Freak Hwarang #15

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter

“Oh Sena! Yaa! Tunggu aku!” teriak Namjoon yang selalu berada di belakang Sena meskipun dia sudah mengerahkan nyaris seluruh energinya. “Aish, anak itu cepat sekali sih larinya.”

Sena sendiri sama sekali tidak peduli dengan panggilan Namjoon. Kepalanya sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada Jimin. Bagaimana kalau Jimin sampai membuat keributan dengan Ro? Bagaimana kalau nanti bukannya Ro yang jatuh tapi malah Jimin? Sssh, dia khawatir kalau pangeran berpipi tembem itu akan terluka.

Saking sibuknya dengan pikiran-pikirannya, Sena sampai tidak sadar kalau di depannya terdapat akar pohon besar yang menghalangi jalan. Tahu-tahu kakinya tersandung dan BRUK!

“Jabrik!” teriak Namjoon yang langsung mempercepat larinya. Setelah di dekat Sena, dia pun berjongkok untuk menyejajari levelnya dengan gadis itu.

“Kau baik-baik saja? Eomma! Lututmu berdarah. Ah eotteohke???

Padahal Sena yang berdarah tapi Namjoon yang bingung. Dia menoleh ke kanan kiri mencari bantuan. Tapi siapa juga yang akan tinggal di hutan belantara malam-malam seperti ini? Hanya terdengar suara desis-desis dedaunan yang bergesekan dengan angin. Bukannya malah tenang, yang ada Namjoon justru merinding. Dengan bantuan cahaya kunang-kunang yang dibawanya di sebuah kantung kaca, ia pun kembali memperhatikan gadis itu.

Sena yang sejak awal hanya peduli Jimin Jimin dan Jimin, tanpa memikirkan rasa sakitnya, ia pun berusaha berdiri sendiri. memang bisa sih, sayangnya dia tidak bisa lagi berjalan dengan cepat seperti sebelumnya.

“Yaa, yaa, naik ke punggungku sekarang.”

Tahu-tahu Namjoon sudah berada di depannya sambil memamerkan punggungnya yang lebar. Dahi Sena mengernyit.

“Aku tidak butuh. Kakiku masih bisa dipakai.”

“Aish! Naiklah saja! Kalau kau berjalan seperti itu, yang ada kita akan sampai di tempat besok malam!” Namjoon menghela napas untuk mengurangi emosinya. “Sekarang naiklah. Kau tidak mau ‘kan hewan-hewan buas di malam hari mengintaimu karena bau darahmu dan jalanmu yang seperti siput itu? Mumpung aku sedang baik jadi lebih baik—”

Kalimat Namjoon pun terputus karena Sena tiba-tiba saja melingkarkan lengan di lehernya. Oke. Dia segera berdiri, menyelipkan kedua tangannya di lipatan kaki Sena lalu menyerahkan kantung kunang-kunangnya pada gadis itu. “Kau yang pegang.”

Dan mereka pun pergi ke tujuan dengan seperti itu.

Sena mengeratkan pelukannya saat angin malam yang dingin tiba-tiba menerpa kulit tubuhnya yang tidak terlindungi kain. Astaga, dingin sekali. Bahkan berada di kandang biri-biri saja tidak sedingin ini.

Namjoon berhenti sebentar untuk membenarkan letak Sena yang melorot. “Makanmu banyak tapi kau ringan juga ya.”

“Aku makan banyak untuk menyimpan energi. Kau lupa kalau setiap harinya aku harus melatih para wolfdog?Aku makan banyak hanya untuk mereka.”

Namjoon tersenyum tipis. “Tidak heran.”

“Kau sendiri … kau sendiri kenapa bisa setinggi ini? Apa di istana kau menghabiskan semua susu sapi yang tersedia saat kalian masih kecil?”

Mendengarnya membuat laki-laki itu gagal menahan tawa. “Ironi sekali itu, nona. Jujur saja, aku tidak begitu suka susu sapi. Saking tidak sukanya ibuku sampai membelikanku susu soya yang harganya dua kali lipat lebih mahal dari susu sapi.”

“Wah … kau ini benar-benar orang yang menggambarkan kata ‘mewah’ ya?”

“Bukankah sudah pernah kubilang sejak awal?”

“Masa? Ah, aku lupa.”

Namjoon lagi-lagi berhenti untuk membenarkan letak Sena di punggungnya. “Aku baru sadar kalau kau ini adalah tipe gadis yang spontan.”

“Ng? Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

“Kau selalu bertindak tanpa pikir panjang. Sekarang saja contohnya. Tanpa membawa perlengkapan apa pun kau langsung pergi mencari Jimin padahal kau sendiri tahu kalau di sini bukan kota, tapi hutan. Memangnya kau punya kemampuan seperti mata kucing, huh? Kalau saja kau tersesat di hutan, bagaimana? Yang ada bukan Jimin yang harus kukhawatirkan tapi kau. Lihatlah, bahkan kau juga sangat ceroboh. Sudah tidak bawa apa-apa, tidak lihat-lihat jalan, kakimu jadi berdarah ‘kan? Lalu bagaimana kalau aku tidak mengikutimu? Bisa-bisa kau pulang tinggal nama.”

Celotehan panjang lebar Namjoon menjadi hiburan tersendiri bagi Sena dalam perjalanan mereka menuju desa terdekat. Tch, barusan itu Namjoon mengomel karena kesal atau mengomel karena perhatian? Beda tipis mungkin ya. Sena yang sudah kelewat gemas tak kuasa menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi laki-laki itu.

“Kau ini lucu sekali, Namjoon. Tch, ternyata fisik sangat menipu ya. Kau tidak semengerikan wajahmu.”

Niat awal yang hampir tersipu mendadak berubah haluan menjadi tersinggung. “Jadi maksudmu wajahku mengerikan?!”

“Dulu. Tapi sekarang kau imut sekali.”

Namjoon pun tersenyum sampai lesung pipinya terlihat. “Itu baru keren.”

Tak jauh dari mereka, sebuah cahaya berwarna oranye perlahan mendekat. Namjoon langsung berhenti. Sena yang ada di punggungnya memicingkan mata, berusaha melihat lebih jelas apa yang sedang mendekati mereka itu.

“A-apa itu grim reaper?” bisik Namjoon takut-takut sambil bergerak mundur.

Sena meskipun sudah 19 tahun menjadi anak hutan, tetap saja takut juga melihat yang seperti itu malam-malam seperti ini. Mana makin lama cahaya itu makin dekat dan terlihat sekali kalau cahaya itu melayang di udara.

“A-a-aku tidak yakin. T-tapi mungkin saja.”

Namjoon melirik Sena terkejut. “Jadi kau juga tidak tahu kalau di hutan ada grim reaper?”

“Sudah kubilang aku tidak yakin. Kau pikir aku ini tarzan yang suka berkeliaran di hutan malam-malam sendirian?”

Namjoon mencelos. Mampus sudah kalau ternyata cahaya itu benar milik grim reaper. Apakah hidupnya akan berakhir malam ini juga? Jadi dia akan mati sebelum bisa menemukan jodohnya? Oh my! No! Dia tidak mau mati sekarang.

“Dalam hitungan ketiga kita akan lari. Satu….”

“Dua….”

“Ti… ga!”

“Namjoon hyung!!”

Namjoon yang sudah berlari ke jalur yang semula ditempuhnya, reflek berhenti dan berbalik saat mendengar suara itu.

“Taehyung?” gumam Sena mewakili pikirannya.

Dan saat cahaya oranye itu makin dekat, mereka pun akhirnya bisa melihat siapa yang datang. Itu Kim Taehyung dan Park Jimin, pangeran kelima dan keenam yang terkenal sebagai duo sejati. Sementara cahaya oranye itu berasal dari obor yang dipegang Taehyung. Melihat dua pangeran itu di depan mata, Namjoon menemukan sesuatu yang ganjil.

“KALIAN HABIS BERKELAHI?!”

Teriakan keras Sena otomatis membuat Namjoon berjengit kaget. Mendadak telinganya berdengung karena suara keras barusan.

Taehyung dan Jimin yang memang kembali dalam keadaan babak belur pun hanya mengatupkan bibir rapat-rapat. Sena turun dari punggung Namjoon, berjalan mendekati duo itu dengan langkah sedikit pincang.

“Apa kalian baru saja berkelahi dengan Ro?”

Pertanyaan yang tepat sasaran itu membuat dua laki-laki tersebut langsung menunduk. Kedua mata Sena membelalak sangat lebar melihat tingkah mereka sekarang.

“Jadi karena itu kau tiba-tiba keluar dari pondok, Park Jimin?!”

Jimin mengangguk. Mata sebelah kanannya bengkak dan sudah nyaris berubah warna. Ia bahkan tidak bisa membuka matanya dengan baik.

“Kalian—” Sena pun batal mengarahkan tamparannya pada wajah Jimin. Tidak. Tidak sekarang. Kalau dia memukul mereka sekarang, bisa-bisa mereka sekarat di sini. Ia pun menghela napas.

“Aku tidak tahu alasan kenapa kalian seperti ini, tapi yang pasti, ini adalah yang terakhir kalinya. Mengerti? Kalau sampai kalian berkelahi lagi dengannya, aku akan menendang kalian pergi dari pondokku. Apa pun alasannya, kalian tidak boleh memukulnya, arasseo?”

Dua lelaki itu mengangguk syahdu. Sena menghela napas lagi, kemudian merentangkan kedua tangannya sambil mendekat. Dipeluknya Jimin dan Taehyung dalam sekali rengkuhan.

“Aku bicara begini bukan untuk melindungi laki-laki brengsek itu. Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian, pangeran. Selama kalian tinggal di rumahku, kalian adalah tanggung jawabku. Jadi … kumohon, ini adalah yang terakhir kalinya. Arasseo?”

.

.

Pangeran lain yang di pondok ternyata sudah menunggu di depan gerbang. Mereka langsung berlarian mendekat ketika empat orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga.

“Ada apa dengan wajah kalian?” tanya Jungkook saat dilihatnya wajah Taehyung dan Jimin yang nyaris hancur. Hampir saja dia tidak mengenali mereka berdua.

“Nanti saja menjelaskannya. Kaja, aku akan mengobati lukanya,” ujar Hoseok yang langsung mengambil alih obor di tangan Taehyung lalu mengajak mereka termasuk Jungkook untuk masuk ke pondok.

Sementara Seokjin membantu Sena untuk berdiri setelah turun dari punggung Namjoon. Ia meringis kecil melihat luka di lutut Sena. “Aku terkejut melihatmu pulang tanpa ada bekas luka hewan buas di tubuhmu. Darahmu pasti sangat bau sampai-sampai mereka saja enggan mendekatimu.”

Bukannya tersinggung, Sena justru tertawa. Dia memukul lengan Seokjin pelan lalu menautkan tangan mereka. “Bantu aku berjalan, Oppa.”

Seokjin membeku.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Senyum secerah sinar mentari pagi pun muncul di wajah tampannya. Rasa-rasanya dengan hanya melihat senyum itu saja, Sena merasa kalau hari sekarang sudah pagi.

“Mau kugendong juga?”

Gadis itu langsung menggeleng. “Jalan saja.”

Arasseo. Pegangan yang erat, eo?”

Sena tersenyum geli dan mereka pun berjalan menyusul Hoseok, Jungkook dan duo forever yang sudah duluan ke pondok. Menyisakan Namjoon dan Yoongi yang hanya berdiri saja seperti orang tak niat hidup.

Hyung, bantu aku jalan juga~” pinta Namjoon manja sambil pasang wajah memelas yang ironisnya gagal total.

Dengan ekspresi mengantuk bercampur kesal bercampur datar bercampur tak peduli, Yoongi pun berbalik dan melenggang pergi begitu saja.

Namjoon menghela napas.

Arasseo, aku bisa jalan sendiri. Aku tidak butuh bantuan siapa–siapa.”

Ia pun mengikuti kemana Yoongi pergi. Tanpa sedikitpun menyadari bahwa sejak tadi—ralat, maksudnya sejak kedatangan mereka kemari, beberapa ekor drone berukuran mikro mengikuti mereka kemana pun dan merekam apa pun yang mereka lakukan.

TBC

 

Advertisements

2 Replies to “Freak Hwarang #15”

  1. Wah daebak ternyata udah d update,,maklum beberpa hari ini sinyal lg jelek,buka internet susah..para pangeran sdh mulai naksir sm sena..yuhuuuuu..tinggal hoseok sm jongkook aja lg yg blm kepincut sm sena hihihi…ternyata namjoon pengen dpt jodoh…tumben2 sena bilang namjoon itu imut..sebenarnya sena itu siapa sih thor jd bingung, apa sena itu memang bagian dr istana ato putri yg hilang…semoga selalu cepat d update ya..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s