoleh sambil tersenyum. “Makanan membuatku bahagia. Kalau kau ke istana, kau akan lihat berbagai jenis makanan terhidang di sana. Setiap hari, ah tidak, setiap jam semua makanan pasti sudah tersaji di meja makan. Tidak ada peraturan tentang makanan di sana, kalau kau mau, kau bisa ambil. Menyenangkan bukan?”

Sena terkekeh. “Ah … harusnya aku sudah bisa menebaknya sejak tadi.”

Seokjin menjentikkan jarinya. “Makanan membuatku bahagia, itulah kenapa aku tetap bertahan sebagai seorang pangeran.”

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Hoseok datang dari arah pondok dan langsung duduk di sebelah Seokjin. Dia, Yoongi, dan Jimin, awet sekali tidurnya sejak tadi siang. Mungkin nanti malam dia akan begadang.

“Kau mau?” tawar Sena sambil memperlihatkan sebuah apel merah besar.

Hoseok meraihnya tanpa banyak bicara.

“Yoongi dan Jimin masih tidur?” tanya Seokjin.

Ne. Mereka tidak bisa kubangunkan.”

“Bagaimana kalau makan malam membuat burung panggang?” usul Sena.

“Burung panggang? Boleh juga. Hyung bisa membuat bumbu yang enak,” jawab Hoseok sambil menunjuk Seokjin.

“Kalau begitu itu tugas kalian saja. Hari ini aku lelah sekali … sial, seharian aku belum mandi. Burung panggangnya dimakan bersama saudara-saudara kalian saja. Aku tidak selera. Aku tidur dulu ya, semoga beruntung.”

Hoseok dan Seokjin memandang kepergian punggung Sena sampai hilang ditelan pintu belakang pondok. Tersisa mereka berdua di sana, masih enggan beranjak sambil menunggu apel yang dimakan Hoseok habis.

“Kalian membicarakan apa?”

“Bukan apa-apa,” balas Seokjin sembari berbaring di atas tanah. Kedua lengannya dia gunakan sebagai penahan kepala.

“Eh Hyung, menurutmu, apa raja dan Sena itu punya suatu hubungan khusus?”

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Aku hanya merasa aneh. Waktu itu bukankah Sejin hanya bilang kita akan dikirim ke sebuah desa untuk menguji siapa yang bisa bertahan hidup? Tapi … ini bahkan bukan desa. Hanya ada rumah gadis jabrik itu saja yang disekelilingnya adalah hutan. Kurasa mereka sengaja membawa kita kemari. Pasti ada maksud lain selain bertahan hidup ‘kan?”

Seokjin terdiam sebentar, berpikir. Hoseok benar, pikirnya. Awalnya dia juga merasa aneh kenapa tiba-tiba mereka diculik dan dibawa kemari. Bukankah seharusnya mereka dibuat terpisah agar ketahuan siapa saja yang bisa bertahan hidup? Tapi kenapa harus di sini dan bersama-sama?

“Satu lagi, Hyung. Aku juga merasa kalau kita sedang diawasi.”

“Mana mungkin? Di sini tidak ada satu pun kamera pengintai, semuanya serba kuno. Bagaimana mereka bisa mengawasi kita?”

“Dengan chip mungkin? Siapa tahu mereka memasukkannya ke tubuh kita saat kita pingsan. Istana itu licik.”

Seokjin pun beranjak. “Ah sudahlah, tidak usah bicara yang tidak-tidak lagi. Ayo kita mulai memanggang.”

Hoseok masih duduk sambil mengunyah gigitan terakhirnya. Bagaimanapun, aku yakin pasti ada yang tidak beres di sini.

TBC

Advertisements

2 Replies to “Freak Hwarang #11”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s