Freak Hwarang #16

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter

Esok paginya, sidang dadakan pun dilaksanakan. Sena duduk di kursinya dengan kedua lengan terlipat di perut, sementara lima pangeran selain Taehyung dan Jimin berdiri di belakangnya.Duo itu sendiri sekarang sedang duduk dengan kepala tertunduk di hadapan gadis itu.

“Oke. Cukup diamnya. Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi selama kalian berada di sana,” ucap Sena yang mengacaukan ketenangan pagi itu. “Dimulai dari kau, Mochi.”

Jimin bergerak sedikit. “Joseonghammida! Aku pergi ke rumah orang itu dan memukulnya. Akulah yang memukulnya duluan.”

Sena menghela napas. “Kenapa kau memukulnya, huh? Memangnya kapan dia memukulmu?”

Pangeran nomor 5 itu menggeleng. “Tidak pernah, dia tidak pernah memukulku.”

“Lalu kenapa? Katakan alasannya.”

Jimin bergerak-gerak lagi. Merasa tidak nyaman mungkin dengan posisi duduknya sekarang. “Aku tahu dia pasti telah berbuat sesuatu padamu. Aku tahu kau menangis kemarin pasti karena dia. Aku tahu semua itu. Jadi aku datang ke sana untuk memberinya pelajaran.”

Sena mengangkat alisnya bingung. “Kenapa kau melakukannya? Maksudku … memang apa urusannya denganmu? Itu adalah masalahku dengannya.”

Yang ditanya Jimin, yang menjawab justru Taehyung. “Karena kami tidak suka melihatmu begitu karena dia! Aku sudah tahu sejak awal kalau pria itu memang brengsek. Dia bahkan mengakui sendiri kemarin kalau dia hanya menginginkan tubuhmu saja. Kau pikir kami hanya akan diam saja sementara kau dalam bahaya karenanya?”

Pernyataan Taehyung barusan sukses memukul telak Oh Sena. Dia langsung diam seribu bahasa. Terpaku memandang dua pangeran yang masih duduk tertunduk di depannya. Benarkah? Benarkah Ro yang dicintai dan dipercayainya sejak lama itu hanya menginginkan itu darinya? Lalu kenapa … kenapa Ro selama ini bersikap baik padanya seolah-olah dia bisa bersandar pada pria itu kapan pun ia mau?

“Sekali lihat saja aku sudah tahu itu di matanya.”

Kata-kata Yoongi barusan langsung menyadarkan Sena. Dia reflek menoleh ke belakang. Yoongi berdiri tepat di belakangnya dengan ekspresi dingin.

“Apa? Kau mau menyangkal? Kau masih akan memercayai orang sepertinya? Tch.” Yoongi menyeringai sambil membuang pandangan. “Bahkan meskipun Namjoon adalah pecinta film dewasa, dia tidak akan punya pikiran begitu pada seorang gadis remaja yang hidup sendirian bersama hewan-hewannya.”

Oke, sekarang sidang itu malah menjadi sidang untuknya. Sena pun menunduk. Matanya memanas memikirkan soal Ro yang selama ini telah menyembunyikan ide seperti itu. Jadi, begitukah penilaian Ro padanya selama ini? Hanya untuk tujuan laknat itu?

Di saat air matanya mulai menetes, seseorang tiba-tiba mengusap puncak kepalanya. Ia pun segera mengapus air matanya lalu mendongak. Senyum secerah sinar mentari milik Seokjin terpampang nyata di depannya. Begitu tulus dan innocent.

“Aku tahu kau juga pasti terkejut. Tapi kumohon jangan menyalahkan dirimu sendiri, eo? Kau tidak bersalah karena mencintainya. Dialah yang salah karena sudah menyalahgunakan perasaanmu.”

Selama ini Sena pikir Seokjin hanyalah anak-anak yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Tingkahnya, cara bicaranya, bahkan wajahnya itu kekanakkan sekali. Tapi … setelah kemarin dia mencoba memanggilnya dengan sebutan oppa, entah kenapa sikap Seokjin padanya langsung berubah 180 derajat. Pria itu menjadi lebih perhatian padanya, selalu ada setiap dia meminta bantuan dan yang lebih penting lagi … dewasa.

Ia seolah menemukan sosok orangtua setelah bertahun-tahun hanya hidup seorang diri.

Air matanya makin tumpah ruah, namun ada senyum di bibirnya. Ia pun memeluk pria itu. Meminjam bahu lebarnya untuk menumpahkan semua air matanya.

Seokjin sendiri hanya menepuk-nepuk punggungnya.

Yoongi membuang pandangan.

Hoseok tersenyum like proud daddy.

Namjoon menunduk untuk menyembunyikan senyum tipisnya.

Jungkook ikut menepuk punggung Sena.

Sementara Taehyung dan Jimin menggunakan kesempatan itu untuk merubah posisi duduk mereka menjadi lebih nyaman.

“Kurasa kandidat pertama yang akan lolos adalah Kim Seokjin.”

Seseorang yang diajak bicara menggeleng. “Menurutku tidak. Kandidat pertamanya adalah Kim Namjoon.”

“Tapi—”

“Aku tidak melihat itu dari seberapa dekatnya mereka. Bukankah kau tahu itu?”

Orang dengan baju baja mengangguk. “Ya, Tuan.”

Sekali lagi, orang yang memakai baju bermotif berlian mengamati 7 layar di depannya. “Ini bukan perkara mudah untuk menentukan tiga kandidat utama dari kompetisi ini. Jika kita lihat sekali lagi, sudah pasti Namjoon, Seokjin dan Jimin yang akan menjadi tiga kandidat terkuat di antara mereka. Hanya saja … bukankah hasilnya berada di tangannya? Kurasa sekarang masih belum saatnya. Bagaimana kalau kita tunggu sedikit lebih lama lagi?”

Rutinitas di pondok itu tetap berjalan seperti biasa. Jimin dan Taehyung meskipun masih belum sembuh total sudah rajin saja di kandang biri-biri. Yoongi dan Hoseok juga tidak lagi harus disuruh untuk melatih para wolfdog. Jungkook sekarang sudah tidak usil menaiki punggung Tori. Namjoon sudah bisa memerah susu Debi. Dan Seokjin tidak lagi mengajak bicara anak-anak ayam. Semuanya sempurna.

Bahkan saat hari memanen pun, mereka sudah siap dengan peralatannya masing-masing.

“Sekarang waktunya kita memanen lagi!!” pekik Sena dengan cerianya. Yang hanya dibalas dengan senyum tipis dari ketujuh pangeran itu. Meskipun tipis, sebenarnya dalam hati mereka senang juga. Hanya saja, terlalu gengsi untuk memperlihatkannya.

Sena tidak seperti biasanya memakai sebuah dress gaya retro selutut. Meskipun yah … di dalam dress-nya itu dia memakai celana pendek, jadi tidak ada kesempatan bagi tujuh lelaki itu untuk melihat apa yang ada di dalam sana. Mungkin Sena sedang ingin tampil girly di depan mereka. Semenjak kejadian dengan Ro itu, sekarang Sena ingin sekali membangun hubungan yang lebih dekat dengan pangeran-pangeran yang menurutnya rusuh tapi justru melindunginya dari marabahaya.

“Kalian masih hafal bagian-bagian kalian ‘kan? Kim Namjoon, kau jangan lagi menarik pohonnya, eo? Awas saja kalau kau merusak tanaman cabaiku lagi.”

Namjoon mendengus geli. “Entah ya. Kita lihat saja nanti.”

Giliran Sena yang mendengus geli. Kemudian dia melemparkan pandangan pada Hoseok. “Hei penakut. Kali ini aku sedang berbaik hati. Kuberi kau dua opsi. Memanen sendiri atau memanen bersamaku.”

Meskipun Hoseok gemetaran sejak tadi karena kegiatan memanen ini, tapi dia tidak akan terlihat lemah di depan Sena yang notabene adalah wanita. Ia menutupi kegusarannya itu dengan seringaian. “Aku bisa melakukannya sendiri, eo? Kau meremehkan kekuatan namja?”

Entah mengapa ekspresi Sena justru berubah.

Seokjin menyadari itu. Ia pun memberi Hoseok death glare, dan menyuruhnya untuk mengoreksi kalimatnya.

“Ah maksudku, aku ini tidak sepenakut yang kau bayangkan. Aku tidak akan mati hanya karena serangga-serangga di sana.”

Sena tersenyum, tapi jelas sekali ada unsur pemaksaan.

“Kami tidak akan membiarkan si brengsek itu datang lagi ke sini. Kalau dia benar-benar datang lagi, akan kubuat matanya buta sampai dia mati,” celetuk Taehyung setelah dia menyadari ekspresi wajah Sena yang mungkin teringat kembali pada kelakuan si bangsat itu. Entah ya, sekarang dia benci sekali pada orang itu karena telah membuat ‘si rambut jabrik’-nya menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya. Boleh dikatakan, meskipun dia tidak suka dengan penampilan acak-acakkan dan tingkah diktator Sena dulu, dia akan lebih bersyukur Sena selamanya begitu daripada harus berubah seperti ini.

“Hanya itu?” tanya Yoongi. “Untuk orang sepertinya, buta tidak akan membuatnya menyesal. Kau harus potong satu kakinya, potong satu tangannya, buat dia tuli dan bisu sekalian. Itu baru hukuman yang pantas untuk orang sepertinya.”

“Itu terlalu sadis, Hyung,” celetuk Namjoon. “Kurasa kau harus berhenti menonton film psyco mulai sekarang.”

Sena menyeringai. “Kalian tidak perlu lakukan itu. Aku percaya, suatu hari nanti dia pasti akan menerima hukumannya sendiri. Kalian tidak perlu mengotori diri kalian dengan dosa.”

Seokjin tersenyum mendengarnya. “Ya, kau benar. Dia pasti akan mendapat hukumannya sendiri. Kita tidak perlu melakukan hal itu, cukup biarkan saja dia.”

“Jadi … kapan kita mulai berkebunnya?” tanya Jungkook yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.

Sena pun tertawa ringan, menyadari kebodohannya yang sudah membuat suasana jadi sendu. “Kalian bisa mulai sekarang.”

Sambil membawa peralatan berkebun masing-masing, ketujuh pangeran itu pun berpencar. Yoongi sempat-sempatnya mengusili Hoseok yang menggigil saat akan memasuki wilayah kebun kakao. Dia melempari Yoongi dengan kerikil agar hyung-nya itu berhenti menggodanya tapi sayangnya Yoongi malah terjungkal karena tertawa.

Sena menggeleng pelan melihat pemandangan itu. Lantas ia pun beranjak menuju bagiannya.

Jam makan siang. Saat para pangeran sibuk di dapur dan di halaman belakang pondok untuk memasak, Sena justru duduk di salah satu kursi meja makan sambil melamun. Para pangeran melarangnya untuk ikut memasak, dan menyuruhnya untuk duduk saja sambil menata alat-alat makan. Dan semuanya sudah tertata dengan baik saat dia melamun.

Lagi-lagi melamunkan Ro.

Sekali lagi dia tidak menyangka Ro akan melakukan itu padanya.

Dia kecewa.

Namun di sisi lain dia juga masih memikirkan pria itu.

Apakah dia baik-baik saja setelah berkelahi dengan Jimin dan Taehyung? Apa yang sedang dia lakukan sekarang?

Dia dan Ro sama-sama anak yatim piatu. Namun Ro punya banyak orang yang membesarkannya, sedangkan Sena hanya dibesarkan olehnya. Bukankah Sena jadi merasa berhutang padanya? Ya, itu sudah pasti. Tapi sampai sekarang Ro tidak menuntut apa pun darinya. Jadi dia pikir Ro akan meminta bayarannya nanti.

Dan itulah bayaran yang dia minta.

Brengsek sekali bukan?

Tch.

Dia meletakkan kepalanya di atas meja sambil menghembuskan napas panjang.

Yoongi datang sembari membawa panci panas berisi sup ayam. Diletakkannya panci itu di tengah-tengah meja dengan sedikit bantingan. Reflek Sena pun mengangkat kepala.

Menatap bingung pria itu yang sedang memandangnya dengan dingin.

Yoongi melepas sarung tangan sambil tetap memandangi Sena. Membanting sarung tangan itu ke atas meja, lalu meraih mangkuk milik Sena dan mengisinya dengan sup ayam tersebut.

“Berhenti memikirkan orang brengsek itu dan makan.”

Sena memperhatikan isi mangkuknya sekilas, lalu menatap Yoongi lagi. “Dari mana kau tahu kalau aku masih memikirkannya?”

“Semua itu tertulis jelas di wajahmu,” jawab pria itu sembari mengarahkan telunjuk padanya.

Sena menelan ludah saat melihat telunjuk Yoongi, lalu ia pun berdehem. Segera menepis tangan itu untuk tidak lagi menunjuknya. Diraihnya sebuah sendok untuk mencicipi sup yang dibuat Yoongi. Dia berharap sup itu akan terasa hambar sehingga dia bisa mencekcoki pria itu, sayangnya yang terasa di lidahnya justru rasa lezat yang tidak bisa ditandingi oleh apa pun.

“Hei, yakin ini kau yang buat?”

Yoongi yang sudah berbalik ke tempat pencucian piring untuk mencuci beberapa alat memasak yang dipakainya tadi, menoleh sekilas. “Memang siapa lagi yang sejak tadi di sini?”

Tidak ada lagi selain Yoongi. Karena yang lain sibuk di luar untuk membakar sate dan daging, jadi hanya Yoongi saja yang ada di dapur.

“Aku tidak percaya. Kau ini tidak terlihat seperti orang yang pintar memasak.” Dicicipinya lagi kuah sup buatan Yoongi.

Pria itu menyeringai. “Tentu saja. Itu karena kau tidak mengenalku. Seandainya kau mengenalku, kau pasti akan dikejutkan dengan banyak hal lagi.”

Jinjja? Ah … sayang sekali, aku tidak penasaran padamu.”

“Ah … begitu? Arasseo. Aku juga tidak butuh rasa penasaranmu.”

Sena mengerucutkan bibir. Tahu-tahu dia sudah menghabiskan setengah dari mangkuknya. “Kau ini tidak seperti Seokjin yang suka makanan. Jadi aku tidak percaya kalau kau bisa membuat masakan seenak ini.”

Yoongi mematikan kran, mengeringkan tangannya pada serbet, lalu melepas apron dan beranjak menghampiri Sena. Duduk di hadapan gadis itu. “Orang yang bisa memasak tidak harus menyukai makanan dulu.”

Sena memperhatikan bagaimana cara Yoongi menyendok sup dari panci ke mangkuk. “Lalu apa yang membuatmu bisa memasak?”

“Ya tentu saja belajar, bodoh. Bagaimana aku bisa memasak kalau aku tidak belajar dulu?”

Sena mendengus. “Itu juga aku tahu. Maksudnya, kenapa kau tertarik belajar memasak?”

Yoongi memasukkan sesendok kuah ke dalam mulut. “Memangnya tidak boleh?”

Itu adalah pertanyaan paling menyebalkan yang pernah Sena dengar. “Aku tidak bilang tidak boleh.”

Pria itu mengangguk-angguk, dan tidak menjawab apa-apa.

Sena menunggu selama semenit dan … oke, dia menyerah.

Gagal sudah rencananya untuk menguak kemisteriusan Min Yoongi.

Tak lama kemudian Hoseok datang membawa sepiring daging rusa dan sepiring daun selada segar. Matanya langsung berbinar saat menemukan aroma sup ayam favoritnya di meja makan.

“Wah … sup ayam!! Kau yang buat, Hyung?

Yoongi mengangguk. Ia pun mengambil mangkuk milik Hoseok dan mengisinya dengan sup tersebut. “Duduklah.”

Hoseok menurut. Dia pun duduk di sebelah Yoongi, mulai mencicipi sesendok kuah ke dalam mulut. Sekali lagi wajahnya makin berbinar. “Daebak! Ini seperti masakan ibuku.”

“Aku memang menggunakan resep ibumu.”

Jinjja? Wah … kerja bagus, Hyung.”

Sena yang sejak tadi memperhatikan pun angkat bicara. “Jadi ibumu pintar memasak?”

Hoseok yang merasa diajak bicara pun mendongak, lalu mengangguk-angguk cepat. “Eo, ibuku adalah ibu yang paling pandai memasak. Tidak seperti ibu yang lain.”

“Ibumu hanya pandai memasak sup ayam dan rumput laut, eo?” peringat Yoongi tak terima.

“Daripada ibumu yang hanya pandai membuat kimchi.”

“Kau jangan meremehkan kimchi, ya. Kimchi itu adalah hidangan paling penting untuk makan. Kau pikir membuat kimchi itu gampang? Kau hanya tidak tahu saja kalau setiap malam aku harus memijat punggung ibuku karena terlalu lama berjongkok.”

Hoseok memutar bola mata, kalah telak.

Di sisi lain Sena tersenyum tipis.

Jadi … Yoongi adalah anak yang berbakti pada orangtuanya, apalagi ibunya.

Hoseok saja, bahkan pangeran yang lain atau anak laki-laki yang lain belum tentu mau memijat punggung ibunya sendiri.

Sena memang belum pernah merasakan bagaimana rasanya punya seorang ibu.

Tapi, jika dia berada di posisi ibu Yoongi, dia pasti akan merasa sangat bangga dan terharu punya seorang anak sepertinya.

Sementara itu, tanpa Sena sadari, seseorang tak sengaja melihat senyum itu dan ikut tersenyum.

TBC

Advertisements

One Reply to “Freak Hwarang #16”

  1. Omo..sudah di update..wah asyikkk…ternyata drone dgn ukuran mikro untuk mengawasi para pangeran, sudah mulai terkuak tujuan raja yg sbenarnya…part ini banyak si abng yoongi, thor sena sm yoongi aja..nasib para pangeran sdh mulai terkuak,sena itu apa berasal dr kerajaan thor..ditunggu,semoga cepat dipublish,q slalu menunggu thor..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s