Swag Couple Series [#11 Pick Me (2)]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

previous chapter

Aku yakin dia pasti akan berpikir aku jahat karena meninggalkannya saat dia membutuhkanku.

Memang siapa suruh dia menerima permintaan gadis barbar itu?

Tch … peduli amat mau dia mengataiku jahat atau tidak.

Yang penting aku benci melihatnya yang dengan begitu mudahnya menerima permintaan gadis lain.

Kau sudah membuatku sakit, maka aku akan membuatmu sakit juga agar kau bisa merasakan bagaimana sakitnya diriku.

Langkah kakiku terhenti di depan pintu ruang kesehatan.

Aku tak tahu kenapa aku bisa sampai di sini.

Padahal—

Yah … aku keluar hanya untuk menghindarinya, bukan untuk kemana-mana.

Anehnya yang kudatangi justru tempat ini. Padahal aku berharap kalau aku sampai di toilet saja jadi aku bisa duduk merenung di salah satu bilik untuk mengenyahkan bayangan si barbar yang menggoda mochi-ku.

Tapi ya sudahlah kalau takdirnya memang harus kemari.

Kuketuk pintu itu, membukanya setelah mendengar suara dari dalam.

Dokter muda cantik berkacamata menyapaku ramah. “Yoonji, ya? Tumben datang ke sini? Apa … kau butuh obat nyeri untuk datang bulan?” Pertanyaan terakhirnya dilontarkan dengan suara lirih.

Aku membalasnya dengan gelengan. Tak lupa tersenyum. “Saya butuh obat pencegah flu.”

“Um? Apa kau sedang kurang enak badan, Yoonji-a? Kemarin pulang hujan-hujanan?”

“Bukan saya, ssaem. Tapi—” Tenggorokkanku mendadak tercekat. Haruskah aku menyebut namanya? Atau kusebut sebagai teman saja? Baiklah, pilihan kedua. “Tapi teman saya.”

“Ah … begitu. Dia pasti hujan-hujanan kemarin ya? Um … sebenarnya tidak ada obat untuk mencegah flu. Tapi, aku tahu bagaimana cara mencegah flu. Duduk dulu.”

Selama istirahat itu aku ada di sana berbicara dengan Jaehyun ssaem tentang cara-cara mencegah flu. Memang tidak ada obat. Tapi, ada banyak hal yang harus dilakukan untuk mencegahnya. Dan semua itu tercatat dengan baik di ingatanku.

Bel pertanda istirahat berakhir, aku pun kembali ke kelas sambil membawa bungkusan berisi gingseng Korea yang diberikan secara gratis oleh ssaem. Mencampurkan sari gingseng dengan madu ditambah air hangat, itu akan lebih efektif mencegah penyakit flu katanya.

Kusembunyikan bungkusan itu dalam saku blazer.

Sudah banyak orang di kelas. Termasuk mochi yang mungkin tidak beranjak sekalipun dari tempat duduknya, sedang meminum sebotol air yang entah didapat darimana.

Kami saling bertemu pandang namun … dia dengan cepat membuang pandangannya seolah tak mengenalku.

“Tenggorokkanmu sudah lebih baik, Jimin-a?”

Suara si barbar kembali terdengar di telingaku.

Eo. Terima kasih airnya.”

“Ah … itu bukan apa-apa. Aku tahu kau pasti sangat kehausan karena tenggorokkanmu mungkin sedang sakit sekarang.”

“Ya, mungkin nanti malam aku akan flu.”

“Ah kasihannya … belilah gingseng dan madu, lalu campurkan itu dengan air hangat dan minum sebelum tidur. Mungkin dengan begitu besok kau akan sehat kembali.”

Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi yang dibicarakan mereka termasuk yang lain setelah earphone sudah terpasang di kedua telingaku. Kulihat mereka masih asyik mengobrol dan….

Aku benci perasaan ini.

.

.

Barusan Changkyun mendapat hukuman membuat puisi selembar penuh kertas folio. Dia dihukum karena tidak mengerjakan tugas Bahasa Korea dan … dia memberikan tugas itu padaku.

Kali ini aku hanya bisa menerimanya dengan pasrah.

Aku sudah tak punya daya lagi untuk mengelak karena tenggorokanku sedang di ujung tanduk. Belum dengan wajahku yang tiba-tiba panas dan—

Ah sudahlah! Yang penting sekarang aku harus menyelesaikan ini, mengumpulkannya ke meja guru dan segera pulang.

Satu persatu siswa di kelas mulai pergi. Aku menoleh saat Koeun menepuk pundakku.

“Semangat ya.”

Melihat senyum cerianya aku pun ikut tersenyum. “Hati-hati di jalan.”

Perasaan aneh tiba-tiba merasukiku saat kulihat punggung Koeun yang sudah hilang di balik pintu. Jujur saja aku tidak tahu kenapa perasaanku tiba-tiba begini. Mungkin karena aku sedang kurang enak badan jadi feeling-ku mengatakan kalau aku harus segera menyelesaikan ini sebelum petang. Akhir-akhir ini kalau aku pulang terlambat sedikit saja selalu hujan. Dan ini sudah dua hari berturut-turut aku kehujanan. Sialnya kemarin aku lupa bawa mantel dan dalam keadaan perut kosong pula. Paket komplit.

Kuraih bolpoinku dan mulai menulis. Ini tidak sulit, tidak juga mudah. Dalam kondisi yang harus cepat ini entah kenapa pandanganku tiba-tiba kabur. Sial, kepalaku juga pusing sekali. Apa lebih baik aku menyerah saja?

Aish. Aku tidak boleh menyerah. Aku harus—

DUG!

“Akh!”

Sial.

“Bertahanlah, Park Jimin. Bertahanlah. Kau baik-baik saja. Kau sehat wal afiat. Kau hanya harus membuat satu puisi selembar penuh lalu pulang. Ini tidak sulit. Kau pasti bisa.”

Setelah menyugesti diriku sendiri dengan kalimat-kalimat itu, akhirnya aku bisa menyelesaikan hukuman milik Changkyun dengan lancar. Meski … aku tidak yakin apakah ini bagus atau tidak.

Aku pun segera pergi ke kantor guru, meletakkan lembaran itu di atas meja Shin Hoseok ssaem.

Saat aku keluar dari sekolah. Rinai sudah menyapaku.

“Bagus. Tidak lusa, tidak kemarin tidak hari ini. Kau pasti sangat mencintaiku ya, bi?”

Kuputuskan untuk pulang meskipun aku harus menerima konsekuensi yang akan sangat menyusahkanku besok.

.

.

Yoonji banyak melamun di rumah. Setelah ganti baju dan makan, dia langsung berbaring di ranjangnya tanpa peduli kalau besok kelasnya ada ulangan harian matematika dan PR bahasa Inggris yang belum rampung. Sambil mendekap ponselnya, dia berbaring menyamping membelakangi tempat tidur Yoongi.

Yoongi yang datang dari pintu mint hanya bisa memandangnya bingung. Tidak biasa-biasanya babi hijau tercinta menjadi pasif seperti lumut. Bahkan melamun saja jarang. Gadis itu pasti selalu mendapat ide untuk membuat dirinya makin aktif. Snack di kulkas saja sama sekali tidak disentuhnya. Padahal Yoongi sudah menghabiskan setengah uang jajannya untuk membelikan jajan-jajan yang disukai adiknya.

Ia pun duduk di tepi ranjang Yoonji. Menepuk lengan Yoonji sampai gadis itu tersadar.

“Ada apa, um?”

Yoonji langsung membuang pandangan darinya. “Tidak apa-apa.”

Yoongi tidak percaya. Mana mungkin yang seperti ini disebut tidak apa-apa? Pasti ada apa-apa. Dan kalau boleh dia tebak, pasti—

“Kau bertengkar dengan Jimin?”

Reaksi yang diberikan Yoonji membuat Yoongi yakin bahwa tebakannya itu tepat sasaran. Dia pun menghela napas.

“Bertengkar karena apa, huh? Tidak biasa-biasanya kalian bertengkar.”

Yoonji melihat ponselnya sekilas. Tahu tidak ada apa-apa, dia mendengus kasar. “Aku mengantuk, kak. Jangan tanya-tanya lagi.”

Sebagai kakak yang baik, Yoongi pun mengalah. “Oke. Tidurlah. Janji jangan menangis malam-malam, uh?”

.

.

Esoknya Jimin benar-benar datang bersama Koeun. Yoonji yang melihat dengan mata kepala sendiri hanya bisa menggertakkan gigi dan membuang pandangan.

Oke, sekarang dia benar-benar benci interaksi mereka.

Jam istirahat saat tidak ada siapa-siapa di kelas kecuali mereka berdua, ia pun menghampiri meja Jimin dan menggebrak meja itu dengan sebuah termos berbentuk boneka.

Laki-laki pemilik meja terkejut. Kalau saja dia tidak lebih dulu melihat siapa, mungkin dia sudah duluan mengumpat.

“Apa ini maksudnya?”

Ekspresi Yoonji benar-benar tegang. Urat-urat di pergelangan tangannya sampai terlihat saking kuatnya dia meremas termos itu.

BRAK!

Kini termos itu dilempar sembarangan sampai terbentur dinding dan jatuh di lantai.

Jimin otomatis berdiri. Menatap Yoonji heran. “Kau ini kenapa sih? Tiba-tiba datang lalu marah-marah. Wae? Apa aku punya salah?”

Tidak ada termos, Yoonji kini meremas tangannya sendiri sampai kukunya menggores kulit telapak tangannya.

“Aku benci kau, Park Jimin!!”

Dia pun beranjak namun Jimin mendadak menahan pergelangan tangannya.

Yaa! Bisakah tidak usah marah-marah dan kita bicarakan ini baik-baik?”

Yoonji menepis tangan Jimin kasar. “Tidak ada yang harus kubicarakan denganmu. Kalau kau sadar, kau pasti akan mengerti kenapa aku begini.”

“Kau marah karena aku berangkat bersama Koeun?!”

Pekikan Jimin sukses membuat Yoonji berhenti di ambang pintu.

“Sudah kuduga. Kau pasti marah-marah karena itu. Wae? Kenapa kau marah segala, huh? Harusnya yang marah di sini adalah aku. Kau secara terang-terangan mengabaikanku yang nyaris sekarat. Padahal kau sudah tahu kalau aku sedang sakit, tapi menyapa saja bahkan tidak. Aku ini pacarmu, Yoonji-a. Begitukah caramu memperlakukan pacarmu?!”

“Lalu kau sendiri bagaimana?!” balas Yoonji sambil berbalik. “Kau dengan begitu mudahnya menuruti permintaan dia. Padahal kau sendiri tahu saat itu aku sedang mendengar kalian. Tapi kau tetap menyetujui permintaannya ‘kan? Memangnya kau sendiri sadar kalau aku ini pacarmu?!”

Jimin tertegun sejenak. Namun tidak lama karena egonya terlalu besar hari ini. “Kalau kau mau menyapaku sekali saja kemarin, aku bisa pertimbangkan lagi apakah aku harus menjemputnya atau tidak. Tapi kau hanya melewatiku seolah kau tidak mengenalku. Mengirimiku pesan juga tidak. Aku berhak kesal karena itu!”

Yoonji mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum berbalik dan lari sejauh-jauhnya dari kelas.

Jimin sendiri menghela napas. Dia mengusap wajahnya yang pias lalu menoleh ke belakang. Diambilnya termos berbentuk boneka yang tergeletak itu lalu mengintip isinya. Dari aromanya saja dia tahu kalau ini minuman gingseng madu. Pasti Yoonji susah payah membuatnya. Hanya untuk—

“… belilah gingseng dan madu, lalu campurkan itu dengan air hangat dan minum sebelum tidur. Mungkin dengan begitu besok kau akan sehat kembali.”

Kata-kata Koeun kemarin kembali terngiang di kepalanya.

Jadi … maksudnya Yoonji membuat ini untuknya?

Secarik kertas yang menempel di badan termos itu menarik perhatiannya. Diambilnya kertas itu.

Minum ini saat makan. Tidurlah yang cukup.

Menyadari kebodohannya, Jimin pun menghela napas.

TBC

Advertisements

3 Replies to “Swag Couple Series [#11 Pick Me (2)]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s