Swag Couple Series [#18 Oppa (2)]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

Intro Boy ver | Intro Girl ver | Want You More

Don’t Mess With Me | Oppa | Nobody Like You

Punishment | Bad But Sweet | Who Are You (1)

Pick Me (1) (2) (3)Who Are You (2) | Chatroom (1) (2) (3)

April Fools’

Min Yoonji itu berbeda. Di saat yang lain sibuk bermain bersama temannya, adikku justru sibuk bermain sendirian bersama benda mati atau bersamaku. Di saat yang lain suka mendengarkan cerita dongeng seperti Cinderella, Snow White, dsb, Yoonji justru lebih suka mendengar cerita horor dariku. Dia mengikutiku kemana pun aku pergi saat SD. Selalu mendatangiku dengan wajah berurai air mata sambil mengadu, “Kak, teman-teman nakal”. Sampai-sampai aku hafal semua kebiasaannya, jauh lebih hafal dari orangtua kami sendiri.

Di SD, adikku itu menjadi bahan bully-an hampir semua siswa. Badannya yang kecil, ringkih dan gayanya yang pemalu itu membuat anak-anak lain gatal mengganggunya. Banyak sekali yang dilakukan anak-anak itu untuk membuat adikku menangis. Entah menghilangkan alat tulis, menyembunyikan bukunya, membuang sepatunya ke tempat sampah, bahkan yang laki-laki ada yang berani mengangkat roknya.

Siapa lagi tempat mengadu Yoonji kalau bukan aku?

Ya, aku, oppa-nya.

Yoonji tidak pernah sekalipun mengadu pada orangtua kami. Entah kenapa dia melakukan itu. Mungkin karena sejak kecil dia selalu menempel padaku makanya dia lebih terbuka padaku.

Setelah mendengar pengaduannya, aku pun langsung membuat rencana untuk menyerang balik anak-anak kurang ajar itu. Bersama sekelompok temanku, aku akan menindas mereka dengan lebih kejam. Bagi yang menghilangkan alat tulis, kubuang tasnya ke sungai. Bagi yang menyembunyikan buku, kubakar semua buku mereka. Bagi yang membuang sepatu ke tempat sampah, kulempar sepatu mereka ke atap sekolah. Bagi yang berani mengangkat rok adikku, kuhajar habis-habisan mereka.

Sampai anak-anak yang kutindas itu mengadu pada kepala sekolah.

Kepala sekolah memanggilku ke kantor.

Begitu pula orangtuaku.

Aku disidang di sana. Min Yoongi kecil sudah disidang di depan orang-orang dewasa yang tak tahu apa pun dengan kepala tertunduk dan disalahkan atas apa yang telah kuperbuat.

“Tapi ssaem! Aku—”

Kalimatku tidak runtut setelah melihat tatapan tajam ayahku. Oke, aku tidak punya daya untuk membela diri. Mereka tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semua.

Orangtuaku harus meminta maaf pada orangtua dari anak-anak brengsek itu.

Dan aku, mendapat hukuman skors selama seminggu ditambah dengan omelan orangtuaku di rumah.

Tak mengapa, toh aku senang-senang saja di skors. Memangnya siapa yang mau bersekolah di tempat yang suka dengan seenaknya sendiri menghakimi orang lain?

“Ayah ibu membesarkanmu bukan untuk merusuh di sekolah, Min Yoongi!”

“Di sekolah kau harus belajar, bukan mengganggu anak orang! Siapa yang mengajarimu memukul, huh?! Kamu sudah merasa dewasa sekarang?!”

“Bukan aku yang—” Sekali lagi aku tidak punya kesempatan untuk menjelaskan karena ibu tiba-tiba mencubit lenganku sampai merah.

“Jangan membantah orangtua. Dengarkan ayahmu.”

Dan aku yang lemah hanya bisa menunduk pasrah.

Ya, begitulah sekilas tentang masa kecilku. Aku sudah menjadi berandal sejak dulu. Karena siapa? Tentu saja Yoonji. Aku melakukan semua kekerasan bukan untuk kesenanganku atau mencari perhatian orangtua kami. Aku hanya … ingin melindungi adikku.

Beranjak ke SMP, Min Yoongi dan Min Yoonji telah menjadi anak menjelang pubertas. Suaraku mulai berubah aneh. Tubuh Yoonji mulai membentuk. Kami nyaris tidak mengenali satu sama lain lagi meskipun setiap waktu selalu berada di bawah atap yang sama.

Tapi hubungan kami sebagai saudara tidaklah berubah. Yoonji tetap adikku, dan aku tetap Yoonji oppa.

Karena paksaanku, Yoonji akhirnya masuk di sekolah yang sama denganku. Tentu saja dia selalu menjadi adik kelasku.

Kekuatanku di SMP tidaklah pudar. Justru aku semakin ditakuti. Sengaja memang membuat label mengerikan dalam diriku. Agar nanti adikku tidak perlu khawatir dia harus berlindung di bawah siapa.

Aku siap melakukan apa pun bahkan membunuh orang demi adikku.

Keluar masuk BK bukan lagi sesuatu yang aneh untukku.

Tamparan ayah di pipi sudah biasa.

Hukuman skors sudah menjadi langganan setiap waktunya.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Anehnya, sudah tahu aku yang begitu kenapa anak-anak masih saja suka mengganggu Yoonji?

Mereka membully adikku secara diam-diam.

Seperti kelompok gadis centil yang suka berbondong-bondong menyudutkan adikku di toilet. Mengguyur adikku dengan air, mempermak wajah adikku sesuka hati, menamparnya berkali-kali.

Aku selalu melihat adikku pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Sialnya Yoonji tidak pernah mengadu padaku lagi. Menangis juga tidak.

Dalam keadaan rambut panjangnya yang lengket, baju kusam, wajah kusut, dia menghampiriku tanpa mengucapkan apa-apa dan memelukku begitu saja.

Jujur, aku sangat ingin menangis melihat kondisi adikku yang seperti itu. Padahal bukan aku yang diperlakukan begitu bahkan adikku sendiri tidak menangis. Tapi karena itulah, karena dia tidak menangis dan mengadu seperti dulu lagi, air mataku nyaris saja lolos –andai saja aku tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa.

Kudorong tubuhnya dan menangkup pipinya yang tirus. “Siapa yang telah melakukan ini padamu?”

Tapi dia hanya menatapku dengan sorot layunya. Bagaimana aku tidak menangis melihatnya begitu?

Bahkan dia tidak mengucapkan apa pun saat aku memergokinya sedang digoda oleh sekumpulan anak laki-laki brengsek. Andai saja waktu itu aku telat semenit saja, mungkin adikku sudah kehilangan masa depannya.

“Kenapa kau hanya diam saja diperlakukan begitu?! Teriaklah! Panggil namaku! Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu, hah?!”

Sayangnya waktu itu adikku mendadak berubah menjadi batu. Ekspresinya error, hatinya beku. Aku tetap bisa mengenalinya sebagai Yoonji karena dia selalu memelukku. Yoonji banyak memelukku di tingkat sekolah menengah.

Tak terima Yoonji diperlakukan begitu, aku pun menyerang anak-anak brengsek itu sendirian. Kupukul mereka, kutendang, kubanting, sampai mereka semua babak belur dan aku berakhir di kantor polisi.

Sekali lagi orangtua kami yang meminta maaf.

PLAK!

Hari itu aku mendapatkan tamparan yang paling keras dari appa.

“MIN YOONGI! SUDAH BERAPA KALI KUKATAKAN UNTUK TIDAK MENCARI GARA-GARA LAGI?! KAU HAMPIR MEMBUNUH ANAK-ANAK ITU! KAU DI SANA BERSEKOLAH BUKAN MENJADI PEMBUNUH!”

Tidak ada niatan dalam diriku untuk membantah. Karena apa yang dibilang ayah benar. Aku hampir membunuh mereka. Sebagian dari mereka harus menjalani rawat jalan selama berminggu-minggu, sisanya harus rela melanjutkan hidup dengan bekas luka permanen di tubuh mereka.

Tapi semua itu belum sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan pada Yoonji. Aku ingin membunuh mereka sekalian agar mereka tahu di mana letak salah mereka.

Ternyata bukan hanya tamparan yang diberikan padaku saat itu. Entah dapat dari mana, ayah juga memukuliku dengan cambuk.

Aku hanya bisa menerima hukuman itu dalam diam.

Mengosongkan pikiran seolah aku sedang di ujung tanduk mendekati kematian.

Dan pikiranku mendadak kembali saat Yoonji tiba-tiba datang dan menahan ayah untuk tidak memukuliku lagi.

Aku tertegun melihatnya.

Dia menangis.

Setelah sekian lama akhirnya adikku menangis.

Appa hentikan! Oppa tidak salah.”

“Diam, Yoonji. Ini urusan ayah dengan kakakmu.”

Yoonji menggeleng cepat sambil menangkap kembali lengan ayah. “Appa, jebal-yo…. Oppa melakukan itu karenaku. Dia begini karenaku. Oppa tidak salah, Appa.”

“Jangan membela kakakmu, Yoonji-a. Kakakmu ini hampir membunuh orang! Dia pantas untuk dipukul!”

Rahangku seketika mengeras ketika ayah kembali mencambuk punggungku.

APPA!! Kumohon, Appa. Hentikan ini. Oppa melakukannya karena aku. Karena aku hampir diperkosa!! Ini bukan salahnya, Appa. Ini salahku.”

Detik itu juga akhirnya ayah sadar.

Aku bisa melihat raut wajah ayah yang berubah. Dia menatap adikku dengan sendu, juga ada perasaan bersalah di matanya.

Kemudian appa meminta maaf dan memeluk Yoonji.

Tak lama kemudian ibu datang, menghambur ikut memeluk Yoonji.

Aku sendiri? Hanya menangis sambil tertunduk.

Sejak saat itu ayah dan ibu tidak lagi menampar atau menghukumku saat aku membuat ulah karena Yoonji. Karena mereka akhirnya tahu, kalau aku menjadi begitu karena Yoonji.

Syukurlah, di SMA, adikku tidak ditindas lagi seperti dulu. Di kelas satu aku masih sangat protektif padanya. Bahkan diam-diam menyuruh Hoseok dan Seokjin untuk memantau adikku dari jauh. Begitu dia di kelas 2 dan aku di kelas 3, perlahan aku pun merenggangkan pengawasanku padanya.

Karena dia memiliki Park Jimin.

Aku cukup senang mendengar kabar itu karena Park Jimin memang pria yang bisa diandalkan. Meskipun yah … dia adalah class pet, tapi aku yakin kalau sudah menyangkut Yoonji, dia tidak akan menjadi pecundang.

Aku tidak marah atau sebagainya dengan hubungan mereka. Toh, itu hak adikku. Dia juga punya hak untuk bahagia ‘kan? Dan kebahagiaannya bisa jadi berasal dari Jimin.

Tapi aku sedikit kesal pada Jimin karena insiden motel itu.

Rasanya aku ingin makan orang.

Berani-beraninya dia mengajak adikku ke motel. Di hari hujan, malam-malam pula. Sempat aku berpikir kalau Jimin sedang mencari kesempatan karena pada hari itu aku sedang sakit jadi tidak bisa mengawasi mereka. Tapi begitu mendengar penjelasannya dan mengonfirmasi itu dari tatapannya yang serius, aku tahu kalau aku hanyalah berspekulasi saja.

Tapi jangan heran kalau aku tidak bisa memaafkannya dengan begitu saja.

Jadi, aku pun memanfaatkan momen April Mop untuk membalas dendam.

Cih, aku tidak menyangka dia bisa dengan begitu mudahnya digoda.

Sial, dia mencium bibirku. Dilumat segala lagi.

Kalau bukan karena Yoonji, aku juga tidak akan mau berdandan seperti perempuan, menggodanya dan berciuman dengannya seperti ini.

Ini menjatuhkan harga diriku, serius.

Ah tapi masa bodoh. Bukankah sejak dulu aku juga selalu menjatuhkan harga diri demi Yoonji?

Oppa! Hei! Kenapa kau menciumnya?! Menjijikkan!”

Aku hanya nyengir melihat adikku yang datang sambil bersungut-sungut. “Wae? Bukannya sudah kutransfer padamu?”

“Bukan itu maksudku! Aku tidak suka melihatmu menciumnya!!! Kalian ini sama-sama pria!!”

“Lalu kenapa? Dia pantas mendapatkan itu karena sudah mengajakmu ke motel. Harusnya kau berterima kasih padaku.”

Dia melipat kedua tangannya di perut sambil manyun. Senangnya melihat adikku menjadi cute begitu masuk SMA.

“Tapi kau sudah menodai bibirnya! Bibirnya itu hanya untukku!”

Pfft! HAHAHAHA! Mwoya? Jadi kau marah karena itu? Oh astaga. Berbagi sekali saja masa tidak mau.” Aku pun mengedipkan sebelah mataku padanya.

“Jijik! Berhenti mengganggu mochi-ku mulai sekarang, Oppa. Awas saja kalau kau mencari kesempatan mengganggunya lagi.”

“Ya ampun jahatnya. Iya iya adik kecil. Oppa tampanmu tidak akan mengganggu babi tersayangmu lagi.”

“Dia bukan babi!!!”

Aku pun terkekeh, menarik tangannya dan mencium pipinya sekilas. “Arasseo, Sayang. Aku tidak akan mengganggu kesayanganmu lagi. Tapi kalau dia mengajakmu ke tempat-tempat seperti itu lagi, jangan salahkan aku kalau aku menyeretnya ke ranjang.”

OPPA!!!!”

Kekekeke, terkadang adikku ini lucu. Aku tak tahu kalau keberadaan Jimin bisa membuatnya berubah sejauh ini. Yoonji makin cute, banyak bicara, mulai perasa. Kuharap mereka akan terus bersama-sama sampai nanti. Menggantikanku sebagai penjaganya.

TBC

Advertisements

One Reply to “Swag Couple Series [#18 Oppa (2)]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s