Swag Couple Series [#17 April Fools’]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

Intro Boy ver | Intro Girl ver | Want You More

Don’t Mess With Me | Oppa | Nobody Like You

Punishment | Bad But Sweet | Who Are You (1)

Pick Me (1) (2) (3)Who Are You (2) | Chatroom (1) (2) (3)

Pagi yang cerah, seperti biasa, SMA Bangtan selalu ramai. Anak-anak baru berdatangan. Karena ini musim semi, mereka semua memakai seragam yang manis. Anak laki-laki saling bercanda, yang perempuan bergosip ria. Masa muda memang seindah musim semi.

Beberapa menit sebelum bel, sebuah taxi pun berhenti di depan gerbang sekolah. Duo sibling yang paling fenomenal turun dari sana. Min Yoongi dan Min Yoonji. Biasanya, kedatangan mereka hanya disambut dengan ekspresi datar oleh Seokjin dan Hoseok yang selalu berdiri di gerbang untuk menunggu anak-anak terlambat. Tapi sekarang, mereka terkejut.

Duo Min itu menghampiri mereka.

Tidak seperti biasanya, Min Yoonji mengangkat tangan dengan gaya swag sambil menyapa dua teman kakaknya. “Annyeong. Aku tidak telat ‘kan hari ini?”

Seokjin dan Hoseok menatap gadis itu dari bawah ke atas, lalu saling pandang.

Sejak kapan Yoonji seperti ini? –Seokjin.

Apakah mungkin tinggi bisa bertambah hanya dalam waktu 24 jam? –Hoseok.

Sementara Yoongi sendiri mendadak jadi pendiam.

Dengan seenaknya laki-laki itu menendang pantat adiknya untuk segera enyah dari sana.

Oh sh*t! Yaa! Ne micheosseo?!”

Yoongi menggendikkan bahu sambil mengangkat jari tengahnya.

Yoonji sendiri masih misuh-misuh dan langsung masuk ke kelas.

.

.

Jimin sudah khawatir dari tadi kalau Yoonji terlambat datang. Beberapa menit lagi bel akan berbunyi dan—

Ah! itu dia.

“Yoonji-a!”

Yoonji yang baru masuk pun menoleh, lantas tersenyum.

Jimin mengerutkan dahi. Tumben dia tersenyum.

Gadis itu pun menghampiri mejanya dengan langkah ceria, tidak lupa sambil menggelung-gelung rambutnya dengan jari telunjuk.

“Oh sayang~~ Kau menungguku ya?”

Jimin melonjak takut ketika Yoonji memeluknya dan mencium pipinya.

Tidak hanya dia saja yang terkejut dengan sikap Yoonji. Jungkook yang duduk di sampingnya, Jooheon dkk yang sedang bercanda, dan Koeun dkk yang asyik menggosip, semuanya sama terkejutnya seperti Jimin.

Sayangnya Yoonji tidak peka dan hanya tersenyum-senyum genit pada Jimin.

Laki-laki itu menelan ludah.

.

.

Ini benar Yoonji-ku?

Apa gerangan yang sudah membuatnya berani menciumku di depan umum?

Oh my….

Untung saja aku tidak punya riwayat penyakit jantung sehingga aku tidak langsung mati setelah melihat tingkah ajaibnya hari ini.

Setelah menciumku di depan umum, dia langsung berpindah ke meja Jungkook, memaksanya untuk pindah dari sana.

“Hei, pindah gih.”

Jungkook mengerutkan dahi. “Wae? Kau punya kursimu sendiri.”

BRAK!

Untuk pertama kalinya aku melihat Jungkook tersentak ketakutan karena wanita.

“Kalau aku bilang pindah ya pindah. Berani padaku, huh? Mau kubocorkan rahasiamu yang suka mengoleksi film dewasa?!”

Pfft. Entah Yoonji itu sadar atau tidak, dia baru saja membuka rahasia Jungkook di depan umum. Akhirnya mau tak mau Jungkook pun pindah ke meja paling belakang sementara gadisku duduk di tempat Jungkook.

Entah ya. Apakah aku harus merasa senang atau malu.

Setelah menggantung tasnya di sisi meja, dia duduk dengan santai sambil mengibas-ngibaskan rambut bobnya.

Oke, aku tahu dia memang cantik.

Tapi, tidak begitu juga sayangku.

Ingin sekali aku menyembunyikan wajahku di tong sampah.

Sekarang semua orang memperhatikan kami.

Oh astaga, bukankah dia ini tidak suka diperhatikan banyak orang? Tapi anehnya sekarang dia justru menikmati perhatian-perhatian itu.

“Wah … kucing!” pekik Jooheon yang tiba-tiba datang dan berdiri di sebelah meja Yoonji. “Ada apa denganmu, eo? Sudah tidak malu ya mencium ketua kelas di depan umum.”

Aku sudah tidak tahu apa pun lagi. Aku sudah mengambil buku dan menenggelamkan wajahku di sana. Oke, aku tidak senang, tapi sangat malu.

“Memang kenapa? Urusanmu? Mau aku menciumnya atau tidak, itu bukan urusanmu ‘kan? Toh aku tidak berpacaran denganmu.”

Ya ampun … sekarang gaya bicaranya makin mirip dengan Yoongi hyung.

Oh ayolah, aku ini sudah mengenal Yoonji dengan baik.

Dia itu tidak akan membuang-buang tenaga hanya untuk bicara. Apalagi pada Jooheon. Sekali dipanggil kucing, dia akan langsung mengeluarkan jurus andalannya. Banana kick.

“Woooo Min Yoonji. Sekarang kau sudah berani ya membalas kata-kataku. Kalau begitu, kenapa tidak berpacaran denganku saja?”

Sekarang aku tidak mengerti dengan jalan pikir Jooheon. Dia tidak lihat aku yang sebesar ini di sini?

Aku pun mengangkat wajahku dan berniat membalas kata-katanya, tapi Yoonji sudah menduluiku.

“Aku? Berpacaran denganmu? Hah! Yang benar saja. Untuk apa aku berpacaran dengan rubah sepertimu? Hei, jangan harap aku menyukaimu setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kau selalu memanfaatkan pacarku. Tch … kasih makan itu otakmu! Jangan hanya menimbun lemak di perut! Jimin bahkan jauh lebih six pack daripada kau.”

Waw … aku terkejut.

Kini aku yakin sekali kalau semalam Yoongi hyung pasti sudah memberi Yoonji-ku guna-guna sampai dia berubah seperti ini.

Jooheon sudah kesal dan hampir saja dia memukul Yoonji kalau bel tidak segera berbunyi. Ia pun ditarik paksa oleh Taehyung untuk duduk di kursinya.

Oke, ini sudah kelewat batas.

.

.

“Kita harus bicara.”

Sekarang Jimin dan Yoonji sudah ada di rooftop. Yoonji masih saja asyik menggelung-gelung rambutnya dengan jari telunjuk. Sesekali bibir tipisnya itu maju ke depan, merasa kesal pada angin yang selalu mencoba untuk menghancurkan tatanan rambutnya.

Jimin menelan ludah. Aku harus kuat. Jangan tergoda pada bibirnya. Andwae.

Laki-laki itu pun berdehem. “Tingkahmu hari ini aneh sekali, Yoonji-a. Apa kau baik-baik saja? Kau tidak biasanya seperti ini.”

Jimin mendadak berkeringat dingin melihat bagaimana cara Yoonji membasahi bibirnya. Tenang, Park Jimin. Ini di sekolah. Jangan tergoda.

“Memang aku biasanya seperti apa?”

Tidak cukup hanya bermain-main dengan bibirnya, sekarang Yoonji menyerang lagi dengan puppy eyes-nya. Omo!! Jimin sudah tidak betah berdiri. Rasanya ingin segera dia terkam saja si manis itu.

“Kau tidak pernah tersenyum setiap kali aku menyapamu. Kau tidak pernah memeluk dan menciumku di depan umum. Kau juga sangat tidak suka menarik perhatian banyak orang. Dan kau tidak pernah membalas kata-kata Jooheon. Kau biasanya seperti itu. Tapi sekarang kau berbeda. Seperti bukan Min Yoonji yang kukenal.”

Air muka Yoonji mendadak sendu. Gadis itu maju selangkah demi selangkah, membuat Jimin harus mundur selangkah demi selangkah, sampai punggung laki-laki itu membentur dinding dan Yoonji menginjak kedua kakinya. Kini dia baru sadar kalau tinggi Yoonji hampir sepantaran dengannya. Padahal biasanya, tinggi Yoonji hanya mencapai hidungnya saja.

“Kenapa kau bicara begitu padaku? Apa tidak boleh kalau sesekali aku melakukannya?”

Jimin menelan ludah. Astaga … dia sudah berusaha menahan diri tapi kenapa Yoonji malah terus menggodanya? Ia mulai kesulitan bernapas karena jarak wajah mereka yang begitu dekat.

“B-b-bukan begitu … t-t-tapi….”

Setetes keringat mendadak jatuh di blazer-nya. Yoonji tiba-tiba saja meletakkan tangan di dadanya dan mengelusnya dengan gerakan pelan.

“Apa sekarang kau membenciku karena itu? Kau bilang aku sudah berubah dan tidak lagi seperti Min Yoonji yang kau kenal, jadi … apakah sekarang kau sudah tidak mencintaiku lagi?”

Jimin buru-buru menggeleng. “Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi kau seolah bicara begitu.”

“Tidak Yoonji-a. Aku tetap akan mencintaimu sampai kapan pun. Aku hanya heran saja kenapa kau—”

Bibir Jimin mendadak bungkam setelah Yoonji menciumnya. God! Ini pertama kalinya Yoonji mau menciumnya duluan. Padahal biasanya, dialah yang harus duluan mencium gadisnya.

“Kalau begitu, seharusnya kau tidak perlu bertanya ‘kan? Aku jadi merasa bersalah melakukan semua itu karena kau tidak menyukainya.”

Pertahanan Jimin runtuh. Ia pun menarik pinggang Yoonji dan menempelkan bibir mereka kembali. Tidak cukup dengan itu, Jimin bahkan membalik posisi mereka dengan Yoonji yang kini bersandar di dinding. Ia tampak sangat menikmatinya, matanya sampai terpejam, tidak sadar bahwa Yoonji tersenyum sementara ada satu orang lain yang sejak tadi menonton mereka.

Ketika tangan mungil Jimin bergerak naik, sebuah suara pun menginterupsi.

“Wah … tontonan yang menarik sekali.”

Mendengar suara yang familiar itu, reflek Jimin membuka matanya. Melihat mata Yoonji yang menyabit, otomatis dia melepas pelukannya dan meloncat ke belakang. Kemudian, dia menoleh ke asal suara.

OMO! K-k-kalian! Kalian!! Kenapa ada dua?!!”

Yap, ternyata orang yang barusan bicara itu adalah Min Yoonji. Dan sekarang, di depan matanya, Jimin bisa melihat ada dua Min Yoonji. Yang satu tentu Min Yoonji yang barusan berciuman dengannya, sementara yang satu lagi adalah Min Yoonji yang entah dari mana datangnya.

Jimin menatap mereka satu persatu. Kebingungan sendiri seperti anak ayam hilang yang bertemu dua induk yang mirip.

Tapi tak ada satu pun dari mereka yang angkat bicara. Keduanya juga balik menatap Jimin, seolah menyuruh Jimin untuk menebak sendiri.

“Kau!” Jimin menunjuk Min Yoonji yang barusan berciuman dengannya. “Kau Yoonji yang asli ‘kan? Kau Min Yoonji ‘kan?! Yaa! Jawab aku! Kau Min Yoonji yang asli dan dia adalah Min Yoonji yang palsu ‘kan?!”

Yoonji yang barusan berciuman panas dengan Jimin mengulum senyum misterius. Dia pun melambai pada Yoonji yang baru datang. Sekali lagi Jimin dibuat terkejut. Dua Yoonji itu sedang berciuman sekarang. Tidak lama, tidak juga terlalu singkat. Lalu Yoonji yang pertama itu menatap Jimin lagi.

“Ciumanmu sudah kuberikan padanya.”

Jimin mengerutkan dahi bingung. Masih tak mengerti sampai Yoonji yang pertama itu melepas rambutnya.

Jimin membungkam mulutnya yang menganga lebar.

“YOONGI HYUNG!!!

Yoonji pertama yang ternyata adalah Yoongi itu tertawa puas. Sambil menata rambutnya, dia pun menghampiri Jimin yang sedang shock berat. Ditepuknya pelan pundak Jimin sebanyak dua kali sambil berbisik dengan suara menggoda di telinga Jimin. “Bagaimana rasanya bibirku, um? Manis kah? Kalau kau ingin mencobanya lagi, tinggal hubungi saja aku.”

“Sudah cukup,” seru Yoonji sembari menarik kerah seragam Yoongi untuk enyah dari Jimin-nya. Gadis itu pun menyandurkan sebuah tas berisi seragam Yoongi.

Yoongi sendiri masih terkekeh melihat wajah bodoh Jimin. “Kau pasti sudah mati-matian menahan diri ‘kan? Itu hadiah untukmu karena sudah mengajak adikku ke motel. See you later, bro!”

Setelah Yoongi pergi, Yoonji pun menghampiri Jimin yang masih mematung. “Gwaenchana? Jangan salahkan aku. Ini ide dari si gila itu.”

Jimin menggulirkan matanya perlahan ke bawah. “Kenapa kalian melakukan ini?”

Yoonji mengerutkan dahi. “Kau tidak tahu? Hari ini April Mop. Hari mengerjai orang sedunia.”

Jimin masih tak bergeming.

Yoonji mulai khawatir. Jangan-jangan Jimin terlalu terkejut sampai-sampai dia berubah menjadi batu. Ia pun menusuk-nusuk pipi Jimin dengan jari telunjuknya. “Yaa. Yaa. Kau belum mati ‘kan? Park Jimin! Jawab aku.”

Hal konyol yang terjadi setelahnya adalah Jimin tertawa terbahak-bahak. Yoonji mengerutkan dahinya bingung. Laki-laki itu bahkan sampai berguling-guling di lantai.

Tak kuat melihat Jimin yang makin gila, Yoonji pun berjongkok di sebelahnya, menahan lengannya untuk tidak berguling-guling lagi. “Yaa! Geumanhae!

Jimin berhenti berguling-guling tapi masih tertawa.

“Aku berciuman dengan Yoongi hyung, HAHAHAHAHA!!! Aku berciuman dengan pria!! Ini April Mop! BUWAHAHAHAHA!”

Yoonji memutar bola matanya. Jimin seperti ini sudah pasti karena ide gila kakaknya. Sialan, dia harus memberi laki-laki itu pelajaran nanti.

Lalu tawa itu mendadak hilang. Jimin tiba-tiba duduk. Menatap matanya tajam. “Ini tidak lucu, Yoonji-a. Teganya kau melakukan ini padaku.”

Yoonji langsung membuang pandangan. Berusaha kelihatan cool meskipun sebenarnya dia mulai ketakutan pada tatapan Jimin. “Bukankah sudah kubilang kalau ini bukan ideku. Kau tidak bisa menyalahkan siapa-siapa sekarang. Ketentuan April Mop, kau tidak boleh menyalahkan orang yang sudah mengerjaimu.”

“MASA BODOH DENGAN APRIL MOP!”

Yoonji menelan ludahnya susah payah.

“Puas melihatku berhasil kalian kerjai? Oke! Aku tahu! Aku memang class pet yang menyedihkan! Aku memang pantas dikerjai! Silahkan saja kerjai aku sepuas kalian! Toh aku ini orang yang gampang dimanfaatkan! Kupikir kau itu berbeda dari yang lain. Ternyata … hah. Kau tidak ada bedanya dengan Jooheon sekarang. Sejak awal aku memang tidak pantas untukmu. Lebih baik aku pergi.”

Jimin pun beranjak. Sudah tak peduli lagi dengan Yoonji yang sekarang gemetaran menahan tangis. Ia bahkan membanting pintu keluar rooftop tersebut.

Harusnya Yoonji beranjak untuk mengejarnya.

Tapi Yoonji bukanlah gadis yang seperti itu.

Dia tidak mau terlihat melankolis apalagi di depan Jimin.

Harga dirinya menolak.

Dan satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menangis di sana.

Menyalahkan dirinya sendiri yang sudah menyetujui ide gila kakaknya.

Andai saja kemarin dia menolak, mungkin urusannya tidak akan serumit ini.

.

.

Cklek.

Mendengar ada yang mendekat, Yoonji pun buru-buru menyeka air matanya. Dia berpura-pura tidur dalam posisi duduk berusaha untuk tidak menarik perhatian orang yang datang.

Tapi tiba-tiba saja, seseorang memeluknya dari belakang. Memberi punggungnya beban berat. Sementara kedua kaki orang itu mengapitnya. Reflek ia pun menoleh. Sayangnya dia tidak bisa melihat wajah orang itu.

“April Mop.”

Suara itu membuat Yoonji menghela napas lega. Ternyata itu Jimin.

“Kenapa kau kembali ke sini?”

“Karena kau tidak mengejarku.”

Air mata Yoonji kembali jatuh. Dia ingin menghapusnya tapi tangannya sedang tidak bisa bergerak karena dipeluk Jimin. “Bukannya kau memang ingin pergi?”

Ani. Kau lupa ya? Sekarang April Mop.”

Yoonji berdecih. “Jadi maksudnya kau sedang mengerjaiku?”

Jimin tersenyum. “Tepat sekali.”

Yoonji menyeringai. Ternyata oh ternyata, Jimin juga sama sialannya seperti Yoongi. Ia pun melepas paksa rangkulan Jimin untuk menyeka wajahnya yang sudah basah. Berusaha membuang pandangan ketika Jimin berusaha melihat wajahnya.

“Ya ampun, kau menangis. Aigoo mianhae~~ Cup cup cup, uljima.”

Yoonji menepis tangan Jimin yang akan menyentuh wajahnya. “Jauh-jauh sana.”

Tapi bukan Jimin namanya kalau dia menyerah begitu saja. Dia kembali memeluk gadisnya. Menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri sambil menyenandungkan kata ‘mianhae’.

TBC

Advertisements

6 Replies to “Swag Couple Series [#17 April Fools’]”

  1. Hwahaaaaaaaaaaa….april mop…ternyata lucu dan gemas banget yoongi sm yoonji…q pikir mereka lg akting, ternyata mereka tukeran, pantas tinggi yoonji sama dengan jimin..pantas yoonji rada ganjen dan agresif..ternyata si abang yoongi…hebat thor…thor kapan FH d publish, q penasaran sm kelanjutan nasib jimin dan taehyung sm si pedang rho..

    Liked by 1 person

  2. tengg gue nyasar(?) ke sinii. gk deng gue mh pnghuni lama ko. aduuh daku ngakak. pas baca tinggi yoonji bertambh gue udh mkir psti mreka tukeran. dan yeee gur bner. (dikasih hdiah abang yungi). dan pas yungi sama jimin ciuman gue agak ..errr ..jimin boleh gk gue gantiin posisi lo..? 😀 . dan yh duo yoonji ciuman gue lbih jungshook lg. btw agus kemayu bnget astajimm.. gue byangin bibirnya yg tipis itu mnyun2 jd geli sndiri. mochiii km mh gk di real life gk di epep psti trnistakan. untung sayang. (komen gue kpanjangan gk sih?) yo wes byee.. epep FH sma FCIL smngat ya. muuachhh #tebar flying kiss ala mamih jin

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s