Swag Couple Series [#13 Who are You (2)]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

previous chapter

Kami makan ramen di sebuah minimarket. Awalnya gadis yang masih belum kutahu namanya itu berniat mentraktirku. Tapi aku menolak dengan alasan tidak mau merepotkannya.

Padahal yang benar, aku tidak suka ditraktir oleh orang asing apalagi dia seorang perempuan. Karena itu akan menjatuhkan harga diriku.

Sambil menunggu ramennya matang, aku pun menatapnya sekali lagi untuk memancing daya ingatku soal ‘apakah aku pernah mengenalnya di masa lalu’.

Serius aku tak ingat apa-apa tentang masa taman kanak-kanakku. Beberapa adegan hanya berkelebatan di kepalaku tanpa urutan kronologis yang jelas. Mungkin saja dia teman masa taman kanak-kanakku, atau bisa juga tidak. Di masa itu tidak ada yang spesial selain ingatan tentang Yoonji yang pernah memutuskan tali tasku gara-gara dia tidak mau kutinggal sekolah.

Di sekolah dasar pun, aku tidak pernah dekat dengan anak-anak perempuan. Aku lebih banyak bermain bersama teman sejenis dan mulai sibuk menjaga Yoonji setelah dia masuk kelas 1. Kalaupun ada momenku bersama seorang gadis, orang itu tak lain tak bukan adalah Chae Hyunra. Seseorang yang pernah mengganggu pikiranku di kelas 6 dan akhirnya kukirimi dia sebuah surat yang menyuruhnya untuk pindah sekolah saja.

Jahat?

Sudah biasa.

Toh aku begitu bukan karena membencinya. Setelah bertahun-tahun kemudian, aku baru sadar kalau saat itu aku merasakan apa yang namanya cinta pertama.

Hehe, sangar ‘kan?

Ingatanku saat duduk di SMP masih sangat segar. Mulai dari hari pertama aku masuk sekolah sampai aku lulus, semuanya terekam baik di memoriku. Aku yang mulai iseng merokok. Aku yang jadi suka memukul orang yang berani mengganggu Yoonji. Aku yang mulai bandel membolos ke warnet. Dan aku yang sering mengusili adikku karena penasaran soal tubuhnya.

Ekhem. Yang terakhir itu, aku sedang khilaf. Tolong maklumi, aku ini laki-laki.

Tapi, di semua ingatanku itu tidak ada sama sekali siluet gadis yang sedang duduk di hadapanku ini.

Dia bukan teman sekelasku.

Bukan kakak kelasku.

Bukan adik kelasku.

Bukan orang yang pernah kusuka juga.

Tapi bagaimana bisa dia tahu namaku dan seolah mengerti semua tentangku?

Dia menjatuhkan pandangannya padaku. Yang masih tidak kumengerti, kenapa dia selalu tersenyum setiap kali kami bertemu tatap?

“Ah ya, karena tadi kau bilang kau tidak mengenalku, maka aku akan memperkenalkan diri. Namaku Oh Sena. Usiaku sama denganmu, kok. Panggil saja Sena.”

Aku tidak butuh informasi tentang usianya. Yang benar-benar kubutuhkan sekarang adalah….

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Lagi-lagi dia tersenyum. Jangan-jangan dia menganggap pertanyaanku tadi lelucon atau ada tulisan ‘PELAWAK’ besar-besar di dahiku?

“Jadi kau benar-benar tidak ingat aku ya.”

“Aku sudah mencoba mengingat masa-masa kecilku sampai sekarang tapi aku sama sekali tidak mengingatmu.”

Dia meneguk air mineralnya. “Kupikir selama ini kau memikirkanku juga karena aku selalu memikirkanmu. Kau tidak ingat insiden rokok?”

“Insiden rokok?” Aku mengerutkan dahi.

Apakah di dunia ini ada insiden yang seperti itu? Insiden rokok? Insiden seperti apa kira-kira?

“Kau pernah merokok di atas pohon.”

Um? Jadi hanya karena itu makanya terjadi insiden?

“Dan rokokmu itu jatuh ke bawah tepat di kepalaku saat aku sedang menangis di sana.”

“HE?! Serius aku pernah melakukan itu?!”

Mataku mengerjap-ngerjap tak percaya. Jadi dia mengenalku gara-gara insiden itu? Waw … entah ya. Aku harus tidak percaya pada yang mana. Dia mengenal dan mengingatku karena insiden itu, atau soal aku yang lupa kalau aku pernah menjatuhkan rokokku di atas kepala gadis asing.

“Lalu bagaimana reaksiku saat aku sadar kalau aku sudah menjatuhkan rokok ke kepalamu?”

“Kau meminta maaf ala kadarnya.”

Waw … dia bicara seperti itu dengan ekspresi lugu seperti yang sering diperlihatkan Park Jimin. Jadi maksudnya, aku hanya asal meminta maaf lalu meninggalkannya dan dia sama sekali tidak marah?

Pantas aku tidak mengingatnya. Ternyata insiden itu memang tidak penting buatku.

Astaga, jahatnya kau, Min Yoongi.

“Kepalamu … bagaimana?”

“Ada pitak kecil di bagian tengah sampai sekarang.”

Heol! Pitak?!

Oh my Lord! Sepertinya kesalahanku ini besar sekali padanya. Gobloknya kenapa aku pakai lupa segala?

Sekarang aku merasa sangat bersalah karena sudah melupakannya.

“Tapi kau tidak apa-apa ‘kan? Tidak sampai divonis botak ‘kan?”

Bukannya menjawab dia justru terkekeh. Sekarang aku sangat yakin kalau di dahiku tertulis kata ‘PELAWAK’ dengan font Arial ukuran 70.

“Tidak. Tidak sampai seserius itu kok. Keluargaku tidak punya riwayat botak. Tenang saja.”

Aku pun menghela napas lega. Untunglah.

Kemudian, aku teringat sesuatu.

“Oh ya, jadi bagaimana ceritanya aku bisa menjatuhkan rokok ke atas kepalamu? Aku yakin kalau kau ini bukan teman satu sekolahku. Bisakah kau jelaskan padaku siapa kau sebenarnya?”

Dia membuka penutup gelas ramennya. “Sepertinya sudah mulai mengembang. Bagaimana kalau makan dulu?”

.

.

Aku menyetujui ajakannya jalan-jalan di pinggir sungai sambil melihat lampu warna-warni dari jembatan yang melintang di atas sungai.

Ini sudah pukul 8 malam.

Kukirim pesan pada Yoonji, yang dibalasnya dalam hitungan menit.

Aku sudah di rumah sekarang.

Bagus, anak baik.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, aku pun menyelipkan ponselku dalam saku celana.

“Aku memang bukan teman sekolahmu.” Seseorang di sampingku mulai bicara. Aku meliriknya sekilas.

“Lalu?”

“Kau tahu ‘kan sekolah khusus wanita yang dekat dari SMP-mu? Aku bersekolah di sana. Di angkatan yang sama denganmu.”

“Lalu bagaimana kau bisa sampai ada di bawah pohon belakang sekolahku? Kudengar tempat itu angker. Berani juga ya kau menangis di sana.”

Dia tersenyum kecut. “Tidak ada tempat lain yang bisa kutuju selain tempat itu. Hanya di sanalah aku tidak akan dilihat siapa pun kalau aku menangis. Tak tahunya sudah ada kau duluan di sana.”

“Itu memang tempat favoritku.” Setiap kali aku ingin merokok, aku pasti ada di sana lebih tepatnya berbaring santai di ranting pohon sambil menonton induk burung yang sedang memberi makan anak-anaknya. Pohon yang katanya berhantu itu sebenarnya hanya mitos. Selama aku di sana aku tidak pernah melihat sesuatu yang aneh muncul.

“Aku tahu. Setelah hari itu aku selalu melihatmu di sana.”

“Tapi aku tidak melihatmu lagi setelah hari itu.”

Kami pun bertemu pandang. “Itu karena aku melihatmu dari jauh. Aku selalu datang ke sana setelah hari itu untuk memastikan apakah kau ada di sana atau tidak.”

“Kenapa tidak temui langsung saja? Apa maksudmu kau sedang memata-mataiku?”

Otomatis dia menggeleng dengan wajah panik. “Aku tidak bermaksud memata-mataimu.”

“Lalu apa namanya? Kalau seseorang selalu mengikuti orang lain diam-diam, kemungkinannya adalah orang itu sedang menjadi mata-mata atau menyukai orang tersebut. Jadi kalau kau bukan di kubu pertama … itu artinya—”

Wajah bersemunya membuatku yakin kalau dia berada di opsi kedua.

Oke.

Sekarang aku paham kenapa dia mengingatku sampai sekarang dan bagaimana dia tahu beberapa hal tentangku.

Aku pun menghela napas.

Kenapa ya perasaanku jadi tak menentu. Harusnya aku senang karena ada yang menyukaiku sejak lama. Tapi, sedikitpun perasaan senang itu tidak ada.

Dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku yang otomatis membuatku ikut berhenti.

Untuk beberapa saat dia menatapku.

Dia cantik.

Tapi masih kalah cantik dari Yoonji.

Aku suka matanya yang lebar itu.

Alisnya yang tebal.

Bibirnya yang penuh.

Dan hidungnya yang merah efek kedinginan.

“Maukah kau jadi pacarku?”

Aku mengerjap. Apa katanya? Pacar?

Dia menembakku?

Kepalanya tertunduk saat aku tak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Maaf, mungkin aku terlihat rendah di matamu. Tapi, aku benar-benar sangat menyukaimu sejak lama. Dulu aku tidak berani mendekatimu karena aku adalah anak panti asuhan. Aku tidak mau kau ikut dikucilkan sepertiku karena mengenalku. Tapi … sekarang aku sudah punya orangtua angkat. Aku bukannya tidak melupakanmu. Aku sudah mencoba. Aku tahu kalau menyukaimu sama saja seperti berharap pada waktu yang sudah berlalu akan terulang kembali. Dan akhirnya aku gagal karena saat bertemu denganmu tadi aku sadar kalau aku tidak bisa melupakanmu. Maaf.”

Oke, sekarang aku harus memutuskan apakah aku akan menjadi laki-laki yang baik atau laki-laki yang jahat.

Aku bisa menjadi laki-laki yang baik jika menerimanya.

Sayangnya, aku tidak menyukainya.

Atau aku menjadi laki-laki jahat yang menolaknya.

Dan akan menyakiti hatinya karena sudah mematahkan harapannya yang telah menyukaiku sejak lama.

Dua keputusan sulit tanpa ada satu alternatif keputusan lain harus kupikirkan dalam jangka waktu yang cepat.

Dan aku pun memilih salah satu diantara dua keputusan itu.

“Maaf. Aku tidak punya perasaan yang sama padamu.”

Right, aku memang laki-laki yang jahat.

Meskipun statusku single sejak lahir, aku tidak akan menerima begitu saja seseorang yang bahkan belum kukenal dengan baik.

Aku tidak suka, dan tidak bisa.

TBC

Advertisements

2 Replies to “Swag Couple Series [#13 Who are You (2)]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s