Freak Hwarang #12

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 ||Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8||Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11

Hari mencuci. Semua sudah ada di depan pondok, berbaris horizontal dengan urutan dari yang paling tua ke yang paling muda. Namjoon tidak ada di barisan. Dia digantikan oleh Sena karena tangannya sedang luka. Ini masih belum seminggu sejak mereka datang ke tempat itu. Tapi Jungkook sudah meminta detergen lagi karena bungkus detergennya tak sengaja jatuh ke air.

“Lain kali berhati-hatilah,” kata Sena sembari menyerahkan sebungkus kecil berisi bubuk berwarna putih beraroma bunga.

Yaa, kenapa harus kau yang mencuci milik Namjoon hyung? Waktu itu aku masih sakit dan kau memaksaku untuk mencuci,” protes Taehyung setelah dia sadar sesuatu.

“Itu karena lukamu tidak di tangan, jadi tidak ada alasan untukmu tidak mencuci,” balas Sena cuek sambil mengisi timba berisi baju-baju kotor Namjoon dengan air.

“Itu namanya pilih kasih. Sekarang siapa yang egois di sini?”

“Di awal bukankah sudah kubilang kalau raja di sini adalah aku? Kau berani melawan raja?”

Taehyung mengerucutkan bibirnya. Tsk, mau bagaimana lagi, ya sudahlah.

“Akh!”

Semuanya menoleh ke asal suara. Jimin tampak kesakitan sambil memegangi tangannya yang kemarin terluka karena terkena pecahan kaca. Sena yang ada di sampingnya lekas menarik tangan si pangeran nomor 5.

“Lukamu masih belum sembuh,” ucapnya sembari membersihkan tangan Jimin yang sudah terkena deterjen itu dengan air bersih.

“Kau istirahatlah, biar aku yang mencucikan milikmu,” katanya sambil menunjuk pondok, memberikan isyarat pada Jimin untuk bergabung dengan Namjoon di sana.

Tapi Jimin menarik tangannya paksa. “Tidak usah, aku masih bisa.”

Andwae. Tanganmu akan makin parah kalau terkena deterjen. Beristirahatlah. Ppali.”

Perintah yang terkesan tak terbantahkan itu membuat Jimin menyerah untuk keras kepala. Dia pun segera beranjak memasuki pondok seperti yang disuruh. Menemui Namjoon yang sedang berbaring di kamar tanpa melakukan apa pun.

“Kenapa kau ke sini?”

Jimin pun duduk di sebelah hyung-nya, menyandarkan punggung pada dinding kayu. “Gadis itu menyuruhku beristirahat.”

Wae?”

Jimin memperlihatkan luka jarinya yang makin parah ke hadapan Namjoon.

“Dan si jabrik itu yang menggantikanmu mencuci?”

Jimin mengangguk.

Good job. Temani aku di sini. Aku sudah bosan sekali hanya begini sendirian.”

“Haruskah aku percaya kata-katamu? Kau pasti sangat terganggu karena aku datang ‘kan? Sudah sampai mana khayalanmu tentang gadis seksi, Hyung?”

“Sudah sampai Sena.”

Ne?”

Namjoon tersenyum tipis. “Aneh ya menyebut namanya.”

“Tidak, aku hanya aneh karena kau menyebut dia gadis seksi.”

Namjoon terkikik. “Dia memang seksi.”

“Mungkin terlalu lama di sini membuat otakmu sedikit miring, Hyung. Dari sisi mana dia bisa disebut seksi.”

Her brain. Dia punya otak yang sangat seksi. Mungkin kalau badannya juga seksi, bisa jadi aku akan menikahinya.”

“Sinting,” gumam Jimin sambil memperhatikan luka tangannya sendiri. Kemarin luka ini hanya diberi obat merah, itu pun asal-asalan. Lalu dia tidur, dan begitu bangun tahu-tahu jarinya itu sudah penuh dengan semut. Dan tadi lukanya terkena deterjen. Bagus, mungkin luka ini tidak akan pernah sembuh untuk waktu yang singkat.

Sementara itu, pangeran lain sudah selesai dengan kegiatan mencucinya dan kini sibuk di belakang pondok untuk menjemur baju-baju basah mereka. Sena masih ada di tepi sungai, mencuci baju milik Jimin setelah milik Namjoon selesai. Dia mengusap peluhnya yang penuh di dahi dengan kain bajunya. Hari ini matahari terik sekali. Kulitnya yang minim melanin rasanya nyaris terbakar.

Saat dia akan memeras baju basah milik Jimin, seseorang tiba-tiba saja memasangkan sebuah topi di kepalanya. Sontak ia pun menoleh. Dilihatnya Hoseok yang sedang berdiri di belakangnya sambil menatapnya dengan ekspresi datar.

“Kau—”

“Sama-sama,” potong pria itu sambil beranjak mendekati timba berisi baju Namjoon yang siap jemur. “Akan kujemurkan.”

Sebelum Sena membalas ucapannya, dia sudah pergi begitu saja sambil menjinjing timba tersebut. Sena memandang kepergiannya heran. Tumben sekali, pikirnya. Tapi ya sudahlah, dengan begini pekerjaannya menjadi sedikit lebih ringan.

Pondok menjadi tempat yang sejuk dalam cuaca panas seperti ini. Saat Sena datang, dia bisa melihat ketujuh pangeran di mana-mana. Mereka semua berbaring di lantai dengan posisi telentang. Cuaca hari ini membuat tenaga mereka terkuras dengan cepat.

“Tidak adakah minuman dingin di sini?” tanya Seokjin sembari duduk begitu dia melihat Sena datang.

“Air minumnya juga panas,” keluh Jungkook yang sejak tadi perutnya dijadikan bantal oleh Seokjin.

“Banyak es batu di gudang penyimpanan,” kata Sena sambil duduk di dekat mereka, menyandarkan punggungnya di dinding. Menggunakan topi yang diberi Hoseok sebagai kipas.

“Aku mau kepala mudaaaaa~~” seru Jungkook sembari merentangkan tangannya seperti orang malas.

“Di hutan ada, cari saja sendiri kalau mau.”

Merasa tak mampu, Seokjin kembali berbaring di perut Jungkook. Si bungsu itu dengan usilnya meletakkan tangannya di kepala hyung-nya sambil mengacak rambut hyung-nya gemas.

“Jeon Jungkook….”

Ne~~”

“Jangan nakal, nanti tidak akan kusayang lagi.”

Bukannya jera Jungkook malah tertawa keras diikuti keusilannya yang makin menjadi.

Mendadak Sena beranjak memasuki kamar para pangeran. Begitu dia membuka pintu, dua sosok pasien yang sejak tadi ada di sana pun membelalak.

Kkamjjagiya. Kenapa kau kemari?” tanya Jimin was-was. Namjoon juga sama terkejutnya. Dia pun ikut-ikutan duduk seperti Jimin. Mengernyit ketika Sena melangkah mendekat tanpa ada keraguan sedikitpun.

“Aku hanya ingin melihat kabar kalian. Bagaimana? Tangan kalian masih belum baik?”

“Kau pikir luka seperti ini akan selesai hanya dalam semalam?” tanya Jimin sedikit sewot. Dilihatnya Sena yang duduk bersila di depan mereka.

“Kalau begitu, bagaimana kalau besok pagi kalian ikut aku ke dokter?”

“Dokter?”

“Eum. Dokter yang sama yang pernah mengobati Kobam.”

Namjoon bergidik. “Hei, maksudmu dokter hewan? Memangnya kami ini terlihat seperti hewan untukmu?”

Shireo. Lebih baik tanganku seperti ini saja selamanya daripada harus mendengarkan gadis gila sepertimu.”

Sena menghela napas. “Tapi itu akan berdampak pada kesehatan kalian. Aku tidak mau tanggung jawab kalau kalian mati di sini.”

“Aku tidak akan mati hanya karena luka seperti ini,” balas Jimin sengit. Sepertinya dia masih punya dendam tersendiri pada Sena soal kedatangan pedagang Ro waktu itu. Tatapan permusuhan masih terpancar di kedua netranya.

Arasseo, aku tidak akan peduli lagi padamu.” Sena berkata lebih sengit. Ia pun meraih tangan Namjoon, membuka bandana yang membalut tangan pria itu dengan pelan. “Aku hanya akan peduli pada Namjoon saja.”

Mendengar nama aslinya disebut, Namjoon melongo. Terbesit di pikirannya kalau apa yang didengarnya ini salah. Tapi dia yakin kalau telinganya baik-baik saja. Reaksi Jimin pun nyaris mirip. Sena yang dulunya hobi memanggil Namjoon dengan sebutan monster sekarang memanggil dengan nama asli.

“Obat merahnya sudah mengering. Sepertinya harus ditambah lagi,” gumam gadis itu sambil membolak-balikkan tangan Namjoon. “Akan kuambilkan. Tunggu di sini, eo?”

Sepeninggal Sena, Namjoon dan Jimin saling pandang.

“Kau dengar juga ‘kan?” tanya Namjoon.

Ne. Ada apa dengannya sampai dia memanggil nama aslimu?”

Sebenarnya Namjoon tahu alasannya, tapi dia sedikit ragu. Mungkin saja dugaannya salah. Dia pun hanya memberi Jimin sebuah gendikkan bahu.

Gadis itu kembali dengan obat merah dan dua bandana lain di tangannya. Ia mengoleskan obat merah ke tangan Namjoon dan juga Jimin, lalu menutup luka dengan bandana. Jimin sebenarnya menolak saat tangannya juga akan diberi obat merah. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau Sena sudah dalam mode diktator.

“Aku harus mencuci kain ini … ugh … hari ini aku banyak sekali mencuci,” keluh Sena seraya beranjak dari kamar itu. Menyisakan dua pangeran yang sedang sakit itu hanya menatap pada tangan masing-masing, berusaha memahami perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak.

TBC

Advertisements

2 Replies to “Freak Hwarang #12”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s