Stereotype #9

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8

Paginya mataku bengkak. Sudah mataku bulat, sekarang ditambah dengan bengkak. Makin terlihat aneh. Aku pun melempar sandal rumah yang hanya tersisa satu itu ke sudut kamar. Peduli apa, barefoot is youth. Aku pun pergi mandi, lalu memakai seragam, memasukkan semua buku-buku dan keluar.

“Sena! Kenapa baru bangun sekarang?! Ini, cepat berikan pada Yoongi!”

Aku menoleh dan hanya menatap datar rantang makanan yang dibawa ibuku. Biasanya aku akan bersemangat mengantar sarapan ke rumahnya, tapi hari ini aku muak. Dan tanpa bisa dikontrol, mulutku pun berujar, “Mau dia sarapan atau tidak itu bukan urusanku ‘kan?”.

“Kau ini bicara apa?! Cepat bawa ini atau namamu kuhapus dari kartu keluarga!”

Ancaman itu akhirnya sukses membuatku membawa rantang makanan itu saat keluar rumah. Langit tampak terang. Wajar, sekarang sudah pukul 7. Dengan ogah-ogahan aku pun pergi ke rumahnya. Tsk, melihat gerbang rumahnya saja sudah membuat perutku mual. Aku benar-benar benci harus melakukan hal yang sangat kubenci.

Sesampai di depan gerbang rumahnya. Tanpa pikir panjang aku langsung menekan bel secepat jariku bergerak. Entah dikali yang keberapa, aku kelelahan dan meletakkan rantang itu di dekat pintu. Terserah, aku sudah menekan belnya selama 60 detik tapi tidak ada respon apa pun dari rumahnya. Ya sudah, aku memutuskan untuk segera pergi ke halte.

Begitu aku masuk bus, ponselku tiba-tiba bergetar. Banyak pesan yang belum kubaca tapi barusan yang datang adalah pesan dari ibu Yoongi. Aku pun membuka pesan itu.

Bus sudah setengah perjalanan begitu aku selesai membaca pesan dari Nyonya Jeon. Sial. Kalau aku kembali sekarang sudah pasti aku akan terlambat. Sudah tidak mungkin kalau aku berniat membolos lagi seperti kemarin. Hari ini ada ulangan harian Biologi, dan guru Biologi tidak pernah memberikan sesuatu yang namanya ‘ulangan susulan’.

Akhirnya aku pun mengirim pesan pada eomma untuk mengecek keberadaan Yoongi di rumah. Eomma membalas pesanku begitu aku turun di halte sekolah. Rantang makanan yang kubawa masih tergeletak di luar dan rumah dalam keadaan kosong.

Perasaanku mendadak tak menentu saat aku berjalan menuju sekolah. Bagaimana ini? Di mana Yoongi sekarang? Kenapa saat ditelepon nomornya tidak aktif? Apa kemarin malam dia benar-benar pergi dari rumah? Tapi kemana? Rumah Kihyun tidak ada, rumah Taehyung juga tidak ada, tempat-tempat yang biasa dikunjunginya tidak ada. Kau kemana sebenarnya, Min Yoongi?

“Sena!”

Aku otomatis menoleh, dan langsung diserang dengan sebuah pelukan erat. Aroma minyak bayi, ini kakakku, Soomi.

Dia melepas pelukannya lalu menatapku dengan senyum cerianya. Tapi senyum itu tidak bertahan lama. “Eh? Kenapa matamu bengkak?”

“Kau … ekhem!” Tenggorokanku mendadak serak. “Kau tahu di mana Yoongi?”

“Hah? Yoongi? Kenapa?”

Aku pun memperlihatkan pesan dari Nyonya Jeon pada Soomi. Matanya langsung membelalak. Dia lalu menatapku. “Yoongi kabur dari rumah?”

Aku sama sekali tidak memikirkan istilah itu. Aku tidak yakin, apakah Yoongi benar kabur dari rumah atau hanya keluar tapi belum pulang. Dan aku mengangguk.

Soomi menatapku iba, lalu dia memelukku. “Lebih baik kita masuk dulu saja. Hari ini ada ulangan Biologi. Kita pikirkan setelah jam biologi saja, bagaimana?”

Sebenarnya aku ingin sekali menangis saat ini juga tapi air mata itu berusaha kutahan. Aku pun mengikuti kemana Soomi menuntunku. Kami pergi ke kelas, dan duduk di bangku masing-masing. Kulihat meja Yoongi dan Taehyung yang kosong. Oh astaga, kenapa aku emosional sekali meskipun hanya melihat bangkunya?

Terlalu memikirkan Yoongi aku sampai tidak tahu kalau Soomi juga gelisah sejak tadi. Aku baru menyadarinya setelah dia memekik saat bel masuk berbunyi.

“Kau kenapa?”

Dia sepertinya ingin menangis. “Taehyung … Taehyung tidak membalas pesanku.”

Aku pun menghela napas. “Telepon saja.”

“Sudah, tapi ponselnya tidak aktif.”

Kurangkul kakakku. Hari ini kami merasakan masalah yang sama.

Jam pertama adalah PE. Aku izin tidak ikut karena sedang datang bulan. Soomi juga izin tidak ikut tapi dengan alasan kalau dia sedang tidak enak badan. Kami hanya duduk-duduk di tepi lapangan karena tidak diperbolehkan berada di kelas selama jam olahraga. Kubaca pesan-pesan yang belum kubaca kemarin. Dari Soomi, Taehyung dan Kihyun. Aku pun menghela napas. Aku hanya ingin Yoongi yang mengirimiku pesan sekarang.

Aku menoleh saat Soomi meletakkan kepalanya di bahuku. Ponsel di tangannya tergeletak di atas paha.

“Belum ada kabar dari Taehyung?” tanyaku.

Dia mengangguk. “Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu padanya.”

Aku juga. Aku juga khawatir kalau terjadi sesuatu pada Yoongi. Semua ini adalah salahku. Seandainya kemarin aku tidak marah dan tidak membiarkannya pergi, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi. Bohong kalau aku bilang aku tidak akan menghawatirkannya lagi. Sekarang aku sangat khawatir sampai rasanya aku bisa mati sewaktu-waktu.

“Oh ya, kemarin aku menelepon imo hanya bersama Taehyung. Tenang saja, orang lain tidak tahu soal kalian. Tapi, kau jahat. Seharusnya kau ceritakan itu padaku sejak awal, bagaimana bisa kau membiarkanku tahu dari imo? Kupikir kita ini saudara jadi kita bisa saling berbagi rahasia.”

“Maaf, aku hanya belum menemukan waktu yang tepat. Yang meminta ini dirahasiakan adalah Yoongi.”

“Kenapa dia ingin merahasiakannya?”

Aku menggendikkan bahu. “Dia mengatakan alasannya tapi aku tidak mengerti. Yang pasti semua itu karena Minhyuk.”

“Minhyuk? Kakaknya Yoongi yang sudah meninggal itu?”

“Ya, Min Minyuk.”

“Sudah lama aku tidak mendengar nama itu lagi.”

Bagiku tidak. Aku seolah selalu mengingat nama itu setiap hari. Bagaimana tidak? Kenyataan bahwa Minhyuk ternyata pernah menyukaiku benar-benar menjadi kejutan tersendiri bagiku. Minhyuk menyukaiku dan aku tidak tahu. Dan kalau bukan karena Yoongi, aku sudah pasti tidak akan pernah tahu fakta sebenarnya.

“Ah~~ Taehyung kau di mana~~?” Erangan Soomi membuatku menoleh. Sepertinya dia tidak sadar diri kalau sedang pinjam bahu orang. Tubuhnya berat sekali.

“Masa dia juga ikut-ikutan kabur dari rumah?” Celetukkanku membuatnya melotot.

“Tentu saja tidak. Orangtuanya selalu ada di rumah, dan dia punya dua adik yang masih kecil. Ayahnya tidak seperti Min seonsaengnim. Tidak ada alasan bagi Taehyung untuk kabur dari rumah.”

Ya, Soomi benar. Kehidupan Taehyung dengan Yoongi sangatlah berbanding terbalik. Lalu kalau bukan kabur dari rumah, Taehyung kemana?

Bel pergantian jam berbunyi. Aku dan Soomi kompak menghela napas. Sekarang ulangan Biologi.

Setelah jam Biologi berakhir, aku dan Soomi pun pergi ke meja Mrs Yoon untuk meminta izin keluar dari sekolah. Tidak sulit mendapatkannya, kami pun segera pergi dari sekolah setelah mendapat izin. Tugas Kimia hari ini diberikan pada Jimin, karena hanya Jimin satu-satunya di kelompok kami yang tidak absen dan tidak izin keluar. Kami memberhentikan taxi, menyuruh ahjussi itu pergi ke rumah Taehyung.

“Tidak mungkin dia sakit,” gumam Soomi yang langsung membuatku menoleh.

“Siapa?”

“Taehyung,” balasnya yang juga ikut menoleh padaku. “Kemarin malam dia baik-baik saja. Dia bahkan mengajakku makan malam sebelum pulang.”

“Siapa yang tahu. Lusa kemarin aku dan Yoongi makan diluar bersama Kihyun, lalu kemarin dia mendadak sakit. Sudah tahu tidak kuat dingin tapi dia masih saja melepas mantelnya.” Mengingat hari kemarin membuatku makin khawatir. Yoongi datang ke rumah dengan pakaian pendek, dan aku yakin dia pasti tidak pulang dulu tapi langsung pergi. Bagaimana kalau dia demam dan pingsan di tengah jalan? Bagaimana kalau ada orang jahat yang menculiknya? Argh! Kau di mana sebenarnya, Min Yoongi?!

Taxi berhenti di depan sebuah rumah. Soomi pun membayar, lalu kami turun. Tubuh kami mendadak tegang saat melihat bendera kuning yang menghiasi pintu gerbang. Kami pun saling pandang. Aku yakin Soomi berpikiran sama denganku.

“Siapa yang mati?”

Seorang anak laki-laki seusia sekolah dasar, tiba-tiba menegur kami. Dia sendirian, tampak memakai tuxedo hitam dengan sarung tangan berwarna putih. Sekilas melihat wajahnya, aku sempat berpikir kalau dia adalah Taehyung.

“Maaf, siapa?”

Soomi meletakkan kedua tangannya di bahu anak itu. Memandangnya lekat-lekat. “Kau adiknya Kim Taehyung?”

Anak itu mengangguk. “Nuna siapa?”

“Aku Lee Soomi, teman kakakmu.”

Syukurlah Soomi tidak memperkenalkan diri sebagai kekasih Kim Taehyung. Terkadang kakakku itu cukup pintar membaca situasi.

“Apa yang sedang terjadi di rumahmu? Mana Taehyung?”

Belum sempat anak itu menjelaskan, sepasang orang dewasa dengan seorang anak kecil perempuan 5 tahun datang dari arah semula. Mereka tak lain tak bukan adalah orangtua Taehyung dan adik Taehyung yang paling kecil. Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah.

Setelah berbasa-basi sejenak, ibu Taehyung pun menjelaskan tentang maksud dari bendera kuning yang menghiasi pintu gerbang. Nenek Taehyung meninggal. Dan meninggalnya pada pukul 3 pagi. Itulah sebabnya kenapa Taehyung tidak pergi ke sekolah atau setidaknya menjelaskan pada Soomi kenapa dia absen hari ini. Keluarga Taehyung saat itu juga pergi ke rumah sakit di mana nenek Taehyung dirawat di sana. Jasadnya baru dikuburkan pagi ini, dan Taehyung masih belum mau pulang sampai sekarang.

Kami pun memutuskan untuk pergi ke pemakaman. Lokasinya cukup jauh ternyata. Berada di bukit yang jauh sekali dari keramaian kota. Kami sampai di sana saat langit sudah tampak keemasan. Suasana yang tenang dan damai langsung menyergap kami, tapi kami tidak bisa mengelak bahwa di balik suasana itu terdapat suasana yang membuat bulu kuduk kami sedikit menegang. Sunyi sepi ketika kami sampai. Tidak ada siapa pun di sejauh mata memandang. Sial, sepertinya Taehyung sudah pulang. Aku meminta Soomi untuk pulang sekarang tapi dia bersikeras mengajakku untuk berkeliling. Dengan terpaksa aku pun menuruti kemauannya, dan kesal setelah lama berputar-putar batang hidung Taehyung ternyata tidak tampak di mana pun.

“Dia pasti sudah pulang,” ujarku saat kulihat Soomi menaiki sebuah batu untuk melihat sekitar dari sana.

“Aku yakin dia masih ada di sini,” jawabnya keras kepala. Aku pun menghela napas. Bagaimana caranya membuat Soomi untuk menyerah?

Bahuku seperti ada yang menyentuh. Dan aku menghela napas, lalu berbalik. “Kenapa lagi? Dia sudah pasti ti-KYAAAAAA!!!!”

“EH ADA APA?! SENAAAAA!!!”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s