Falling Crazy in Love [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

Hari itu aku terbangun di sebuah ruangan. Ini bukan ruanganku. Tidak ada aroma citrus yang biasanya selalu mengharumkan kamarku. Yang ada hanyalah aroma apel, aroma yang kutahu adalah milik Minhyuk.

Cklek.

“Sudah bangun?”

Mataku bergerak ke asal suara. Adik si pemilik kamar duduk di tepi ranjang dan menatapku dengan mata lelahnya.

“Kenapa aku ada di sini?”

“Oh, kau pingsan. Jadi aku membaringkanmu di sini. Kau butuh air? Sudah 10 jam kau tak sadarkan diri, tidak haus?”

Sepuluh jam? Lumayan juga. Anehnya aku tidak ingat apa pun kenapa aku pingsan.

“Akan kuambilkan minum.”

Aku hanya mengangguk dan membiarkannya pergi. Kubalik tubuhku ke kanan, memeluk sebuah bantal lalu memejam untuk menghirup aromanya dalam-dalam. Ini bukan aroma apel lagi, tapi mint. Mungkin karena terlalu sering Yoongi tidur di sini jadi aromanya pun melekat. Dan aku suka. Aku suka sekali dengan aromanya.

Langkah kaki kembali terdengar, aku menoleh saat seseorang duduk di tepi ranjang.

“Duduklah.”

Aku pun duduk sesuai yang diperintahkannya. Ia membantuku, lalu menyerahkan sebuah gelas padaku.

“Soomi ada di luar, kau mau bertemu dengannya?”

Pertanyaannya itu otomatis membuat kedua alisku terangkat. “Soomi? Kenapa dia ada di sini? Apa dia menginap?”

Yoongi menerima gelas kosong dari tanganku, menatapku dengan heran. “Jadi kau lupa kejadian kemarin?”

Aku membalas tatapannya dengan ekspresi serupa. “Apakah aku baru melewatkan sesuatu?”

Cukup lama dia mengamatiku, kemudian dia menghela napas. Mataku membulat saat tangannya mendadak meraih tanganku. “Ayo kita keluar sekarang.”

Kulihat Soomi sedang berada di pelukan Taehyung. Aku tidak tahu sudah seberapa lama mereka seperti itu tapi sepertinya memang sudah lama. Yoongi pun melepaskan genggamannya, memberikan sinyal padaku untuk duduk di sebelah Soomi. Aku pun duduk di sana, mengusap bahu Soomi yang turun. Ia yang semula terpejam langsung membuka mata.

“Aku mau ke kamar mandi, peluklah Sena dulu, dia sudah sadar,” ucap Taehyung sambil mengelus rambut hitam Soomi. Gadis itu mengangguk lemah, tanpa banyak bicara dia melepas pelukannya dari Taehyung dan bergantian memelukku.

Wae?” tanyaku. Sekilas kulihat wajahnya kusut. Matanya yang biasanya bersinar sekarang tampak redup. Senyum yang biasanya mengembang hilang entah kemana. Dan dia tidak banyak mengoceh seperti kemarin.

“Aku ingin mati.”

Pernyataan itu lantas membuatku mengangkat dagunya. “Kau ini bicara apa?”

“Aku ingin mati,” ulangnya lagi.

Keundae wae? Apa yang salah denganmu?”

Entah pertanyaanku itu salah atau bagaimana, tiba-tiba saja dia terisak dan menangis keras seperti anak-anak. Aku pun langsung memeluknya. Aish, harusnya aku tidak tanyakan itu padanya. Tapi, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Kenapa tiba-tiba Soomi menangis? Kenapa aku bisa pingsan? Kenapa Taehyung ada di sini? Kenapa … kenapa hanya aku yang tidak tahu apa-apa di sini?

Taehyung datang tak lama kemudian dan langsung menarik Soomi untuk memeluknya. Sepertinya peran Taehyung di sini cukup berguna. Soomi berhenti menangis lima menit kemudian.

“Mau makan sesuatu?” tanya Taehyung dengan lembut. Tapi Soomi menggeleng.

“Kau belum sarapan,” lanjut Taehyung tanpa tahu apa itu menyerah. Lagi-lagi Soomi menolak.

“Kalau susu pisang? Mau?”

Hanya satu itu saja yang tidak bisa Soomi tolak. Kihyun yang tiba-tiba datang dari mana, langsung menyerahkan satu kantong plastik hitam penuh berisi susu pisang. Seperti seorang ibu, Taehyung menancapkan pipet ke bagian atas kotak minuman itu lalu ujung pipetnya ia masukkan ke mulut Soomi. Diperlakukan begitu kakakku tidak menolak. Dia menghabiskan minuman itu oneshot lalu dilanjutkan dengan kotak yang lain.

“Enak?” tanya Taehyung. Soomi hanya mengangguk. Kemudian dia mendorong kotak itu pertanda kalau dia sudah merasa kenyang.

“Sekarang tidur yuk. Haduh … mata si hidung besarku jadi seperti panda. Mau oppa temani?”

Biasanya saat digoda seperti itu Soomi akan memukul Taehyung atau setidaknya memelototi pria itu, tapi sekarang, dia hanya mengangguk dan menurut saja saat dipapah ke kamar Yoongi. Yoongi pun duduk menggantikan mereka di sampingku.

Sekarang di ruangan ini hanya tersisa aku, Yoongi dan Kihyun. Kihyun memberiku sekotak susu dan dua potong kimbap segitiga. Dia juga memberikan benda yang sama pada Yoongi.

“Aku merasa bersalah sudah tidur tadi malam jadi kubelikan ini untuk kalian. Makanlah, kalian berdua belum sarapan,” ujarnya.

Tapi aku justru menoleh pada Yoongi. “Jadi semalaman kau tidak tidur?”

Yoongi hanya melirikku. Lantas mengambil satu potong kimbap. “Kau sendiri sudah sarapan?” Dia mengalihkan pembicaraan.

“Aku makan ramen di sana tadi. Sudahlah, kalian makan saja itu.”

Aku pun mengambil satu kimbap, membuka bungkusnya, lalu memakannya sedikit rakus. Aku tidak tahu kalau nasinya ada yang menempel di pipiku. Tiba-tiba saja Kihyun dengan senyuman manisnya mengambil nasi itu dari pipiku.

“Itu, ada nasi di pipimu,” ujarnya untuk menjawab ekspresiku.

Anehnya aku malah melirik Yoongi. Dia tampak tak peduli. Aku kecewa.

Suasana yang terlalu canggung akhirnya terpecahkan oleh suara televisi yang sengaja dinyalakan oleh Yoongi. Pagi-pagi seperti ini –meskipun sudah agak siang sebenarnya- biasanya akan dipenuhi dengan acara berita. Dan yang membuatku tersedak, nama ayahnya Soomi mendadak disebutkan oleh si pembawa acara. Aku pun meminum susu yang dibelikan oleh Kihyun sambil mendengarkan berita dengan seksama. Di samping si pembawa acara, ditampilkan rekaman yang meliput gambar rumah Soomi, perusahaan ayahnya dan ayahnya yang berusaha menghindari para wartawan. Tidak luput juga liputan soal si tersangka. Terlalu terpaku melihat rekaman itu membuat telingaku tidak bisa bekerja dengan baik. Tapi aku bisa menarik satu kesimpulan dari berita tersebut.

Perusahaan keluarga Lee bangkrut.

Aku mendadak bangkit. Sekarang aku harus menemui Soomi.

Namun langkahku terhenti saat seseorang meraih tanganku. Aku pun menoleh dan bertatapan dengan orang itu.

“Jangan temui dia dulu sekarang. Biarkan dia tidur, semalaman dia tidak bisa tidur karena menangis.”

“Tapi-”

Ucapanku tidak tuntas karena dia mendadak menarik tanganku hingga aku terduduk kembali. Tidak cukup dengan itu dia pun meletakkan kepalanya di pangkuanku. Bagaimana aku tidak terkejut?

Yaa, apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku tidak bisa tidur karena kalian berdua, ah tidak, bertiga, ditambah dengan Taehyung. Mana mungkin aku tidur sementara tamu-tamuku menangis dan pingsan? Sekarang duduk saja di sini dan biarkan aku tidur satu jam.”

Yaa-

Jalja.”

Aku hanya bisa menatapnya tak percaya. Baru saja meletakkan kepalanya dia sudah selelap itu? Oh astaga, kalau saja aku tidak merasa berhutang budi mungkin sudah kudorong kepalanya dan membiarkannya tidak usah tidur.

Akhirnya aku hanya bisa menghela napas. Menatap ke depan begitu menyadari kalau di ruangan ini masih ada satu orang lagi.

“Meskipun dia tidak pernah mengeluh soal tinggal sendirian di sini, sebenarnya dia itu sangat manja, persis seperti anak berumur lima tahun yang baru punya adik.” Kihyun terkekeh. Memang apa lucunya?

“Kau juga di sini semalam?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Dia mengangguk.

Eomma membiarkanku menginap di rumah Yoongi hanya setiap liburan.”

“Ibumu juga membiarkanmu mewarnai rambut?”

“Ah ini.” Dia menyentuh rambutnya sambil terkekeh. “Aku dan Yoongi sepakat mewarnai rambut setiap hari libur. Bagaimana? Warna rambut baruku bagus tidak?”

“Hm … cukup bagus.”

Dia menatapku sambil tersenyum jahil. “Jadi maksudmu warna rambutku tidak lebih keren dari Yoongi?”

Dahiku berkerut. “Aku tidak bicara begitu.”

“Ah … harusnya aku memilih warna mint saja. Tapi sudah keburu diambil Yoongi.”

“Aku tidak bilang begitu. Warna rambutmu bagus. Cocok dengan warna kulitmu.” Entah kenapa aku sewot sekali mendengar ucapannya. Haish, sepertinya aku menyesali ucapanku itu setelah kulihat senyum jahil Kihyun makin ganas.

“Bawa santai saja, nona. Kau ini imut sekali kalau marah. Hati-hati, kalau kau terus seperti itu, bisa-bisa aku jatuh cinta padamu.”

Yaa!”

“Ngh….” Suara yang dibuat Yoongi otomatis membungkam mulutku. Dia membalik tubuhnya ke kanan, nyaris saja dahinya mencium perutku. Aish, kenapa juga dia harus tidur di sini?!

“Ssshh, jangan teriak-teriak. Memangnya kau tidak kasihan? Yoongi baru tidur.”

Aku menatapnya dengan kesal. Sial, senyum jahilnya makin membuatku ingin memukul wajahnya. Ugh..

TBC

Advertisements

One Reply to “Falling Crazy in Love [Stereotype 2]”

  1. Asyikkk ada sequelnya…sena jatuh pingsan lama banget tp dijagain sm yoongi..q mau jd sena…semoga cepat dipublish…q slalu menanti cerita dr author, FH mudahan secepatnya jg d publish..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s