Freak Hwarang #17

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter

Persediaan daging rusa sudah habis. Terpaksa para pangeran dan Sena pun harus pergi ke hutan lagi untuk berburu. Setelah semuanya telah bersiap dengan atribut berburu, mereka pun segera berkumpul di luar gerbang pondok sambil menggiring empat anjing Herder.

“Hari ini kita akan bermalam di hutan.”

Hampir semuanya membelalak tak percaya.

“Bermalam?” tanya ulang Jungkook berusaha memastikan pendengarannya.

“Tapi kau tidak menyiapkan tenda,” sahut Jimin setelah meneliti apa-apa saja yang dibawa Sena sekarang.

Sena menggendikkan bahu sambil tersenyum miring. “Oh ayolah, kita ini berencana untuk berburu, bukan untuk berkemah. Untuk apa juga membawa tenda? Yang penting sekarang adalah Herder-Herder ini, pemantik api, obor, minyak tanah dan senjata. Anggap saja ini sebagai pembelajaran lintas alam, Tuan-Tuan sekalian. Aku yakin kalian belum pernah sekalipun bermalam di hutan ‘kan?”

Para pangeran itu saling pandang.

Karena tidak ada yang menyahut lagi, Sena pun mengomando mereka untuk masuk hutan.

Sena, Jimin, Seokjin, dan Hoseok mengambil peran untuk memegangi rantai para Herder. Sementara Taehyung dan Yoongi memegang obor. Untuk Namjoon dan Jungkook sendiri, mereka membawa kantong kaca berisi kunang-kunang.

Hutan benar-benar senyap. Hanya terdengar suara dedaunan yang saling bergesekan karena angin, suara-suara serangga malam yang super bising dan bunyi lolongan serigala yang terdengar jauh dari tempat mereka berada.

Gelap. Hanya di sekeliling mereka saja yang terang berkat obor dan kunang-kunang yang mereka bawa.

Sena berjalan paling depan. Memegang Herder yang paling tangguh, juga memegang sebuah busur panah. Meskipun dia tidak pernah belajar di tempat-tempat kursus memanah, dia ini sudah ahli memanah sejak kecil. Siapa lagi yang mengajarinya kalau bukan Ro.

Jimin sendiri mengantongi sebuah revolver yang berhasil dicurinya dari rumah Ro. Sena tahu keberadaan benda itu dan menyuruhnya untuk membawanya saja.

Tiba-tiba Sena berhenti, yang otomatis membuat pria-pria di belakangnya ikut berhenti. Gadis itu meletakkan telunjuk di bibirnya, menyuruh yang lain diam. Ia pun mempertajam pendengaran. Seperti … ada sesuatu yang bergerak tak jauh dari tempat mereka berada. Dan sesuatu itu bergerak makin dekat … dekat … dekat … sampai….

“Sial. Kenapa harus sekarang sih?” gumam Sena yang mendadak panik dan langsung mengeluarkan satu anak panah dari kantongnya, mengarahkan ujung panahnya ke sisi kanan mereka.

Para pangeran di belakangnya mulai was-was.

Jungkook yang berjalan di sebelah Seokjin reflek merangkul lengan hyung-nya. Tubuhnya sudah gemetaran. “H-h-hyung … ada apa?”

Seokjin hanya bisa menggeleng. Dia juga tidak tahu.

Jimin dan Taehyung secara otomatis langsung bergandengan tangan dengan erat.

Yoongi dan Hoseok yang berjalan paling belakang juga ikut-ikutan mengaitkan jari-jari mereka. Tubuh Hoseok menggigil dan Yoongi menyadari itu. Sebagai yang lebih tua darinya, pria itu mengusap pelan lengan Hoseok agar dia lebih tenang.

Namjoon sendiri, dia berpasangan dengan Sena kali ini. Sekali lagi Sena tidak mau membiarkannya berbuat ceroboh. Maka dari itu Sena memaksa Namjoon untuk berpasangan dengannya.

Di saat sesuatu itu sudah dekat dari mereka, Sena pun segera melepas anak panah.

Suara auman yang mengerikan terdengar keras. Dan detik berikutnya muncullah seekor hewan berkaki empat berbulu lebat dengan ukuran besar yang meloncat dan hampir saja menyerang Sena. Beruntung Herder milik Sena bergerak lebih cepat sehingga Sena pun terselamatkan.

Gadis itu lantas menggamit tangan orang di sampingnya. Lalu menoleh pada yang lain. “Berpencar sekarang!!”

Tanpa harus menunggu balasan dari mereka, Sena pun langsung menarik Namjoon untuk pergi dari sana. Menerobos bagian mana saja sehingga mereka bisa pergi sejauh-jauhnya dari hewan itu. Membiarkan hewan itu bertarung dengan Herder miliknya.

Di saat mereka sudah cukup jauh, tahu-tahu terdengar suara tembakan dan Sena pun otomatis berhenti. Begitu juga Namjoon yang sudah terengah-engah.

Gwaenchana?” tanya Namjoon begitu menyadari lengan Sena yang terluka akibat tercakar hewan liar tadi.

Gadis itu mengangguk. “Aku baik-baik saja. Kau juga baik-baik saja ‘kan?”

Eo. Aku lebih dari baik.”

“Oke.” Sena pun menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa di sana kecuali warna hitam pekat malam. Cahaya dari kantung kunang-kunang Namjoon tidak membantu banyak. “Kurasa Jimin baru saja menembak sesuatu. Semoga dia baik-baik saja nanti.”

Namjoon memperhatikan lekat-lekat ekspresi wajah Sena yang dengan jelas memperlihatkan kekhawatirannya pada yang lain. Pria itu pun mengeratkan genggamannya yang membuat Sena menoleh, menatapnya.

“Mereka tidak semanja kelihatannya. Tenanglah, mereka pasti akan baik-baik saja.”

Gadis itu mengulum senyumnya dengan sedikit terpaksa. “Arasseo.”

Namjoon pun segera mengamati sekitar mereka. “Sepertinya kita berhenti di tempat yang tepat. Sekarang kita tidak punya Herder ataupun obor lagi. Bagaimana kalau kita kumpulkan daun-daun kering ini dan kita bakar? Makhluk seperti yang kita lihat tadi mungkin tidak akan muncul lagi kalau kita membakar daun-daun ini.”

Sena pun mengikuti arah pandang Namjoon. Benar, di tempat mereka sekarang banyak sekali dedaunan kering yang berserakan. Hanya tinggal mereka kumpulkan saja, karena mereka sudah membawa pemantik api dan minyak tanah. Setidaknya dengan begitu mereka akan sedikit lebih aman.

Arasseo. Kaja, kita harus cepat.”

Kantung kunang-kunang itu diletakkan di atas tanah, sementara Sena dan Namjoon bekerja keras mengumpulkan dedaunan kering itu menjadi satu ditempat sampai membentuk bukit. Setelah itu Namjoon mengeluarkan botol minyak tanah dari ranselnya, mengucurkan ke atas dedaunan itu, lantas Sena pun melemparkan sebatang korek api ke sana.

Perlahan namun pasti dedaunan itu pun mulai terbakar. Menciptakan asap yang membumbung tinggi sekaligus menyinari sebagian besar tempat yang mereka pijak.

“Sekarang apa?” tanya Namjoon setelah memasukkan kembali botol yang masih sisa banyak itu ke dalam ransel.

“Kita tidak boleh hanya berdiam diri di sini,” jawab Sena sembari menoleh ke kanan kiri. “Kita harus menemukan yang lain.”

Sementara itu di sisi lain….

“Jimin-a! Dia mengejar kita!!” teriak Taehyung lantang begitu dia menyadari ada sesuatu yang mengejar mereka.

Jimin yang selangkah di depannya, langsung menoleh sambil menodongkan revolver. “Menunduk!”

DOR!

“Kena?” tanya Taehyung memastikan. Mereka berdua terus berlari tanpa memedulikan kemana mereka pergi.

Molla! Yang pasti kita harus cari tempat yang aman dulu.”

Taehyung menoleh ke belakang. Menggunakan kelebihan mata elangnya untuk memastikan apakah hewan itu masih mengejar mereka atau tidak.

Hingga akhirnya mereka pun sampai di sebuah gubuk yang ada di tengah-tengah hutan. Tanpa pikir panjang Jimin langsung mengajak Taehyung untuk masuk gubuk itu. Beruntung pintunya bisa dibuka.

Keduanya langsung terduduk di lantai gubuk itu setelah pintu ditutup kembali.

Mereka hanya berdua, karena Herder yang bersama mereka sudah hilang entah kemana. Mungkin ikut bertarung melawan monster tadi.

Jimin mengusap keringatnya yang sudah membasahi seluruh wajahnya. “Kau baik-baik saja, Tae?”

Taehyung mengangguk. “Kau?”

Nado.”

Taehyung pun menoleh ke kanan kirinya. Memperhatikan gubuk itu dengan bantuan cahaya obor yang sejak tadi ada di tangan kirinya.

Gubuk itu samar-samar terlihat seperti rumah biasa. Di sejauh mata memandang Taehyung bisa melihat berbagai perabot rumah tangga yang kelihatannya masih bisa berfungsi. Tanpa bicara apa pun, ia lantas beranjak mendekati sebuah meja makan yang ada tak jauh dari mereka. Ada banyak sekali makanan-makanan yang sudah berjamur. Sepertinya rumah ini dulunya ditempati seseorang, dan sekarang ditinggalkan begitu saja.

Matanya menyipit saat melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak di meja tersebut. Reflek di dekatkannya obor itu ke sana.

CIIIT!

“KYAAAAK!!”

“Taehyung-a!”

Taehyung menoleh setelah Jimin sudah berjongkok di sebelahnya. Dia sendiri masih berusaha mengatur detak jantungnya yang mendadak cepat setelah melihat tikus sebesar kucing di atas meja barusan.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku bisa gila, Jimin-a. Kita harus kembali ke pondok sekarang.”

Tikus besar itu bergerak turun dari meja dengan cepat dan pergi entah kemana.

Andwae. Kita harus tetap di sini sampai pagi, Tae. Berbahaya kalau kita memaksa ke pondok sekarang juga.”

Taehyung mengarahkan obor itu ke sekitar untuk melihat lebih jelas gubuk tersebut. “Tapi aku merasakan firasat yang tidak enak di sini, Chim. Aku yakin, yang ada di sini pasti bukan hanya tikus itu saja.”

Meskipun Jimin juga gemetaran setelah melihat hewan pengerat tadi, tapi dia tetap tidak setuju dengan usulan Taehyung untuk pulang sekarang. “Pikirkan yang positif saja. Setidaknya di tempat ini tidak akan ada monster seperti tadi lagi.”

Tiba-tiba Taehyung mencekal kuat lengan Jimin. Kepalanya sedang menoleh ke satu titik dengan mata yang enggan berkedip. “Chim … i-itu … itu di sana apa?”

Jimin mengarahkan matanya ke tempat yang dimaksud Taehyung. Karena cukup jauh dari mereka dan remang-remang, dia harus menyipitkan matanya. “Aku tidak yakin, Tae. Ayo kita lihat.”

Taehyung menggeleng kuat saat Jimin akan beranjak. “Chim, andwae. Bagaimana kalau itu ular?”

Jimin menepuk-nepuk bahu Taehyung menenangkan. “Kita lihat dulu. Kaja.”

Mau tak mau Taehyung pun bangkit. Merangkul lengan Jimin erat, ikut mengendap-ngendap mendekati sesuatu yang menarik perhatiannya.

Semakin dekat, mereka bisa mendengar suara decitan sekelompok hewan pengerat.

Makin dekat, keduanya bisa menangkap siluet tulang yang tergeletak sembarangan.

Makin dekat lagi….

“A-apakah itu manusia?” tanya Taehyung dengan suara bergetar.

Jimin yang sejak tadi mematung pun mulai bergerak mundur sambil menggenggam erat tangan Taehyung. “Aku melihat matanya, Tae. Aku melihat giginya. Aku … LARI!!!”

Kedua pangeran ini langsung mengambil langkah cepat meninggalkan rumah tersebut. Tak peduli alas kaki Taehyung ketinggalan sebelah, pokoknya mereka berdua harus pergi dari tempat ini. Mereka terus berlari meskipun sudah tidak berada di bawah atap gubuk itu lagi. Menerobos hutan yang sepi dan gelap. Sampai tiba-tiba Taehyung tak sengaja menginjak sesuatu yang tajam sehingga ia pun terjatuh. Reflek Jimin ikut berhenti.

“Tae!!”

Obor yang dipegang Taehyung sudah terpental entah kemana sehingga tak ada satu pun penerangan di antara mereka. Meski begitu Jimin bisa melihat dengan jelas tubuh Taehyung yang meringkuk memegangi kaki kanannya yang telanjang.

“Tae! Tae!”

“Sakit….”

Jimin yang awalnya ketakutan pun berubah menjadi khawatir setelah melihat cairan keluar dari telapak kaki kanan Taehyung. Kekhawatirannya makin memuncak saat dia mulai mendengar desisan hewan tak jauh dari tempat mereka.

“Tae, naik ke punggungku sekarang.”

“Aku tidak bisa … hah … sakit….”

“Kau pasti bisa, Tae. Ayo. Kau pasti bisa.”

“Sakiiit!!!”

Grrrr

Jimin pun langsung memasang sikap siaga. Dikeluarkannya revolver dari ransel, menodongkan ujungnya ke segala arah. Matanya menyipit waspada.

“Di mana kau?! Tunjukkan wajahmu sekarang, monster!”

Bodoh. Dia sendiri tahu kalau apa yang dilakukannya sekarang adalah tindakan bodoh. Berteriak pada monster yang sudah pasti tidak mengerti bahasanya.

Suara geraman itu masih terdengar. Jimin menoleh ke kanan kiri dengan cepat. Ia tak peduli meskipun kepalanya mulai pusing. Yang terpenting sekarang dia harus melindungi Taehyung dari monster tersebut. Taehyung tidak boleh mati.

Grrr

Makin keras.

Jimin pasang sikap siaga.

Grrr

Sekarang.

DOR DOR DOR DOR!!

Jimin terus menarik pelatuk revolver-nya.

Auman kesakitan terdengar menggema di hutan yang mencekam ini.

Seekor hewan entah apa yang cukup besar tampak menggeliat-geliat kesakitan di tanah sementara Jimin terus menarik revolver.

Lagi! lagi! lagi!

Sayangnya di tembakan entah keberapa, revolver itu sudah tidak berbunyi lagi. Jimin mengetuk-ngetukkan pegangannya dengan kesal.

Makin kesal lagi setelah dia mendapati monster lain yang sudah mengintai mereka.

Sial.

Menyadari bahwa benda itu sudah tidak berguna lagi, ia pun melemparkannya ke tanah, lantas mengambil sebatang ranting pohon yang tergeletak di dekat Taehyung.

Grrr

Monster itu melompat padanya.

Tanpa pikir panjang Jimin langsung mengayun-ayunkan tangannya ke kanan kiri seperti pendekar berpedang professional.

Tapi sayang.

Ranting pohon itu patah dengan begitu mudahnya.

Tahu-tahu monster itu sudah berada di atasnya, siap menerkam wajahnya.

Apakah mungkin hanya sampai sini hidupnya?

Harus pergi sebelum dia melihat ibunya untuk terakhir kali, pergi meninggalkan Taehyung yang kesakitan sendirian, pergi tanpa mengucapkan salam pada saudara-saudaranya yang lain dan pergi sebelum dia menyatakan perasaan yang akhir-akhir ini tumbuh di hatinya?

Apakah hanya begini saja kisah hidupnya?

Ia pun memejamkan mata. Perlahan demi perlahan mulai mengikhlaskan dirinya untuk pergi sebentar lagi.

Mian, Taehyung-a.

DOR!!

BRUK!

Suara bedebam yang mengerikan otomatis membuat Jimin membuka matanya lagi.

Mata sipitnya melebar tak percaya melihat monster itu sudah tergeletak tak berdaya di sampingnya.

Sementara dari sisi lain muncullah anjing Herder yang dibawanya yang tadi hilang. Anjing itu ikut-ikutan berbaring di sebelah Jimin.

“Kau baik-baik saja?”

Suara itu….

Reflek ia pun menoleh. Bisa dilihatnya seorang pria bertubuh tinggi tegap tengah memegang sebuah senapan laras panjang berdiri di dekatnya. Pria itu memakai topi bersenter. Berkat senter itulah, Jimin bisa melihat dengan samar-samar wajah pria tersebut.

“RO?!”

TBC

Maaf slow update T^T 

Advertisements

2 Replies to “Freak Hwarang #17”

  1. Sudah d publish…senangnya,setelah sekian lama menanti#lebatbangaetzz…makin dekat saja sena sm namjoon..wuihy si pedagang Ro balik lagi…jimin gimana ya ketemu sm Ro…taehyung memang cocok sm jimin, yoongi berlari kmana thor, semoga merek ngk kenapa2…chapter ini memang menegangkan setelah chapter sebelumnya beromantis ria…ditunggu thor..

    Like

  2. Penasaran sama kisah cintanya trus org yg bakal sama sena. Tebakanku si sena kemungkinan besar sama namjoon. Jarang nih ada ff yg main castnya namjoon klo all member 😂. Lanjut ya thor. Ditunggu 😄

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s