Stereotype #14 [Final Chapter]

ohnajla || romance, schoollife, drama, friendship, family || Teen || chaptered

Suga aka Min Yoongi (BTS)

V aka Kim Taehyung (BTS)

Oh Sena & Lee Soomi (OC)

Kihyun aka Yoo Kihyun (Monsta X)

Minhyuk aka Min Minhyuk (Monsta X)

**

Previous Chapter

Sena POV

UAS berlalu begitu cepat. Buku rapor dibagikan. Seperti biasa, appa yang mengambil raporku. Sambil menunggu, aku dan Soomi beserta Taehyung –yang ternyata mereka berdua sudah berbaikan- pun menyibukkan diri di rooftop. Taehyung membawa banyak sekali susu pisang, susu pisang itu berasal dari toko ibunya. Sebenarnya aku tidak suka susu pisang tapi mereka memaksaku untuk ikut menghabiskan. Ya sudah, kuhabiskan saja. Lumayan, gratis.

“Ah! Aku baru ingat sesuatu.”

Seruan Soomi langsung membuatku menoleh. Begitu juga dengan pacarnya.

Soomi menatapku lamat-lamat. “Aku baru ingat sesuatu tentang susu pisang.”

Aku memutar bola mata. Pasti dia akan mendongeng tentang kisah cintanya dengan Taehyung.

“Kau tahu? Waktu itu, di hari pertama UAS, aku menangis karena orang ini.”

Kulirik Taehyung yang hanya cengar-cengir seperti orang bodoh. Ralat! Dia memang orang bodoh.

“Rencananya aku mau pergi ke rooftop, tapi pintunya dikunci jadi aku tidak bisa masuk. Jadi, aku menangis di depan pintunya.”

“Ah … jadi waktu itu rooftop-nya dikunci?” tanya Taehyung. Soomi mengangguk semangat.

“Dan saat aku menangis, seseorang datang.”

Ingin sekali aku mencubit pipi Soomi karena setiap dia cerita dia selalu cara berhenti di saat-saat paling menegangkan. Mungkin itu taktiknya agar orang yang diajaknya bicara makin penasaran dengan jalan ceritanya.

“Dan kau tahu siapa itu?”

Aku menggeleng.

“Min Yoongi!”

“Uhuk!” Sial Lee Soomi. Seruannya itu jauh lebih mengejutkan daripada kemunculan hantu wanita dalam film-film horor.

“Dia memberiku susu pisang ini. Lalu aku tanya, ‘kenapa kau bisa ada di sini?’.”

“Lalu apa jawabannya?” tanyaku. Sepertinya Soomi berhasil memasukkanku ke dalam perangkapnya.

“Cepat ambil atau kubuang.”

Aku dan Taehyung pun otomatis tertawa. Itu khas Yoongi sekali.

“Lalu aku memarahinya dan memaksanya untuk menjawab. Kalian tahu apa jawabannya?”

Dia benar-benar membuatku penasaran setengah mati.

“Kupikir kau Sena jadi aku mengikutimu.”

.

.

.

“Dia bicara begitu?!!” teriakku. Aku tidak tahu kenapa aku harus berteriak.

“Tapi ada yang lebih mengejutkan dari itu, Sena. Saat kutanya kenapa dia berpikir kalau aku adalah kau, dia bilang kalau kita itu mirip. Dan lagi, saat kutanya ‘kalau seandainya aku adalah Sena, kenapa kau mengikutiku?’, dia justru bilang ‘memang tidak boleh?’. Oh astaga, rasanya darahku sudah mendidih saja.”

“Kau yakin dia bicara begitu?” tanyaku memastikan.

“Lagi pula kenapa juga aku berbohong?” Soomi kembali menyesap susu pisangnya.

Ya, Soomi tidak pernah berbohong padaku. Tapi, benarkah apa yang dikatakannya barusan?

“Aku bilang padanya untuk berbohong dengan cara apa pun tapi aku tidak tahu kalau dia akan menyebut namamu. Kurasa kalian jauh lebih dekat dari yang kubayangkan.”

Kalimat Taehyung sukses membuatku teringat akan kenangan-kenangan kami berdua. Pantaskah kusebut kenangan? Entahlah. Yang pasti aku selalu memikirkan hal-hal itu saat aku sedang menulis. Kenangan-kenangan yang telah berkontribusi besar pada tulisan-tulisanku di blog.

“Kudengar kalian tetangga. Kenapa tidak pernah mengajak kami ke rumahnya? Kihyun saja ke rumahnya, masa teman sekelasnya tidak?”

Aku menoleh pada Soomi. “Aku tidak berhak mengajak siapa pun ke rumahnya. Kalau kalian mau, kalian harus meminta ijinnya dulu.”

“Taehyung-a, nanti kau minta ijin padanya, eo?

Taehyung langsung melotot. “Kenapa aku?”

“Kau teman sebangkunya. Masa iya harus aku?”

“Tapi itu idemu, harusnya kau sendiri yang maju.”

“Aish pria ini. Kalian itu sama-sama pria, setidaknya dengan begitu dia tidak akan terlalu curiga.”

Yaa yaa yaa! Berhenti adu mulut di depanku. Oke, biar aku saja yang meminta ijinnya.”

Taehyung dan Soomi saling pandang, tersenyum misterius dan TOS! Aku memutar bola mata. Sekarang mereka berdua sudah benar-benar berhasil menjebakku.

Rangking satu berhasil kuraih lagi. Nilai matematikaku sempurna, bagus sekali. Appa harus pergi ke kantornya jadi aku terpaksa pulang sendirian. Tidak merasa kecewa juga sih. Toh aku harus bicara pada Yoongi dulu, meminta ijinnya untuk membawa Soomi dan Taehyung ke rumahnya.

“Tidak masalah,” jawabnya. “Mereka bisa datang kapan pun asal saat di rumah sedang tidak ada orang selain aku.”

Senyumku pun mengembang. Mereka berdua pasti senang mendengar ini.

Tapi, senyumku tidak bertahan lama. Kulihat Yoongi membuka-buka buku rapornya dengan malas.

“Tidak ada yang mengambil rapormu?”

Ia pun langsung menutup buku itu. “Abeonim yang mengambilkannya untukku.”

Abeonim, itu panggilan Yoongi pada ayahku. Aku tidak tahu kalau ternyata appa juga mengambilkan milik Yoongi. Huft … pasti ayah dan ibunya yang meminta appa untuk menggantikan mereka.

“Rangking berapa?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Sama sepertimu.”

Pasti di urutan terakhir.

“Kau dijemput?”

Dia menggeleng. “Abeonim memintaku menemanimu pulang. Kaja.”

Taehyung dan Soomi benar-benar datang ke rumah Yoongi. Saat Yoongi membuka pintu, ekspresinya tampak biasa-biasa saja. Tidak dingin seperti di sekolah, atau terlalu senang. Dia pun membiarkan kami masuk. Kami bertiga terkejut saat melihat Kihyun sedang ada di ruang tengah, bermain Nintendo.

“Oh hai!” serunya ceria. Mungkin dia lupa kalau sekarang dia tidak memakai kacamata Harry Potter dan coconut head lagi. Kulirik sepasang manusia di sebelahku, mereka sepertinya nyaris mati berdiri.

“Masuklah dan duduk,” ujar Yoongi mengejutkan mereka. Aku tersenyum melihat Soomi dan Taehyung yang berjalan ke sofa dengan kaku seperti robot. Mereka masih belum bisa berpaling dari style metal Kihyun sekarang.

Sementara aku sendiri pergi ke ruang makan bersama Yoongi untuk mengeluarkan semua hidangan makan malam yang kubawa dari rumah. Eomma menyiapkan banyak. Itu karena kubilang kalau Soomi dan Taehyung akan ikut datang ke rumah Yoongi. Sebenarnya eomma tidak perlu susah payah menyiapkan semua ini, toh aku yakin sebelum kemari mereka pasti sudah makan.

“Kau sudah tahu kalau dua hari terakhir liburan musim panas kita akan melakukan karyawisata ke Jeju?”

Ucapan Yoongi membuatku menoleh. “Karyawisata?”

Dia mengangguk. “Tidak wajib sebenarnya. Kalau kau mau ikut kau harus meminta ijin orangtua dulu.”

Aku pun berdehem. “Kau sendiri ikut tidak?”

“Entahlah. Lihat saja kondisi.”

Diam-diam aku meliriknya. Ugh … kenapa mendadak pipiku panas? Apa mungkin karena ini musim panas pertama jadi hawa di sini juga ikut panas? Aku baru sadar, Yoongi mengecat rambutnya menjadi warna mint. Warna itu sangat cocok sekali dengan warna kulitnya –sekaligus sangat cocok dengan aroma khasnya. Dia pasti mengecat rambut karena mulai hari ini sekolah sedang liburan. Tapi entah kenapa, aku suka sekali dengan warna itu.

Setelah menata makanan, kami pun bergabung dengan yang lain di ruang tengah. Taehyung ternyata sudah asyik bermain Nintendo bersama Kihyun. Sementara Soomi menonton mereka sambil meneriakkan nama mereka berdua. Mungkin dia dilemma harus menyemangati siapa. Yoo Kihyun sebagai mantan teman sekelasnya atau Kim Taehyung sebagai kekasihnya. Lagi-lagi aku baru sadar, Kihyun ternyata mengecat rambutnya juga menjadi pink. Oh astaga, sepertinya mereka berdua memang janjian untuk mewarnai rambut dengan warna terang.

Menikmati sejenak keseruan bermain game di sana, kami pun makan setelah perut mulai lapar. Aku dan Soomi, sebagai perempuan di sini mungkin tampak tidak peduli dengan yang namanya berat badan, keanggunan atau apalah itu. Kebiasaan makan kami di rumah terbawa sampai kemari. Dan itu menjadi tawa tersendiri bagi Kihyun.

“Hidup kalian paaaasti menyenangkan sekali, nona-nona. Gadis-gadis di sekitarku selalu saja makan dengan cantik tapi kalian justru tidak.”

“Jangan samakan gadisku dengan gadis-gadis yang kau maksud itu,” kilah Taehyung yang membuat Kihyun menyeringai.

Arasseo arasseo.”

“Kihyun-a.”

Kihyun pun menoleh, begitu juga aku, Taehyung dan Yoongi. Kami bersama-sama menghujani Soomi dengan tatapan bingung.

“Maaf.” Dia tersenyum tipis. “Karenaku, kau dan Sena jadi bahan pembicaraan seluruh sekolah. Rumor soal kalian berpacaran itu berasal dariku. Aku merasa bersalah sekali padamu, juga Sena. Pasti itu sangat sulit untukmu ‘kan?”

Kihyun terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Kenapa kau harus minta maaf? Dibawa santai saja. Semua ini bukan sepenuhnya salahmu, kok.”

“Ya, Kihyun benar. Itu juga salahku karena aku yang sudah membuatmu salah paham,” sambungku sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut.

“Tapi semua itu berawal dariku. Kalau saja aku bisa menahan diri untuk tidak berteriak seperti itu di kelas, kalian-”

“Hei sudahlah.” Yoongi tiba-tiba angkat bicara. “Semua itu sudah berlalu, merasa bersalah justru tidak akan menyelesaikan masalah.”

“Ya,” sambung Taehyung sambil menggenggam tangan Soomi. “Kau tidak perlu merasa seperti itu. Biarkan saja mereka kalau masih ingin menganggap seperti itu. Nanti juga mereka akan capek sendiri dan rumornya pun hilang. Sudah ya. Makan lagi. Aaaa~”

Kehangatan ini membuatku tersenyum. Ya, semua orang memiliki masalahnya sendiri. Dan masalah itu tidak akan hilang begitu saja, karena masalah-masalah lain akan datang yang kemudian membuat individu tersebut harus bertahan apa pun yang terjadi.

Selesai makan malam hari itu, kebersamaan kami belumlah berakhir. Di luar sedang tidak hujan, jadi kami pun sepakat untuk duduk-duduk di luar merayakan hari pertama musim panas.

“Hei, pakai jaketmu,” seruku pada Yoongi saat dia akan keluar hanya dengan kaos oblong dan celana pendek. Dia mendengus, lantas berbalik memasuki kamar. Keluar lagi dengan leather jacket dan celana olahraga panjang. Aku memutar bola mata?

“Kau bercanda? Maksudku pakai yang lain, jaket zipper.”

Bermaksud membungkam mulutku mungkin, dia tiba-tiba melingkarkan lengannya di leherku dan menarikku untuk segera keluar. Tak aneh, Soomi, Taehyung dan Kihyun yang sejak tadi menonton pun mendadak rusuh.

“Sepertinya akan lahir calon pasangan baru.” Soomi bersiul.

“Segeralah berpacaran dan bebaskan aku dari rumor itu!” sambung Kihyun dengan semangat.

“Dengan begitu kita berempat bisa double date. Ah, yaa, Kihyun-a, kau juga seharusnya berpacaranlah dengan seseorang. Kita akan triple date.”

Kubungkam telingaku erat-erat. Astaga, mereka bertiga jauh lebih berisik dari para penggemar K-pop saat menonton konser. Mungkin aku harus membunuh Min Yoongi nanti. Perlakuannya ini sukses membuat jantungku nyaris meledak.

Di luar, tepatnya pekarangan kediaman keluarga Min. Kami berlima duduk membentuk lingkar setan. Ah, ralat, tidak sepenuhnya setan, tapi dengan 2 malaikat, yaitu aku dan kakakku. Kupikir kami akan bermain kembang api atau menyalakan api unggun atau berbaring menatap langit, ternyata … bermain kartu. Itulah derita berteman dengan remaja pria. Taehyung memperlihatkan kebolehannya mengacak kartu.

“Aku belajar ini dari Jimin.”

Tapi, ini bukan hanya sekadar bermain kartu biasa. Pasangannya, Lee Soomi, meminta kami untuk bermain truth or dare di sela-sela bermain kartu.

Truth!” seru Soomi saat dia mengeluarkan sebuah kartu.

“Apa alasanmu mencintai Taehyung?” tanya Kihyun to the point.

“Karena di pertemuan pertama aku melihatnya berkeringat, jadi aku mencintainya!”

Kihyun tertawa heboh. Sementara Taehyung pasang tampang bodoh seolah tak menduga kalau jawaban Soomi se-luar biasa itu.

Yaa, giliranmu,” seru Yoongi pada Kihyun yang masih saja asyik tertawa. Dia sampai menangis.

Dare!”

Setelah Kihyun adalah giliranku, jadi akulah yang akan memberinya tantangan. “Ambil selca dengan wajah terjelekmu lalu posting di grup chat kelasmu dan tulis bahwa ‘aku adalah pria paling tampan se-jagad raya’.”

Kali ini Taehyunglah yang tertawa heboh. Kihyun melayangkan protes, tapi aku tetap bersikeras dengan permintaanku dan akhirnya dia pun mau. Diambilnya ponsel dari sakunya serta kacamata Harry Potter, kemudian dia ambil selca seperti yang kusuruh. Tapi bukannya jelek, selca-nya justru terlihat sangat tampan. Jadi dia pun harus mengulang-ulang sampai didapatlah satu foto yang paling jelek –itu pun setelah mendapat kursus eksklusif dari pemilik memeface aka Kim Taehyung.

Dan sekarang giliranku.

Truth.”

Yoongi terdiam sejenak. Aku yakin, dia pasti bingung ingin menanyakan apa padaku. Kulihat, yang lain juga sedang menunggu sepertiku.

“Siapa yang kau pilih jika di dunia ini hanya ada aku, Kihyun dan Minhyuk … yang harus kau … nikahi.”

Itu adalah pertanyaan yang sangat luar biasa. Baru kali ini aku mendapat pertanyaan itu dalam permainan ini dan ironisnya itu dari mulut Min Yoongi sendiri. Oh, bagus sekali. Kenapa dia harus menyebutkan nama Minhyuk dan Kihyun? Kenapa Kihyun?

“Kau tidak salah bicara?” Taehyung tiba-tiba berujar. “Kenapa Minhyuk dan Kihyun?”

Yoongi bukannya menatap Taehyung, justru Kihyun yang ada di sisi kananku. Ya, posisiku diapit oleh Kihyun dan Yoongi lagi.

“Seberapa pun pintar kau berbohong, aku tahu kau menyukai Sena, ya ‘kan?”

Pertanyaan itu sukses membuatku lebih terkejut lagi. Kutolehkan kepalaku pada Kihyun. Benarkah? Benarkah Kihyun menyukaiku? Sejak kapan?

Kihyun melirikku sebentar, kemudian menatap Yoongi sambil tersenyum. Senyuman yang sedikit dipaksakan. “Hei, bukankah seharusnya kau tidak membicarakannya di sini? Lihatlah, kau sudah merusak suasananya.”

“Kalau kau memang menyukainya, ungkapkan saja sekarang.”

“Kau ini bicara apa? Kau tidak pernah seperti ini, Min Yoongi.”

“Sena, cepat jawab sekarang. Siapa yang kau pilih antara aku, Minhyuk dan Kihyun?”

Aku sudah tahu Minhyuk menyukaiku, dan sekarang Kihyun juga. Lalu kenapa dia menyebut dirinya juga? Apakah….

“Oh astaga, ternyata kau juga menyukainya?” seru Kihyun tiba-tiba.

“Aku tidak mau ribut denganmu seperti saat sekolah dasar dulu jadi … kita tanya saja pada orangnya.”

“Hei hei, soal Namjoo itu kaulah yang salah. Dia memang sudah menjadi yeojachingu-ku, lalu tiba-tiba kau menyukainya. Bagaimana aku tidak marah?”

“Lalu kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?!”

“Aku mau memberitahumu! Tapi kau … ah sudahlah. Itu sudah menjadi masa lalu.”

Hening.

Aku pun mengambil napas, lalu menghembuskannya perlahan. “Aku tidak akan memilih siapa pun.”

Yoongi menatapku tajam untuk beberapa detik, lantas menghela napas. Ia pun mengeluarkan kartunya. “Truth.”

“Apakah kau menyukai Sena?”

Aku menatap Taehyung dengan tatapan memohon. Oh ayolah, sudah, hentikan pembahasan ini.

“Ya, aku menyukainya. Sangat-sangat menyukainya sampai rasanya aku tidak akan bisa hidup kalau aku tidak melihatnya sehari saja.”

“Kalau begitu berpacaranlah. Sena sudah pernah menolakku,” ujar Kihyun tiba-tiba.

“Maksudmu?” Akulah yang bertanya. Aku perlu tahu kapan aku menolaknya dan kapan dia menembakku.

“Di hari pertama UAS. Bukankah aku bilang ‘bagaimana kalau kita pacaran benaran’. Kau jelas-jelas menolakku.” Dia tersenyum lagi. Astaga, kenapa dia selalu tersenyum di saat-saat yang tidak pantas untuk tersenyum? Apakah ada kesalahan sistem dalam pengoperasian ekspresinya?

“Oke, sekarang giliranku.” Taehyung selain menjadi orang yang menyebalkan ternyata dia cukup berguna di situasi seperti ini. Permainan kartu itu pun berlangsung sampai menjelang tengah malam.

Aku, Soomi dan Taehyung harus segera pulang. Soomi dan Taehyung duluan, karena mereka tidak mau ketinggalan bus terakhir. Sementara aku, aku harus membersihkan rantang ibuku sebelum pulang.

Lucunya, Yoongi dan Kihyun menawarkan diri untuk membantu.

“Tidak usah. Kalian istirahatlah saja. Biar aku yang-”

“Ini pernyataan cinta kami padamu, Sena,” potong Kihyun blak-blakan.

“Pernyataan cinta apanya?” Beda lagi dengan Min Yoongi yang justru memulai kesibukan.

“Kau sudah membuat dia tahu, jadi sekalian saja. Tenang saja, ini adalah hari terakhir aku menyukai Sena jadi setelah itu kau bisa menyukainya sepuasmu.” Dan mereka berdua pun membelakangiku, menyibukkan diri dengan mencuci rantang yang kubawa. Di situasi seperti ini aku merasa seperti seorang ibu yang diperebutkan oleh dua anak kembarnya.

Begitu selesai, mereka pun mengantarku sampai pintu gerbang.

Yaa, kalian tidak perlu melakukan ini.”

Kihyun meletakkan jari telunjuknya di bibir. “Sudah kubilang ini pernyataan cinta kami ‘kan?”

Aku memutar bola mata. “Terserah.”

Di saat pintu terbuka dan aku sudah berada satu langkah di luar, tiba-tiba ponselku berbunyi. Taehyung calling….

“Ya? Ada apa?”

== “Sena-ya….”

“Ya?” Dahiku berkerut. Aku bisa mendengar suara seorang gadis menangis di sana. Entah kenapa feeling-ku mendadak buruk.

== “Soomi … Soomi….”

“Ya kenapa?!! Bicaralah dengan jelas!!” Teriakanku berhasil membuat Yoongi dan Kihyun mengelilingiku. Keduanya sama-sama memperhatikanku dengan tatapan ‘ada apa’, tapi aku mengabaikan mereka.

== “Soomi … bangkrut, ah maksudku … perusahaan ayahnya bangkrut. Sekarang aku sedang ada di depan rumahnya dan … rumahnya disita.”

BRUK!

“Sena! Kau baik-baik saja?”

Aku menatap kosong pada Kihyun. Sementara itu Yoongi mengambil ponselku. Aku tidak bisa dengar apa pun pembicaraan mereka karena tak lama setelah itu semua yang ada di depan mataku gelap.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s