Freak Hwarang #18

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter

Seokjin dan Jungkook terdampar ke danau. Seperti yang lain, mereka juga berlarian tanpa peduli arah. Herder mereka lah yang memberi petunjuk jalan.

Lelah berlarian, Seokjin pun mengajak Jungkook dan Herder mereka untuk duduk di tepi danau.

Hyung, kita di mana?” tanya Jungkook begitu mereka duduk, menghadap hamparan air danau yang memantulkan cahaya bulan.

“Aku juga tidak tahu,” jawabnya sembari mengusap kepala anjing tersebut. Anjing itu berkelit, berlarian kecil mendekati danau untuk minum, lalu kembali lagi di sebelah Seokjin.

“Bagaimana kabar yang lain? Aku takut kalau terjadi apa-apa dengan mereka.” Jungkook memeluk kakinya yang tertekuk. Matanya menatap lurus pada air danau, tapi pikirannya tidak di sana. Masih terbayang siluet monster mengerikan yang hampir saja menyerang Sena tadi. Dia takut kalau monster itu masih hidup dan mengejar yang lain.

“Kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka, Maknae. Toh kita juga tidak dalam keadaan yang aman.”

Angin berhembus pelan, membuat tubuh Jungkook menggigil kedinginan. “Aku takut, Hyung. Bagaimana kalau nanti kita mati di sini? Aku tidak mau. Aku masih ingin bermain game lagi.”

Seokjin menoleh. Menatap sebagian wajah Jungkook dengan perasaan bercampur aduk. Dia tahu kalau mereka terdampar di sini bukan karena dia. Dia juga tahu kalau Jungkook ketakutan dan mulai menghawatirkan hal semacam itu bukan karena dirinya. Tapi, mendengar pangeran termuda di kerajaan mereka bicara begitu, dia tidak bisa tidak menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak mau membiarkan Jungkook mati di usia semuda itu.

Jungkook menoleh saat sebuah lengan merangkul pundaknya.

“Jin hyung….”

Seokjin mengelus lembut rambut Jungkook. “Kau tidak perlu khawatirkan apa pun, Kook-a. Hyung akan menjagamu. Hyung tidak akan membiarkanmu mati sekarang. Kita akan hidup sampai tua.”

Jungkook menggigit bibir bagian bawahnya yang mulai bergetar. “Hyung….

Seokjin tersenyum. “Kita akan kembali dengan selamat, Kook-a. Percayalah pada hyung.”

Melihat pondok yang sudah ada di depan mata, Yoongi tiba-tiba jatuh lunglai. Hoseok yang berlari bersamanya reflek berhenti.

HYUNG!”

Hyung! Kau baik-baik saja?”

Yoongi yang benar-benar kehilangan kekuatan di bagian kaki hanya mengangguk. Dia bisa melihat kedua mata Hoseok yang mulai berkaca-kaca. Pasti Hoseok ketakutan sejak mereka lari tadi. Ia pun tersenyum. “Aku baik-baik saja, Seok-a.”

Hoseok menyeka pipinya kasar, dimana air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja. “Kau mengagetkanku, Hyung. Kupikir kau … kau….”

Yoongi menepuk pundak Hoseok pelan. “Aku baik-baik saja. Sudah sudah.”

Hoseok ikut duduk di sebelahnya. Berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih menggebu-gebu serta matanya yang tidak berhenti mengeluarkan air.

Meskipun Yoongi suka sekali usil pada Hoseok, tapi bukan berarti Hoseok membencinya. Yoongi adalah hyung-nya yang lain setelah Seokjin. Selain Namjoon, dia juga dekat dengan Yoongi sejak kecil. Yoongi sudah seperti hyung kandungnya sendiri. Pria itu sangat perhatian padanya, meski yah … tidak jarang juga perhatian itu diungkapkan dengan kata-kata yang menyakiti hati dan membuatnya kesal.

Sebenarnya dia masih sebal pada Yoongi soal tadi pagi saat mereka memupuk. Yoongi menemukan ulat berkaki seribu entah dari mana yang dengan seenaknya disimpan di depannya. Bagaimana tidak histeris?

Tapi rasa sebalnya seolah menguap setelah peristiwa tak lama tadi. Di mana hidupnya dan Yoongi sedang dalam bahaya, sementara satu-satunya orang yang bisa dia handalkan hanyalah Yoongi. Ia mengikuti kemana hyung-nya pergi tanpa banyak protes. Dan tahu-tahu mereka sudah sampai tak jauh di depan pondok Sena.

Yaa, kau menangis?”

Dia buru-buru menggeleng. “Ani.”

“Lalu kenapa wajahmu basah?” tanya Yoongi yang sekarang memaksanya untuk menoleh. Tapi dia berusaha membuang pandangan kemana pun.

“Mataku hanya sedang berkeringat. Aku tidak menangis.”

Yoongi terkekeh. Menyerah menggoda adiknya, dan menggantinya dengan menepuk pelan punggung  itu. “Sekarang kau tidak perlu takut lagi, Seok-a. Kita sudah sampai di sini. Kau aman sekarang.”

Hoseok pun membantu Yoongi bangkit, lalu memapahnya memasuki pondok yang sepi itu.

“Kira-kira bagaimana keadaan yang lain?” gumam Yoongi saat menunggu Hoseok membuka gerbang.

“Aku tidak tahu.”

Yoongi pun menoleh ke belakang. Lebih tepatnya pada hamparan hutan yang barusan mereka tinggalkan.

Ia khawatir.

Kegelapan hutan itu memancarkan aura penuh misteri dan menyembunyikan kengerian-kengerian yang tidak bisa ditebak oleh siapa pun.

Bagaimana kondisi yang lain?

Apakah mereka masih hidup?

Atau … hanya tinggal nama?

Pergerakan Hoseok membuatnya berpaling. Lelaki itu memapahnya untuk masuk ke dalam area pondok.

“Kau ingin makan sesuatu, Hyung?

Langkah Hoseok berhenti begitu Yoongi berhenti.

“Aku harus menyelamatkan mereka, Seok-a.”

Andwae. Jangan pernah kembali lagi ke sana.”

Tapi Yoongi tetap keras kepala. Dia pun berusaha berdiri sendiri tanpa merangkulkan lengannya pada Hoseok lagi. “Aku tidak bisa. Aku harus tahu bagaimana kondisi mereka.”

Hyung, hentikan. Kita sudah sampai di sini, kita sudah aman. Aku juga sama khawatirnya denganmu tapi … kita tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimana kalau nanti kita bertemu monster itu lagi?”

“Selagi kakiku masih bisa digerakkan, tidak ada yang tidak bisa kulakukan. Aku tidak peduli nanti bertemu lagi dengan monster itu atau tidak, yang penting aku harus melihat keadaan mereka dengan mata kepalaku sendiri. Aku butuh lebih banyak Herder.”

Melihat Yoongi yang mulai beranjak menuju kandang wolfdog, Hoseok pun mendadak bimbang. “Hyung andwae. Kakimu sedang tidak baik-baik saja. Hyung!

Yoongi tetap menyeret kedua kakinya tanpa memedulikan lagi seruan Hoseok. Dia harus pergi sekarang. Siluet Sena terus mengganggu pikirannya.

Dan di saat dia akan membuka pintu kandang wolfdog, sebuah tangan tiba-tiba menahannya.

“Kalau kau takut, kau tidak usah ikut. Aku akan pergi sendiri.”

“Siapa bilang aku takut?” seru seseorang di belakangnya. “Ya, aku memang takut pada segala hal. Tapi bukan berarti aku adalah pengecut. Kau pikir aku tega membiarkanmu yang seperti ini pergi sendirian? Pikiranku makin tidak tenang kalau kau masuk ke hutan dalam keadaan seperti ini. Kau beristirahatlah sebentar. Biar aku yang menyiapkan semuanya untuk kita pergi nanti.”

“RO?!”

Pria yang barusan menghabisi monster dalam sekali tembak ternyata adalah Ro. Orang yang sama yang hampir merenggut masa depan Sena. Orang yang sama juga yang sudah dihajarnya habis-habisan.

Ro tersenyum tipis, mengulurkan tangannya untuk membantu Jimin berdiri. “Untungnya aku belum terlambat. Aku tak sengaja melihat anjing itu saat berburu.”

Jimin memperhatikan anjing berjenis Herder yang sedang duduk di antaranya dengan Ro. Kemudian dia menoleh pada pria itu. “Kenapa kau ada di sini?”

“Ah … itu … akan kujelaskan setelah aku mengobati kawanmu.”

Jimin pun tersadar kalau selain dia, di sini juga ada Taehyung. Buru-buru dia menghampiri Taehyung yang syukurnya masih bernapas. Mengangkatnya untuk duduk dan membiarkannya bersandar di tubuhnya. Diusapnya keringat dingin yang membasahi wajah pucat Taehyung. Ia tersenyum, meski getir. “Kau akan baik-baik saja, Tae. Bertahanlah sebentar lagi.”

Taehyung sendiri meringis kesakitan saat Ro mengobati lukanya. Pangeran itu tidak menangis. Dia tidak pernah menangis saat fisiknya terluka. Dia hanya berteriak, meringis, memukul, atau mencengkram apa pun untuk menyalurkan rasa sakitnya.

Setelah lukanya dibebat dengan bandana berlapis-lapis, mereka pun memutuskan berpindah tempat dari sana. Taehyung berada di punggung Jimin.

“Hei, biar aku yang menggendongnya.”

Andwae. Aku tidak mau merepotkanmu,” jawab Jimin dingin sembari membenahi letak Taehyung yang melorot.

Ro akhirnya menyerah. Dia hanya berjalan di sebelah dua anak itu sambil menenteng sniper-nya juga memegang rantai Herder.

“Kenapa kau menyelamatkan kami?” tanya Jimin memecahkan keheningan di antara mereka.

“Yah … itu terjadi begitu saja.”

“Kami sudah pernah memukulmu, bukankah seharusnya kau biarkan kami mati saja tadi?”

Ro terkekeh pelan. “Aku tidak sesadis itu, Pangeran. Begini-begini aku juga manusia yang punya hati.”

“Benarkah kau punya hati? Lalu apa maksudmu dengan Sena waktu itu? Manusia yang punya hati tidak akan tega melakukan itu pada gadis yang hidup sendirian.”

Ro tersenyum meski dia sadar ada nada ketus di kalimat Jimin.

“Itu memang salahku. Aku sedang terbawa perasaan saja saat itu. Kau tahu ‘kan bagaimana perasaan seorang pria yang selalu kesepian sejak kecil? Aku benar-benar tidak berniat melakukannya. Ini salahku.”

“Hah, kesepian katamu? Lalu apa yang kulihat di rumahmu waktu itu?! Siapa gadis-gadis yang fotonya kau pajang di dinding rumahmu?!”

“Ah … itu.” Ro tersenyum miring. “Mereka hanyalah gadis-gadis penghibur. Aku membayar mereka dan … yah … kami bersenang-senang.”

“Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu pada Sena.”

TBC

btw, hampir aja file FH ilang :”) aku langsung panik pas dia sulit dibuka :”) tapi untungnya masih diberi kesempatan kedua :”) ya ampun T^T

Advertisements

2 Replies to “Freak Hwarang #18”

  1. Sudah d publish ternyata..senangnya meskipun terlambat koment tetap keren thor, gara2 sinyal yg kd tdk menentu..persaudaraan pangeran memang erat, hebat terharu sm semuax, d balik sifat mereka yg kdng kekanak kanakan dan kdng menjengkelkan…rho kamu keren hihihi..jimin baik hati banget, yoongi ttp smngt ngejar hati sena..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s