Swag Couple Series [#14 Chatroom (1)]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

previous chapter

terinspirasi dari film Chatroom

Jimin tengah berjalan santai di sebuah gedung. Di sejauh mata memandang, hanya terlihat pintu-pintu di kanan kiri dan orang-orang yang sibuk di jalan yang sedang dilaluinya. Dia mencoba menyelinap ke dalam keramaian itu sambil memperhatikan tulisan-tulisan yang ada di pintu-pintu tersebut.

English Club

Kelompok Pecinta Saxophone

ARMY

Eat Jin

Hope on The Room

Bowling is My Life

Sweet Sugar

Dan masih banyak lagi.

Dia hanya tersenyum tipis melihat pintu-pintu itu tanpa berminat memasukinya.

Hingga sampailah dia di ujung lantai di mana ada satu pintu yang terbuat dari besi.

Don’t Mess With Me

Dahinya mengkerut membaca tulisan di badan pintu tersebut. Terdengar aneh, tapi, membuat penasaran. Akhirnya dia pun memutar gagang pintu itu.

Sayangnya. Terkunci.

Satu-satunya cara untuk masuk hanyalah dengan menekan bel di sebelah pintu.

Password?”

Ia menggaruk tengkuknya bingung. Lalu, sebuah ide pun muncul.

Don’t mess with me. I have a gun in my bag.”

KLIK

Alisnya terangkat. Tidak menyangka kalau password yang disebutnya asal-asalan itu benar dan membuat pintu itu akhirnya terbuka.

Ia pun masuk.

Tertegun sejenak melihat ruangan yang lebih terkesan seperti sebuah kamar daripada ruang mengobrol. Kamar itu terkesan mewah dengan furniture yang berkelas dipadukan dengan warna putih gading dan mint. Ada banyak lampu di ruang tersebut. Ditambah satu tempat tidur King size, sebuah dudukan di ujung tempat tidur, satu buffet dan satu kursi unik.

Ruang ini kosong.

Karena sudah terlanjur datang, Jimin pun berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di pinggiran. Terkagum-kagum melihat desain interior yang sangat cantik dan juga elegan.

Kemudian dia mengelus seprai tempat tidur itu. Lembut. Hangat. Seperti baru saja ditempati.

KLIK.

Reflek ia pun menoleh. Tertegun melihat sosok gadis berambut bob yang baru saja masuk ruangan dan kini sedang bersandar di badan pintu sambil melipat kedua tangan. Menatapnya datar.

.

.

“Bagaimana caramu masuk kemari?”

Mendengar suaranya yang indah, jiwaku yang semula melayang entah kemana akhirnya kembali.

Daku tersenyum.

“Aku tidak sengaja tahu password-nya.”

Dahinya mengkerut. “Tidak sengaja? Haruskah aku percaya?”

Aku mengangguk pasti. “Kau bisa memercayaiku, nona. Aku benar-benar tidak sengaja tahu password-mu.”

Entah dia sudah memercayaiku atau belum. Tahu-tahu dia beranjak dari pintu dan menghampiriku.

E … eh tapi … kenapa dia tidak berhenti?

“N-n-nona—”

Napasku tercekat saat dasiku tiba-tiba ditarik sementara dia berdiri tepat di depanku. Oh my … aku sampai bisa merasakan lututnya yang bersinggungan dengan lututku.

“Tempat ini tidak bisa sembarangan dikunjungi, Tuan. Aku tidak tahu dari mana kau tahu password-nya tapi … kurasa kau adalah orang yang tepat untuk menginjakkan kaki di sini.”

Aku menelan ludah. Entahlah, bukannya fokus pada kata-katanya, aku justru fokus pada bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda itu.

Aku pun menghela napas saat dia menjauhkan dirinya dariku. Berjalan dengan santai mendekati sebuah dudukan yang ada di ujung tempat tidur. Duduk di sana, memunggungiku.

“Kau adalah orang pertama yang berhasil masuk kemari, Tuan.” Ia menjeda kata-katanya, menoleh untuk melihatku. “Aku Min Yoonji. Kau?”

Bukan keinginanku untuk beranjak menghampirinya dan duduk dua jengkal ke kanan darinya. Mungkin ini semacam kemampuan telepati saja. Aku merasa kalau dia menyuruhku untuk mendekatinya.

Kuulurkan tanganku. “Aku Park Jimin.”

Kami pun berjabat tangan.

Aku tahu kalau tanganku itu memang kecil. Sampai-sampai teman-temanku mengejekku karena bentuk tanganku yang lebih mungil dari ukuran tangan laki-laki seusiaku.

Tapi … aku baru tahu kalau ternyata ada yang lebih mungil lagi dari tanganku.

Yakni milik seseorang yang sedang berjabat tangan denganku sekarang.

Tidak sadar tangan itu kugenggam lama, dan baru sadar ketika dia menarik tangannya lagi.

Dalam kasus ini meskipun kepalaku tidak terasa gatal, aku tetap menggaruknya.

.

.

Mereka berdua saling diam.

Yoonji memperhatikan tangannya sendiri yang baru saja bersalaman dengan tangan mungil Jimin. Diam-diam ia tersenyum.

“Yoonji-a! Kau lihat dimana alat cukurku?”

Yoonji reflek menoleh. Mengerutkan dahi kesal melihat seorang laki-laki tiba-tiba masuk kamar dengan wajah penat. Sial, orang ini mengganggu saja.

“Mana kutahu! Cari saja sendiri!”

“Aku sudah mencarinya kemana-mana. Hanya di kamarmu saja yang belum kucari.”

Yoonji memutar bola matanya. “Untuk apa juga aku mengambil alat cukurmu.”

“Bisa jadi kau menggunakannya untuk mencukur ketiakmu.”

Gadis itu mendengus kesal.

Sebelum laki-laki itu menghancurkan kamarnya, buru-buru dia turun dari ranjang dan mendorongnya keluar kamar dengan paksa.

“Aish keluar sana! Cek lagi di kamar mandi! Kau itu selalu menaruh barang-barangmu di dekat bathtub!”

BRAK!

Yoonji pun lekas mengunci pintu. Menghela napas lega.

Oke, sekarang keadaan sudah aman.

Jimin mengangkat alisnya. “Kau baru saja dari mana?”

Yoonji menghela napas. “Ada setan yang tiba-tiba muncul di kamarku.”

“Setan?”

Yoonji mengangguk. Lalu ia pun menoleh dan memperhatikan Jimin baik-baik. “Kita belum saling mengenal dengan baik. Bagaimana kalau kita mulai dengan menceritakan tentang diri masing-masing.”

Jimin terdiam sebentar, lantas mengangguk. “Baiklah. Boleh aku duluan yang cerita?”

Gadis itu mengangguk semangat.

.

.

“Aku Park Jimin. 17 tahun. Penyuka warna biru. Dan lahir di bulan Oktober—”

Aku menjeda kalimatku sebentar untuk melihat reaksinya. Kupikir dia akan menanyakan tanggal kelahiranku nyatanya dia justru membiarkanku melanjutkan kata-kataku.

“Aku masih sekolah. Kau tahu SMA Bangtan?”

Dia mengangguk.

“Ya, di sanalah aku bersekolah. Kelas 2-10.”

Lagi-lagi dia hanya diam menyimak.

“Eung … aku bukan siswa yang wah … aku hanyalah seorang siswa yang biasa-biasa saja. Kalau kau tanya keseharianku, aku tidak tahu harus menceritakan yang mana. Karena apa yang kukerjakan setiap hari semuanya tidak ada yang menarik. Orang-orang bilang, aku adalah orang yang membosankan. Hanya belajar, membantu eomma bersih-bersih rumah, belajar lagi … yah … kira-kira begitu.”

Bagus, sekarang pasti Yoonji akan menendangku keluar dari ruangan ini karena profilku yang benar-benar sangat membosankan untuk ukuran seorang manusia.

Aku sudah sangat biasa kok ditolak oleh orang lain.

Dan aku sudah siap kalau Yoonji akan mengeluarkanku dari ruangannya dan mengganti password-nya ke kata-kata yang lebih sulit sehingga aku tidak bisa masuk lagi.

Namun….

Aku bisa merasakan sentuhan tangan seseorang di kepalaku.

Kutoleh kepalaku ke kanan kiri, tak ada siapa-siapa lagi di sini selain aku dan dia.

Aku menatapnya tak mengerti.

“Itu tidak semembosankan yang kau pikirkan, Jimin-sshi. Kau mungkin tidak tahu kalau di sisi lain ada seseorang yang berharap punya kehidupan sepertimu tapi tidak diberi kesempatan.”

Aku mengerutkan dahi. “Memangnya siapa yang akan mengharapkan hidup monoton sepertiku?”

Ia menggendikkan bahu. Tersenyum. “Dari sekian milyar manusia di dunia ini, pasti salah satu di antara mereka selain dirimu mengharapkannya.”

Oke, aku makin tak mengerti dengan kata-katanya.

“Lalu kau sendiri?”

“Ah, sekarang giliranku?”

Aku mengangguk.

“Oke. Seperti yang kau tahu, namaku Min Yoonji. Sama sepertimu, 17 tahun. Lahir di bulan Agustus.”

“Bulan Agustus? Wah … selama musim panas?”

Eo. Seperti yang kau lihat, aku menyukai warna mint.”

Kuedarkan pandanganku sekali lagi ke ruangan ini. Ya, mayoritas yang ada di sini memang berwarna mint. Untuk pertama kalinya selain warna biru aku menyukai warna ini. Menurutku warna ini begitu lembut.

“Aku masih bersekolah.”

Aku pun memandangnya lagi. “Di mana?”

“SMA Bangtan.”

Jinjja?” Serius aku tidak tahu kalau dia juga bersekolah di sana. Bagaimana aku bisa tidak tahu? Akunya saja yang kuper atau memang dia yang sulit ditemukan?

“Aku tidak akan memberitahumu asal kelasku.”

Dia sudah bicara begitu sebelum aku bertanya. Oke, jadi, dia berusaha untuk menjadi misterius sementara dia memaksaku untuk lebih terbuka. Jadi itulah alasannya kenapa aku adalah orang pertama yang datang ke ruangan ini. Mungkin juga, kemisteriusannya ini bisa dijelaskan dari furniture ruangannya yang sangat simple dan nyaris seperti ruang kosong.

“Aku juga tidak akan memberitahumu tentang kehidupanku. Tapi yang pasti, ‘kacau’ adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidupku.”

“Itu tidak adil. Aku sudah memberitahumu tentang hidupku.”

Dia tiba-tiba menatapku dingin. Kemudian membuang pandangan dalam 25 detik.

“Kita berada di sekolah yang sama, Park Jimin. Tidak bisakah kau mencari tahu sendiri saja?”

Entah mataku yang bermasalah atau bagaimana. Dalam beberapa sekon aku bisa melihat sorot matanya yang sendu dan kosong.

Sekali lagi dia tiba-tiba menghilang.

Aku pun menghela napas. Ikut menghilang dari sana.

TBC

Advertisements

4 Replies to “Swag Couple Series [#14 Chatroom (1)]”

  1. Jujur thor q bingung, jimin ini lg d alam mimpi atau bagaimana, ceritanya kok beda ya sama chapter sebelum sebelumnya atau memang diganti alurnya…tp bikin penasaran dgn kelanjutannya…thor mau request FH kapan ya d publish…hehehe,q slalu nunggu..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s