Freak Hwarang #13

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter: prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 ||Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8||Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11 || Chapter 12

Saat pangeran lain sibuk dengan tugas masing-masing yaitu memberi makan hewan, Jungkook justru bersantai di dalam pondok sambil menemani Sena memasak. Dia membawa serta Bunny-nya ke dalam pondok untuk memberinya makan sekalian bermain-main.

Telur mata sapi untuk delapan orang akhirnya matang. Sena pun berjalan ke konter untuk menghidangkan piring-piring di sana. Tak sengaja dia melihat Jungkook yang sedang duduk di lantai sambil membelai bulu Bunny.

Sena tersenyum. “Jadi kau lebih tertarik pada Bunny daripada Tori?”

Jungkook mendongak begitu sadar kalau Sena berbicara padanya. “Aku suka kedua-duanya.”

“Kau tidak punya kelinci di istana?”

Ani. Pangeran tidak diperbolehkan memiliki hewan peliharaan.”

“Oh ya?” Alis Sena terangkat. Ternyata larangan di istana banyak juga untuk para pangeran. “Bahkan anjing pun tidak boleh?”

“Eum. Anjing hanya boleh dipelihara pasukan keamanan untuk menjaga istana. Tidak ada anjing lucu seperti yang kau punya itu, hanya anjing-anjing berwarna gelap saja yang suka berkeliaran bersama pasukan keamanan.”

Sena menutup piring-piring dengan tudung saji, lalu menahannya dengan batu. Ia pun menghampiri Jungkook, duduk di sampingnya.

“Ternyata banyak juga larangan sebagai pangeran.”

“Memang. Menjadi pangeran sebenarnya tidak enak, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdir. Aku lahir dari istri ketujuh raja dan aku pun dinobatkan sebagai pangeran.”

“Istri ketujuh?” Sena terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, “itu artinya ada tujuh ratu di istana?”

Ani. Di kerajaan hanya ada satu ratu dan satu raja. Dan saat ini jabatan ratu masih dipegang oleh nenek kami, ibu dari raja.”

“Kenapa?” Dahi Sena mengernyit. “Bukankah kalian semua sudah menjadi pangeran?”

“Bukan masalah itu. Masalahnya adalah terletak padaku. Penentuan siapa ratu baru akan dimulai setelah aku berusia 20 tahun. Dan karena aku sudah 20, aku dan yang lainnya harus saling berkompetisi untuk mendapatkan gelar ‘penerus raja’ agar salah satu dari ibu kami bisa menjadi pengganti ratu yang lama. Dan inilah kompetisinya….” Jungkook menoleh, menatap Sena datar. “Yaitu terdampar di sini.”

“Aaah … begitu. Tapi kompetisi macam apa sampai kalian harus ke sini? Apa kalian harus belajar bertani, beternak, dan lain sebagainya hanya untuk mendapat gelar ‘penerus raja’?”

Jungkook menggendikkan bahu. Dia mengambil potongan wortel lain saat wortel yang dimakan Bunny sudah habis. “Sejin hanya bilang kalau kami akan dikirim ke pedesaan untuk bertahan hidup, itu saja. Dia tidak mengatakan yang lain.”

“Wah … dan itu rumahku? Jinjja, kupikir kalian terdampar kesini karena diculik UFO, ternyata kalian memang sengaja dibawa kemari. Sial, harusnya aku tahu dari box baju yang datang bersama kalian. Tch, kenapa mereka tidak meminta izinku dulu? Tahu begini aku tidak akan berbaik hati pada kalian.”

Jungkook langsung menoleh. “Memangnya kau pernah berbaik hati pada kami?”

“Kau pura-pura tidak tahu? Kalau aku tidak mencoba berbaik hati padamu, sudah kugorok leher kelinci ini dan menjadikannya sate untuk kumakan sendiri.”

Otomatis Jungkook memeluk Bunny-nya. “Sudah kubilang jangan sakiti dia.”

“Hah … nanti aku akan minta ganti rugi pada raja untuk guciku yang sudah dipecahkan oleh Namjoon dan piringku yang sudah dipecahkan mochi.”

“Tumben memanggil nama Namjoon hyung?”

“Suka-sukalah. Aku rajanya di sini.” Sena pun bangkit, beranjak menuju pintu belakang. “Oppadeul! Ayo makan!!”

Satu minggu telah berlalu, tahu-tahu pedagang Ro sudah datang lagi ke pondok Sena. Kali ini dia memakai topi koboi. Harus para pangeran akui, kalau topi koboi itu menambah ketampanan seorang Ro.

Ketujuh pangeran hanya duduk-duduk sambil berjemur bersama laundry mereka saat Sena berlarian lalu memeluk pria bernama Ro itu. Jimin mendengus, entahlah, dia merasa tidak suka saja. Dia benci melihat Sena yang justru tertawa saat dipeluk oleh pria aneh itu.

Yoongi memutuskan membaringkan tubuhnya di atas rumput setelah bertahan beberapa detik untuk melihat adegan barusan. Mungkin kulitnya akan terbakar karena terpapar sinar matahari langsung. Jumlah melaninnya sama sedikitnya dengan jumlah melanin kulit Sena, jadi akan sangat berbahaya kalau dia terpapar sinar matahari untuk waktu yang lama. Tapi sepertinya dia tidak peduli.

Namjoon sendiri tampaknya sedang berusaha berperang dengan gejolak perasaannya. Sh*t, kenapa juga dia harus merasa sakit hati melihat mereka? Memang apa haknya untuk merasa sakit hati?

Jungkook dan Seokjin saling merakul leher satu sama lain, persis seperti saudara kembar.

“Dia setahun lebih muda dariku, Hyung….”

“Dia enam tahun lebih muda dariku, Kook-a….”

“Aku juga ingin dipeluk seperti itu….”

“Aku juga ingin memeluk seperti itu….”

“Bagaimana kalau kita berpelukan saja?”

Shireo, aku masih pria normal.”

“…”

“Bagaimana kalau kita berpacaran?”

Shireo, aku juga masih pria normal.”

“Kalau begitu mari kita menangis bersama.”

Hoseok di sebelah mereka hanya menyeringai. Dasar kekanak-kanakkan. Ia pun kembali menoleh pada sepasang manusia di sana. Tch, sepertinya mereka tidak sadar kalau mereka hidup di dunia yang dihuni oleh milyaran orang. Si topi koboi itu … tch, kenapa Sena harus mau dengan orang seperti itu? Tidak adakah pria lain yang jauh lebih baik?

Di tengah-tengah suasana damai itu, tahu-tahu sebuah batu kecil melayang yang langsung mengenai pelipis pedagang Ro. Pelipis pria bertopi koboi itu berdarah. Semuanya langsung menoleh ke asal datangnya batu. Taehyung sedang berdiri sambil memperlihatkan seringaian nakalnya.

Sorry. Aku tidak lihat kalau di situ ada kau. Kupikir si jabrik sedang berpelukan dengan makhluk tak kasat mata, maka dari itu aku melempar batu untuk memastikan penglihatanku.”

Taehyung sudah gila, pikir para pangeran saat itu.

Sena yang melihat darah mulai mengalir turun dari pelipis pedagang Ro pun tersulut emosi. Dia mengambil batu lain yang lebih besar lalu melemparnya pada Taehyung. Beruntung Taehyung bisa berkelit.

“Apa yang sudah kau lakukan padanya?! Kau ingin kulempari batu juga, ha?!”

Seringaian Taehyung hilang, berganti dengan wajahnya yang dingin. “Silahkan lempar saja. Siapa kau berani melempari pangeran dengan batu.”

“Aku tidak peduli mau kau pangeran atau bukan! Kau sudah menyakiti pedagang Ro!!” Seperti kesetanan, Sena kembali melempari Taehyung dengan batu-batu di dekat kakinya. Beruntung Taehyung memiliki mata setajam elang sehingga dia bisa berkelit dari batu-batu itu. Ah tidak, kemampuan menghindarnya tidak begitu sempurna. Beberapa batu sempat mengenai tubuhnya, dan membuat beberapa luka di tubuhnya. Tapi dia seolah tidak peduli. Itu luka kecil, tidak akan menjadi masalah.

Sementara itu pedagang Ro mencoba menahan Sena. Sedikit susah memang, namun akhirnya dia berhasil. Sena pun melepaskan dirinya dengan paksa, kembali menatap Taehyung tajam.

“Awas saja kau nanti. Aku tidak akan memaafkanmu semudah itu, Kim Taehyung!”

Sena pun pergi bersama pedagang Ro memasuki gudang penyimpanan. Sementara itu, Taehyung mengusap wajahnya frustasi, meringis pelan ketika tangannya tak sengaja menyentuh pipinya yang berdarah karena terkena lemparan batu.

Ia berteriak keras saking kesalnya. Tahu-tahu Yoongi bangkit dari tidurnya lalu menendang tulang kering Taehyung sampai pangeran nomor 6 itu terjatuh di tanah. Saat tatapan mereka saling bertemu, Yoongi menatapnya dingin.

“Kau tidak seharusnya melakukan itu, bodoh.”

“Bodoh itu kalian yang hanya diam saja!”

Yoongi pun menendang punggungnya sampai Taehyung benar-benar terjerembab. “Kau ini pangeran, pantaskah kau melakukan itu? Kalau pihak keamanan kerajaan tahu kau sudah melukai seseorang, kau akan dihukum penjara. Parahnya, jabatan pangeranmu akan dilepas paksa.”

Taehyung menatap Yoongi penuh permusuhan. Mereka lahir dan besar di tempat yang sama sebelum pindah ke istana, jadi wajar kalau Yoongi memarahinya karena hal ini. Ia tidak bisa melawan Yoongi. Yoongi itu masih kakaknya. Dan itulah yang membuat dia makin kesal.

“Mau gadis itu berpelukan dengan siapa itu bukan urusanmu. Kau bukan siapa-siapanya, bahkan meskipun kau menyukainya kau tidak berhak melakukan itu.” Itulah kalimat terakhir yang keluar dari bibir Yoongi sebelum melenggang masuk ke dalam pondok. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya di tempat yang tidak banyak sinar matahari. Sekalian mengistirahatkan pikirannya yang sejak tadi terasa penat.

Sementara itu di gudang penyimpanan, Sena disibukkan dengan mengobati luka di pelipis pedagang Ro. Entah kebetulan atau bagaimana, akhir-akhir ini dia sangat disibukkan oleh para pasien. Mulai dari Yoongi dan Taehyung yang seminggu lalu sempat berkelahi, tangan Jimin yang terkena pecahan kaca, tangan Namjoon yang terkena pisau dan sekarang pedagang Ro. Ingin sekali dia menangis melihat darah segar yang mengucur dari orang yang disayanginya selama ini. Sial, dia harus menghukum Taehyung setelah ini.

“Ngomong-ngomong, ternyata kau ini mengerikan sekali kalau sudah marah.”

Sena menempelkan plester yang dibawa pedagang Ro tepat di atas luka. “Itu karena dia sudah membuatmu seperti ini. Kau sudah datang jauh-jauh, tapi dia justru membuatmu terluka.”

Pedagang Ro tersenyum. Dia menyampirkan sehelai rambut Sena ke belakang telinga. “Kau sangat menghawatirkanku?”

“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak khawatir melihatmu seperti ini?” jawab Sena sengit dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

Pria itu menariknya ke dalam pelukan. Saat itu juga tangisnya pecah. Dia menangis begitu keras sampai tidak peduli kalau air matanya membasahi baju pria itu. Ro menepuk punggungnya lembut. Sambil berbisik kalau dia akan baik-baik saja.

Begitu tangisnya reda, mereka pun saling berpandangan untuk waktu yang lama. Semakin lama wajah Ro makin dekat padanya … dekat … dekat dan … Sena cukup terkejut dengan sentuhan antara bibir mereka. Tapi keterkejutannya tidak lama karena setelah itu dia menikmatinya. Pikirannya melayang entah kemana. Tahu-tahu lehernya seperti ada yang menggigit dan dadanya….

Pikirannya pun kembali. Dia reflek mendorong tubuh Ro dan berdiri. Mereka berdua saling berpandangan lagi, namun kini perasaannya berbeda. Dia mundur selangkah ketika Ro mengulurkan tangan. Ro tampaknya mengetahui ekspresi takutnya.

Wae? Bukankah kau juga menginginkan ini? Kemarilah, kita lanjutkan.”

“Seharusnya kau ini berterima kasih padaku.”

“Dia itu aneh. Bagaimana bisa kau memeluk orang sepertinya?!”

“Tentu saja salah! Dia itu namja! Dan kau adalah yeoja! Bagaimana kalau dia berbuat yang tidak-tidak padamu?!”

Suara Jimin mendadak berputar di kepalanya. Dia menggeleng pelan, berusaha mengenyahkan suara Jimin. Langkahnya terus mundur, diikuti oleh Ro yang kini mulai mendekat.

“Sena … aku tahu kau menyukaiku. Dan aku juga menyukaimu.”

Sempat Sena terenyuh mendengarnya. Namun dia tetap bergerak mundur, mendadak dia ngeri melihat senyum di wajah orang sudah merawatnya saat dia masih kecil. Orang itu bukan Ro yang dikenalnya selama ini.

“Sekarang kau sudah dewasa. Tidak salah ‘kan kalau kita melakukannya sekarang?”

Sena menggeleng kuat. Begitu dia melihat pintu gudang penyimpanan yang terbuka sedikit, dia pun segera berlari ke sana, berharap keluar dengan cepat. Tapi Ro juga cepat, tangannya ditangkap begitu saja sampai membuatnya tertarik ke belakang.

“Mau kemana? Kita masih punya urusan yang belum selesai. Kau bisa keluar setelah urusan kita selesai … sayang….”

“LEPASKAN!” Menggunakan kekuatan tersembunyinya, Sena pun berhasil menjatuhkan Ro dalam sekali dorong. Dia menggunakan kesempatan yang ada untuk lari keluar.

Di luar, beberapa pangeran tampak sedang bermain-main di dekat laundry mereka, beberapa yang lain sedang ada di pondok. Mereka sama-sama terheran melihat Sena yang berlarian seperti dikejar alien. Yoongi yang sedang berbaring di kamar sampai terbangun gara-gara suara bantingan pintu kamar Sena. Ada apa lagi ini?

Sementara itu, pedagang Ro keluar dari gudang penyimpanan tak lama kemudian. Dia sama sekali tidak menghiraukan para pangeran yang menatapnya tajam. Dia pergi begitu saja setelah menurunkan barang-barang yang dibawanya. Mobilnya pun meninggalkan pondok tak lama kemudian.

“Suasana apa ini?” gumam Hoseok sepeninggal mobil itu dari wilayah kekuasaan Sena.

“Sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka,” sahut Jungkook sembari memandang Seokjin yang sedang memindah batu ke wilayahnya.

“Minggu depan mereka mungkin sudah berbaikan lagi,” balas Seokjin cuek.

Perasaan Hoseok tidak sesederhana kata-kata Seokjin. Dia masih menatap pintu gerbang pondok Sena yang sudah terkunci rapat, berusaha menepis pikiran-pikiran anehnya.

Sementara itu di dalam pondok sendiri, Namjoon sedang ada di depan pintu kamar Sena, berdiri dengan penuh keraguan. Dia kembali menoleh pada Jimin yang tadi memaksanya untuk mencoba bicara pada Sena. Seharusnya dia menolak, toh dia masih hyung dan punya kuasa penuh atas Jimin. Tapi karena hubungan antara Jimin dan Sena tidak begitu baik, akhirnya dia maju untuk berbicara sendiri dengan gadis itu.

Dok dok dok.

Tidak ada sahutan dari dalam. Ia pun mengetuk lagi. Masih tidak ada jawaban. Dia menoleh pada Jimin, dan Jimin memberinya isyarat untuk mencoba bicara.

Dengan ragu, ia pun mendekatkan bibirnya pada pintu itu dan mulai membuka mulut. “Hei, ini aku, Namjoon.”

Lagi-lagi hanya terdengar suara angin dari jendela.

“Bisa kau buka pintunya? Aku ingin bicara.”

Sekian lama menunggu dan tetap tak ada jawaban, Namjoon pun memilih untuk menyerah. Tapi begitu dia berbalik, pintu yang semula tertutup rapat itu mendadak terbuka.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

Jimin langsung bersembunyi di balik tirai menuju dapur, sementara Namjoon berbalik dan menatap Sena dengan alis terangkat. “Gwaenchana? Kau habis menangis?”

Sena langsung membuang pandangan. “Tidak. Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur. Wae?”

Kentara sekali kalau Sena sedang berbohong. “Ani, kalau begitu beristirahatlah.”

Di saat Namjoon sudah berbalik dan akan pergi ke pintu belakang, Sena tiba-tiba menangkap lengannya, otomatis membuatnya berhenti.

Keduanya tidak saling bicara. Sena hanya terdiam sambil menatap kulit mereka yang bersentuhan, begitu juga Namjoon yang menunggu Sena bicara. Namun sampai beberapa puluh detik ke depan tidak ada suara sama sekali dari mereka. Jimin yang sejak tadi menonton dari balik tirai, mengerutkan dahi heran. Suasana apa ini?

“Namjoon-a….”

TBC

Advertisements

3 Replies to “Freak Hwarang #13”

  1. Seru thor,jd pedagang ro itu merawat sena dr kecil..apa yg terjadi antara sena dan namjoom,jgn2 mereka berpelukan…sebenarnya para pangeran sdh jatuh cinta sm.sena atau?????ditunggu postingan selanjutnya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s