Stereotype #11

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10

Author POV

Kihyun keluar lebih akhir dari yang lain hari itu. Kelasnya sedang ada jadwal renang dan dia sengaja berlama-lama di kolam renang untuk mengobati pikirannya yang sedang buntu. Suasana nyaris sepi ketika dia berjalan keluar gerbang. Lampu jalan tampak sudah dinyalakan dan seolah menyinari jalannya. Ia pun memasang earphone, ada lagu yang sangat menarik perhatiannya hari ini, lagu dari boyband BTS yang berjudul Dope. Baru dirilis beberapa hari lalu. Beberapa teman perempuannya yang penggemar mereka bilang kalau lagu itu keren. Jadi dia pun penasaran dan berniat mendengarkannya hari ini.

Tapi, baru saja dia menyalakan lagu itu, suara teriakan seorang perempuan langsung membuatnya mendongak.

Dilihatnya seorang gadis yang berseragam sama sepertinya sedang berusaha melepaskan diri dari cekalan seorang pria bertubuh tinggi kurus yang berpakaian serba hitam. Tubuhnya menegang begitu dilihatnya tas gadis itu.

“Sena….”

Ia buru-buru bersembunyi di balik pohon begitu pria itu menoleh ke belakang. Beruntunglah, tidak ada lampu di dekat pohon ini jadi kehadirannya tidak akan tampak. Ia pun mengintip apa yang sedang terjadi. Pria itu membawa Sena pergi dari sana. Lebih tepatnya memasuki sebuah mobil yang terparkir. Kihyun buru-buru mengeluarkan ponselnya dan memotret nomor plat mobil itu. Tapi sial, karena malam hari foto yang diambilnya tidak terlihat jelas. Rahangnya mengeras begitu dilihatnya mobil itu berjalan menjauh. Ia pun segera berlari, berniat mengejar mobil itu tapi sayangnya dia terlambat.

“Argh! Bodoh! Kenapa aku tidak menyerangnya saja tadi?! Sh*t!

Din Din!

Ia pun reflek menoleh. Dilihatnya mobilnya sudah berhenti di depan mata. Hoseok, sopirnya, menengok dari balik kemudi. “Ayo masuk, Tuan.”

Tanpa pikir panjang dia pun masuk ke kursi sebelah kursi kemudi. “Ikuti mobil itu.”

“Siap,” balas Hoseok tegas dan mobil itu pun melaju membelah jalanan kota Seoul. Selama mobil itu berjalan, Kihyun sibuk sendiri bertransformasi dari Kihyun si ketua kelas menjadi Kihyun si anak berandal. Dia melempar tas, blazer, kemeja seragam, celana seragam dan kacamata ke kursi belakang, dan hanya menyisakan setelan kaos lengan pendek hitam bergambar tengkorak dan skinny jeans pendek selutut. Dia punya banyak sekali kaos hitam bergambar tengkorak, dan semuanya memiliki desain yang nyaris sama, jadi kesannya dia selalu memakai satu baju yang sama setiap harinya. Sementara skinny jeans itu, dia memakainya sebelum celana kain seragam, sehingga dia tidak perlu berhenti di toilet umum hanya untuk mengganti pakaiannya. Penampilannya belum lengkap jika belum ditambah dengan messy hair.

DUG!

“Aw! Yaa! Tidak bisakah kau sedikit lebih berhati-hati?!” omelnya setelah kepalanya terantuk dashboard. Dia sedang menyimpulkan tali sneakers-nya ketika mobil berbelok tajam. Hoseok hanya nyengir mendengar omelan majikannya.

Mobil yang membawa Sena pergi sangat jauh dari sekolah. Kihyun mengernyit ketika dilihatnya mobil itu masuk ke area sepi penduduk. Namun dia tidak bicara apa-apa. Sampai akhirnya mobil itu berbelok memasuki pekarangan luas dari sebuah bangunan yang tampak sangat tua. Kihyun meminta Hoseok untuk menghentikan mobil sebelum masuk pekarangan.

Mobil itu berhenti, seorang pria tinggi kurus keluar dari kursi kemudi, lalu mengeluarkan Sena yang sudah terikat kedua tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam bangunan tua itu. Kihyun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Pria itu, pria yang sama yang dulu berdiri di halte.

“Sial.” Kihyun pun segera keluar. Tapi Hoseok mendadak menahannya.

“Kau yakin pergi sendirian?”

Kihyun pun menampik kasar tangan Hoseok sambil berujar, “Kau tetaplah di sini. Kalau aku tidak kembali dalam 20 menit, itu artinya kau harus memanggil polisi.”

“Tapi Tuan- Tuan!!”

Kihyun sudah duluan berlari memasuki pekarangan itu. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk segera memukul wajah orang yang berani menculik Sena seperti itu. Tsk, ternyata penculikkan tidak hanya terjadi di drama, di kehidupan nyata juga ternyata masih ada hal-hal pengecut seperti penculikan.

Dia langsung mendobrak pintu masuk. Suasana di dalam gelap sekali dan kumuh. Tapi dia seolah tidak memikirkan semua itu. Langsung dikeluarkannya sebuah kain dari saku jeans-nya, lalu menggunakannya untuk membebat tangan kanannya. Dia siap bertarung.

“Toloooong!! Tolooooong!”

“DIAM!”

Rahangnya mengeras. Itu suara Sena. Dengan instingnya ia pun mengikuti suara itu, dan sampailah dia di depan sebuah ruangan, yang menampilkan sedikit cahaya dari pintu yang sedikit terbuka.

Ia pun mengintip apa yang sedang terjadi di dalamnya. Sena sedang didudukkan di sebuah kursi, sementara pergelangan kakinya diikat dengan sebuah tali ke kaki kursi itu. Yang paling menyebalkan di matanya, pria itu dengan seenaknya menampar Sena. Oh sh*t! Tapi kakinya tidak segera beranjak. Dia tetap berdiri di sana memantau situasi, menunggu waktu yang tepat untuk masuk.

Di sisi lain.

Sena berusaha untuk melepaskan diri tapi sialnya dia justru kena tampar. Pipinya terasa gatal, sakit mulai menjalar di seluruh wajahnya yang kini sudah banjir air mata. Sementara itu pria yang membawanya kemari, sedang sibuk mengikat perutnya dengan tali tambang.

Dia takut sekali berada di sini. Pria itu, tak lain tak bukan adalah pria yang pernah dilihatnya di halte bersama Kihyun. Feeling-nya waktu itu benar. Orang ini bukanlah orang baik-baik. Ia meringis ketika tali itu menekan perutnya.

“Sekarang kau sudah makin besar ya, padahal baru setahun berlalu.”

Sena membelalak. Apa katanya? Setahun? Apa mungkin….

Pria itu pun kembali ke hadapannya. Berdiri sejenak, kemudian berjongkok. Di saat pria itu melepas topi dan maskernya, di saat itulah Sena makin shock.

“Hai, sudah lama tidak bertemu. Kau masih ingat aku?”

Bukannya takut, seringaian pria itu justru memantik amarah di dada Sena. “KAU!!”

Orang itu menyeringai lebar. “Jadi kau masih ingat aku, ah … aku tersanjung. Tapi ayolah, meskipun kau mengingatku, kau tetap harus berbicara sopan padaku. Aku ini, seniormu.”

Tanpa bisa ditahan, Sena pun menyemburkan ludahnya ke wajah orang itu. “Dasar bajingan!! Kau sudah membunuh Minhyuk!!”

Pria itu menyeka wajahnya dengan kain lengan. “Sial, aku sudah berbaik hati padamu tapi kau malah membuatku kesal.”

PLAK!

“Sebenarnya aku tidak suka memukul perempuan, tapi karena kau berani meludahiku, aku harus memukulmu.”

“Berhenti bicara dan lepaskan aku,” ujar Sena dengan nada datar.

Pria yang tak lain tak bukan adalah Chae Hyungwon itu, tersenyum sinis. Berani juga Sena bicara begitu padanya. “Melepaskanmu? Maaf saja. Susah payah aku membawamu kemari dan kau memintaku untuk melepaskanmu? Hahaha, gertakanmu lucu sekali, nona.”

“Kau ini ternyata banyak bicara ya?”

Raut wajah Hyungwon berubah. “Apa?”

Sena pun mendongak, menatap nyalang pria itu tanpa sedikitpun rasa takut. “Kau ini … pria yang cerewet. Mulutmu itu seperti wanita. Tidak usah banyak bicara, segera lepaskan aku atau bunuh aku sekalian!”

PLAK! PLAK!

Oh my … bibirmu berdarah, maaf.”

Rasa pusing mulai menyerang Sena. Tapi dia berusaha mengabaikan rasa sakitnya. Tidak sekarang, dia tidak boleh lemah di depan pria itu.

“Sudah kubilang ‘kan, aku itu terpaksa memukulmu. Kalau kau berbicara sedikit lebih baik padaku, aku tidak akan memukulmu. Toh … aku membawamu kemari bukan untuk membunuhmu.”

“Lalu apa maumu?”

Pria itu berjongkok lagi, menyentuh dagu Sena agar gadis itu mau menatapnya. “Dilihat dari dekat … aku baru tahu kalau ternyata kau cantik sekali.”

Sena berusaha menyingkirkan tangan pria itu tapi gagal. Hyungwon justru makin menekan dagunya.

“Pantas Minhyuk menyukaimu.” Hyungwon terkekeh. Lalu menghempaskan dagunya hingga ia menoleh. “Tapi sayang sekali, mulutmu ternyata beracun.”

Pria itu beranjak, kemudian berbaring di sebuah sofa. Ia merentangkan kedua lengannya sambil menguap lebar. “Sepertinya kau salah paham. Bukan aku yang membunuh Minhyuk. Yoongi mengenali wajahku saat hari itu terjadi. Dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau Minhyuk … bunuh diri.”

“Kau pikir aku akan percaya pada ucapanmu?”

“Itu terserah. Kalau kau tidak percaya, tanya saja pada Yoongi. Kau ‘kan sekarang sering bersamanya. Setelah kakaknya, kau menggoda adiknya. Haha, hargamu berapa sebenarnya? Murah sekali.”

Kursi itu hampir jungkir ke depan kalau saja Sena tidak menahan diri. Wajahnya merah padam, dia ingin sekali memukul wajah pria itu tapi sekarang yang dia bisa lakukan hanyalah mengumpat. Hyungwon kali ini tidak marah. Dia justru mendengarkan dengan syahdu seperti sedang mendengarkan Lullaby.

Dan saat Hyungwon lengah, Kihyun merangsek masuk lalu menarik kerah pria itu dan BUG! Hyungwon terhempas ke lantai. Pukulan itu keras sekali sehingga tidak aneh kalau ujung bibir Hyungwon robek. Sena hanya diam di tempat. Terlalu terkejut dengan kehadiran Kihyun yang tiba-tiba.

“Brengsek satu ini. Jadi kau orang yang sudah membunuh Minhyuk hyung? Cih, kupikir setidaknya kau berotot tapi tubuhmu bahkan jauh lebih kurus dariku. Dan satu lagi, kau itu terlalu bodoh sebagai seorang penculik. Berapa umurmu, huh? Kalau mau menculik seseorang, lakukan yang benar!”

Hyungwon langsung bangkit dan perkelahian pun akhirnya terjadi. Mereka sangat tidak seimbang. Hyungwon yang tinggi kurus harus melawan Kihyun yang sedikit lebih pendek tapi berotot. Meskipun Hyungwon tinggi, dialah yang paling banyak dirugikan. Kihyun cukup memukul titik-titik fatal, dan Hyungwon pun terjatuh. Kihyun menginjak perut pria itu sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

“Itu balasan untukmu, karena sudah memukul Sena. Aku sebenarnya ingin sekali membunuhmu untuk membalaskan penderitaan Min Yoongi karena kau sudah membunuh kakaknya. Tapi, aku bukan seorang pembunuh sepertimu.” Setelah satu tendangan, ia pun berbalik untuk melepaskan ikatan di tubuh Sena.

“Jangan pernah lagi pulang terlambat sendirian. Kau tidak akan tahu ada berapa banyak orang brengsek di dunia ini yang berniat menculikmu,” ujarnya sambil melempar tali yang sudah terlepas sembarangan.

Begitu semuanya terlepas, Sena langsung berdiri sejauh-jauhnya dari Hyungwon. Entah kenapa, saat ini dia tidak lagi merasa pusing meski sudah melihat darah. Yang ada dia sangat marah sekali pada Hyungwon. Ingin sekali dia membunuh pria itu, tapi kondisi sedang tidak baik. Hyungwon sanggup bangkit lagi meskipun sudah babak belur. Yang paling mengejutkan, pria itu mengeluarkan sebuah pisau dari dalam bajunya.

“Cih, kau sudah sangat putus asa sekali huh? Oke, kemarilah. Aku akan melawanmu dengan tangan kosong.”

Sena menjerit saat Hyungwon mengayunkan pisau secara tiba-tiba ke wajah Kihyun. Beruntung Kihyun bisa berkelit dengan cepat. Tapi dia juga harus bergerak lebih cepat lagi, karena Hyungwon tidak memberinya ruang bernapas untuk sedetik saja. Perkelahian yang mengerikan itu membuat Sena tidak bisa melakukan apa-apa. Dia terlalu jauh dari benda-benda yang bisa digunakannya untuk memukul Hyungwon. Keluar sekarang untuk mencari pertolongan juga bukanlah hal yang mudah, dia tidak bisa membiarkan Kihyun sendirian di sini. Setelah Minhyuk, dia tidak mau lagi kehilangan seseorang karena Hyungwon.

Maka, di saat dilihatnya Kihyun mulai kelelahan, ia pun bergerak maju dan BRUG! Ia berhasil mendorong Hyungwon sampai pria itu terjatuh. Tapi itu tidak bertahan lama, Hyungwon bangkit dengan cepat dan mengayunkan pisau padanya.

“Sena awaaaas!!!!”

“…”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s