Swag Couple Series [#16 Chatroom(3)]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

previous chapter

terinspirasi dari film Chatroom

Kupandangi sekotak rokok hasil curianku dari kamar kakak yang kini sudah kosong dua. Sebenarnya aku mencuri benda ini beserta lighter-nya. Tapi sekarang lighter-nya entah kemana. Hanya benda ini saja yang masih ada di tanganku sampai sekarang.

Napasku mendadak sesak mengingat yang terjadi siang tadi di rooftop. Itu pertama kalinya aku merokok. Serius, dadaku rasanya masih sesak sampai sekarang. Lebih sesak lagi setelah mengingat wajahnya.

Ya … tadi siang aku bertemu Park Jimin.

Orang yang kukenal dari chatroom. Yang ternyata adalah teman satu sekolahku, satu angkatan namun beda kelas.

Dia lebih tampan dari yang kubayangkan.

Lebih baik dari yang kupikirkan.

Sejak tadi bibirku tak hentinya mengulum senyum saat mengingat caranya merebut rokokku dan membuang lighter.

Jujur, aku tidak percaya kalau reaksinya akan seperti itu. Kupikir, dia akan menyumpahiku, lalu meninggalkanku dan membenciku untuk selama-lamanya. Tapi dia justru menciptakan kupu-kupu di perutku.

Pagi-pagi sebelum bel masuk sekolah, aku berada di rooftop untuk belajar cara merokok seperti perokok professional. Sedikit susah sih, tapi karena aku selalu melihat kakakku merokok, aku bisa mempelajarinya dengan cukup mudah. Aku hanya perlu menahan diri untuk tidak batuk, itu saja.

CKLEK.

“Hei, kau tahu dimana ro—yaa! Itu rokokku. Dasar kau ini. Kucari kemana-mana ternyata ada padamu.”

Aku tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang datang. Toh tak lama kemudian kotak rokok di tanganku diambil paksa oleh orang itu. Aku pun mengangkat wajahku, menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Yaa, kau merokok? Kenapa isinya jadi berkurang, huh?”

Kulipat kedua tanganku di atas perut. “Memang apa pedulimu?”

Aku bisa mendengar helaan napas darinya. Sayangnya aku terlalu malas untuk menoleh.

“Rokok tidak baik untuk kesehatan paru-parumu tahu! Kalau kau kena asma lagi bagaimana, huh? Kau pikir biaya berobat itu murah?!”

“Kalau memang kau tidak punya uangnya, tidak usah menyuruhku berobat.”

“Hah? Apa katamu? Kau berani bicara begitu padaku? Yaa, kau pikir darimana uang untuk kau makan sehari-hari, huh? Aku bekerja siang dan malam untukmu, sekiya! Beginikah caramu membalas kerja kerasku? Oke! Kalau kau memang mau mati silahkan! Mati saja sana! Habiskan rokok ini sekalian makan saja kalau perlu! Sia-sia aku bekerja selama ini kalau kau hanya ingin mati.”

Aku meringis pelan saat kotak rokok itu dilempar padaku sampai mengenai pipiku. Ia bersungut-sungut pergi dari kamarku. Tidak lupa membanting pintu.

Mataku rasanya memanas. Kulihat sekitar, tidak ada siapa pun yang mengiris bawang di sini.

Tsk, aku benci padanya.

Kalian tahu? Sejak orangtua kami meninggal empat tahun lalu, dialah yang mencari uang dan mengurusku. Namanya Min Yoongi, berusia 23 tahun. Dia adalah satu-satunya saudara kandung yang kupunya. Awalnya dia sudah diterima di sebuah universitas yang ada di Seoul. Tapi karena insiden kecelakaan pesawat yang menewaskan orangtua kami, akhirnya dia memutuskan untuk bekerja saja. Kondisi ekonomi keluarga kami memburuk sejak insiden itu. Yoongi harus mencari uang untuk sekolahku dan keperluan sehari-hari kami. Belum, sejak 4 tahun lalu aku mendadak terkena asma karena tinggal di rumah pamanku yang lingkungannya sangat kotor. Jadi, mau tak mau Yoongi harus bekerja ekstra untuk memenuhi semua persoalan keuangan itu. Yang kutahu, dia juga bekerja di sebuah bar sebagai bartender.

Itulah yang kubenci darinya.

Karena dia bekerja di sana, teman-temanku menjauhiku.

Mereka menganggap aku adalah perempuan yang ikut bekerja di sana.

Hanya gara-gara mereka pernah melihatku datang ke sana untuk menjemputnya.

Sial.

Dia yang sudah membuat hidupku jadi kacau seperti ini.

.

.

“Ah, kupikir kau akan menendangku keluar dari sini,” celetuk Jimin yang sudah duduk memeluk lutut di lantai, bersandar pada badan ranjang.

Yoonji yang sejak tadi hanya berbaring diam sambil menatap langit-langit ruangannya pun, melirik. “Aku tidak sejahat itu.”

“Eum. Aku tahu. Mustahil gadis sepertimu bersikap seperti itu hanya karena masalah sepele.”

Yoonji kembali memandangi langit-langit ruangannya.

“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Entahlah.”

Jimin pun mendongak. Lamat-lamat memperhatikan wajah Yoonji yang sepertinya sedang penuh masalah. “Kau bisa ceritakan semuanya padaku, Yoonji-a. Aku akan mendengarkan semuanya.”

Yoonji beranjak duduk. Dia juga memeluk lututnya. Memejamkan mata, menghela napas. “Sepertinya kau ini benar-benar tidak mengenalku. Kalau kau adalah mereka, kau pasti sudah menjauh begitu melihatku merokok.”

Wae? Memang ada apa denganmu? Kurasa tidak ada yang aneh darimu, Yoonji-a. Kau terlihat sama seperti gadis yang lain.”

Gadis itu menggeleng. “Aku tidak sama seperti mereka.”

“Tidak. Kau sama.”

“Aku tidak sama.”

“Sama.”

“Tidak!”

Dada gadis itu naik turun, lalu ia pun kembali meletakkan dagunya di atas lutut. “Aku tidak sama seperti mereka. Aku berbeda. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk berteman dengan orang lain. Aku selalu sendiri dan … orang-orang membenciku.”

Jimin pun duduk di pinggir ranjang itu. Menatap Yoonji dengan dahi berkerut. “Apa yang mereka benci darimu? Dari mana kau tahu kalau mereka membencimu?”

Yoonji menatap Jimin sekilas, lalu membuang pandangan. Ia pun menceritakan kehidupannya. Tentang orangtuanya yang sudah meninggal. Tentang kakaknya yang terpaksa bekerja sebagai bartender demi menghidupinya. Juga … tentang dia yang pernah hampir diperkosa oleh anak pamannya. Semuanya dia ceritakan pada Jimin tanpa terkecuali.

Hingga tanpa sadar air mata sudah meleleh di wajahnya yang putih itu.

Jimin langsung membuang pandangan. Tidak betah melihat air mata.

Tak lama kemudian, laki-laki itu menghilang. Membiarkan Yoonji menangis sendirian di ruang hampa tersebut.

.

.

Rooftop keesokan harinya.

Dugaan Jimin benar kalau Yoonji ada di sana.

Sambil melepas blazer-nya, ia pun menghampiri gadis itu. Menyampirkan blazer tersebut di punggung Yoonji, lalu duduk di sampingnya. Ikut memandang langit siang yang mendung.

Yoonji melirik blazer berukuran lebih besar darinya itu, lalu beralih memperhatikan side profile Jimin. “Kenapa kau datang ke sini?”

“Entah ya. Sepertinya kakiku yang menginginkannya.”

Yoonji berdecak. Tapi dalam hati dia tersenyum. Diam-diam mengeratkan blazer itu di tubuhnya. Jimin punya aroma sendiri yang tidak dia tahu bagaimana cara mendeskripsikannya. Lembut, tapi di satu sisi juga tegas. Memakai blazer-nya seperti sedang dipeluk. Ia merasa hangat.

“Kau tidak merokok lagi?”

“Bukannya kau sudah membuang lighter-nya?”

Jimin merogoh saku celananya, mengeluarkan lighter berwarna biru gelap. “Kupikir kau akan merokok lagi, jadi aku membawanya dari rumah.”

“Ah … aku sudah menghabiskan semua rokoknya di rumah.” Bohong. Nyatanya kotak rokok yang sudah habis dua batang itu masih tersimpan di laci mejanya. Entah mau dia apakan. Tidak mungkin juga benda itu dikembalikan pada Yoongi karena pria itu sedang mendiaminya sejak kemarin.

“Wah … aku tidak tahu kalau kau jauh lebih parah dari para pecandu rokok.”

Yoonji hanya menelan ludah.

“Tapi baguslah. Aku tidak perlu menggunakan benda ini untuk keperluan yang menyesatkan.” Jimin menjeda kalimatnya sembari mengulurkan lighter itu pada Yoonji. “Ambil ini. Ganti untuk lighter-mu kemarin yang sudah sengaja kuhilangkan.”

Yoonji pun menerima benda itu ragu-ragu.

Namun tiba-tiba tangannya ditangkap oleh tangan imut Jimin.

Mereka pun saling pandang.

Ia tertegun melihat senyum di wajah laki-laki itu.

“Boleh aku jadi temanmu mulai sekarang?”

Sekali lagi Yoonji merasakan kupu-kupu sedang beterbangan di perutnya. Ia pun menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memanas.

“Kau tidak perlu menanyakannya.”

Jimin pun memeluknya erat sekali. “Kalau begitu … boleh aku jadi kekasihmu mulai sekarang?”

Pipi Yoonji makin panas.

“K-kau … kau juga tidak perlu menanyakannya.”

Tepat saat itu hujan mendadak turun. Keduanya buru-buru beranjak dan berlarian menuju pintu keluar rooftop. Sudah terlambat, mereka sudah basah kuyup.

Keduanya pun saling pandang.

Kemudian tertawa geli.

.

.

“Oke cut! Kerja bagus!”

Jimin mengerang pelan. Menoleh untuk menatap sang sutradara. “PD-nim! Ini belum selesai! Masih ada adegan kisseu yang belum dilakukan!”

BUG!

“Makan itu kisseu,” celetuk Yoonji sembari berlalu meninggalkan Jimin.

“Aduh sakit. Min Yoonji! Tunggu aku!”

TBC

Advertisements

3 Replies to “Swag Couple Series [#16 Chatroom(3)]”

  1. Ky x q sdh agak mulai sedikit mengerti !!!! Mereka lg syuting ya thor ????? Waduh apa otak q ya yg rada swag sm error *#$@”?
    Tp seru, q kira yoonji memang merokok, tp ngk mungkin jg bs diceramahi yoongi panjang x lebar …wkwkwk

    Liked by 1 person

  2. Kkkkk ternyata mreka lg akting toh..bru ngeh
    pantasan pas baca 2 chapter sblmnya kok ceritax jd gini, smpe berpikir apa ini mimpi yoonji/apa -_-
    ditunggu kak sweet moment yoonji-jimin 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s