Stereotype #12

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter: #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11

Author POV

Malam ini adalah malam yang terpanjang dalam hidup Sena. Perut Kihyun tertebas pisau, hanya demi menyelamatkannya. Polisi sudah mengepung tempat itu saat pisau itu ditarik kembali. Beberapa dari mereka termasuk Hoseok langsung memasukkan Kihyun ke mobil dan membawanya pergi ke rumah sakit terdekat. Sena shock berat, tapi dia ikut serta ke rumah sakit. Dia duduk di kursi belakang, membiarkan pangkuannya menjadi penahan kepala Kihyun.

Darah sudah membasahi tempat duduk dan kaos Kihyun. Sena hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tidak sadar, kalau bibirnya juga ikut berdarah karena dia menggigitnya terlalu kuat. Dia baru menyadari itu ketika mereka sampai di rumah sakit. Hoseok memberitahunya. Dan tanpa hitungan menit, dia pun pingsan.

Matanya menyipit saat ia terbangun di sebuah ruangan yang silau. Sena paling tidak suka tidur dengan cahaya terang. Ia pun segera melindungi matanya dengan tangan kiri. Tapi detik itu dia sadar, kalau tangannya sedang tersambung ke sebuah kabel transparan. Sena pun menoleh dan terkejut melihat kantung infuse di sisi kiri ranjangnya. Sejak kapan aku di sini?

Seorang suster menyibak tirai dan membelalak ketika pandangan mereka bertemu. Detik berikutnya suster itu tersenyum, lalu mendekat padanya, berdiri di sisi kiri ranjangnya. “Kau sudah sadar, Nona? Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?”

Sena pun bergerak duduk. “Kenapa saya ada di sini?”

“Oh? Kau tidak ingat? Beberapa jam lalu kau pingsan, dan kami langsung membaringkanmu di sini. Kau pasti sangat lelah.”

Beberapa jam lalu, ya, dia sudah tidak sadarkan diri selama itu. Tapi dia sama sekali tidak merasa sakit, jantungnya normal, napasnya teratur, matanya juga tidak ada gangguan. Hm … dia pun baru ingat kalau tadi dia jatuh pingsan karena bibirnya yang berdarah. Lalu ia pun menyentuh bibirnya untuk memastikan.

“Shh….” Masih sakit, tapi sudah tidak berdarah.

Ia pun melirik suster yang masih berdiri di sisi kiri ranjangnya, memantau kantung infus. “Berapa jam saya pingsan?”

Suster itu menoleh. “Hm … sekitar tiga jam? Ya, kurang lebih selama itu.”

Sena membelalak. “Lalu … lalu di mana Kihyun?”

“Kihyun?” Dahi suster itu berkerut sebentar. “Ah … temanmu yang terkena pisau itu? Dia tadi menjalani operasi saat kau pingsan, dan sekarang dia sudah dipindahkan ke ruang rawat.”

“Operasi?! Apakah operasinya berhasil? Di mana dia sekarang?”

Suster itu berjalan memutari ranjang Sena lalu menyibakkan tirai di sisi kanan ranjangnya. Di sanalah Kihyun berada. Berbaring tak sadarkan diri di ranjang itu, dengan infus yang tertancap di tangan kirinya dan masker oksigen yang menutupi hidung serta mulutnya. Sementara di sisi kanan ranjang itu, terdapat elektrokardiograf yang berbunyi lembut meramaikan suasana.

“Pasien Yoo baru saja diberi obat tidur, jadi mungkin dia akan bangun beberapa jam lagi. Sejak operasinya selesai dia terus saja bangun, dan menolak untuk tidur. Dia sangat menghawatirkanmu, Nona. Sampai-sampai satu suntikan obat bius tidak cukup untuknya. Beruntungnya setelah dipaksa oleh temannya, dia akhirnya mau minum obat tidur.”

“Temannya?”

“Kau sudah sadar?”

Sena POV

Suara seorang pria yang familiar pun terdengar dari sudut lain tempat tidurku. Begitu aku menoleh, aku benar-benar tidak bisa menutupi keterkejutanku. Yoongi. Sedang apa dia di sini?

“Nah, inilah temannya. Sepertinya kalian juga saling kenal, ya?” ujar suster itu sembari menutup kembali tirai yang menjadi pembatas antara tempatku dengan Kihyun.

Yoongi tersenyum tipis pada suster muda itu. “Kami bersekolah di SMA yang sama.”

“Oh pantas.” Suster itu tertawa lirih. “Ya sudah kalau begitu. Saya pamit dulu. Selamat malam.”

Aku dan Yoongi sama-sama membungkuk, lalu melihat suster itu sampai punggungnya menghilang di balik pintu.

“Bagaimana kau bisa di sini?” tanyaku to the point begitu terdengar pintu sudah ditutup dari luar.

Yoongi pun menoleh lantas mendekat dan duduk di tepi ranjangku. “Hoseok hyung memberitahuku kalau kau dan Kihyun ada di sini.”

“Dan kau langsung datang?” Nada suaraku naik satu oktaf. “Kau sedang sakit, Min Yoongi.”

Dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku. “Ssst, kecilkan suaramu. Kihyun baru saja tidur.”

Aku pun melirik tirai di sebelah kananku lalu menghela napas. Kupandangi Yoongi lekat-lekat. “Kau sedang sakit. Kau harusnya beristirahat saja di rumah.”

“Memangnya aku bisa beristirahat dengan tenang saat dua temanku di rumah sakit? Sudahlah, jangan cemaskan aku. Cemaskan saja dirimu sendiri.”

“Tapi bagaimana kalau kau sakit lagi?”

“Tidak akan. Kau lihat? Sekarang aku sudah memakai baju tebal. Jadi, jangan mengomel lagi hanya karena aku keluar dengan baju pendek.”

Dia benar, dia sudah memakai baju yang tebal. Dan itu bertumpuk-tumpuk, aku seperti sedang melihat mumi berjalan saja.

Tiba-tiba dia melepas syalnya, lalu melilitkannya ke leherku. Belum sempat aku bicara dia sudah pergi ke tempat Kihyun. Sedikit tercengang melihatnya membenahi letak selimut Kihyun. Aku tidak pernah atau mungkin jarang melihatnya berlaku seperti ini. Dia duduk di kursi sebelah ranjang Kihyun –memunggungiku. Dan tetap di sana dalam waktu yang lama.

Kenapa sulit sekali menebak seorang Min Yoongi?

“Aku lapar,” ungkapku terang-terangan saat kurasakan perutku berbunyi sejak tadi. Kihyun belum bangun. Yoongi sedang berbaring di sofa. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi.

Yoongi pun beranjak dari sofa, menghampiriku dan duduk di tepi ranjangku. “Kau lapar? Apa yang kau inginkan? Akan kucarikan makanan untukmu.”

Entah kenapa ada sesuatu yang bergerak di perutku. Bukan suara auman lambung, tapi … mungkin monster yang sedang mengoyak usus duabelas jariku. “Apa saja. Yang penting makanan.”

Monster itu makin menggila saat Yoongi tiba-tiba mengusap rambutku. Terbentur apa kepalanya kemarin sampai dia tiba-tiba seperti ini? Ia pun bangkit.

“Aku keluar sebentar. Tetaplah di sana, eo?”

Aku pun mengangguk.

Suasana di kamar ini mendadak sepi senyap begitu Yoongi pergi. Ini memang nyaris pagi, dan saat ini aku sedang berada di rumah sakit. Meskipun di sebelahku ada Kihyun tapi … suasana seperti ini sangat mengerikan. Dari yang kutahu, rumah sakit adalah tempat terangker pertama di muka bumi ini. Tempat di mana ada kamar mayat, tempat di mana darah adalah sampah yang sudah biasa, dan tempat di mana roh-roh manusia berkeliaran. Aku bergidik ngeri. Segera kubungkus diriku dengan selimut –termasuk kepalaku- tapi kegelapan seperti ini justru makin membuatku takut. Aku pun menyibakkan selimut itu lagi dan….

“Kya-HMPH!”

Dadaku naik turun saat kulihat Yoongi sudah ada di depanku, membungkam mulutku dengan tangan kanannya dan meletakkan telunjuk tangan kiri di bibirnya. Dia melirik Kihyun sebentar, lalu melepaskan tangannya dari mulutku.

“Ini aku, kenapa kau berteriak seperti itu?” Ia pun duduk di tepi ranjangku, mengeluarkan beberapa potong Kimbab segitiga dari saku coat-nya.

“Kau … kau baru saja keluar….”

“Aku bertemu dengan Hoseok hyung diluar. Kebetulan dia sedang membawakan banyak makanan untukmu dan Kihyun, jadi kubawa saja.”

“Lalu mana yang lain?” tanyaku saat kulihat hanya Kimbab saja yang dia keluarkan dari saku.

Ia pun menunjuk belakang dengan ibu jarinya. “Aku meletakkannya di sana. Sekarang makanlah ini dulu.”

Aku menurut dan mengambil satu Kimbab, membukanya, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Saat Kimbab itu berhasil lolos ke perutku, rasa lega pun kurasakan. Terkadang makanan itu jauh lebih ngangenin daripada pacar. Habis satu Kimbab, kuambil lagi Kimbab kedua. Lalu ketiga dan begitu seterusnya sampai aku tidak sadar kalau Kimbab yang dibawa Yoongi sudah berubah menjadi plastik-plastik sampah.

Dia menggeleng pelan. “Lapar sekali ya? Sebentar, kuambilkan minum.”

Untuk ukuran dini hari, Yoongi termasuk aktif. Aku tahu dia sedang menahan kantuknya karenaku, dan aku juga tahu kalau dia memaksakan diri untuk berjalan kesana kemari untuk memenuhi kebutuhanku. Tapi aku hanya diam di sini, menerima botol air mineral yang disodorkannya, lalu meneguknya sampai setengah kosong. Tanpa kututup lagi, kuserahkan botol itu padanya.

“Kau juga minum.”

Dia menggeleng, mengambil paksa botol itu beserta tutupnya dari tanganku dan menggantikanku menutup botol tersebut. Botolnya ia letakkan di atas nakas –yang berdiri tepat di dekat tiang infuse.

“Kau tidak tidur?” tanyanya.

Bagaimana aku bisa tidur kalau dia duduk di situ dan menatapku seperti itu? Aku selalu menemaninya saat dia sakit sampai dia tidur tapi … aku sekarang tidak sakit. Jadi tidak perlu menungguku sampai tidur juga. Bukankah dia harusnya berlaku begitu pada Kihyun?

“Hei.”

Aku pun mengangkat alis.

“Seseorang yang menculikmu bernama Chae Hyungwon ‘kan?”

Aku mengangguk. Dia pasti mendengar itu dari Hoseok atau polisi atau juga Kihyun? Entahlah, salah satu dari mereka yang pasti.

Tatapannya pun berubah serius. “Entah dugaanku benar atau salah, Hyungwon itu … bukanlah seseorang yang membunuh Minhyuk hyung.”

Hyungwon juga bicara begitu tadi, tapi karena waktu itu emosiku sedang meledak-ledak –efek menstruasi- aku pun menganggap kalau dia berbohong dan berpikiran sebaliknya. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak merasa bersalah. Mungkin karena aku sudah terlalu kesal padanya? Entah. Kupasang telingaku baik-baik untuk mendengarkan penjelasan Yoongi lebih lanjut.

“Dia bukan pembunuh yang sebenarnya, tapi dia terlibat dalam kematian hyung.”

Ada banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan, tapi aku berusaha menahannya di tenggorokanku sendiri. Aku yakin Yoongi pasti akan menceritakannya secara detail tanpa perlu kupancing dengan pertanyaan.

Hyung bunuh diri, tepat di depan mataku dan Hyungwon.”

Yoongi POV

Hari itu Minhyuk hyung bertingkah aneh dari hari biasanya. Ini hari sabtu, sekolah kami dibubarkan lebih awal dari biasanya. Hyung mengajakku pergi ke Hongdae, dia bilang dia ingin menghabiskan waktu di sana dan berencana pulang saat jam pulang biasa. Dia tidak pernah begini sebelumnya. Dia selalu pulang tepat waktu untuk belajar. Minhyuk itu gila belajar, tidak sepertiku yang rangking saja selalu berada di urutan paling bawah.

Kami pergi ke Hongdae seperti kemauannya. Menaiki bus dari sekolah tidaklah butuh waktu lama. 15 menit kami pun sampai. Seperti seorang teman seangkatan, dia mendadak melingkarkan lengannya di leherku lalu berjalan menyusuri jalanan Hongdae. Aku sering sekali pergi kemari jadi aku sudah sangat bosan berputar-putar di sini, tapi bagi hyung, ini adalah pertama kalinya.

“Ternyata memang selalu ramai ya,” gumamnya sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, melihat para mahasiswa yang lebih banyak berkeliling di tempat ini.

“Kudengar Bingsu di sini paling enak. Memang di mana? Aku ingin mencobanya.”

Aku pun menunjuk jalan di depan yang nyaris tak tampak karena tertutupi oleh banyak orang yang lalu lalang. “Okrumong berdiri di sana. Sekitar duapuluh meter lagi mungkin.”

“Hm … jadi namanya Okrumong? Bagus. Antarkan aku ke sana. Hari ini biar kutraktir.”

Sebenarnya tidak perlu. Kihyun selalu mentraktirku setiap kali kami ke sana. Awalnya kami membeli dua porsi tapi ternyata aku tidak sanggup menghabiskannya sendirian. Perutku rasanya beku. Jadi hari kedua sampai seterusnya kami hanya membeli satu porsi. Dan dia selalu mengeluarkan black card-nya sebelum aku merogoh kocek. Kalau aku terlahir sebagai wanita, aku pasti tidak akan menyia-nyiakannya.

“Pesan Bingsu du-”

“Satu saja,” potongku cepat pada pelayan. Minhyuk menatapku dengan alis terangkat tapi dia tidak protes.

Satu Bingsu pun hadir di antara kami dengan dua sendok kecil. Minhyuk meraih sendoknya lalu mencoleknya dan memasukkannya ke mulut.

“Enak,” ujarnya dengan wajah datar sambil memasukkan suapan kedua.

Dia tidak seekspresif di sekolah. Saat bersamaku, kalau dia sedang senang dia akan bilang senang, saat sedih akan bilang sedih, dan itu selalu dikatakannya dengan wajah datar. Jadi, aku hanya bisa tahu bagaimana perasaannya hari itu dari ucapannya saja, meski … aku sedikit ragu apakah dia benar-benar merasa begitu atau tidak. Kakakku sangat sulit ditebak.

Saat aku memasukkan suapan kelima, Minhyuk yang sejak tadi hanya diam sambil menikmati Bingsu, akhirnya mulai membuka mulut.

“Aku menyuruh ahjussi untuk tidak menjemput. Kita akan naik taxi nanti. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat sebentar.”

“Kemana?” tanyaku tak sabaran.

“Nanti kau juga tahu sendiri. Ngomong-ngomong, aku tahu kenapa kau hanya memesan satu. Bingsu ini … dingin sekali. Perutku rasanya beku kalau aku menghabiskan satu mangkuk ini sendirian.”

Terkadang kami punya kesamaan yang itu selalu membuatku tersenyum sambil mengangguk setuju. “Untungnya aku pesan satu.”

“Anak pintar,” ujarnya yang entah pujian atau hanya sekadar basa-basi saja. Aku sulit menebak apa yang dipikirkannya dari ekspresi wajahnya itu.

“Kau sudah pernah berkencan?”

Pertanyaannya yang tiba-tiba itu membuatku terbatuk. Kencan? Kenapa dia tiba-tiba membicarakan itu? Kuikuti arah pandangnya dan … yah … dia melihat pasangan kekasih yang sedang berbagi es krim sambil duduk berdua di sebuah bangku. Kupandangi lagi hyung yang masih menatap lurus ke sana.

“Belum. Tapi aku pernah memberikan surat pada seorang gadis.”

“Kapan itu?”

“Hm … kalau tidak salah saat kelas enam sekolah dasar?”

Hyung melirikku sekilas. “Dan kau tidak mengencaninya?”

Aku menggeleng. “Dia menyukai Kihyun. Mana mungkin aku memaksanya menyukaiku juga. Lagipula, suratku tidak berisi permintaan kencan?”

“Lalu apa?” Dia menatapku, sepertinya tertarik dengan bahasan soal masa laluku yang menurutku lucu itu. Sebenarnya aku sendiri malas mengingatnya lagi tapi … kurasa hari ini aku harus bicara banyak pada hyung-ku. Feeling-ku yang menyuruhku melakukan ini.

Pergilah dari pandanganku, kau sangat menggangguku. Kurang lebihnya aku menulis begitu di suratnya.”

Dan Minhyuk tersenyum. Seorang Min Minhyuk akhirnya tersenyum padaku setelah sekian tahun dia hanya memasang tampang datar ketika sedang bersamaku. Haruskah aku merayakan ini?

Datangnya senyum itu yang begitu cepat ternyata juga secepat hilangnya.

“Kau hidup lebih baik dariku, dan harus tetap begitu sampai akhir.”

Aku mengerutkan kening. “Tentu saja, Hyung juga harus seperti itu. Kau bicara begitu seolah usiamu tidak akan panjang. Kau akan tetap menjadi Hyung-ku selamanya, kau tidak boleh mati sebelum aku mati.”

Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulutku sampai hyung menyeringai. Dan aku sangat tidak menyadari arti seringaian itu.

Setelah Bingsu itu habis, hyung pun pergi membayar, sementara aku menunggu di luar. Sambil menunggu, aku menikmati alunan musik yang dimainkan oleh band jalanan. Aku tidak tahu apa nama band itu, tapi dari yang kulihat, mereka terdiri dari beberapa mahasiswa yang beda usianya hanya satu dua tahun dari hyung. Orang-orang banyak yang mengerumuninya untuk menonton perform mereka, termasuk aku –tapi aku tidak bergabung di sana.

Beberapa detik berdiri di sini, aku baru sadar kalau mereka sedang menyanyikan lagu dari Bangtan Boys yang akhir-akhir ini menyedot publik. Danger, kalau aku tidak salah itulah judulnya, karena beberapa teman di kelasku sangat menggilai mereka dan selalu saja memainkan lagu itu saat jam kosong. Dan kali ini, band itu memainkan Danger dengan versi band.

Are you joking? What am I to you?

Am I easy to you? Are you playing with me?

You’re in danger right now, why are you testing me?

Why are you testing me? Stop confusing me

Saat bagian itu, Minhyuk keluar dan berdiri di sampingku. Ikut mendengarkan, seperti biasa, wajahnya sangat datar.

Kaja.” Ia pun berlalu. Aku mengikutinya setelah melirik sekilas band itu. Entah kenapa lirik itu tadi membuatku teringat akan perlakuan abeoji pada hyung. Dan aku merasa kalau hyung terdiam tadi karena itu.

Yaa.”

“Kau terlalu cepat, Hyung,” kilahku sambil mengejarnya yang sudah jauh dariku.

Kami memberhentikan taxi, lalu pergi ke tempat yang ingin dikunjungi Hyung. Awalnya aku pikir hyung akan mengajakku ke tepian Sungai Han, atau ke Danau Seokchon. Tapi yang mengejutkan, dia justru mengajakku ke sebuah bukit. Bukit yang hanya beberapa meter dari lokasi pemakaman umum.

Begitu turun, kami harus berjalan beberapa meter untuk sampai di puncaknya. Langit sudah berwarna oranye, dan matahari perlahan mulai ditelan bumi. Pemandangan di sini indah sekali, aku tidak pernah melihat ini karena tinggal di kota Seoul yang super sibuk. Dan ironisnya aku hanya diajak Kihyun jalan-jalan ke tempat yang sering dikunjungi anak muda, dia mungkin akan sangat menyesal kalau aku mengajaknya kemari.

“Matahari akan terbenam sebentar lagi. Apakah ada yang ingin kau katakan padaku?”

Aku pun menoleh, melihat profil samping kakakku yang memang selalu tampan sampai kapan pun. Kalau aku boleh utarakan, sebenarnya aku sangat iri pada wajah tampannya. Kenapa aku tidak dilahirkan tampan sepertinya juga? Kenapa aku justru dilahirkan seperti perempuan? Kecil, berkulit lebih putih dari pria, berkaki kecil dan daya tahan yang rentan sekali.

Aku tersenyum ketika dia menoleh. “Hyung … kapan kau mau tersenyum padaku?”

Dia langsung berpaling. “Aku sudah lelah melakukannya di sekolah.”

“Kenapa kau hanya tersenyum di sekolah tapi tidak padaku?”

“Nanti kau akan tahu sendiri jawabannya. Ada hal lain yang mau kau katakan lagi?”

Dia sangat terburu-buru, begitulah pikirku. Tapi aku justru bersikap santai dan tidak menyadari kalau ternyata itu adalah detik-detik terakhirnya di dunia ini, sama halnya seperti matahari itu.

“Aku terkejut saat kau mengajakku ke Hongdae. Seharusnya kau lakukan itu sejak dulu, kita bisa pergi bertiga bersama Kihyun juga. Aku yakin, Hyung pasti juga ingin sekali bermain game ‘kan? Nanti, kalau appa sedang tidak ada di rumah, berjanjilah kau akan ikut aku dan Kihyun pergi bermain game. Hyung akan tahu bagaimana sensasinya makan ramen saat bermain game.” Hal kecil seperti itu selalu kuingat, karena aku dan Kihyun memang sering sekali memesan ramen saat di sana. Dan selalu berakhir dengan jeweran dari eomma masing-masing karena melewatkan makan malam.

“Yang lain.”

Aku menghela napas, lalu mendekat padanya. Memeluknya erat. Dia terkejut, aku tahu itu dari tubuhnya yang berjengit beberapa detik.

“Kalau memang appa sudah menekanmu terlalu kuat, jangan takut bicara padaku, Hyung. Dulu kau selalu melindungiku, sekarang giliranku. Aku tahu, kau pasti tidak punya seorang pun yang mau mendengarmu ‘kan? Kau salah, ada aku di sini, dan aku bersedia mendengarkanmu kapan pun kau mau. Kau tahu, tadi, untuk pertama kalinya aku menceritakan tentang cinta pertamaku padamu. Aku juga, ingin mendengar tentang cinta pertamamu, Hyung. Kau tidak keberatan ‘kan?”

Saat aku mendongak untuk melihat reaksinya, dia tampak sedang mengusap wajahnya. Hyung menangis, dan aku hanya tersenyum tanpa tahu arti yang sebenarnya. Ia pun memelukku balik untuk beberapa detik, lalu melepas dan menjauh saat matahari benar-benar tenggelam.

“Ya, kau harus melindungiku, Yoongi-a. Kita akan membicarakan tentang cinta pertamaku di kamarku. Untuk pertama kalinya kau kuundang ke kamarku, dan ini adalah tiket eksklusif. Kau bisa gunakan kapan pun kau mau, tanpa batas waktu. Dan aku hanya memperbolehkanmu membawa satu orang saja ke kamarku, bukan appa, bukan eomma, bukan juga Kihyun. Kau boleh membawa gadis yang kau cintai kalau perlu.” Dia tersenyum, tersenyum tulus hanya padaku. Kemudian dia melemparkan sebuah kunci. “Hanya kau yang boleh menyimpannya.”

Setelah dia selesai bicara, tiba-tiba seseorang memutar lengan kiriku sampai bunyi patah pun terdengar dan aku menjerit keras sekali. Suaraku menggema di sana, tapi tidak ada seorang pun yang mendengar rintihanku. Menit selanjutnya, saat tanganku dibebaskan, aku terjatuh ke tanah dan orang yang sama menginjak perutku. Sial, aku tidak bisa bergerak sama sekali. Lengan kiriku terlalu sakit untuk digerakkan. Tapi, aku bisa lihat siapa orang yang melakukan ini padaku.

Pria itu mengenakan baju serba hitam, dari bawah aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Orang itu, sedang menatap lurus pada Minhyuk sambil menodongkan senjata api.

“MAU APA KAU?!” teriakku saat dia nyaris menarik pelatuk. Ia melirikku sejenak, detik berikutnya menendangku lalu menginjak perutku lagi.

Kulihat Minhyuk sedang menghampiriku dengan tenang. Tidak, dia tidak sedang ingin menolongku. Dia justru menempelkan dahinya di ujung pistol itu. Tersenyum.

HYUNG!

Ia pun tersenyum padaku. “Maafkan aku, hari ini kau harus pulang sendiri, adikku. Aku sudah mengirimkan pesan pada ahjussi untuk menjemputmu.”

“JANGAN GILA, HYUNG!! KAU AKAN PULANG BERSAMAKU!”

“Aish berisik sekali anak ini.” Pria itu menendangku lagi dan lagi. Sekujur tubuhku mungkin sudah memar-memar sekarang. Dan dia menginjakku lagi. Sial! Dia jauh lebih kurus dariku tapi melepaskan diri dari kakinya jauh lebih sulit dari perkiraanku.

Yaa, kemarikan. Biar aku saja yang menarik pelatuknya.”

Suara Minhyuk membuatku menoleh. Dia … dia sudah gila! Masih dengan senyuman menyebalkannya dia mengambil alih pistol itu dari tangan pria itu. Sialnya, pria itu memakai sarung tangan saat ini, jadi dia tidak akan meninggalkan jejak apa pun di pistol itu kecuali sidik jari Minhyuk sendiri.

Aku meronta kuat. “HENTIKAN, HYUNG!! INI TIDAK LUCU! BERHENTI MELAKUKAN HAL YANG TIDAK LUCU DI HADAPANKU!”

Double kick justru yang kudapat. Aku hanya bisa meringis merasakan tulang pipiku yang sedikit retak. Sial! Aku harus melindungi hyung-ku!!!

“Kalau saja polisi menemukanku, mereka tidak akan tahu siapa sebenarnya yang memiliki pistol ini. Dan mereka akan menganggap kalau aku bunuh diri. Jadi, kusarankan setelah ini kau menghilang dari sekolah. Ini bukan ancaman, tenang saja. Tapi ini adalah saran dari seorang teman. Aku ingin kau hidup lebih baik.”

Itulah kalimat terakhir yang dikatakannya pada Hyungwon sebelum bunyi tembakan terdengar menggema di sana.

BRUK!

Napasku tercekat saat hyung terbaring lunglai di hadapanku dengan pelipis kanan yang mengeluarkan darah.

HYUNG!!!!!”

Hyungwon pergi entah kemana dan aku pun terseok-seok mendekatinya. Sh*t! Bajingan! Bahkan untuk berdiri kau tidak bisa apalagi melindunginya! Min Yoongi brengsek! Kau gagal menyelamatkan kakak kandungmu sendiri!

Matanya terbuka, namun kosong. Argh! Baru saja aku berbicara dengannya dan … dan … dia sudah meninggalkanku seperti ini?! ARGHHH!! Aku benci diriku! Kenapa aku tidak bisa melindunginya?!! Kenapa aku tidak bisa melawan Hyungwon?! Kenapa Kenapa KENAPA?!!!

Dan yang bisa kulakukan saat itu hanyalah menutup matanya sambil berbisik….

“Akulah yang membunuhmu, Hyung. Maaf.” Lalu kuraih pistol itu dan kugenggam dia erat-erat sampai ahjussi pun datang.

TBC

Advertisements

One Reply to “Stereotype #12”

  1. Ternyata memang bukan yoongi yg membunuh minhyuk, q memang ngak percaya juga yg membunuh…ternyata yoongi itu perhatian orangnya,biar pun terkesan cuek tp ttp hangat orangnya…yoongi tampak.seperti mumi,sena kelaparan banget rupanya…sena tampak ny punya khayalan tingkat tinggi..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s