Stereotype #13

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter

Sena POV

Jadi itulah kenapa Yoongi disalahkan atas kematian Minhyuk. Dia sendirilah yang memutuskan menjadi kambing hitam dalam kisah ini. Miris, sungguh miris. Aku sangat tidak percaya orangtuanya bisa dengan begitu saja menelan informasi itu mentah-mentah tanpa menanyakan kebenarannya pada Yoongi. Mereka jauh lebih percaya polisi, daripada anaknya sendiri.

Aku menghela napas ketika aku sadar bahwa aku tidak bisa berbuat banyak ketika Yoongi menangis dalam diam. Dia mendongakkan kepalanya ke atas. Mengerjap-ngerjap, seolah dengan begitu air mata tidak akan tumpah lebih banyak lagi. Tapi itu sulit. Kulihat rahangnya mengeras, tanda kalau dia sedang berusaha sekuat tenaga. Kenapa pria sangat suka menahan air matanya?

“Hei, mendekatlah.”

Ia pun melakukan apa yang kusuruh. Dan saat dia sudah sangat dekat denganku, aku pun memeluknya. Aku tahu, dia terkejut. “Menangislah saja. Aku tidak akan menghinamu cengeng atau seperti anak kecil. Justru-”

Belum selesai aku bicara, tubuhnya langsung bergetar hebat. Ya, dia menangis. Mengeluarkan semua air mata yang sudah ditahannya sejak lama, membuang beban yang selama ini memberatkan bahunya. Aku mengerti bagaimana perasaannya. Dia pasti tidak mengungkapkan semua itu pada Kihyun. Dan dia juga tidak punya teman berbicara lain, entah itu di sekolah atau di rumahnya. Aku tahu bagaimana rasanya kesepian. Aku sedikit lega saat dia mau membuka dirinya padaku.

Harusnya dia lakukan ini sejak lama.

Bohong kalau aku tidak mengharapkan ini terjadi.

Aku ingin Yoongi bersandar padaku.

Itu saja.

Hari-hari pun berlalu, tak terasa ujian semester ganjil pun menyapa kami. Tidak ada yang berubah. Orang-orang tetap menyebarkan rumor soal aku yang berpacaran dengan Kihyun, hubungan antara Soomi dan Taehyung masih tak kunjung membaik, dan Yoongi tetap berperan sebagai anak nakal yang suka cari gara-gara di kelas. Hanya saja, rumor tentangku dengan Kihyun makin memanas. Berita penculikanku tersebar begitu saja, dan semua orang setuju kalau itu bukan lagi rumor, tapi fakta. Kihyun yang menyelamatkan seorang Oh Sena dari mantan pembunuh Min Minhyuk, sudah menjadi gossip terhangat sendiri di antara para gadis.

Kesal sekali saat aku harus menerima kenyataan kalau ujian kali ini tidak dilaksanakan di kelas masing-masing. Tapi dengan sistem campur. Sialnya lagi, kenapa aku harus jauh dari Soomi tapi justru sekelas dengan Kihyun dan Geng Yeon? Mampus kuadrat. Kurasa aku akan menua 5 tahun setiap harinya selama seminggu UAS dilangsungkan.

Lokasi dudukku dan Kihyun bersebelahan. Bagus, pasti ini akan menjadi sejarah yang paling fenomenal buatku. Nayeon dan Yeonhwa yang sebenarnya duduk di sudut lain kelas, dengan sengaja melewati jalan di antara bangku kami. Mereka mencubitku dengan gemas sambil melirik-lirik Kihyun. Oh sh*t, bahkan Kihyun jauh lebih tenang dari mereka. Ingin sekali kuberkata kasar namun imej seolah menolak.

“Aku sudah lelah mengatakan pada semua orang kalau kita tidak pacaran,” ujarnya setelah Duo Yeon itu sudah jauh dari kami. Ia menutup buku tebalnya, menoleh padaku sambil membenarkan kacamata. Dia tak tampak seperti Kihyun yang menolongku hari itu.

“Sejak awal aku sudah malas membicarakannya dengan mereka,” balasku. Kukeluarkan alat tulis dari tas dan meletakkannya di permukaan meja.

“Apa lebih baik kita pacaran benaran saja?”

Ucapannya otomatis membuatku menoleh. Dan dia tersenyum. “Aku hanya bercanda.”

Aku menghela napas. Itu kalimat terbaik yang pernah kudengar.

“Kau punya berapa pena? Punyaku sedang di ujung tanduk. Boleh pinjam satu?”

Duo Yeon koor berseru dari sudut ruangan begitu aku menyerahkan sebuah pena pada Kihyun. Oh astaga, kapan mereka akan berhenti melakukan ini padaku?

Lebih baik rumorkan saja aku berpacaran dengan Yoongi.

Eh?

Hm … itu jauh lebih baik ‘kan?

Author POV

Sena dan Kihyun berada di ruangan 1, Soomi, Yoongi dan Taehyung justru terkumpul di ruangan 4. Bangku mereka saling berjauhan. Tapi yang berasal dari kelas 2-4 hanyalah mereka saja. Soomi sedikit bosan menunggu bel berbunyi. Dia sudah mengulang-ulang materinya sampai materi itu hafal di luar kepala. Oh ayolah, kenapa pukul 8 lama sekali?

Kepalanya yang semula berada di atas meja pun terangkat. Seorang Kim Taehyung berjalan masuk kelas, melewati bangkunya dan duduk di pusat ruangan. Jika yang lainnya langsung mengeluarkan buku diktat atau catatan untuk belajar ulang, dia justru mengeluarkan buku untuk dijadikan bantal kepalanya. Soomi menghela napas, pasti Taehyung tidak belajar semalam. Memangnya sejak kapan seorang Kim Taehyung mau belajar? Kalau toh dia belajar itu pasti karena dia. Ya, dia, Lee Soomi.

Soomi pun bangkit lalu menghampiri meja Taehyung. Seseorang yang duduk di depan Taehyung sedang pergi keluar, jadi kursinya kosong dan Soomi pun menempatinya. Dia berdehem, lantas mengetuk tempurung kepala Taehyung seperti orang mengetuk pintu.

Pria itu langsung duduk tegak. Seperti biasa, matanya menatap dingin.

Soomi membuang pandangan. “K-kau … k-kau sudah belajar?”

Tatapan Taehyung datar sekali melihat Soomi yang kini gugup setengah mati. “Belum. Wae?”

“K-kalau begitu belajarlah sekarang. A-aku akan membantumu.”

Saat Soomi menarik buku diktat di atas meja itu, Taehyung juga melakukan hal yang sama. Mereka pun saling pandang.

“Aku tidak butuh bantuanmu. Pergilah.” Dengan sekali tarik, buku itu sudah kembali ke sisi Taehyung. Soomi menelan ludahnya susah payah, lantas menurunkan tangannya.

“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau kau tidak bisa mengerjakan kau bisa-”

BRAK!

Tubuhnya berjengit saat buku itu dibanting keras ke atas meja. Dilihatnya Taehyung yang sedang menahan marah. Tidak tahu kenapa, matanya mendadak panas.

“Sudah kubilang aku tidak butuh bantuanmu. Harus kuulangi berapa kali, huh?! Pergilah. Cepat pergi sebelum aku marah padamu!”

Dan air mata yang susah payah ditahannya itu pun pecah. Ditemani dengan pandangan banyak orang, dia langsung pergi dari kelas saat itu juga. Kemana lagi kalau bukan rooftop. Satu-satunya tempat yang bisa membuatnya mengeluarkan semua air mata tanpa harus dipandangi banyak orang, sekaligus tempat yang bisa membuatnya berhenti menangis.

Tapi sial, pintu menuju rooftop dikunci. Dia menggedor-gedor pintu itu, berpikiran kalau dengan begitu pintu akan terbuka. Tapi ternyata tidak. Pintu tetap terkunci, seakan melarangnya untuk datang ke sana.

“Argh!! SIAL!!! Siapa yang mengunci pintunya?!!!”

“Bodoh!!! Dengan begini bagaimana aku bisa menangis?!! Yaa!!! Seseorang buka pintunya!!! Yaaaaaaaaaaa!!!

Lelah berteriak, Soomi pun terduduk di sana dan menangis keras saat itu juga.

Hari ini semua orang membenciku.

Bahkan rooftop pun sangat membenciku

Memangnya apa salahku?

Kenapa Taehyung tiba-tiba menjadi dingin?

Aku tidak berkencan dengan pria lain,

Aku tidak berkirim pesan dengan pria lain,

Aku selalu menolak ajakan kenalan pria lain,

Tapi kenapa?

Kenapa dia melakukan ini padaku?

“Apakah aku terlihat mudah di matamu?” Soomi pun menggigit bibirnya. Tidak lama. Karena setelahnya dia menangis keras lagi seperti anak-anak.

Aku benci kau, Kim Taehyung.

Kau sudah dengan seenaknya mengambil hatiku lalu pergi begitu saja.

Kau bahkan bukan kupu-kupu.

Tapi kau melakukan ini padaku.

“Pria brengsek. Nappeun namja! Kenapa kau membuatku benci tapi di satu sisi aku tetap mencintaimu?!! Brengsek! Brengsek kau Kim Taehyung!!!”

Yaa.”

Mendengar ada orang lain di sini, Soomi langsung mendongak. Matanya membelalak heboh saat dilihatnya bahwa seseorang yang dikenalnya sedang berdiri santai di depannya.

“K-kau….”

Orang itu mengulurkan satu kotak susu pisang ke depan wajahnya. “Berhenti menangis.”

Tangisnya seolah ingin meledak lagi melihat susu pisang itu. Tapi dia tidak mau menangis lagi, karena seseorang yang ada di depannya sekarang bukanlah orang yang ada di pikirannya.

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Cepat ambil atau kubuang.”

Soomi langsung menyelamatkan minuman kesayangannya. “Jawab pertanyaanku, kenapa kau bisa ada di sini?”

“Kupikir kau Sena jadi aku mengikutimu. Ya sudah, lanjutkan menangisnya. Aku pergi.”

Sena?

Yaa Min Yoongi!”

Benar, orang itu adalah Min Yoongi. Pria itu menoleh, seperti biasa, pasang wajah datar.

“Kenapa kau mengira kalau aku Sena?”

“Karena kalian mirip. Wae?”

“Lalu, kalau aku Sena, kenapa kau mengikutiku?”

“Memangnya tidak boleh?”

Jawaban itu seketika membuat darah Soomi mendidih. Tanpa sadar dia sudah melupakan alasan kenapa dia menangis keras sambil mengumpat-umpat tadi.

“Awas saja kau ya! Aku akan adukan pada Sena kalau kau menyukainya!”

Tapi Yoongi seolah tidak mengacuhkannya. Dia tetap melenggang meninggalkannya sendiri di sana. Dia pun menghela napas. Beralih memandang kotak susu pisang itu. Bukan lagi tangisan, bukan lagi umpatan. Tapi senyuman.

“Aku membencimu tapi aku mencintaimu Kim Taehyung, eotteohke?”

“Taehyung-a!”

“Taehyung-a! Tunggu aku!”

“Kim Taehyung!!”

Lelah dipanggil terus-menerus Taehyung pun berhenti dan langsung berbalik.

BRUK!

“Aw! Aish. Jangan berhenti seenaknya.”

“Aku sudah menyuruhmu untuk tidak mengikutiku ‘kan?”

Dilihatnya Lee Soomi yang justru tersenyum. “Rumah kita searah, bukankah akan lebih efektif kalau kita pulang bersama?”

“Hah, yang benar saja.” Tanpa perlu hitungan detik dia langsung berbalik dan berjalan cepat. Namun Soomi juga tidak kalah cepat sepertinya. Tiba-tiba saja gadis itu sudah merangkul lengannya. Ia pun terpaksa berhenti dan menoleh.

“Apa yang sedang kau lakukan ini, huh?!”

“Aku. Akan. Pulang. Bersamamu.”

Taehyung mendengus. “Tapi. Aku. Tidak. Mau. Lepaskan!”

Dia menyentak tangan itu dan langsung beranjak. Anehnya, Soomi justru menarik tasnya.

“Kalau aku tidak boleh pegang tanganmu maka aku akan pegang tasmu!”

Pria itu tampak sedang mengatur emosinya. Kemudian, “baiklah, bawa saja tasku pulang.”

Tasnya sudah tidak ada di punggungnya lagi, tapi dia bisa merasakan bahwa Soomi masih terus mengikutinya.

“Kalau begitu aku akan pegang blazer-mu!”

Dia pun melepas blazer-nya.

Sayang, semua itu tidak cukup. Karena tiba-tiba Soomi memeluknya dari belakang. Erat sekali, sampai-sampai dia bisa menyeretnya.

“Kalau semua itu tidak boleh, maka aku akan memelukmu. Kalau kau tetap ingin pergi, lepaskan dulu hatimu padaku, baru akan kulepaskan pelukanku.”

Itu hal yang gila. Ia mengusap wajahnya dengan sedikit penekanan dan, “ARGH!!!”

Soomi sama sekali tak bergeming. Fakta itu makin membuat Taehyung frustasi.

“Sampai kapan kau akan begini, huh? Kau tidak malu dilihat banyak orang? Mereka akan mengira kau ini penggoda. Tolong lepaskan aku sekarang juga.”

“Kenapa aku harus memikirkan kata orang?” Taehyung tertegun.

“Mereka sudah tahu kalau aku berpacaran denganmu, lalu apa salahnya aku memelukmu? Aku hanya ingin kita pulang bersama, itu saja. Apakah mewujudkannya terlalu sulit? Apakah melupakanku secepat itu jauh lebih mudah bagimu?”

Taehyung menghela napas. Dia bisa merasakan jantung Soomi berdetak cepat di punggungnya.

“Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba berubah. Kau tidak lagi menjadi Kim Taehyung yang kukenal hanya dalam waktu sehari. Sesingkat itukah perasaanmu padaku? Kupikir kau juga mencintaiku tapi ternyata aku salah. Kau sengaja mempermainkan perasaanku ‘kan? Kau membuatku terbang ke langit paling tinggi lalu menenggelamkanku dengan kejam ke dasar laut yang paling dalam. Wae? Apakah aku terlihat semudah itu di matamu? Apakah kau sudah mendapatkan apa yang ingin kau dapatkan?”

Taehyung segera melepas paksa tangan Soomi dari perutnya. Lalu dia melangkah maju. Berhenti tepat di bawah sinar lampu jalan.

“Bukankah sejak awal sudah kubilang kalau aku ini tidak sebaik yang kau lihat? Kau saja yang terlalu keras kepala. Aku sudah memperingatkanmu sejak awal tapi kau seolah menganggap ucapanku ini hanya angin lalu. Aku ini tidak sebaik yang kau lihat, Soomi-a….” Dia terdiam sebentar, menelan ludahnya. “Aku ini hanyalah pria brengsek yang suka mempermainkan perasaan banyak gadis.”

Setelah bicara begitu dia langsung lari sejauh-jauhnya. Masa bodoh dengan bus. Dia masih punya kaki. Sesekali pulang sambil berlari tidak masalah bukan? Dengan begitu dia bisa mengeringkan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.

“Sial, kenapa aku menangis….”

Hampir separuh jalan, tiba-tiba dia berhenti. Entah kenapa dia teringat soal penculikan Sena beberapa minggu lalu. Sena diculik saat sekolah dalam keadaan sepi, dan kejadian itu terjadi di jalan yang menghubungkan sekolah dengan halte. Dia baru ingat kalau jalanan itu cukup berbahaya kalau hanya dilalui oleh seorang gadis. Maka, ia pun berbalik dan berlari dua kali lebih cepat kembali ke sekolah.

“Pergi kalian! Pergi!”

“Astaga, gadis ini galak sekali. Ayolah sayang, kemarilah saja. Kami tidak akan memukul kok, lagipula kau sudah tidak ada pilihan lain.”

“Pergi sekarang juga atau aku akan menelepon kekasihku!”

Tiga pria itu tertawa, seolah ucapan Soomi hanyalah sebuah lelucon.

“Jadi kau sudah punya kekasih? Ya ampun, cinta masa muda, manisnya~~”

“Tapi kekasihmu sedang tidak ada, kau pasti kesepian ‘kan? Kemarilah. Pelukan oppa selalu tersedia untukmu.”

Namjachingu-mu pasti brengsek sekali ya. Sudah tahu yeojachingu-nya pulang sekolah sendiri tapi dia malah bersantai-santai di rumah.”

“Kekasihku tidak brengsek! Kalianlah yang brengsek!”

“Ya ampun, aku suka sekali dengan mulut sampahnya.”

BUG! BRAK!

Taehyung pun menghela napas. Menatap galak seorang pria tua yang telah berhasil dijatuhkannya. “Bicara begitu lagi pada kekasihku akan kubunuh kau.”

Dua pria lain terkejut, tak terkecuali dengan Soomi. Gadis itu –yang sejak tadi mendekap tas dan blazer Taehyung- makin mengeratkan dekapannya. Dia bergerak mundur beberapa langkah hingga dua pria tua yang mengganggunya tadi tidak akan bisa menjangkaunya dengan mudah.

“Kalau kau ingin bermain dengan seorang gadis, carilah mereka di tempat karaoke. Jangan di sini! Dan jangan ambil milikku wahai para ahjussi brengsek!”

Taehyung pun langsung menyerang dua pria sisanya dengan brutal. Mampus. Taehyung akan sangat mengerikan saat emosinya sedang ada di puncak. Dia memang tidak terbiasa berkelahi atau belajar bela diri, tapi di saat amarah sudah menyelimutinya, dia bisa menjadi seseorang yang ganas sekali dalam medan pertarungan. Dia yang semula lembut seperti marmut, akan tiba-tiba garang seperti singa. Tidak aneh, tiga ahjussi  itu pun tumbang setelah 10 menit berlalu. Taehyung menatap tajam ketiganya.

“Sekali lagi kalian mendekati kekasihku, kalian akan benar-benar kubunuh.”

Para ahjussi itu langsung berlarian meninggalkan area sekolah. Setelah bayangan mereka hilang, Taehyung pun menghela napas dan terjatuh di aspal.

“Taehyung-a!!”

Soomi buru-buru menghampirinya dan berlutut di sampingnya. “Kau baik-baik saja? Taehyung-a….”

Taehyung tidak pingsan. Dia sepenuhnya sadar dan matanya kini bergulir dari lampu jalan ke wajah Soomi. Tangan kanannya terangkat, berhenti ketika sudah menyentuh pipi Soomi.

“Kenapa kau sangat menyusahkan, huh?”

Cairan bening kembali menggenangi kedua netra cantik Soomi. Kurang dari sedetik hidungnya sudah memerah. “Maafkan aku….”

“Bodoh. Kau tidak perlu minta maaf.”

Dan setetes air mata jatuh ke pipi Taehyung. “Tapi….”

“Hei, hari ini aku tidak membawa susu pisang, berhentilah menangis.”

Soomi pun mengucek kedua matanya. “Bohong. Kau membawa satu.”

“Tidak.”

“Benar. Kau menyuruh Yoongi memberikannya padaku ‘kan?”

Taehyung terdiam sejenak. Mengamati wajah Soomi lamat-lamat kemudian menghela napas. “Ya, kau benar. Itu dariku. Apakah Yoongi yang bilang?”

Soomi menggeleng. “Melihat dari kotaknya aku tahu kalau itu adalah darimu. Kau selalu menuliskan huruf T di bawah kotaknya.”

Pria itu bangkit duduk, kemudian mengambil alih blazer-nya dari tangan Soomi dan memakainya. Dia terus menatap Soomi tanpa sedikitpun niat untuk melihat yang lain.

“Kau mengenalku dengan baik.”

Soomi tersenyum, dan dengan tiba-tiba menyerang Taehyung dengan pelukan. “Terima kasih sudah menyelamatkanku hari ini. Kau salah, kau tidak brengsek. Yang brengsek adalah mereka.”

Cukup lama bagi Taehyung untuk membalas pelukan itu. Dan begitu ia membalasnya, dia justru menangis. Hal itu membuat Soomi terheran-heran, tapi dia tidak bisa melihat wajah Taehyung karena Taehyung melarangnya untuk melepaskan pelukan.

“Lima menit saja kumohon.”

Ucapan itu membuat Soomi tersenyum sambil berkata, “menangislah sepuasmu.”

Advertisements

One Reply to “Stereotype #13”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s