Stereotype #10

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9

Author POV

Soomi tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya dan dia pun tergelincir. Saat dia berpikir kalau kepalanya akan terantuk batu karang dan berdarah, tapi seseorang dengan tiba-tiba menangkap tubuhnya. Gadis itu mengerjap-ngerjap sebentar, lalu mendongak. Dilihatnya seorang pria tampan yang sedang menatapnya dengan datar. Namun itu tidak lama, pria itu membantunya berdiri.

“Kenapa kau ada di sini?”

Kedua mata Soomi berkaca-kaca. Kemudian dia merangsek maju dan memeluk pria itu dengan erat. “Kau kemana saja, huh?!! Kau tahu, aku sangat cemas karena kau tidak mengirimiku pesan sama sekali! Aku mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif! Kenapa kau tidak bilang kalau nenekmu meninggal?!”

Pria tampan yang tak lain Taehyung itu mendorong tubuhnya, mencengkram bahunya erat. Irisnya yang kecokelatan itu menatap lurus tepat pada mata indah Soomi. “Kenapa kau menyusulku kemari? Ini bukan tempat yang bisa seenaknya kau datangi.”

Wajah Soomi sudah banjir air mata. Dia ingin sekali menangis di pundak Taehyung tapi Taehyung seolah menolaknya. Tak ayal hal seremeh itu membuat air matanya makin menganak. “Aku takut terjadi sesuatu padamu … kau membuatku cemas seharian ini….”

“Tidak usah menangis.”

Ucapan dingin itu membuat Soomi tertegun untuk beberapa saat. “Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”

Taehyung melepas cengkramannya, kemudian menarik lengan Soomi untuk pergi dari area pemakaman. “Kuantar pulang.”

Sementara itu di sisi lain.

Sena terduduk setelah dia menjerit histeris. Telapak tangannya tergores sesuatu yang tajam di tanah dan berdarah. Bibirnya mendesis, detik berikutnya air matanya pun tumpah. Seseorang yang tadi menyentuh pundaknya, tak lain tak bukan Yoongi, berlutut dihadapannya, meraih tangannya yang terluka. Pria itu menekan tangannya kuat sekali, dan tangis Sena makin deras. Lalu setelah itu, tangannya dibebat dengan sebuah kain.

Melihat kondisi tangannya yang begitu dan darah yang terus saja menetes ke tanah, Sena mendadak pusing. Dia tahu kalau dengan melihat darah, dia akan pingsan dengan sendirinya. Tapi dia tidak memalingkan pandangan sedetik pun dari sana. Seolah dia melupakan seseorang yang ada dihadapannya, yang sejak tadi dia cemaskan sampai rasanya ingin mati.

Baru dia menoleh ketika Yoongi membantunya berdiri, lalu menggandengnya untuk keluar dari sana. Menyusul Soomi dan Taehyung yang sudah lebih dulu pergi. Langkahnya lambat dan lemah, kepalanya terus saja terasa pusing dan tubuhnya serasa mati rasa. Begitu sampai di halte terdekat. Ia pun terduduk di kursi tunggu, tanpa membiarkan tangannya terlepas dari Yoongi.

Yoongi pun berlutut dihadapannya. “Sedang apa kau di pemakaman?”

Sena menatapnya dalam diam. Berusaha menahan diri untuk tidak menangis lagi. Padahal dadanya terasa sesak sekali ketika melihat wajah itu.

“Aku tanya, sedang apa kau di pemakaman?”

Sena yang tidak kunjung menjawab membuat Yoongi menghela napas. Dia menoleh sekilas ketika melihat sebuah bus berhenti, kemudian menuntun Sena untuk masuk ke dalam bus itu. Soomi dan Taehyung juga menaiki bus yang sama. Mereka berempat duduk di barisan paling belakang.

Taehyung sangat dingin hari itu. Dia tidak bicara apa pun selama perjalanan dan hanya membiarkan Soomi menyandarkan kepala di bahunya sambil mengoceh. Sementara di sisi lain Sena tidak membiarkan tautan tangan mereka terlepas meskipun dia enggan untuk menatap Yoongi. Gadis itu berusaha tidur selama di perjalanan untuk mengurangi rasa sakit di tangan kirinya.

Sena POV

Hari itu aku terbangun dan mendapati diriku di sebuah ruangan yang familiar namun bukan kamarku. Begitu kulihat sekeliling, aku pun tersentak. Aku sedang ada di kamar Yoongi. Kulirik tubuhku di balik selimut, menghela napas. Aku masih memakai seragam lengkap. Huft, bagaimana bisa aku berakhir di sini? Seingatku aku tadi pergi ke pemakaman, bertemu Yoongi lalu pulang dengan bus. Apa mungkin aku sama sekali tidak terbangun ketika busnya berhenti? Argh! Jangan bilang kalau Yoongi menggendongku dari halte sampai ke rumahnya. Sial! Sudah jam berapa ini.

Pukul 3. Oh….

Eh?! Pukul 3?!!!

Yang benar saja! Ini namanya aku menginap.

Aku buru-buru turun dan berlarian keluar dari kamar. Begitu keluar langkahku mendadak berhenti. Semuanya gelap. Ruang tengah, dapur, ruang depan. Aku hampir tidak bisa melihat apa pun. Aku berusaha meraba-raba dinding di dekatku, tapi tidak kunjung kutemukan sakelar lampu. Bergerak ke sisi lain juga tidak ada hasil.

Saat aku akan melangkah maju, kudengar suara pria terbatuk dari sebuah ruangan. Sepertinya berasal dari ruangan Minhyuk. Dengan mengandalkan ingatan aku pun pergi ke ruangan Minhyuk. Nyaris saja aku melukai kakiku lagi. Aku pun bernapas lega ketika kutemukan pintu kamar Minhyuk. Kubuka pelan pintu itu. Cahaya pun menyapaku meski remang. Lalu aku masuk, melangkah pelan-pelan mendekati ranjang. Lebih tepatnya mendekati sosok yang sedang terbatuk-batuk di sana.

“Yoongi-a….”

Dia membuka matanya. Aku pun menyalakan lampu utama agar dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Astaga! Wajahnya pucat sekali, dan … matanya merah.

Dia berusaha duduk. Aku menahannya. “Tidak, tidak. Berbaring saja.”

Dia menurut. Kuletakkan punggung tanganku di dahinya, lagi-lagi panas seperti kemarin. Saat kutarik tanganku, dia mendadak menahannya.

Rasanya aku hampir menangis ketika dia bilang, “Tolong jangan tinggalkan aku”. Ini kedua kalinya dia bicara begitu dengan wajah pucatnya. Aku pun melepaskan genggamannya, lalu berlarian keluar. Aku tidak sempat menyalakan lampu ruang tengah, aku hanya hafal letak sakelar lampu dapur. Sialnya kakiku terantuk sesuatu yang keras di ruang tengah, mungkin sekarang berdarah, tapi aku tidak peduli. Kuambil kantung kompresan dan mengisinya dengan beberapa ice cube. Setelah itu kembali lagi ke kamar Minhyuk, meletakkan kantung kompresan itu di dahi Yoongi.

“Kemana saja kau semalam kemarin, huh?” tanyaku sambil mengobrak-abrik lemari Minhyuk, mencari pakaian yang lebih tebal untuk Yoongi.

“Pemakaman.”

Aku reflek menoleh. “Pemakaman? Malam-malam kau pergi ke sana?”

Dia menjawab dengan kedipan mata.

Kembali kupalingkan wajahku ke lemari pakaian. “Dan kau hanya pergi dengan pakaian seperti itu? Kalau kau ingin mati kedinginan bilang saja! Aku akan membantumu untuk mati jadi aku tidak perlu capek-capek mengkhawatirkanmu!”

Sebuah syal tebal kutemukan, begitu juga dengan sebuah sweater V neck. Pintu lemari kubanting, lantas mendekat ke ranjang dan membantu Yoongi memakai semua itu.

“Sudah tahu paginya kau sakit karena tidak memakai mantel malam sebelumnya, dan kau mengulangi itu lagi sekarang! Kalau kau tidak ingin bertemu dengan ibumu bilang saja! Aku bisa bilang padanya untuk tidak pulang! Kau sudah kelas 2 SMA, Min Yoongi! Kau bukan anak kecil lagi!”

Napasku terengah-engah. Sial, hari ini emosiku sulit sekali dikendalikan. Aku pun menarik kursi meja belajarnya, lalu duduk di samping tempat tidur itu. Mataku tak sengaja melirik kakiku. Dan benar saja, dia berdarah. Tsk, rekor hari ini, aku berdarah dua kali.

“Kau sudah makan?” tanyaku setelah lama terdiam dan tak ada suara apa-apa dari Yoongi.

Dia menggeleng.

“Kapan terakhir kau makan?”

“Kemarin. Di rumahmu.”

Aku pun menghela napas. Yang benar saja, dia seharian tidak makan dan masih bisa bernapas. Sepertinya Dewi Fortuna sangat berpihak padanya sehingga dia bisa bertahan sampai detik ini.

“Aku juga belum makan sejak siang tadi. Tsk, kalau kau tidak sakit, aku sudah pasti menyalahkanmu hari ini. Beruntunglah, sekarang kau sakit.” Aku pun beranjak menuju dapurnya mencari sesuatu yang layak dimakan. Sedikit terkejut saat kulihat kulkasnya, penuh, tidak seperti biasa. Apa mungkin kemarin Nyonya Jeon pulang sambil membawa banyak makanan? Aku bisa menemukan beberapa bungkus kimchi instan di dalamnya.

Segera kuambil beberapa makanan itu lalu menghangatkannya bagi yang perlu. Kemudian kembali ke kamar Minhyuk, menemani Yoongi makan sampai pria itu tertidur pulas. Ketika pagi datang aku menyempatkan diri pulang ke rumah untuk mengambil buku-buku pelajaran hari ini dan sarapan bagi kami. Aku juga meminta eomma menyiapkan satu bekal makan siang. Semua makanan dan obat kusediakan di nakas, sementara aku pergi ke sekolah. Hari ini aku akan sekolah apa pun yang terjadi.

Sepertinya keputusan pergi sekolah hari ini adalah sebuah kesalahan. Tahu begini aku lebih baik menemani Yoongi dan terpaksa absen. Itu jauh lebih baik daripada harus terlibat dalam drama antara Soomi dengan Taehyung.

Masalahnya adalah kemarin Taehyung tidak sekalipun berkirim pesan bahkan berbicara dengan kakakku. Taehyung mendadak dingin, dan itu sangat membuat kakakku emosional. Sejak pagi mood-nya buruk sekali. Tidak biasanya dia melamun saat jam pelajaran. Dan sekarang, saat istirahat aku harus menjadi pihak ketiga yang hadir dalam pertemuan penting mereka. Di lantai paling tinggi gedung sekolah kami, aku duduk di bawah bayang-bayang dinding, memasang telinga baik-baik mendengarkan obrolan mereka.

“…apa susahnya membalas pesanku?”

“Aku khawatir sekali padamu. Setidaknya balas pesanku, agar aku tahu kalau kau baik-baik saja.”

“Kim Taehyung! Jawab aku!!”

“Memangnya kau ini siapa?”

Sontak aku pun menoleh. Kudapati kakakku sama terkejutnya denganku.

“Taehyung-a….”

“Baru berapa hari kita berpacaran? Menurutmu kau bisa seenaknya mengaturku? Tahu apa kau tentangku?”

Si makhluk itu. Berani-beraninya dia bicara begitu pada kakakku.

“Tapi….”

“Memang apa pentingnya peran seorang pacar, huh? Nanti juga kita akan putus dan kau akan pergi ke orang lain. Aku tidak akan bilang putus, tapi aku menunggu kapan kau akan pergi meninggalkanku dengan sendirinya.”

Setelah bicara begitu Taehyung pun pergi dari hadapan Soomi. Otomatis aku pun berdiri.

PLAK!

Taehyung menatapku marah, Soomi melihatku terkejut, dan aku memandang Taehyung kesal.

“Enak sekali bicaranya, Tuan Kim. Kau tahu? Perkataanmu itu sangat menyakiti hati seorang perempuan! Kau sudah membuat kakakku terluka! Aku menyesal sudah memercayaimu, Kim Taehyung.”

Dia mengangkat tangannya. Ingin memukulku. Aku balas menatapnya tajam seolah menantangnya. Tapi dia mengurungkan niatnya. Ia pun mendengus lalu pergi. Aku menghela napas. Membuang pandangan, mengucek mataku yang panas.

“Kau tidak seharusnya memukul Taehyung, Sena.”

Ya, aku tidak seharusnya melayangkan tanganku ke wajahnya. Sekarang aku terlihat menjadi orang jahat yang sesungguhnya karena sudah menampar seseorang yang baru saja berduka. Padahal sekesal-kesalnya aku pada Yoongi, aku tidak pernah menampar wajahnya sekeras itu. Sudah kubilang ‘kan? Aku itu bukan ketua kelas yang baik.

Jadwal Ekonomi, Kim Wonshik seonsaengnim, yang datang ke kelas justru Kihyun. Kedatangannya otomatis membuat kelas yang semula berisik mendadak senyap. Teman-teman memandangnya sebentar, kemudian bersamaan memandangku. Aku membalas tatapan mereka dengan tanda tanya. Dan saat kualihkan pandangan ke depan, kulihat Kihyun sedang dalam perjalanan ke mejaku. Dia tersenyum. Apa-apaan itu?

“Kim seonsaengnim tidak bisa mengisi kelas 2-4. Jadi beliau memintaku memberikan lembaran tugas ini padamu. Tugas berkelompok, dikumpulkan pertemuan selanjutnya.”

Aku menerima lembaran itu setelah berdehem. Kubaca sekilas tulisan di sana, benar, tugas kelompok. Aku pun memandang Kihyun lagi. “Terima kasih.”

Senyumnya makin lebar. “Kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa nanti.” Ia melambai, lalu berbalik dan meninggalkan kelas.

Geng Yeon pun berbondong-bondong mengelilingi mejaku. Aku yakin, mereka datang bukan karena lembaran yang kubawa.

“Dia tersenyum terus padamu. Kalian serius pacaran?” Nayeon berseru. Suaranya keras sekali sampai rasanya gendang telingaku rusak.

“Apa yang sudah kalian lakukan selama ini? Apa kalian … sudah berciuman?”

Wajahku mungkin sudah pucat sekarang. Jungyeon blak-blakan sekali kalau bicara. Yeonhwa dan Seungyeon menatapku dengan alis terangkat.

“Serius kalian sudah pernah berciuman?” seru Yeonhwa. Suaranya sama berisiknya dengan suara Nayeon.

“Wah … kau gadis yang beruntung, ketua kelas. Yoo Kihyun itu, masuk jajaran pria yang punya bibir paling bagus di sekolah ini. Dia berada di urutan nomor 3. Banyak gadis yang ingin berciuman dengannya. Bagaimana? Apakah bibirnya manis?”

Kata-kata Seungyeon barusan sanggup membuatku bergidik. Yang benar saja. Berpacaran saja tidak, boro-boro berciuman. Dan apa katanya tadi? Banyak gadis yang ingin berciuman dengan Kihyun? Oh astaga.

“Kalian ini bicara apa, aku tidak berpacaran dengan Kihyun.”

Dahi mereka sama-sama terlipat.

“Yang benar?” tanya Jungyeon.

“Tapi kenapa kalian bisa sedekat itu?” sambung Yeonhwa.

“Kau jarang sekali dekat seorang pria, ketua kelas.”

“Jangan berbohong pada kami.”

“Memang apa salahnya dekat dengan Kihyun?” ketusku seraya bangkit. “Kembalilah ke bangku masing-masing. Kita akan melakukan pembagian kelompok.”

Mereka berbicara lagi tapi aku sudah duluan melesat ke depan kelas. Menuliskan soal di papan, lalu mengomando teman-temanku untuk membentuk kelompok. Kelompok terdiri dari 4 orang, dan dari tiap-tiap kelompok akan diberi tugas berbeda yang diwajibkan untuk membuat laporan. Laporan itulah yang akan dikumpulkan di pertemuan selanjutnya.

Tidak butuh waktu lama, 20 menit kemudian kelompok Ekonomi pun telah terkumpul. Dari 28 siswa didapatkan 7 kelompok. Dan tahukah kalian? Aku berada di kelompok 3, bersama dengan Soomi, Taehyung dan yang paling mengejutkan adalah Yoongi. Perpaduan ini lagi. Aku pun menghela napas, setelah menuliskan nama kelompok di papan aku kembali ke tempat duduk.

Hari itu waktu berlalu sangat cepat.

Sorenya, aku pulang lebih akhir karena harus meminjam kamus bahasa Mandarin dari perpustakaan. Besok ada mata pelajaran Bahasa Mandarin, dan Lu Han seonsaengnim –guru yang mengajar bahasa Mandarin- bilang kalau besok akan diadakan ulangan harian. Untuk itu aku terpaksa pulang lebih akhir untuk mencari kamus lengkap bahasa Mandarin di perpustakaan. Sebenarnya aku punya kamus sendiri tapi tidak selengkap yang ada di perpustakaan.

Langit tampak keunguan ketika aku keluar dari gerbang sekolah. Kupeluk erat tubuhku, angin berhembus kencang sekali. Kakiku rasanya nyaris beku. Kulihat sekeliling yang mulai sepi. Huft, kenapa sekolah ini harus berdiri di kawasan yang tidak padat penduduk? Tsk, mengesalkan sekali.

Aku pun mempercepat langkah. Aku bisa merasa seseorang sedang berjalan di belakangku, mengikutiku. Tsk, halte sudah tidak jauh tapi kenapa aku belum sampai-sampai juga? Mungkin karena aku membawa kamus tebal jadi langkahku terasa sangat lambat. Aku menghela napas ketika kudapati halte tinggal selangkah lagi, namun….

SET!

DEG!

“Hei, aku menunggumu sejak tadi.”

Mataku membelalak. Dia adalah seorang pria bertubuh tinggi kurus, bertopi hitam, bermasker hitam … menyeringai….

“Toloooooong!! Hmph!”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s