Freak Hwarang #14

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter 

Pikiran Yoongi menjadi tak tenang lagi setelah dia mendengar suara pintu dibanting dari luar sana. Dia berusaha melanjutkan tidurnya, tapi yang ada dia justru menghabiskan waktu hanya dengan berguling-guling tak jelas di kamar yang tak terlalu luas ini. Padahal di istana, kalau dia sedang tidak melakukan apa-apa, biasanya dia akan sibuk sendiri di depan komputernya untuk membuat lagu. Yah … dia ini bukan pangeran yang bisa semudah itu dikekang dengan hal-hal yang berbau hukum, pemerintahan, dsb. Jiwa mudanyalah yang membuatnya terdorong untuk membuat lagu daripada belajar bahasa asing seperti yang dilakukan saudara-saudaranya.

Dan kini dia sudah jauh dari komputernya. Konyolnya dia malah memikirkan gadis yang mati-matian dia benci karena sudah membuatnya melakukan hal-hal yang diluar rencananya selama ini.

Lelah bertarung dengan pikirannya dia pun segera bangkit dan berniat melihat keadaan Sena. Namun saat dia membuka pintu, belum sampai satu detik, pintu kembali dia tutup. Melalui celah yang terbuka, dia melihat apa yang sedang terjadi diluar sana. Sena dan Namjoon. Sedang apa mereka?

Namjoon berbalik, menatap Sena sambil mengernyit. “Wae?”

Gadis itu pun melepas cekalannya, lantas menunduk dan kembali memasuki kamar. Pintu ditutup tanpa ada sepatah penjelasan pun darinya.

Yoongi akan melangkah keluar ketika dia melihat Jimin sudah menduluinya. Jimin menarik Namjoon untuk menjauh dari pintu kamar itu, tapi Yoongi masih bisa melihat dimana keberadaan mereka.

Hyung, apa katanya?” tanya Jimin to the point tanpa sedikitpun memberikan ruang untuk Namjoon memikirkan tingkah Sena yang mengherankan.

“Dia tidak mengatakan apa pun,” jawab Namjoon masih sambil menatap pintu Sena.

“Kau yakin? Apa dia baik-baik saja?”

Namjoon menghela napas. “Sepertinya tidak. Dia tampak seperti baru selesai menangis.”

Jimin terdiam sebentar. Berpikir. Kira-kira apa yang sudah membuat gadis gila macam Sena menangis? Ia rasa tadi sewaktu kegiatan mencuci dia masih baik-baik saja. Apa mungkin … rahangnya tiba-tiba mengeras. Tanpa berbicara apa pun pada Namjoon dia langsung menuju belakang pondok untuk menemui seseorang.

“Jimin-a, mau kemana kau?” tanya Hoseok begitu dia melihat Jimin tampak bersungut-sungut menuju suatu tempat. Seokjin dan Jungkook yang sedari tadi bersamanya juga tampak heran.

Jimin berhenti saat dilihatnya mobil kuno milik Ro sudah tidak ada di tempat. “Di mana pedagang sialan itu?”

“Si topi koboi?” tanya Hoseok memastikan.

“Dia sudah pergi,” sahut Jungkook.

“Kenapa menanyakannya?” tanya Seokjin.

“Aku akan segera kembali.” Hanya itu yang dikatakan Jimin sebelum menghilang di balik gerbang. Kepergiannya menjadi tanya sendiri bagi tiga pangeran yang sejak tadi masih asyik bermain di dekat laundry mereka. Hari sudah mulai menjelang sore, dan Jimin tanpa ragu melangkahkan kakinya keluar dari area kediaman Sena untuk bertemu dengan seseorang yang telah membuatnya kesal setengah mati. Padahal dia belum pernah sekalipun keluar tanpa Sena, dan sekarang dia benar-benar melakukannya.

Semenjak perdebatannya dengan Sena, Taehyung memutuskan untuk menjernihkan pikirannya di tepi sungai tempat mereka mencuci baju. Dia duduk di sebuah batu besar, membiarkan kakinya menggantung ke bawah, dikelilingi oleh ikan-ikan yang penasaran. Matanya tampak sedang melihat ke air yang jernih, namun pikirannya melayang jauh. Ia merindukan istananya.

Mungkin alasan mengapa dia merindukan istananya terdengar aneh. Dia hanya ingin tidur di kamar doing nothing. Kesempatan itu sangat langka di sini. Bagaimana bisa dia hanya tidur di kamar kalau Sena terus saja memaksanya bangun pagi, membersihkan kandang biri-biri, melatih para wolfdog, mencuci, dan melakukan tetek bengek lain yang sangat-sangat tidak penting baginya. Di istana pangeran tidak melakukan itu. Kenapa juga harus melakukan itu kalau yang lain bisa melakukannya? Pangeran hanya harus belajar untuk menjadi generasi penerus kerajaan.

Dia menghela napas. Kepalanya mendongak ke langit, terpejam sambil menikmati sinar matahari yang menenangkan.

Sebuah suara yang tak jauh darinya otomatis membuatnya menoleh. Ia mengernyit melihat Jimin yang tampak bersungut-sungut meninggalkan pondok. Tidak biasanya. Penasaran, ia pun beranjak dan mengikuti saudaranya itu.

Sebisa mungkin dia membuat dirinya menjadi tak kasat mata. Bersembunyi di balik pohon-pohon yang mereka lalui, tiarap seperti tentara di semak-semak, membungkam mulutnya sendiri tiap kali melihat sesuatu yang mengejutkan atau saat kakinya tersandung sesuatu. Tahu-tahu mereka sudah jauh dari pondok Sena. Hanya berbekal insting mengikuti jalan selebar satu mobil yang menjadi satu-satunya jalan di tengah hutan belantara tersebut.

Saat matahari mulai tenggelam, sampailah mereka di sebuah desa yang cukup padat penduduk. Rumah-rumah beratap kecil dengan model Korea klasik tampak berjejer rapi di sejauh mata memandang. Taehyung sempat terpana melihatnya. Ini desa, benar-benar desa. Orang-orang berpakaian lusuh dengan topi caping di kepala masing-masing tampak berlalu lalang di depannya. Sibuk sekali, tidak seperti di rumah Sena yang tenang.

Di tengah-tengah keterpanaannya itu, dia baru sadar kalau dia sedang mengikuti Jimin. Sial, sekarang dia kehilangan jejak pria itu. Aish, kemana perginya? Semua orang memakai warna baju yang sama begitu juga dengan yang dipakai Jimin ataupun dia. Akan sangat sulit mencarinya terlebih orang-orang terlalu banyak yang lalu lalang.

“Jimin?! Jimin-a!!”

Sial, bagaimana kalau dia tidak bisa menemukan Jimin hari ini? Aish, bodoh sekali, kenapa tadi dia harus diam seperti orang bodoh hanya karena melihat orang-orang di sini?

“Jimin!! Park Jimin!!”

Teriakannya itu sedikit mengganggu orang-orang di sekitarnya. Namun dia tak peduli dan terus memanggil nama saudaranya sambil berlarian ke sana kemari.

“Maaf, maaf,” ucapnya saat ia tak sengaja menabrak beberapa orang di keramaian itu.

Kemana perginya kau, Park Jimin?

Di sisi lain, Jimin akhirnya menemukan mobil kuno yang sama persis dengan mobil yang dikendarai Ro. Matanya beralih dari mobil itu ke rumah yang paling berbeda dari rumah yang lain. Tanpa pikir panjang lagi dia segera memasuki pekarangan rumah itu dan mendobrak pintu masuk.

“Keluarlah kau, Ro!”

Seorang bertopi koboi pun muncul dari dalam rumah itu tak lama kemudian. Dia mengernyit heran melihat keberadaan Jimin di rumahnya.

“Sedang apa kau di sini?”

Jimin bersungut-sungut menghampirinya dan BUG!

Sena baru keluar dari kamarnya setelah malam sudah menjelang. Menangis membuatnya tertidur, untunglah begitu terbangun pikirannya sudah segar kembali. Sadar kalau dia sudah membiarkan para pangeran tidak makan siang, ia pun buru-buru pergi ke dapur untuk membuatkan makan malam double size.

Tapi langkahnya otomatis berhenti saat dilihatnya mereka sedang makan dengan nyaman di meja makan, hanya berlima.

“Oh? Sena? Kau sudah bangun?” sapa Seokjin seraya bangkit. Dia mengambil satu piring dari pantry yang kemudian dia letakkan di sebelah Namjoon yang kosong. “Duduklah, aku dan Yoongi membakar sate untuk malam ini.”

Sena hanya menurut. Dia pun menarik kursi kayu di sebelah Namjoon, lalu duduk. Dipandanginya sate kelinci enam tusuk yang ada di piringnya, lengkap dengan sekepal nasi dan bumbu saus. Ia pun mengedarkan pandangannya. Memperhatikan pangeran lain yang sedang sibuk melahap porsi sate masing-masing. Tapi … dia merasa janggal dengan pemandangan ini.

“Kemana perginya mochi dan si egois?”

Semuanya saling pandang, lalu….

“Jimin bilang dia akan kembali sebentar lagi,” balas Hoseok.

“Taehyung … ada yang tahu di mana dia?” tanya Namjoon.

Nyaris semuanya menggendikkan bahu.

“Aku tidak melihatnya sejak siang tadi,” kata Jungkook sembari melanjutkan makannya.

Satu-satunya yang tidak bicara di sana hanyalah Yoongi. Mungkin dia terlalu fokus dengan makanannya atau memang tidak tertarik dengan topik obrolan.

“Pergi kemana dia?” tanya Sena pada Hoseok, bermaksud menanyakan keberadaan mochi.

“Entahlah, dia tadi hanya bicara seperti itu lalu pergi begitu saja.”

“Tanpa bicara apa-apa?” tanya Sena memastikan.

“Ah! Tadi dia menanyakan keberadaan si topi koboi sebelum pergi,” jawab Seokjin yang mendadak mengingatnya.

Yoongi melirik Sena melalui ekor mata untuk melihat reaksi gadis itu.

Jinjja? Lalu dia pergi dari sini sendirian?!”

Seokjin mengerjap-ngerjap, lalu mengangguk. “Eo.”

“Dan dia masih belum kembali sampai sekarang?!”

Eo.”

“Aish! Dasar mochi bodoh.” Sena buru-buru beranjak keluar melalui pintu belakang. Langkahnya yang terlalu cepat itu tidak bisa dihentikan oleh siapa pun. Bahkan satenya belum dia sentuh sedikitpun.

Yaa! Mau kemana kau?!” Namjoon juga sama-sama terburunya seperti dia. Tanpa memedulikan makanannya lagi dia langsung berlarian mengikuti kemana Sena pergi. Sementara pangeran yang lain hanya duduk di sana, terheran-heran dengan tingkah keduanya. Ah, mungkin tidak untuk seseorang.

“Aku sudah selesai,” ujar Yoongi yang langsung membuat yang lain menoleh. Dia beranjak ke tempat pencucian piring, mencuci piring bekas makannya sebelum pergi ke kamar.

TBC

Maafkan aku yang lamaaaaa banget ngga update FH :3 Soalnya buanyak FF yang ngantri minta diselesaikan :”3 inilah ohnajla, udah moody-an, begitu udah bikin ff chapter, selesainya lama, kadang malah berhenti di tengah jalan :”3 maafkan 😀 

Advertisements

5 Replies to “Freak Hwarang #14”

  1. Ceritanya makin seru thor, wah jimin benar2 pria pemberani,,,taehyung apa yg kau lakukan, jangan2 tersesat dan tak tau arah pulang,kasian taehyung..yoongi tetap dengan sifat swagnya..sebenarnya siapa sih thor yg beneran naksir sm sena??namjoon, jimin atau yoongi…sena itu sebenarnya istri pedagang Rho ya?sorry baru koment

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s